Orang Baik Susah Masuk Surga

Hari Minggu kemarin di gereja kami merayakan Paskah. Mereka membuat suatu drama musikal yang benar benar professional, tentang kehidupan seorang yang bandel atau rusak, dan kemudian Tuhan rubah. Suatu drama yang sangat inspiratif . Memang Tuhan kita Tuhan yang sanggup merubah kehidupan seseorang 180 derajat. Dari yang sebejat apapun, Dia bisa rubah.

Kemudian, saya mulai melihat kehidupan saya. Dilahirkan dari keluarga Kristen. Sudah tahu Kristen dari kecil. Kehidupan dari kecil hingga dewasa, tidak ada yang terlalu “bejat” … Istilahnya. Anak baik menurut standard orang. Waktu SD tidak terlalu bandel. SMP dan SMA pun tidak berani berbuat yang macam-macam. Kehidupan berkisar antara sekolah, buat PR, main games, makan, tidur … Dan lanjut.
Istilahnya menurut standard orang, anak baik baiklah.

Tapi, terus terang saya merasa kehidupan seperti inilah yang lebih mungkin tidak masuk surga. Mengapa demikian ?

Kalau seorang yang dianggap bandel atau jahat oleh masyarakat setidaknya dia tahu dia perlu Tuhan. Tetapi kalau orang baik, belum tentu dia tahu kenapa dia perlu Tuhan.

Kalau kita berpikir alasan kita butuh Tuhan agar supaya bisa jadi baik, maka untuk apa butuh Tuhan kalau kita sudah baik ? Toh tidak ada bedanya nanti.

Untungnya Tuhan tahu kita sebenarnya tidak akan bisa untuk menjadi baik secara standard Tuhan. Kalau secara standard masyarakat sih mah gampang untuk kelihatannya baik, karena masyarakat hanya melihat luarnya saja.
Contoh kemarin ini ada seorang pemuka agama yang dianggap alim oleh pengikutnya. Ternyata, terbongkar akun WhatsApp nya berisi perzinahan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Baik ? Jelas menurut penilaian masyarakat. Tapi hatinya tidak. Dan ini Tuhan tahu.

Celakanya ,sebaik apapun kita berpikir bahwa kita baik, kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi baik.

Tidak percaya ? Saya akan berikan 2 argumen saya.

Pertama, kenapa kita berkelakuan baik ? Kalau kita telusuri dan kalau kita mau jujur sejujur jujurnya. Kita kupas semua itikad kita dan melihat inti dari alasan kebaikan kita . Intinya adalah supaya hati kita merasa enak. Tidak ada satupun di antara kita yang mau berbuat baik kalau perbuatan itu tidak akan membuat kita puas. Walaupun bentuk kebaikan itu harus melalui pengorbanan kita. Misalnya kita bisa beri uang kepada orang miskin . Walaupun kita mengorbankan yang kita punya, tetapi hasil dari pengorbanan itu bisa memuaskan hati kita.

Jadi secara tak langsung, kita sebenarnya berbuat kebaikan karena kita sebenarnya egois. Yap kebaikan kita hanya sekedar kedok dari keegoisan kita.
Makanya ada beberapa ajaran agama yang berusaha untuk mengkosongkan ‘diri’ atau menekan rasa puas atau gembira atau perasaan senang, karena mereka tahu akar dari rasa puas yang didapat setelah kita berbuat baik adalah sebenarnya untuk ego kita.

Kedua, kita tahu segala sesuatu di dunia ini dapat menyebabkan sebab-akibat baik secara langsung atau tidak langsung. Sehingga suatu aksi yang sekecil apapun bisa berdampak kepada yang lain secara langsung atau tidak, secara kita sadari atau tidak. Misalnya kamu buang suatu botol plastik ke laut, karena sampah tersebut mungkin akan membunuh sekumpulan ikan. Karena matinya sekumpulan ikan tersebut, anda bisa membuat sekeluarga nelayan kelaparan. Anda bisa berargumen, lah emang buang sampah sembarangan khan salah yah pasti akan merugikan orang lain. Ok, mari kita bayangkan misalnya kita berbuat kebaikan. Contoh yang paling gampang, misalnya ada program pemerintah yang memberi bantuan uang untuk orang miskin. Bantuan tersebut baik dan mulia, tapi tidak tertutup kemungkinan banyak digunakan beberapa orang untuk bermalas-malasan dan hanya bergantung kepada Pemerintah. Jadi akibat suatu kebaikan tidak selalu positif, dan sesuatu yang tidak berakibat positif itu berarti bukan baik. Karena kita selalu mengukur dampak kebaikan dari efeknya, bukan dari persepsi kita. Kalau kita mengukur kebaikan hanya berdasarkan persepsi kita, maka kita adalah seorang yang sangat super egois. Dan itu berarti kita bukan orang baik.

