Category Archives: Pergumulan

Kisah Hidupku – Teddy Fransa Nata

PEPERANGAN ROHANI, BAGIAN 4: MENGENAL MUSUH ANDA

20140814_spiritual-warfare-part-4-know-your-enemy_banner_img

Oleh : Mark Driscoll

BAGAIMANA SETAN DAN PENGIKUTNYA MENGGODA ANDA SEKARANG INI?

Seorang Puritan terkenal, Thomas Brooks, menulis salah satu buku favorit saya tentang peperangan rohani, Precious Remedies against Satan’s Devices. Brooks menggunakan ilustrasi indah yang menjelaskan mengapa Yesus menolak tawaran roti yang sederhana oleh Setan. Brooks mengatakan bahwa musuh kita akan memakai umpan bagi kait kita dengan apa yang kita inginkan. Ini berarti bahwa ia dengan senang hati akan memberi kita seks, uang, kekuasaan, kesenangan, ketenaran, kekayaan, dan hubungan. Tujuan Setan adalah bagi kita untuk mengambil umpan tanpa melihat kaitnya, dan ketika mulut kita sudah terkait, ia akan menarik dan menjadikan kita tawanan. Setan kadang memberikan hal-hal yang kelihatannya baik tetapi di baliknya adalah dosa. Dia akan menantang kita untuk menilai pemberiannya untuk memastikan kualitasnya. Itulah esensi dari perangkap. Hadiah itu mungkin baik, tetapi si pemberi adalah jahat. Dengan cara ini, Iblis dan setan adalah mirip dengan pedofilia yang berusaha untuk menarik perhatian anak-anak supaya mempercayai mereka dengan hadiah permen dan mainan, hanya untuk menghancurkan mereka.

Ketika kita mengambil pemberian yang Setan dan iblis tawarkan, kita pada dasarnya menggigit umpan. Akibatnya, dosa mengait mulut kita, dan Setan menarik kita sebagai tawanannya sehingga, sebagai mana yang Yesus katakan dalam Yohanes 08:34, kita menjadi budak dosa kita. Setan memberikan umpan untuk setiap dari kita dengan berbagai cara, bahkan dengan hal-hal baik yang akhirnya menjadi berhala yang berdosa ketika mereka menjadi tuhan dalam hidup kita. Setelah mengambil umpan, kita akan ditarik ke dalam kegelapan dan dosa, yang, jauh dari Yesus, pasti akan mengarah pada kematian. Tanpa Yesus hidup kita akan terus turun ke dalam kegelapan sampai kita menemukan diri kita dengan Setan, di neraka, selamanya.

APA TAKTIK KHUSUS YANG SETAN KERJAKAN TERHADAP KITA SEKARANG INI?

Terlepas dari kenyataan bahwa ia adalah musuh yang sudah dikalahkan dan pincang, si Naga Tua tetap licik, seperti yang Kitab Suci mengatakan. Untuk menipu Anda, Setan akan menggunakan berbagai taktik yang diperingatkan Alkitab kepada kita. Saya ingin memberitahu Anda tentang beberapa taktik ini karena 2 Korintus 2:11 mengatakan bahwa Iblis tidak dapat menipu kita jika kita mengenal dengan baik taktik yang ia gunakan untuk melawan kita.

  • Setan akan berbohong kepada Anda karena ia adalah pendusta. Jika Anda percaya padanya, hidup Anda akan hancur, karena Anda mempercayai makhluk yang Yesus ebut sebagai “bapa segala dusta.” Tanggapan Anda untuk melawan kebohongan adalah dengan membaca Alkitab dan mendengarkan Yesus, yang sepanjang Injil Yohanes berulang kali mengatakan, “Saya sejujurnya”. Selain itu, ketika Anda mendengar kebohongan, terbukalah dengan teman-teman yang seiman sehingga Yesus dapat berbicara kebenaran ke dalam hidup Anda melalui mereka. Ingat, Anda tidak perlu meyakinkan si pembohong bahwa dia salah dan Anda benar. Sebaliknya, lakukan yang Yesus lakukan di dalam Matius 4: 8-10, Dia mengabaikan kebohongan si pendusta dan tetap setia terhadap kebenaran Alkitab.
  • Setan akan datang kepada Anda ketika Anda lemah dan menggoda Anda untuk berbuat dosa seperti yang dia lakukan kepada Yesus, karena dia adalah si penggoda. Tujuan dari godaan adalah untuk menarik Anda dekat dengannya dan jauh dari Yesus dalam pemberontakan. Respons Anda terhadap godaan dosa adalah harus melawan iblis sehingga ia akan lari dari padamu. Ketika Anda melakukan dosa, Anda harus menyelesaikannya dengan Allah dengan bertobat dari dosa Anda kepada Yesus dan orang-orang yang sudah Anda sakiti.
  • Setan akan datang kepada Anda sebagai si penuduh. Tuduhan Setan sering kali berbicara dalam diri anda sebagai orang ke dua. Dalam beberapa kasus, beberapa orang yang mengaku mendengar suara-suara atau memiliki perkataan negatif terhadap dirinya sendiri kemungkinan sedang mengalami pergumulan dengan setan. Misalnya, beberapa orang sering melaporkan berpikir atau mendengar hal-hal seperti “Kamu tidak berharga,” “Tuhan tidak pernah bisa memaafkan Anda,” “Kau layak apa yang dilakukan untuk Anda,” dan “Anda harusnya bunuh diri untuk mengakhiri rasa sakit Anda.” Ketika kita berpikir atau mendengar hal-hal seperti itu kita harus menyadari bahwa Yesus tidak akan pernah mengatakan hal-hal seperti itu untuk anak-anak Allah, dan jika Anda mendengar tuduhan seperti ini sebagai orang kedua, maka setan sedang berbisik di telinga Anda, berharap Anda akan percaya mereka daripada Yesus.
  • Setan akan datang kepada Anda, sering selama masa di mana Tuhan mencurahkan anugrahNya, untuk merampok sukacita Anda dengan mengutuk Anda. Dia akan mengingatkan Anda tentang dosa masa lalu, di mana Kristus telah mati untuk itu dan bahwa Anda telah sungguh-sungguh bertobat. Dengan demikian, ia akan mencoba meyakinkan Anda bahwa kematian Yesus di kayu salib belum cukup. Jika Anda mempercayai si Naga, Anda juga akan meragukan pengampunan Tuhan atau berusaha untuk melakukan sesuatu selain pekerjaan Yesus untuk mendapat pengampunan Anda sendiri. Sehingga, Anda akan meragukan kesempurnaan dari kematian Yesus di kayu salib untuk dosa Anda, dan Anda akan ditarik ke dalam keputusasaan atau menjadi agamawi, tetapi bukan kepada Yesus. Dalam menghadapi hal ini, Anda akan menemukan sauh bagi jiwa anda dengan merenungkan Roma 8:1 yang mengatakan “. Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus”
  • Setan akan menggunakan ketulusan hati Anda dengan memberikan tuduhan-tuduhan awam yang tidak jelas di mana, kalau kita tidak menyadarinya, akan mendorong Anda untuk mengintrospeksi diri secara berlebihan sambil mencari-cari dosa dengan panik. Hal ini karena Setan meniru Allah dan menyalahgunakan karya-Nya. Tuhan menyadarkan Anda akan suatu dosa tertentu sehingga, dengan pengasihanNya, Anda dapat bertobat dan beralih ke kebebasan dan sukacita. Di lain pihak, Setan akan berusaha untuk mengalahkan dan mengecilkan hati Anda dengan rasa bersalah yang begitu umum, sehingga Anda tidak pernah tahu persis dosa apa yang Anda harus tobati dan dengan demikian terlena dalam perbudakan dan keputusasaan yang melumpuhkan. Dalam Yohanes 8 kita diberitahu bahwa Setan pada dasarnya adalah seperti orang tua yang kejam dan, seperti layaknya semua orang tua kejam, niatnya bukan untuk memperbaiki Anda, tetapi untuk menyakiti Anda, menyebabkan penderitaan dan kesedihan sehingga Anda merasa hancur tanpa arahan apa yang Anda telah lakukan dan bagaimana memperbaikinya.
  • Karena begitu banyak dosa baik yang sengaja dan tidak sengaja telah dilakukan kepada Anda, Setan juga akan berusaha untuk menguasai hidup Anda dengan kepahitan (Efesus 4:. 17-32). Kebenaran yang menyedihkan adalah bahwa hampir tidak mungkin bahwa setiap orang yang pernah berbuat dosa terhadap engkau akan datang ke depan mu untuk bertobat dan meminta pengampunan Anda. Jika Anda menunggu orang-orang yang telah berdosa terhadap Anda untuk bertobat sebelum Anda dapat memaafkan mereka, Anda akan rentan terhadap kepahitan, yang Ibrani 12:15 menjelaskan sebagai akar yang akan memberi makan ilalang setan lain dalam hidup Anda. Oleh karena itu, ketika Allah Roh Kudus mengingatkan orang-orang yang telah berdosa terhadap Anda, Anda harus memaafkan mereka. Ini tidak berarti meminimalkan atau menerima apa yang telah mereka lakukan, melainkan mempercayakan kepada Tuhan untuk keadilan-Nya melalui penderitaan Yesus di kayu salib atau mereka layak disiksa di neraka. Bagian Anda dalam pengampunan adalah menyerahkan hak Anda untuk menyakiti mereka atas apa yang telah mereka lakukan untuk Anda. Allah juga akan meminta Anda untuk menghadapi beberapa dari mereka dalam rangka untuk memberikan mereka kesempatan untuk bertobat, dan jika mereka tidak melakukannya, Anda harus percaya Yesus untuk menghakimi dan menghukum mereka secara adil pada hari penghakiman terakhir.

