Category Archives: Kesaksian

Orang Baik Susah Masuk Surga

Hari Minggu kemarin di gereja kami merayakan Paskah. Mereka membuat suatu drama musikal yang benar benar professional, tentang kehidupan seorang yang bandel atau rusak, dan kemudian Tuhan rubah. Suatu drama yang sangat inspiratif . Memang Tuhan kita Tuhan yang sanggup merubah kehidupan seseorang 180 derajat. Dari yang sebejat apapun, Dia bisa rubah.

Kemudian, saya mulai melihat kehidupan saya. Dilahirkan dari keluarga Kristen. Sudah tahu Kristen dari kecil. Kehidupan dari kecil hingga dewasa, tidak ada yang terlalu “bejat” … Istilahnya. Anak baik menurut standard orang. Waktu SD tidak terlalu bandel. SMP dan SMA pun tidak berani berbuat yang macam-macam. Kehidupan berkisar antara sekolah, buat PR, main games, makan, tidur … Dan lanjut.
Istilahnya menurut standard orang, anak baik baiklah.

Tapi, terus terang saya merasa kehidupan seperti inilah yang lebih mungkin tidak masuk surga. Mengapa demikian ?

Kalau seorang yang dianggap bandel atau jahat oleh masyarakat setidaknya dia tahu dia perlu Tuhan. Tetapi kalau orang baik, belum tentu dia tahu kenapa dia perlu Tuhan.

Kalau kita berpikir alasan kita butuh Tuhan agar supaya bisa jadi baik, maka untuk apa butuh Tuhan kalau kita sudah baik ? Toh tidak ada bedanya nanti.

Untungnya Tuhan tahu kita sebenarnya tidak akan bisa untuk menjadi baik secara standard Tuhan. Kalau secara standard masyarakat sih mah gampang untuk kelihatannya baik, karena masyarakat hanya melihat luarnya saja.
Contoh kemarin ini ada seorang pemuka agama yang dianggap alim oleh pengikutnya. Ternyata, terbongkar akun WhatsApp nya berisi perzinahan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Baik ? Jelas menurut penilaian masyarakat. Tapi hatinya tidak. Dan ini Tuhan tahu.

Celakanya ,sebaik apapun kita berpikir bahwa kita baik, kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi baik.

Tidak percaya ? Saya akan berikan 2 argumen saya.

Pertama, kenapa kita berkelakuan baik ? Kalau kita telusuri dan kalau kita mau jujur sejujur jujurnya. Kita kupas semua itikad kita dan melihat inti dari alasan kebaikan kita . Intinya adalah supaya hati kita merasa enak. Tidak ada satupun di antara kita yang mau berbuat baik kalau perbuatan itu tidak akan membuat kita puas. Walaupun bentuk kebaikan itu harus melalui pengorbanan kita. Misalnya kita bisa beri uang kepada orang miskin . Walaupun kita mengorbankan yang kita punya, tetapi hasil dari pengorbanan itu bisa memuaskan hati kita.

Jadi secara tak langsung, kita sebenarnya berbuat kebaikan karena kita sebenarnya egois. Yap kebaikan kita hanya sekedar kedok dari keegoisan kita.
Makanya ada beberapa ajaran agama yang berusaha untuk mengkosongkan ‘diri’ atau menekan rasa puas atau gembira atau perasaan senang, karena mereka tahu akar dari rasa puas yang didapat setelah kita berbuat baik adalah sebenarnya untuk ego kita.

Kedua, kita tahu segala sesuatu di dunia ini dapat menyebabkan sebab-akibat baik secara langsung atau tidak langsung. Sehingga suatu aksi yang sekecil apapun bisa berdampak kepada yang lain secara langsung atau tidak, secara kita sadari atau tidak. Misalnya kamu buang suatu botol plastik ke laut, karena sampah tersebut mungkin akan membunuh sekumpulan ikan. Karena matinya sekumpulan ikan tersebut, anda bisa membuat sekeluarga nelayan kelaparan. Anda bisa berargumen, lah emang buang sampah sembarangan khan salah yah pasti akan merugikan orang lain. Ok, mari kita bayangkan misalnya kita berbuat kebaikan. Contoh yang paling gampang, misalnya ada program pemerintah yang memberi bantuan uang untuk orang miskin. Bantuan tersebut baik dan mulia, tapi tidak tertutup kemungkinan banyak digunakan beberapa orang untuk bermalas-malasan dan hanya bergantung kepada Pemerintah. Jadi akibat suatu kebaikan tidak selalu positif, dan sesuatu yang tidak berakibat positif itu berarti bukan baik. Karena kita selalu mengukur dampak kebaikan dari efeknya, bukan dari persepsi kita. Kalau kita mengukur kebaikan hanya berdasarkan persepsi kita, maka kita adalah seorang yang sangat super egois. Dan itu berarti kita bukan orang baik.

Hahahahhaha … jadi bagaimana dong ?
Well … kita kembali lagi ke alasan dari banyak orang untuk berbuat baik. Kebanyakan orang yang beragama, berbuat baik itu diidentikkan sebagai ‘bayaran’ untuk bisa masuk surga. (Kalau orang yang tidak beragama, yah beda lah, saya akan bahas di artikel yang lain). Istilahnya kalau kita mau masuk ke rumah orang, maka kita sebagai tamu harus memenuhi syarat yang diberikan empunya rumah. Misalnya mohon dibuka sendalnya, maka sebagai tamu yah kita harus nurut.

Nah … sama kalau kita mau masuk surga … kita harus nurut sama permintaan yang empunya surga. Banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan mempunyai suatu timbangan yang akan menimbang aksi baik dan aksi jahat kita. Masalahnya kalau sistem ini benar, maka bisa menyebabkan banyak ketidak adilan ! Mengapa demikian ?

  1. Bagaimana kita tahu berapa ‘berat’ kebaikan yang kita buat dan berapa ‘berat’ kejahatan yang kita buat.
  2. Andaikata kita mengukur ‘berat’ kebaikan dari banyaknya jumlah orang yang terkena efek dari kebaikan kita, maka sangatlah mudah untuk orang kaya untuk masih surga. Dia bisa memberikan banyak uang kepada banyak orang. Sedangkan yang miskin, bisa susah masuk surga.
  3. Bagaimana kalau kebaikan yang maksudnya baik malah ujung-ujungnya efeknya tidak baik ?
  4. Atau sebaliknya itikad tidak baik, tapi malah ujungnya baik ?
  5. Dan kalau Tuhan tahu isi hati, maka bagaimana dengan perbuatan baik dilakukan dengan itikad tidak baik, tetapi efeknya baik kepada banyak orang ?
  6. Dan bagaimana kalau timbangannya netral ? Jadi perbuatan baik = perbuatan jahat ? Apa bakal disuruh try again (kaya main game aja)

Ribet banget … bisa bikin sakit kepala kalau Tuhan memang benar memakai sistem di atas. Kalau Tuhan memakai sistem di atas, Dia tidak Maha Adil, karena Dia tahu sistem itu bisa menguntungkan pihak pihak tertentu.

JAdi bagaimana ? Bagaimana kita bisa masuk surga ? Tidak seribet yang kita bayangkan … mengutip mantan Presiden kita “Gitu aja kok Repot”
Kuncinya kita harus sadar TIDAK ada satupun di dunia ini yang istilahnya baik menurut standard Tuhan. Tidak ada kebaikan kita yang bisa bikin Tuhan di atas terkagum-kagum.
“WOW … ini orang baik banget ! GILA MAN ! Eh malaikat malaikat, lihat tuh ! Man tuh orang baik banget nget nget !”

