Category Archives: Kemenangan

Irwan : Suami, Ayah, Gembala, Realtor, Restaurateur …

BC_3.5x2.eps

Irwan Ngadisastra adalah seorang gembala dan juga entrepreneur. Dia tinggal dengan istri dan 3 anak laki-lakinya di kota Kirkland, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Kesibukan sehari-harinya diisi dengan memimpin Gereja Injil Sepenuh Internasional (GISI/IFGF) Seattle (www.ifgfseattle.org), menjadi agen real estate (www.seattleidealhomes.com), dan mengelola restaurant Indonesia-nya ‘Indo Café’(www.myindocafe.com). Kebangkitan.org mendapat kesempatan untuk mengajak beliau makan siang, sambil berbincang sejenak tentang Kristus, kesaksian hidupnya, keluarga, gereja, harapan dan usahanya.

K (Kebangkitan.org): Saya sudah sering mendengar khotbah anda tentang pertobatan anda. Bisa tidak menceritakan sedikit keadaa anda sebelum bertobat

IN (Irwan Ngadisastra): Saya datang dari latar belakang dan keluarga Budha. Tapi pada dasarnya saya lebih cenderung atheis. Orang tua saya mungkin beragama Budha, tetapi saya sendiri tidak pernah memikirkan tentang Tuhan. Saya pindah ke Singapur waktu umur 8 atau 9 tahun. Di sana saya sendirian dan tidak bersama orang tua. Jadi lingkungannya tidak terlalu safe. Karena itu, saya memutuskan untuk ikut dalam geng. Jadi anggota geng, karena saya butuh perlindungan, dan tidak mau di-bully. Pada awalnya, semuanya baik sih. Tapi karena anggota yang lain sudah lebih tua, maka saya mulai ikut-ikutan merokok, cobaan marijuana, alkohol dan going clubbing. Malah ada suatu saat hampir masuk ke prostitusi … tapi pada saat itu masih ada rasa takut kena sakit AIDS. Jadi tidak jadi …

K : Wow … mungkin tidak ada yang bisa nyangka kalau melihat anda sekarang yah apalagi sudah berkeluarga dengan 3 anak.

IN : Hahaha … pastinya sih yah … hahaha waktu itu saya juga ada anger problem. Mudah naik darah. Kalau saya berantem dengan papa saya … wah pokoknya dahsyat.

K : Haha … mungkin karena anak pertama yah. Pengalaman saya anak pertama emang rada keras yah

IN: Mungkin juga yah. Dan juga ditambah dengan ekspektasi dan juga bawaan dari orang tua. Orang tua mengharapkan saya untuk tinggal sendirian, jadi akhirnya, yang terlibat banyak masalah. Ketangkep polisi juga pernah. Berantem pernah. Masuk rumah sakit pernah, sampai mau memukul papa dengan palu pun pernah. Jadi yah begitulah life was crazy. Terus suatu hari, kira-kira saya umur 15 pada waktu itu, ada teman, yang punya koneksi dengan geng saya, tapi bukan anak geng, lalu dia undang saya ke gereja lah. Mulanya, sih saya gak mau, pikirannya “Ngapain juga ke gereja”. Tapi kemudian dia ajak terus dan trick me a little bit, dia bilang “Banyak cewe lah” atau “Banyak teman”.

K : Hahaha … cewe yah, alasan yang bagus untuk ke gereja

IN: Hehehe … iyah. Tapi etelah 1 – 2 minggu, saya bilang ke dia, bagaimana kalau saya tidak ke gereja, tapi pergi kumpul-kumpul atau makan bareng saja setelah gereja. Tetapi teman ini lumayan berani juga, dia bilang “Sorry, tidak bisa. Kalau tidak ke gereja, tidak boleh hang out” Hahaha … yah akhirnya saya terpaksalah ke gereja dan juga karena cewe-cewenya cakep cakep … hahaha. Tetapi 2-3 bulan setelah pergi ke gereja, saya merasakan Firman Tuhan menjamah dan mengetuk hati saya. Saya bilang ke Pendeta tentang jamahan tersebut. Lalu, dia mengajak saya mengikuti Pendalaman Alkitab. Saya ikut pendalaman Alkitab dan kemudian menerima Yesus. Sejak itu saya tidak pernah lihat ke belakang. Puji Tuhan, Tuhan memberikan saya pertolongan. Saya bisa lepas dari keanggotaan geng, dengan hanya ngomong kalau saya mau berhenti dan mereka mengijinkan.