  • Setan akan berusaha untuk mengambil perhatian Anda dari Yesus. Dalam bukunya The Screwtape Letters, CS Lewis menulis, “Ada dua kesalahan yang sama dan berlawanan di mana manusia bisa salah tentang setan. Salah satunya adalah ketidakpercayaan akan keberadaan mereka. Yang lain adalah mempercayainya, dan memberikan perhatian yang berlebihan dan tidak sehat mengenainya”. Pastinya, satu cara kita bisa berbuat kesalahan yaitu dengan mengurangi atau bahkan menyangkal apa yang Alkitab ajarkan tentang Iblis dan setan. Alkitab mendesak kita untuk menetapkan pandangan kita pada Yesus, dan bukan setan atau iblis. Meskipun mereka adalah nyata, masalah yang sebenarnya terjadi ketika kita terobsesi atas mereka, memburu mereka, atau menyalahkan semuanya pada mereka.
  • Setan akan berusaha untuk menggunakan ketidakpercayaan Anda kepadanya. Setan memiliki kebebasan dalam pekerjaannya dengan Anda, sampai-sampai Anda secara fungsional tidak mempercayai keberadaannya dan mengabaikan aktivitasnya dalam hidup Anda. Saat Anda tumbuh dalam pemahaman Anda tentang bagaimana iblis dan setan bekerja, bagaimanapun juga, peringatan saya kepada Anda agar tidak menyalahkan semuanya pada mereka sebagaimana yang Hawa lakukan, melainkan terus bertanggung jawab atas dosa Anda sendiri dan mempercayakan hukuman bagi orang yang berdosa terhadap Anda kepada Tuhan.
  • Setan akan berusaha untuk menggunakan kebanggaan Anda. Karena akar pekerjaan Setan adalah kesombongan, Anda juga harus terus berbicara, berpikir, dan bertindak dalam kerendahan hati, seperti yang dikehendaki kasih karunia AllaH darimu. Seperti yang dikatakan Yesus dalam Lukas 10:20, “Sekalipun begitu janganlah bergembira karena roh-roh jahat taat kepadamu. Lebih baik kalian bergembira karena namamu tercatat di surga.”

    Diadaptasi dari : http://marshill.com/2014/08/14/spiritual-warfare-part-4-know-your-enemy

  • “SAYA MENGALAMI DEPRESI DAN INGIN MATI.” KISAH TYLER

    20140604_i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story_banner_img

    Tyler adalah seorang pemimpin kelompok sel di Mars Hill Tacoma yang akan menyelesaikan sekolah physioterapi. Dia mengasihi Yesus dan ingin menikahi seorang wanita yang beriman dan mewariskan kisah yang ia mulai ketika ia menjadi orang Kristen pertama dalam keluarganya. Ketika Anda bertemu dengannya, Anda tidak mungkin berpikir lain selain dia adalah seoran periang, bersemangat, dan penuh gairah. Jadi sulit untuk percaya bahwa hanya beberapa tahun yang lalu, ia hampir bunuh diri. Dua kali. Ini ceritanya.

    * Beberapa nama dalam cerita ini telah diubah.

    Tumbuh di Spokane, Washington, Tyler adalah seorang anak pemalu di sekolah menengahnya yang tidak memiliki banyak teman. Dia bergumul dengan keraguan diri, kepercayaan diri, dan moral.

    “Saya selalu ingin ngumpul-ngumpul, tetapi saya kebanyakan menyendiri.” Tyler tidak pernah melakukan “hal-hal buruk” dan, berbeda dengan saudara laki-laki dan perempuannya yang jatuh dalam obat-obatan dan alkohol, keluarganya sering melihat dia sebagai anak yang sempurna.

    Pada musim gugur 2007, Tyler terdaftar penuh waktu di Spokane Falls Community College. Di sana, ia menjadi lebih terisolasi dan kesepian disbanding pada saat di SMA. Namun, beberapa waktu kemudian sekelompok kecil orang berteman dengan dia.

    “Mereka adalah orang pertama dalam hidupku yang benar-benar teman-teman saya,” kata Tyler. “Mereka mempedulikan dan melayani saya. Dan mereka adalah orang Kristen. ”

    Tyler mulai naksir berat pada salah satu gadis dalam kelompok tersebut yangbernama Megan.

    “Aku jatuh cinta dengan dia dan mengidolakan dia,” katanya.

    Tidak pernah ia mencintai seseorang seperti ini. Perasaan saying tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Persahabatan mereka berkembang ke titik di mana salah satu dari mereka perlu untuk mendefinisikan apa yang sedang terjadi. Lalu suatu malam Megan mengatakan kepana Tyler, “Orang berikutnya yang akan menjadi pacar saya akan menjadi suami saya. Aku tidak ingin berkencan dengan non-Kristen. ”

    Tyler sangat marah. Dia mengatakan padanya bahwa dia tidak ingin menjadi seorang Kristen dan dia harus mencintai dia untuk siapa dia. Ia menjadi depresi. Perasaan di mana fia akhirnya bisa memiliki wanita yang dicintainya hanya untuk menemukan bahwa wanita itu tidak ingin bersama dia, membawa hidupnya runtuh. Tyler berpikir kemungkinan untuk mempunyai hubungan sudah berakhir.

    “ENGKAU ADALAH ANAKKU DAN AKU MENGASIHIMU”

    Selama waktu tersebut, salah satu orang Kristen dalam kelompok itu membagikan beberapa ayat Alkitab dengan dia. Tyler ingat bahwa dia tak menduga akan kemungkinan kebenaran dari ayat-ayat. Ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan, jika Dia memang nyata, untuk menunjukkan diriNya.

    Saat itu sudah larut malam dan Tyler ingin tidur, tapi tidak bisa. Yang dapat ia pikirkan adalah pergi ke gereja. Dia belum pernah ke gereja sebelumnya tapi tiba-tiba, itu semua yang ingin ia lakukan.
    Hari berikutnya dia mengatakan kepada teman-temannya dan, sebelum akhir pekan menjelang, mereka membawanya ke pelayanan kampus tempat mereka melayani. Pemimpin pelayanan mengajarkan tentang Yesus dan membagikan Injil. Ketika ia selesai, ia berdoa dan berkata jika ada yang ingin bertobat dari dosa mereka dan berbalik kepada Yesus, mereka harus mengangkat tangan mereka dan berseru kepadaNya.

    “Aku mengingat aku seperti berkata, ‘Oh, itu aku,” kata Tyler. “Jadi aku segera mengangkat tanganku kemudian berpikir, ‘Tunggu sebentar, apa yang saya lakukan?” Tapi aku tahu itu apa yang saya inginkan. ”

    Kemudian pendeta kampus itu mendekatinya dan memberinya Alkitab dan memeluknya. Tyler mengambil Alkitab itu ke rumah dan membacanya habis. Dia mulai membaca dalam Matius dan menyukainya. Minggu berikutnya di kunjungannya yang ke dua di kelompok kampus, ia mengerti Injil lebih lagi.

    Kelompok ini tidak seperti pelayanan kampus yang biasanya. Tidak ada pengajaran. Musik yang dimainkan dengan lembut di latar belakang saat orang-orang berbagi cerita tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka.

    “Saya menangis dan menangis sepanjang malam,” kata Tyler. “Saya mengenali siapa aku di dalam Yesus. Tuhan terus menunjukkan kepada saya gambar salib dan aku ingat mendengar berulang kali, “Engkau adalah anakKu dan Aku mengasihimu.” Itu adalah di mana saya benar-benar memahami apa Injil itu dalam hidup saya. ”

    “AKU MERUBAH PENGIDOLAAN SAYA DARI SATU BENTUK KE BENTUK LAINNYA”

    Tyler bertumbuh dalam pengetahuan Alkitab dan belajar bagaimana memimpin orang lain dalam pelayanan kampus dan kelompok SMP di gereja di mana dia menjadi anggota. Pada musim gugur 2009, ia pindah ke Eastern Washington University dan pindah ke sebuah rumah penuh dengan teman-teman kuliah. Dia tumbuh dalam hubungan dengan Yesus dan mencintai itu, tapi satu hal masih mengganggunya. Sementara depresinya karena kejadian Megan sudah terlupakan, dia menyadari bahwa dia masih mengidolakan dia.

    “Aku merubah pengidolaan saya dari satu bentuk ke bentuk lainnya,” kata Tyler. “Sebelumnya, dia adalah segalanya bagiku. Sekarang, dia masih segalanya bagiku, tetapi di samping itu, saya menempatkannya lebel Kristen di atasnya. Aku secara berlebihan komitmen dalam hatiku. Saya pikir, ‘Ini adalah kehidupan yang saya ingin miliki dengan dia. Kami akan menjadi pasangan Kristen yang menakjubkan ini dan memiliki anak-anak. ‘Ide akan suatu hubungan menguasai dengan kuat dalam hati saya. ”

    Kebingungan dengan perhatian dan harapan yang terus menerus, Megan menjauhkan diri dari Tyler dan seluruh teman-teman mereka. Dia menemukan teman baru dan mulai pergi ke bar, minum secara berlebihan, dan mabuk-mabukan. Tyler panik dan mengejarnya lebih giat lagi dalam upaya untuk menyelamatkannya dari gaya hidupnya.

    “Aku menghancurkannya,” katanya. “Aku menyakitinya dengan sangat dalam hal itu.”

    Dengan tekanan yang tak berakhir, Megan berhenti pergi ke gereja dan pelayanan kampus. Dia tidak bergaul dengan siapa pun dalam kelompok tersebut.

    “Ini benar-benar membawa saya kepada kehancuran sampai di titik di mana saya mulai mendapatkan depresi lagi, melarikan diri, dan tidak terlibat dalam gereja pula,” kata Tyler. “Depresi saya menjadi cukup buruk di mana saya ingin bunuh diri. Itu berlangsung selama sekitar 12-18 bulan. Saya kehilangan pekerjaan saya. Aku tidak ingin melakukan apa pun. Saya akan duduk di kamarku dan menangis. Saya berpikir untuk bunuh diri sepanjang waktu. ”

    Dua kejadian mebuatnya nyaris bunuh diri.

    Yang pertama terjadi pada musim panas 2011, antara tahun terakhirnya kuliah dan tahun pertama sekolah physioterapi. Rumah Tyler di Spokane tidak jauh dari jajaran tebing dan hutan lebat. Suatu malam dia berdiri di tebing dan merenungkan untuk melompat ke kematiannya. Seorang teman menemukan dia ada di sana dan datang untuk membantu dia.