Karena Dia tahu tidak ada satupun aksi baik kita yang bisa memenuhi standardNya.

Lalu bagaimana kita bisa dianggap mmmh BENAR oleh Dia. (perhatikan saya tidak memakai kata Baik, tetapi Benar)

Dia berikan jalan kepada kita, dengan memberikan AnakNya Yesus untuk mati bagi kita. Dia yang menanggung semua dosa kita, sehingga dihadapanNya kita diBENARkan.
Bukan karena usaha dan kuat kuasa kita.

Dia yang merubah hati kita. Dari hati yang baru tersebut mulai mengalir perbuatan-perbuatan yang baik. Tidak sempurna. Tidak masalah. Karena kita memang tidak sempurna, tetapi DIA sempurna.
Dengan ketidaksempurnaan dan ketidak baikan kita, kita sadar bahwa kita harus tergantung kepada Dia setiap saat dan setiap waktu.

Perbuatan baik menjadi suatu kesukaan dan bukan lagi suatu keharusan. Mencintai sesama merupakan suatu ekspresi perasaan kita, karena Dia sudah terlebih dahulu mencintai kita, malah sebelum kita menjadi orang baik. Dia memilih kita bukan karena kita baik atau penuh potensi, tetapi karena Dia adalah kasih.

Jadi … Intinya orang baik memang sukar masuk surga. Karena standard untuk masuk ke sana, bukan kebaikan kita. Kebaikan kita sama sekali tidak memenuhi standardNya. Nope. Nggak even level 0.

Dia tahu itu semua, sehingga Dia akhirnya yang harus datang dan menanggung dosa. Karena Dia tahu kebaikan kita tidak akan bisa menjadi jembatan ke surga.

Jadi ingat, orang baik memang sukar masuk surga, tetapi mereka yang dengan iman dibenarkan olehNya, tidak perlu khawatir.

Sumber inspirasi :
Roma 3:1-31

Amunisi Untuk Melawan Kekhawatiran

Image result for john piper

oleh John Piper

Berikut adalah sembilan dari janji-janji Alkitab:

Ketika saya cemas tentang usaha atau pertemuan baru yang beresiko, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji: “Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”
Yesaya 41:10 TB

Ketika saya cemas tentang pelayanan saya menjadi tidak berguna dan kosong, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” – Yesaya 55:11 TB

Ketika saya cemas tentang menjadi terlalu lemah untuk melakukan pekerjaan saya, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji Kristus, “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
2 Korintus 12:9 TB, dan “…, selama umurmu kiranya kekuatanmu.
Ulangan 33:25 TB

Ketika saya cemas tentang keputusan yang saya buat untuk masa depan, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.” – Mazmur 32:8 TB

Ketika saya cemas tentang menghadapi lawan, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? ” – Roma 8:31 TB

Ketika saya cemas akan menjadi sakit, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji bahwa “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.” – Roma 5:3‭-‬5 TB

Ketika saya cemas tentang semakin tua, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” – Yesaya 46:4 TB

Ketika saya cemas tentang akhir hidup, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji bahwa “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.”
Roma 14:8‭-‬9 TB

Ketika saya cemas bahwa iman saya hancur dan jatuh terlepas dari Allah, saya lawan ketidakpercayaan dengan janji, “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”
Filipi 1:6 TB

“Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.”
1 Tesalonika 5:24 TB

“Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka. ” – Ibrani 7:25 TB

Melihat Kembali Anugerah

20150310 Heather Lake 0150 Web
Satu hal yang saya suka lakukan kepada anak-anak saya, yaitu bercerita. Saya berusaha menceritakan bagaimana mereka bisa ada dalam keadaan sekarang, tinggal di Amerika, hidup dengan nyaman dan tercukupi. Dan satu hal yang selalu saya tekankan, semuanya karena anugerah Tuhan.

Papa dan mama saya bukan berasal dari keluarga yang kaya. Mama saya lahir di Dobo, Maluku Tenggara. Kalau saya bercerita, saya selalu menambahkan “Cari di peta-pun kadang Dobo nggak bakal ketemu” . Papa saya lahir di Makasar, Sulawesi Selatan.

Ke dua orang tua saya tidak punya gelar sarjana. Papa saya sudah harus bekerja untuk menolong untuk membiayai adik-adiknya ketika dia lulus SMA. Menurut kisah nya, dia sudah harus merantau ke pulau-pulau kecil di Indonesia Timur. Dan karena anugrah Tuhan, salah satu pulau tersebut adalah Dobo. Juga dengan anugerah Tuhan, jadilah mereka ketemu dan menikah.

Orang tua saya pindah ke Jakarta dengan membawa sedikit uang. Seingat saya, mereka menumpang di rumah salah satu saudara. Beberapa waktu kemudian, lahirlah saya, anak ke dua. Mama saya sering bercerita, saya bukan bayi yang mudah diurus. Sepertinya waktu kecil saya tidak bisa minum susu biasa, jadi harus beli susu buatan Jepang, yang mahal harganya.

Masa kecil saya tidak penuh dengan kemewahan, tetapi penuh dengan kecukupan. Kami tinggal di sebuah rumah di dalam gang. Saya ingat setiap musim hujan kita selalu kebanjiran, tapi untungnya tidak sampai masuk ke dalam rumah.

Saya ingat Papa saya berusaha dan bekerja keras. Dia pergi merantau ke Indonesia Timur, dan berusaha mencari peluang-peluang bisnis, dari bisnis jual binatang langka, kupu-kupu, kapal, siput, dan lain sebagainya. Waktu kecil, saya tidak mengerti akan hal ini. Saya hanya berpikir, itu adalah yang biasa.

Karena anugerah Tuhan, usaha-usaha Papa membuahkan banyak hasil. Ketika SMP, kami pindah ke rumah yang lebih besar. Kemudian waktu lulus SMA, saya bisa dibiayai untuk sekolah di Amerika. Dan sampai sekaranglah saya tinggal di sini, berkeluarga dan mempunyai 3 anak perempuan yang luar biasa.

Kala saya melihat kembali jalan hidup saya, saya bisa melihat jejak kaki anugerah Tuhan. Setiap saya bercerita kepada anak-anak saya, saya berusaha menanamkan poin-poin berikut dalam kehidupan mereka:

  • Mereka bisa ada dan hidup seperti sekarang, semuanya adalah Anugerah Tuhan. Saya selalu bilang kepada mereka, waktu saya kecil tidak pernah sekalipun mimpi bisa pergi ke luar negeri. Kalau teman-teman di Sekolah Minggu berliburan sekolah ke luar negeri, kita cuman bisa pergi lokal saja. Tetapi Tuhan membawa kehidupan keluarga saya, di mana orang tua saya saya dari kota kecil, bisa sampai ke Seattle, Amerika. Itu semua karena Anugerah
  • Mama saya adalah Pendoa . Saya ingat setiap malam atau pagi, Mama saya selalu berdoa. Ada saatnya saya, adik dan kakak diajak untuk doa, tetapi karena pada dasarnya saya seorang pembangkang, jadi saya protes terus. Ada satu saat saya doanya begini dengan suara keras “Tuhan saya tidak mau doa Mama saya terlalu panjang dan lama”.
    Tetapi terlepas dari hal itu, saya tahu saya bisa di sini, karena doa-doa yang Mama saya sudah panjatkan.

