Category Archives: Pertobatan

KELUAR DARI NERAKA : KESELAMATAN SARAH

20140505_out-of-the-inferno-sarah-s-salvation_banner_img

KELUAR DARI NERAKA : KESELAMATAN SARAH

Nama-nama yang terlibat dalam cerita ini telah diubah untuk melindungi mereka. Walaupun semua detail yang berkaitan dengan keluarga mereka sudah dihapus, kita dapat mengatakan bahwa Sarah dan keluarganya telah diselamatkan dalam pergumulan yang akan diceritakan berikut dan keterlibatan mereka dengan Gereja Hill Mars telah membantu mereka untuk belajar dan bertumbuh dalam iman mereka.

Sarah dibesarkan di sebuah keluarga yang pergi ke gereja. Dia masih aktif terlibat sampai usia 17, tapi ketika tahun-tahun yang penuh kegalauan, memasuki masa-masa remaja, dan semua keraguan akan manfaat gereja sampai pada puncaknya, dia terbawa menjadi ateis.

“Pada saat itu, saya ingin melakukan apa yang saya mau, ” katanya.

Dia juga mempertanyakan bagaimana mungkin Tuhan bisa nyata ketika, menurut pandangannya, Dia melakukan hal-hal tidak menyenangkan untuknya. Sarah kehilangan pria yang digambarkannya “Ayah yang Baik dan Hebat ” ketika dia baru berusia sembilan tahun. Ketika ibunya sedang berduka dengan kematiannya, seorang pedofil mengambil kesempatan dalam situasinya yang rentan, dan menjadi ayah tiri Sarah.

Lebih dari pada itu, ibu Sarah menjadi seorang pecandu alkohol dan sulit untuk ditangani. Sarah memutuskan bahwa Tuhan itu sebenarnya keji atau memang tidak ada.

” Bagi saya, Tuhan – kalau Dia memang ada – bukanlah tuhan yang mau saya kenal, ” katanya.

Jadi dia meninggalkan gereja pada umur 21, meninggalkan rumah untuk “memulai menjalani” hidupnya.
” Butuh waktu 16 tahun sebelum aku akhirnya mati-matian mencari Tuhan, ” katanya. Katalis dari kesadarannya adalah ketika kehancuran keluarganya saat suaminya ditangkap. Hal itu, menurutnya, menjerumuskan semuanya ke dalam tiga setengah tahun neraka

PENGHAKIMAN

” Kami bisa melewati semuanya itu hanya dengan mencari Tuhan di tengah-tengah kengerian, mengalami kasih karuniaNya yang luar biasa dan melihat bawha sesungguhnya Dia selama bertahun-tahun ini tidak tinggal diam, ” kata Sarah. “Dan kami masih melakukannya. ”

“Kami sejak dulu sampai sekarang adalah keluarga taat hukum yang terjebak dalam sesuatu tidak pernah terbayangkan”

Suatu Sabtu pagi Sarah pulang ke rumah dari kelas balet gadis kecilnya dan disambut di pintu oleh ibunya. Polisi datang ke rumah, mencari, dan menangkap suaminya, Jim. Dia didakwa dengan perdagangan narkotika dan seketika divonis 14 tahun penjara.

Merasa terhina, Sarah melihat seluruh struktur kehidupan sehari-harinya runtuh.

” Saya berusaha keras untuk berpegang pada pada pemikiran siapa saya yang sebenarnya, ketika tiba-tiba, saya benar-benar tidak tahu siapa saya lagi dan, juga, tidak yakin siapa sebenarnya pria yang saya nikahi ! ”

Tuduhan terhadap Jim sangat rumit. Pada kenyataannya, dia memang membantu menyelundupkan narkotika. Dia telah berulang kali dipaksa oleh seorang rekan kerjanya untuk membantu mengantar sebuah paket ganja. Setelah menolak beberapa kali, ia akhirnya menyerah kepada tekanan dan setuju. Ketika dia mencoba untuk mundur, dia diancam dengan todongan senjata.

Jim tertangkap dengan paket tersebut di tangannya. Ketika polisi membukanya, mereka menemukan sejumlah besar obat-obatan – bukan sekedar ganja, seperti yang diharapkan, tapi apa yang didefinisikan oleh Badan Pengawas Obat-obatan Terlarang sebagai Obat Terlarang Kategori 1, klasifikasi untuk obat-obat terlarang keras yang paling berbahaya.

Hanya dalam semalam, keluarga Sarah menjadi terkenal dan reaksi social segera terjadi. Para teman dan keluarga tidak mau berhubungan dengan mereka lagi. Langsung cemoohan yang tajam, dan tanpa tahu semua faktanya, jatuh atas Sarah, suaminya, dan anak-anaknya . Mereka tiba-tiba menjadi ” orang-orang itu “.

” Satu hari saya menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya, hari berikutnya saya terjerumus menjadi paria masyarakat, ” kata Sarah. “Beberapa hari setelah suami saya ditangkap, aku berada di kamar hotel menunggu sidang pengadilan hari berikutnya. Di laci samping tempat tidur saya ada sebuah Alkitab, saya mengambil dan membukanya. Saya berdoa, ‘ Tuhan jika Engkau nyata,tunjukkan apa yang harus saya baca. Saya tidak tahu harus mulai dari mana. ‘ ”

Allah membawanya ke Yohanes 8:07 : “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

Ingatan segar akan cemoohan teman-teman dan keluarganya masih dalam pikirannya, Sarah tertegun. Ayat tersebut benar-benar yang dia perlu dengar pada saat itu. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa bahwa dalam buku yang berisi ribuan kata, beberapa kata yang ia butuhkan bisa terungkap di saat dia membutuhkannya.
” Saya tidak mungkin mendapatkan kata-kata yang lebih tepat, dan dari sumber yang lebih baik, yang akan membantu saya untuk melewati masa-masa sukar. Ini sungguh menunjukkan kepada saya bahwa Tuhan itu ada. ”

Itu adalah awal dari pencarian Sarah tentang Tuhan. Dia ingin tahu siapa Tuhan yang sepertinya tahu persis apa yang dia butuhkan. Beberapa bulan kemudian, dia menemukan Yesus melalui pelajaran Alkitab yang diadakan oleh rekan kerja dan istrinya untuk dia.

” Di tengah-tengah itu semua, saya tidak bisa menyangkal lagi bahwa Yesus – adalah – penyelamat saya dan akan menjadi teman sejati yang saya miliki untuk membantu saya mengatasi semuanya, ” katanya. ” ’Jejak Kaki di Pasir’ datang ke pikiran. Dia membawa saya begitu banyak kali melalui cobaan ini, saya ragu apakah ada pernah dua set jejak kaki di perjalanan saya di pantai dengan Dia! ”

ALLAH DI ATAS ‘NERAKA’

Semua peristiwa-peristiwa di mana Tuhan membawa Sarah melalui setiap rintangan dalam dunia, hanya dia bisa bayangkan hanya ada di dalam drama-drama televisi.

” Semuanya penuh misteri dan tipu muslihat ” kata Sarah, ” tapi itu semua dilakukan untuk mencoba dan menjaga Jim agar tidak masu ki penjara, dan juga dengan pemikiran akan keselamatan anak-anak dan saya.”

Jim bersedia untuk bersaksi di pengadilan dengan apa yang ia tahu, membuat dia dan keluarganya menjadi target dari beberapa orang yang berbahaya. Serangan dan ancaman dilancarkan untuk Jim, serta Sarah dan anak-anak mereka, dalam upaya untuk membungkamnya.
” Jim diancam ketika di dalam penjara dan harus dipindahkan ke isolasi untuk keselamatan, di mana ia tinggal selama satu bulan, ” kata Sarah. “Selama waktu itu ia hanya memiliki sebuah Alkitab, dan membacanya dari awal sampai akhir. Tuhan berbicara sangat jelas kepadanya saat itu bahwa Dia akan menyertainya dengan aman. ”

Sementara Jim sedang bekerja sama dengan pihak berwenang, dia masih bermasalah dengan keputusan pengadilan sebelumnya. Sarah berjuang keras untuk mendapatkan suaminya banding. Sementara itu, dia mencoba untuk memberikan lingkungan rumah yang aman dan penuh kasih bagi anak-anaknya dengan harapan bahwa entah bagaimana mereka bisa memiliki masa kecil yang normal. Ketika mereka bertanya kapan ayah mereka pulang, Sarah tidak memiliki jawaban. Sangat tidak mungkin untuk merencanakan apa-apa. Anak-anaknya bertanya-tanya apakah dia akan berada di sana untuk ulang tahun mereka, Natal, atau acara khusus lainnya. Teman-teman mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak bisa jawab.

Sarah bahkan tidak tahu apakah, pada akhirnya, suaminya akan mendapatkan banding, apalagi pulang ke rumah. Jika dia tidak bisa banding, dia tidak tahu kapan dia akan disidang lagi atau apakah persidangnya bisa berhasil. Dan jika persidangannya berhasil, apakah hanya akan mengurangi masa tahanan atau benar-benar membebaskannya. Semua yang dia tahu pasti adalah bahwa, jika dia tidak berhasil entah bagaimana dalam siding banding, Jim akan kehilangan 14 tahun berikutnya dengan keluarganya. Anak-anaknya akan sudah dewasa pada saat itu.

” Saya tidak tahu apakah dari satu hari ke hari berikutnya jika pengacara melakukan sesuatu agar kasusnya bergerak maju, ” kata Sarah. ” Mereka selalu perlu didorong dan didorong terus untuk melakukan apa pun – itupun kalau berhasil menghubungi mereka. Semuanya sangat melelahkan dan inilah mengapa saya membutuhkan Yesus begitu sangat. ”

Sarah berjuang selama berhari-hari, yang mengulur menjadi minggu, bulan, dan tahun. Ini adalah pertempuran yang tidak pernah berakhir dengan pengacara dan pihak-pihak berwenang. Selama tiga tahun ia terus seperti ini. Pada tahun ketiga, suaminya melakukan suatu puasa yang ekstrim, bertahan tanpa apapun kecuali hanya dengan kopi, teh, jus, dan air selama 40 hari.

” Dia hanya kelihatan menjadi lebih kurus dan kurus, pada setiap kunjungan, ” kata Sarah. ” Dia tidak memberitahu saya bahwa dia berpuasa jadi saya sangat khawatir! Lucunya – semuanya masih ada di dalam control Tuhan. Menyusul hal ini terlihat mulai adanya pergerakan dari para pengacara. ”

Tiga setengah tahun ke dalam pergumulan, mereka menerima jawaban : Jim akan menerima naik bandingnya. Mereka memiliki dua hari untuk mempersiapkan.

“Semuanya belum dipersiapkan, ” kata Sarah. ” Suami saya khawait dan saya ketakutan, seperti yang kita tahu bahwa jika ini tidak berhasil, tidak akan ada kesempatan lebih lanjut untuk naik banding lagi dan kami tidak akan dipersatukan kembali sebagai sebuah keluarga sampai anak-anak kita sudah dewasa dan siap untuk meninggalkan rumah.”

“Kemudian, Allah bekerja untuk menenangkan badai yang mengamuk. Sehari sebelum banding ketika saya mengantar anak-anak ke beberapa teman untuk dititipkan, saya melewati sebuah gereja. Kata-kata yang keras dan berani terpampang pada poster di luar yang mengatakan, ‘Jangan takut akan hari esok, Allah sudah hadir di sana. ” Di sini, sekali lagi menyatakan Allah yang saya layani – adalah benar, teguh, dan batu karang di mana saya berdiri. Segera aku tenang. Aku menitipkan anak-anak, pergi ke pengadilan dengan keberanian di darahku, berurusan dengan pengacara, dan menyiapkan segala sesuatunya. ”

Allah memberikan Sarah dan suaminya seorang pengacara baru yang luar biasa. Mereka berjalan ke pengadilan, pengacara membuat kasusnya, dan Jim dibebaskan dari penjara.