    “Aku benar-benar tidak ingat banyak detail tentang apa yang dia katakan. Kami mengobrol sebentar dan kemudian ia membawa saya pulang. ”

    Insiden kedua terjadi pada musim gugur 2011, tak lama setelah ia pindah ke Tacoma dan mulai sekolah di Puget Sound University.

    “Aku akan pergi ke sekolah dan pulang ke rumah dan tidak belajar,” katanya. “Aku akan jatuh hancur dan menangis dan marah. Saya pikir itu adalah kombinasi dari kesendirian, stres dari sekolah, merasa seperti kegagalan, tinggal jauh dari Spokane, dan depresi berat. ”

    Itu adalah titik terendah dalam hidup Tyler. Suatu malam ia berbaring di lantai nya, benar-benar kosong. Sebotol pil itu di tangannya dan ia ingin menelan mereka semua untuk mengakhiri hidupnya.

    “Sulit untuk menjelaskan perasaan tersebut, tapi itu hampir seolah-olah aku merasa kosong dari kehidupan itu sendiri,” katanya.

    Pikirannya terganggu oleh telepon dari seorang teman di Spokane. Ketika mereka berbicara, Tyler menjelaskan keseriusan dari situasinya. Teman tersebut berbicara ke Tyler untuk waktu yang lama dan kemudian mengatakan bahwa dia akan meminta teman mereka, yang baru saja pindah ke Seattle, untuk datang melihat Tyler. Dia tidak mengatakan kepada Tyler adalah bahwa dia juga akan memanggil polisi. Polisi berada di pintu lima menit kemudian dan tinggal di sana sampai temannya dari Seattle muncul.

    AWAL PERTUMBUHAN

    Tak lama setelah kejadian kedua ini, Tyler mulai pergi ke Mars Hill Federal Way (sekarang Mars Hill Tacoma), diundang oleh temannya di Seattle. Pada kunjungan pertamanya, Tyler bertemu dengan teman sekelasnya dari program terapi fisik. Teman sekolahnya ini tidak tahu bahwa ada yang salah dalam hidup Tyler.

    “Saya pikir saya pandai menyembunyikan [depresinya],” kata Tyler. “Aku bisa pergi dan [ngumpul] sosialisasi, tapi pada saat yang sama aku membenci hidup saya. Aku benci segala sesuatu. Aku benci kota. Aku benci diriku sendiri. Aku begitu kosong. Sepanjang waktu saya akan mengatakan saya adalah seorang Kristen tapi saya masih berusaha untuk melakukan keinginan sendiri. Aku ingat dalam keadaan yang paling terendah dalam hidup saya, Tuhan ada di sana. Dia mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan Anda pergi. Aku tidak akan membiarkan Anda melakukan hal ini. “KehadiranNya di sana. Dia terus berkata, “Aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu.

    “Aku punya waktu di mana saya naik dan kemudian turun. Aku merasa seperti jika saya tidak akan bersama Megan, maka saya tidak akan menjadi apapun. Dia masih segalanya bagiku. Aku akhirnya sampai ke titik di mana saya merasa seperti sesuatu perlu terjadi. ”

    Tyler merasa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dia perlu untuk melepaskannya, atau Allah yang akan mengambil Megan darinya.

    Tyler sesekali akan menghubungi Megan dan dia biasanya mengatakan bahwa ia baik-baik dan tidak ingin bertemu dengannya. Tak lama setelah pindah ke Tacoma, ia mengatakan ia ingin bunuh diri jika ia tidak bisa bersamanya. Megan menghubungi Puget Sound University dan mereka mengharuskan Tyler untuk melakukan empat sesi konseling.

    Setelah itu Megan mengirim pesan kepadanya di Facebook mengatakan, “Engkau harus membiarkan aku pergi. Hubungan itu tidak mungkin terjadi. Aku gay dan aku sudah menjalin hubungan selama delapan bulan. ”

    Tyler sudah pernah mendengar bahwa Megan sudah mempunyai hubungan tapi tidak pernah berpikir bahwa itu bisa dengan seorang wanita. “Pada awalnya saya tidak ingin percaya dan saya bilang itu tidak mungkin benar.”

    Tapi pesan Facebook tersebut menyalakan saklar di otak Tyler. Dia akhirnya melihat bahwa Megan adalah manusia biasa dengan kelemahan seperti orang lain. Dan kemudian fokusnya bergeser.

    “Selama ini saya berpikir semua tentang saya,” katanya. “Tiba-tiba. . . Saya menyadari kebobrokan dalam hidupnya. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia bilang. Dia berkata, “Aku akhirnya menemukan seseorang yang mencintai saya untuk siapa saya dan saya senang.” Yang bisa kupikirkan adalah, Yesus mengasihi Anda untuk siapa Anda dan Anda menolak itu. “Sejak saat itu, saya tidak peduli jika kami berakhir bersama-sama. Yang saya pedulikan adalah dia. ”

    Namun, pemikiran Tyler tentang dosa belum diperbaiki. Dia berada di bawah kesan bahwa dosa Megan entah bagaimana lebih buruk daripada dosanya.

    “Saya masih sangat bermasalah, tapi aku sudah berhenti mengidolakan dia dan akhirnya kembali kepada Yesus. Saya telah cukup beruntung untuk tetap berada di Mars Hill dengan beberapa orang baik dan kelompok sel. Saya bertemu dengan mereka dan menceritakan kepada mereka seluruh kisah saya. ”

    Saat itulah koreksi datang. Setelah mendengar cerita Tyler, pemimpin kelompok memiliki beberapa teguran keras baginya.

    “Dia berkata, ‘Bagaimana jika dia melakukan dosa seksual dengan seorang pria? Bukankah itu tetap dosa seksual. Bagaimana dengan Anda memberhalakan dia? Bagaimana dengan Injil dalam hidup Anda? Yesus mati untuk menyelamatkan Anda. Dan Anda tidak bisa menyelamatkannya. Yesus perlu menyelamatkannya dan Anda perlu untuk merelakannya. ‘”
    Tyler mengatakan “payah” untuk mendengar perkataan itu, tapi dia tahu itu adalah apa yang ia butuh dengarkan. Beberapa bulan kemudian dia kembali ke Spokane untuk liburan musim panas dan mengulang kembali hidupnya. Ketika ia kembali ke Tacoma untuk tahun kedua sekolah, ia tidak lagi depresi. Dia mengambil kelas keanggotaan di gereja, melibatkan diri dalam kelompok sel, dan mulai melayani.

    ”ALLAH INGIN MENUNJUKKAN SIAPA DIA”

    Tak lama setelah itu, Megan putus hubungan. Dia unfriend Tyler di Facebook dan menyuruh saudara laki-lakinya agar ‘meminta’ Tyler untuk menghapus nomor teleponnya. Tyler merasa seperti beban berat telah terangkat dari bahunya.

    Tyler terus tumbuh dan mengambil alih kepemimpinan kelompok sel pada Januari 2014 sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, tapi ia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk melayani dengan cara itu.

    “Aku tidak pernah berharap Allah memberi saya hati yang sedemikian untuk orang-orang ini,” kata Tyler. “Sudah cukup menakjubkan. Ini membuat saya tumbuh [dalam] ketergantungan saya pada Tuhan. Saya katakan kepada Tuhan, “Aku tidak tahu apa yang saya lakukan tapi kau tahu. Aku di sini. Gunakan saya sebisaMu. ”

    “Pastor Mark baru-baru ini bertanya dalam salah satu khotbahnya, apakah itu hidup? Hidup bagi saya dulunya adalah seorang gadis. Sekarang hidup adalah Yesus. Aku tidak tahu apakah aku akan mampu untuk memahami semuanya kalau saja Tuhan tidak memindahkan saya ke Tacoma dan membawa saya ke gereja Mars Hill.

    “Aneh bagi saya untuk melihat ke belakang dan berpikir ada fase dalam hidup saya di mana saya depresi dan ingin bunuh diri, meskipun aku punya keluarga yang mencintai dan mendukung, [juga] terlibat dalam gereja, dan [juga] dikelilingi oleh teman-teman yang mencintai Yesus. ”

    Tyler menyadari bahwa, bahkan di tengah-tengah itu, jika Yesus tidak hadir dan membentuk hidup Anda setiap hari, maka Anda masih bisa goyah dan jatuh.

    “Melalui semua ini, Tuhan ingin menunjukkan saya siapakah Dia – bukan apa yang saya pikir siapa Dia atau apa yang saya inginkan Dia menjadi apa. Allah membentuk hatiku dengan menghancurkan berhala saya. Dia mematahkan saya ke titik di mana saya tidak memiliki apapun. Setelah itu, satu-satunya hal yang aku bisa miliki adalah Dia. ”

    Tyler merasa seperti dia di tempat yang bagus sekarang dan memandang masa depan. Dalam 40-50 tahun ia ingin warisannya adalah menjadi seorang kakek yang mencintai keluarganya, melayani gereja, dan berkembang setiap hari dalam hubungannya dengan Yesus. Sejak Tyler menjadi seorang Kristen, ayahnya telah bertemu Yesus. Ia berharap lebih keluarganya akan berbalik kepada Yesus juga.

    “Aku bisa menjadi orang Kristen pertama di keluarga saya. Seri khotbah dari kitab Maleakhi cukup menguatkan bagi saya karena saya melihat suatu generasi bisa berubah. Nama keluarga Trudeau sebelumnya penuh dengan banyak dosa. Tapi itu bisa berubah karena satu orang. ”

    BAGI MEREKA YANG BERGUMUL DENGAN DEPRESI
    Tyler ingin mendorong mereka yang bergumul dengan depresi untuk membiarkan orang lain tahu. Seringkali, seseorang yang berjuang mungkin mengatakan kepada satu orang, tapi Tyler mengatakan untuk membiarkan beberapa orang tahu sehingga mereka dapat membantu. Dan jika Anda tahu seseorang yang sedang berjuang dengan depresi, menurutnya suatu tanggung jawab bagi Anda untuk melibatkan yang lainnya, terlepas apakah mereka mau atau tidak. Itu mungkin akan menyelamatkan hidup mereka.