  • Setiap generasi harus berkorban, supaya generasi berikutnya bisa hidup lebih baik. Papa saya mengorbankan waktu dan tenaga agar keluarganya bisa hidup lebih baik. Setelah menjadi seorang ayah, saya tahu betapa berharganya untuk bisa meluangkan waktu dengan anak-anak. Mereka bertumbuh dengan sangat cepat. Dan saya tahu, Papa saya harus mengorbankan waktunya agar kita bisa hidup lebih baik. Saya selalu tekankan kepada anak-anak saya, untuk meninggalkan sesuatu yang lebih baik ke generasi berikut, saya juga harus bisa berani berkorban. Entah itu waktu, kerja, tenaga, impian, ambisi, atau lainnya, agar mereka harus bisa menjadi lebih baik dari saya.
  • Generasi berikutnya harus Lebih baik dari generasi sebelumnya. Saya selalu mendukung anak-anak saya untuk bisa lebih pintar, lebih berani, atau bahkan lebih hebat dari saya. Saya mau mereka bukan menjadikan saya sebagai ukuran dalam berkarya dan kepintaran. Setiap saat, saya selalu bilang kepada mereka, kalian harus lebih pintar, lebih berkarya, lebih menghasilkan, lebih berpotensi, daripada saya.

Point-point tersebut saya selalu usahakan untuk saya ajarkan dalam setiap hal dalam kehidupan. Di dinding rumah, saya pasang satu canvas putih, dan saya tulis “Evidences of God’s Grace”. Di bawahnya, saya taruh foto-foto mereka, foto-foto keluarga, foto-foto mereka waktu masih bayi. Bagi saya kehidupan saya adalah bukti nyata dari Anugrah-Nya.

Tidak pernah saya bayangkan Tuhan membawa kehidupan keluarga saya, berawal dari kota kecil di Dobo, yang tidak ada dalam peta, sampai bisa ke Amerika. Kadang saya berkelakar ke anak-anak saya, mungkin nanti berikutnya, salah satu dari mereka bisa menjadi Presiden Amerika.

Sebagai seorang Papa, satu hal yang saya harapkan bagi anak-anak saya. Ketika mereka pada di usia mereka bisa melihat balik kehidupan mereka, mereka bisa melihat bukti-bukti dari Anugerah Tuhan.

Throwback Thursday

Komik yang saya gambar ketika masih di universitas.

02_26_00

Irwan : Suami, Ayah, Gembala, Realtor, Restaurateur …

BC_3.5x2.eps

Irwan Ngadisastra adalah seorang gembala dan juga entrepreneur. Dia tinggal dengan istri dan 3 anak laki-lakinya di kota Kirkland, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Kesibukan sehari-harinya diisi dengan memimpin Gereja Injil Sepenuh Internasional (GISI/IFGF) Seattle (www.ifgfseattle.org), menjadi agen real estate (www.seattleidealhomes.com), dan mengelola restaurant Indonesia-nya ‘Indo Café’(www.myindocafe.com). Kebangkitan.org mendapat kesempatan untuk mengajak beliau makan siang, sambil berbincang sejenak tentang Kristus, kesaksian hidupnya, keluarga, gereja, harapan dan usahanya.

K (Kebangkitan.org): Saya sudah sering mendengar khotbah anda tentang pertobatan anda. Bisa tidak menceritakan sedikit keadaa anda sebelum bertobat

IN (Irwan Ngadisastra): Saya datang dari latar belakang dan keluarga Budha. Tapi pada dasarnya saya lebih cenderung atheis. Orang tua saya mungkin beragama Budha, tetapi saya sendiri tidak pernah memikirkan tentang Tuhan. Saya pindah ke Singapur waktu umur 8 atau 9 tahun. Di sana saya sendirian dan tidak bersama orang tua. Jadi lingkungannya tidak terlalu safe. Karena itu, saya memutuskan untuk ikut dalam geng. Jadi anggota geng, karena saya butuh perlindungan, dan tidak mau di-bully. Pada awalnya, semuanya baik sih. Tapi karena anggota yang lain sudah lebih tua, maka saya mulai ikut-ikutan merokok, cobaan marijuana, alkohol dan going clubbing. Malah ada suatu saat hampir masuk ke prostitusi … tapi pada saat itu masih ada rasa takut kena sakit AIDS. Jadi tidak jadi …

K : Wow … mungkin tidak ada yang bisa nyangka kalau melihat anda sekarang yah apalagi sudah berkeluarga dengan 3 anak.

IN : Hahaha … pastinya sih yah … hahaha waktu itu saya juga ada anger problem. Mudah naik darah. Kalau saya berantem dengan papa saya … wah pokoknya dahsyat.

K : Haha … mungkin karena anak pertama yah. Pengalaman saya anak pertama emang rada keras yah

IN: Mungkin juga yah. Dan juga ditambah dengan ekspektasi dan juga bawaan dari orang tua. Orang tua mengharapkan saya untuk tinggal sendirian, jadi akhirnya, yang terlibat banyak masalah. Ketangkep polisi juga pernah. Berantem pernah. Masuk rumah sakit pernah, sampai mau memukul papa dengan palu pun pernah. Jadi yah begitulah life was crazy. Terus suatu hari, kira-kira saya umur 15 pada waktu itu, ada teman, yang punya koneksi dengan geng saya, tapi bukan anak geng, lalu dia undang saya ke gereja lah. Mulanya, sih saya gak mau, pikirannya “Ngapain juga ke gereja”. Tapi kemudian dia ajak terus dan trick me a little bit, dia bilang “Banyak cewe lah” atau “Banyak teman”.

K : Hahaha … cewe yah, alasan yang bagus untuk ke gereja

IN: Hehehe … iyah. Tapi etelah 1 – 2 minggu, saya bilang ke dia, bagaimana kalau saya tidak ke gereja, tapi pergi kumpul-kumpul atau makan bareng saja setelah gereja. Tetapi teman ini lumayan berani juga, dia bilang “Sorry, tidak bisa. Kalau tidak ke gereja, tidak boleh hang out” Hahaha … yah akhirnya saya terpaksalah ke gereja dan juga karena cewe-cewenya cakep cakep … hahaha. Tetapi 2-3 bulan setelah pergi ke gereja, saya merasakan Firman Tuhan menjamah dan mengetuk hati saya. Saya bilang ke Pendeta tentang jamahan tersebut. Lalu, dia mengajak saya mengikuti Pendalaman Alkitab. Saya ikut pendalaman Alkitab dan kemudian menerima Yesus. Sejak itu saya tidak pernah lihat ke belakang. Puji Tuhan, Tuhan memberikan saya pertolongan. Saya bisa lepas dari keanggotaan geng, dengan hanya ngomong kalau saya mau berhenti dan mereka mengijinkan.

K : Wah Luar Biasa

IN: Yep ! Jadi saya menerima Tuhan pada tahun 1990, dibaptis dan tentu saja orang tua saya tidak setuju. Tetapi saya terus maju dan tidak mundur, saya terus melayani Tuhan dan menjadi saksi bagi mereka. Singkatnya, malahan sekarang ke dua orang tua saya menerima Yesus dan malahan mereka yang menjadi pendukung yang terbesar untuk pelayanan saya. Semua anggota keluarga saya, dari adik-adik dan sepupu dan juga saudara jauh, mereka menerima Yesus.

K : Grace is awesome

IN: Iyah ada satu cerita yang menarik. Saat itu sepupu saya sudah banyak yang menerima Yesus, lalu saya dipanggil oleh Mama mereka, jadi dia itu auntie saya. Dia bilang ke saya begini “ Wan, saya tidak keberatan kamu khotbah-in anak-anak saya jadi kenal Tuhan. Bagus dan saya tidak keberatan. Saya tidak marah sama kamu, tapi cukup di sini saja. Saya tidak bakalan mau jadi orang Kristen, saya tidak mau di-khotbah-in, saya tidak mau di-injil-in, saya sudah bahagia jadi orang Budha, dan saya mau jadi pendeta Budha.” Tetapi kemarin ini pada bulan Juni ketika saya balik ke Indonesia, untuk mengikuti Harvest Festival, Mama saya bilang ke saya, kalau ternyata auntie saya itu sudah terima Tuhan Yesus juga … hehehehe

K : Hahaha … Never say never

IN: Yah … jadi What can I say Tuhan Yesus jauh lebih besar dari semua yang apa kita bisa pikirkan. Makanya Firman Tuhan telah mengatakan No eyes have seen, no ears have heard, and no mind can conceive what the Lor can do dan itu semua terjadi di dalam keluarga saya.

