BAGAIMANA YESUS MERUBAH KEIBUAN

HTompkins_HowJesusChangesMotherhood

BAGAIMANA YESUS MERUBAH KEIBUAN

Oleh Hilary Tompkins

Mencoba untuk menjadi ibu yang sempurna bisa menjadi beban yang sangat berat, dan kadang-kadang Hari Ibu hanya membuatnya lebih buruk. Kami berharap cerita dari ibu-ibu biasa ini yang mengandalkan Yesus di tengah-tengah kegagalan dan ketidaksempurnaan akan menguatkang anda.

Bagaimana kabarmu, Mama ? Apakah Hari Ibu Anda berjalan dengan sempurna ?

Apakah Anda memiliki anak-anak yang taat, suami yang sangat penuh perhatian, cuaca yang sempurna, makanan yang sempurna, dan rambut yang sempurna ?

Atau apakah pendeta anda berkhotbah tentang Amsal 31 (bersalah), apakah anak-anak Anda pergi ke gereja dengan sirup di rambut mereka (bersalah), dan apakah suami Anda bertanya di mana kemeja favoritnya lagi (rasa bersalah) ?

Anda bukan ibu-ibu seperti di situs Pinterest ? Anda tidak sendirian.

BEBAS UNTUK TIDAK SEMPURNA

Kita disandera oleh keinginan kita untuk menjadi sempurna. Untuk sekali saja, demi kebaikan, bisakah kita pergi ke gereja pada Hari Ibu sesempurna imajinasi kita – mengatakan kata-kata berkat dan kebaikan; terlihat kurus, cantik, dan semuanya rapi; tidak malu dengan perilaku anak-anak kita atau kondisi mobil van ? Dan tidak, demi semua yang suci, terlihat apa kita yang sesungguhnya : kecewa, rusak, kehilangan seseorang, dan kehilangan damai sejahtera.

Ketika kita bersama-sama, kita bisa berbicara tentang bagaimana kebenaran Injil bisa merubah semua ini, dan itu akan menjadi percakapan yang luar biasa. Kita bisa mengingatkan diri kita sendiri pemberian-pemberian baik yang telah Allah berikan kepada kita, benar-benar menghitung berkat-berkat kita, memutuskan untuk merasa bersyukur atas anak-anak kita, dan itu adalah ketenangan.

Kita bisa membandingkan pelajaran-pelajaran tentang seperti apa rasanya ketika suatu hari nanti, mereka telah menjadi dewasa dan berkata kita diberkati. Kami akan bersukacita dalam identitas baru, hidup baru, dan perspektif baru yang merupakan hasil dari kepercayaan yang sejati tentang Injil.

Kami akan ingat bahwa meskipun kita terhilang, sekarang kita ditemukan. Meskipun kita tidak cukup, kita luar biasa dicintai oleh Tuhan yang benar-benar memadai. Meskipun kita lebih buruk dari yang kita pernah pikir, Yesus lebih baik daripada yang bisa kita bayangkan. Meskipun kita begitu jelas tidak sempurna, kesempurnaan-Nya diperhitungkan pada kita sebagai kebenaran.

BAGAIMANA INJIL MERUBAH KEIBUAN

Apakah Anda meragukan hal ini ? Kadang-kadang tidak ada yang lebih baik selain seorang teman untuk mengingatkan dan bersukacita dengan kita. Jadi saya ingin berbagi beberapa cerita dengan Anda pada Hari Ibu ini, cerita dari ibu-ibu sejati seperti Anda, dengan kekurangan dan perjuangan yang sama, dan dengan Allah yang baik yang sama. Jadi ambil minuman favorit Anda dan dengarkan. Saya mempertanyakan beberapa pertanyaan ini kepada ibu-ibu :

  • Bagaimana mengenal Yesus bisa merubah Anda sebagai seorang ibu ?
  • Bagaimana mengetahui kebenaran Injil mengubah perspektif Anda tentang keibuan ?

