Apakah Natal dan Paskah Adalah Perayaan Para Penyembah Berhala ?

0e1140389_blog-are-christmas-and-easter-pagan-holidays
Oleh : Geoff Ashley

Banyak skeptis berpendapat bahwa Natal dan Paskah memiliki asal-usul penyembahan berhala. Mereka menggunakan klaim ini dengan cara pemuslihatan filsuf untuk menyimpulkan bahwa Kekristenan berakar pada penyembahan berhala dan dengan demikian tidak lebih darisekedar mitos.

Saya membahas tuduhan tentang kesamaan antara Kristen dan penyembahan berhala dalam blog sebelumnya, tapi apa yang sebenarnya terkait dalam hari-hari libur tersebut? Apakah mereka berakar pada penyembahan berhala ? Jika demikian, apakah itu berarti bahwa Kekristenan adalah hanya dongeng ?

Kelahiran Natal

Origen, seorang pendiri gereja mula-mula, menentang perayaan inkarnasi Kristus dengan alasan bahwa pengakuan kelahiran dewa adalah praktek penyembahan berhala. Namun, tidak semuanya setuju, dan hari libur tersebut segera masuk ke dalam tradisi Gereja sebagai Mass Kristus, sebuah kebaktian yang didedikasikan untuk memperingati kelahiran-Nya. Dengan munculnya abad ke 4, Kristen sebagai agama kekaisaran, Gereja secara resmi merayakan Natal.

Kritik utama yang dikemukakan oleh para skeptis adalah mempertanyakan tanggal dari hari libur tersebut. Ada berbagai teori tentang mengapa Natal dikaitkan dengan tanggal 25 Desember dan tidak ada satupun yang konklusif. Siapa pun yang mengaku tahu mengapa Natal pada awalnya dirayakan pada tanggal tersebut kemungkinan besar hanya berspekulasi. Di bawah ini adalah beberapa teori yang sangat umum:

Liburan penyembahan berhala

Kekaisaran Romawi banyak dipenuhi dengan politeisme. Dalam campuran berbagai macam agama ini, perayaan penyembahan berhala terkadang dikemukakan sebagai alasan orang Kristen saat itu memutuskan untuk memperingati tanggal 25 Desember. Perayaan-perayaan ini termasuk kelahiran matahari ( natali solis Invicti ), kelahiran Mithras (” matahari kebenaran, “, dewa Romawi yang populer ) dan Saturnalia ( liburan Romawi yang populer ).

Walaupun mungkin kekristenan awalnya memilih tanggal ini bertepatan dengan festival penyembahan berhala, yang mana belum terbukti sampai saat ini, hal ini bukanlah hal yang dirahasiakan oleh Gereja . Ada alasan yang baik dan alkitabiah mengapa hal ini terjadi. Jika orang-orang tidak percaya dapat merayakan kelahiran matahari, mengapa tidak orang Kristen merayakan kelahiran Dia yang telah menciptakan dan memiliki matahari ? Jika dewa-dewa kafir bisa dirayakan, bukankah terlebih lagi Tuhan yang benar ?

Konspirasi Konstantinus

Kritikua senang sekali untuk membuat-buat teori konspirasi Konstantinus. Jika para skeptis ini bisa dipercaya, tidak hanya Konstantinus memilih 25 Desember untuk menyatukan berbagai agama dalam kerajaannya, tapi dia juga yang membuat Alkitab dan menciptakan Trinitas. Gambaran tentang Konstantinus ini tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah.
Jauh dari karikatur yang sering digambarkan oleh para skeptis, kaisar tersebut memiliki sedikit kewenangan atas kepercayaan dan praktek Gereja. Ketika kontroversi tentang Trinitas mengancam kerajaannya, Konstantinus tidak memutuskan masalah ini secara pribadi ; ia mengizinkan para uskup untuk bersidang dengan Dewan di Nicea. Fokus utamanya bukan untuk keakuratan teologis melainkan keharmonian kekaisarannya.

Meskipun mungkin Konstantinus mengambil inisiatif dalam menetapkan tanggal liburan, teori semacam ini hanyalah spekulatif. Ditambah lagi, jika ia benar melakukannya, itu tidak langsung membuktikan klaim bahwa Kekristenan adalah mitos belaka.

Kalender Perhitungan

Juga dipercayai bahwa 25 Desember dipilih oleh orang-orang yang berusaha untuk secara akurat menanggalkan kelahiran Kristus. Bukti sejarah menunjukkan bahwa banyak guru pada awal-awal Gereja percaya bahwa tanggal tersebut benar dan berusaha untuk membuktikannya secara matematis. Berbagai pembuktian dikemukakan untuk menunjukkan bahwa Kristus sebenarnya lahir pada atau sekitar tanggal 25 Desember.

Meskipun saat ini banyak yang berpendapat bahwa Kristus lahir di musim semi, penting untuk mengenali kemungkinan bahwa Gereja percaya, apakah keliru atau tidak, bahwa 25 Desember adalah tanggal yang pantas untuk perayaan inkarnasi.