SISI LAIN DARI PENDERITAAN

Buah dari masa-masa pahit ini telah menjadi manis. Keluarga Sarah mengasihi Yesus dan secara aktif melayani Dia. Dia melihat dalam diri anak-anaknya, suatu sifat menyayangi yang jelas, dan pengertian kepada mereka yang menderita.

” Semua ini adalah buah dari tahun-tahun gelap yang kami alami,” kata Sarah. ” Kita semua mencintai Yesus dan tidak pernah ingin berpisah dari Dia. ”

Jim dan Sarah diperkenalkan ke Gereja Mars Hill dan Pastor Mark setelah membaca sebuah artikel di majalah Kristen.

” Pendekatan tanpa kompromi-nya membuat kami sangat ingin mendengar apa yang dia katakan. Kami telah mendengarkan khotbah-khotbah Mars Hill hampir setiap malam. Mereka menantang kami, menginspirasi kami, memberi kami makanan rohani, dan membuat kita mau mengetahui lebih lagi. ”

Salah satu pelajaran bagi Sarah dari tahun-tahun dalam kegelapan adalah memeperlakukan semua orang dengan sama, tanpa peduli melihat latar belakangnya.

” Allah mengingatkan kita pada waktu itu bahwa kita semua adalah orang berdosa, ” kata Sarah. “Tak satu pun dari kita yang bernilai lebih dari orang lain, bagi Dia kita semua sama – terlepas dari kejahatan yang dilakukan, atau kesalahan yang telah terjadi. Banyak orang-orang penjara yang menemukan Yesus ketika mereka menjalani hukuman, dan tetap berkomitmen kepada kekristenan selama sisa hidup mereka. Suatu hari nanti, kita akan berbagi surga dengan banyak jiwa-jiwa yang di mana ketika kita masih di dunia, kita berusaha menghindari mereka. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi korban hinaan dan bisa mengerti dengan orang-orang yang di dalam situasi seperti ini. Banyak orang yang dengan jelas menyebrang jalan,membalikkan badan dan berjalan menuju ke gereja hanya karena mereka mau menghindar untuk berbicara dengan kita. Beberapa bahkan mengejek kami dan menganggap dirinya lebih tinggi dari kami. Tapi kita semua sama bagi Allah ; tidak ada yang tidak berdosa. Setiap orang dari kita bisa ada di sini hanya karena kasih karunia Allah, dan bisa memiliki harapan dan masa depan karena kasih karunia-Nya. Yohanes 8:7 memberiku pemahaman pertama saya tentang kekuatan yang bisa saya andalkan untuk minggu-minggu, bulan, dan tahun-tahun mendatang, dan ayat tersebut telah menjadi pijakkan kaki saya di jalan untuk menemukan Yesus sebagai penyelamat pribadi saya. ”

Ditranslate dari situs : http://marshill.com/2014/05/05/out-of-the-inferno-sarah-s-salvation

BAGAIMANA YESUS MERUBAH KEIBUAN

HTompkins_HowJesusChangesMotherhood

BAGAIMANA YESUS MERUBAH KEIBUAN

Oleh Hilary Tompkins

Mencoba untuk menjadi ibu yang sempurna bisa menjadi beban yang sangat berat, dan kadang-kadang Hari Ibu hanya membuatnya lebih buruk. Kami berharap cerita dari ibu-ibu biasa ini yang mengandalkan Yesus di tengah-tengah kegagalan dan ketidaksempurnaan akan menguatkang anda.

Bagaimana kabarmu, Mama ? Apakah Hari Ibu Anda berjalan dengan sempurna ?

Apakah Anda memiliki anak-anak yang taat, suami yang sangat penuh perhatian, cuaca yang sempurna, makanan yang sempurna, dan rambut yang sempurna ?

Atau apakah pendeta anda berkhotbah tentang Amsal 31 (bersalah), apakah anak-anak Anda pergi ke gereja dengan sirup di rambut mereka (bersalah), dan apakah suami Anda bertanya di mana kemeja favoritnya lagi (rasa bersalah) ?

Anda bukan ibu-ibu seperti di situs Pinterest ? Anda tidak sendirian.

BEBAS UNTUK TIDAK SEMPURNA

Kita disandera oleh keinginan kita untuk menjadi sempurna. Untuk sekali saja, demi kebaikan, bisakah kita pergi ke gereja pada Hari Ibu sesempurna imajinasi kita – mengatakan kata-kata berkat dan kebaikan; terlihat kurus, cantik, dan semuanya rapi; tidak malu dengan perilaku anak-anak kita atau kondisi mobil van ? Dan tidak, demi semua yang suci, terlihat apa kita yang sesungguhnya : kecewa, rusak, kehilangan seseorang, dan kehilangan damai sejahtera.

Ketika kita bersama-sama, kita bisa berbicara tentang bagaimana kebenaran Injil bisa merubah semua ini, dan itu akan menjadi percakapan yang luar biasa. Kita bisa mengingatkan diri kita sendiri pemberian-pemberian baik yang telah Allah berikan kepada kita, benar-benar menghitung berkat-berkat kita, memutuskan untuk merasa bersyukur atas anak-anak kita, dan itu adalah ketenangan.

Kita bisa membandingkan pelajaran-pelajaran tentang seperti apa rasanya ketika suatu hari nanti, mereka telah menjadi dewasa dan berkata kita diberkati. Kami akan bersukacita dalam identitas baru, hidup baru, dan perspektif baru yang merupakan hasil dari kepercayaan yang sejati tentang Injil.

Kami akan ingat bahwa meskipun kita terhilang, sekarang kita ditemukan. Meskipun kita tidak cukup, kita luar biasa dicintai oleh Tuhan yang benar-benar memadai. Meskipun kita lebih buruk dari yang kita pernah pikir, Yesus lebih baik daripada yang bisa kita bayangkan. Meskipun kita begitu jelas tidak sempurna, kesempurnaan-Nya diperhitungkan pada kita sebagai kebenaran.

BAGAIMANA INJIL MERUBAH KEIBUAN

Apakah Anda meragukan hal ini ? Kadang-kadang tidak ada yang lebih baik selain seorang teman untuk mengingatkan dan bersukacita dengan kita. Jadi saya ingin berbagi beberapa cerita dengan Anda pada Hari Ibu ini, cerita dari ibu-ibu sejati seperti Anda, dengan kekurangan dan perjuangan yang sama, dan dengan Allah yang baik yang sama. Jadi ambil minuman favorit Anda dan dengarkan. Saya mempertanyakan beberapa pertanyaan ini kepada ibu-ibu :

  • Bagaimana mengenal Yesus bisa merubah Anda sebagai seorang ibu ?
  • Bagaimana mengetahui kebenaran Injil mengubah perspektif Anda tentang keibuan ?

Dan inilah yang mereka katakan :

JARICA :

Ketika J. pertama kali lahir, setiap kali dia menangis aku merasa terbeban untuk mengetahui mengapa dia menangis. Saya tidak memiliki naluri keibuan untuk tahu bagaimana merawatnya. Injil dalam situasi itu berarti seperti ini : Saya memiliki kebebasan untuk meminta bantuan karena apa yang Yesus lakukan di kayu salib, dan jika saya tidak tahu atau tidak mendengar jawaban naluri, aku bisa mengira-ngiranya dengan bebas tanpa rasa malu atau bersalah karena melakukan kesalahan. Yesus sudah menanggung segala kemaluan tersebut.

Ketika J. pertama kalinya ngambek yang luar biasa ( saya memintanya untuk mengambil cangkir ), saya bingung tentang bagaimana untuk membantu dia. Anak itu benar-benar ngambek ! Saya berdoa untuk bantuan. Aku punya gambaran tantang diriku menangis di lemari kecil kami setahun sebelumnya ketika saya berdoa bahwa Tuhan akan membantu saya untuk tahu apa yang harus dilakukan di tengah-tengah konflik. Tuhan meminta saya untuk taat, dan saya tidak mau.

Saya mengerti bahwa Allah memanggil saya untuk melakukan apa yang ia telah dan sedang lakukan terhadap saya : Untuk merangkul J. dan menemaninya selama dia menangis, berdiri tegar tidak menyerah, terus mengulangi panggilan untuk mengambil cangkirnya sampai ia mematuhinya.
Saya benar-benar bergembira bersama dia dan tahu sudah waktunya bagi saya untuk bertobat dan membiarkan Tuhan bergembira bersama saya. Aku tahu bagaimana lembut dan tegarnya Allah, dan bahwa saya tidak dapat terlepas dari apapun kalau memakai ambekan saya. Hal ini merubah ketidaksabaran saya untuk mengerti. Saya sama seperti anak saya.

MARSHA :

Aku belum pernah belum memiliki hari yang sempurna selama menjadi ibu. Aku menyerah setiap hari terhadap godaan ketidaksabaran, atau kemarahan, atau apatis, atau penngagungan kepada kebersihan kamar mandi yang hanya bertahan lima menit. Aku membiarkan kegagalan saya untuk merongrong otoritas saya : Saya tidak cukup baik untuk menjadi orang tua bagi anak-anak ini !

Tapi aku belajar pentingnya dan indahnya kebebasan hidup seperti apa yang Yesus katakan adalah benar : aku telah diampuni. Dengan bantuan-Nya saya bisa bertobat dari dosa-dosa saya terhadap mereka dan masih berdiri dalam otoritas yang penuh kasih atas mereka. Dan aku harus.

KARINA :

Setiap hari mengharuskan saya menyerahkan keinginan dan rencana saya dan tersungkur di bawah kaki salib dalam rangka untuk mengasihi dan melayani anak-anak saya. Kasih karunia Allah yang ada di salib adalah apa yang menguatkan saya dalam kekacauan hidup ini.

BRIDGET :

Injil telah membebaskan saya untuk melihat anak-anak saya sebagai manusia-manusia yang dibuat oleh Yesus, daripada sekedar kebanggaan untuk kemuliaanku. Mencari identitas saya di dalam Kristus, dan menyadari bahwa semua kemuliaan milik-Nya, memungkinkan saya untuk mengasihi dan melayani anak-anak saya dengan cara yang nyata.

Anak-anak saya harus ” bersikap sedemikian” sebelum kita bisa berangkat ke gereja, karena mereka mewakili saya. Selain stres dengan anak-anak saya dan kemarahan yang tidak kudus terhadap balita saya yang akan mencabut kepang rambutnya atau anak-anak yang tidak mau memakai sepatu saya yang saya siapkan untuk mereka, hal ini juga menyebabkan geraman berantem buruk antara suami dan saya. Melihat bahwa Injil adalah cukup, memungkinkan saya untuk bertobat dari keinginan saya untuk kemuliaan pribadi dan memungkinkan anak-anak saya untuk pergi ke gereja dengan sukacita ( dan sirup di rambut mereka ).

JORDAN :

Mengetahui Injil telah benar-benar mengubah cara saya melihat artinya seorang ibu. Bagi saya itu terjadi selama persalinan dengan anak sulung saya : saya adalah seorang cengeng, penuh tuntutan selama kehamilan saya. Aku memanfaatkan penuh alasan saya untuk menjadi murung dan terlalu emosional, tetapi sesuatu terjadi ketika saya mulai bersalin.

Saya menyadari bahwa ini bukan tentang aku ; ini adalah tentang melakukan apa yang terbaik untuk anak laki-lakiku yang belum pernah bertemu muka dengan muka sebelumnya. Pergolakan dari pesalinan, dengan tanpa akhir yang terlihat, dan tidak ada tempat untuk pergi tetapi untuk mengalah pada kontraksi dan mengorbankan kenyamanan saya untuk kesejahteraannya – itu adalah gambaran dari Injil yang aku tidak pernah lihat sebelumnya. Ini semua tentang Yesus dan menunjukkan kepada anak-anak saya, kasih karunia dan rahmat yang sama yang Dia telah tunjukkan kepada saya.

