Category Archives: Pertobatan

Kisah Hidupku – Teddy Fransa Nata

Kisah Hidup – Gideon Jumali

Kisah Bradley

20141007_bradleys-story_banner_img

Ini adalah kesaksian Bradley tentang bagaimana kasih karunia Allah yang tak tertahankan mengambil kendali hidupnya dan membawanya ke Mars Hill.

Saya dibesarkan di Texas, dan tumbuh di dalam gereja. Saya memiliki ayah yang aktif dalam pelayanan, sering kali sebagai layaknya staff penuh-waktu dalam beberapa kapasitas atau lainnya. Sepanjang tahun-tahun tersebut, saya juga pernah melihat lebih dari cukup kesalahan-kesalahan di dalam gereja, dan hasilnya saya menjadi marah.

Inilah saya seorang siswa kelas enam yang rajin ke gereja, entah bagaimana dalam beberapa tahun yang singkat, berubah menjadi rusak, pecandu narkoba, tersesat, pemberontak, kriminal dan putus sekolah SMA. Saya mulai pergi ke rehabs ketika saya masih 15. Pada saat saya berusia 19 saya sudah merasakan kejar-kejaran dengan polisi dengan mobil yang melibatkan helikopter dan berakhir dengan dihajar oleh polisi. Selama pengejaran saya merokok terus-menerus, menjentikkan rokok saya ke arah kepungan polisi. Saya pernah overdosis di dalam kamar kecil sebuah apotik pada pagi hari Natal sementara keluarga saya bertanya-tanya di mana saya berada, atau bahkan sangsi jika saya masih hidup. Pada satu titik saya tidur di sisi sebuah toko kelontong di pusat kota Los Angeles selama berminggu-minggu. Saya sudah pernah mengemis untuk rokok. Saya sudah pernah mencoba untuk bunuh diri.

Pada saat itu saya menganggap diri sebagai seorang seniman. Ketika saya masih terlibat dengan narkoba, saya melihat diri saya sebagai penulis lagu yang produktif, dengan teman-teman yang saya pikir keren.. Hubungan saya dengan obat-obatan tampak hampir romantis bagi saya, tapi di beberapa saat saya menyadari bahwa saya lepas kendali.

Saya berpindah-pindah tempat tinggal di daerah selatan. Saya merantau bertahun-tahun, terhuilang, di New Mexico, kecanduan meth dan heroin. Saya berusaha untuk terjaga, kehilangan berat badan, bokek dan tunawisma. Saya pergi ke penjara beberapa kali, dan sekali ke penjara berat juga. Suatu kali saya menyatroni rumah jompo kakek saya. Saya memaki dan melawan polisi di depan orang-orang tua yang kebingungan (termasuk kakek saya) melihat semuanya. Saya tersadar di penjara hanya untuk menghadapi rasa bersalah yang tak tertahankan yang mengalahkan dan menghancurkan saya. Saya pernah ditangkap di Alamo tanpa sepatu karena menjadi gelandangan. Saya sudah diekstradisi, dipukuli, dirampok, dan se[anjang tahun-tahun tersebut saya benar-benar sedih.

Kemudian, pada suatu hari Minggu malam, pada usia 26, saya berdoa kepada Tuhan dan mengatakan kepadanya bahwa saya tidak perlu untuk menjadi bahagia, jika saja Dia bisa membantu saya untuk menjadi OK -itu sudah cukup baik, itu yang saya katakan. Pada hari Rabu minggu berikutnya Tuhan, dalam cara yang sangat nyata, mengangkat saya dari antara orang mati dalam sekejap. Kehadiran Roh Kudus sangat luar biasa. Saya merasa Tuhan ada di dalam ruangan dengan saya. Tak terduga kasih karunia Allah datang dan meliputi saya, tanpa peringatan dan seperti air bah.

Akhir pekan itu, walaupun sakit, saya mulai mencari gereja. Saya pergi ke tiga kebaktian dalam p dua hari tetapi tidak tahu apa yang saya cari. Berat badan saya hanya 50 kg, tanda-tanda luka masih ada di sekujur tubuh saya, dan yang saya tahu adalah bahwa saya perlu untuk menemukan kumpulan orang percaya untuk membantu saya memahami mukjizat yang telah terjadi pada saya – dan untuk membantu saya agar hal tersebut terus berlangsung ! Saya begitu takut kalau saya akan bangun dan ternyata hal itu tidak nyata.
Hari Minggu itu, pada bulan Oktober 2010, seorang teman lama yang sudah tidak pernah ketemu menghubungi saya lewat Facebook. Dia tidak tahu apa yang saya telah saya alami. Dia hanya merasa sangat terdorong untuk menjangkau saya hari itu dan mengundang saya untuk pergi bersamanya ke sebuah gereja yang disebut Mars Hill. “Tentu saja,” ujarku ! Saya berbagi pengalaman saya dengan dia dan kami tertawa dan bergembira bersama-sama karena timing dari ajakannya yang sungguh ajaib..

Itu bertahun-tahun yang lalu. Hari ini saya menikah, di sekolah, melayani di tim penyembahan Mars Hill, bekerja penuh waktu, dan telah sadar selama bertahun-tahun. Lebih dari apa pun saya bersyukur kepada Allah, dan melihat ke depan untuk apa yang telah disiapkan untuk saya berikutnya! Allah begitu baik! Anugerah tak tertahankan bukan hanya doktrin abstrak bagi saya. Anugerah mengulurkan tanganNya, meraih saya, menguasai dan menuntun saya untuk bertobat. Terima kasih Yesus!

“SAYA MENGALAMI DEPRESI DAN INGIN MATI.” KISAH TYLER

20140604_i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story_banner_img

Tyler adalah seorang pemimpin kelompok sel di Mars Hill Tacoma yang akan menyelesaikan sekolah physioterapi. Dia mengasihi Yesus dan ingin menikahi seorang wanita yang beriman dan mewariskan kisah yang ia mulai ketika ia menjadi orang Kristen pertama dalam keluarganya. Ketika Anda bertemu dengannya, Anda tidak mungkin berpikir lain selain dia adalah seoran periang, bersemangat, dan penuh gairah. Jadi sulit untuk percaya bahwa hanya beberapa tahun yang lalu, ia hampir bunuh diri. Dua kali. Ini ceritanya.

* Beberapa nama dalam cerita ini telah diubah.

Tumbuh di Spokane, Washington, Tyler adalah seorang anak pemalu di sekolah menengahnya yang tidak memiliki banyak teman. Dia bergumul dengan keraguan diri, kepercayaan diri, dan moral.

“Saya selalu ingin ngumpul-ngumpul, tetapi saya kebanyakan menyendiri.” Tyler tidak pernah melakukan “hal-hal buruk” dan, berbeda dengan saudara laki-laki dan perempuannya yang jatuh dalam obat-obatan dan alkohol, keluarganya sering melihat dia sebagai anak yang sempurna.

Pada musim gugur 2007, Tyler terdaftar penuh waktu di Spokane Falls Community College. Di sana, ia menjadi lebih terisolasi dan kesepian disbanding pada saat di SMA. Namun, beberapa waktu kemudian sekelompok kecil orang berteman dengan dia.

“Mereka adalah orang pertama dalam hidupku yang benar-benar teman-teman saya,” kata Tyler. “Mereka mempedulikan dan melayani saya. Dan mereka adalah orang Kristen. ”

Tyler mulai naksir berat pada salah satu gadis dalam kelompok tersebut yangbernama Megan.

“Aku jatuh cinta dengan dia dan mengidolakan dia,” katanya.

Tidak pernah ia mencintai seseorang seperti ini. Perasaan saying tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Persahabatan mereka berkembang ke titik di mana salah satu dari mereka perlu untuk mendefinisikan apa yang sedang terjadi. Lalu suatu malam Megan mengatakan kepana Tyler, “Orang berikutnya yang akan menjadi pacar saya akan menjadi suami saya. Aku tidak ingin berkencan dengan non-Kristen. ”

Tyler sangat marah. Dia mengatakan padanya bahwa dia tidak ingin menjadi seorang Kristen dan dia harus mencintai dia untuk siapa dia. Ia menjadi depresi. Perasaan di mana fia akhirnya bisa memiliki wanita yang dicintainya hanya untuk menemukan bahwa wanita itu tidak ingin bersama dia, membawa hidupnya runtuh. Tyler berpikir kemungkinan untuk mempunyai hubungan sudah berakhir.

“ENGKAU ADALAH ANAKKU DAN AKU MENGASIHIMU”

Selama waktu tersebut, salah satu orang Kristen dalam kelompok itu membagikan beberapa ayat Alkitab dengan dia. Tyler ingat bahwa dia tak menduga akan kemungkinan kebenaran dari ayat-ayat. Ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan, jika Dia memang nyata, untuk menunjukkan diriNya.