Hahahahhaha … jadi bagaimana dong ?
Well … kita kembali lagi ke alasan dari banyak orang untuk berbuat baik. Kebanyakan orang yang beragama, berbuat baik itu diidentikkan sebagai ‘bayaran’ untuk bisa masuk surga. (Kalau orang yang tidak beragama, yah beda lah, saya akan bahas di artikel yang lain). Istilahnya kalau kita mau masuk ke rumah orang, maka kita sebagai tamu harus memenuhi syarat yang diberikan empunya rumah. Misalnya mohon dibuka sendalnya, maka sebagai tamu yah kita harus nurut.

Nah … sama kalau kita mau masuk surga … kita harus nurut sama permintaan yang empunya surga. Banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan mempunyai suatu timbangan yang akan menimbang aksi baik dan aksi jahat kita. Masalahnya kalau sistem ini benar, maka bisa menyebabkan banyak ketidak adilan ! Mengapa demikian ?

  1. Bagaimana kita tahu berapa ‘berat’ kebaikan yang kita buat dan berapa ‘berat’ kejahatan yang kita buat.
  2. Andaikata kita mengukur ‘berat’ kebaikan dari banyaknya jumlah orang yang terkena efek dari kebaikan kita, maka sangatlah mudah untuk orang kaya untuk masih surga. Dia bisa memberikan banyak uang kepada banyak orang. Sedangkan yang miskin, bisa susah masuk surga.
  3. Bagaimana kalau kebaikan yang maksudnya baik malah ujung-ujungnya efeknya tidak baik ?
  4. Atau sebaliknya itikad tidak baik, tapi malah ujungnya baik ?
  5. Dan kalau Tuhan tahu isi hati, maka bagaimana dengan perbuatan baik dilakukan dengan itikad tidak baik, tetapi efeknya baik kepada banyak orang ?
  6. Dan bagaimana kalau timbangannya netral ? Jadi perbuatan baik = perbuatan jahat ? Apa bakal disuruh try again (kaya main game aja)

Ribet banget … bisa bikin sakit kepala kalau Tuhan memang benar memakai sistem di atas. Kalau Tuhan memakai sistem di atas, Dia tidak Maha Adil, karena Dia tahu sistem itu bisa menguntungkan pihak pihak tertentu.

JAdi bagaimana ? Bagaimana kita bisa masuk surga ? Tidak seribet yang kita bayangkan … mengutip mantan Presiden kita “Gitu aja kok Repot”
Kuncinya kita harus sadar TIDAK ada satupun di dunia ini yang istilahnya baik menurut standard Tuhan. Tidak ada kebaikan kita yang bisa bikin Tuhan di atas terkagum-kagum.
“WOW … ini orang baik banget ! GILA MAN ! Eh malaikat malaikat, lihat tuh ! Man tuh orang baik banget nget nget !”

Karena Dia tahu tidak ada satupun aksi baik kita yang bisa memenuhi standardNya.

Lalu bagaimana kita bisa dianggap mmmh BENAR oleh Dia. (perhatikan saya tidak memakai kata Baik, tetapi Benar)

Dia berikan jalan kepada kita, dengan memberikan AnakNya Yesus untuk mati bagi kita. Dia yang menanggung semua dosa kita, sehingga dihadapanNya kita diBENARkan.
Bukan karena usaha dan kuat kuasa kita.

Dia yang merubah hati kita. Dari hati yang baru tersebut mulai mengalir perbuatan-perbuatan yang baik. Tidak sempurna. Tidak masalah. Karena kita memang tidak sempurna, tetapi DIA sempurna.
Dengan ketidaksempurnaan dan ketidak baikan kita, kita sadar bahwa kita harus tergantung kepada Dia setiap saat dan setiap waktu.