K : Wah Luar Biasa

IN: Yep ! Jadi saya menerima Tuhan pada tahun 1990, dibaptis dan tentu saja orang tua saya tidak setuju. Tetapi saya terus maju dan tidak mundur, saya terus melayani Tuhan dan menjadi saksi bagi mereka. Singkatnya, malahan sekarang ke dua orang tua saya menerima Yesus dan malahan mereka yang menjadi pendukung yang terbesar untuk pelayanan saya. Semua anggota keluarga saya, dari adik-adik dan sepupu dan juga saudara jauh, mereka menerima Yesus.

K : Grace is awesome

IN: Iyah ada satu cerita yang menarik. Saat itu sepupu saya sudah banyak yang menerima Yesus, lalu saya dipanggil oleh Mama mereka, jadi dia itu auntie saya. Dia bilang ke saya begini “ Wan, saya tidak keberatan kamu khotbah-in anak-anak saya jadi kenal Tuhan. Bagus dan saya tidak keberatan. Saya tidak marah sama kamu, tapi cukup di sini saja. Saya tidak bakalan mau jadi orang Kristen, saya tidak mau di-khotbah-in, saya tidak mau di-injil-in, saya sudah bahagia jadi orang Budha, dan saya mau jadi pendeta Budha.” Tetapi kemarin ini pada bulan Juni ketika saya balik ke Indonesia, untuk mengikuti Harvest Festival, Mama saya bilang ke saya, kalau ternyata auntie saya itu sudah terima Tuhan Yesus juga … hehehehe

K : Hahaha … Never say never

IN: Yah … jadi What can I say Tuhan Yesus jauh lebih besar dari semua yang apa kita bisa pikirkan. Makanya Firman Tuhan telah mengatakan No eyes have seen, no ears have heard, and no mind can conceive what the Lor can do dan itu semua terjadi di dalam keluarga saya.

K : Amen to that … emang benar. Setelah pertobatan, Anda pindah ke Eugene, Oregon. Dan kemudian pindah ke IFGF Seattle.?

IN: Yep.

K : Lalu Anda ketemu istri Anda di sini ?
IN : Yes. Hehehe … ketemu istri saya dan menikah di sini. Dan sekarang punya 3 anak, dan luar biasa lah. Cita-cita tidak pernah mau jadi pendeta sih. Saya benar-benar tidak berpikir mau jadi pendeta. Lebih mau jadi pengusaha. Tetapi melihat ke belakang, Tuhan selalu menempatkan kita di mana Dia mau tempatkan kita. Tuhan sudah ada posisi bagi kita, di mana Dia mau menempatkan kita.

K : Iyah benar

IN: Sama seperti Elisa, Dia menyuruh Elisa untuk menjaga domba-domba di padang rumput, walaupun Elisa tidak tahu untuk apa. Tetapi kemudian, die bertemu dengan Elia.

K : Iyah benar. Kadang saya merasa semua sudah ada waktunya, ada season-nya. Di mana Tuhan mempunyai waktunya sendiri kapan dan dimana.

IN: That’s true .

K : Sekarang bagaimana perasaan Anda. Anda hanya baru-baru ini saja menjadi Gembala di IFGF Seattle. Bagaimana tuh perasaaan anda ?

IN: Mulanya sih … saya tidak mau. Dari hati saya yang terdalam, saya benar-benar tidak mau.