Bethy :

Sebelum aku punya anak-anak, saya pikir saya tahu bagaimana menjadi seorang ibu. Aku punya banyak pendapat mengapa anak-anak bisa menjadi lepas kendali dan apa yang orang tua harus lakukan untuk memperbaiki perilaku anak-anak tersebut.

Lalu aku mempunyai si kecil manis B. Semua yang saya ” tahu ” tentang menjadi seorang ibu lenyap karena manusia kecil ini. Saya belajar dengan cepat bahwa, sama seperti setiap ibu baru – saya tidak tahu apa yang saya lakukan.

Dalam keputusasaan dan kesepian saya, Tuhan bertemu dengan saya. Aku tidak sendirian. Berlarut-larut malam mencari tahu bagaimana memberi makan bayi saya adalah malam-malam yang paling sulit dalam hidup saya, tetapi Tuhan ada di sana. Dia bertemu dengan saya dalam dalam ketulusan alunan Amazing Grace yang saya nyanyikan untuk B, ketika mencoba untuk menenangkannya dan membuatnya tertidur. Dia bertemu dengan saya dengan suami yang ikut bangun dengan saya dan menguatkan saya untuk terus berjalan.

Dalam gelap, sendirian, berdoa atas bayi yang berharga ini, Allah mengubah hati saya agar menjadi seorang ibu. Saya tidak seharusnya memiliki semua jawaban. Saya harus pergi ke SESEORANG yang punya. Saya jatuh tersungkur menyembah di wajah di hadapan Dia, yang mengerti ketakutan dan kegagalan saya. Allah adalah satu-satunya yang tahu bagaimana membesarkan anak-anak saya dengan sempurna.

Mengingat hidup ketika B. baru lahir selalu membantu bagi saya untuk melihat ke belakang dan mengingat malam-malam manis dalam kegelapan, berdoa dan menyanyikan lagu-lagu untuk bayi berharga yang telah mengkhawatirkan saya.

MISSI :

Injil telah mengubah tujuan saya dalam mengasuh anak. Dulu aku hanya ingin agar anak-anak saya mendengarkan saya, dan saya tidak memperdulikan kondisi hati mereka di balik perilakunya. Saya ingin membuat kerajaan saya senyaman mungkin bagi saya. Yesus telah mengasihani saya dalam menunjukkan kepada saya motif saya yang sebenarnya atas ketaatan mereka, dan dia bekerja di hati saya untuk sangat peduli apa yang terjadi di dalam hati mereka.

DANIELLE :

Daripada menjadi seorang figur otoritas yang menuntut untuk ditaati dan dihormati, saya bisa menjadi perwakilan kasih karunia kepada anak-anak saya. Daripada mendasarkan harga diri saya kepada bagaimana anak-anak saya di kemudian hari atau perilaku mereka, harga saya ditemukan dalam penebusan Allah termasuk kegagalan-kegagalan saya sebagai seorang ibu.

Daripada putus asa ketika saya gagal dalam mengasuh dengan baik, saya bisa beralih ke Bapa saya yang sempurna mengampuni saya dengan cepat dan tidak menyimpan kesalahan. Daripada harus menampilkan diri kepada anak-anak saya sebagai contoh wanita Kristen yang sempurna, saya bisa mengarahkan mereka kepada Juruselamat yang sempurna dan kekasih jiwa mereka.

Daripada menuntut hal-hal yang saya pikir adalah hak saya sebagai orang tua karena saya ‘pantas’ menerimanya, saya bisa bersukacita ketika anak-anak saya memilih untuk menyembah Yesus bukan aku. Daripada hidup dengan kekerasan hati di dalam anak-anak saya, saya bisa berdoa bagi mereka dan menunjukkan lekas untuk bertobat bagi mereka.

Anie :

Aku dibesarkan tanpa ayah kandung saya dan dengan ibu yang pemarah. Kebenaran Injil menunjukkan kepada saya bahwa Bapa saya yang lebih besar, yang lebih baik, memiliki kasih yang sempurna bagi saya dan selalu ada untuk membantu saya menunjukkan anak-anak saya apa yang saya tidak alami dari orang tua saya. Dia menunjukkannya kepada saya sehingga saya bisa menunjukkannya kepada mereka.

Dengan latar belakan saya dibesarkan, saya memiliki godaan untuk menjadi pendek sabar ketika anak-anak saya nakal. Saya akan berteriak untuk mendapatkan perhatian mereka dan memberikan konsekuensinya. Saya melihat anak saya yang tertua mulai menjauh dari saya untuk jangka waktu yang lama setelah saya menecemoohnya, dan aku bisa melihat reaksi saya telah menghancurkan dirinya.

Aku berdoa akan hal ini untuk waktu yang lama sambil mengingat luka masa kecil saya , dan saya meminta Tuhan untuk membantu saya tidak mengulang siklus tersebut. Melalui pertobatan saya dengan segera ketika saya gagal dalam hal ini ini, dia melihat saya mengoreksinya tanpa marah atau menaikkan suara saya. Sekarang dia tidak lagi jauh dariku – dia menghampiriku, berdiam dengan saya, dan kita bersama-sama bertobat terhadap satu sama lain dan Yesus atas keegoisan kami yang penuh ketidaksabaran juga atas segala hal yang membuat kami sampai pada keadaan demikian.

SHADLIE :

Mengetahui kebenaran Injil telah membuat saya menyadari bahwa semuanya itu bukan tentang aku ; semuanya tentang Yesus. Satu kebenaran yang tampaknya sederhana ini telah secara drastis mengubah saya.

Ketika sesuatu tidak berjalan seperti yang saya rencanakan, saya tidak perlu lagi marah atau frustrasi, tapi saya bisa percaya bahwa Yesus, pada saat-saat tersebut, menggunakan saya untuk mencerminkan kesabaran dan berdamai kembali degnan anak-anak saya.

Saya tidak perlu hidup dalam ketakutan untuk anak-anak saya, tapi saya bisa percaya bahwa sama seperti Yesus telah merawat, mengejar, dan melindungi saya, ia memiliki hati yang sama untuk anak-anak saya. Saya tenang mengetahui bahwa ia telah secara khusus memperlengkapi saya untuk merawat anak-anak tersebut dan menggunakan mereka untuk mendewasakan dan membentuk saya.

Kebenaran bahwa anak-anak tersebut bukan milik saya, tetapi milik Yesus, adalah hal yang paling mentransformasi segala sesuatunya. Dia telah meminta saya untuk melatih mereka, berharap pada-Nya, dan kemudian meminta saya untuk melepaskan mereka, supaya bergantung pada-Nya – semua untuk kemuliaan-Nya. Karena semuanya adalah tentang Yesus dan bukan tentang aku.

Diadapstasi dari : https://theresurgence.com/2014/05/11/how-jesus-changes-motherhood

PENYESALANKU YANG TERBESAR : KISAH CHRISTIE TENTANG KESELAMATAN DAN PENGAMPUNAN

20140304_my-biggest-regret-christie-s-story-of-salvation-and-forgiveness_banner_img

Christie dan suaminya adalah anggota dari gereja Mars Hill Bellevue. Ini adalah kisah Christie tentang bagaimana dia bertemu Yesus dan Dia mengubah hidupnya, diceritakan dalam kata-katanya sendiri.

Ini mungkin salah satu hal yang paling sulit yang pernah saya lakukan. Menceritakan penyesalan anda dengan dunia tidaklah mudah. Kita tak tahu apa yang orang akan pikirkan atau katakan tentang anda. Saya menceritakan penyesalan saya kepada 10.000 siswa melalui pekerjaan saya, tetapi itu hal yang mudah. Berbagi penyesalan saya dengan orang-orang yang saya cintai dan pedulikan adalah sesuatu yang jauh lebih sulit.

Tumbuh di keluarga saya yang luar biasa, saya diajarkan apa yang benar dan apa yang salah. Saya tahu persis apa yang seharusnya saya lsayakan dan apa artinya menjadi taat. Sepanjang masa kecil saya dan sampai masa-masa SMA, saya yang paling dianggap sebagai anak yang sangat baik dan taat. Saya mengikuti semua aturan, jujur , dan mematuhi otoritas saya. Saya memiliki hubungan yang sangat baik dengan orang tua saya dan saya berpikir tidak ada yang bisa membelokkan jalan hidup saya.

Setelah saya si kuliah, saya mampu untuk menjauh dari minuman keras dan obat-obatan. Saya tidak terlalu menyukai pesta-pesta dan saya suka bergaul dengan teman-teman dekat saja. Saya tampak percaya diri bagi kebanyakan orang. Kenyataannya adalah saya bergumul dengan gangguan makan dan saya sangat rendah diri. Saya ingin orang lain untuk menerima dan menyukai saya. Saya ingin menjadi cantik.

Saya ingat ketika berpikir bahwa pria mungkin akan menjadi jawaban untuk masalah rendah diri saya. Seorang pacar akan menjadi seseorang yang mencintai saya, menerima saya, dan membuat saya merasa cantik. Saya bukan tipe wanita yang akan pergi keluar mencari pacar, tetapi ketika pria mengejar saya, sangat sulit untuk mengatakan tidak

Beberapa tahun berlalu, saya menemukan diriku di beberapa hubungan yang berbeda. Saya akan mempertahankan hubungan-hubungan tersebut karena saya merasa itu adalah jawaban untuk semua rasa rendah diri saya. Tidak peduli bagaimana para pria tersebut memperlakukan saya selama mereka masih ingin bersama saya. Setiap hubungan selalu dimulai dengan hal yang sama. Para pria akan mengatakan betapa cantiknya saya dan mereka tidak akan mengecewakan saya. Sejalan dengan bulan berlalu, hal-hal perlahan-lahan akan mulai berubah. Saya bisa meraskaan mereka mulai menjauhi diri. Saya tidak lagi baru dan menarik.

Setiap kali ini hal ini mulai terjadi, saya akan melakukan semua yang saya bisa untuk membuatnya menjadiclebih baik. Kadang-kadang saya memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Kesucian seksual adalah sesuatu yang saya inginkan dari usia muda. Saya memakai cincin untuk mengingatkan saya tentang kesucian, menunggu untuk memiliki ciuman pertamaku sampai berusia 17 tahun, dan berjanji untuk menjaga diri sampai menikah. Pacar pertama saya dan saya menunggu selama dua tahun sebelum kami melakukan ciuman pertama kami. Kami telah menetapkan batas-batas yang kuat dan saya tidak berpikir kita akan pernah jatuh ke dalam dosa seksual. Setelah kami pergi ke perguruan tinggi, hal-hal mulai berubah. Dia mulai menekan saya untuk melakukan lebih jauh lagi sehingga mebuat saya tidak merasa nyaman. Pada awalnya saya menolak kuat, tapi akhirnya saya mulai mengalah. Saya begitu takut kehilangan dia. Saya meyakinkan diri saya bahwa hal-hal tersebut boleh-boleh saja asal tidak keterusan. Pada akhir hubungan kami, saya telah melakukan hampir semuanya kecuali bersenggama. Saya ingat perasaan bersalah yang mengerikan tersebut. Saya benar-benar hancur ketika kami putus, karena saya pikir saya akan menikah dengannya. Kemudian saya sadar bahwa ia tidak benar-benar mencintai saya sama sekali. Dia telah menyeleweng dan tidak jujur dengan saya. Pola ini berlanjut dalam hubungan berikutnya.