Perbuatan baik menjadi suatu kesukaan dan bukan lagi suatu keharusan. Mencintai sesama merupakan suatu ekspresi perasaan kita, karena Dia sudah terlebih dahulu mencintai kita, malah sebelum kita menjadi orang baik. Dia memilih kita bukan karena kita baik atau penuh potensi, tetapi karena Dia adalah kasih.

Jadi … Intinya orang baik memang sukar masuk surga. Karena standard untuk masuk ke sana, bukan kebaikan kita. Kebaikan kita sama sekali tidak memenuhi standardNya. Nope. Nggak even level 0.

Dia tahu itu semua, sehingga Dia akhirnya yang harus datang dan menanggung dosa. Karena Dia tahu kebaikan kita tidak akan bisa menjadi jembatan ke surga.

Jadi ingat, orang baik memang sukar masuk surga, tetapi mereka yang dengan iman dibenarkan olehNya, tidak perlu khawatir.

Sumber inspirasi :
Roma 3:1-31

Jakarta Gubernatorial Election 101


Video Source : Ahok BTP Facebook

I’m writing this post to inform my American friends about what is happening in Jakarta, Indonesia.

In April 19th, the people of Jakarta will decide who is going to be their leader in the next 5 years. In the past, no body really cared about the gubernatorial election, because we knew whoever in charge, it would be the same old – same old (Qui Sera-sera ?).

The attitude has changed since 2012, when Joko Widodo (our current president) and Basuki Tjahaja Purnama (a.k.a Ahok) ran for Governor and Vice Governor. That election has brought a momentum for the people in Jakarta, that change could indeed happen.

In 2014, Joko Widodo ran for our Presidential  election and he got elected. Automatically, his Vice Governor, Ahok, became the Governor of Jakarta until the end of the term (which is October 2017). So, here we are now in April 2017, Ahok, the current incumbent, is trying to run for the re-election. He is paired with Djarot Saiful Hidayat.  And, on the other side of the ring is Anies Baswedan and Sandiaga Uno.

This … could have been just another election, if it were not for the platform of the candidates.

In this post, I am not going to present their programs in infrastructure and development, because I have discussed it briefly on my last post.  I’d rather focus in the implicit meaning of this whole election.

Ahok is considered a double minority in Indonesia. First, he is a Chinese descendant and second, he is a Christian. These two traits are considered disadvantages in running for high governmental position in Indonesia.

A short background about racial issue in Indonesia, is as followed. In the era of Dutch colonization, they realized that Indonesia has so many ethnicities and races. Thus, in order to colonize the country easily, they applied the strategy of divide at impera, which pretty much means divide and rule. The Dutch marginalized ethnicities and categorized us to “pribumi (native)” and “non-pribumi/keturunan (alien/foreigner)”.  Unfortunately, after the Dutch left, this destructive strategy has been rooted deeply in the society and it continues until the modern days. Chinese descendant is still considered “keturunan”, even though we (yeas I am Chinese descendant) have been here for generations. If we really think about it, there is actually no ‘major’ ethnicity in Indonesia. Even among the so-called “pribumi”, it actually consists of hundreds of ethnicity and race, and there is no such thing as ‘majority’. The outward appearance of “pribumi” people in Papua is closer to African American than to Javanese. Some ‘pribumi’ in Kalimantan were even migrated from Indo-China, and looks more like modern day Chinese than people in Aceh. Thus, people with a straight head, would realize and understand that this kind of mindset is a mindset of ‘colonized/slaved’ people.

In terms of religion, Christian is the minority in Indonesia. Up to 80% of the population is Moslem. In Jakarta, it also represents that number. Majority of Moslem are cool headed, but the extremist is only minority. The issue is they are the loudest and they are not afraid to use violence, thus the silent majority becomes intimidated.

NOW, why this election is crucial and important ?

It’s because how these candidates try to represent themselves.

