3 Cara Nuh Menyimpulkan Akitab

Diterjemahkan dari situs : HTTP://THERESURGENCE.COM/2014/03/27/3-WAYS-NOAH-SUMS-UP-THE-BIG-STORY-OF-THE-BIBLE

Noah
Oleh : Steve Tompkins

Banyak orang Kristen akan cepat untuk mengatakan bahwa air bah adalah tentang dosa, kebajikan, dan murka Allah. Sementara hal itu setidaknya ada benarnya, kebenaran parsial dapat menjadi yang paling menyesatkan dari semua. Apa inti sebenarnya dari kisah Nuh ?

Semua orang tahu kisah Nuh dan Bahtera, kan?

Bagaimanapun juga, apa artinya keluarga di Amerika (yang mempunyai anak-anak kecil) tanpa mempunyai beberapa pajangan bahtera dengan boneka binatang lucu disertai dengan pelangi dan seorang tua berjenggot yang bertampang ramah?
Anak-anak saya mencintai mainan Bahtera Nuh mereka untuk di kamar mandi. Lalu ada buku-buku cerita, kartun, dan banyak “dokumenter” yang mengklaim “bukti” bahwa cerita ini adalah mitos, atau bahtera Nuh asli telah ditemukan.

Kita juga bisa mengingat mini-seri TV tahun 1999, atau film komedi Hollywood tahun 2007 Evan Almighty. Sekarang ada film Hollywood baru (yang mana saya belum melihat) yang dibintangi oleh Russell Crowe, Anthony Hopkins, dan Emma Watson.
Tentu saja, orang-orang Kristen yang taat Alkitab akan cepat untuk menunjukkan bahwa penceritaan dari film-film terkenal itu melenceng dari arti kisah sebenarnya.

Lalu apakah arti kisah itu sebenarnya?

Banyak orang Kristen akan cepat untuk mengatakan bahwa air bah adalah tentang dosa, kebajikan, dan murka Allah. Sementara hal itu setidaknya ada benarnya, kebenaran parsial dapat menjadi yang paling menyesatkan dari semua.
Arti sebenarnya terletak pada kenyataan bahwa cerita ini memperkenalkan beberapa tema utama Alkitab untuk pertama kalinya dalam pewahyuan yang berkesinambungan tentang Tuhan.

Mari saya tunjukkan apa yang saya maksud.

1. NUH MENUNJUKKAN BAHWA DOSA MEDUKAKAN ALLAH

Untuk mulainya, Kejadian 6:6-7 memberikan kita kilasan catatan pertama dari respon Allah terhadap dosa dijelaskan secara emosional.
Saya percaya ini adalah makna yang besar. Dan yang menarik, tanggapan pertama Allah bukan murka atau kemarahan. Sebaliknya, apa yang kita lihat adalah kepiluan diwarnai dengan penyesalan, sebagaimana dikatakan bahwa hati Allah benar-benar memilu.

Seringkali kita berpikir tentang dosa dalam hal hanya transaksional, sebagai ketidaktaatan terhadap perintah-perintah atau hukum. Pelanggaran yang kemudian menciptakan rasa bersalah dan menimbulkan amarah yang bijak dari Allah yang suci. Meskipun secara teknis benar, pandangan ini secara inheren tidak manusiawi dan layaknya seperti mesin.
Apa yang kita lihat dengan jelas untuk pertama kalinya dalam kisah Nuh adalah dosa sangat bersangkutan dengan relasional. Untuk Tuhan, dosa kita sangat menyinggung pribadiNya. Apa yang kita lihat di sini adalah sesuatu yang mirip dengan emosi seorang ayah yang penuh kasih, sedih dan pilu hati atas dosa terus-menerus dari seorang putra atau putrinya yang memberontak.
Ya, kemarahan ada di dalamnya, tetapi penekanan utama adalah rasa sakit yang mendalam dan kekecewaan yang ditanggung selama bertahun-tahun dalam cinta yang penuh kesabaran.

Kisah Nuh benar-benar menghancurkan penutup mata yang kita sering pakai sehubungan dengan efek dari pilihan dosa kita terhadap hati Bapa kita di surga. Dosaku menyebabkan rasa sakit terbesar yang pertama dan terutama kepada Bapa di surga. Raja Daud benar-benar mengertinya (Mazmur 51:4).