Saya memiliki beberapa penyesalan serius atas beberapa pilihan yang saya buat dengan pacar-pacar di perguruan tinggi, namun penyesalan terbesar dari semua yaitu membuat mereka sebagai tuhanku. Saya akan meninggalkan pergaulan dengan teman-teman saya untuk bergaul dengan para pria yang tidak benar-benar peduli pada saya. Saya akan berbohong kepada orang tua saya ketika mereka bertanya bagaimana keadaan saya. Saya melakukan semua yang saya bisa untuk tampil bahagia. Saya ingat akan melewati hari-hari saya dengan senyum di wajah agar bisa pulang dan menangis sampai tertidur.

Saya merasa begitu kosong dan saya merasa begitu sendirian. Saya terus-menerus dikelilingi oleh orang-orang dan dianggap ” populer “, tapi perasaan yang saya rasakan hampir tak tertahankan. Pada satu titik saya ingat meminta Tuhan untuk membawa saya pulang – jika itu yang diinginiNya. Saya bahkan tidak tahu jika Tuhan masih mengingini saya. Saya merasa sepertinya saya telah mengacaukan segalanya. Semua orang di kampong halaman tidak akan pernah percaya bahwa si manis Christie telah menjadi liar. Saya adalah seorangv gadis yang semua orang akan mengatakan selalu tetap tegar. Christie tidak akan pernah ( isi jawabannya di sini).

Setelah saat-saat terendah pada bulan Maret 2009, saya memutuskan bahwa sesuatu perlu berubah. Saya jatuh berlutut dan meminta Tuhan untuk mengampuni saya karena semua banyak kesalahan yang telah saya buat dalam beberapa tahun terakhir. Saya mengakui setiap dosa yang saya bisa ingat termasuk berbohong, dosa seksual, ketidaksopanan, dan mentuhankan orang. Setelah itu, saya menangis endiri selama 1 jam penuh di apartemenku. Saya akhirnya mulai merasa kedamaian dan saya tahu bahwa Tuhan telah mendengar teriakan saya. Dia SUDAH mengampuni saya dan Dia SUDAH mencintaiku. Dia tidak akan pernah berhenti mencintai saya. Saya ingat rasanya seperti beban berat diangkat dari bahu saya.

Beberapa jam selanjutanya beban besar lain mulai memembebani saya. Saya merasa Tuhan memberitahu saya bahwa saya perlu untuk bebas dan untuk bebas, saya perlu memberitahu orang tua saya, semua yang telah terjadi. Saya langsung mengatakan tidak! Tidak mungkin saya bisa memberitahu orang tua tentang semuanya. Saya yakin mereka akan mengeluarkan saya dari sekolah dan mengunci saya di kamar selama sisa hidup saya. Saya pikir mereka tidak akan pernah percaya padaku lagi. Lebih dari itu, saya tidak ingin menghancurkan hati mereka. Selama bertahun-tahun, mereka telah mengatakan kepada saya betapa bangganya mereka pada diri saya dan sekarang, saya hendak merusak itu semua.

Saya tidak tertidur sepanjang malam. Ketika hari pagi mulai terbit, saya merasa mual di perut. Saya menyadari bahwa saya harus menuruti Tuhan. Tanpa berpikir saya menekan nomor telepon orang tua saya. Ibuku menjawab pada dering kedua dan saya segera memintanya untuk meminta ayah di telepon juga. Saat itu juga saya menceritakan semuanya kepada mereka, termasuk dosa seksual saya. Ada keheningan di ujung sana dan semua yang saya bisa dengar adalah tangisan saya sendiri. Hal berikutnya yang saya dengar adalah ayah saya berkata, ” Saya mencintaimu. ” Hati saya benar-benar berhenti. Saya tidak percaya bahwa itu adalah respon pertamanya. Dia kemudian mengatakan bahwa dia sedang dalam perjalanan untuk menemui saya. Ayah saya tiba dua jam kemudian dan kami berbicara di dalam mobil selama dua jam berikutnya. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia sangat senang saya meneleponnya dan bahwa selama ini ia telah berdoa untuk saya. Dia selama ini sebenarnya sudah tahu akan hal-hal yang tidak baik tersebut. Dia mengatakan kepada saya bahwa dia memaafkan kebohongan saya dan tidak ada alasan untuk menghukumku. Dia tahu hati saya berubah dan bahwa saya benar-benar menyesal. Dia juga menceritakan kepada saya bahwa pertobatan sejati bearti anda berubah. Anda tidak kembali ke kehidupan lama anda dengan bantuan Tuhan. Saya melihat Yesus dengan pandangan yang baru setelah hari itu. Ayahku mencontohkan pengampunan dengan cara yang nyata. Ayah saya membantu memberikan gambaran bagaimana Bapa Surgawiku yang penuh kasih untuk memaafkan saya. Ayah saya menunjukkan kasih Tuhan pada hari itu dengan cara yang tidak akan pernah saya lupakan.

Secara jujur saya katakan bahwa hidup saya berubah hari itu. Saya memutuskan bahwa hidup saya akan berbeda. Saya akan hidup untuk Tuhan. Dengan pertolongan Tuhan, saya tidak akan lagi membuat pilihan-pilihan buruk yang telah saya buat selama beberapa tahun terakhir. Tuhan telah mengampuni saya dan begitu juga dengan orang tua saya. Depresi berat yang saya rasakan akhirnya terangkat.

Selama beberapa tahun ke depan, Tuhan melakukan hal-hal yang menakjubkan dalam hidup saya. Sejak itu, saya telah berjalan erat dengan Dia. Tuhan memberi saya kesempatan untuk menceritakan pengalaman kesalahan-kesalahan saya secara detail dengan murid-murid SMA dan SMP. Saya bisa menginspirasi dan membantu orang lain untuk tidak berakhir dalam situasi yang saya alami. Saya benar-benar menyukai untuk berbicara dengan murid-murid saya dan membantu mereka menemukan kebebasan yang sama yang saya telah menemukan. Saya membantu gadis-gadis muda belajar untuk menghargai diri mereka sendiri dan mendorong pemuda untuk berdiri kuat. Tuhan bisa menggunakan masa lalu saya untuk membantu orang lain.

Tantangan yang paling sulit sepanjang lima tahun terakhir adalah belajar untuk berjalan dalam pengampunan Tuhan. Saya seringkali akan mengingatkan diri sendiri ketika saya mulai keluar jalur dan akan depresi lagi. Syukurnya, setiap kali keluarga saya dan Tuhan membantu saya berdiri kembali. Kristus telah mati untuk dosa-dosa saya dan saya tidak lagi harus memikulnya terus. Saya ingat ketika berpikir bahwa tidak ada pria beriman lagi yang akan mau bersama saya. Sangat mengejutkan, Tuhan memiliki rencana yang paling khusus untuk hidup saya. Dia memberikan saya seorang suami yang paling penuh kasih, jujur , pengertian, dan takut Tuhan. Saya bisa menceritakan semua penyesalan masa lalu saya dengan dia waktu kita bertunangan dan dia menerima saya meskipun kesalahan masa lalu saya. Dia mampu memberitahu saya bahwa Kristus telah memaafkannya juga. Saya berjalan menuju ke pelaminan dengan hati nurani yang bersih dan bergaun putih !

Jika anda berkenaan dengan cerita saya, anda juga dapat menemukan kedamaian dan pengampunan yang saya alami. Berikan dosa anda kepada Tuhan, dan Dia akan mengampuni kamu dan memberi anda kedamaian yang melampaui segala akal.

Love to Love,

Christie

Diterjemahkan dari situs : http://marshill.com/2014/03/04/my-biggest-regret-christie-s-story-of-salvation-and-forgiveness

TUHAN DI DALAM KEGELAPAN : KISAH ERIN TENTANG KESETIAAN TUHAN

20140321_god-in-the-dark-erin-s-story-of-god-s-faithfulness_banner_img

Hi Gereja Mars Hill,

Saya pernah diminta untuk membagi kesaksian saya.

Kisah saya seperti kebanyak kisah orang lain – keluarga Kristen, sekolah Kristen, pendidikan Kristen. Tidak ada hubungan dengan Tuhan.

Hidupku berjalan mulus sampai saya berumur 19 dan keduniawian menghalangi jalan yang saya tahu benar. Saya bertemu calon suami saya selama periode ini dalam hidup saya.

Ketika saya masih 22 saya pindah ke daerah pinggiran untuk memenuhi tiga tahun tugas negara – saya adalah seorang guru. Aku menikah dalam waktu ini dan hamil dengan putri saya. Dia lahir pada tahun 2011 sesaat setelah kami pindah ke Sunshine Coast di Queensland. Saya berumur 25.

Suami saya mulai berbisnis listrik, kami pergi ke luar negeri selama dua bulan, membeli rumah, dan hamil anak kedua kami.

Pada awal tahun 2013 ketika saya sedang hamil tiga bulan, suami saya menyewa seorang sekretaris berusia 21 tahun. Hal ini bersamaan dengan pernyataannya bahwa ia tidak bahagia di rumah dan tidak bisa berada di sana kecuali lagi mabuk.

AKHIRAN

Ini terjadi ketika hubungan saya dengan Tuhan dimulai. Anak laki-laki saya dalam kandungan, membesarkan anak perempuan saya, dan berurusan dengan suami yang absen dan menyiksa secara emosional merupakan beban yang berat untuk ditanggung. Perilakunya tidak menentu dan tidak stabil dan saya terus-menerus harus meninggalkan rumah dan tinggal bersama orang tua saya untuk keamanan dan stabilitas putri saya, anak saya yang belum lahir, dan saya sendiri.

Selama ini, suami saya selalu mabuk, penuh makian, terlibat dengan ganja, mulai merokok, menolak untuk membantu dalam rumah tangga atau dengan anak-anak, menolak untuk mendapatkan bantuan, dan menutupi dirinya dengan tato dan tindik yang berlebihan. Kabar angin mengelilinginya tentang perselingkuhannya dengan sekretarisnya – dia membantahnya dengan berlebih-lebihan setiap minggu.

Semua ini menjadi terlalu berat bagi saya dan saya memintanya untuk meninggalkan kami pada bulan Juni supaya memperbaiki dirinya – idenya adalah kita akan mencari konseling setelah kelahiran bayi saya di bulan Juli.

Anak saya lahir pada tanggal 28 Juli 2013 dengan berat 9 pound 6 ons. Aku memilih nama Raven. Saya selalu menjadi penggemar Dustin Kensrue dan terinspirasi oleh lagunya ‘Consider the Ravens.’ Ketika Raven berusia lima hari [ saya dan suami saya ] menghadiri sesi konseling. Hal itu sangat menggetarkan. Setelah sesi tersebut aku bisa melihat pernikahan saya tak akan terselamatkan. Aku mengakhiri hubungan kami karena saran dari konselor saya bahwa di dalam pikiran suami saya ‘dia berkeputusan dan pergi.’

Kami tidak melihat dia selama enam minggu, sampai saat saya menghubunginya untuk meminta dia bertemu dengan anak-anak. Selama enam minggu berikutnya dia datang untuk mengunjungi sekali atau dua kali dalam seminggu selama satu jam. Kemudian dia mengatakan kepada saya bahwa dia jatuh cinta dengan sekretarisnya. Mereka telah tinggal bersama-sama.

Setela pengakuan ini pada bulan Oktober, kami hanya bertemu dia sekali pada hari ulang tahun putri saya selama satu jam, setelah itu dia tidak menghubungi kami.

PERMULAAN

Ketika musim ini dimulai, saya akan berseru kepada Tuhan, meminta kesabaran, meminta hikmat, meminta bantuan, meminta kekuatan untuk tabah, dan memohonNya untuk menyelamatkan suami dan perkawinan saya. Musik penyembahan dimainkan sepanjang hari setiap hari. Tuhan mengelilingi saya dengan wanita-wanita yang mengenal Tuhan, orang-orang seperti tetangga, wanita-wanita dari gereja, dan kerabat mengajar saya. Wanita-wanita datang untuk mendukung saya dan memberikan bantuan. Komunitas kami sekarang penuh dengan wanita-wanita seperti ini – kami telah diberkati berlimpah.