The essence of Ahok-Djarot campaign is ALWAYS, “we don’t care about your race or religion or outward appearance, but if you could do the job, you’re IN !” The campaign always shows the true meaning of Diversity, and in my humble opinion, it is even better than how the US shows it. Honestly, the future US Presidential candidates have to learn from Ahok-Djaort campaign.

The campaign always accentuates “Take people by their characters and skills, neither by the color of their skin, nor by the belief they hold”. Presenting ideas and visions to elevate Jakarta become one of the world cities have been the forefront of the campaign. Never once, they bring the superficial issue as race, ethnicity, or belief.

On the other hand, Anies-Sandiaga campaign is so full of the energy of “you could lead if ONLY you are ‘pribumi’ and Moslem”. This is very unfortunate. I used to support Anies. He was actually the Secretary of Education for Joko Widodo, but got fired last year because incompetency. He is an educated man, but alas, education can’t change heart. These candidates befriend with extremist organizations to gain support. The issue of race, ethnicity and religion, become their big platform. They won’t rebuke/distance themselves from their supporters who are racist and anti-nonMoslem.

In some occasions, Anies also agreed that non-Moslem should NOT be the governor of Jakarta. He believes that people who comes from a different faith from the majority of the populous, cannot be a leader. Bigotry and anti-non-Moslem have become the signature of the campaign. The true nature of a man, who was once considered educated and noble, came out and it turns out he is neither. I guess what Abe Lincoln said still applies “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power”.

Based on these platforms, this election has became ‘not just another Jakarta gubernatorial election’. It represents more than that. It represents the battle of mindsets and ideologies, how Indonesia will be presented in the future.
This is the election of 2 mindsets : “People shouldn’t be judged by their superficial appearance” vs. “People HAVE to be judged by those things”.
This is the fight between 2 ideologies : “Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity)” vs. “Divide at impera (Divide and Rule)”

For me, I really hope “Bhinneka Tunggal Ika” will win. In all honesty, I see Indonesia as the TRUE diverse country in the world. Indonesia is the microcosm of the world. I believe Indonesia could be the MODEL of how diversity should work.

It is not the US, it is not any of the European countries, but it should be INDONESIA. We are born with diversity. The US has just started to learn about ethnic diversity in recent decades, but Indonesia … we’ve had it since even before the country started.

I really pray that this election would bring Indonesia to the next step to become the beacon of TRUE diversity for the world.
In Indonesia, it WOULD happen !


“I look to a day when people will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character.” – Martin Luther King Jr. –

2

April Fool?

Ternyata PDI Perjuangan mempunyai fans di Amerika.
Salah satu perusahaan pelampung memakai logonya.

Atau sebaliknya ?

Konsisten untuk Inkonsisten


Sumber

Mereka memang berpegang kepada prinsip untuk selalu konsisten dalam berikonsistensi.

Ketika Pragmatis Ketemu Teoris

Image result for ahok anies

Pilkada Putaran ke 2 untuk Gubernur DKI sudah semakin mendekat. Suhu politik dan kampanye di Jakarta kian memanas. Kemarin ini Mata Najwa,mengadakan final perdebatan antara 2 kandidat, no. 2 Basuki (Ahok) dan no. 3 Anies.

Well, hari ini hanya memberi sedikit pendapat dari seorang awam di negeri Paman Sam tentang hasil perdebatan ini. Mungkin saya akan sedikit bias, karena saya pendukung no 2, jadi kalau anda mendukung no 3, yah mungkin akan stop membaca sampai di sini.

Kalau dilihat secara pembawaan dan gaya bicara, dapat dikatakan Anies adalah seorang birokrator dan politikus handal. Kalau anda mempunyai anak perempuan, Anies ini saya gambarkan sebagai calon pacar anak anda dan baru pertama kali ketemuan. Pasti semuanay dibuat sesopan dan sesantun mungkin. Bahasa halus, senyuman ramah, berbicara seakan-akan ‘pintar’, dan lain sebagainya. Dan saya yakin ini approach yang memang dipakai Anies, karena sesuai dengan kebudayaan orang Timur. Image is numero uno. Tapi yah kita tahulah sendiri sebenarnya kaya gimana kalau dibalik semua it 😉

Kalau Basuki, Basuki ini sudah kelihatan sebagai seorang pragmatis, gaya bicaranya, pembawaannya, lebih ke arah lihat masalah, pikirkan solusi, terapkan. Orang pragmatis kadang tidak terlalu memikirkan image, karena dia mengukur suatu kesukesesan dari berapa solusi yang dia bisa pecahkan. Jadi kontras sekali tutur kata, pembawaan dan gaya bicara Basuki. Ini istilahnya seperti teman baik anak anda, yang sudah bertahun-tahun kenal baik dengan keluarga anda. Jadi ngomong seadanya, dan andapun sudah tahu karakternya. Karakter Basuki lebih menunjukkan What you see is what you get.