2. NUH MENUNJUKKAN BAHWA ALLAH MEMBERIKAN KASIH KARUNIA

Tidak kalah pentingnya, dan mungkin mengejutkan, kisah Nuh memberi kita pertama kalinya kata kasih karunia dalam Alkitab.

Pertanyaan: Mengapa Allah menyelamatkan Nuh dan keluarganya?

Bertahun-tahun lalu ketika ditanya, aku segera menarik jawaban saya dari Kejadian 6:9: “. Nuh adalah orang yang benar, tidak bercela di generasinya”. Apa yang saya luputkan – dan apa yang banyak dari kita lewatkan adalah – ayat sebelumnya yang memberitahu kita, “tapi Nuh mendapat kasih karunia [harfiah rahmat] di mata Tuhan “(Kej 6:8).

Menariknya, tanggapan pertama Allah terhadap dosa tidak murka atau kemarahan.

Ya, Nuh adalah orang yang benar, tetapi dengan kasih karunia dan bukan karena perbuatannya.
Hal ini jelas terlihat di ayat-ayat selanjutnya yang pertama kali menceritakan tentang: menanam kebun anggur, membuat anggur, mabuk, dan pingsan telanjang (Kejadian 9:20-23). Nuh bisa menjadi benar hanya oleh kasih karunia! Pengharapan mulai nampak.

3. NUH MENUNJUKKAN BAHWA ALLAH MEMBUAT PERJANJIAN DENGAN KITA

Tulisan yang paling penuh harapan dari semua, bagaimanapun juga, datang dengan pertama kalinya dalam Alkitab kata “perjanjian.” Ini adalah kisah tentang seorang Bapa yang penuh kasih dan kesabaran terhadap anak-anaknya, yang diciptakan menurut gambar-Nya, membawa dia kepedihan, kesedihan yang mendalam, dan kepiluan melalui pemberontakan yang tak terkirakan.

Tanggapan Allah adalah penghakiman, membawa kematian universal melalui air bah. Tapi air bah, meskipun pantas, tidak berdaya untuk menghapus dosa dan memberikan awal baru bagi kemanusiaan yang benar di era yang baru.
Keadaan manusia tidak berbeda setelah air bah daripada sebelumnya (Matius 24:37-39). Kengerian dosa terus berlanjut. Tujuan dari setiap hati manusia tetap kejahatan (Kej 6:5). Penghakiman dan kematian terus berlanjut dengan adil dan pantas untuk dunia sekarang ini.

Pada satu pengertian, air bah sepertinya sia-sia dan tidak berguna, tapi di situlah letak arti yang sebenarnya. Air bah tidak menyelesaikan apa-apa (pada akhirnya), tapi mengantisipasi segalanya. Nuh dan keluarganya diselamatkan oleh kasih karunia. Allah menetapkan perjanjian melalui satu orang dimana umat manusia dipelihara.
Kisah nyata ini, ditulis oleh Roh Kudus melalui pena Musa, menunjuk ke depan, mengantisipasi perjanjian yang lebih baik yang akan dibuat sekali-untuk-selamanya melalui satu orang, yaitu Yesus.

Ini mengungkapkan dosa kita, menunjukkan kepada kita hati Tuhan, dan memperingatkankalau kita layak untuk menerima penghakiman. Kisah ini mengantisipasi penawaran yang sejati akan identitas yang baru, yang dibuat benar oleh iman dalam Kristus, yang menderita kematian dan penghakiman mengganti tempat kita. Hasilnya, kita diadopsi ke dalam keluarga baru di bawah AnakNya yang Kudus. Dalam Dia kita tahu sukacita keselamatan dan janji akan awal yang baru dalam ciptaan baru, bebas dari kehadiran dosa.

Pikirkan kisah Nuh seperti sebuah gigitan dari makanan yang menggiurkan.Hal ini tidak sendirinya memuaskan, tetapi seharusnya membuat kita mengeluarkan air liur sebagai antisipasi perjamuan yang akan datang. Janganlah kita kehilangan artinya.

Leave a Reply

Post Navigation