Saya meminta Roh Kudus untuk memberikan saya kekuatan untuk menguraikan kebenaran dan untuk memberikan hikmat, saya meminta Yesus untuk menopang saya, dan agar Tuhan untuk memenuhi kita semua dengan kasih-Nya.

Dan dia melakukannya.

Setiap hari, melalui setiap pencobaan yang baru, melalui setiap pergumulan yang baru, saya dipenuhi. Aku diberi kekuatan untuk maju, untuk membawa anak-anak saya, dan melanjutkan.

Ketika suami saya meninggalkan saya, ikut bersamanya awan berat. Saya tahu saya harus memberikan pernikahan saya segala usaha saya, sehingga saya bisa menatap anak-anak saya di mata dan mereka tahu saya sudah menghabiskan berbagai cara dan akhirnya dibebaskan dari kewajiban saya.

Saya berjalan dengan berdoa ketika kelahiran putra saya; saya ditopang dan digendong di luar kemampuan saya, saya melihat saya berfungsi dan merawat bayiku dengan percaya diri dan kecakapan. Ini bukan karena saya – itu adalah Tuhan. Tidak ada yang lain selain kekuatan yang diberikan kepada saya oleh Dia yang telah meliput kita dengan darah, rahmat, dan kasih-Nya.

Melalui berita-berita dan bukti penyelewengan, kebohongan, dan perselingkuhan, kedamaian melingkupi dan berdiam di dalam hati kami.

Saya dibaptis pada ulang tahun saya – 1 Desember 2013. Aku berumur 28 dan dibaptis untuk pertama kalinya.

WAKTU YANG SULIT ; TUHAN YANG BAIK

Sejak saat itu, sudah banyak pencobaan, lebih banyak tantangan, tetapi kami berdiri teguh di dalam Yesus.

Dengan standar dunia kita seharusnya telah terguncang dan hancur sejak dulu. Kami tidak. Kami kuat, dicintai, dan didukung. Kami suka cita, aman, percaya diri, dan luar biasa! Kami berada di dalam Yesus.
Saya tidak mengatakan masa-masa yang terjadi adalah mudah. Saya tidak mengatakan saya hidup tanpa pertanyaan atau keraguan atau ketakutan. Tapi aku berdoa untuk melewatinya. Saya memiliki kebebasan. Kami memiliki kebebasan – Stella, Raven, dan saya.

Saya tidak akan menrubah saat di hidup saya sekarang ini untuk apa pun. Saya memiliki Yesus sekarang – dia selalu ada, ia tidak pernah meninggalkan. Tapi sekarang aku mengenalNya. Saya lebih suka [memiliki] Yesus daripada siapa pun atau apa pun dan jika ini adalah apa yang diperlukan bagi saya untuk mengenalnya, maka saya berterima kasih kepada Tuhan dengan anughraNya selalu bersama saya melalui tantangan ini. Walaupun bukan Dia yang menyebabkannya, aku tahu Dia berkuasa atasnya. Aku tahu dia melihatnya, mengamatinya, dan sekarang saya tahu Dia akan menggunakannya untuk kebaikan – untuk kemuliaanNya.

Dustin Kensrue membuatku ke situs Gereja Mars Hill, yang membuat saya mendengar khotbah-khotbah gereja tersebut, yang merujuk saya ke Mark Driscoll, yang kemudian membuat saya mendengar seri khotbah Who Do You Think You Are, yang saya baru saja saya selesai baca dan dengarkan.Perjalanan saya berlanjut sejauh pendalaman saya di dalam Kristus setiap menit setiap hari. Saya mengunjungi situs Mars Hill setiap hari. Suatu hari nanti saya akan datang untuk mengunjungi kalian. Saya sangat berterima kasih atas peranan yang anda mainkan dalam perjalanan saya.

Sekarang aku tinggal dengan keyakinan di dalam Kristus dan saya mengajar anak-anak saya untuk melakukan hal yang sama. Sebelum 2013 aku tidak tahu apa-apa tentang apa pun. Sekarang aku tahu dua hal – Tuhan itu ada dan Dia menyelamatkan.

“Pakaiannya adalah kekuatan dan kemuliaan, ia tertawa tentang hari depan.” – Amsal 31:25

Tuhan memberkati anda Mars Hill.

Salam kasih,

Erin, Stella, dan Raven

Diterjemahkan dari situs : http://marshill.com/2014/03/21/god-in-the-dark-erin-s-story-of-god-s-faithfulness

KESENDIRIAN MELUMPUHKANKU: KISAH ALISA

20140318_loneliness-was-killing-me-alisa-s-story_banner_img

Alisa dibesarkan dengan ayah Amerika yang dingin dan ibu Jepang yang pemalu. Agama tidak dibahas banyak di rumahnya dan dia bergumul dengan kesendirian sejak di usia muda. Dia adalah seorang gadis pendiam di sekolah tinggi dan mati-matian berusaha untuk mempunyai lebih banyak teman. Wisuda datang sebagai kelegaan karena dia menanti-nantikan untuk berkuliah di University of Washington. Tentunya perguruan tinggi akan jauh lebih baik dan dia akan membuat banyak teman-teman dalam suasana yang baru dan tidak ada pengelompok-pengelompokkan. Tapi perguruan tinggi tidak lebih baik. Malahan lebih buruk.

” Saya membayangkan bisa bermalas-malasan dan berpesta, membuat banyak teman baru, bisa menjadi independen dan melakukan apa pun yang saya inginkan. Saya pikir jika saya bergabung dengan sorority (grup mahasiswi), saya akan otomatis punya teman. Saya bersama 90 wanita lainnya untuk berbagi hidup. Saya melakukan proses untuk masuk kelompok-kelompok mahasiswi tersebut namun tidak ada satupun yang menerima. Mereka semua menolak saya. Hal ini benar-benar menghancurkan saya. ”

Karena tidak diterima oleh kelompok manapun, dia memutuskan untuk tetap tinggal bersama orang tuanya di Bellevue dan pulang-pergi kuliah setiap hari. Tidak terlibat dalam kehidupan asrama atau kegiatan lainnya membuatnya lebih sulit untuk mempunyai teman. Selama kuartal kedua di kuliah, ia menjadi begitu tertekan bahkan meminta orang tuanya jika dia bisa pindah ke apartemen yang lebih dekat ke tempat kuliah.

Alisa berusaha mati-matian untuk menemukan tempat jadi dia menjelajahi website Craigslist dan meng-email siapapun yang kedengarannya lumayan. Satu tempat tinggal yang unik diiklankan sebagai ” rumah Kristen”. Dia mengatakan kepada mereka, ” Ayahku adalah Katolik. Aku berteman dengan Mormon dan saya bergaul dengan orang Kristen. Aku ingin sebuah bertemu jawab.” Mereka menyukai Alisa dan dia bergabung dengan tempat tinggal tersebut pada bulan November. Suatu langkah yang akan merubah kehidupan yang dia kenal sekarang ini.

TUMBUH DALAM KESENDIRIAN

Alisa memiliki sisi pemberontak ketika tumbuh dewasa. Dia bermabukan di sekolah menengah atas supaya bisa bergaul.

” Saya tidak pernah merasa diterima di sekolah dan saya pikir hal itu membuat saya untuk melakukan banyak hal yang seharusnya tidak dilakukan. Saya dulunya suka memotong pergelangan tangan saya karena saya begitu tidak bahagia dengan hidup saya. Saya melakukan apapun yang saya bisa untuk merasakan sesuatu. Itulah cara saya membiarkan frustrasi dan kemarahan keluar.

” Saya akan melihat media sosial dan melihat semua orang memajang gambar-gambar betapa menyenangkan kehidupan mereka. Keluarga saya dingin dan saya tidak memiliki siapa pun untuk diajak bicara. Saya menghabiskan banyak waktu di Netflix dan saya tahu kedengarannya klise tapi saya akan bertanya, ‘Apa tujuan saya ? Apa yang saya lakukan dengan hidup saya ? Tidak ada yang tahu nama saya. Tidak ada yang tahu apa yang telah kulakukan. ”

” Saya akan mematikan emosi saya agar saya tidak akan merasakan apa-apa dan pada saat itu, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saya begitu frustrasi dan marah dengan diriku sendiri sehingga satu caranya saya lampiaskan frustasi pada tubuh saya sendiri karena saya sangat tidak bahagia. Saya pikir saya pantas untuk dicintai tapi tidak ada yang mencintai. ”

Dia juga mengatasi rasa sakitnya dengan meminum Tylenol dan Ibuprofen (obat pereda rasa sakit), segenggam sekitar 20 butir sekaligus.

” Saya punya masalah kesehatah pada perut saya, sehingga meminum pil sebanyak itu akan menyakiti saya lebih dari orang normal. Merasakan rasa sakit di perut sepanjang hari membuat saya menjadi damai, kiranya. Daripada merasakan sakit karena ditolak atau tidak punya teman, saya bisa merasakan sakit karena telah menelan 20 pil malam sebelumnya. ”

TEMPAT TINGGAL BARU, TEMAN-TEMAN BARU

Alisa tidak memiliki latar belakang dengan agama Kristen sebelum ia pindah ke “rumah Kristen” yang dia temukan di Craigslist.

” Aku tidak mengenal agama sama sekali. Pertama kali saya mendengar tentang Yesus ketika di sekolah menengah, ketika kenalan di sekolah berbicara tentang kelompok pemuda atau gereja. Saya tidak tahu apa itu. Saya tidak tahu apa artinya untuk berkumpul bersama pada hari Minggu. Saya tidak pernah mempertanyakan hal itu. ” Ayahnya yang Katolik nya jarang berbicara tentang pendidikan agamanya.
Salah satu teman sekamar barunya, Vanessa, pergi ke Gereja Mars Hill beberapa kali ketika pertama kalinya pindah ke Seattle. Setelah mendengar betapa kesendiriannya Alisa, Vanessa mengundangnya untuk mengunjungi Mars Hill U-District. Alisa tidak ingat tentang isi khotbah pertama kalinya dia pergi, tapi dia terkesima dengan suasana dan nuansa gereja.

” Semua orang menyambut, ” katanya. ” Benar-benar memukau bagaimana keramahan dan kepedulian mereka. Malam itu aku ingat [ Vanessa dan saya ] menangis bersama dan berbicara selama berjam-jam. ”

Vanessa akhirnya berhenti pergi ke gereja, yang menyebabkan Alisa berhenti juga, tetapi pada bulan April 2013 seorang gadis bernama Jessy pindah ke rumah mereka. Jessy melayani di Mars Hill U-District dan bermain di band Sainthood. Dia mengajak Alisa ke gereja dengan janji, “Saya akan berada di sana sepanjang hari. Alisa, datang kapanpun kau mau dan saya akan bersamamu sepanjang waktu. Saya benar-benar ingin kau datang. ”

MENGIKUTI JESSY

Alisa jarang melewatkan gereja hari Minggu dengan Jessy. Larut malam, Jessy duduk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

” Dia menjelaskan kisah Yesus dan bagaimana dia mati untukku dan akan menyelamatkanku. Dia menjelaskan semuanya dalam begitu banyak detail dan saya mulai mengerti tentang Yesus. Jessy sangat luar biasa. Dia telah menjadi pengaruh yang luar biasa dalam hidup saya. Saya melihat dia sebagai utusan Tuhan. Dia salah satunya yang memperkenalkan saya kepada Yesus dan membelikan Alkitab pertama saya. Saya sangat bersyukur dia mentaati Tuhan dengan mengundang saya, dan penuh keberanian, penuh kasih, peduli, dan lembut.”