Sekarang dilihat dari sisi program bantuan sosial, approach dari mereka sangat kontras sekali. Kalau anda pernah memndengar peribahasa “Lebih baik mengajari orang memancing, daripada hanya memberi dia ikan”, maka pandangan Anies lebih mengarah kepada “memberikan ikan”, sedangkan Basuki lebih mengarah “Ajarin mancing”. Saya melihat hal ini ketika membahas KJL(Kartu Jakarta Lansia) dan KJP(Kartu Jakarta Pintar). Anies berpendapat lebih baik kita LANGSUNG membantu ke orangnya, dan bahkan memberi imbauan untuk memberi tunai. Lebih kontras dalam masalah KJP, Anies ingin membantu siswa yang tidak sekolah dengan cara memberi tunai, sedangkan Ahok berpendapat hanya kalau siswa mau belajar, baru kita akan bantu. Ahok lebih mengacu kepada “Mengajari orang memancing”. Bahkan dalam KJL, Basuki lebih mengarah untuk membuat sistem terlebih dahulu, baru pelaksanaa program. Terlihat jelas prinsip mereka. Menurut saya, bantuan tunai yang dianjurkan Anies hanya akan berakhir dengan banyaknya penyimpangan dan itu sudah terbukti ketika pak SBY bagi bagiin uang tunai. Banyak yang salah sasaran, dan sama sekali hanya memberikan tensoplas untuk kepala pecah.

Selama menonton perdebatan ini di Youtube, sepertinya semua program-program yang dianjurkan Anies adalah program Ahok (open governance, KJP, Moda Angkutan Umum terpadu, dsb), tetapi dipaparkan dengan gaya bicara yang halus dan sopan. Sepertinya Anies berusaha mengikuti idolanya, pak Harto. Kita tahu sendiri Pak Harto itu memang halus dan sopan, kelihatannya, tapi dibalik semua itu anda bisa lenyap diam diam kalau berani menentang. Saya rasa Anies berusaha untuk memakai approach seperti ini.
Di sisi lain Ahok, kembali terlihat sisi pragmatis nya, ketika dia harus menjelaskan berkali-kali tentang programnya. Kelemahan orang pragmatis adalah bosan untuk menjelaskan idenya berkali-kali. Apalagi harus dibumbui dengan kata-kata manis. Ini kesan yang saya dapatkan di dalam perdebatan ini. Ahok sudah cape kalau harus menjelaskan berkali-kali lagi, kalau semua yang program Anies ‘mimpi’ kan, sebenarnya sedang dan sudah dikerjakan.

Satu hal yang menunjukkan kalau Anies itu benar benar teoris, ketika dia selalu menuduh Basuki hanya berusaha melaksanakan program-program karena ada pilkada. Ini benar-benar tuduhan seorang teoris, karena secara teori, kalau kamu ada ide akan sekejap terlaksana, tanpa harus memperhitungkan biaya, infrastruktur, atau bahakan merubah kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.
Anies seharusnya mengerti bahwa gubernur-gubernur sebelumnya, tidak membuat suatu sistem dan infrastruktur yang baik. Mereka melakukan pembiaran di mana-mana. Ini yang BAsuki butuh untuk rapikan sebelum program-programnya bisa berjalan dengan baik, dan kalau itu butuh 2-3 tahun, itu sudah termasuk CEPAT, apalagi di kota sebesar Jakarta.

Seorang teoris yang hanya mengajar tidak akan tahu ini, ATAU belaga tidak tahu.