    Diadaptasi dari : http://marshill.com/2014/06/06/i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story

    Ombak dan Badai Masih Mengenal NamaNya

    Oleh : Erwin Analau

    Heran… saya bukan orang yang tidak pernah naik pesawat. Berpuluh kali sudah pernah naik pesawat, dari yang hanya 1 atau 2 jam sampai yang ke belasan jam. Dari yang perjalanan mulus sampai yang perjalanan dengan cuaca buruk. Namun setiap kali naik pesawat, pasti selalu penuh dengan ketakutan dan kecemasan.

    Baru-baru ini kami sekeluarga harus naik pesawat untuk kembali ke Seattle untuk menyudahi liburan kami di Jakarta. Pada bulan Juli, memang bulan yang kurang baik dalam sejarah penerbangan internasional. Setidaknya ada 3 kecelakaan yang diberitakan, penembakan MH17, jatuhnya TransAsia di Taiwan dan jatuhnya Air Algeria karena cuaca buruk. Pada dasarnya, kecelakaan-kecelakaan tersebut terjadi dalam kondisi yang bagaimanapun.

    Berita-berita ini menjadi cerita horror yang tidak saya pikirkan, tetapi ada di benak bawah sadar saya. Ketika pesawat yang saya tumpangi mulai memasuki cuaca yang kurang baik atau turbuluance, semua berita-berita ini bermain di dalam pikiran saya. Semua ketakutan, kekhawatiran dan kepanikan mulai timbul dalam diri saya. Keringat dingin membasahi kaki dan tangan saya. Saya memegang anak pertama saya, sambil melakukan apa yang banyak dari kita lakukan ketika sedang ketakutan – berdoa dengan sungguh-sungguh.

    Saya melihat ke dua anak saya, yang baru berumur 7 dan 5 tahun, mereka tertidur lelap. Mereka tertidur lelap. Mereka … sedang … tertidur … lelap …

    Benar-benar sesuatu yang menghentakkan iman saya. Terus terang saya masih khawatir selama perjalanan dan mungkin akan khawatir juga untuk perjalanan-perjalanan di kemudian hari. Tapi Roh Kudus berbicara kepada saya melalui pengalaman ini.

    Hidup itu sama dengan perjalanan di dalam pesawat. Dalam hidup, kalau cuaca sedang baik, jarang kita berdoa-dengan sungguh-sungguh. Jarang kita berseru kepadaNya. Tetapi ketika sedang dalam cuaca yang buruk, mulailah kita mencari Dia atau mungkin bahkan meragukan rencanaNya.

    Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan ketika kita mengalami turbulence dalam hidup, khawatir atau tertidur pulas. Kita bisa memilih untuk khawatir, dan itu yang saya pilih dalam perjalanan itu. Saya mainkan semua peristiwa-peristiwa buruk dalam otak saya, dan saya terus mainkan untuk memberikan saya suatu ketenangan semu, kalau terjadi sesuatu saya sudah siap. Saya habiskan tenaga saya dan juga keringat dingin saya. Walaupun saya tahu, kalau memang terjadi peristiwa buruk, sesiap apapun saya, saya tidak akan siap dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apa.
    Yang ke dua tertidur lelap, seperti ke dua anak saya. Tertidur lelap dalam cuaca yang buruk, membutuhkan suatu iman yang luar biasa. Saya berpikir ketika Yesus memberitahu kita dalam Injil untuk mempunyai iman seperti anak kecil, sepertinya Dia tahu apa yang dia bicarakan.

    Ke dua anak saya mungkin tidak mengerti akan berita-berita yang saya baca. Di dalam benak mereka, mereka hanya tahu kalau perjalanan pesawat adalah dari Jakarta ke Taiwan. Dan apapun yang terjadi, mereka akan sampai ke tujuan. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana pesawat bekerja, atau siapa pilotnya, atau apa yang bisa terjadi dalam cuaca buruk, mungkin mereka tidak tahu akan semua itu, tapi yang mereka tahu papa dan mama ada bersama mereka dalam perjalanan itu dan semuanya akan beres. Sebaliknya, saya sangat yakin kalau pada waktu itu mereka tidak bersama kami, orang tuanya, mereka tidak akan setenang itu. Lebih lagi, mungkin walaupun cuaca baik dan perjalanan mulus, mereka akan terus mencari orang tua mereka.

    Mereka tidak melihat kepada sesuatu atau orang yang tidak dia kenal, tetapi mereka tahu orang tua mereka ada bersama mereka.
    Dalam perjalanan kekristenan saya, sering sekali – bahkan sampai sekarang – , saya selalu beriman kepada ciptaan, bukan kepada Bapa saya. Saya suka membuat rencana, saya dilatih untuk memakai logika dan eksperiment untuk membuktikan atau melihat sesuatu. Saya dilatih untuk menganalisa, kalau nilai itu sebesar ini, itu mengindikasikan hal seperti itu. Dan berulang kali di dalam cuaca yang menantang, iman saya hancur berantakan. Ketakutan, kepanikan kadang merajalela dalam perjalanan.

    Saat ini, saya sedang menghadapi tantangan di dalam hidup. Saat ini juga, ada suatu ketakutan dalam hidup. Saat ini, Roh Kudus memberikan saya pengharapan di dalam ketidak pastian.

    Akhir-akhir ini,saya sedang menyukai sebuah lagu dari Bethel Musik dengan judul “It is Well”. Lagu yang dimodifikasi dari hymn “It Is Well with My Soul” oleh Horatio Spafford.
    Salah satu liriknya berkata

    Far be it from me to not believe
    Even when my eyes can’t see
    And this mountain that’s in front of me
    Will be thrown into the midst of the sea
    So let go my soul and trust in Him
    The waves and wind still know His name
    It is well with my soul
    It is well, it is well with my soul

    Jauhkan aku dari keraguan
    Walaupun mataku tidak bisa melihat
    Dan gunung ini yang ada di hadapanku
    Akan dibuang ke tengah samudera
    Lepaslah jiwaku dan percaya kepadaNya
    Ombak dan badai masih mengenal namanya
    Jiwaku tenang

    Roh Kudus ajarku untuk tahu dengan Siapa aku berjalan, bukan dengan apa. Bapa yang baik, Bapa yang berkuasa. Seisi alam masih mengenal namanya. Imanku bukan dengan apa, tapi kepada Siapa.

    Markus 4:35-41

    35 Pada sore hari itu juga, Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Marilah kita berlayar ke seberang danau.” 36 Maka Yesus naik ke perahu, dan pengikut-pengikut-Nya meninggalkan orang banyak di tepi danau, lalu naik ke perahu yang sama. Perahu-perahu lain ada juga di situ. Kemudian Yesus dan pengikut-pengikut-Nya mulai berlayar. 37 Tak lama kemudian datang angin keras. Ombak mulai memukul perahu dan masuk ke dalam sehingga perahu itu hampir penuh dengan air. 38 Di buritan perahu itu, Yesus sedang tidur dengan kepala-Nya di atas bantal. Pengikut-pengikut-Nya membangunkan Dia. Mereka berkata, “Bapak Guru, apakah Bapak tidak peduli, kita celaka?” 39 Yesus bangun, lalu membentak angin itu, dan berkata kepada danau, “Diam, tenanglah!” Angin pun reda, dan danau menjadi sangat tenang. 40Lalu Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Mengapa kalian takut? Mengapa kalian tidak percaya kepada-Ku?” 41 Maka mereka menjadi takut dan berkata satu sama lain, “Siapakah sebenarnya orang ini, sampai angin dan ombak pun taat kepada-Nya.”

    John Burke

    monkimage (1)

    Pencipta kita Allah adalah pencemburu. Dia meniginginkan perhatian dan pengabdian kita secara penuh.

    John Burke akhirnya menyadari ini setelah bertahun-tahun mencoba untuk menggantikan kasih Allah dengan setiap hal-hal yang menarik perhatiannya.

    John dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik di New York, dan seperti kebanyakan rekan-rekannya, ia adalah seorang putra altar dan menghadiri gereja secara teratur dengan keluarganya. Tapi selama waktu itu, ia merasa ketakutan kepada Allah dan tidak melihat-Nya sebagai Seseorang yang dia bisa dekati dalam doa.

    Kehidupan rumah John sering kacau. Ayahnya seorang pemabuk, dan John cepat belajar bahwa ia harus mengurus dirinya sendiri. Dia bertindak dalam kemarahan dan agresif terhadap orang lain, dan persona yang dia ciptakan ini ini memberinya rasa aman dan identitas.

    Di sekolah, John bergaul dengan “orang-orang aneh ” – mereka yang bukan berasal dari keluarga yang penuh kasih. Pada titik ini dalam hidupnya, ia menganggap dirinya seorang agnostik. ” Saya tidak ingin berpikir tentang keberadaan Tuhan. Saya hanya memutuskan dia tidak,ada, ” kata John.

    Bermain musik rock ‘ n’ roll dan memulai sebuah band membuat John untuk mengalihkan pikirannya tentang keberadaan Allah dan hidup sebagaimana dia mau. Walaupun disibukkan dengan semua aktifitas music dan gaya hidupnya, John masih memiliki pertanyaan-pertanyaan untuk Tuhan.

    Kepahitan dalam hatinya terhadap kehidupan keluarganya menginginkan jawaban.

    ” Bagaimana mungkin Allah bisa menempatkan seorang anak dalam situasi itu ? ” pikirnya. Ketika tidak dapat menemukan jawaban, John memutuskan bahwa hidup “hanyalah lelucon yang kejam, dan Anda harus berusaha membuat jalan Anda sendiri. ”

    Band John menjadi cukup populer, pertunjukannya laris, dan kadang-kadang bermain untuk ribuan orang. Tapi, setelah sensasi awal adrenalin berakhir, dia akhirnya merasa lebih kosong dari sebelumnya.

    “Pada akhirnya, sukacita yang dijanjikan rock’n roll, tidak pernah datang – hal itu mengecewakan saya, ” kata John.

    Allah Menggunakan Keingintahuan dan Kecerdasan John Mmelalui Orang-Orang Kristen Dalam Hidupnya.

    Setelah musik memudar ketika berumur 20-an, John memutuskan untuk masuk kuliah. Dia ingin mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin dan berhasil di bidang akademik. Keinginannya berhasil, dan ia menerima banyak piagam dan penghargaan, lulus di peringkat teratas di kelasnya.