Permulaan Paskah

Memilih tanggal Paskah jauh lebih mudah karena adanya data Akitabiah yang akurat. Alkitab tidak hanya menyatakan hari kebangkitan pada hari Minggu – hari pertama kalender Yahudi – tetapi juga berbicara tentang musim yang bertepatan dengan hari raya Paskah orang Yahudi (Passover).

Meskipun pada awalnya Gereja terbagi dalam hal apakah perayaan tersebut harus dikaitkan erat dengan Passover (hari raya Yahudi), rumus modern penghitungan hari Paskah akhirnya diterima sebagai hari Minggu pertama setelah bulan purnama pada atau setelah vernal equinox.

Walaupun kemungkinan kata “Easter ” berunsur penyembahan berhala, berbagai dewa-dewa dikatakan telah mempengaruhi kata tersebut termasuk Ishtar, Astarte dan Eostre, tetapi penyembahan kepada Kristus sebagai Tuhan yang telah bangkit adalah jelas-jelas Kristen. Apakah fakta bahwa kata Inggris ” Easter ” mungkin berhubungan dengan penyembahan dewa berhala berarti bahwa orang Kristen tidak dapat merayakannya ? Jika demikian, apa yang harus kita lakukan dengan kenyataan bahwa setiap nama hari dalam bahasa Inggris berasal dari penyembahan/perayaan dewa berhala? Apakah fakta bahwa kata “Thursday” (hari Kamis) aaalnya adalah “Thor’s day ” (hari dewa Thor) membuat orang Kristen dilarang untuk menggunakan kata tersebut ?

Pembentukan Tradisi

Tampaknya sangat memungkinkan bahwa perayaan Kristen tersebut pada akhirnya meminjam tradisi tertentu dari liburan orang kafir. Sebagai contoh, penggunaan pohon dengan lampu, pemberian hadiah, pesta dan penggunaan telur Paskah dan kelinci, semuanya adalah bentuk umum praktek penyembahan berhala. Tapi apa artinya ini ?
Ini bisa berarti tidak lebih, kalau Tuhan telah menanam tema-tema dan kebenaran-kebenaran tertentu ke dalam dunia yang bahkan orang-orang kafir juga mengenalnya. Mungkin Gereja mula-mula sekedar melihat bahwa para penyembah berhala hanya melihat sebagian kecil tentang kebenaran dan sukacita yang tertenun dalam lembaran alam semesta dan berusaha untuk mengakomodasi dan mengkomunikasikan kepada mereka lebih jelas dalam penerangan Injil.

Bukankah Kristus adalah Putra Kebenaran ? Bukankah Dia Terang Dunia yang lebih baik ?

Bukankah Dia mati di atas salib yang terbuat dari pohon?

Apakah orang kafir memiliki klaim eksklusif tentang kebiasaan emberian hadiah dan berpesta ?

Apakah ada sesuatu yang berunsur dosa atau tidak Alkitabiah tentang mendekorasi pohon atau telur ?

Sementara unsur-unsur tertentu dari hari-hari besar itu mungkin berakar dari penyembahan berhala, Natal dan Paskah pada akhirnya didasarkan pada peristiwa bersejarah dari inkarnasi dan kebangkitan Yesus Kristus.

Haruskah Orang Kristen Merayakan Natal dan Paskah ?

Kita tidak bisa hanya mencela semua yang berasal dari kekafiran (penyembahan berhala). Para penulis Alkitab sering mengambil kata-kata dan konsep penyembahan berhala dan memulihkannya dengan kebenaran.

Sebagai contoh, kata “Gospel” (Injil) adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan penaklukan oleh raja duniawi ; dengan demikian, para rasul menemukan dalam kata tersebut sebuah kaitan umum untuk mengkomunikasikan keunggulan dari kemenangan Tuhan. Demikian juga, orang Kristen melihat banyak hal-hal baik dalam dunia untuk perayaan dibanding dengan para penyembahan berhala.

Tidak ada perintah dalam Alkitab untuk merayakan Natal dan Paskah, tetapi juga tidak ada larangan. Selanjutnya, ada himbauan-himbauan yang jelas untuk mengingat dan bersukacita dalam pekerjaan Juru Selamat kita. Mungkin ada orang Krsiten yang merasa tidak tertarik untuk memanfaatkan unsur-unsur tertentu dari tradisi Natal dan Paskah modern, seperti pohon Natal dan telur Paskah, dan mereka memiliki kebebasan untuk melakukannya, begitu juga lainnya yang memiliki kebebasan alkitabiah untuk merayakannya. Apapun halnya, mengecualikan unsur-unsur tertentu seharusnya tidak menyebabkan kita membuang perayaan hari-hari besar tersebut sepenuhnya.

Kristus menjadi manusia. Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Kristus bangkit dari antara orang mati.

Apakah ada kebenaran lain yang lebih baik untuk perayaan ?

Leave a Reply

Post Navigation