Juga, ditambah dengan debacle nya ketika berusaha menjelaskan ide tentang perumahan DP 0%.
Ahok sebagai seorang pragmatis, segera menghitung perkiraan biaya, sedangkan Anies, hanya berusaha tersenyum dan menuduh ‘keberpihakan’ atau menganggap Basuki ‘putus asa’. Dengan senyum pongahnya, dia menganggap Basuki hanya mau jalan kalau menguntungkan rakyat menengah ke atas.

Kontras sekali dalam segmen di atas, mana yang teoris, dan mana yang pragmatis.

Seorang teoris juga mudah untuk menjadi hippocrates. Ketika berbicara tentang merangkul dan menegakkan hukum, Anies lupa kalau teman-temannya di FPI sering melanggar hukum. Bahkan dia dulu juga menganggap FPI sebagai organisasi yang buruk, tapi sekarang malah dirangkul hanya demi Pilkada.

Bagi saya, dalam perdebatan ini, hal yang paling menyebalkan dari gaya Anies, adalah senyumnya yang seperti mengejek dan sepertinya merendahakan lawan bicaranya. Ini benar-benar suatu strategi untuk memancing emosi Basuki. Senyumnya ini benar-benar mengingatkan saya kembali lagi ke senyuman Pak Harto.

Hal yang paling saya sayangkan dari Basuki, sepertinya dia berusaha untuk pull back punches. Sepertinya beliau sudah menjadi “jinak”. Ditambah lagi sepertinya, Basuki sedang tidak dalam kondisi kesehatan yang prima, terdengar dari seringnya dia berusaha membersihkan tenggorokan.

Akhir kata, sekali lagi teoris lawan pragmatis. Saya seorang pragmatis, jadi yah saya akan mendukung Basuki. Those who can, do, those who can’t, teach.

God & Bugs

When I was in College, I enjoyed making comic strip. One of them, I named it God and Bugs. I will try to re-post them in weekly basis.

Amunisi Untuk Melawan Kekhawatiran

Image result for john piper

oleh John Piper

Berikut adalah sembilan dari janji-janji Alkitab:

Ketika saya cemas tentang usaha atau pertemuan baru yang beresiko, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”
Yesaya 41:10 TB

Ketika saya cemas tentang pelayanan saya menjadi tidak berguna dan kosong, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” – Yesaya 55:11 TB

Ketika saya cemas tentang menjadi terlalu lemah untuk melakukan pekerjaan saya, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji Kristus, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
2 Korintus 12:9 TB, dan “…, selama umurmu kiranya kekuatanmu.
Ulangan 33:25 TB

Ketika saya cemas tentang keputusan yang saya buat untuk masa depan, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” – Mazmur 32:8 TB

Ketika saya cemas tentang menghadapi lawan, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? ” – Roma 8:31 TB

Ketika saya cemas akan menjadi sakit, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji bahwa “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” – Roma 5:3‭-‬5 TB

Ketika saya cemas tentang semakin tua, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” – Yesaya 46:4 TB

Ketika saya cemas tentang akhir hidup, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji bahwa “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”
Roma 14:8‭-‬9 TB

Ketika saya cemas bahwa iman saya hancur dan jatuh terlepas dari Allah, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Filipi 1:6 TB

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.”
1 Tesalonika 5:24 TB

“Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. ” – Ibrani 7:25 TB

Melihat Kembali Anugerah

20150310 Heather Lake 0150 Web
Satu hal yang saya suka lakukan kepada anak-anak saya, yaitu bercerita. Saya berusaha menceritakan bagaimana mereka bisa ada dalam keadaan sekarang, tinggal di Amerika, hidup dengan nyaman dan tercukupi. Dan satu hal yang selalu saya tekankan, semuanya karena anugerah Tuhan.

Papa dan mama saya bukan berasal dari keluarga yang kaya. Mama saya lahir di Dobo, Maluku Tenggara. Kalau saya bercerita, saya selalu menambahkan “Cari di peta-pun kadang Dobo nggak bakal ketemu” . Papa saya lahir di Makasar, Sulawesi Selatan.

Ke dua orang tua saya tidak punya gelar sarjana. Papa saya sudah harus bekerja untuk menolong untuk membiayai adik-adiknya ketika dia lulus SMA. Menurut kisah nya, dia sudah harus merantau ke pulau-pulau kecil di Indonesia Timur. Dan karena anugrah Tuhan, salah satu pulau tersebut adalah Dobo. Juga dengan anugerah Tuhan, jadilah mereka ketemu dan menikah.