    Meskipun dengan semua pemahaman dan pengetahuan yang ia terima, John tetap sangat kosong dan sedih.

    Pengetahuan menguasakan dia pada awalnya, tetapi semua pemikir-pemikir ternama yang ia pelajari, seperti Plato dan Nietzsche, hanya memenuhi kebahagiaan yang sesaat. Ketenangan pikiran dan kelegaan rohani bukan sesuatu yang bisa mereka sediakan.

    Gagasan tentang kecerdasan menjadi kekecewaan lainnya.

    Di tengah semua usahanya untuk menemukan jati diri, Tuhan tidak pernah berhenti mengejar John. Dia mengizinkan John untuk pergi menurut ‘jalan’ nya, tetapi Dia selalu mempunyai rencana untuk menarik John kembali kepada-Nya.

    Setelah musik dan pengetahuan mengecewakan, John mengejar lagi cara lain yang ia harap akan mengarah pada kebahagiaan : pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan di bidang keuangan dan investasi dan menjadi tertarik dengan wiraswasta dan ide ‘berhasil dengan usaha sendiri’.

    Hari-harinya diisi dengan jam kerja yang panjang dan bacaan-bacaan tentang self-help untuk membantu dia ” memvisualisasikan kesuksesan. ”

    ” Usaha putus asa saya untuk menemukan kedamaian,, dalam pencarian ini, mengecewakan saya sekali lagi, ” kata John. Kepahitannya, tetap berakar dengan dalam.

    Seperti banyaknya kisah-kisah dalam Alkitab tentang tokoh-tokoh dan pencarian mereka yang sia-sia, John berulang kali mencari hal-hal yang menjanjikan kebahagiaan yang bisa dia temukan, mengabaikan kalau sukacita yang sejati, hanya Tuhan yang bisa sediakan.

    Ketika John berumur 41, ia menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam musik, pendidikan dan pekerjaan tidak melakukan apa pun untuk memenuhi dia. Pada titik ini, ia mulai menyelidiki spiritual. Ia belajar meditasi, Buddhisme, transendentalisme – setiap ” isme ” yang bisa dia temukan.

    ” Aku bisa merasakan ada sesuatu – tujuan yang lebih besar – tetapi semua studi saya dan kontemplasi tidak bisa mendefinisikannya, dan filsafat Timur meninggalkan lubang yang tidak bisa diisi, ” kata John.

    Namun, Tuhan – dalam rahmat-Nya yang tak terbatas – menarik John mendekat kepada-Nya seperti yang dilakukan-Nya dengan setiap dari anak-anakNya. Dia mulai untuk menempatkan orang-orang Kristen dalam kehidupan John yang membawa kedamaian yang selama ini John berusaha untuk pahami.

    Allah menantang keingintahuan dan kecerdasan John melalui mereka, dan salah satu dari teman-temannya tersebut memberi dia buku CS Lewis ‘ ” Mere Christianity. ” Buku ini menantang John untuk berpikir tentang mengapa semua orang tampaknya merindukan sesuatu yang lebih, di dalam dunia yang rusak ini.

    ” Aku mulai mengerti bahwa kerinduan akan sukacita ini adalah untuk dekat dengan Allah. Dosa memisahkan kita dari jalan kehidupan bersama Tuhan sejak dulu, dan manusia sendiri tidak bisa memperbaiki kondisi ini. ” Kata John. “Jadi, Yesus Kristus menanggung semua beban dosa kita atas diriNya untuk menyelamatkan kita dan menawarkan kita jalan kembali kepada Bapa. ”

    John bergumul dengan Tuhan dan berdoa agar –jawaban-jawaban dapat diungkapkan. Setelah Roh Kudus bergerak dalam dirinya, mengubah hati dan pikirannya, ia percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

    Dia menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan berhenti mengejar hal-hal yang kosong.

    Hari ini, John berlari dengan pengejaran penuh akan kemuliaan Allah. Melupakan cara-cara berpikir sebelumnya tidaklah mudah. Tapi kesadaran akan kasih yang kuat dari Allah, John telah menemukan satu-satunya kebenaran dan pengetahuan sejati yang benar-benar penting baginya.

    “Sungguh suatu sukacita untuk mengetahui bahwa Dia mengutus Anak-Nya sehingga kita bisa diselamatkan, ” kata John.

    Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/116731/john-burke/

    Alex Launius

    monkimage

    Alex Launius mulai menyileti dirinya, anoreksi, dan mabuk-mabukan ketika dia beranjak 14 tahun.

    Berasal dari Florida, Alex berusaha untuk bisa menyesuaikan diri. Dia memiliki “problema ayah ” itu istilah yang dia berikan, dan, ironisnya, berjuang dengan depresi yang panjang di tempat yang indah yang sering disebut “Negara Bagian Kemilau Matahari”

    Depresi yang dialami berakar dari kekerasan fisik dan emosional yang didapatkan dari ayahnya.

    Kehidupan Alex sudah ditentukan ke arah yang sepertinya tidak bisa diputarbalikkan sejak muda. Dia mulai merencanakan kehidupannya di sekitar minuman dan obat-obatan pada saat sebagian besar gadis seusianya hanya mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan rumah pra-aljabar mereka.

    Sepanjang masa remaja dan memasuki usia 20-an, Alex melanjutkan untuk melakukan tiga aborsi sekaligus terlibat dalam beberapa hubungan sesama jenis. Dia menjadi penari erotis dan memasukkan setiap obat yang terbayangkan ke dalam tubuhnya.

    Dia menemukan dirinya di penjara sebelum ulang tahunnya 21.

    Tetapi Alex segera menyadari, waktu itu di balik jeruji besi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya.

    Selama tiga tahun masa penjara, Alex diperkenalkan kepada Tuhan oleh sesama narapidana. Pada awalnya, kasih dari narapidana yang luar biasa ini mebuatnya frustrasi. Tapi ketika dia pergi, Tuhan mulai bekerja dalam hati Alex yang keras, membantunya memahami kedalaman kasih-Nya.

    Suatu malam, di tengah-tengah perenungan dan mencarian, Alex membaca tentang kehidupan Yohanes Pembaptis di dalam Injil Matius. Tergerak oleh cerita tersebut dan ide baptisan, ia menuju ke tempat mandi penjara yang terbuat dari logam dan dingin, di mana dia membaptis dirinya di hadapan Tuhan.

    Meskipun dia tidak benar-benar mengerti apa yang ia lakukan, Alex tahu dia membutuhkan sesuatu dan bahwa Yesus adalah hadiah yang terutama.

    Pada saat itu, dia menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.

    Setelah dia dibebaskan dari penjara, baik secara harfiah dan secara fisik, daya tarik Alex untuk wanita – di antara sejumlah kecanduan lainnya – secara ajaib hilang. Pergumulan terbesarnya sekarang adalah apa yang disebut di dalam kitab Filipi sebagai” pengetahuan dan kedalaman wawasan. “. Sesuatu yang dia tidak punya.

    Dia ditempatkan di sebuah rumah transisi selama 16 bulan. Selama masa ini ia mulai belajar dan mwmahami lebih banyak tentang nilai-nilai fundamental dari keKristenan.

    Suatu hari, ketika dia sedang memempelajari dan menyembah melalui video YouTube, Alex menemukan sekolah Alkitab di South Dallas dengan nama Christ for the Nations. Video penyembahan dari sekolah ini mulai menggerakan hatinya, dan dia memutuskan untuk pindah ke Texas. Setelah dia pindah ke Dallas dan terdaftar di sekolah tersebut, segala sesuatunya mulai masuk akal, dan hubungannya dengan Tuhan bertumbuh. Dia mulai mendapati dirinya menjadi kaku, dan lebih mencintai instruksi daripada Instruktur.

    Alex bertemu dengan seorang pria bernama Zach, ketika dalam pelatihan untuk perjalanan misi ke Cina. Dia membantu mengajarinya kebebasan di dalam Kristus dan menghidupi iman Kristen bukan sekedar mengikuti peraturan tetapi tentang menyembah Tuhan.

    Zach mengatakan dia dapat merasakan indahnya cerita yang terjadi di Yohanes 7 di mana Yesus menantang orang tanpa dosa untuk melemparkan batu pertama ke perempuan pezinah itu. Dia menyukainya karena dia tahu kedua sisi dari cerita tersebut.

    Dia dan Alex berpacaran selama satu tahun, dan menikah, dan Alex melahirkan seorang bayi perempuan yang manis bernama Olivia pada Oktober 2011.

    Sekarang Alex melayani di Jesus Said Love, organisasi mitra dari gereja The Village yang menjangkau para penari erotis di daerah DFW Metroplex dan mengajarkan mereka tentang kasih Kristus. “Pelayanan memberi saya begitu banyak pengharapan, membangkitkan iman saya dan menempatkan semuanya dalam perspektif, ” kata Alex. ” Meskipun semuanya itu adalah pengalaman hidupku, tapi hal itu mudah terlupakan.”

    Ini adalah alasan dia begitu gembira tentang bekerja dengan organisasi Jesus Said Love. Dia menyentuh kedalaman dosa, dan Yesus telah menebus dirinya. Sekarang pesannya kepada orang lain adalah sebuah proses restorasi. ” Saya tidak pernah bisa melihat seseorang dan berkata ‘ Anda sudah terlalu jauh untuk diselamatkan, ‘ ” katanya.

    Ini tidak berarti bahwa Alex tidak memiliki hari-hari yang sulit, tetapi ada maksud dari semuanya. “Saya akan senang kalau ketakutan bisa pergi begitu saja, tetapi itu tidak akan membuat saya tergantung pada Tuhan, ” katanya.

    Pada bulan Januari, ia dan Zach akan pergi menuju ke Filipina untuk menyelesaikan kredit kelas misionaris perguruan tinggi mereka. Sementara itu, Alex terus menghabiskan hari-harinya mengurusi Olivia dan bekerja di toko Etsy nya.