Dan inilah yang mereka katakan :

JARICA :

Ketika J. pertama kali lahir, setiap kali dia menangis aku merasa terbeban untuk mengetahui mengapa dia menangis. Saya tidak memiliki naluri keibuan untuk tahu bagaimana merawatnya. Injil dalam situasi itu berarti seperti ini : Saya memiliki kebebasan untuk meminta bantuan karena apa yang Yesus lakukan di kayu salib, dan jika saya tidak tahu atau tidak mendengar jawaban naluri, aku bisa mengira-ngiranya dengan bebas tanpa rasa malu atau bersalah karena melakukan kesalahan. Yesus sudah menanggung segala kemaluan tersebut.

Ketika J. pertama kalinya ngambek yang luar biasa ( saya memintanya untuk mengambil cangkir ), saya bingung tentang bagaimana untuk membantu dia. Anak itu benar-benar ngambek ! Saya berdoa untuk bantuan. Aku punya gambaran tantang diriku menangis di lemari kecil kami setahun sebelumnya ketika saya berdoa bahwa Tuhan akan membantu saya untuk tahu apa yang harus dilakukan di tengah-tengah konflik. Tuhan meminta saya untuk taat, dan saya tidak mau.

Saya mengerti bahwa Allah memanggil saya untuk melakukan apa yang ia telah dan sedang lakukan terhadap saya : Untuk merangkul J. dan menemaninya selama dia menangis, berdiri tegar tidak menyerah, terus mengulangi panggilan untuk mengambil cangkirnya sampai ia mematuhinya.
Saya benar-benar bergembira bersama dia dan tahu sudah waktunya bagi saya untuk bertobat dan membiarkan Tuhan bergembira bersama saya. Aku tahu bagaimana lembut dan tegarnya Allah, dan bahwa saya tidak dapat terlepas dari apapun kalau memakai ambekan saya. Hal ini merubah ketidaksabaran saya untuk mengerti. Saya sama seperti anak saya.

MARSHA :

Aku belum pernah belum memiliki hari yang sempurna selama menjadi ibu. Aku menyerah setiap hari terhadap godaan ketidaksabaran, atau kemarahan, atau apatis, atau penngagungan kepada kebersihan kamar mandi yang hanya bertahan lima menit. Aku membiarkan kegagalan saya untuk merongrong otoritas saya : Saya tidak cukup baik untuk menjadi orang tua bagi anak-anak ini !

Tapi aku belajar pentingnya dan indahnya kebebasan hidup seperti apa yang Yesus katakan adalah benar : aku telah diampuni. Dengan bantuan-Nya saya bisa bertobat dari dosa-dosa saya terhadap mereka dan masih berdiri dalam otoritas yang penuh kasih atas mereka. Dan aku harus.

KARINA :

Setiap hari mengharuskan saya menyerahkan keinginan dan rencana saya dan tersungkur di bawah kaki salib dalam rangka untuk mengasihi dan melayani anak-anak saya. Kasih karunia Allah yang ada di salib adalah apa yang menguatkan saya dalam kekacauan hidup ini.

BRIDGET :

Injil telah membebaskan saya untuk melihat anak-anak saya sebagai manusia-manusia yang dibuat oleh Yesus, daripada sekedar kebanggaan untuk kemuliaanku. Mencari identitas saya di dalam Kristus, dan menyadari bahwa semua kemuliaan milik-Nya, memungkinkan saya untuk mengasihi dan melayani anak-anak saya dengan cara yang nyata.

Anak-anak saya harus ” bersikap sedemikian” sebelum kita bisa berangkat ke gereja, karena mereka mewakili saya. Selain stres dengan anak-anak saya dan kemarahan yang tidak kudus terhadap balita saya yang akan mencabut kepang rambutnya atau anak-anak yang tidak mau memakai sepatu saya yang saya siapkan untuk mereka, hal ini juga menyebabkan geraman berantem buruk antara suami dan saya. Melihat bahwa Injil adalah cukup, memungkinkan saya untuk bertobat dari keinginan saya untuk kemuliaan pribadi dan memungkinkan anak-anak saya untuk pergi ke gereja dengan sukacita ( dan sirup di rambut mereka ).