Orang tua saya pindah ke Jakarta dengan membawa sedikit uang. Seingat saya, mereka menumpang di rumah salah satu saudara. Beberapa waktu kemudian, lahirlah saya, anak ke dua. Mama saya sering bercerita, saya bukan bayi yang mudah diurus. Sepertinya waktu kecil saya tidak bisa minum susu biasa, jadi harus beli susu buatan Jepang, yang mahal harganya.

Masa kecil saya tidak penuh dengan kemewahan, tetapi penuh dengan kecukupan. Kami tinggal di sebuah rumah di dalam gang. Saya ingat setiap musim hujan kita selalu kebanjiran, tapi untungnya tidak sampai masuk ke dalam rumah.

Saya ingat Papa saya berusaha dan bekerja keras. Dia pergi merantau ke Indonesia Timur, dan berusaha mencari peluang-peluang bisnis, dari bisnis jual binatang langka, kupu-kupu, kapal, siput, dan lain sebagainya. Waktu kecil, saya tidak mengerti akan hal ini. Saya hanya berpikir, itu adalah yang biasa.

Karena anugerah Tuhan, usaha-usaha Papa membuahkan banyak hasil. Ketika SMP, kami pindah ke rumah yang lebih besar. Kemudian waktu lulus SMA, saya bisa dibiayai untuk sekolah di Amerika. Dan sampai sekaranglah saya tinggal di sini, berkeluarga dan mempunyai 3 anak perempuan yang luar biasa.

Kala saya melihat kembali jalan hidup saya, saya bisa melihat jejak kaki anugerah Tuhan. Setiap saya bercerita kepada anak-anak saya, saya berusaha menanamkan poin-poin berikut dalam kehidupan mereka:

  • Mereka bisa ada dan hidup seperti sekarang, semuanya adalah Anugerah Tuhan. Saya selalu bilang kepada mereka, waktu saya kecil tidak pernah sekalipun mimpi bisa pergi ke luar negeri. Kalau teman-teman di Sekolah Minggu berliburan sekolah ke luar negeri, kita cuman bisa pergi lokal saja. Tetapi Tuhan membawa kehidupan keluarga saya, di mana orang tua saya saya dari kota kecil, bisa sampai ke Seattle, Amerika. Itu semua karena Anugerah
  • Mama saya adalah Pendoa . Saya ingat setiap malam atau pagi, Mama saya selalu berdoa. Ada saatnya saya, adik dan kakak diajak untuk doa, tetapi karena pada dasarnya saya seorang pembangkang, jadi saya protes terus. Ada satu saat saya doanya begini dengan suara keras “Tuhan saya tidak mau doa Mama saya terlalu panjang dan lama”.
    Tetapi terlepas dari hal itu, saya tahu saya bisa di sini, karena doa-doa yang Mama saya sudah panjatkan.

  • Setiap generasi harus berkorban, supaya generasi berikutnya bisa hidup lebih baik. Papa saya mengorbankan waktu dan tenaga agar keluarganya bisa hidup lebih baik. Setelah menjadi seorang ayah, saya tahu betapa berharganya untuk bisa meluangkan waktu dengan anak-anak. Mereka bertumbuh dengan sangat cepat. Dan saya tahu, Papa saya harus mengorbankan waktunya agar kita bisa hidup lebih baik. Saya selalu tekankan kepada anak-anak saya, untuk meninggalkan sesuatu yang lebih baik ke generasi berikut, saya juga harus bisa berani berkorban. Entah itu waktu, kerja, tenaga, impian, ambisi, atau lainnya, agar mereka harus bisa menjadi lebih baik dari saya.
  • Generasi berikutnya harus Lebih baik dari generasi sebelumnya. Saya selalu mendukung anak-anak saya untuk bisa lebih pintar, lebih berani, atau bahkan lebih hebat dari saya. Saya mau mereka bukan menjadikan saya sebagai ukuran dalam berkarya dan kepintaran. Setiap saat, saya selalu bilang kepada mereka, kalian harus lebih pintar, lebih berkarya, lebih menghasilkan, lebih berpotensi, daripada saya.