    ” Saya suka membuat barang-barang untuk orang dengan pemikiran bahwa mereka akan menggunakan dan mencintainya. Kadang-kadang, sama dengan cara saya berpikir tentang Allah,” katanya. ” Anda tahu, Dia menciptakan segala sesuatu bagi kita, untuk kesenangan kita, untuk kebaikan kita. ”

    Gairah untuk representasi visual tentang Kristus dalam kesenia adalah hal yang sangat mengilhami tato gelap yang tipis di lengan kanan Alex. Tatonya bertuliska ” Redeemed” (ditebus) dalam bahasa Ibrani dan tergagas dari cintanya akan kata-kata dari 1 Petrus 1:17-19 :

    Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

    Diadaptasi dari situs: http://www.thevillagechurch.net/article-stories/140411/alex-launius/

    Tim Dobelbower

    monkimage1

    Tim Dobelbower beranjak masuk ke kumpulan doa gereja The Village sebagai orang yang telah bersih sedikitnya lebih dari satu hari. Pergumulan dengan obat-obatan terlarang dimulai dengan ganja pada usia 13, dan lebih dari tiga dekade kemudian, masih berlangsung.

    ” Saya tidak ingin menarik perhatian untuk diriku sendiri, tapi saya ingin orang tahu di mana aku berada, ” kata Tim.

    Berawal dengan pengakuan dosa dan menghabiskan Senin malam dengan tangisan. Dia telah menghadiri Kelompok Sel secara sporadis, tetapi pemimpin kelompoknya bertahan san selalu mengecek dirinya.

    Dia telah mencoba berbagai program, beberapa seperti 12-steps, yang rasanya tak pernah berakhir dan berujung kembali lagi ke obat-obatan. Pemimpin kelompok Tim, Greg, bukan seorang ahli dalam hal kecanduan narkoba, tetapi ia bertanya apakah Tim telah mencoba untuk “berseru” kepada Tuhan. Bukanlah hal yang rumit, tetapi Tim mengakui bahwa itu salah satu cara yang belum pernah dia coba. Di dalam usahanya untuk mencoba membersihkan tubuhnya dari pesta mabuknya yang terakhir, Tim mencoba cara tersebut.

    “Saya benar-benar menangis. Dan saya ngat hari berikutnya, sepertinya sesuatu telah terangkat, ” katanya.

    Kristus Sealalu Ada Di Sana, Bekerja Di Dalam HAti Tim.

    Dia menelpon Greg hari itu dan mengucapkan dua kata sederhana : ” Aku selesai “. Greg mengundang Tim untuk bergabung dengannya ke kelompok doa gereja The Village untuk bulan Januari. Sejak itu, dia tidak menggunakan obat dan telah bergabung kembali ke Kelompok Se. Pandangannya tentang Injil dan perannya dalam hidupnya berubah sama sekali.

    ” Saya akan melakukan apa yang gereja ini minta saya untuk lakukan, ” kata Tim.

    Itu berarti menjalani hidup dengan keterbukaan dengan kelompok selnya dan memutuskan –hubungan-hubungan yang bisa menjerumuskan dia ke dalam dosa dan menjauhkannya dari Juruselamat -nya.
    Kristus bertemu dengannya di mana dia berada.

    Kristus selalu ada di sana, bekerja di hatinya saat dia berjuang untuk melepaskan diri dari obat-obatan dan mengejar kehampaan. Dia menggunakan saat-saat dalam kehidupan Tim untuk mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan datang.

    ” Tuhan tidak akan mengizinkanku untuk menutup tempat-tempat persembunyian. Ada kedamaian yang saya tidak pernah punya sebelumnya. Aku terus mengaku kesalahan saya ke kelompok sel saya, dan mereka menumpang tangan mereka pada saya, berdoa untuk saya dan tidak panik, ” katanya. ” Kalau ada gedung untuk para pendosa yang luar biasa, saya rasa saya mungkin punya ruangan khusus. ”

    Pergumulannya dengan obat-obatan belum berakhir, tapi dia memenangkan setiap pertempuran hariannya sejak Senin malam pada Januari 2013. Dosa seksual juga merupakan pergumulan berkesinambungan yang memerlukan akuntabilitas, pengakuan dan disiplin dikombinasikan dengan pengampunan ketika ia gagal.

    ” Saya memiliki lebih banyak sukacita dalam hati saya sekarang. Seakan-akan, hal ini sudah lama menunggu saya. Akuharus menjalani semuanya itu untuk menyadari satu hal yang benar2 berarti, dan itu adalah Kristus, ” kata Tim. ” Har-hari yang penuh keputusasaan yang pernah saya alami, dipakai Tuhan dengan baik untuk keselamatan dan pensucian saya. ”

    Hari ini, ia mengacu pada Kolose 1:13 sebagai pegangan sehari-hari akan identitas barunya, identitas yang tidak berpusat pada dosa yang sudah dia lakukan atau yang akan terus menghantuinya. “Dia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih;” tertulis di ayat tersebut.

    ” Aku bisa menerima bahwa saya tidak baik. Setiap dosa yang sudah terselesaikan, saya akan temukan dosa baru lagi yang Tuhan ungkapkan, dan hal itu sungguh indah bagi saya sekarang. Itu adalah karunia ” kata Tim. ” Ketika saya meninggalkan obat-obatan sebelumnya, saya pikir semua hal akan menjadi lebih baik. Saya ingin seperti orang yang sempurna, yang bisa mengendalikan semuanya. Saya menginingkan perubahaan secara eksternal, dan kadan itu terjadi, tapi hatiku tetap sama. ”

    Berseru dan menangis kepada Tuhan akhirnya membantu mengubah fokus dari hatinya, walau terperosok dalam dosa namun tetap memandang kepada Kristus untuk pengampunan dan penebusan, didertai dengan pengertian akan cinta-Nya yang tak berkesudahan dan kuasa dari kasih karunia-Nya.

    Cerita oleh David Ubben
    Foto oleh Jesse McKee

    Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/192701/tim-dobelbower/

    Keluarga Sudan

    monkimageAlex Sudan tidak bisa memutuskan bagaimana perasaannya tentang kepindahan ke Michigan. Kadang hari dia takut, kadang hari dia penuh pengharapan, tapi kebanyakan dia hanya bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga semuanya bisa sampai ke hal itu.

    Suaminya, Jason, adalah pencetus ide tersebut. Ketika Adam Thomason, mantan pendeta di gereja The Village, memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Flint, Michigan, dua tahun lalu, Jason berdoa bagi mereka dan pelayanan mereka.

    Doa tersebut diam-diam berkembang menjadi suatu visi, dan akhirnya Jason merasa terdorong untuk melakukan perjalanan dengan ipar laki-lakinya ke Detroit. Kemudian Jason pergi lagi, mengajak Alex dan putri mereka yang baru lahir, Hallie, ke kota di mana dia telah jatuh cinta secara perlahan.

    ” Sejak perjalanan pertama saya di sana saya ingin pindah. Perbedaannya adalah pelaksanaan impian saya dan mendoakan tentang hal itu, ” kata Jason.

    Alex lebih berhati-hati.

    Dia tidak melihat kepraktisan meninggalkan satu-satunya komunitas gereja yang telah mereka kenal setelah menikah dan melakukan perjalanan yang meletihkan ke negara bagian di ujung lain dengan bayi putri mereka.

    ” Salah satu sumber ketegangan bagi kita adalah bahwa aku seorang pemimpi, dan dia seorang praktis, ” kata Jason.

    Michigan kelihatannya menarik, tentu saja, dan Tuhan telah menyiapkan rencana yang ajaib “[Doa] ditambah dengan mengunjungi kota tersebut beberapa kali, Anda terus melihat jiwa-jiwa dan melihat kebutuhan, ” kata Alex.

    Tapi mengapa harus pindah?

    Jason benar-benar tidak tahu. ” Kami metuhankan kenyamanan. Kami memiliki rumah, anak-anak, penghasilan yang baik, keluarga kami ada di sini. Tidak ada alasan untuk pindah, ” katanya.

    Tuhan Terus ‘Menyenggol’ Hati Jason Dengan Berhala ‘Kenyamanan’ – Mengapa Dia Mengejarnya Dan Apa Artinya.

    Akhirnya Jason meninggalkan berhalanya. “Saya menyadari saya tidak semangat dengan banyak hal … Tidak ada satupun yang dapat menggairahkan saya lebih dari Tuhan. [Saya berpikir] bagaimana jika keluarga kami menghidupi Kisah Para Rasul 2:42-47 ? “.

    Setelah hari-hari penuh doa dan tangisan bersama, keluarga Sudan membuat keputusan.

    Pada musim panas 2012, mereka menanggalkan kepemimpinan Kelompok Sel yang mereka pimpin, meninggalkan gereja The Village dan mulai mengunjungi Antioch Community Church dengan tujuan untuk pindah ke Michigan sebagai bagian dari program pendirian gereja.

    ” Rasanya seperti tubuh saya tercabik-cabik ” kata Jason kerika meninggalkan The Village.

    Alex melanjutkan, ” Tetapi ini bukan tentang gereja The Village, ini tentang Tuhan. Kita harus mengalami itu secara langsung karena mereka mengatakan ‘ Pergi dan lakukan hal itu, kita ingin Injil dikenal di negara kita. ” The Village melakukan seperti yang mereka katakan. ”

    Misi keluarga Sudan masih penuh pertanyaan, tapi mereka tahu Tuhan memanggil.

    ” Kami merasa benar-benar yakin kalau Tuhan memanggil kita. Sungguh sukar, tetapai ada banyak kasih karunia, ” kata Alex. “Ada suatu daya tarik untuk hidup di luar dari kehidupan yang sudah kita kenal, ada sisi petualang dalam hal itu. ”

    Selama setahun ke depan, mereka akan dilatih dan dilengkapi dengan berbagai cara untuk membangun gereja baru dan tumbuh ke dalam peranan yang Allah panggil untuk mereka untuk berpartisipasi dalam gereja baru mereka, rumah baru mereka.

    Ini berarti semuanya, kecuali kenyamanan. Tapi Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3-4 bahwa ketidaknyamanan juga memiliki tujuan :

    ” Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

    Sebelumnya, Jason tidak tahu bagaimana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ” Mengapa Michigan ? ” Dan ” Mengapa harus Pindah ? ”

    Dia tahu sekarang.