JORDAN :

Mengetahui Injil telah benar-benar mengubah cara saya melihat artinya seorang ibu. Bagi saya itu terjadi selama persalinan dengan anak sulung saya : saya adalah seorang cengeng, penuh tuntutan selama kehamilan saya. Aku memanfaatkan penuh alasan saya untuk menjadi murung dan terlalu emosional, tetapi sesuatu terjadi ketika saya mulai bersalin.

Saya menyadari bahwa ini bukan tentang aku ; ini adalah tentang melakukan apa yang terbaik untuk anak laki-lakiku yang belum pernah bertemu muka dengan muka sebelumnya. Pergolakan dari pesalinan, dengan tanpa akhir yang terlihat, dan tidak ada tempat untuk pergi tetapi untuk mengalah pada kontraksi dan mengorbankan kenyamanan saya untuk kesejahteraannya – itu adalah gambaran dari Injil yang aku tidak pernah lihat sebelumnya. Ini semua tentang Yesus dan menunjukkan kepada anak-anak saya, kasih karunia dan rahmat yang sama yang Dia telah tunjukkan kepada saya.

Bethy :

Sebelum aku punya anak-anak, saya pikir saya tahu bagaimana menjadi seorang ibu. Aku punya banyak pendapat mengapa anak-anak bisa menjadi lepas kendali dan apa yang orang tua harus lakukan untuk memperbaiki perilaku anak-anak tersebut.

Lalu aku mempunyai si kecil manis B. Semua yang saya ” tahu ” tentang menjadi seorang ibu lenyap karena manusia kecil ini. Saya belajar dengan cepat bahwa, sama seperti setiap ibu baru – saya tidak tahu apa yang saya lakukan.

Dalam keputusasaan dan kesepian saya, Tuhan bertemu dengan saya. Aku tidak sendirian. Berlarut-larut malam mencari tahu bagaimana memberi makan bayi saya adalah malam-malam yang paling sulit dalam hidup saya, tetapi Tuhan ada di sana. Dia bertemu dengan saya dalam dalam ketulusan alunan Amazing Grace yang saya nyanyikan untuk B, ketika mencoba untuk menenangkannya dan membuatnya tertidur. Dia bertemu dengan saya dengan suami yang ikut bangun dengan saya dan menguatkan saya untuk terus berjalan.

Dalam gelap, sendirian, berdoa atas bayi yang berharga ini, Allah mengubah hati saya agar menjadi seorang ibu. Saya tidak seharusnya memiliki semua jawaban. Saya harus pergi ke SESEORANG yang punya. Saya jatuh tersungkur menyembah di wajah di hadapan Dia, yang mengerti ketakutan dan kegagalan saya. Allah adalah satu-satunya yang tahu bagaimana membesarkan anak-anak saya dengan sempurna.

Mengingat hidup ketika B. baru lahir selalu membantu bagi saya untuk melihat ke belakang dan mengingat malam-malam manis dalam kegelapan, berdoa dan menyanyikan lagu-lagu untuk bayi berharga yang telah mengkhawatirkan saya.

MISSI :

Injil telah mengubah tujuan saya dalam mengasuh anak. Dulu aku hanya ingin agar anak-anak saya mendengarkan saya, dan saya tidak memperdulikan kondisi hati mereka di balik perilakunya. Saya ingin membuat kerajaan saya senyaman mungkin bagi saya. Yesus telah mengasihani saya dalam menunjukkan kepada saya motif saya yang sebenarnya atas ketaatan mereka, dan dia bekerja di hati saya untuk sangat peduli apa yang terjadi di dalam hati mereka.

DANIELLE :

Daripada menjadi seorang figur otoritas yang menuntut untuk ditaati dan dihormati, saya bisa menjadi perwakilan kasih karunia kepada anak-anak saya. Daripada mendasarkan harga diri saya kepada bagaimana anak-anak saya di kemudian hari atau perilaku mereka, harga saya ditemukan dalam penebusan Allah termasuk kegagalan-kegagalan saya sebagai seorang ibu.