K : Amen to that … emang benar. Setelah pertobatan, Anda pindah ke Eugene, Oregon. Dan kemudian pindah ke IFGF Seattle.?

IN: Yep.

K : Lalu Anda ketemu istri Anda di sini ?
IN : Yes. Hehehe … ketemu istri saya dan menikah di sini. Dan sekarang punya 3 anak, dan luar biasa lah. Cita-cita tidak pernah mau jadi pendeta sih. Saya benar-benar tidak berpikir mau jadi pendeta. Lebih mau jadi pengusaha. Tetapi melihat ke belakang, Tuhan selalu menempatkan kita di mana Dia mau tempatkan kita. Tuhan sudah ada posisi bagi kita, di mana Dia mau menempatkan kita.

K : Iyah benar

IN: Sama seperti Elisa, Dia menyuruh Elisa untuk menjaga domba-domba di padang rumput, walaupun Elisa tidak tahu untuk apa. Tetapi kemudian, die bertemu dengan Elia.

K : Iyah benar. Kadang saya merasa semua sudah ada waktunya, ada season-nya. Di mana Tuhan mempunyai waktunya sendiri kapan dan dimana.

IN: That’s true .

K : Sekarang bagaimana perasaan Anda. Anda hanya baru-baru ini saja menjadi Gembala di IFGF Seattle. Bagaimana tuh perasaaan anda ?

IN: Mulanya sih … saya tidak mau. Dari hati saya yang terdalam, saya benar-benar tidak mau.

K : Hahaha … iyah saya kenal Anda sudah lama. Saya tahu Anda lebih mau jadi businessman

IN: Iyah sih hahah tapi jangan salah yah … saya cinta banget untuk melayani Tuhan, mengasihi gereja saya dan orang-orangnya. Tetapi bukan dalam konteks menjadi seorang Gembala. Tetapi melihat 2-3 tahun ke belakang ini, saya menyadari Tuhan sudah memposisikan saya untuk hal ini. Orang-orang yang saya harapkan untuk memimpin gereja, malah dipindahkan ke gereja atau ke kota lain. Jadi Tuhan seakan menyudutkan saya, dan mau tidak mau saya harus menerima panggilanNya. Lalu saya benar-benar doa dengan sungguh “Bagaimana nih Tuhan, tidak ada yang bisa ganti. Saya tidak ada pengalaman, tidak ngerti.” Saya menyadari Gembala gereja ini yang dulu, tidak akan kembali. Jadi saya berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan membuka jalan bagi saya. Saya bilang ke Tuhan “Tuhan saya terima posisi ini, TETAPI Kamu yang harus memimpin”.

K : Lalu bagaimana ?

IN: Saya bisa melihat pergerakan dari Roh Kudus sih ! BAM !. Benar-benar tidak bisa terbayangkan dan dahsyat. Pesan-pesan Tuhan ketika saya mempersiapkan seri-seri khotbah untuk kebaktian Minggu, saya tidak punya pengalaman, tetapi khotbah-khotbah itu tidak hanya untuk jemaat tetapi juga berbicara ke pada saya. Semuanya jadi tepat gitu.

K : Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua yah. Tidak hanya berbicara kepada yang dituju, tetapi juga kepaya pembicara.

IN: Iyah. Saya benar-benar excited, bahakan untuk seri-seri khotbah yang akan datang.

K : Apa yang menjadi tantangan terbesar dari pelayanan anda ? Bagaimana Anda bisa konek dengan generasi-generasi yang jauh lebih muda sedangkan Anda dari generasi jauh lebih ‘dewasa’ hahahaha … belum tua sih

IN: Tantangannya bukan soal perbedaan umur sih. Melainkan gereja ini sudah 20 tahun dibangun berdasarkan college kids . Jadi mereka transient, mereka berganti terus menerus, jadi rumit untuk membangun rumah sedangkan pekerjanya terus berganti. Jadi untuk beberapa tahun ke depan, tujuan kita adalah untuk membangun gereja yang multi generasi dan multi nationality. Jadi fokusnya tidak hanya ke orang-orang Indonesia, tetapi juga ke negara-negara lain. Secara pribadi, saya tidak ada kendala untuk ‘konek’ dengan orang-orang muda, karena syaa sendiri belum berasa tua hehehe

K : Memang tidak terlihat sudah berkeluarga sih

IN: Iyah hahahah … misalnya kalau sesudah prayer meeting, saya diajak untuk ngumpul-ngumpul. Saya pergi saja dengan mereka. Dan mereka juga tidak merasa “Eh ada Pendeta nih, jadi kita mesti jaga omongan !”, tetapi mereka sih bisa bicara apa saja.

K : Wah bagus dong.

IN: Oktober ini kita akan mulai menjangkau komunitas di sekeliling kita. Acara pertama yang akan kita adakan yaitu Fall Kids Festival. Kita akan mau melayani tetangga-tetangga kita yang berpendapatan rendah, mereka yang butuh makanan atau kebutuhan. Kita akan mulai membantu mereka.

K : Tuhan bekerja dengan luar biasa yah. OK sekarang kita beralih sedikit ke bisnis anda. Saya mau mencoba nanti untuk merger kembali ke pelayanan. Kapan Anda mulai berwiraswasta?

IN: 10 tahun lalu.

K : Bagaimana kamu tahu kalau Tuhan juga memanggil kamu untuk menjadi wirausahawan ?

IN: Saya tahu aja sih. Dari muda, syaa sudah tahu itu yang saya mau lakukan. Tadinya saya kerja dengan suatu perusahaan, sudah 7 tahun. Saya benar-benar tidak bahagia. Bukan karena bosnya atau pekerjaannya. Tetapi saya tidak merasa terpuaskan. Pikiran pertamanya, mungkin perusahaannya kurang menantang, lalu saya pindah ke perusahaan telekomunikasi yang besar. Saya hanya bekerja 4 hari di sana, karena Tuhan membuka mata saya. Corporate world is not for me. Saya benar-benar tidak bahagia. Boss saya berusaha menaikkan gaji dan memberikan pesangon yang lebih bagus, tetapi saya tolak. Saya mulai terjun ke dunia real estate. Tentu saja dunia real estate sangat volatile dan tidak menentu.

K : Resiko yang sangat besar yah ?

IN: Yep. Tetapi Tuhan memberi saya pertolongan dan anugerah. Bos saya yang lama menelpon saya dan memberikan saya petunjuk. Dia malahan membantu saya. Dia meminta saya untuk terus bekerja di perusahannya, dan kalau saya ada keperluan untuk bisnis real estate saya, saya boleh pamit kerja kapan saja, tanpa halangan. Itu benar-benar pertolongan Tuhan yang sangat besar, tidak ada di dunia ini perusahaan yang sebaik itu.

K : I know WOW !

IN: Jadi saya bekerja seperti itu selama 18 bulan.

K : Tak pernah terpikirkan yah pertolongan Tuhan. Lalu kapan mulai masuk bisnis restoran, dengan membeli Indo Café ?

