Autisme Berhubungan Dengan Peningkatan Hormon-Hormon Steroid Pra-Kelahiran

iEP63rgjZ72kOleh Makiko Kitamura

Anak laki-laki yang menderita autisme terekspos hormon steroid dalam level yang lebih tinggi di dalam rahim dibandingkan mereka yang tidak menderita autisme, menurut sebuah studi yang menambah bantahan akan peranan vaksin.

Tingkat pra-kelahiran zat-zat testosteron, progesteron dan kortisol rata-rata lebih tinggi dalam anak laki-laki yang kemudian didiagnosis dengan autisme, para ilmuwan di University of Cambridge di Inggris dan Statens Serum Institute di Kopenhagen mengatakan dalam sebuah laporan yang dirilis hari ini.

Temuan yang diterbitkan dalam jurnal Molecular Psychiatry, memberikan penjelasan yang mungkin tentang bagaimana autisme berkembang selama kehamilan, membantah kekhawatiran akan faktor eksternal seperti peranan vaksin. Gangguan spektrum autisme, sekelompok gangguan perkembangan otak, mempengaruhi sekitar 1 dari 160 anak, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

” Kami sebelumnya tahu bahwa tingkat testosteron pra-kelahiran yang tinggi berhubungan dengan perkembangan lebih lamban dalam sosial dan bahasa, perhatian terhadap detail yang lebih baik dan lebih condong ke karakter-karakter autis, ” Simon Baron – Cohen, profesor perkembangan psikopatologi di Cambridge, mengatakan dalam sebuah pernyataan. ” Sekarang, untuk pertama kalinya, kami juga menunjukkan bahwa hormon-hormon steroid meningkat pada anak-anak yang secara klinis didiagnosis dengan autisme. ”

Cairan ketuban

Penelitian ini terpaut pada 19.500 sampel cairan ketuban yang disimpan dalam biobank Denmark dari individu yang lahir antara tahun 1993 dan 1999. Para peneliti mengidentifikasi sampel dari ibu yang melahirkan 128 anak laki-laki yang kemudian didiagnosis dengan kondisi spektrum autism. Karena beberapa hormon yang diproduksi tersebut jumlahnya jauh lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan, temuan tersebut dapat membantu menjelaskan mengapa autisme lebih banyak diderita anak laki-laki, kata para peneliti.

” Kami sekarang ingin menguji apakah temuan yang sama ditemukan pada wanita dengan autisme, ” kata Baron -Cohen.

Para ibu seharusnya tidak terburu-buru untuk menggunakan pencegah hormon steroid, karena hal ini dapat memiliki efek samping yang tidak diinginkan, menurut Baron – Cohen. Penelitian ini juga tidak harus ditafsirkan akan perlunya tes skrining pra-kelahiran karena hormon-hormon tersebut ada dalam bayi-bayi yang normal dan mungkin tidak memprediksi diagnosis bagi seorang individu, katanya.

Hasil studi menunjukkan adanya variasi dalam sensitivitas setiap individu terhadap hormon-hormon tersebut atau lingkup waktu penyelidikan terlalu dini untuk mendeteksi ketinggian sebenarnya dari kadar hormon, kata Richard Sharpe, seorang profesor yang mengkhususkan diri dalam kesehatan reproduksi laki-laki di University of Edinburgh.

Bukan Vaksin
” Meneliti ini pada manusia adalah sangat sulit karena jelasnya keterbatasan dalam mengakses apa yang terjadi pada janin dalam rahim, sehingga penyelidikan seperti penelitian ini harus dipandang sebagai perintis, ” kata Sharpe dalam sebuah pernyataan di e-mail.

Studi ini mendukung penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa autisme terkait dengan perkembangan pra-kelahiran.

Tulisan yang dipublikasikan pada bulan Maret di New England Journal of Medicine menemukan bahwa mereka yang didiagnosis dengan autisme kehilangan tanda-tanda genetik utama bagi sel-sel otak yang seharusnya berkembang sebelum kelahiran.

Sebuah studi Norwegia yang dipublikasikan tahun lalu menemukan bahwa mengkonsumsi suplemen asam folat pada awal kehamilan dikaitkan dengan rendahnya risiko gangguan autis. Asam folat diperlukan untuk memadukan sumsum tulang belakang dalam perkembangan awal janin.

Vaksinasi telah ditakuti sebagai penyebab potensial autisme setelah studi oleh Andrew Wakefield, yang diterbitkan dalam jurnal medis Lancet pada tahun 1998, terkait vaksin campak – gondok – rubella (MMR) dengan peningkatan risiko autisme. The Lancet mencabut studi tersebut pada tahun 2010, mengklaim “SALAH”, dan British Medical Journal menyebutnya sebagai penipuan dalam laporan tahun berikutnya.

Sebuah studi yang diterbitkan sekitar 14 bulan yang lalu dalam Journal of Pediatrics oleh para peneliti di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Atlanta mengkonfirmasi temuan penelitian sebelumnya bahwa risiko autisme tidak meningkat dengan penggunaan vaksin anak.

Diadaptasi dari situs : http://www.bloomberg.com/news/print/2014-06-03/autism-tied-to-high-levels-of-prenatal-steroid-hormones.html

Leave a Reply

Post Navigation