Alex Launius

monkimage

Alex Launius mulai menyileti dirinya, anoreksi, dan mabuk-mabukan ketika dia beranjak 14 tahun.

Berasal dari Florida, Alex berusaha untuk bisa menyesuaikan diri. Dia memiliki “problema ayah ” itu istilah yang dia berikan, dan, ironisnya, berjuang dengan depresi yang panjang di tempat yang indah yang sering disebut “Negara Bagian Kemilau Matahari”

Depresi yang dialami berakar dari kekerasan fisik dan emosional yang didapatkan dari ayahnya.

Kehidupan Alex sudah ditentukan ke arah yang sepertinya tidak bisa diputarbalikkan sejak muda. Dia mulai merencanakan kehidupannya di sekitar minuman dan obat-obatan pada saat sebagian besar gadis seusianya hanya mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan rumah pra-aljabar mereka.

Sepanjang masa remaja dan memasuki usia 20-an, Alex melanjutkan untuk melakukan tiga aborsi sekaligus terlibat dalam beberapa hubungan sesama jenis. Dia menjadi penari erotis dan memasukkan setiap obat yang terbayangkan ke dalam tubuhnya.

Dia menemukan dirinya di penjara sebelum ulang tahunnya 21.

Tetapi Alex segera menyadari, waktu itu di balik jeruji besi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya.

Selama tiga tahun masa penjara, Alex diperkenalkan kepada Tuhan oleh sesama narapidana. Pada awalnya, kasih dari narapidana yang luar biasa ini mebuatnya frustrasi. Tapi ketika dia pergi, Tuhan mulai bekerja dalam hati Alex yang keras, membantunya memahami kedalaman kasih-Nya.

Suatu malam, di tengah-tengah perenungan dan mencarian, Alex membaca tentang kehidupan Yohanes Pembaptis di dalam Injil Matius. Tergerak oleh cerita tersebut dan ide baptisan, ia menuju ke tempat mandi penjara yang terbuat dari logam dan dingin, di mana dia membaptis dirinya di hadapan Tuhan.

Meskipun dia tidak benar-benar mengerti apa yang ia lakukan, Alex tahu dia membutuhkan sesuatu dan bahwa Yesus adalah hadiah yang terutama.

Pada saat itu, dia menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.

Setelah dia dibebaskan dari penjara, baik secara harfiah dan secara fisik, daya tarik Alex untuk wanita – di antara sejumlah kecanduan lainnya – secara ajaib hilang. Pergumulan terbesarnya sekarang adalah apa yang disebut di dalam kitab Filipi sebagai” pengetahuan dan kedalaman wawasan. “. Sesuatu yang dia tidak punya.

Dia ditempatkan di sebuah rumah transisi selama 16 bulan. Selama masa ini ia mulai belajar dan mwmahami lebih banyak tentang nilai-nilai fundamental dari keKristenan.

Suatu hari, ketika dia sedang memempelajari dan menyembah melalui video YouTube, Alex menemukan sekolah Alkitab di South Dallas dengan nama Christ for the Nations. Video penyembahan dari sekolah ini mulai menggerakan hatinya, dan dia memutuskan untuk pindah ke Texas. Setelah dia pindah ke Dallas dan terdaftar di sekolah tersebut, segala sesuatunya mulai masuk akal, dan hubungannya dengan Tuhan bertumbuh. Dia mulai mendapati dirinya menjadi kaku, dan lebih mencintai instruksi daripada Instruktur.

Alex bertemu dengan seorang pria bernama Zach, ketika dalam pelatihan untuk perjalanan misi ke Cina. Dia membantu mengajarinya kebebasan di dalam Kristus dan menghidupi iman Kristen bukan sekedar mengikuti peraturan tetapi tentang menyembah Tuhan.

Zach mengatakan dia dapat merasakan indahnya cerita yang terjadi di Yohanes 7 di mana Yesus menantang orang tanpa dosa untuk melemparkan batu pertama ke perempuan pezinah itu. Dia menyukainya karena dia tahu kedua sisi dari cerita tersebut.

Dia dan Alex berpacaran selama satu tahun, dan menikah, dan Alex melahirkan seorang bayi perempuan yang manis bernama Olivia pada Oktober 2011.

Sekarang Alex melayani di Jesus Said Love, organisasi mitra dari gereja The Village yang menjangkau para penari erotis di daerah DFW Metroplex dan mengajarkan mereka tentang kasih Kristus. “Pelayanan memberi saya begitu banyak pengharapan, membangkitkan iman saya dan menempatkan semuanya dalam perspektif, ” kata Alex. ” Meskipun semuanya itu adalah pengalaman hidupku, tapi hal itu mudah terlupakan.”

Ini adalah alasan dia begitu gembira tentang bekerja dengan organisasi Jesus Said Love. Dia menyentuh kedalaman dosa, dan Yesus telah menebus dirinya. Sekarang pesannya kepada orang lain adalah sebuah proses restorasi. ” Saya tidak pernah bisa melihat seseorang dan berkata ‘ Anda sudah terlalu jauh untuk diselamatkan, ‘ ” katanya.

Ini tidak berarti bahwa Alex tidak memiliki hari-hari yang sulit, tetapi ada maksud dari semuanya. “Saya akan senang kalau ketakutan bisa pergi begitu saja, tetapi itu tidak akan membuat saya tergantung pada Tuhan, ” katanya.

Pada bulan Januari, ia dan Zach akan pergi menuju ke Filipina untuk menyelesaikan kredit kelas misionaris perguruan tinggi mereka. Sementara itu, Alex terus menghabiskan hari-harinya mengurusi Olivia dan bekerja di toko Etsy nya.

” Saya suka membuat barang-barang untuk orang dengan pemikiran bahwa mereka akan menggunakan dan mencintainya. Kadang-kadang, sama dengan cara saya berpikir tentang Allah,” katanya. ” Anda tahu, Dia menciptakan segala sesuatu bagi kita, untuk kesenangan kita, untuk kebaikan kita. ”

Gairah untuk representasi visual tentang Kristus dalam kesenia adalah hal yang sangat mengilhami tato gelap yang tipis di lengan kanan Alex. Tatonya bertuliska ” Redeemed” (ditebus) dalam bahasa Ibrani dan tergagas dari cintanya akan kata-kata dari 1 Petrus 1:17-19 :

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Diadaptasi dari situs: http://www.thevillagechurch.net/article-stories/140411/alex-launius/

Leave a Reply

Post Navigation