Saat itu sudah larut malam dan Tyler ingin tidur, tapi tidak bisa. Yang dapat ia pikirkan adalah pergi ke gereja. Dia belum pernah ke gereja sebelumnya tapi tiba-tiba, itu semua yang ingin ia lakukan.
Hari berikutnya dia mengatakan kepada teman-temannya dan, sebelum akhir pekan menjelang, mereka membawanya ke pelayanan kampus tempat mereka melayani. Pemimpin pelayanan mengajarkan tentang Yesus dan membagikan Injil. Ketika ia selesai, ia berdoa dan berkata jika ada yang ingin bertobat dari dosa mereka dan berbalik kepada Yesus, mereka harus mengangkat tangan mereka dan berseru kepadaNya.

“Aku mengingat aku seperti berkata, ‘Oh, itu aku,” kata Tyler. “Jadi aku segera mengangkat tanganku kemudian berpikir, ‘Tunggu sebentar, apa yang saya lakukan?” Tapi aku tahu itu apa yang saya inginkan. ”

Kemudian pendeta kampus itu mendekatinya dan memberinya Alkitab dan memeluknya. Tyler mengambil Alkitab itu ke rumah dan membacanya habis. Dia mulai membaca dalam Matius dan menyukainya. Minggu berikutnya di kunjungannya yang ke dua di kelompok kampus, ia mengerti Injil lebih lagi.

Kelompok ini tidak seperti pelayanan kampus yang biasanya. Tidak ada pengajaran. Musik yang dimainkan dengan lembut di latar belakang saat orang-orang berbagi cerita tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka.

“Saya menangis dan menangis sepanjang malam,” kata Tyler. “Saya mengenali siapa aku di dalam Yesus. Tuhan terus menunjukkan kepada saya gambar salib dan aku ingat mendengar berulang kali, “Engkau adalah anakKu dan Aku mengasihimu.” Itu adalah di mana saya benar-benar memahami apa Injil itu dalam hidup saya. ”

“AKU MERUBAH PENGIDOLAAN SAYA DARI SATU BENTUK KE BENTUK LAINNYA”

Tyler bertumbuh dalam pengetahuan Alkitab dan belajar bagaimana memimpin orang lain dalam pelayanan kampus dan kelompok SMP di gereja di mana dia menjadi anggota. Pada musim gugur 2009, ia pindah ke Eastern Washington University dan pindah ke sebuah rumah penuh dengan teman-teman kuliah. Dia tumbuh dalam hubungan dengan Yesus dan mencintai itu, tapi satu hal masih mengganggunya. Sementara depresinya karena kejadian Megan sudah terlupakan, dia menyadari bahwa dia masih mengidolakan dia.

“Aku merubah pengidolaan saya dari satu bentuk ke bentuk lainnya,” kata Tyler. “Sebelumnya, dia adalah segalanya bagiku. Sekarang, dia masih segalanya bagiku, tetapi di samping itu, saya menempatkannya lebel Kristen di atasnya. Aku secara berlebihan komitmen dalam hatiku. Saya pikir, ‘Ini adalah kehidupan yang saya ingin miliki dengan dia. Kami akan menjadi pasangan Kristen yang menakjubkan ini dan memiliki anak-anak. ‘Ide akan suatu hubungan menguasai dengan kuat dalam hati saya. ”

Kebingungan dengan perhatian dan harapan yang terus menerus, Megan menjauhkan diri dari Tyler dan seluruh teman-teman mereka. Dia menemukan teman baru dan mulai pergi ke bar, minum secara berlebihan, dan mabuk-mabukan. Tyler panik dan mengejarnya lebih giat lagi dalam upaya untuk menyelamatkannya dari gaya hidupnya.

“Aku menghancurkannya,” katanya. “Aku menyakitinya dengan sangat dalam hal itu.”

Dengan tekanan yang tak berakhir, Megan berhenti pergi ke gereja dan pelayanan kampus. Dia tidak bergaul dengan siapa pun dalam kelompok tersebut.

“Ini benar-benar membawa saya kepada kehancuran sampai di titik di mana saya mulai mendapatkan depresi lagi, melarikan diri, dan tidak terlibat dalam gereja pula,” kata Tyler. “Depresi saya menjadi cukup buruk di mana saya ingin bunuh diri. Itu berlangsung selama sekitar 12-18 bulan. Saya kehilangan pekerjaan saya. Aku tidak ingin melakukan apa pun. Saya akan duduk di kamarku dan menangis. Saya berpikir untuk bunuh diri sepanjang waktu. ”

Dua kejadian mebuatnya nyaris bunuh diri.

Yang pertama terjadi pada musim panas 2011, antara tahun terakhirnya kuliah dan tahun pertama sekolah physioterapi. Rumah Tyler di Spokane tidak jauh dari jajaran tebing dan hutan lebat. Suatu malam dia berdiri di tebing dan merenungkan untuk melompat ke kematiannya. Seorang teman menemukan dia ada di sana dan datang untuk membantu dia.

“Aku benar-benar tidak ingat banyak detail tentang apa yang dia katakan. Kami mengobrol sebentar dan kemudian ia membawa saya pulang. ”

Insiden kedua terjadi pada musim gugur 2011, tak lama setelah ia pindah ke Tacoma dan mulai sekolah di Puget Sound University.

“Aku akan pergi ke sekolah dan pulang ke rumah dan tidak belajar,” katanya. “Aku akan jatuh hancur dan menangis dan marah. Saya pikir itu adalah kombinasi dari kesendirian, stres dari sekolah, merasa seperti kegagalan, tinggal jauh dari Spokane, dan depresi berat. ”

Itu adalah titik terendah dalam hidup Tyler. Suatu malam ia berbaring di lantai nya, benar-benar kosong. Sebotol pil itu di tangannya dan ia ingin menelan mereka semua untuk mengakhiri hidupnya.

“Sulit untuk menjelaskan perasaan tersebut, tapi itu hampir seolah-olah aku merasa kosong dari kehidupan itu sendiri,” katanya.

Pikirannya terganggu oleh telepon dari seorang teman di Spokane. Ketika mereka berbicara, Tyler menjelaskan keseriusan dari situasinya. Teman tersebut berbicara ke Tyler untuk waktu yang lama dan kemudian mengatakan bahwa dia akan meminta teman mereka, yang baru saja pindah ke Seattle, untuk datang melihat Tyler. Dia tidak mengatakan kepada Tyler adalah bahwa dia juga akan memanggil polisi. Polisi berada di pintu lima menit kemudian dan tinggal di sana sampai temannya dari Seattle muncul.

AWAL PERTUMBUHAN

Tak lama setelah kejadian kedua ini, Tyler mulai pergi ke Mars Hill Federal Way (sekarang Mars Hill Tacoma), diundang oleh temannya di Seattle. Pada kunjungan pertamanya, Tyler bertemu dengan teman sekelasnya dari program terapi fisik. Teman sekolahnya ini tidak tahu bahwa ada yang salah dalam hidup Tyler.

“Saya pikir saya pandai menyembunyikan [depresinya],” kata Tyler. “Aku bisa pergi dan [ngumpul] sosialisasi, tapi pada saat yang sama aku membenci hidup saya. Aku benci segala sesuatu. Aku benci kota. Aku benci diriku sendiri. Aku begitu kosong. Sepanjang waktu saya akan mengatakan saya adalah seorang Kristen tapi saya masih berusaha untuk melakukan keinginan sendiri. Aku ingat dalam keadaan yang paling terendah dalam hidup saya, Tuhan ada di sana. Dia mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan Anda pergi. Aku tidak akan membiarkan Anda melakukan hal ini. “KehadiranNya di sana. Dia terus berkata, “Aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu.

“Aku punya waktu di mana saya naik dan kemudian turun. Aku merasa seperti jika saya tidak akan bersama Megan, maka saya tidak akan menjadi apapun. Dia masih segalanya bagiku. Aku akhirnya sampai ke titik di mana saya merasa seperti sesuatu perlu terjadi. ”

Tyler merasa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dia perlu untuk melepaskannya, atau Allah yang akan mengambil Megan darinya.

Tyler sesekali akan menghubungi Megan dan dia biasanya mengatakan bahwa ia baik-baik dan tidak ingin bertemu dengannya. Tak lama setelah pindah ke Tacoma, ia mengatakan ia ingin bunuh diri jika ia tidak bisa bersamanya. Megan menghubungi Puget Sound University dan mereka mengharuskan Tyler untuk melakukan empat sesi konseling.

Setelah itu Megan mengirim pesan kepadanya di Facebook mengatakan, “Engkau harus membiarkan aku pergi. Hubungan itu tidak mungkin terjadi. Aku gay dan aku sudah menjalin hubungan selama delapan bulan. ”

Tyler sudah pernah mendengar bahwa Megan sudah mempunyai hubungan tapi tidak pernah berpikir bahwa itu bisa dengan seorang wanita. “Pada awalnya saya tidak ingin percaya dan saya bilang itu tidak mungkin benar.”

Tapi pesan Facebook tersebut menyalakan saklar di otak Tyler. Dia akhirnya melihat bahwa Megan adalah manusia biasa dengan kelemahan seperti orang lain. Dan kemudian fokusnya bergeser.