IN: Kira-kira 5 tahun yang lalu. Sudah 5 tahun loh. Tidak terasa.

K : Bagaimana kamu bisa membagi waktu untuk semuanya?

IN: Itu semua benar-benar pertolongan Tuhan sih. Waktu kita memulai Indo Café, saat itu benar-benar gila. Tapi Tuhan memberikan saya bantuan. Waktu itu ada salah satu pekerja saya yang namanya Randi, dia itu sekolah kuliner. Dia menghadap saya dan meminta tanggung jawab yang lebih lagi. Saya bilang, “Kamu mau pekerjaan seperti apa?”, dia bilang “Saya lulus dari sekolah kuliner dengan spesialisasi Kitchen Management”. Lalu saya bilang “Wah saya tidak sanggup menggaji kamu, saya juga baru buka”. Lalu dia membalas “Dengarkan dulu penjelasan saya, Papa saya sudah menyediakan saya biaya hidup untuk 1 tahun, jadi saya mau membantu Indo Café untuk 1 tahun. Anda tidak perlu membayar saya. ” Jadi dia bekerja untuk saya tanpa bayaran selama 1 tahun, dia yang membangun semua sistemnya di Indo Café jadi streamline. Dengan demikian saya tidak perlu terlalu banyak memonitor langsung ke sana. Dan dia juga menjadi acting manager selama itu.

K : Bagaimana dengan bisnis realtor nya ?

IN: Sama apa yang terjadi di bisnis restoran, terjadi juga dalam bisnis realtor saya. Tuhan pasti yang bawa klien. Awalnya 2 tahun pertama, banyak tantangan. Ada pesaing lain yang bermain kotor dan mengambil beberapa klien saya, sehingga saya tidak dibayar. Tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya, kalau berkat semua adalah dari Dia. Kadang sukar untuk mempercayai hal itu, ada suatu perasaan “Tuhan, tidak adil dong ! Dia curang dan mengambil klien saya!”. Melihat ke belakang, saya menyadari kalau semua klien yang dia curi ternyata banyak yang tidak memenuhi syarat dan sukar untuk diatur. Kebalikannya, klien yang ke saya semuanya mudah, sangat loyal dan bahkan sangat royal. Makin lama saya makin menyadari, saya di bisnis ini sudah hampir 10 tahun, 7 tahun berturut-turut saya termasuk Top Produser dalam Franchise saya. Saya selalu masuk 10 besar, 7 tahun berturut-turut !

K : Kagum saya. Jadi dengan kesibukan seperti itu keluarga, mengurus gereja, mengurus 2 bisnis, bagaimana tuh membagi waktu dalam 1 minggu ?

IN: Saya selalu pulang ke rumah hampir tiap malam untuk makan malam dengan keluarga, kecuali hari Kamis. Kamis di gereja ada kumpulan doa. Dan baru-baru ini kita memulai Pendalaman Alkitab, juga hari Kamis malam. Hari Sabtu, kita ada juga Pengenalan Alkitab. Dan benar-benar lagi berkembang. Banyak peminatnya, sering menelpon untuk diikutkan dalam kelas-kelas Alkitab tersebut.

K : Orang-orang rindu untuk dilengkapi. Dalam dunia yang banyak informasi simpang-siur, orang rindu untuk mendengar kebenaran yah

IN: Iyah … jadi yah dasarnya saya membagi waktu saya dengan mengelompokkan kegiatan. Dengan demikian saya tidak perlu menyetir mobil bolak-balik dan menghemat waktu.

K : Ok. Bagaiamana tuh dinamiknya antara menjadi gembala dan pengelola bisnis ? Misalnya kalau ada pekerja yang juga jemaat Anda dan muncul konflik, misalnya kalau mereka mungkin lalai ?

IN: Nomor satu, saya bukan orang yang suka teriak. Saya tidak suka teriak-teriak ke orang, jadi kalau mereka mungkin melakukan kesalahan. Biasanya, saya panggil dan omongan dengan respectful. Dan kalau orang diomongin dengan baik, hasilnya mereka juga akan merespon dengan baik.

K : Kalau di Real Estate bagaimana, mungkin klien Anda ada yang rumit dan juga jemaat Anda ?

IN: Ada sih beberapa yang begitu. Tetapi yang paling penting nomor 1, yaitu kita harus pertahankan integritas kita dan nantinya juga bisa diselesaikan dengan baik. Itu nomor 1. Nomor 2, jangan berpikir karena mereka teman, maka kadang-kadang kitanya jadi lalai. Saya tidak begitu, saya selalu tegas. Kalau ada dokumen yang memang harus dilengkapi dan diperlukan, maka saya akan meminta klien saya untuk melakukannya. Saya tidak bisa bilang “Tidak apa-apa”. Untungnya juga, dalam bisnis ini saya juga diawasi oleh broker lain, jadi ada bagusnya. Tapi yang paling penting, saya selalu menjaga integritas dan kejujuran.

K : Tantangan terbesar menjadi Gembala dan Pengusaha ?

IN: Hmmm … tidak ada sih. Biasa-biasa saja. Malah kadang itu bagus, supaya kita bisa lebih transparant. What you see is what you get. Jadinya kehidupan kita tidak beda antara di gereja dan ketika saya membawa anda melihat rumah. Mungkin khotbah saya tidak seperti pendeta professional, jadi yah saya ngomongnya kaya gini lah ! Seperti teman ke teman !

K : Apa sukacitanya menjadi orang yang bisa multi-fungsi, kepala keluarga, gembala dan pengusaha ?

IN: Sukacita terbesar yaitu melihat banyak kehidupan orang lain berubah. Jadi begini, kalau saya hanya sekedar pendeta professional, kadang hanya banyak teori. Tetapi dengan menjadi multi-fungsi, dinamik nya berbeda. Misalnya anak-anak jemaat saya, mereka bisa ikut-ikut ke liburan keluarga saya. Mereka bisa lihat kelemahan saya, kejelekan saya, jadi semuanya transparan. Mereka tahu saya suka makan atau bagaimana. Jadi sukacita yang terbesar jadinya yah saya langsung terlibat dalam kehidupan. Satu contoh yang saya pernah alami, yang bisa memberikan gambaran dinamika dari kehidupan saya. Waktu itu saya membawa klien untuk melihat-lihat rumah. Dan Klien ini adalah orang tua dari salah satu jemaat saya. Sebelumnya, saya tidak mengenal mereka. Setelah semuanya selesai, mereka mengundang saya untuk berbincang-bincang. Kemudian yang terjadi, mereka bercerita tentang konflik yang terjadi dalam keluarga mereka. Akhirnya, saya harus merubah fungsi dari Realtor dan menjadi Gembala. Saya memberikan konsultasi dan nasihat. Beberapa waktu kemudian, ketika ketemu lagi, mereka bilang bahwa semuanya mulai membaik. HAL seperti inilah yang membuat saya bergairah untuk melakukan kegiatan saya tiap pagi. Saya bisa langsung memberikan dampak bagi kehidupan orang.

K : Istilahnya Anda tidak hanya memberikan teori untuk menjangkau orang, tapi langsung turun ke kehidupan.

IN: Iyah. Bayangkan kalau sedang menunjukkan klien rumah, itukan bisa berjam-jam di dalam mobil. Jadi saya bisa banyak berbincang dengan mereka. Klien-klien saya pun ada yang berasal dari agama lain, Budha misalkan. Lebih lagi, generasi sekarang sudah makin kritis. Mereka bisa menilai dari kehidupan kita. Kalau kita memiliki kehidupan ganda (beda di gereja dan di bisnis, misalkan), mereka akan menolak dengan cepat. Bagi saya, semua keraguan atas kehidupan saya bisa terjawab. Mereka bisa melihat siapa saya sebagai gembala, sebagai pengusaha dan sebagai atasan. Apakah saya sempurna ? Tentu saja tidak sama sekali. Mereka bisa melihat kelemahan saya.