    ” Ketika anak-anak Anda bertanya, ‘ Mengapa Anda pindah ke sini ? ‘ Saya bisa mengatakan, ‘ Tuhan mengubah kehidupan kita, dan kami ingin berbagi Injil dengan orang lain. ‘ ” Kata Jason. ” Saya ingin orang tahu bahwa Yesus adalah lebih penting daripada kenyamanan kita. ”

    Diadaptasi dari : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/179221/the-sudans/

    Stephanie Menginginkan Seorang Bayi, Tetapi Yesus Menginginkan Baginya Sesuatu Yang Jauh Lebih Baik

    Stephanie_Robins_940_400_90

    Stephanie Robins berjuang dengan keraguan dan ketakutan bahwa dia tidak akan pernah mengandung seorang anak. Ini adalah kisahnya dalam kata-katanya sendiri…

    Keinginan saya untuk menjadi hamil menghabiskan saya. Ketika suami saya dan saya menikah pada tahun 2002, kami tahu bahwa kami ingin segera memiliki anak. Kami tidak tahu kalau hal ini akam menjadi suatu perjalanan panjang bagi kami.

    Saya didiagnosa menderita Sindrom Ovarium Polikistik. Segera setelah itu, perawatan kesuburan dimulai. Satu demi satu perawatan tersebut membawa kegagalan. Selama tujuh tahun, upaya kami berharap untuk bisa hamil berakhir dengan kegagalan, dan impian kami untuk memiliki bayi mulai memudar.

    Sebuah Cahaya Di Dalam Kegelapan

    Sering kali, saya seolah-olah merasa saya melakukan sesuatu yang salah dan tidak pantas untuk memiliki seorang anak. Aku bertanya-tanya pada diriku apakah aku sedang dihukum. Adik perempuanku melahirkan setelah kegagalan perawatan kesuburaku yang pertama. Aku mulai berjuang dengan depresi yang berat dan mencoba bunuh diri. Rasanya aku ingin menyerah.

    Selama waktu kegelapan, teman-teman kami mengundang kami untuk pergi ke gereja NewSpring pada musim gugur tahun 2009. Setelah menghadiri, aku merasa sepertinya sesuatu yang lebih dari sekedar kemandulan terhilang dalam hidup saya.

    Keinginan untuk mempelajari lebih lanjut tentang Yesus ditempatkan di hati saya.

    Pengharapan Baru

    Suami dan saya tidak pernah menghadiri gereja secara konsisten. Kami hanya pergi kalau ada keperluan keluarga. Saya menerima Yesus sebagai Juruselamat saya dan dibaptis pada tanggal 13 September 2009 bersama dengan anak tiri saya. Suami saya menerima Yesus pada 4 Oktober 2009. Tidak terlalu lama setelah itu, anak tiri saya melakukan hal yang sama.

    Menjadi bagian dari NewSpring dan memiliki Yesus dalam hidup saya mulai mengubah pandangan saya pada perjuangan untuk menjadi hamil. Obsesi saya akan ketidakmampuan saya untuk bisa hamil, saya rubah ke arah Juruselamat saya.

    Perlahan-lahan, Yesus mengajarkan kepada saya bahwa Dia saja sudah cukup. Apalagi, Dia telah memberkati saya dengan seorang suami dan dua anak tiri yang cakap !

    Doa Dengan Kesungguhan

    Iman saya dalam Yesus tumbuh pesat. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar dapat menerima kemungkinan bahwa saya mungkin tidak pernah memiliki anak sendiri. Saya tahu bahwa rencana Yesus untuk hidup saya jauh melebihi saya. Suami dan saya berdoa dengan khusyuk bahwa jika itu kehendak-Nya, kita akan hamil.
    Pada bulan Agustus 2012, pada malam ibadah di Bi-lo Center, jawaban Tuhan atas doa-doa kami menjadi jelas ketika kami menyanyikan lagu ” Always”. Seketika, saya merasa Dia berbicara kepada saya ketika lirik, “AKU TIDAK AKAN MENUNDA ” sedang dinyanyikan dengan nyaringnya.

    Dua bulan kemudian, saya mendapatkan bahwa saya hamil ! Aku melahirkan seorang bayi perempuan yang sehat. Kami menamai dia Sadie Elizabeth. Sadie berarti “Rahmat” dan Elizabeth berarti “Janji Tuhan. ”

    Pada waktu-NYA

    Pada hari Minggu pertama saya kembali ke gereja setelah melahirkan, aku duduk di ruang khusush ibu dengan bayiku yang cantik dalam pelukanku. Band gereja mulai memainkan lagu “Always” dan saya tahu bahwa doa-doa kami yang dinaikkan dengan penuh iman telah dipenuhi.

    Melalui pencobaan saya, saya menyadari bahwa kadang-kadang jawaban Allah ‘tidak’ dan kadang-kadang ‘ya’. Tapi, Tuhan memberkati kita dalam waktu-Nya dan untuk kemuliaan-Nya. Iman baru saya di dalam Yesus membawa saya keluar dari depresi, dan saya meletakkan kekhawatiran saya di tangan-Nya.

    Saya telah belajar bahwa saya harus percaya kepada-Nya sepenuhnya meskipun keraguan dan ketakutan bahwa aku tidak akan pernah memiliki anak. Pada saat itu aku menginginkan bayi lebih dari segalanya, tetapi Allah tahu bahwa saya memerlukan sesuatu yang jauh lebih dari segalanaya : seorang Juruselamat.

    Diadaptasi dari situs : http://newspring.cc/blog/stories/stephanie-robins

    KELUAR DARI NERAKA : KESELAMATAN SARAH

    20140505_out-of-the-inferno-sarah-s-salvation_banner_img

    KELUAR DARI NERAKA : KESELAMATAN SARAH

    Nama-nama yang terlibat dalam cerita ini telah diubah untuk melindungi mereka. Walaupun semua detail yang berkaitan dengan keluarga mereka sudah dihapus, kita dapat mengatakan bahwa Sarah dan keluarganya telah diselamatkan dalam pergumulan yang akan diceritakan berikut dan keterlibatan mereka dengan Gereja Hill Mars telah membantu mereka untuk belajar dan bertumbuh dalam iman mereka.

    Sarah dibesarkan di sebuah keluarga yang pergi ke gereja. Dia masih aktif terlibat sampai usia 17, tapi ketika tahun-tahun yang penuh kegalauan, memasuki masa-masa remaja, dan semua keraguan akan manfaat gereja sampai pada puncaknya, dia terbawa menjadi ateis.

    “Pada saat itu, saya ingin melakukan apa yang saya mau, ” katanya.

    Dia juga mempertanyakan bagaimana mungkin Tuhan bisa nyata ketika, menurut pandangannya, Dia melakukan hal-hal tidak menyenangkan untuknya. Sarah kehilangan pria yang digambarkannya “Ayah yang Baik dan Hebat ” ketika dia baru berusia sembilan tahun. Ketika ibunya sedang berduka dengan kematiannya, seorang pedofil mengambil kesempatan dalam situasinya yang rentan, dan menjadi ayah tiri Sarah.

    Lebih dari pada itu, ibu Sarah menjadi seorang pecandu alkohol dan sulit untuk ditangani. Sarah memutuskan bahwa Tuhan itu sebenarnya keji atau memang tidak ada.

    ” Bagi saya, Tuhan – kalau Dia memang ada – bukanlah tuhan yang mau saya kenal, ” katanya.

    Jadi dia meninggalkan gereja pada umur 21, meninggalkan rumah untuk “memulai menjalani” hidupnya.
    ” Butuh waktu 16 tahun sebelum aku akhirnya mati-matian mencari Tuhan, ” katanya. Katalis dari kesadarannya adalah ketika kehancuran keluarganya saat suaminya ditangkap. Hal itu, menurutnya, menjerumuskan semuanya ke dalam tiga setengah tahun neraka

    PENGHAKIMAN

    ” Kami bisa melewati semuanya itu hanya dengan mencari Tuhan di tengah-tengah kengerian, mengalami kasih karuniaNya yang luar biasa dan melihat bawha sesungguhnya Dia selama bertahun-tahun ini tidak tinggal diam, ” kata Sarah. “Dan kami masih melakukannya. ”

    “Kami sejak dulu sampai sekarang adalah keluarga taat hukum yang terjebak dalam sesuatu tidak pernah terbayangkan”

    Suatu Sabtu pagi Sarah pulang ke rumah dari kelas balet gadis kecilnya dan disambut di pintu oleh ibunya. Polisi datang ke rumah, mencari, dan menangkap suaminya, Jim. Dia didakwa dengan perdagangan narkotika dan seketika divonis 14 tahun penjara.

    Merasa terhina, Sarah melihat seluruh struktur kehidupan sehari-harinya runtuh.

    ” Saya berusaha keras untuk berpegang pada pada pemikiran siapa saya yang sebenarnya, ketika tiba-tiba, saya benar-benar tidak tahu siapa saya lagi dan, juga, tidak yakin siapa sebenarnya pria yang saya nikahi ! ”

    Tuduhan terhadap Jim sangat rumit. Pada kenyataannya, dia memang membantu menyelundupkan narkotika. Dia telah berulang kali dipaksa oleh seorang rekan kerjanya untuk membantu mengantar sebuah paket ganja. Setelah menolak beberapa kali, ia akhirnya menyerah kepada tekanan dan setuju. Ketika dia mencoba untuk mundur, dia diancam dengan todongan senjata.

    Jim tertangkap dengan paket tersebut di tangannya. Ketika polisi membukanya, mereka menemukan sejumlah besar obat-obatan – bukan sekedar ganja, seperti yang diharapkan, tapi apa yang didefinisikan oleh Badan Pengawas Obat-obatan Terlarang sebagai Obat Terlarang Kategori 1, klasifikasi untuk obat-obat terlarang keras yang paling berbahaya.

    Hanya dalam semalam, keluarga Sarah menjadi terkenal dan reaksi social segera terjadi. Para teman dan keluarga tidak mau berhubungan dengan mereka lagi. Langsung cemoohan yang tajam, dan tanpa tahu semua faktanya, jatuh atas Sarah, suaminya, dan anak-anaknya . Mereka tiba-tiba menjadi ” orang-orang itu “.