“Selama ini saya berpikir semua tentang saya,” katanya. “Tiba-tiba. . . Saya menyadari kebobrokan dalam hidupnya. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia bilang. Dia berkata, “Aku akhirnya menemukan seseorang yang mencintai saya untuk siapa saya dan saya senang.” Yang bisa kupikirkan adalah, Yesus mengasihi Anda untuk siapa Anda dan Anda menolak itu. “Sejak saat itu, saya tidak peduli jika kami berakhir bersama-sama. Yang saya pedulikan adalah dia. ”

Namun, pemikiran Tyler tentang dosa belum diperbaiki. Dia berada di bawah kesan bahwa dosa Megan entah bagaimana lebih buruk daripada dosanya.

“Saya masih sangat bermasalah, tapi aku sudah berhenti mengidolakan dia dan akhirnya kembali kepada Yesus. Saya telah cukup beruntung untuk tetap berada di Mars Hill dengan beberapa orang baik dan kelompok sel. Saya bertemu dengan mereka dan menceritakan kepada mereka seluruh kisah saya. ”

Saat itulah koreksi datang. Setelah mendengar cerita Tyler, pemimpin kelompok memiliki beberapa teguran keras baginya.

“Dia berkata, ‘Bagaimana jika dia melakukan dosa seksual dengan seorang pria? Bukankah itu tetap dosa seksual. Bagaimana dengan Anda memberhalakan dia? Bagaimana dengan Injil dalam hidup Anda? Yesus mati untuk menyelamatkan Anda. Dan Anda tidak bisa menyelamatkannya. Yesus perlu menyelamatkannya dan Anda perlu untuk merelakannya. ‘”
Tyler mengatakan “payah” untuk mendengar perkataan itu, tapi dia tahu itu adalah apa yang ia butuh dengarkan. Beberapa bulan kemudian dia kembali ke Spokane untuk liburan musim panas dan mengulang kembali hidupnya. Ketika ia kembali ke Tacoma untuk tahun kedua sekolah, ia tidak lagi depresi. Dia mengambil kelas keanggotaan di gereja, melibatkan diri dalam kelompok sel, dan mulai melayani.

”ALLAH INGIN MENUNJUKKAN SIAPA DIA”

Tak lama setelah itu, Megan putus hubungan. Dia unfriend Tyler di Facebook dan menyuruh saudara laki-lakinya agar ‘meminta’ Tyler untuk menghapus nomor teleponnya. Tyler merasa seperti beban berat telah terangkat dari bahunya.

Tyler terus tumbuh dan mengambil alih kepemimpinan kelompok sel pada Januari 2014 sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, tapi ia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk melayani dengan cara itu.

“Aku tidak pernah berharap Allah memberi saya hati yang sedemikian untuk orang-orang ini,” kata Tyler. “Sudah cukup menakjubkan. Ini membuat saya tumbuh [dalam] ketergantungan saya pada Tuhan. Saya katakan kepada Tuhan, “Aku tidak tahu apa yang saya lakukan tapi kau tahu. Aku di sini. Gunakan saya sebisaMu. ”

“Pastor Mark baru-baru ini bertanya dalam salah satu khotbahnya, apakah itu hidup? Hidup bagi saya dulunya adalah seorang gadis. Sekarang hidup adalah Yesus. Aku tidak tahu apakah aku akan mampu untuk memahami semuanya kalau saja Tuhan tidak memindahkan saya ke Tacoma dan membawa saya ke gereja Mars Hill.

“Aneh bagi saya untuk melihat ke belakang dan berpikir ada fase dalam hidup saya di mana saya depresi dan ingin bunuh diri, meskipun aku punya keluarga yang mencintai dan mendukung, [juga] terlibat dalam gereja, dan [juga] dikelilingi oleh teman-teman yang mencintai Yesus. ”

Tyler menyadari bahwa, bahkan di tengah-tengah itu, jika Yesus tidak hadir dan membentuk hidup Anda setiap hari, maka Anda masih bisa goyah dan jatuh.

“Melalui semua ini, Tuhan ingin menunjukkan saya siapakah Dia – bukan apa yang saya pikir siapa Dia atau apa yang saya inginkan Dia menjadi apa. Allah membentuk hatiku dengan menghancurkan berhala saya. Dia mematahkan saya ke titik di mana saya tidak memiliki apapun. Setelah itu, satu-satunya hal yang aku bisa miliki adalah Dia. ”

Tyler merasa seperti dia di tempat yang bagus sekarang dan memandang masa depan. Dalam 40-50 tahun ia ingin warisannya adalah menjadi seorang kakek yang mencintai keluarganya, melayani gereja, dan berkembang setiap hari dalam hubungannya dengan Yesus. Sejak Tyler menjadi seorang Kristen, ayahnya telah bertemu Yesus. Ia berharap lebih keluarganya akan berbalik kepada Yesus juga.

“Aku bisa menjadi orang Kristen pertama di keluarga saya. Seri khotbah dari kitab Maleakhi cukup menguatkan bagi saya karena saya melihat suatu generasi bisa berubah. Nama keluarga Trudeau sebelumnya penuh dengan banyak dosa. Tapi itu bisa berubah karena satu orang. ”

BAGI MEREKA YANG BERGUMUL DENGAN DEPRESI
Tyler ingin mendorong mereka yang bergumul dengan depresi untuk membiarkan orang lain tahu. Seringkali, seseorang yang berjuang mungkin mengatakan kepada satu orang, tapi Tyler mengatakan untuk membiarkan beberapa orang tahu sehingga mereka dapat membantu. Dan jika Anda tahu seseorang yang sedang berjuang dengan depresi, menurutnya suatu tanggung jawab bagi Anda untuk melibatkan yang lainnya, terlepas apakah mereka mau atau tidak. Itu mungkin akan menyelamatkan hidup mereka.

Diadaptasi dari : http://marshill.com/2014/06/06/i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story

Saya Merindukan Yesus : Kisah Charlie

Untitled

Kehidupan Charlie di SMA seperti layaknya filem remaja picisan. Ketika dia menjadi siswa baru, dia membuat kesalahan dengan mengatakan kepada seorang gadis bahwa pacarnya berselingkuh di belakangnya. Pacarnya, yang adalah seorang pria yang populer di sekolah, mengetahui bahwa Charlie mengkhianati dia, dan, dengan beberapa teman nya, membuat hobi baru untuk terus mengejek Charlie untuk empat tahun ke depan.

Dia mengatakan ia menerima ejekan itu dan menjadikannya identitas yang negatif.

“Jika anda mengejek saya sebagai aneh, saya akan menjadi anak aneh benar-benar,” katanya. “Jadi saya melakukan hal-hal seperti memakai piyama footie ke sekolah dan hal semacam itu. Jika Anda mengejek saya, saya akan membuat ejekan itu menjadi identitas saya dan mengejutkan Anda dengan itu. ”

Tapi peranannya sebagai Presiden dari Klub Japan di SMA tidak membantu keadaannya.

SEMAKIN DIKUCILKAN

Semakin ejekan-ejekan meningkat, begitu juga rasa pengucilan diri. Dia menemukan penghiburan dan kebersamaan dalam bermain game role-playing online role yang populer World of Warcraft. Untuk 8-14 jam sehari, dia duduk di depan layar komputer untuk melarikan diri dari dunia luar.

“Saya tidak tahu apakah itu lebih untuk persahabatan individu atau hanya menjadi bagian dari komunitas yang tidak menolak saya,” katanya. “Jika saya dalam sebuah permainan, aku bisa menjadi siapapun yang saya inginkan. Aku tidak harus menjadi anak kutu buku di SMA yang selalu diejek ketika berjalan melalui lorong-lorong. Aku bisa menjadi Pain Weaver, si Pengembara. Walaupun kedengarannya murahan, itu lebih menarik daripada kenyataan. ”

Mengucilkan diri juga membantu keinginannya untuk melihat pornografi dari usia muda. Dia mengatakan orang tuanya membuat kesalahan awam dengan membelikannya komputer ketika dia berumur 13 tahun.

“Pornografi terjadi begitu saja,” katanya. “Hal itu adalah sesuatu yang jatuh ke pangkuanku satu hari. Mulanya hanya rasa ingin tahu, kemudian menjadi kecanduan dan mengikatkan rantai di leher saya. Video game dan pornografi adalah dua hal yang mengambil alih banyak waktu saya. Saya akan bermain video game hingga larut malam dan kemudian menonton pornografi dan pergi tidur. Dan kemudian mengulangi lagi dan lagi. ”

Ketika masih muda, Charlie menghadiri sebuah gereja yang legalistik dengan orang tuanya. Sekolah Minggu adalah tentang aturan dan bagaimana dia melanggar aturan. Orang tuanya adalah orang Kristen yang masih bergumul dengan keyakinan-nya

“Saya tidak pernah menyentuh Alkitab saya, saya tidak memiliki kehidupan doa, saya tidak punya pengetahuan atau landasan dalam kitab suci atau tahu mengapa saya percaya apa yang saya percaya.”

Seiring waktu, ia mulai mempertanyakan kematian sendiri dan mulai takut mati.