K : Legacy apa yang Anda mau berikan untuk anak-anak Anda ? Anda melakukan semua ini sebagai ayah, pendeta dan pengusaha ?

IN: Hanya 2 hal. Yang pertama, terus mempertahankan nama baik mereka. Dengan cara menjaga integritas dan kejujuran. Nanti ketika dalam kesulitan dan keperluan, pertolongan akan datang kalau mereka bersih. Yang ke dua, seperti yang Alkitab bilang “…Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”. Itu yang jadi prinsip dari keluarga kita. Kadang hal itu sukar, apalagi di IFGF bersifat gereja transitional karena orang datang dan pergi. Kadang saya berpikir mungkin lebih baik kalau saya tidak berpartisipasi terlalu banyak, apalagi saya sudah sibuk dengan pekerjaan. Tetapi karena prinsip kita yang dari dulu, maka kami berusaha kuat dan menjalani saja. Kenyataannya semuanya juga kepunyaan Tuhan, kalau musimnya sudah selesai dan Tuhan suruh melakukan atau pindah, maka kita hanya bisa menuruti saja.

K : Memang benar sih. Memang Tuhan sudah menetapkan musim-musim dalam kehidupan kita.

IN: Ada satu pesan yang baik yang saya baca dari bukuna Andy Stanley, dibilangnya begini ”Leave when it’s time, not when things go wrong” — Pergi karena waktuNya, bukan karena semuanya berantakan.

K : Pesan apa yang Anda mau berikan untuk orang-orang muda, terutama yang pria ? Banyak dari jemaat Anda yang masih bersekolah, mereka mungkin terinspirasi untuk mengikuti jejak Anda, menjadi kepala keluarga, menjadi usawahan dan menjadi gembala. Apa nasihat yang bisa Anda berikan ?

IN: Mereka harus terus menjaga prioritas mereka. Pertama, keluarga harus terutama. Misalnya, malam ini, seharusnya kita ada kumpulan doa dan pelajaran Alkitab di gereja, tetapi saya batalkan, karena anak acara penting di sekolah anak saya dan istri saya membutuhkan saya. Saya bisa saja bilang ke istri saya, kalau tidak mungkin, dan dia akan mengerti, tetapi saya berprinsip saya akan mengutamakan keluarga.

K : Melayani bukan hanya di gereja saja yah

IN: Benar. Melayani bukan hanya di gereja. Melayani keluarga kita sangat pentingnya. Saya teringat akan khotbah-nya Pastur Matt Chandler dari The Village church, dia waktu itu sangat sibuk dan tiba-tiba terserang penyakit. Lalu dia menerima nasihat seperti ini “Kamu maju ke berdiri di depan sana dan lihat ke jemaat kamu. Nanti ketika kamu berada di ambang kematian, siapa yang mau kamu lihat berada di sampingmu sebelum meninggal ? Siapa yang paling penting? Siapapun mereka, itulah prioritas nomor satu Anda.” Lalu dia bilang, dia bisa membayangkan istri dan anak-anaknya yang akan mengelilinginya, lalu Tuhan bilang “Merekalah prioritas utama kamu”. Orag-orang lain akan melupakan Anda, ketika Anda sudah tidak ada, hanya mereka yang akan mengingat Anda. Khotbah itu benar-benar menyentak saya.

K : Sangat setuju sekali. Saya juga berpikir, tidak peduli seberapa terkenalnya Anda saat ini. Tanpa Google, kalau Anda meninggal, dalam beberapa tahun kemudian orang tidak akan tahu siapa Anda.

IN: Setuju.

K : Kadang saya merasa pesan dari Injil dicampur aduk dengan pesan supaya Anda berbuat sesuatu supaya menjadi terkenal.

IN: Lebih lagi, Legacy yang saya mau berikan untuk jemaat saya sebagai gembala, yaitu agar mereka bisa terus haus untuk menggali Firman Tuhan. Agar mereka bisa mempunyai keinginan sendiri untuk mendalami Alkitab, tanpa harus disuruh-suruh. Itu tujuan saya dengan membuka kelas-kelas pendalaman Alkitab. Saya berikan mereka sarana-sarana. Saya punya filosofi hanya satu dalam mengajar “Biar Alkitab yang menjawab pertanyaan Alkitab”. Jangan cari dari sumber-sumber lain, tetapi saya mau mereka mencari ayat-ayat jawaban dalam Alkitab. Saya tertantang sih dan saya gembira walaupun banyak juga tantangan

K : Tantangan seperti apa nih dalam hal ini ?

IN: Murid-muridnya banyak yang pulang ke Indonesia. Jadi yang tinggal hanya sedikit, tetapi walaupun sedikit mereka benar-benar setia dan berkomitmen. Kalau dulu-dulu, banyak yang terluka, tetapi sekarang dengan generasi yang baru sudah berbeda. Bahkan pesan-pesan dalam khotbah pun sudah berubah, sudah bukan lagi tentang jerih payah kita, atau usaha-usaha kita, dan bahkan bukan lagi tentang kita, bukan hanya sekedar merubah kelakuan, karena kita tidak sanggup untuk merubah kelakuan kita. Roh Kuduslah yang bisa merubah. Dengan demikian orang tidak ragu untuk masuk ke hadirat Tuhan dan mereka tidak malu dna yakin bahwa Yesus bisa merubah kehidupan mereka tanpa agenda.

K : Amin

IN: Salah satu contoh, waktu itu ada yang sukarela berinisiatif mau mengecat gereja. Saya bilang mana mungkin, ini khan lagi panas dan banyak yang sedang berlibur. Tetapi dia bilang, bisa saja dan banyak yang mau bantu, asal saya setuju. Lalu saya biarkan, dan memang semuanya terjadi dan terlaksana hanya dalam 2 akhir pekan. Mereka yang merencanakan dan mengatur sendiri semuanya. Luar biasa bukan ? Contoh yang lain, ketika dekorasi panggung gereja kita rubuh. Banyak yang berinisiatif sendiri untuk membuat dekorasi yang baru. Ada yang menyumbang materi dan juga ada arsitek yang mau merancang. Jadi singkatnya, mereka sendiri yang berinisiatif dan tidak perlu dipaksa-paksa. Banyak saya menerima pesan teks, yang menanyakan “Pastur, apa yang bisa saya bantu ? Apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi beban Anda?”. Hal-hal ini semua sungguh membuat terharu hati saya. Kalau dulu semuanya ribut

K : Sungguh berbeda yah

IN: Lain lagi, kemarin ketika kita merencanakan untuk Fall Festival tanggal 31 Oktober ini, banyak yang mengajukan diri untuk menjadi penanggung jawab. Tidak perlu disuruh atau diminta. Ada yang kemarin mengajukan kepada saya peta lokasi keluarga-keluarga yang tidak mampu. Mereka yang bisa kita jangkau dan layani. Semuanya berpartisipasi. Semuanya menyumbang. Hal ini sangat luar biasa. Dan ini semua terjadi karena pertolongan dan anugerah Tuhan.

Bagi anda yang tertarik dengan IFGF Seattle, ataupun usaha-usaha dari Irwan. Bisa kunjungi website-website di bawah ini untuk informasi lebih lanjut:

  • IFGF Seattle : www.ifgfseattle.org
  • Indo Café : www.myindocafe.com
  • Real Estate : www.seattleidealhomes.com

Kisah Hidupku – Teddy Fransa Nata

Kisah Hidup – Gideon Jumali

Kisah Bradley

20141007_bradleys-story_banner_img

Ini adalah kesaksian Bradley tentang bagaimana kasih karunia Allah yang tak tertahankan mengambil kendali hidupnya dan membawanya ke Mars Hill.