Sejalan Jessy mengajarkan Alisa lebih dan lebih, dia juga mendorongnya untuk berdoa kepada Tuhan, menjanjikan bahwa DIA ada. Dan kemudian dia akan meminta Alisa jika dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya.
“Awalnya itu benar-benar canggung dan aneh bagi saya, tapi akhirnya aku mulai mendengar suara Tuhan dan melihat di mana Tuhan bekerja dalam hidup saya. Hal itu terjadi di akhir bulan Mei dan saat itu saya memulai hubungan saya dengan Yesus. ”

PERGAULAN BARU

Alisa diperkenalkan ke banyak teman Jessy dan juga membuat banyak teman-teman sendiri. Pada waktu itu, Alisa tersadar bahwa ia tidak lagi sendirian.

” Ada juga komunitas gereja yang besar yang akan mencintaiku tidak peduli apapun, terlepas dari apa yang telah saya lakukan atau kesalahan yang mungkin akan saya buat di masa depan. ”
Alisa mengatakan dia menemukan komunitas gereja tanpa syarat.

” Semua orang berusaha untuk saling mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi mereka. Ini jauh lebih mudah untuk menjadi rentan dan terbuka. Saya tidak perlu bersembunyi di balik topeng, saya bisa mengakui kekurangan dan masalah saya. Ada banyak penerimaan dan kasih. Saya dikasihi lebih dari yang saya sadari. Saya dapat melihatnya sekarang.”

” Sekarang saya mengerti mengapa begitu banyak orang pergi ke gereja. Belum tentu karena khotbah-khotbah yang baik atau gereja membuat mereka merasa lebih baik, tetapi kenyataannya adalah, ada seseorang yang datang ke dunia dan mati bagi dosa-dosa kita. Saya sangat bersuka cita tentang perjalanan saya dengan Yesus dan ke mana itu akan membawa saya. Saya tahu Yesus menerima saya dan mencintai saya, dan Dia ingin membantu saya. Dia ingin saya untuk berubah dan tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat. Itulah apa yang saya lihat di dalam Injilnya. Tidak peduli apa yang orang katakan atau pikirkan tentang saya, Tuhan mencintai saya. Tuhan selalu ada untuk saya, dan Tuhan tidak akan meninggalkan saya. ”

HIDUP BARU

Yesus telah menyelamatkan Alisa dari kesendirian. Dia menyelamatkannya dari kesakitannya untuk merasakan sesuatu. Dia menyelamatkannya dari kehidupan depresi. Tapi yang lebih penting, Yesus telah menyelamatkan dia dari dosanya, sesuatu yang tidak pernah dia bisa dilakukan sendiri. Ini menginspirasi Alisa untuk ingin hidup bagiNya.

” Aku ingin bertumbuh lebih dalam Kristus, saya ingin mempelajari lebih lagi, saya ingin membaca Alkitab. Gereja Mars Hill adalah rumah saya, semua orang di sini adalah keluarga saya, dan saya ingin memperbesar keluarga saya dengan membawa orang-orang baru ke gereja. Itu sesuatu yang saya benar-benar membuat saya semangat – memuridkan dan membuat orang-orang mengalami apa yang saya alami sekarang, karena saya tahu betapa sulitnya untuk hidup tanpa Tuhan

Diterjemahkan dari situs : http://marshill.com/2014/03/18/loneliness-was-killing-me-alisa-s-story

KEHILANGAN DOMPET DAN RADIO KRISTEN : KISAH CODY

20140314_lost-wallets-and-christian-radio-cody-s-story_banner_img

Sebelum Oktober 2013, Cody tidak memiliki hubungan dengan Yesus dan benar-benar tidak mengingininya.

” Aku tidak dibesarkan dalam keluarga Kristen, ” Cody menjelaskan.
Melalui serangkaian pilihan buruk dan peristiwa, Tuhan mulai memimpin Cody jalan untuk bertobat.
” Saya sedang dalam perjalanan mengunjungi teman di Nevada, ” kata Cody. ” Dalam perjalanan kembali ke Washington, saya kehilangan dompet. Setelah aku kembali ke rumah, saya mulai mengganti kartu-kartu di dompet saya seperti SIM, kartu bank, Anda tahulah, segala yang diperlukan. ”

Tidak lama setelah Cody mengganti segala sesuatu di dompetnya, ia kehilangan dompet tersebut lagi. Dia menjadi kesal, berteriak kata-kata kotor kepada Tuhan, mengomel dan mengoceh dan menyalahkan Tuhan atas hidupnya. “Lucu, ” kata Cody, melihat ke belakang, ” Sekarang aku berpikir tentang hal itu, saya menyalahkan seseorang yang bahkan saya tidak percaya ada”

Ketika ibu Cody sampai di rumah, ia bertanya apa yang salah. Dia bercerita tentang dompetnya. Ibunya dengan tenang mengambil sesuatu dari belakang komputer, di mana dompet hilang tergeletak, dan memeberikannya kepada anaknya. Pada saat itu, Cody merasa ditampar di wajahnya. Ia menyadari bahwa ia telah mengatakan beberapa hal yang benar-benar menyakitkan kepada Tuhan dan bahwa perilakunya kurang terpuji. Merasa malu, ia pergi ke rumah temannya untuk berpikir. Dia terduduk di teras dan mulai berpikir dan menangis. Dia bahkan mulai berdoa.

” Saya rasa saat itu saya sedang berdoa karena saya berbicara, ” kenang Cody. Dia mengatakan kepada Tuhan betapa menyesalnya dia dan meminta maaf atas apa yang telah dia katakan.

Cody melompat kembali ke dalam mobilnya dan mulai menyetir ke rumahnya. Ketika ia menyalakan radio, setiap stasiun tampaknya sedan menyiarkan iklan-ikla. Dia terus mencari siaran-siaran yang lain dan terhenti pada siaran pertama yang memainkan lagu : Radio Spirit 105.3.

Pada awalnya Cody tidak menyadari tentang stasiun tersebut, tetapi sejalan ia mendengarkan lagu-lagunya, ia mulai mendengar kata-kata tentang Yesus dan pengampunan. Seseorang menelpon stasiun tersebut untuk menceritakan kisah tentang bagaimana dia sampai bisa mendengar stasiun tersebut. Dia menyatakan betapa sukacita dan damainya dengan Yesus dan bagaimana dia menyukai untuk menyembah bersama-sama lagu-lagu stasiun tersebut sepanjang hari.

” Ya, saya ingin itu juga ! ” Cody berseru.

Lagu berikutnya terdengar, tentang seorang pria yang menolak dan menantang Tuhan tentang pergumulan-pergumulan di dalam hidupnya.

” Saya bisa mengerti akan perasaan itu karena ha itu yang saya sekarang rasakan dengan Tuhan,” kata Cody. ” Saya merasa bahwa Tuhan sedang berbicara kepada saya. ”

Selama lagu-lagu terus bermain, Cody belajar untuk membiarkan Roh Kudus berbicara ke dalam hidupnya melalui musik-musik tersebut.

Seorang Cody yang sangat bersuka cita membagi ceritanya dengan adik perempuannya dan adik iparnya, yang berbakti di Gereja Mars Hill. Mereka mengundangnya ke gereja dan Cody menyetujuinya, bersemangat untuk belajar tentang Tuhan.

” Dalam beberapa bulan terakhir, saya telah menemukan hidupku lebih susah sebagai seorang Kristen, tidak mudah, ” kata Cody. Dia masih bergumul dengan kecanduan dan dunia pada umumnya, tetapi sekarang ketika masalah timbul, ia berbicara dengan Yesus tentang hal itu. Sangat membantu untuk berada di sekitar orang-orang yang berjalan dengan Tuhan, terutama pria-pria seusianya. Cody mengatakan bahwa di Mars Hill dia belajar bagaimana berjalan sebagai Kristen dan menjadi “normal”.

Cody yang penuh sukacita dibaptis di Mars Hill Everett pada hari peluncuran, 12 Januari 2014, dengan keluarga dan teman-teman menyorakinya.

Diterjemahkan dari situs : http://marshill.com/2014/03/14/lost-wallets-and-christian-radio-cody-s-story

Kaitlin Simmons

Diterjemahkan bahasa Dari SITUS : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/201277/kaitlin-simmons/

Kaitlin Simmons
Ditulis oleh David Ubben
Kesaksian oleh Kaitlin Simmons

Halaman-halaman jurnal Kaitlin Simmon itu dari tahun pertamanya kuliah di North Texas dipenuhi dengan keluhan-keluhan biasa.

” Apakah saya terlalu berat ? ”

” Apakah dia menyukai saya ? ”

” Apakah nilai saya cukup baik ? ”

Setelah 8 November 2009 , nada dan subjek berubah arah secara tajam. Kaitlin merasa terpanggil untuk kembali ke gereja awal bulan itu. Pada saat itu , dia tidak tahu mengapa . Semuanya jelas sekarang .

Di kampus Denton, Pdt. Beau Hughes melangkah ke mimbar dan mulai berkhotbah dengan judul “The Age of Anxiety” (Masa Kecemasan).

Kaitlin membawa jurnalnya ke gereja dan menulis kalimat pertama dan langkah pertama dalam perubahan hidup yang dibuat oleh Kristus.

” Saya perlu mendengar ini , ” tulisnya.

Dia pikir itu hanya ketidaksengajaan, kebetulan yang dinanti untuk mahasiswa baru yang penasaran mencari jawaban-jawaban hidup.

” Aku tahu sekarang , ” katanya , “Itu bukan. ”

Sampai saat ini , dia melihat kembali pada halaman dan catatan-catatan dari hari itu.

“Jika sesuatu yang lain memerintah hati Anda, hal itu akan mendominasi dan mengendalikan Anda , ” tulisnya .

Untuk Kaitlin, kecemasan mendominasi dan mengendalikan hidupnya . Tumbuh dewasa, ia menemani orangtuanya ke gereja setiap hari Minggu. Itu hanya rutinitas. Hal yang semestinya dilakukan oleh keluarga suci dan sempurna yang tinggal di Bible Belt (daerah di Amerika Serikat bagian Selatan yang mayoritas adalah orang Kristen – red). Atau lebih tepatnya , apa yang perlu dilakukan supaya kelihatan suci dan sempurna .
” Kami pergi ssupaya kita bisa pergi makan siang, ” kata Kaitlin . ” Saya tidak berpikir Tuhan dibicarakan selain saat itu atau pergi ke sekolah Minggu. Bagi saya , benar-benar tidak ada ketaatan apapun yang sesuai dengan Kitab Suci . Itu hanya rutinitas yang nyaman dan aku terjebak didalamnya”

Beberapa saat kemudian, orang tua Kaitlin bercerai, dan keluarganya berhenti pergi ke gereja . Identitas Kaitlin sebagai ‘pengunjung gereja yang terhebat’ pupus. Dia membutuhkan yang baru .

“Saya menemukan identitas saya dalam kecemasan saya. Yang berasal dari masa lalu saya, ” katanya . ” Aku punya banyak masalah dalam menekan emosi saya dan tidak pernah menyelesaikannya. Aku akan mengambil beban orang lain atau beban saya dan memikirkannya sampai ke titik di mana hal itu menjadi beban berat di hati saya . ”

Itu berlanjut sampai perguruan tinggi, empat tahun setelah didiagnosa menderita gangguan kecemasan, setelah menderita serangan panik yang menguras seluruh tenaga saya ” sekali atau dua kali seminggu . ” Kaitlin mulai minum obat , tapi serangan kecemasan terus menjadi pergumulan.