“Aku akan mati suatu hari nanti. Rasa takut mati dan perasaan seperti terjebak dalam mortalitas saya sendiri… Saya menyadari kematian tidak bisa dihindari, itu akan terjadi dan tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal itu. Serangan panik datang pada saat-saat realisasi. Saya terus menerus memiliki panik yang eksistensial ini, di mana saya akan mengalami reaksi fisiologis, panik, dan kemudian mendapatkan lonjakan adrenalin. ”

Serangan panik berlangsung selama tiga tahun sampai ia mengatakan kepada ibunya tentang hal itu pada musim panas setelah ia lulus dari SMA. Dia bilang dia akhirnya mengatakan pada ibunya karena dia capai menutupi serangan panik dengan berlaga bersin atau pergi ke kamar mandi di mana ia akan panik dan gemetaran. Ibunya menjawab, “Kau akan ke gereja dengan saya akhir pekan ini.”

Dan dia pergi.

KARISMATIK MOMEN

Gereja ibunya bukan lagi gereja legalistik yang mereka kunjungi pada tahun-tahun sebelumnya. Selama khotbah, pendeta berbagi metafora dosa menjadi seperti bola benang yang terikat kusut. Dia mengatakan Anda mencoba untuk melepaskan simpulnya tetapi tanda disadari ternyata kekusutan itu sudah berada di kaki Anda, lebih buruk dari sebelumnya, dan tampaknya tidak mungkin untuk meluruskannya lagi. Pendeta itu mengatakan dosa membuat kita merasa seperti itu kadang-kadang.

“Aku agak terpana keluar setelah itu,” katanya. “Saya mulai berdoa, ‘Tuhan, aku merasa seperti bola benang yang paling kusut. Saya tidak berpikir saya akan pernah mendapatkan kelepasan. “Saya merasa Yesus berkata kepada saya, ‘Charlie, kamu ada di dalam telapak tanganku. Kepalan saya mencengkeram erat atas Anda. Tidak ada siapa pun yang dapat Anda lakukan untuk membawa Anda jauh dari saya. Tidak juga diri Anda. ‘

“Aku tidak dibesarkan dalam gereja karismatik tapi aku merasa seperti aku sedang mengalami momen karismatik ini. Aku merasa seperti dorongan, seperti sebuah ember penuh kasih dicurahkan di kepala saya. Saya jatuh ke depan. Saya tidak punya cara untuk menjelaskannya selain fakta bahwa saya benar-benar menerima Roh Kudus untuk pertama kalinya. Saya percaya dan mengakui bahwa saya tidak bisa melakukannya sendiri dan saya membutuhkan darah Yesus. Aku tidak pernah merasakan momen seperti itu sebelumnya.”

Setelah kebaktian, pendeta tersebut merekomendasikan buku apologetik untuk membantu meringankan keingintahuan intelektual Charlie tentang agama Kristen. Dalam mempelajari apologetik ia menemukan pengetahuan kepala, tetapi mengabaikan untuk membaca Alkitab sehingga ia kelalaian banyak pengetahuan hati dan dia tidak akan menyadari sampai ia membutuhkannya nanti. Serangan panik hilang pada hari Minggu itu.

AWAL YANG BARU

Setelah lulus SMA, ia terdaftar di Digipen Institute of Technology untuk mempelajari animasi 3D. Dia sekarang memiliki kesempatan untuk awal baru di tempat di mana tidak ada yang tahu siapa dia dan dia tidak lagi dibawa dipanggil kutu buku. Dia sudah muak diabaikan dan dijauhi dan saatnya untuk menjadi keren. Jadi dia mulai memberontak.

“Saya memanjangkan rambut saya, memakai celana ketat dan mulai mendengar death metal. Aku mendapat perhatian yang saya inginkan dan merasa kuat. ”

Sebuah situasi yang baru muncul di perguruan tinggi yang tidak pernah dialaminya. Seorang gadis memperhatikan dia. Segera dia memulai suatu hubungan dengan gadis tersebut.

“Saya berikan segalanya kepada dia tanpa ragu-ragu,” katanya. “Saya memujanya. Identitas saya adalah mengabdi kepada nya, menunjukkan hubungan dengannya, dan memenuhi keinginan berdosa saya melalui dia. ”

Dengan sedikit atau tidak ada pengertian dalam Alkitab, Yesus, doa, atau komunitas, Charlie tidak tahu bagaimana menangani hubungan. Melihat kembali ke tahun-tahun sebelumnya, ia menyadari idolanya adalah pernikahan. Pacarnya akhirnya meninggalkan dia untuk pria lain dan Charlie tidak dapat menerimanya dengan baik. Menurutnya, tuhannya telah meninggalkan dia dan tidur dengan orang lain. Dia terhancur.

MENEMUKAN GEREJA MARS HILL

Selama tahun kedua kuliah, ia mulai menghadiri Mars Hill Ballard ketika sedang berlangsung seri khotbah Religion Saves. Dia sebelumnya telah mengunjungi sekali di SMA dengan teman-teman keluarga.

“Saya melihat Injil disajikan dalam cara yang tak pernah kualami sebelumnya,” katanya. “Pendeta terus berbicara tentang Yesus dan mengajar langsung dari Alkitab. Saya belajar banyak tentang dosa dan apa arti sebenarnya dari kematian Yesus. Allah menantang pandangan duniawi saya tentang seks, cinta, dan hubungan dengan Dia. ”

Charlie dibaptis di Mars Hill Ballard pada tahun 2008 dan berpartisipasi dalam kehidupan gereja selama delapan bulan sebelum kesibukan kuliah menumpuk u dan dia berhenti menghadiri. Dia menemukan pacar lain dan memujanya dengan cara yang sama ia lakukan dengan pacar pertamanya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia menjadi seperti seorang suami kepada wanita tersebut dengan cara tidur dengannya dan menghabiskan waktu dan uang pada dirinya.

“Idola saya akan pernikahan itu bermanifestasi dalam permainan aneh seperti ‘main rumah-rumahan’ di mana saya sudah memenuhi apa yang saya pikir sebagai suami yang baik untuk wanita yang dicintainya. Saya tidak menyadari saya memimpin dia dan saya ke dalam kegelapan dan hubungan saya dengan dia adalah beracun. ”

Hubungan larut menjadi sekedar seks dan akhirnya wanita tersebut meninggalkan dirinya.

Depresi dan rasa bersalah mengambil alih. Charlie menjauh dari Tuhan dan komunitas, karena terlalu sulit untuk menghadapi dosanya. Pada musim panas tahun 2009, Charlie sedang melihat sebuah situs kencan online dan ia menemukan seorang gadis yang ingin bertemu. Wanita itu berkata, “Aku tidak akan berkencan dengan Anda, tetapi Anda dapat datang ke gereja saya.” Gereja itu adalah Mars Hill Bellevue dan ia mulai pergi dengan dia setiap minggu. Ia juga memperkenalkan kepada komunitast lagi melalui teman-temannya.

“Aku mulai benar-benar belajar siapa Yesus sebenarnya,” katanya. “Saya tidak hanya belajar tentang dia, saya mulai mengenal dia dalam hubungan yang nyata. Yesus mengungkapkan dirinya kepada saya dengan cara yang menghancurkan Yesus yang aku kenal di masa lalu. Dia mengajar saya usaha saya, pekerjaan saya, dan perjuangan saya untuk menjadi cukup baik itu tidak perlu karena dia cukup baik bagi saya. Dia menyadarkan saya akan dosa masa lalu saya dan menguatkan saya untuk meminta maaf kepada gadis-gadis saya salah gunakan dalam nama ‘menjadi orang baik. “Dia juga menyerang dosa rahasia pornografi yang telah berlanjut selama bertahun-tahun.”

Charlie mengatakan ia jatuh cinta dengan Yesus dan Alkitab. Dia mencintai belajar tentang Yesus dan berdoa. Dia mengatakan ini adalah musim di dalam hidupnya ketika Yesus memiliki kepala dan hatinya. Itu berlangsung sampai bulan Januari 2011 saat ia mendapat pekerjaan di pusat penjualan mobil.

KEMBALI KE JALAN DOSA

Bekerja di Pusat penjualan mobil menyita waktunya, termasuk hari Minggu, jadi dia berhenti pergi ke gereja dan grup komunitas. Mengasingkan diri kembali lagi. Orang-orang yang bekerja dengan nya mengejek dia karena tidak mau mabuk dan tidur dengan wanita di sekelilingnya. Bosnya menyebutnya “orang alim” dan sebutan-sebutan lainnya yang lebih vulgar. Charlie menjadi frustrasi karena orang-orang tersebut sepertinya mempunyai kehidupan yang menyenangkan.

“Saya tidak bahagia,” katanya. “Saya tidak dalam Alkitab dan tidak berdoa. Aku marah pada Tuhan dan bertanya, “Mengapa orang-orang sangat senang ketika mereka melakukan hal-hal yang Anda katakan salah? Mengapa saya merasa tidak ada sukacita walau saya adalah salah satu kepunyaanmu? ‘”

Ini adalah titik rendah dalam kehidupan Charlie dengan Yesus. Isolasi memburuk dan ia mulai melihat pornografi lagi untuk pertama kalinya dalam satu tahun setengah.