Saya dibesarkan di Texas, dan tumbuh di dalam gereja. Saya memiliki ayah yang aktif dalam pelayanan, sering kali sebagai layaknya staff penuh-waktu dalam beberapa kapasitas atau lainnya. Sepanjang tahun-tahun tersebut, saya juga pernah melihat lebih dari cukup kesalahan-kesalahan di dalam gereja, dan hasilnya saya menjadi marah.

Inilah saya seorang siswa kelas enam yang rajin ke gereja, entah bagaimana dalam beberapa tahun yang singkat, berubah menjadi rusak, pecandu narkoba, tersesat, pemberontak, kriminal dan putus sekolah SMA. Saya mulai pergi ke rehabs ketika saya masih 15. Pada saat saya berusia 19 saya sudah merasakan kejar-kejaran dengan polisi dengan mobil yang melibatkan helikopter dan berakhir dengan dihajar oleh polisi. Selama pengejaran saya merokok terus-menerus, menjentikkan rokok saya ke arah kepungan polisi. Saya pernah overdosis di dalam kamar kecil sebuah apotik pada pagi hari Natal sementara keluarga saya bertanya-tanya di mana saya berada, atau bahkan sangsi jika saya masih hidup. Pada satu titik saya tidur di sisi sebuah toko kelontong di pusat kota Los Angeles selama berminggu-minggu. Saya sudah pernah mengemis untuk rokok. Saya sudah pernah mencoba untuk bunuh diri.

Pada saat itu saya menganggap diri sebagai seorang seniman. Ketika saya masih terlibat dengan narkoba, saya melihat diri saya sebagai penulis lagu yang produktif, dengan teman-teman yang saya pikir keren.. Hubungan saya dengan obat-obatan tampak hampir romantis bagi saya, tapi di beberapa saat saya menyadari bahwa saya lepas kendali.

Saya berpindah-pindah tempat tinggal di daerah selatan. Saya merantau bertahun-tahun, terhuilang, di New Mexico, kecanduan meth dan heroin. Saya berusaha untuk terjaga, kehilangan berat badan, bokek dan tunawisma. Saya pergi ke penjara beberapa kali, dan sekali ke penjara berat juga. Suatu kali saya menyatroni rumah jompo kakek saya. Saya memaki dan melawan polisi di depan orang-orang tua yang kebingungan (termasuk kakek saya) melihat semuanya. Saya tersadar di penjara hanya untuk menghadapi rasa bersalah yang tak tertahankan yang mengalahkan dan menghancurkan saya. Saya pernah ditangkap di Alamo tanpa sepatu karena menjadi gelandangan. Saya sudah diekstradisi, dipukuli, dirampok, dan se[anjang tahun-tahun tersebut saya benar-benar sedih.

Kemudian, pada suatu hari Minggu malam, pada usia 26, saya berdoa kepada Tuhan dan mengatakan kepadanya bahwa saya tidak perlu untuk menjadi bahagia, jika saja Dia bisa membantu saya untuk menjadi OK -itu sudah cukup baik, itu yang saya katakan. Pada hari Rabu minggu berikutnya Tuhan, dalam cara yang sangat nyata, mengangkat saya dari antara orang mati dalam sekejap. Kehadiran Roh Kudus sangat luar biasa. Saya merasa Tuhan ada di dalam ruangan dengan saya. Tak terduga kasih karunia Allah datang dan meliputi saya, tanpa peringatan dan seperti air bah.

Akhir pekan itu, walaupun sakit, saya mulai mencari gereja. Saya pergi ke tiga kebaktian dalam p dua hari tetapi tidak tahu apa yang saya cari. Berat badan saya hanya 50 kg, tanda-tanda luka masih ada di sekujur tubuh saya, dan yang saya tahu adalah bahwa saya perlu untuk menemukan kumpulan orang percaya untuk membantu saya memahami mukjizat yang telah terjadi pada saya – dan untuk membantu saya agar hal tersebut terus berlangsung ! Saya begitu takut kalau saya akan bangun dan ternyata hal itu tidak nyata.
Hari Minggu itu, pada bulan Oktober 2010, seorang teman lama yang sudah tidak pernah ketemu menghubungi saya lewat Facebook. Dia tidak tahu apa yang saya telah saya alami. Dia hanya merasa sangat terdorong untuk menjangkau saya hari itu dan mengundang saya untuk pergi bersamanya ke sebuah gereja yang disebut Mars Hill. “Tentu saja,” ujarku ! Saya berbagi pengalaman saya dengan dia dan kami tertawa dan bergembira bersama-sama karena timing dari ajakannya yang sungguh ajaib..

Itu bertahun-tahun yang lalu. Hari ini saya menikah, di sekolah, melayani di tim penyembahan Mars Hill, bekerja penuh waktu, dan telah sadar selama bertahun-tahun. Lebih dari apa pun saya bersyukur kepada Allah, dan melihat ke depan untuk apa yang telah disiapkan untuk saya berikutnya! Allah begitu baik! Anugerah tak tertahankan bukan hanya doktrin abstrak bagi saya. Anugerah mengulurkan tanganNya, meraih saya, menguasai dan menuntun saya untuk bertobat. Terima kasih Yesus!

Buat Margin Di Dalam Hidup Anda

busy-lifeprayer

Oleh : Rick Warren

Banyak orang yang kelebihan beban dan menuju kecelakaan. Kita kurang tidur dan bekerja lebih dari sebelumnya. Kita menjadi masyarakat yang terlalu banyak kerjaan, dipaksa sampai ke batas – terlalu dijejal, terlalu diburu-buru, terlalu lelah . Banyak dari kita merasa seperti yan Ayub rasakan dan ia berkata, ” Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.” (Ayub 3:26)

Kelebihan beban datang ketika kita memiliki terlalu banyak kegiatan dalam hidup kita, terlalu banyak perubahan, terlalu banyak pilihan, terlalu banyak pekerjaan, terlalu banyak utang, dan terlalu banyak liputan media.

Penulis dan dokter Richard Swenson mengatakan, “Kondisi kehidupan modern menghabiskan margin. Jika Anda tunawisma, kami mengarahkan Anda ke tempat penampungan. Jika Anda tidak punya uang, kami menawarkan kupon makanan. Jika Anda sulit bernapas, kami menghubungkan Anda ke oksigen. ”

“Tapi jika Anda marginless, kami memberikan satu hal lagi yang anda dapat dilakukan. Marginless adalah ketika Anda terlambat tiga puluh menit ke kantor dokter karena Anda dua puluh menit terlambat keluar dari salon, karena Anda terlambat sepuluh menit mengantarkan anak-anak ke sekolah, karena mobil kehabisan bensin dua blok dari sebuah pompa bensin, dan Anda lupa tas Anda. Itu marginless. ”

Anda perlu margin dalam hidup Anda. Bila Anda tidak terburu-buru dan khawatir sepanjang waktu, Anda punya waktu untuk berpikir. Waktu untuk bersantai. Waktu untuk menikmati hidup. Waktu untuk diam dan mengetahui bahwa Allah adalah Allah.

Kosongkan Jadwal Anda

Apakah Anda pernah sampai ke akhir hari Anda dan berpikir, “Apakah aku sudah mencapai sesuatu?”

Ke mana perginya waktu?

Jika Anda tidak menguasai jadwal Anda, jadwal akan menguasai Anda!