K : Hahaha … iyah saya kenal Anda sudah lama. Saya tahu Anda lebih mau jadi businessman

IN: Iyah sih hahah tapi jangan salah yah … saya cinta banget untuk melayani Tuhan, mengasihi gereja saya dan orang-orangnya. Tetapi bukan dalam konteks menjadi seorang Gembala. Tetapi melihat 2-3 tahun ke belakang ini, saya menyadari Tuhan sudah memposisikan saya untuk hal ini. Orang-orang yang saya harapkan untuk memimpin gereja, malah dipindahkan ke gereja atau ke kota lain. Jadi Tuhan seakan menyudutkan saya, dan mau tidak mau saya harus menerima panggilanNya. Lalu saya benar-benar doa dengan sungguh “Bagaimana nih Tuhan, tidak ada yang bisa ganti. Saya tidak ada pengalaman, tidak ngerti.” Saya menyadari Gembala gereja ini yang dulu, tidak akan kembali. Jadi saya berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan membuka jalan bagi saya. Saya bilang ke Tuhan “Tuhan saya terima posisi ini, TETAPI Kamu yang harus memimpin”.

K : Lalu bagaimana ?

IN: Saya bisa melihat pergerakan dari Roh Kudus sih ! BAM !. Benar-benar tidak bisa terbayangkan dan dahsyat. Pesan-pesan Tuhan ketika saya mempersiapkan seri-seri khotbah untuk kebaktian Minggu, saya tidak punya pengalaman, tetapi khotbah-khotbah itu tidak hanya untuk jemaat tetapi juga berbicara ke pada saya. Semuanya jadi tepat gitu.

K : Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua yah. Tidak hanya berbicara kepada yang dituju, tetapi juga kepaya pembicara.

IN: Iyah. Saya benar-benar excited, bahakan untuk seri-seri khotbah yang akan datang.

K : Apa yang menjadi tantangan terbesar dari pelayanan anda ? Bagaimana Anda bisa konek dengan generasi-generasi yang jauh lebih muda sedangkan Anda dari generasi jauh lebih ‘dewasa’ hahahaha … belum tua sih

IN: Tantangannya bukan soal perbedaan umur sih. Melainkan gereja ini sudah 20 tahun dibangun berdasarkan college kids . Jadi mereka transient, mereka berganti terus menerus, jadi rumit untuk membangun rumah sedangkan pekerjanya terus berganti. Jadi untuk beberapa tahun ke depan, tujuan kita adalah untuk membangun gereja yang multi generasi dan multi nationality. Jadi fokusnya tidak hanya ke orang-orang Indonesia, tetapi juga ke negara-negara lain. Secara pribadi, saya tidak ada kendala untuk ‘konek’ dengan orang-orang muda, karena syaa sendiri belum berasa tua hehehe

K : Memang tidak terlihat sudah berkeluarga sih

IN: Iyah hahahah … misalnya kalau sesudah prayer meeting, saya diajak untuk ngumpul-ngumpul. Saya pergi saja dengan mereka. Dan mereka juga tidak merasa “Eh ada Pendeta nih, jadi kita mesti jaga omongan !”, tetapi mereka sih bisa bicara apa saja.

K : Wah bagus dong.

IN: Oktober ini kita akan mulai menjangkau komunitas di sekeliling kita. Acara pertama yang akan kita adakan yaitu Fall Kids Festival. Kita akan mau melayani tetangga-tetangga kita yang berpendapatan rendah, mereka yang butuh makanan atau kebutuhan. Kita akan mulai membantu mereka.

K : Tuhan bekerja dengan luar biasa yah. OK sekarang kita beralih sedikit ke bisnis anda. Saya mau mencoba nanti untuk merger kembali ke pelayanan. Kapan Anda mulai berwiraswasta?

IN: 10 tahun lalu.

K : Bagaimana kamu tahu kalau Tuhan juga memanggil kamu untuk menjadi wirausahawan ?