SEBUAH TITIK BALIK YANG NYATA

Enam bulan kemudian ia terbangun di suatu Sabtu pagi, memandang sekeliling kamarnya dan mulai menangis. Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah, “Aku rindu Yesus.”

Ini adalah titik balik besar dalam kehidupan Charlie.

“Yesus menunjukkan kepada saya apa yang telah dilakukan hal-hal yang saya kejar,” katanya. “Saya tidak bahagia atau lebih sukacita penuh setelah mengejar hal-hal ini. Mereka tidak memberikan. Mereka tidak memenuhi saya. Mereka tidak pernah cukup. Dia biarkan aku mengejar mereka untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka. Itu setelah poin terendah saya,saya bisa menghargai apa yang telah dilakukan Yesus bagi saya dan saya menyadari bahwa dia adalah satu-satunya alasan aku di sini di planet ini. Aku di sini untuk membawa kemuliaan bagi Yesus. Di situlah letak makna dan pemenuhan yang sesungguhnya, di dalam Yesus Kristus. ”

Charlie mulai keluar dari rumah lagi. Dia menghadiri Mars Hill Bellevue dan berhubungan kembali dengan teman lama dan grup komunitas. Saat itulah dia menyadari bahwa dia tidak pernah melayani gereja sebelumnya. Dia bilang dia ingat Pastor Mark mengatakan dalam sebuah khotbah, “Anda sudah tahu apa yang Allah panggil Anda untuk lakukan. Berhenti membuat alasan dan pergi melakukannya. “Dia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk mengajar umat-Nya sehingga ia mulai mengajar dalam pelayanan anak-anak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Charlie memberikan Yesus kepalanya, hati, dan akhirnya, tangannya.

MENEMUKAN ISTRI

Minggu berikutnya, wanita yang adalah direktur pelayanan anak-anak pada waktu itu memintanya untuk berpikir tentang menjadi seorang magang. Ia berdoa tentang hal itu dan merasa bahwa itu adalah suatu panggilan Tuhan untuk dilakukan. Jadi dia mulai magang untuk anak usia 7-12 tahun pada awal 2012. Selama masa bekerja dalam berbagai pekerjaan dan magang, ia akhirnya datang ke titik dalam hidupnya di mana ia mampu memberitahu Tuhan, “Saya tidak peduli apakah Engkau sudah menyiapkan seseorang untuk saya nikahi. Engkau telah memanggil saya untuk melakukan hal-hal yang lainnya, jadi saya akan melakukannya. “Empat bulan kemudian ia bertemu dengan calon istrinya.

Sekitar setahun sebelum bertemu istrinya, Charlie mendaftar untuk membuat profil gratis di eHarmony, situs jodoh online. Ketika dia tahu dia harus bayar, dia membatalkan idenya dan menghapus profil online nya. Setahun kemudian mereka menghubungi dia untuk mengatakan mereka menjalankan promo akhir pekan yang gratis. Karena penasaran dan bosan, ia masuk dan wanita pertama yang dilihatnya adalah Jess. Dia mengirim pesan padanya dan mereka berbicara di telepon selama empat sampai lima jam dalam semalam untuk minggu pertama. Pada akhir minggu mereka makan makanan Thailand bersama dan berbicara selama tujuh jam.

Enam bulan setelah pertemuan online, Charlie meminta ayah Jess ‘jika dia bisa menikahinya. Empat bulan kemudian mereka menikah. Apa yang tampaknya seperti waktu yang cepat sesungguhnya tidak cepat untuk Charlie. Dia telah meninggalkan berhala pernikahan dan akhirnya di tempat dalam hidupnya bersama Yesus di mana dia merasakan sukacita.

KESETIAAN ADALAH TEMA

Charlie dan Jess menikah 5 Oktober 2013 di gereja yang sama di mana Allah mengatakan kepada Charlie bahwa Dia menggenggamnya di telapak tanganNya.

“Untuk menikah sahabatku yang juga mengasihi Yesus, di gereja di mana saya menerima Roh Kudus -itu adalah hal yang luar biasa. Charlie yang menikah Jess bukanlah Charlie yang saya kenal secara historis. Saya seorang pria yang berbeda, dan itu menunjukkan kekuatan Yesus. Dia bisa mengubah kutu buku yang pemalu dengan kecanduan pornografi menjadi seorang pria yang mencintai istri dan setia. ”

Charlie mengatakan tema yang telah meliputi seluruh hidupnya adalah kesetiaan Tuhan.

“Tuhan sungguh setia. Saya pikir hal terbesar dalam cerita saya adalah bahwa saya telah terbukti waktu dan waktu lagi tidak setia, tetapi Tuhan selalu setia di dalam ketidaksetiaan saya. Dia selalu mengejar saya.

“Saya menemukan cara untuk mengacaukannya dan menutupi diri sendiri atau terganggu dengan seorang gadis atau sesuatu seperti itu, tetapi Yesus selalu membawa saya kembali kepada Nya. Sekarang iman saya sekuat yang belum pernah saya alami. Ini semua karena dia. Ini bukan karena aku. Saya tidak bisa mengambil kredit untuk itu. Aku tidak sempurna, tetapi Yesus bekerja pada saya. Saya sekarang sudah lebih dewasa. ”

Diadaptasi dari situs: http://marshill.com/2014/05/15/i-missed-jesus-charlie-s-story

John Burke

monkimage (1)

Pencipta kita Allah adalah pencemburu. Dia meniginginkan perhatian dan pengabdian kita secara penuh.

John Burke akhirnya menyadari ini setelah bertahun-tahun mencoba untuk menggantikan kasih Allah dengan setiap hal-hal yang menarik perhatiannya.

John dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik di New York, dan seperti kebanyakan rekan-rekannya, ia adalah seorang putra altar dan menghadiri gereja secara teratur dengan keluarganya. Tapi selama waktu itu, ia merasa ketakutan kepada Allah dan tidak melihat-Nya sebagai Seseorang yang dia bisa dekati dalam doa.

Kehidupan rumah John sering kacau. Ayahnya seorang pemabuk, dan John cepat belajar bahwa ia harus mengurus dirinya sendiri. Dia bertindak dalam kemarahan dan agresif terhadap orang lain, dan persona yang dia ciptakan ini ini memberinya rasa aman dan identitas.

Di sekolah, John bergaul dengan “orang-orang aneh ” – mereka yang bukan berasal dari keluarga yang penuh kasih. Pada titik ini dalam hidupnya, ia menganggap dirinya seorang agnostik. ” Saya tidak ingin berpikir tentang keberadaan Tuhan. Saya hanya memutuskan dia tidak,ada, ” kata John.

Bermain musik rock ‘ n’ roll dan memulai sebuah band membuat John untuk mengalihkan pikirannya tentang keberadaan Allah dan hidup sebagaimana dia mau. Walaupun disibukkan dengan semua aktifitas music dan gaya hidupnya, John masih memiliki pertanyaan-pertanyaan untuk Tuhan.

Kepahitan dalam hatinya terhadap kehidupan keluarganya menginginkan jawaban.

” Bagaimana mungkin Allah bisa menempatkan seorang anak dalam situasi itu ? ” pikirnya. Ketika tidak dapat menemukan jawaban, John memutuskan bahwa hidup “hanyalah lelucon yang kejam, dan Anda harus berusaha membuat jalan Anda sendiri. ”

Band John menjadi cukup populer, pertunjukannya laris, dan kadang-kadang bermain untuk ribuan orang. Tapi, setelah sensasi awal adrenalin berakhir, dia akhirnya merasa lebih kosong dari sebelumnya.

“Pada akhirnya, sukacita yang dijanjikan rock’n roll, tidak pernah datang – hal itu mengecewakan saya, ” kata John.

Allah Menggunakan Keingintahuan dan Kecerdasan John Mmelalui Orang-Orang Kristen Dalam Hidupnya.

Setelah musik memudar ketika berumur 20-an, John memutuskan untuk masuk kuliah. Dia ingin mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin dan berhasil di bidang akademik. Keinginannya berhasil, dan ia menerima banyak piagam dan penghargaan, lulus di peringkat teratas di kelasnya.

Meskipun dengan semua pemahaman dan pengetahuan yang ia terima, John tetap sangat kosong dan sedih.

Pengetahuan menguasakan dia pada awalnya, tetapi semua pemikir-pemikir ternama yang ia pelajari, seperti Plato dan Nietzsche, hanya memenuhi kebahagiaan yang sesaat. Ketenangan pikiran dan kelegaan rohani bukan sesuatu yang bisa mereka sediakan.

Gagasan tentang kecerdasan menjadi kekecewaan lainnya.

Di tengah semua usahanya untuk menemukan jati diri, Tuhan tidak pernah berhenti mengejar John. Dia mengizinkan John untuk pergi menurut ‘jalan’ nya, tetapi Dia selalu mempunyai rencana untuk menarik John kembali kepada-Nya.