Berikut adalah tiga saran dari Alkitab untuk mengurangi stres-nya jadwal Anda dan meningkatkan margin:

Atur prioritas Anda – Jelas, Anda tidak punya waktu untuk melakukan semuanya, sehingga Anda harus membuat pilihan. Anda harus memutuskan apa yang benar-benar penting dan apa yang tidak.

Luangkan waktu untuk mempertimbangkan arah hidup Anda. Alkitab mengatakan, ” Pandangan orang berpengertian tertuju pada hikmat, tetapi mata orang bebal melayang sampai ke ujung bumi.” (Amsal 17:24); ” tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi” (Amsal 12:11); ” Hati manusia memikir-mikirkan jalannya,, tetapi TUHANlah yang menentukan arah langkahnya” (Amsal 16: 9).

Ringankan sikap Anda – Apakah Anda benar-benar harus melakukan segala hal pada daftar to-do Anda? Tidak ada yang memaksa Anda; banyak stress disebabkan oleh diri sendiri.

Alkitab berkata, ” Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang …” (Amsal 12:25); ” Hati yang tenang menyegarkan tubuh” (Amsal 14:30); ” Hati yang gembira adalah obat yang manjur,
tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang” (Amsal 17:22).

Carilah Tuhan – Stres selalu menjadi lampu peringatan bahwa Anda sudah tidak fokus kepada Allah dan melihat masalah Anda dari sudut pandang Anda yang terbatas.

Saya percaya penyebab tunggal terbesar dari stres adalah ini : Kita terlalu serius memperhatikan diri sendiri dan tidak serius memperhatikan Allah!

Mengapa Kebahagiaanmu Sangat Penting Bagi Allah

full_1410790701

Tidak ada menggambarkannya secara blak-blakan seperti Blaise Pascal dalam Pensées nya:

Semua orang mencari kebahagiaan. Ini adalah tanpa terkecuali. Apapun cara yang berbeda yang mereka gunakan, mereka semuanya cenderung tujuannya adalah ini. Alasan mengapa sebagian ingin berperang, dan yang lain menghindari nya, adalah keinginan yang sama dari kedua nya, dilakukan dengan pandangan yang berbeda. Kemauan tidak pernah mengambil langkah yang bukan untuk mencapai maksud ini. Ini adalah motif dari setiap tindakan dari setiap orang, bahkan orang-orang yang menggantung dirinya.

Itulah kenyataannya. Prajurit, pendamai, bunuh diri, si pemalas, pecandu kerja; jika Anda seorang manusia, anda adalah seorang hedonis. Anda dapat mencoba untuk menyangkalnya, tetapi Anda tidak dapat mengubahnya.

Jika Anda ingin mencoba menjadi orang yang tidak merasakan apa-apa di dalam kesusahan, lupakan Alkitab. Tidak ada kegunaan yang sedikitpun untuk Anda. Alkitab tidak mendukung gagasan bahwa motif kita akan lebih murni kalau kita mengurangi keinginan untuk mengejar kebahagiaan kita sendiri. Tidak. Bahkan, menurut Alkitab, kalau kita tidak mengejar kebahagiaan kita sendiri kita tidak bisa datang kepada Allah: “Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia. “ (Ibrani 11: 6).

Apakah Arti Dari Kesenangan

Tuhan terang-terangan membujuk kita untuk mencari kebahagiaan, sukacita, kesenangan – apa pun yang Anda ingin sebutkan – dalam diriNya dengan ayat-ayat seperti ini: “an bergembiralah karena Tuhan;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” (Mazmur 37: 4), dan “Di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.” (Mazmur 16:11). Kita seharusnya menginginkan kesenangan.

Mengapa Allah menginginkan agar kita merindukan kesenangan? Karena hal itu merupakan indikator yang sangat penting. Kesenangan adalah meteran dalam hatimu, hal itu mengukur seberapa berharganya, betapa pentingnya seseorang atau sesuatu bagi Anda. Kesenangan adalah ukuran dari hartamu.

Hartamu adalah apa yang Anda sukai. Harta terbesar Anda adalah apa yang paling Anda cintai. “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21). Anda mengagungkan harta Anda dengan kenyataan bahwa itu adalah obyek kesenangan Anda.

Dan itulah mengapa Tuhan tidak acuh akan sukacita Anda. Ini adalah masalah besar baginya. Kesenangan Anda di Allah adalah ukuran berapa berharganya Dia bagimu.

Si Pengungkap Hati Anda

Hal ini juga yang membuat kesenangan menjadi si pengungkap hati Anda. Jika ada sesuatu dosa yang memberi Anda kesenangan, itu bukan masalah kesenangan. Ini adalah apa yang anda hargai. Mekanisme kesenangan Anda kemungkinan berfungsi dengan baik. Apa yang anda cintai yang mungkin rusak. Dan kesenanganlah yang mengungkapkan Anda. Ini mengungkapkan bahwa, meskipun apa yang mulut Anda katakan dan image apa yang Anda coba proyeksikan kepada orang lain, nyatanya sesuatu yang jahat adalah sangat berharga bagi Anda.

Itulah dosa yang ada di akarnya: Menghargai kejahatan. Yang membuat perjuangan iman dalam kehidupan Kristen adalah perjuangan tentang kesenangan. Ini pertarungan untuk mempercaya janji-janji Allah tentang kebahagiaan atas janji-janji palsu tentang kebahagiaan yang kita dengar dari dunia, kedagingan, dan iblis. Dan ya, itu sering kali melibatkan menjauhi diri dari kesenangan, tetapi hanya menjauhi dari kesenangan yang lebih kurang dan sia-sia untuk memiliki kesenangan yang jauh lebih tinggi (Lukas 9: 23-25).

Indah dan Menghancurkan

Kebenaran Alkitab ini yang kita sebut Hedonisme Kristen adalah indah dan juga menghancurkan. Ini luar biasa untuk menyadari bahwa pengejaranTuhan untuk dimuliakan dan pengejaran kita akan sukacita seharusnya bukan kegiatan yang berbeda, namun sama! Karena, seperti John Piper mengatakan, “Allah paling dimuliakan di dalam dirimu, ketika Anda paling dipuaskan di dalam diriNya.” Itu berarti bahwa kemuliaan Allah dalam diri kita bergantung kepada seberapa bahagianya yang kita bisa dapatkan untuk kekekalan! Jika Anda belum pernah membaca buku, Desiring God, dalami buku ini dan bersukacitalah dengan apa yang membuat Injil begitu baik.

Tapi yang menghancurkan adalah bahwa segera setelah kita menyadari bahwa Tuhan paling dimuliakan dari kepuasan kita di dalam-Nya, kita juga akan menyadari kekurangan kita dalam banyak hal-hal di dalam menemukan kepuasan dalam diriNya. Dan jika Anda berada dalam lumpur keputusasaan akan hal ini, maka bacalah When I Don’t Desire God. Ini akan mendorong hati Anda dan membekali Anda dengan senjata dalam perjuangan untuk mendapatkan sukacita yang sejati.

Kejarlah Kesenangan Tertinggi Anda!

Berjuanlah untuk Sukacita yang Sejati! Ada sukacita yang lebih besar di dalam Allah yang Anda belum pernah ketahui. Jangan menyerah. Jangan puas dengan sukacita yang lebih rendah. Buatlah tujuan Anda untuk menjadi penuh, tanpa malu, berani Hedonis Kristen! Kejarlah kesenangan Anda di dalam Tuhan, harta termulia yang pernah ada, dengan segenap hatimu (Matius 22:37). “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Matius 6:21).

Diadaptasi dari : http://www.desiringgod.org/blog/posts/why-your-happiness-is-so-important-to-god