Sampai saat ini itu masih berlanjut. Tapi setelah bergabung dengan The Village , Kaitlin menemukan cara baru untuk melawan kegelisahannya.

Sebelum hari Minggu yang mengubah hidup itu, Kaitlin belum pernah mendengar sebuah khotbah tentang kecemasan sebelumnya. Dia belum pernah mendengar apa yang Alkitab katakan tentang pergumulan yang dialami begitu banyak orang setiap harinya.

“Aku belum pernah mendengar kalau hal itu disebut dosa. Tuhan mengambil keinginan untuk cemas dari kita. Kita tidak perlu khawatir, ” katanya . “Itu adalah kebenaran yang aku belum pernah dengar sebelumnya . ”

Dia belum pernah membaca Matius 6:25-34 , yang memerintahkan orang percaya untuk ” tidak kuatir akan hidupmu , apa yang anda akan makan atau minum , atau tentang tubuh Anda , apa yang akan Anda kenakan ”

Sebaliknya , bagian ini mengingatkan kepada orang percaya apa yang sebaiknya diperhatikan.
“Carilah dahulu kerajaanNya dan kebenaranNya , dan semua hal-hal ini akan ditambahkan juga kepadamu. Oleh karena itu , jangan khawatir tentang hari esok , karena besok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Setiap hari memiliki cukup banyak masalahnya sendiri . ”

Hati Kaitlin, dan dalam kasus ini , pikirannya , memahami kebenaran tersebut. Ini menenangkannya , dan dia menyerahkan hidupnya kepada Kristus .

” Saya teringat mendengar hal itu dan merasa sangat nyaman dalam hal yang saya tidak pernah dengar sebelumnya , ” katanya . ” Tuhan menggunakannya untuk benar-benar berbicara kepada saya untuk pertama kalinya tentang kecemasan . Ini adalah isu yang Dia peduli dan ingin engkau menyadarinya. ”
Dia merasa nyaman untuk meninggalkan obatnya didalam botolnya. Serangan panik mingguan menjadi serangan panik yang sangat langka .

” Tuhan sepertinya memperlihatkan kepada saya cara yang baru untuk menangani hal itu dan berdoa tentang hal tersebut dan mencariNya lewat hal itu, dan bukan dunia, ” kata Kaitlin .

Dia bergabung dengan Home Group dan dibaptis di gereja . Kaitlin kemudian mengikuti program Steps untuk membantu mengatasi kemarahan dan kebencian terhadap masa lalunya dan kegelisahannya.

Hari ini, ia bersandar pada Home Group untuk bantuan lebih lanjut tentang kecemasan . Dia juga merindukan untuk berteman dengan orang lain , termasuk dengan anak-anak yang dimpimpinnya di Home Group untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP).

” Keinginan saya adalah untuk berjalan dengan gadis-gadis dan berdoa mengingatkan mereka tentang kebenaran di balik Injil , ” kata Kaitlin .

Untuk saat ini , siswa North Texas ini sedang menyelesaikan kuliahnya dalam bidang pekerjaan sosial – perubahan dari bidangnya fotografi yang diambilnya pada tahun pertama.

” Setelah saya diselamatkan , Tuhan mengarahkan hati saya untuk membantu mereka yang membutuhkan dan dalam kemiskinan , ” katanya .

Setelah lulus , Kaitlin mungkin berusaha untuk bergabung dengan pekerjaan sosial dan memasarkan pesan mereka . Dia mungkin mendaftar di seminari atau sekolah Alkitab untuk gelar sarjana.

Untuk saat ini, dia percaya Kristus untuk menunjukkan jalannya.

Rahasia Untuk Kesuksesan Saya – Kisah Jonathan Weaver

Diterjemahkan dari situs : http://newspring.cc/blog/stories/jonathan-weaver

JonathanWeaver903.hero_940_400_90

Meskipun memimpin kehidupan lahiriah sukses , Jonathan Weaver diam-diam tertekan sampai ia belajar untuk melepaskan masa lalunya . Ini adalah kisahnya dalam kata-katanya sendiri …

Saya sudah bosan hidup.
“Jika saya melihat gereja on-line sebelum aku bunuh diri, ” Saya pikir saat aku melihat tayangan gereja NewSpring, “mungkin Tuhan akan mengampuni saya . ”
Kebaktian saat itu tentang Yesus mengekspos dosa orang dan membebaskan mereka . Saya menghadiri NewSpring Charleston secara cukup teratur setelah kakak dan adik ipar saya mengundang saya . Tapi itu pertama kalinya aku mendengar tentang Pdt Perry depresi , masalah kontrol dan kecanduan pornografi .

Saya menyadari saya tidak terlalu rusak bagi Yesus untuk mencintai saya.

Ketika saya bekerja di luar negeri , hidup saya terfokus pada kesenangan saya sendiri . Aku membawa pulang $ 12.000 sebulan setelah pajak . Saya masih lajang dan memiliki mobil, kapal , dan rumah yang bagus . Orang lain iri akan kehidupan yang mereka pikir aku punya .
Aku mengejar kebahagiaan dalam keuangan saya , pelacur , obat-obatan , alkohol , dan porno .

Mati Rasa akan Kehidupan

Tapi saya tidak bahagia. Saya menderita kemarahan , depresi , masalah pengendalian , dan takut dengan kesendirian.
Kemudian saya kehilangan pekerjaan dan harus pindah kembali ke Amerika Serikat. Setelah beberapa bulan tidak mampu membayar untuk kesenangan sekejap untuk mematikan penderitaan saya, saya menjadi semakin depresi .

Kemudian pada suatu hari Minggu , saya memutuskan untuk menonton NewSpring online. Pdt Perry tidak hanya berdoa untuk mennyelesaikan masalahnya . Dia mengakui dosa-dosanya kepada seorang
yang beriman.

Anda Tidak Bisa Berkata Seperti Itu dalam Gereja

Saat itu , saya sadar bahwa saya tidak terlalu rusak bagi Yesus untuk mencintai saya . Aku pergi ke kampus Charleston secepatyna untuk bertemu dengan pendeta kampus . Aku mulai menangis dan mengatakan kepadanya di mana aku berada dalam hidup dan semua hal yang telah kulakukan . Dia berbicara kepada saya dan berdoa dan membiarkan aku mencurahkan hatiku.
Aku tidak pernah pergi ke gereja di mana aku bisa memberitahu seseorang , ” Hei, aku suka mabuk, memakai narkoba, melawan depresi , dan pergi pelacuran , ” dan tidak merasa seperti aku sedang dihakimi .

Itu serasa beban berat terlepas dari bahu saya . Tapi sesuatu masih berasa tidak benar .

Akhirnya Kelegaan

Aku terus menghadiri dan akhirnya memutuskan untuk bergabung . Selama kelas kepemilikan , Pdt Perry menanyakan kepada kami pada skala 1 sampai 10 seberapa yakinnya kita pergi ke surga ketika kita mati .

Aku tidak merasa yakin. Dan kemudian saya menyadari bahwa meskipun saya sudah mengakui dosa-dosa saya, saya tidak pernah menyerahkan hidup saya kepada Yesus .
Saya lelah mencoba untuk mematikan depresi saya dengan hal-hal yang tidak pernah memuaskan. Saya ingin mempunyai hubungan dengan Yesus .
Saya berbicara tentang hal itu dengan pebimbing saya , dan dia berdoa dengan saya untuk meminta Yesus untuk datang ke dalam hidup saya . Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti aku bisa bernapas .

Pemberiku

Semuanya adalah sebuah proses , dan saya masih memiliki saat-saat sedih, tapi saya tidak lagi menderita depresi atau berjuang dengan masalah-masalah kecanduan , kemarahan , atau kontrol. Saya tidak mengejar uang lagi .

Aku punya pekerjaan baru yang membayar saya $ 12 per jam , dan saya bahagia karena Yesus menyediakan semua kebutuhan saya .
Hari favorit saya dalam seminggu adalah hari Minggu karena saya bisa melihat Yesus mengubah kehidupan orang banyak seperti Dia merubah kehidupan saya.

Direnggut Dari Kehancuran – Kisah Nick Mountz

Diterjemahkan dari situs : http://newspring.cc/blog/stories/nick-mountz

Nick Mountz

Oleh : Nick Mountz, USA

Setelah ditabrak truk gandeng , Nick Mountz mencari tujuan hidupnya sampai ia menyadari Yesus sudah mempersiapkan rencana untuknya selama ini. Ini adalah kisah dalam kata-katanya sendiri …
Hidup saya hancur ketika mobil kami ditabrak oleh truk gandeng . Segala sesuatu yang telah saya rencanakan benar-benar lenyap.

Teman baik saya, Drake , dan saya dan dalam perjalanan ke Pantai Edisto dengan teman-teman untuk perjalanan akir musim panas ketika kecelakaan itu terjadi .
Dia tewas seketika . Empat jam kemudian , aku berjalan keluar dari rumah sakit dengan hanya beberapa jahitan dan tidak tahu mengapa saya masih hidup. Saya sangat terguncang . Aku selamat dari kecelakaan dan dia tidak. Bagaimana jika yang terjadi sebaliknya ?

Aku terhilang. Drake dan saya telah merencanakan untuk tinggal di satu apartemen bersama-sama dan bersekolah di Tri-County Technical College di musim gugur . Tanpa dia, aku tidak bisa pergi, jadi aku mulai mencari pilihan lain. Entah bagaimana, aku masuk ke Lander University dan menerima tunjangan yang bahkan aku tidak minta, mencakup tempat tinggal dan kebutuhan sehari-hari.

Jalani Kehidupan Sepenuhnya

Di perguruan tinggi , terhundar dari kematian menjadi alasan untuk bersenang-senang . “Saya hanya di sini untuk satu kali, ” kataku dalam hati . ” Aku hampir mati , jadi mengapa tidak hidup sepenuhnya ? ”

Aku menghabiskan seluruh $ 25.000 yang saya dapatkan dari kecelakaan dengan berpesta setiap malam dan menghamburkannya. Aku di skors dari kelas dan mempertimbangkan untuk berhenti sekolah .
Hidupku hanya tentang saya . Aku bahkan tidak peduli untuk bertemu dengan keluarga saya , dan saya mengesalkan kekasihku hampir setiap hari tapi dia tetap setia dengan saya karena dia ingin aku mengenal Yesus .

Mati Di Dalam

Salah satu pembina di SMA saya, setiap saat selalu mengatakan kalau keselamatan saya merupaka suatu berkat, dan suatu hari saya akan menemukan tujuan Tuhan membuat saya tetap hidup .
Dia terus mengundang saya ke gereja , dan dengan dorongan pacar saya , saya pergi . Semakin saya pergi ke gereja dan semakin saya mendengar bahwa aku ada di sini karena suatu tujuan, semakin aku tahu aku tidak benar-benar hidup .

Saya pikir saya bisa mengendalikan dosaku , kemarahan , minum, seks . Aku menyakinkan diriku sendiri bahwa ketika saya mencapai usia tertentu aku akan tinggalkan hal-hal itu, tapi seakin saya bertambah umur, saya tidak berubah .

Lebih Dari Sekedar Doa

Saya pikir saya sudah menjadi Kristen karena aku berdoa di sebuah kamp Kristen tahun pertama di SMA saya , tapi aku tidak pernah benar-benar mengerti apa artinya . Aku hanya berdoa karena orang lain melakukannya .

Pemahaman saya berubah ketika saya mulai menonton khotbah dari NewSpring di Internet sekitar waktu ini – sesuatu yang pacar saya telah lakukan untuk selama ini. Aku ingat Pendeta Perry berbicara tentang arti keselamatan dan baptisan , dan sangat mustahil kalau kita mengenal Yesus dan tidak berubah .
Pada saat itu saya menyadari bahwa “doa” yang saya doakan pada tahun pertama SMA tersebut tidak menyelamatkan saya . Saya perlu untuk memberikan sepenunya kontrol hidup saya kepada Yesus .