Setelah musik dan pengetahuan mengecewakan, John mengejar lagi cara lain yang ia harap akan mengarah pada kebahagiaan : pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan di bidang keuangan dan investasi dan menjadi tertarik dengan wiraswasta dan ide ‘berhasil dengan usaha sendiri’.

Hari-harinya diisi dengan jam kerja yang panjang dan bacaan-bacaan tentang self-help untuk membantu dia ” memvisualisasikan kesuksesan. ”

” Usaha putus asa saya untuk menemukan kedamaian,, dalam pencarian ini, mengecewakan saya sekali lagi, ” kata John. Kepahitannya, tetap berakar dengan dalam.

Seperti banyaknya kisah-kisah dalam Alkitab tentang tokoh-tokoh dan pencarian mereka yang sia-sia, John berulang kali mencari hal-hal yang menjanjikan kebahagiaan yang bisa dia temukan, mengabaikan kalau sukacita yang sejati, hanya Tuhan yang bisa sediakan.

Ketika John berumur 41, ia menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam musik, pendidikan dan pekerjaan tidak melakukan apa pun untuk memenuhi dia. Pada titik ini, ia mulai menyelidiki spiritual. Ia belajar meditasi, Buddhisme, transendentalisme – setiap ” isme ” yang bisa dia temukan.

” Aku bisa merasakan ada sesuatu – tujuan yang lebih besar – tetapi semua studi saya dan kontemplasi tidak bisa mendefinisikannya, dan filsafat Timur meninggalkan lubang yang tidak bisa diisi, ” kata John.

Namun, Tuhan – dalam rahmat-Nya yang tak terbatas – menarik John mendekat kepada-Nya seperti yang dilakukan-Nya dengan setiap dari anak-anakNya. Dia mulai untuk menempatkan orang-orang Kristen dalam kehidupan John yang membawa kedamaian yang selama ini John berusaha untuk pahami.

Allah menantang keingintahuan dan kecerdasan John melalui mereka, dan salah satu dari teman-temannya tersebut memberi dia buku CS Lewis ‘ ” Mere Christianity. ” Buku ini menantang John untuk berpikir tentang mengapa semua orang tampaknya merindukan sesuatu yang lebih, di dalam dunia yang rusak ini.

” Aku mulai mengerti bahwa kerinduan akan sukacita ini adalah untuk dekat dengan Allah. Dosa memisahkan kita dari jalan kehidupan bersama Tuhan sejak dulu, dan manusia sendiri tidak bisa memperbaiki kondisi ini. ” Kata John. “Jadi, Yesus Kristus menanggung semua beban dosa kita atas diriNya untuk menyelamatkan kita dan menawarkan kita jalan kembali kepada Bapa. ”

John bergumul dengan Tuhan dan berdoa agar –jawaban-jawaban dapat diungkapkan. Setelah Roh Kudus bergerak dalam dirinya, mengubah hati dan pikirannya, ia percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Dia menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan berhenti mengejar hal-hal yang kosong.

Hari ini, John berlari dengan pengejaran penuh akan kemuliaan Allah. Melupakan cara-cara berpikir sebelumnya tidaklah mudah. Tapi kesadaran akan kasih yang kuat dari Allah, John telah menemukan satu-satunya kebenaran dan pengetahuan sejati yang benar-benar penting baginya.

“Sungguh suatu sukacita untuk mengetahui bahwa Dia mengutus Anak-Nya sehingga kita bisa diselamatkan, ” kata John.

Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/116731/john-burke/

Alex Launius

monkimage

Alex Launius mulai menyileti dirinya, anoreksi, dan mabuk-mabukan ketika dia beranjak 14 tahun.

Berasal dari Florida, Alex berusaha untuk bisa menyesuaikan diri. Dia memiliki “problema ayah ” itu istilah yang dia berikan, dan, ironisnya, berjuang dengan depresi yang panjang di tempat yang indah yang sering disebut “Negara Bagian Kemilau Matahari”

Depresi yang dialami berakar dari kekerasan fisik dan emosional yang didapatkan dari ayahnya.

Kehidupan Alex sudah ditentukan ke arah yang sepertinya tidak bisa diputarbalikkan sejak muda. Dia mulai merencanakan kehidupannya di sekitar minuman dan obat-obatan pada saat sebagian besar gadis seusianya hanya mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan rumah pra-aljabar mereka.

Sepanjang masa remaja dan memasuki usia 20-an, Alex melanjutkan untuk melakukan tiga aborsi sekaligus terlibat dalam beberapa hubungan sesama jenis. Dia menjadi penari erotis dan memasukkan setiap obat yang terbayangkan ke dalam tubuhnya.

Dia menemukan dirinya di penjara sebelum ulang tahunnya 21.

Tetapi Alex segera menyadari, waktu itu di balik jeruji besi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya.

Selama tiga tahun masa penjara, Alex diperkenalkan kepada Tuhan oleh sesama narapidana. Pada awalnya, kasih dari narapidana yang luar biasa ini mebuatnya frustrasi. Tapi ketika dia pergi, Tuhan mulai bekerja dalam hati Alex yang keras, membantunya memahami kedalaman kasih-Nya.

Suatu malam, di tengah-tengah perenungan dan mencarian, Alex membaca tentang kehidupan Yohanes Pembaptis di dalam Injil Matius. Tergerak oleh cerita tersebut dan ide baptisan, ia menuju ke tempat mandi penjara yang terbuat dari logam dan dingin, di mana dia membaptis dirinya di hadapan Tuhan.

Meskipun dia tidak benar-benar mengerti apa yang ia lakukan, Alex tahu dia membutuhkan sesuatu dan bahwa Yesus adalah hadiah yang terutama.

Pada saat itu, dia menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.

Setelah dia dibebaskan dari penjara, baik secara harfiah dan secara fisik, daya tarik Alex untuk wanita – di antara sejumlah kecanduan lainnya – secara ajaib hilang. Pergumulan terbesarnya sekarang adalah apa yang disebut di dalam kitab Filipi sebagai” pengetahuan dan kedalaman wawasan. “. Sesuatu yang dia tidak punya.

Dia ditempatkan di sebuah rumah transisi selama 16 bulan. Selama masa ini ia mulai belajar dan mwmahami lebih banyak tentang nilai-nilai fundamental dari keKristenan.

Suatu hari, ketika dia sedang memempelajari dan menyembah melalui video YouTube, Alex menemukan sekolah Alkitab di South Dallas dengan nama Christ for the Nations. Video penyembahan dari sekolah ini mulai menggerakan hatinya, dan dia memutuskan untuk pindah ke Texas. Setelah dia pindah ke Dallas dan terdaftar di sekolah tersebut, segala sesuatunya mulai masuk akal, dan hubungannya dengan Tuhan bertumbuh. Dia mulai mendapati dirinya menjadi kaku, dan lebih mencintai instruksi daripada Instruktur.

Alex bertemu dengan seorang pria bernama Zach, ketika dalam pelatihan untuk perjalanan misi ke Cina. Dia membantu mengajarinya kebebasan di dalam Kristus dan menghidupi iman Kristen bukan sekedar mengikuti peraturan tetapi tentang menyembah Tuhan.

Zach mengatakan dia dapat merasakan indahnya cerita yang terjadi di Yohanes 7 di mana Yesus menantang orang tanpa dosa untuk melemparkan batu pertama ke perempuan pezinah itu. Dia menyukainya karena dia tahu kedua sisi dari cerita tersebut.

Dia dan Alex berpacaran selama satu tahun, dan menikah, dan Alex melahirkan seorang bayi perempuan yang manis bernama Olivia pada Oktober 2011.

Sekarang Alex melayani di Jesus Said Love, organisasi mitra dari gereja The Village yang menjangkau para penari erotis di daerah DFW Metroplex dan mengajarkan mereka tentang kasih Kristus. “Pelayanan memberi saya begitu banyak pengharapan, membangkitkan iman saya dan menempatkan semuanya dalam perspektif, ” kata Alex. ” Meskipun semuanya itu adalah pengalaman hidupku, tapi hal itu mudah terlupakan.”

Ini adalah alasan dia begitu gembira tentang bekerja dengan organisasi Jesus Said Love. Dia menyentuh kedalaman dosa, dan Yesus telah menebus dirinya. Sekarang pesannya kepada orang lain adalah sebuah proses restorasi. ” Saya tidak pernah bisa melihat seseorang dan berkata ‘ Anda sudah terlalu jauh untuk diselamatkan, ‘ ” katanya.

Ini tidak berarti bahwa Alex tidak memiliki hari-hari yang sulit, tetapi ada maksud dari semuanya. “Saya akan senang kalau ketakutan bisa pergi begitu saja, tetapi itu tidak akan membuat saya tergantung pada Tuhan, ” katanya.

Pada bulan Januari, ia dan Zach akan pergi menuju ke Filipina untuk menyelesaikan kredit kelas misionaris perguruan tinggi mereka. Sementara itu, Alex terus menghabiskan hari-harinya mengurusi Olivia dan bekerja di toko Etsy nya.