    ” Satu hari saya menjalani kehidupan sehari-hari seperti biasanya, hari berikutnya saya terjerumus menjadi paria masyarakat, ” kata Sarah. “Beberapa hari setelah suami saya ditangkap, aku berada di kamar hotel menunggu sidang pengadilan hari berikutnya. Di laci samping tempat tidur saya ada sebuah Alkitab, saya mengambil dan membukanya. Saya berdoa, ‘ Tuhan jika Engkau nyata,tunjukkan apa yang harus saya baca. Saya tidak tahu harus mulai dari mana. ‘ ”

    Allah membawanya ke Yohanes 8:07 : “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”

    Ingatan segar akan cemoohan teman-teman dan keluarganya masih dalam pikirannya, Sarah tertegun. Ayat tersebut benar-benar yang dia perlu dengar pada saat itu. Dia bertanya-tanya bagaimana bisa bahwa dalam buku yang berisi ribuan kata, beberapa kata yang ia butuhkan bisa terungkap di saat dia membutuhkannya.
    ” Saya tidak mungkin mendapatkan kata-kata yang lebih tepat, dan dari sumber yang lebih baik, yang akan membantu saya untuk melewati masa-masa sukar. Ini sungguh menunjukkan kepada saya bahwa Tuhan itu ada. ”

    Itu adalah awal dari pencarian Sarah tentang Tuhan. Dia ingin tahu siapa Tuhan yang sepertinya tahu persis apa yang dia butuhkan. Beberapa bulan kemudian, dia menemukan Yesus melalui pelajaran Alkitab yang diadakan oleh rekan kerja dan istrinya untuk dia.

    ” Di tengah-tengah itu semua, saya tidak bisa menyangkal lagi bahwa Yesus – adalah – penyelamat saya dan akan menjadi teman sejati yang saya miliki untuk membantu saya mengatasi semuanya, ” katanya. ” ’Jejak Kaki di Pasir’ datang ke pikiran. Dia membawa saya begitu banyak kali melalui cobaan ini, saya ragu apakah ada pernah dua set jejak kaki di perjalanan saya di pantai dengan Dia! ”

    ALLAH DI ATAS ‘NERAKA’

    Semua peristiwa-peristiwa di mana Tuhan membawa Sarah melalui setiap rintangan dalam dunia, hanya dia bisa bayangkan hanya ada di dalam drama-drama televisi.

    ” Semuanya penuh misteri dan tipu muslihat ” kata Sarah, ” tapi itu semua dilakukan untuk mencoba dan menjaga Jim agar tidak masu ki penjara, dan juga dengan pemikiran akan keselamatan anak-anak dan saya.”

    Jim bersedia untuk bersaksi di pengadilan dengan apa yang ia tahu, membuat dia dan keluarganya menjadi target dari beberapa orang yang berbahaya. Serangan dan ancaman dilancarkan untuk Jim, serta Sarah dan anak-anak mereka, dalam upaya untuk membungkamnya.
    ” Jim diancam ketika di dalam penjara dan harus dipindahkan ke isolasi untuk keselamatan, di mana ia tinggal selama satu bulan, ” kata Sarah. “Selama waktu itu ia hanya memiliki sebuah Alkitab, dan membacanya dari awal sampai akhir. Tuhan berbicara sangat jelas kepadanya saat itu bahwa Dia akan menyertainya dengan aman. ”

    Sementara Jim sedang bekerja sama dengan pihak berwenang, dia masih bermasalah dengan keputusan pengadilan sebelumnya. Sarah berjuang keras untuk mendapatkan suaminya banding. Sementara itu, dia mencoba untuk memberikan lingkungan rumah yang aman dan penuh kasih bagi anak-anaknya dengan harapan bahwa entah bagaimana mereka bisa memiliki masa kecil yang normal. Ketika mereka bertanya kapan ayah mereka pulang, Sarah tidak memiliki jawaban. Sangat tidak mungkin untuk merencanakan apa-apa. Anak-anaknya bertanya-tanya apakah dia akan berada di sana untuk ulang tahun mereka, Natal, atau acara khusus lainnya. Teman-teman mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mereka tidak bisa jawab.

    Sarah bahkan tidak tahu apakah, pada akhirnya, suaminya akan mendapatkan banding, apalagi pulang ke rumah. Jika dia tidak bisa banding, dia tidak tahu kapan dia akan disidang lagi atau apakah persidangnya bisa berhasil. Dan jika persidangannya berhasil, apakah hanya akan mengurangi masa tahanan atau benar-benar membebaskannya. Semua yang dia tahu pasti adalah bahwa, jika dia tidak berhasil entah bagaimana dalam siding banding, Jim akan kehilangan 14 tahun berikutnya dengan keluarganya. Anak-anaknya akan sudah dewasa pada saat itu.

    ” Saya tidak tahu apakah dari satu hari ke hari berikutnya jika pengacara melakukan sesuatu agar kasusnya bergerak maju, ” kata Sarah. ” Mereka selalu perlu didorong dan didorong terus untuk melakukan apa pun – itupun kalau berhasil menghubungi mereka. Semuanya sangat melelahkan dan inilah mengapa saya membutuhkan Yesus begitu sangat. ”

    Sarah berjuang selama berhari-hari, yang mengulur menjadi minggu, bulan, dan tahun. Ini adalah pertempuran yang tidak pernah berakhir dengan pengacara dan pihak-pihak berwenang. Selama tiga tahun ia terus seperti ini. Pada tahun ketiga, suaminya melakukan suatu puasa yang ekstrim, bertahan tanpa apapun kecuali hanya dengan kopi, teh, jus, dan air selama 40 hari.

    ” Dia hanya kelihatan menjadi lebih kurus dan kurus, pada setiap kunjungan, ” kata Sarah. ” Dia tidak memberitahu saya bahwa dia berpuasa jadi saya sangat khawatir! Lucunya – semuanya masih ada di dalam control Tuhan. Menyusul hal ini terlihat mulai adanya pergerakan dari para pengacara. ”

    Tiga setengah tahun ke dalam pergumulan, mereka menerima jawaban : Jim akan menerima naik bandingnya. Mereka memiliki dua hari untuk mempersiapkan.

    “Semuanya belum dipersiapkan, ” kata Sarah. ” Suami saya khawait dan saya ketakutan, seperti yang kita tahu bahwa jika ini tidak berhasil, tidak akan ada kesempatan lebih lanjut untuk naik banding lagi dan kami tidak akan dipersatukan kembali sebagai sebuah keluarga sampai anak-anak kita sudah dewasa dan siap untuk meninggalkan rumah.”

    “Kemudian, Allah bekerja untuk menenangkan badai yang mengamuk. Sehari sebelum banding ketika saya mengantar anak-anak ke beberapa teman untuk dititipkan, saya melewati sebuah gereja. Kata-kata yang keras dan berani terpampang pada poster di luar yang mengatakan, ‘Jangan takut akan hari esok, Allah sudah hadir di sana. ” Di sini, sekali lagi menyatakan Allah yang saya layani – adalah benar, teguh, dan batu karang di mana saya berdiri. Segera aku tenang. Aku menitipkan anak-anak, pergi ke pengadilan dengan keberanian di darahku, berurusan dengan pengacara, dan menyiapkan segala sesuatunya. ”

    Allah memberikan Sarah dan suaminya seorang pengacara baru yang luar biasa. Mereka berjalan ke pengadilan, pengacara membuat kasusnya, dan Jim dibebaskan dari penjara.

    SISI LAIN DARI PENDERITAAN

    Buah dari masa-masa pahit ini telah menjadi manis. Keluarga Sarah mengasihi Yesus dan secara aktif melayani Dia. Dia melihat dalam diri anak-anaknya, suatu sifat menyayangi yang jelas, dan pengertian kepada mereka yang menderita.

    ” Semua ini adalah buah dari tahun-tahun gelap yang kami alami,” kata Sarah. ” Kita semua mencintai Yesus dan tidak pernah ingin berpisah dari Dia. ”

    Jim dan Sarah diperkenalkan ke Gereja Mars Hill dan Pastor Mark setelah membaca sebuah artikel di majalah Kristen.

    ” Pendekatan tanpa kompromi-nya membuat kami sangat ingin mendengar apa yang dia katakan. Kami telah mendengarkan khotbah-khotbah Mars Hill hampir setiap malam. Mereka menantang kami, menginspirasi kami, memberi kami makanan rohani, dan membuat kita mau mengetahui lebih lagi. ”

    Salah satu pelajaran bagi Sarah dari tahun-tahun dalam kegelapan adalah memeperlakukan semua orang dengan sama, tanpa peduli melihat latar belakangnya.

    ” Allah mengingatkan kita pada waktu itu bahwa kita semua adalah orang berdosa, ” kata Sarah. “Tak satu pun dari kita yang bernilai lebih dari orang lain, bagi Dia kita semua sama – terlepas dari kejahatan yang dilakukan, atau kesalahan yang telah terjadi. Banyak orang-orang penjara yang menemukan Yesus ketika mereka menjalani hukuman, dan tetap berkomitmen kepada kekristenan selama sisa hidup mereka. Suatu hari nanti, kita akan berbagi surga dengan banyak jiwa-jiwa yang di mana ketika kita masih di dunia, kita berusaha menghindari mereka. Saya tahu bagaimana rasanya menjadi korban hinaan dan bisa mengerti dengan orang-orang yang di dalam situasi seperti ini. Banyak orang yang dengan jelas menyebrang jalan,membalikkan badan dan berjalan menuju ke gereja hanya karena mereka mau menghindar untuk berbicara dengan kita. Beberapa bahkan mengejek kami dan menganggap dirinya lebih tinggi dari kami. Tapi kita semua sama bagi Allah ; tidak ada yang tidak berdosa. Setiap orang dari kita bisa ada di sini hanya karena kasih karunia Allah, dan bisa memiliki harapan dan masa depan karena kasih karunia-Nya. Yohanes 8:7 memberiku pemahaman pertama saya tentang kekuatan yang bisa saya andalkan untuk minggu-minggu, bulan, dan tahun-tahun mendatang, dan ayat tersebut telah menjadi pijakkan kaki saya di jalan untuk menemukan Yesus sebagai penyelamat pribadi saya. ”

    Ditranslate dari situs : http://marshill.com/2014/05/05/out-of-the-inferno-sarah-s-salvation