IN: Saya tahu aja sih. Dari muda, syaa sudah tahu itu yang saya mau lakukan. Tadinya saya kerja dengan suatu perusahaan, sudah 7 tahun. Saya benar-benar tidak bahagia. Bukan karena bosnya atau pekerjaannya. Tetapi saya tidak merasa terpuaskan. Pikiran pertamanya, mungkin perusahaannya kurang menantang, lalu saya pindah ke perusahaan telekomunikasi yang besar. Saya hanya bekerja 4 hari di sana, karena Tuhan membuka mata saya. Corporate world is not for me. Saya benar-benar tidak bahagia. Boss saya berusaha menaikkan gaji dan memberikan pesangon yang lebih bagus, tetapi saya tolak. Saya mulai terjun ke dunia real estate. Tentu saja dunia real estate sangat volatile dan tidak menentu.

K : Resiko yang sangat besar yah ?

IN: Yep. Tetapi Tuhan memberi saya pertolongan dan anugerah. Bos saya yang lama menelpon saya dan memberikan saya petunjuk. Dia malahan membantu saya. Dia meminta saya untuk terus bekerja di perusahannya, dan kalau saya ada keperluan untuk bisnis real estate saya, saya boleh pamit kerja kapan saja, tanpa halangan. Itu benar-benar pertolongan Tuhan yang sangat besar, tidak ada di dunia ini perusahaan yang sebaik itu.

K : I know WOW !

IN: Jadi saya bekerja seperti itu selama 18 bulan.

K : Tak pernah terpikirkan yah pertolongan Tuhan. Lalu kapan mulai masuk bisnis restoran, dengan membeli Indo Café ?

IN: Kira-kira 5 tahun yang lalu. Sudah 5 tahun loh. Tidak terasa.

K : Bagaimana kamu bisa membagi waktu untuk semuanya?

IN: Itu semua benar-benar pertolongan Tuhan sih. Waktu kita memulai Indo Café, saat itu benar-benar gila. Tapi Tuhan memberikan saya bantuan. Waktu itu ada salah satu pekerja saya yang namanya Randi, dia itu sekolah kuliner. Dia menghadap saya dan meminta tanggung jawab yang lebih lagi. Saya bilang, “Kamu mau pekerjaan seperti apa?”, dia bilang “Saya lulus dari sekolah kuliner dengan spesialisasi Kitchen Management”. Lalu saya bilang “Wah saya tidak sanggup menggaji kamu, saya juga baru buka”. Lalu dia membalas “Dengarkan dulu penjelasan saya, Papa saya sudah menyediakan saya biaya hidup untuk 1 tahun, jadi saya mau membantu Indo Café untuk 1 tahun. Anda tidak perlu membayar saya. ” Jadi dia bekerja untuk saya tanpa bayaran selama 1 tahun, dia yang membangun semua sistemnya di Indo Café jadi streamline. Dengan demikian saya tidak perlu terlalu banyak memonitor langsung ke sana. Dan dia juga menjadi acting manager selama itu.

K : Bagaimana dengan bisnis realtor nya ?

IN: Sama apa yang terjadi di bisnis restoran, terjadi juga dalam bisnis realtor saya. Tuhan pasti yang bawa klien. Awalnya 2 tahun pertama, banyak tantangan. Ada pesaing lain yang bermain kotor dan mengambil beberapa klien saya, sehingga saya tidak dibayar. Tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya, kalau berkat semua adalah dari Dia. Kadang sukar untuk mempercayai hal itu, ada suatu perasaan “Tuhan, tidak adil dong ! Dia curang dan mengambil klien saya!”. Melihat ke belakang, saya menyadari kalau semua klien yang dia curi ternyata banyak yang tidak memenuhi syarat dan sukar untuk diatur. Kebalikannya, klien yang ke saya semuanya mudah, sangat loyal dan bahkan sangat royal. Makin lama saya makin menyadari, saya di bisnis ini sudah hampir 10 tahun, 7 tahun berturut-turut saya termasuk Top Produser dalam Franchise saya. Saya selalu masuk 10 besar, 7 tahun berturut-turut !

K : Kagum saya. Jadi dengan kesibukan seperti itu keluarga, mengurus gereja, mengurus 2 bisnis, bagaimana tuh membagi waktu dalam 1 minggu ?