” Saya suka membuat barang-barang untuk orang dengan pemikiran bahwa mereka akan menggunakan dan mencintainya. Kadang-kadang, sama dengan cara saya berpikir tentang Allah,” katanya. ” Anda tahu, Dia menciptakan segala sesuatu bagi kita, untuk kesenangan kita, untuk kebaikan kita. ”

Gairah untuk representasi visual tentang Kristus dalam kesenia adalah hal yang sangat mengilhami tato gelap yang tipis di lengan kanan Alex. Tatonya bertuliska ” Redeemed” (ditebus) dalam bahasa Ibrani dan tergagas dari cintanya akan kata-kata dari 1 Petrus 1:17-19 :

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Diadaptasi dari situs: http://www.thevillagechurch.net/article-stories/140411/alex-launius/

Tim Dobelbower

monkimage1

Tim Dobelbower beranjak masuk ke kumpulan doa gereja The Village sebagai orang yang telah bersih sedikitnya lebih dari satu hari. Pergumulan dengan obat-obatan terlarang dimulai dengan ganja pada usia 13, dan lebih dari tiga dekade kemudian, masih berlangsung.

” Saya tidak ingin menarik perhatian untuk diriku sendiri, tapi saya ingin orang tahu di mana aku berada, ” kata Tim.

Berawal dengan pengakuan dosa dan menghabiskan Senin malam dengan tangisan. Dia telah menghadiri Kelompok Sel secara sporadis, tetapi pemimpin kelompoknya bertahan san selalu mengecek dirinya.

Dia telah mencoba berbagai program, beberapa seperti 12-steps, yang rasanya tak pernah berakhir dan berujung kembali lagi ke obat-obatan. Pemimpin kelompok Tim, Greg, bukan seorang ahli dalam hal kecanduan narkoba, tetapi ia bertanya apakah Tim telah mencoba untuk “berseru” kepada Tuhan. Bukanlah hal yang rumit, tetapi Tim mengakui bahwa itu salah satu cara yang belum pernah dia coba. Di dalam usahanya untuk mencoba membersihkan tubuhnya dari pesta mabuknya yang terakhir, Tim mencoba cara tersebut.

“Saya benar-benar menangis. Dan saya ngat hari berikutnya, sepertinya sesuatu telah terangkat, ” katanya.

Kristus Sealalu Ada Di Sana, Bekerja Di Dalam HAti Tim.

Dia menelpon Greg hari itu dan mengucapkan dua kata sederhana : ” Aku selesai “. Greg mengundang Tim untuk bergabung dengannya ke kelompok doa gereja The Village untuk bulan Januari. Sejak itu, dia tidak menggunakan obat dan telah bergabung kembali ke Kelompok Se. Pandangannya tentang Injil dan perannya dalam hidupnya berubah sama sekali.

” Saya akan melakukan apa yang gereja ini minta saya untuk lakukan, ” kata Tim.

Itu berarti menjalani hidup dengan keterbukaan dengan kelompok selnya dan memutuskan –hubungan-hubungan yang bisa menjerumuskan dia ke dalam dosa dan menjauhkannya dari Juruselamat -nya.
Kristus bertemu dengannya di mana dia berada.

Kristus selalu ada di sana, bekerja di hatinya saat dia berjuang untuk melepaskan diri dari obat-obatan dan mengejar kehampaan. Dia menggunakan saat-saat dalam kehidupan Tim untuk mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan datang.

” Tuhan tidak akan mengizinkanku untuk menutup tempat-tempat persembunyian. Ada kedamaian yang saya tidak pernah punya sebelumnya. Aku terus mengaku kesalahan saya ke kelompok sel saya, dan mereka menumpang tangan mereka pada saya, berdoa untuk saya dan tidak panik, ” katanya. ” Kalau ada gedung untuk para pendosa yang luar biasa, saya rasa saya mungkin punya ruangan khusus. ”

Pergumulannya dengan obat-obatan belum berakhir, tapi dia memenangkan setiap pertempuran hariannya sejak Senin malam pada Januari 2013. Dosa seksual juga merupakan pergumulan berkesinambungan yang memerlukan akuntabilitas, pengakuan dan disiplin dikombinasikan dengan pengampunan ketika ia gagal.

” Saya memiliki lebih banyak sukacita dalam hati saya sekarang. Seakan-akan, hal ini sudah lama menunggu saya. Akuharus menjalani semuanya itu untuk menyadari satu hal yang benar2 berarti, dan itu adalah Kristus, ” kata Tim. ” Har-hari yang penuh keputusasaan yang pernah saya alami, dipakai Tuhan dengan baik untuk keselamatan dan pensucian saya. ”

Hari ini, ia mengacu pada Kolose 1:13 sebagai pegangan sehari-hari akan identitas barunya, identitas yang tidak berpusat pada dosa yang sudah dia lakukan atau yang akan terus menghantuinya. “Dia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih;” tertulis di ayat tersebut.

” Aku bisa menerima bahwa saya tidak baik. Setiap dosa yang sudah terselesaikan, saya akan temukan dosa baru lagi yang Tuhan ungkapkan, dan hal itu sungguh indah bagi saya sekarang. Itu adalah karunia ” kata Tim. ” Ketika saya meninggalkan obat-obatan sebelumnya, saya pikir semua hal akan menjadi lebih baik. Saya ingin seperti orang yang sempurna, yang bisa mengendalikan semuanya. Saya menginingkan perubahaan secara eksternal, dan kadan itu terjadi, tapi hatiku tetap sama. ”

Berseru dan menangis kepada Tuhan akhirnya membantu mengubah fokus dari hatinya, walau terperosok dalam dosa namun tetap memandang kepada Kristus untuk pengampunan dan penebusan, didertai dengan pengertian akan cinta-Nya yang tak berkesudahan dan kuasa dari kasih karunia-Nya.

Cerita oleh David Ubben
Foto oleh Jesse McKee

Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/192701/tim-dobelbower/

Stephanie Menginginkan Seorang Bayi, Tetapi Yesus Menginginkan Baginya Sesuatu Yang Jauh Lebih Baik

Stephanie_Robins_940_400_90

Stephanie Robins berjuang dengan keraguan dan ketakutan bahwa dia tidak akan pernah mengandung seorang anak. Ini adalah kisahnya dalam kata-katanya sendiri…

Keinginan saya untuk menjadi hamil menghabiskan saya. Ketika suami saya dan saya menikah pada tahun 2002, kami tahu bahwa kami ingin segera memiliki anak. Kami tidak tahu kalau hal ini akam menjadi suatu perjalanan panjang bagi kami.

Saya didiagnosa menderita Sindrom Ovarium Polikistik. Segera setelah itu, perawatan kesuburan dimulai. Satu demi satu perawatan tersebut membawa kegagalan. Selama tujuh tahun, upaya kami berharap untuk bisa hamil berakhir dengan kegagalan, dan impian kami untuk memiliki bayi mulai memudar.

Sebuah Cahaya Di Dalam Kegelapan

Sering kali, saya seolah-olah merasa saya melakukan sesuatu yang salah dan tidak pantas untuk memiliki seorang anak. Aku bertanya-tanya pada diriku apakah aku sedang dihukum. Adik perempuanku melahirkan setelah kegagalan perawatan kesuburaku yang pertama. Aku mulai berjuang dengan depresi yang berat dan mencoba bunuh diri. Rasanya aku ingin menyerah.

Selama waktu kegelapan, teman-teman kami mengundang kami untuk pergi ke gereja NewSpring pada musim gugur tahun 2009. Setelah menghadiri, aku merasa sepertinya sesuatu yang lebih dari sekedar kemandulan terhilang dalam hidup saya.

Keinginan untuk mempelajari lebih lanjut tentang Yesus ditempatkan di hati saya.

Pengharapan Baru

Suami dan saya tidak pernah menghadiri gereja secara konsisten. Kami hanya pergi kalau ada keperluan keluarga. Saya menerima Yesus sebagai Juruselamat saya dan dibaptis pada tanggal 13 September 2009 bersama dengan anak tiri saya. Suami saya menerima Yesus pada 4 Oktober 2009. Tidak terlalu lama setelah itu, anak tiri saya melakukan hal yang sama.

Menjadi bagian dari NewSpring dan memiliki Yesus dalam hidup saya mulai mengubah pandangan saya pada perjuangan untuk menjadi hamil. Obsesi saya akan ketidakmampuan saya untuk bisa hamil, saya rubah ke arah Juruselamat saya.

Perlahan-lahan, Yesus mengajarkan kepada saya bahwa Dia saja sudah cukup. Apalagi, Dia telah memberkati saya dengan seorang suami dan dua anak tiri yang cakap !

Doa Dengan Kesungguhan

Iman saya dalam Yesus tumbuh pesat. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar dapat menerima kemungkinan bahwa saya mungkin tidak pernah memiliki anak sendiri. Saya tahu bahwa rencana Yesus untuk hidup saya jauh melebihi saya. Suami dan saya berdoa dengan khusyuk bahwa jika itu kehendak-Nya, kita akan hamil.
Pada bulan Agustus 2012, pada malam ibadah di Bi-lo Center, jawaban Tuhan atas doa-doa kami menjadi jelas ketika kami menyanyikan lagu ” Always”. Seketika, saya merasa Dia berbicara kepada saya ketika lirik, “AKU TIDAK AKAN MENUNDA ” sedang dinyanyikan dengan nyaringnya.