Point-point tersebut saya selalu usahakan untuk saya ajarkan dalam setiap hal dalam kehidupan. Di dinding rumah, saya pasang satu canvas putih, dan saya tulis “Evidences of God’s Grace”. Di bawahnya, saya taruh foto-foto mereka, foto-foto keluarga, foto-foto mereka waktu masih bayi. Bagi saya kehidupan saya adalah bukti nyata dari Anugrah-Nya.

Tidak pernah saya bayangkan Tuhan membawa kehidupan keluarga saya, berawal dari kota kecil di Dobo, yang tidak ada dalam peta, sampai bisa ke Amerika. Kadang saya berkelakar ke anak-anak saya, mungkin nanti berikutnya, salah satu dari mereka bisa menjadi Presiden Amerika.

Sebagai seorang Papa, satu hal yang saya harapkan bagi anak-anak saya. Ketika mereka pada di usia mereka bisa melihat balik kehidupan mereka, mereka bisa melihat bukti-bukti dari Anugerah Tuhan.

12 Alasan Mengapa Adalah Suatu Kehormatan Untuk Menjadi Ayah Dari Anak Perempuan

IMG_9501-e1445818994255

Oleh Mark Driscoll

Setara dengan menjadi pengikut Yesus dan mempunyai seorang istri, tidak ada yang dapat merubah seorang pria menjadi lebih baik daripada memiliki anak perempuan. Hidup ini penuh dengan banyak pemberian, dan seorang anak putri adalah suatu hadiah special. Sebagai seorang pria yang mempunyai dua anak perempuan, saya dua kali lipat diberkati. Minggu ini putri bungsu kami, Alexie, berumur 12. Mengingat hari ulang tahunnya, saya merenungkan 12 hal mengapa adalah suatu kehormatan, bahwa Allah Bapa mempercayakan kita dengan anak perempuan.

    Dunia adalah tempat yang berbahaya, dan ayah-lah yang ditugaskan untuk melindungi putrinya dari bahaya.

  1. Dengan memenuhi kebutuhan jasmani dan emosional-nya, seorang ayah menciptakan suatu lingkungan di mana putrinya dapat berkembang.
  2. Seorang ayah menunjukkan bagaimana seharusnya kasih sayang seorang pria yang sejati, sehingga dia melindungi dan mencegah anak perempuan nya untuk menemukan kasih sayang tersebut dari tempat lain.
  3. Dalam mencintai ibunya, seorang ayah mencontohkan bagaimana tampaknya pola hubungan yang sehat.
  4. Karena keduanya disebut “Bapa”, seorang ayah dapat membantu anak gadisnya untuk memahami kasih Bapa surgawi nya.
  5. Dalam dunia yang penuh dengan kebingungan dan manipulasi, seorang ayah dapat membantu anak perempuannya untuk memahami jati diri dan betapa berharga diri-nya.
  6. Dengan bersenang-senang dengan putrinya, seorang ayah dapat memelihara hubungan di mana putrinya ingin menghabiskan waktu bersamanya.
  7. Dengan menjadi seorang guru untuk putrinya, seorang ayah bisa membantu putri-nya untuk menavigasi masalah-masalah praktis dalam kehidupan.
  8. Sebagai gembala putrinya yang pertama, seorang ayah memperkenalkan putrinya kepada Yesus, Alkitab, doa, dan gereja.
  9. Dengan mengenal dan mendorong putrinya, seorang ayah dapat membantu putrinya untuk merasa aman untuk menjadi apa yang Tuhan mau dia lakukan.
  10. Dengan mengakui kesalahan, kelemahan, dan kegagalan dirinya, seorang ayah akan membantu putrinya belajar bagaimana menjadi terbuka tentang pergumulannya.
  11. Dengan menerima putrinya sebagai hadiah dari Tuhan, seorang ayah melihat putrinya sebagai sesuatu yang sangat berharga, sehingga putrinya bisa melihat dirinya sendiri sedemikian juga.

Diterjemahkan dari : http://markdriscoll.org/12-honors-for-fathers-of-daughters-and-ecclesiastes-part-13/