IN: Saya selalu pulang ke rumah hampir tiap malam untuk makan malam dengan keluarga, kecuali hari Kamis. Kamis di gereja ada kumpulan doa. Dan baru-baru ini kita memulai Pendalaman Alkitab, juga hari Kamis malam. Hari Sabtu, kita ada juga Pengenalan Alkitab. Dan benar-benar lagi berkembang. Banyak peminatnya, sering menelpon untuk diikutkan dalam kelas-kelas Alkitab tersebut.

K : Orang-orang rindu untuk dilengkapi. Dalam dunia yang banyak informasi simpang-siur, orang rindu untuk mendengar kebenaran yah

IN: Iyah … jadi yah dasarnya saya membagi waktu saya dengan mengelompokkan kegiatan. Dengan demikian saya tidak perlu menyetir mobil bolak-balik dan menghemat waktu.

K : Ok. Bagaiamana tuh dinamiknya antara menjadi gembala dan pengelola bisnis ? Misalnya kalau ada pekerja yang juga jemaat Anda dan muncul konflik, misalnya kalau mereka mungkin lalai ?

IN: Nomor satu, saya bukan orang yang suka teriak. Saya tidak suka teriak-teriak ke orang, jadi kalau mereka mungkin melakukan kesalahan. Biasanya, saya panggil dan omongan dengan respectful. Dan kalau orang diomongin dengan baik, hasilnya mereka juga akan merespon dengan baik.

K : Kalau di Real Estate bagaimana, mungkin klien Anda ada yang rumit dan juga jemaat Anda ?

IN: Ada sih beberapa yang begitu. Tetapi yang paling penting nomor 1, yaitu kita harus pertahankan integritas kita dan nantinya juga bisa diselesaikan dengan baik. Itu nomor 1. Nomor 2, jangan berpikir karena mereka teman, maka kadang-kadang kitanya jadi lalai. Saya tidak begitu, saya selalu tegas. Kalau ada dokumen yang memang harus dilengkapi dan diperlukan, maka saya akan meminta klien saya untuk melakukannya. Saya tidak bisa bilang “Tidak apa-apa”. Untungnya juga, dalam bisnis ini saya juga diawasi oleh broker lain, jadi ada bagusnya. Tapi yang paling penting, saya selalu menjaga integritas dan kejujuran.

K : Tantangan terbesar menjadi Gembala dan Pengusaha ?

IN: Hmmm … tidak ada sih. Biasa-biasa saja. Malah kadang itu bagus, supaya kita bisa lebih transparant. What you see is what you get. Jadinya kehidupan kita tidak beda antara di gereja dan ketika saya membawa anda melihat rumah. Mungkin khotbah saya tidak seperti pendeta professional, jadi yah saya ngomongnya kaya gini lah ! Seperti teman ke teman !

K : Apa sukacitanya menjadi orang yang bisa multi-fungsi, kepala keluarga, gembala dan pengusaha ?

IN: Sukacita terbesar yaitu melihat banyak kehidupan orang lain berubah. Jadi begini, kalau saya hanya sekedar pendeta professional, kadang hanya banyak teori. Tetapi dengan menjadi multi-fungsi, dinamik nya berbeda. Misalnya anak-anak jemaat saya, mereka bisa ikut-ikut ke liburan keluarga saya. Mereka bisa lihat kelemahan saya, kejelekan saya, jadi semuanya transparan. Mereka tahu saya suka makan atau bagaimana. Jadi sukacita yang terbesar jadinya yah saya langsung terlibat dalam kehidupan. Satu contoh yang saya pernah alami, yang bisa memberikan gambaran dinamika dari kehidupan saya. Waktu itu saya membawa klien untuk melihat-lihat rumah. Dan Klien ini adalah orang tua dari salah satu jemaat saya. Sebelumnya, saya tidak mengenal mereka. Setelah semuanya selesai, mereka mengundang saya untuk berbincang-bincang. Kemudian yang terjadi, mereka bercerita tentang konflik yang terjadi dalam keluarga mereka. Akhirnya, saya harus merubah fungsi dari Realtor dan menjadi Gembala. Saya memberikan konsultasi dan nasihat. Beberapa waktu kemudian, ketika ketemu lagi, mereka bilang bahwa semuanya mulai membaik. HAL seperti inilah yang membuat saya bergairah untuk melakukan kegiatan saya tiap pagi. Saya bisa langsung memberikan dampak bagi kehidupan orang.