Dua bulan kemudian, saya mendapatkan bahwa saya hamil ! Aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Kami menamai dia Sadie Elizabeth. Sadie berarti “Rahmat” dan Elizabeth berarti “Janji Tuhan. ”

Pada waktu-NYA

Pada hari Minggu pertama saya kembali ke gereja setelah melahirkan, aku duduk di ruang khusush ibu dengan bayiku yang cantik dalam pelukanku. Band gereja mulai memainkan lagu “Always” dan saya tahu bahwa doa-doa kami yang dinaikkan dengan penuh iman telah dipenuhi.

Melalui pencobaan saya, saya menyadari bahwa kadang-kadang jawaban Allah ‘tidak’ dan kadang-kadang ‘ya’. Tapi, Tuhan memberkati kita dalam waktu-Nya dan untuk kemuliaan-Nya. Iman baru saya di dalam Yesus membawa saya keluar dari depresi, dan saya meletakkan kekhawatiran saya di tangan-Nya.

Saya telah belajar bahwa saya harus percaya kepada-Nya sepenuhnya meskipun keraguan dan ketakutan bahwa aku tidak akan pernah memiliki anak. Pada saat itu aku menginginkan bayi lebih dari segalanya, tetapi Allah tahu bahwa saya memerlukan sesuatu yang jauh lebih dari segalanaya : seorang Juruselamat.

Diadaptasi dari situs : http://newspring.cc/blog/stories/stephanie-robins

DIKEJAR DARI KEDALAMAN : KISAH JOHN

20140411_pursued-from-the-depths-john-s-story_banner_img

John adalah seorang siswa dengan nilai sempurna, musisi yang sangat baik, sangat disukai oleh guru-gurunya, dan memacari gadis-gadis cantik. Dari luar, dia kelihatannya hampir sempurna. Tapi di dalam, dia berkata bahwa dia penuh kematian dan kenajisan spiritual. Orang tuanya membesarkannya dengan pemikiran bahwa prestasi adalah hal yang paling penting dalam hidup. Jadi dia membuat prestasi sebagai tuhannya.

PRESTASI = CINTA

John yakin semuanya dimulai ketika ia masi duduk di sekolah menengah. Dia tidak berpikir orang tuanya sengaja untuk menanam pemikiran tersebut di kepalanya tapi sepertinya ketika dia semakin baik di sekolah, semakin mereka mencintainya.

“Jika saya berprestasi baik, aku merasa dicintai dan diterima oleh orang tua saya,” kata John. “Dan selama waktu ini, saya percaya bahwa Tuhan memperlakukan hal demikian kepada saya. Saya mulai melihat Tuhan dengan cara yang sama saya melihat orang tua saya, renggang dan menuntut kesempurnaan dari saya.”

Penampilan luarnya yang sempurna sangat kontras dengan apa yang terjadi di dalam. John menjadi kecanduan pornografi ketika ia berusia sekitar 16 tahun.

“Saya bernafsu dengan semua wanita di sekitar saya, mengobjeksi mereka yang diciptakan menurut gambar Tuhan. Saya malu akan dosa saya. Tidak peduli seberapa kerasnya aku mencoba, aku tidak bisa mematahkan kecanduan porno saya. Aku tidak berdaya. Aku adalah seorang budak.”

Memudahkan kecanduannya adalah akses yang hampir tak terbatas untuk pornografi ketika di sekolah menengah atas. Kedua orangtuanya bekerja sepanjang waktu. Mereka menempatkan komputer di ruang dasar yang jarang dipantau. John mengingat dia pulang dari sekolah dan dapat melihat porno selama berjam-jam sebelum orang tuanya pulang kerja.

DISELAMATKAN DI DALAM KAPAL SELAM

Ketika John lulus dari sekolah menengah atas pada tahun 2009, ia bergabung dengan Akademi Angkatan Laut AS untuk melanjutkan usahanya mencari kejayaan, prestise, dan prestasi. Selama pelatihan pada musim panas, ia menghabiskan seminggu di kapal selam. Bekerja dalam kedalaman 300 meter di Samudra Pasifik, Tuhan mengejarnya melalui sesama anggota akademi. Matthew adalah seorang yang rendah hati, baik, dan ramah yang secara teratur menanyakan John tentang kehidupannya.

John tahu dia melakukan hal-hal berdosa tetapi karena dia adalah murid yang sempurna dan anak yang baik, dia berpikir bahwa ia adalah orang yang baik. Matthew menunjukkan padanya Roma 3:23 :”Karena semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah.”
John mengatakan,”Pada saat itu, ayat itu menusuk hati saya. Pada saat itu, saya menemukan Allah di dalam kekudusan-Nya. Ketika saya bertemu Tuhan, hidup saya runtuh di sekeliling saya. Segala sesuatu yang saya lakukan sampai saat itu menjadi sampah, sebuah tumpukan sampah yang bau. Aku merasa ditelanjangi dan dibuka. Saya tahu bahwa tidak mungkin orang berdosa seperti saya dapat berdiri di hadapan Allah yang kudus dalam kondisi saya sekarang ini.”

Dalam suatu tempat yang tidak biasanya – sebuah kapal selam – John mengatakan dia “percaya kepada Yesus, dan mengetahui bahwa Dia mencintai saya dan mati untuk dosa-dosa saya di kayu salib. Satu-satunya cara orang berdosa seperti saya mampu berdiri di hadapan Allah yang kudus yaitu dengan diselubungi oleh kebenaran Yesus.”

John merasa lega dan, untuk pertama kali dalam hidupnya, perasaan spiritual yang stabil.

“Di dalam kapal selam itu, sesuatu telah berubah,”katanya. “Saya tidak mampu menjelaskannya pada saat itu, tapi pada saat itu saya mengerti bahwa apa yang Yesus katakan adalah suatu kebenaran. Saya mengerti ada masalah mendasar dengan siapa aku. Aku butuh hati yang baru. Saya bukan orang baik yang melakukan hal-hal jahat. Saya melakukan hal-hal yang jahat karena saya orang jahat.”

MANUSIA BARU, KEHIDUPAN BARU

Matthew terus memuridkan John, mengajarinya untuk membaca Alkitab dan membawanya ke gereja. John meninggalkan Akademi Angkatan Laut di pertengahan tahun kedua dan hal itu mengejutkan kedua orang tuanya. Dia menduduki peringkat nomor satu di kelas 2013 dan tidak pernah menyerah dalam hidupnya. Bagi John, itu adalah keputusan yang mudah dan sulit. Mudah karena ia merasa Tuhan memanggilnya untuk pergi. Sulit karena ia harus menghancurkan berhala prestasinya.

“Aku harus percaya mengikuti Yesus lebih pasti dan nyata daripada ilusi kemakmuran dan prestasi duniawi.”

John tidak menyadarinya saat itu, tapi melihat ke belakang, dia bisa melihat bahwa meninggalkan Akademi Angkatan Laut adalah simbol bagaimana dia meninggal dalam kehidupan lamanya. Kehidupan baru yang dimiliknya termasuk pandangan yang lebih baik tentang wanita dan kebebasan dari perbudakan pornografi.

“Yesus membebaskan saya dari kecanduan saya, dan saya telah bebas [dari pornografi] sudah hampir empat tahun. Ketika saya percaya pada Yesus dan menerima Roh Kudus, saya akhirnya mempunyai kekuatan untuk melawan dosa saya. Roh Kudus tanpa hentinya memberikan kekuatan untuk mengatasi godaan ketika saya tidak mampu.”

TUJUAN YANG BARU

Pada tahun 2011, John mulai bekerja menuju gelar master di bidang teknik listrik di New Mexico Tech. Sekolah ini terletak di kampung halamannya di Albuquerque, New Mexico. Dia bertemu istrinya, Lindsey, pada retret InterVarsity Christian Fellowship pada bulan Februari 2011. Mereka menikah pada bulan Mei 2012 dan anak pertama mereka, Anastasia, lahir pada tanggal 17 Maret tahun ini. Bersama-sama mereka melayani di tim usher di gereja Mars Hill Albuquerque.

John mengatakan kehidupan sehari-harinya terlihat mirip dengan ketika dia berada di Akademi Angkatan Laut sebelum Yesus menebus dirinya. Dia masih pergi ke sekolah dan bekerja. Tapi ada satu perbedaan yang sangat penting.

“Perbedaannya adalah kehidupan lama saya didedikasikan untuk meningkatkan kejayaan saya, sedangkan kehidupan baru saya dibeli untuk Tuhan dan kemuliaan-Nya. Tentu saja aku tidak bisa sempurna setiap hari. Tapi aku dapat mengatakan dengan keyakinan bahwa sedikit demi sedikit, saya menjadi lebih seperti Yesus.”

Diadaptasi dari situs : http://marshill.com/2014/04/11/pursued-from-the-depths-john-s-story