Daripada putus asa ketika saya gagal dalam mengasuh dengan baik, saya bisa beralih ke Bapa saya yang sempurna mengampuni saya dengan cepat dan tidak menyimpan kesalahan. Daripada harus menampilkan diri kepada anak-anak saya sebagai contoh wanita Kristen yang sempurna, saya bisa mengarahkan mereka kepada Juruselamat yang sempurna dan kekasih jiwa mereka.

Daripada menuntut hal-hal yang saya pikir adalah hak saya sebagai orang tua karena saya ‘pantas’ menerimanya, saya bisa bersukacita ketika anak-anak saya memilih untuk menyembah Yesus bukan aku. Daripada hidup dengan kekerasan hati di dalam anak-anak saya, saya bisa berdoa bagi mereka dan menunjukkan lekas untuk bertobat bagi mereka.

Anie :

Aku dibesarkan tanpa ayah kandung saya dan dengan ibu yang pemarah. Kebenaran Injil menunjukkan kepada saya bahwa Bapa saya yang lebih besar, yang lebih baik, memiliki kasih yang sempurna bagi saya dan selalu ada untuk membantu saya menunjukkan anak-anak saya apa yang saya tidak alami dari orang tua saya. Dia menunjukkannya kepada saya sehingga saya bisa menunjukkannya kepada mereka.

Dengan latar belakan saya dibesarkan, saya memiliki godaan untuk menjadi pendek sabar ketika anak-anak saya nakal. Saya akan berteriak untuk mendapatkan perhatian mereka dan memberikan konsekuensinya. Saya melihat anak saya yang tertua mulai menjauh dari saya untuk jangka waktu yang lama setelah saya menecemoohnya, dan aku bisa melihat reaksi saya telah menghancurkan dirinya.

Aku berdoa akan hal ini untuk waktu yang lama sambil mengingat luka masa kecil saya , dan saya meminta Tuhan untuk membantu saya tidak mengulang siklus tersebut. Melalui pertobatan saya dengan segera ketika saya gagal dalam hal ini ini, dia melihat saya mengoreksinya tanpa marah atau menaikkan suara saya. Sekarang dia tidak lagi jauh dariku – dia menghampiriku, berdiam dengan saya, dan kita bersama-sama bertobat terhadap satu sama lain dan Yesus atas keegoisan kami yang penuh ketidaksabaran juga atas segala hal yang membuat kami sampai pada keadaan demikian.

SHADLIE :

Mengetahui kebenaran Injil telah membuat saya menyadari bahwa semuanya itu bukan tentang aku ; semuanya tentang Yesus. Satu kebenaran yang tampaknya sederhana ini telah secara drastis mengubah saya.

Ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang saya rencanakan, saya tidak perlu lagi marah atau frustrasi, tapi saya bisa percaya bahwa Yesus, pada saat-saat tersebut, menggunakan saya untuk mencerminkan kesabaran dan berdamai kembali degnan anak-anak saya.

Saya tidak perlu hidup dalam ketakutan untuk anak-anak saya, tapi saya bisa percaya bahwa sama seperti Yesus telah merawat, mengejar, dan melindungi saya, ia memiliki hati yang sama untuk anak-anak saya. Saya tenang mengetahui bahwa ia telah secara khusus memperlengkapi saya untuk merawat anak-anak tersebut dan menggunakan mereka untuk mendewasakan dan membentuk saya.

Kebenaran bahwa anak-anak tersebut bukan milik saya, tetapi milik Yesus, adalah hal yang paling mentransformasi segala sesuatunya. Dia telah meminta saya untuk melatih mereka, berharap pada-Nya, dan kemudian meminta saya untuk melepaskan mereka, supaya bergantung pada-Nya – semua untuk kemuliaan-Nya. Karena semuanya adalah tentang Yesus dan bukan tentang aku.

Diadapstasi dari : https://theresurgence.com/2014/05/11/how-jesus-changes-motherhood

Leave a Reply

Post Navigation