K : Istilahnya Anda tidak hanya memberikan teori untuk menjangkau orang, tapi langsung turun ke kehidupan.

IN: Iyah. Bayangkan kalau sedang menunjukkan klien rumah, itukan bisa berjam-jam di dalam mobil. Jadi saya bisa banyak berbincang dengan mereka. Klien-klien saya pun ada yang berasal dari agama lain, Budha misalkan. Lebih lagi, generasi sekarang sudah makin kritis. Mereka bisa menilai dari kehidupan kita. Kalau kita memiliki kehidupan ganda (beda di gereja dan di bisnis, misalkan), mereka akan menolak dengan cepat. Bagi saya, semua keraguan atas kehidupan saya bisa terjawab. Mereka bisa melihat siapa saya sebagai gembala, sebagai pengusaha dan sebagai atasan. Apakah saya sempurna ? Tentu saja tidak sama sekali. Mereka bisa melihat kelemahan saya.

K : Legacy apa yang Anda mau berikan untuk anak-anak Anda ? Anda melakukan semua ini sebagai ayah, pendeta dan pengusaha ?

IN: Hanya 2 hal. Yang pertama, terus mempertahankan nama baik mereka. Dengan cara menjaga integritas dan kejujuran. Nanti ketika dalam kesulitan dan keperluan, pertolongan akan datang kalau mereka bersih. Yang ke dua, seperti yang Alkitab bilang “…Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”. Itu yang jadi prinsip dari keluarga kita. Kadang hal itu sukar, apalagi di IFGF bersifat gereja transitional karena orang datang dan pergi. Kadang saya berpikir mungkin lebih baik kalau saya tidak berpartisipasi terlalu banyak, apalagi saya sudah sibuk dengan pekerjaan. Tetapi karena prinsip kita yang dari dulu, maka kami berusaha kuat dan menjalani saja. Kenyataannya semuanya juga kepunyaan Tuhan, kalau musimnya sudah selesai dan Tuhan suruh melakukan atau pindah, maka kita hanya bisa menuruti saja.

K : Memang benar sih. Memang Tuhan sudah menetapkan musim-musim dalam kehidupan kita.

IN: Ada satu pesan yang baik yang saya baca dari bukuna Andy Stanley, dibilangnya begini ”Leave when it’s time, not when things go wrong” — Pergi karena waktuNya, bukan karena semuanya berantakan.

K : Pesan apa yang Anda mau berikan untuk orang-orang muda, terutama yang pria ? Banyak dari jemaat Anda yang masih bersekolah, mereka mungkin terinspirasi untuk mengikuti jejak Anda, menjadi kepala keluarga, menjadi usawahan dan menjadi gembala. Apa nasihat yang bisa Anda berikan ?

IN: Mereka harus terus menjaga prioritas mereka. Pertama, keluarga harus terutama. Misalnya, malam ini, seharusnya kita ada kumpulan doa dan pelajaran Alkitab di gereja, tetapi saya batalkan, karena anak acara penting di sekolah anak saya dan istri saya membutuhkan saya. Saya bisa saja bilang ke istri saya, kalau tidak mungkin, dan dia akan mengerti, tetapi saya berprinsip saya akan mengutamakan keluarga.