Alasan Aku Hidup

Saya menyerahkan hidup saya kepada Yesus dan beberapa bulan kemudian dibaptis . Sejak saat itu, Tuhan telah membebaskan saya dari dosa dalam hidup saya dan menunjukkan kepada saya rencanaNya bagi saya . Saya tidak tahu seluruh rencana , tetapi semakin saya tinggalkan kehidupan lama saya, semakin saya bisa melihat kehidupan baru yang Tuhan persiapkan bagi saya .
Sejauh ini, Tuhan sudah menunjukkan kepada saya bahwa Dia menyelematkan saya dari kecelakaan sehingga saya bisa mengajar dan melatih dan mencurahkan hidup saya ke murid-murid saya , dan mungkin , membantu mereka menghindari hal-hal yang saya sesalkan .

Sekarang aku adalah anggota di gereja NewSpring di kampus Greenwood di mana saya bisa membantu membuat perbedaan dalam KidSpring . Setiap minggu saya melihat anak-anak ini belajar tentang Yesus dengan caray yang tidak pernah saya alami, dan itu benar-benar mengagumkan .
Sebelum memberikan hidup saya kepada Yesus , aku merasa kosong dan tidak memiliki arah . Aku berada di jalan tanpa tujuan. Sekarang aku tinggal dalam rencana-Nya , aku akhirnya benar-benar hidup.

Ben Mayer

Diterjemahkan dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/198863/ben-mayer/

Ben Mayer

Photo oleh Paul Golangco
Ditulis oleh Tiesha Henderson
Kesaksian oleh Ben Mayer, USA

” Setiap kali Matt Chandler mulai berkhotbah , saya mulai menangis. Karena setiap kali ia akan berbicara tentang Yesus , saya tahu dari dasar dalam hidup saya, saya tahu siapa yang dia bicarakan , ” kata Ben Mayer , mengingat kunjungan pertamanya ke The Village. ” Saya tahu Orang ini dalam sepanjang hidup saya , tapi tidak bisa Yesus . Aku benar benar tidak mau kalau orang tersebut adalaj Yesus . Aku tidak ingin menjadi orang Kristen . ”

Pemuda berusia 23 tahun asal Connecticut ini dibesarkan di rumah yang penuh kasih dengan seorang ibu yang adalah seorang pekerja sosial dan seorang ayah yang penulis buku anak-anak dan artis . Tapi jalan Ben ke The Village bukanlah gambar-sempurna.

Pada usia 10 , ia mulai memiliki pikiran invasif .

” Yang paling parah adalah adik saya – saya pikir dia terkontaminasi. Untuk berbagai alas an, aku bahkan tidak tahu apa alasan itu . Saya pikir jika saya berada di dekatnya, aku benar-benar bisa merasakan sesuatu di lengan saya , atau apa pun . Atau jika ia menyentuh aku , aku harus mencucinya karena jika tidak, aku bisa merasakannya selama berhari-hari , ” kata Ben.

Ibunya membawanya ke terapis yang mendiagnosa dia dengan gangguan obsesif-kompulsif ( OCD ) , Attention Deficit Hyperactivity Disorder ( ADHD ) dan depresi , yang juga membuat resep obat untuk mengobati setiap kondisinya.

Pada usia 13 , Ben mulai mengganja dan merokok . Ketika orang tuanya tahu , ia dikirim ke 30-hari boot camp . Dia lulus dan melakukannya dengan baik selama beberapa bulan.

” Ketika saya mulai sekolah menengah atas , saya bertemu dengan anak penjual narkoba dan menjadi temancbaik dengan dia , ” katanya. ” SMA hanya berisi usaha terus menerus untuk teller dengan ganja dan sedikit kokain. Saya ditangkap tahun itu karena memliki narkoba di sekolah . Aku dikejar oleh polisi di kuburan ketika mencoba untuk bertemu dengan seseorang untuk membeli obat lagi. ”

Suatu malam , Ben sedang mabuk . Orang tuanya mengancam akan menempatkan dia dalam pengobatan , dan ia berusaha bunuh diri dengan cara memotong lengannya sebagai pembalasan.

“Bukannya memotong dengan dalam dalam , saya hanya menyakiti tangan saya dan mengiris-iris semuanya. Aku berdarah di mana-mana . Keesokan harinya mereka menemukan saya dan membawa saya ke bangsal psikologi , ” kata Ben.

Setelah itu , Ben pergi ke sekolah asrama terapi di Massachusetts yang menurutnya abusif. Staf berteriak pada anak-anak, membuat mereka berlari lapangan dan merobek menghina mereka dengan kata-kata kasar. Lima bulan setelah pengobatan Ben, orang tuanya datang berkunjung .

” Mereka melihat saya , dan saya benar-benar hancur , dan aku bahkan tidak mencoba untuk pulang ke rumah atau apapun. Aku tidak peduli lagi , ” katanya . Orang tuanya mengeluarkannaya dari program tersebut.

Musim panas setelah tahun keduanya di sekolah tinggi , tubuh Ben mulai mengeluarkan bintik-bintik meah, dan dia memiliki sakit punggung yang menyiksa. Orangtuanya bergegas membawanya ke rumah sakit , dan ia didiagnosis dengan penyakit Lyme tahap ke dua.

Para dokter memberinya dosis berat antibiotik dan akhirnya meresepkan Oxyconting untuk rasa sakitnya setelah obat sebelumnya telah gagal .

” Saya mulai saja langsung menghirup obat-obat tersebut karena mereka opiate jenis tunda-waktu . Dan jika Anda menghirup mereka , seharusnya efek tunda-waktunya melebihi dari 12 jam , bisa Anda dapatkan dalam sekejap.

” Aku tidak bisa pergi lebih dari satu setengah jam tanpa ‘melayang’. Dan aku mengelabui orang tua saya agar memberi saya uang untuk membelinya karena saya membutuhkan makin banyak . Aku benar-benar manipulatif , ” kata Ben . “Makna hari-hari hanya untuk ‘high’ dan terus ‘high’ tanpa bosan dengan obat bius sepanjang hari . Hanya itu yang penting. ”

Akhirnya , Ben mulai menggunakan heroin karena lebih murah dan lebih kuat. Dia bergaul dengan pengedar narkoba dan menempatkan dirinya dalam situasi berisiko. Ia mencuri uang dari orang tuanya untuk mendukung kebiasaan narkoba dan berakhir di program pemulihan narkoba pada usia 19.

” Aku berjalan keluar dari gedung itu degnan perasaan yang menyayat hati merasa bahwa sahabatku baru saja diambil dari saya, ” kata Ben . ” Aku tidak punya Oxycontin lagi . ”

Ben pergi ke program pengobatan di Memphis , Kaufman dan Austin dan melihat berbagai psikiater . Dia akhirnya kembali di bangsal psikologi .

” Saya hanya ingat perasaan putus asa yang mutlak . Seperti ‘ Inikah hidup saya ? ” Aku tidak percaya aku benar-benar harus diantar ke ruang makan untuk makan makanan . Dan kemudian dibawa kembali ke area umum di mana mereka mengunci pintu di belakangku . ”

Ben mulai melakukan the Twelve Steps of Alcoholic’s Anonymous (AA) – program pemulihan pecandu alcohol – dan mencoba untuk menemukan Tuhan .

“Pesan AA adalah lakukan langkah-langkah yang bisa membuat tuhan konsep anda akan melindungi Anda agar tidak mabuk, ” kata Ben .

Sementara dalam perawatan , ia menyadari sakit punggungnya sudah tidak ada.

” Saya percaya Yesus telah menyembuhkan penyakit Lyme saya suatu waktu. Aku hanya tidak tahu kapan tepatnya karena secara tak sengaja aku merasa lebih baik dan mampu melakukan kegiatan fisik dan baik-baik saja , ” kata Ben .

Dia segera mulai berkencan dengan seorang gadis yang berada dalam pengobatan yang sama dengan dia . ” Dia adalah tuhan saya. Kami berpacaran selama 6 bulan. Dan setengah jalan melalui , aku berpikir, ‘ini menyebalkan. ” Tapi pada saat itu, hanya itu kepunyaanku yang berarti, jadi aku mencoba untuk mepertahankannya. ”

Tapi ketika pacarnya mengakhiri hubungan , Ben mulai merasa kekosongan lagi.

” Aku berantakan . Tidak ada lagi yang masuk akal. Aku mencoba mengisap ganja lagi. Dan itu tidak bekerja . Jadi aku pergi kembali ke AA dan mencoba untuk melakukan langkah-langkah untuk menyingkirkan rasa sakit . Dan itu tidak bekerja . Aku tersesat . Aku tidak mabuk , tapi aku sangat menderita , ” kata Ben . ” Jadi saya mulai pergi ke guru Buddhis ini. Saya akan bermeditasi 30 menit sampai satu jam setiap hari , dan hal itu tidak menghasilkan apapun . Aku hanya menjadi lebih hancur.”

Akhirnya , Ben dan sahabatnya bersatu kembali dan mulai menghadiri The Village (gereja) bersama-sama. Kemudian , ia mengikuti saran seorang temannya agar dia berdoa supaya Kristus menyatakan diri-Nya .

“Saya benar-bear tersadar: Saya tidak mabuk. Seluruh keluarga saya bangga padaku . Dan aku pergi pusat-pusat pengobatan dan memberikan penyuluhan dan semuanya . Tapi aku masih seorang manusia yang tidak baik, ” kata Ben . ” Itu aneh karena saya tidak pernah berpikir demikian sebelum atau sejak saat itu . Saya tidak tahu apakah itu suara atau entah apa, tapi bisa saja aku mendengar Tuhan[ mengatakan ] kira-kira sebagai berikut ‘Jika engkau mengikuti Aku, Aku akan mengambil semua itu. ”

” Saya di pinggir tempat tidur saya , dan tidak tahu bagaimana, saya seperti dipentung . Aku bertekuk lutut. Saya mulai saja menangis , memohon Kristus untuk membawaku pulang . Saya tidak tahu berapa lama itu berlangsung , tapi setelah selesai. Saya tahu saya baru saja diselamatkan . ”

Setelah pengalaman ini , Ben menemukan komunitas , menyelesaikan program dan dibaptis .

” Mendadak hidup saya bukan tentang saya lagi. Semuanya tentang Kristus . Dan semuanya itu menjadi makna dan sukacita yang berkelimpahan. Segala sesuatu menjadi baru dan sempurna . Aku masih berjuang , ” katanya . ” Tapi sungguh luar biasa untuk melihat banyaknya rahmat yang baru saja dituangkan di atas saya, seluruh seluruh hidup saya, bahkan ketika saya belum percaya pada Yesus dan membenci-Nya . ”

Dia sudah tidak lagi meminum obat untuk gangguan obsesif-kompulsif dalam lebih dari satu tahun . Selain itu, ia tidak lagi menggunakan opiat dalam lebih dari empat tahun.

” Tapi hal ini masih aneh karena banyak hal mulai berubah dalam diriku di depan Kristus , dan itu menjadi jelas bagi saya bahwa Kristus telah memiliki saya sepanjang seluruh waktu ini, ” kata Ben . ” Dan orang akan mencoba untuk mengatakan ‘Tapi kau melakukan hal-hal berubah. Anda pergi ke pusat perawatan . Anda pergi ke konselor OCD . Anda pergi ke terapi . Anda harus memberikan diri Anda kredit.’ ”

” Saya tidak bisa karena saya tahu dari lubuk hati saya bahwa jika itu usaha saya, saya masih akan melakukan heroin atau saya masih tidak akan mampu memeluk adikku. Kristus telah memiliki saya selama ini. ”