K : Melayani bukan hanya di gereja saja yah

IN: Benar. Melayani bukan hanya di gereja. Melayani keluarga kita sangat pentingnya. Saya teringat akan khotbah-nya Pastur Matt Chandler dari The Village church, dia waktu itu sangat sibuk dan tiba-tiba terserang penyakit. Lalu dia menerima nasihat seperti ini “Kamu maju ke berdiri di depan sana dan lihat ke jemaat kamu. Nanti ketika kamu berada di ambang kematian, siapa yang mau kamu lihat berada di sampingmu sebelum meninggal ? Siapa yang paling penting? Siapapun mereka, itulah prioritas nomor satu Anda.” Lalu dia bilang, dia bisa membayangkan istri dan anak-anaknya yang akan mengelilinginya, lalu Tuhan bilang “Merekalah prioritas utama kamu”. Orag-orang lain akan melupakan Anda, ketika Anda sudah tidak ada, hanya mereka yang akan mengingat Anda. Khotbah itu benar-benar menyentak saya.

K : Sangat setuju sekali. Saya juga berpikir, tidak peduli seberapa terkenalnya Anda saat ini. Tanpa Google, kalau Anda meninggal, dalam beberapa tahun kemudian orang tidak akan tahu siapa Anda.

IN: Setuju.

K : Kadang saya merasa pesan dari Injil dicampur aduk dengan pesan supaya Anda berbuat sesuatu supaya menjadi terkenal.

IN: Lebih lagi, Legacy yang saya mau berikan untuk jemaat saya sebagai gembala, yaitu agar mereka bisa terus haus untuk menggali Firman Tuhan. Agar mereka bisa mempunyai keinginan sendiri untuk mendalami Alkitab, tanpa harus disuruh-suruh. Itu tujuan saya dengan membuka kelas-kelas pendalaman Alkitab. Saya berikan mereka sarana-sarana. Saya punya filosofi hanya satu dalam mengajar “Biar Alkitab yang menjawab pertanyaan Alkitab”. Jangan cari dari sumber-sumber lain, tetapi saya mau mereka mencari ayat-ayat jawaban dalam Alkitab. Saya tertantang sih dan saya gembira walaupun banyak juga tantangan

K : Tantangan seperti apa nih dalam hal ini ?

IN: Murid-muridnya banyak yang pulang ke Indonesia. Jadi yang tinggal hanya sedikit, tetapi walaupun sedikit mereka benar-benar setia dan berkomitmen. Kalau dulu-dulu, banyak yang terluka, tetapi sekarang dengan generasi yang baru sudah berbeda. Bahkan pesan-pesan dalam khotbah pun sudah berubah, sudah bukan lagi tentang jerih payah kita, atau usaha-usaha kita, dan bahkan bukan lagi tentang kita, bukan hanya sekedar merubah kelakuan, karena kita tidak sanggup untuk merubah kelakuan kita. Roh Kuduslah yang bisa merubah. Dengan demikian orang tidak ragu untuk masuk ke hadirat Tuhan dan mereka tidak malu dna yakin bahwa Yesus bisa merubah kehidupan mereka tanpa agenda.

K : Amin

IN: Salah satu contoh, waktu itu ada yang sukarela berinisiatif mau mengecat gereja. Saya bilang mana mungkin, ini khan lagi panas dan banyak yang sedang berlibur. Tetapi dia bilang, bisa saja dan banyak yang mau bantu, asal saya setuju. Lalu saya biarkan, dan memang semuanya terjadi dan terlaksana hanya dalam 2 akhir pekan. Mereka yang merencanakan dan mengatur sendiri semuanya. Luar biasa bukan ? Contoh yang lain, ketika dekorasi panggung gereja kita rubuh. Banyak yang berinisiatif sendiri untuk membuat dekorasi yang baru. Ada yang menyumbang materi dan juga ada arsitek yang mau merancang. Jadi singkatnya, mereka sendiri yang berinisiatif dan tidak perlu dipaksa-paksa. Banyak saya menerima pesan teks, yang menanyakan “Pastur, apa yang bisa saya bantu ? Apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi beban Anda?”. Hal-hal ini semua sungguh membuat terharu hati saya. Kalau dulu semuanya ribut

K : Sungguh berbeda yah

IN: Lain lagi, kemarin ketika kita merencanakan untuk Fall Festival tanggal 31 Oktober ini, banyak yang mengajukan diri untuk menjadi penanggung jawab. Tidak perlu disuruh atau diminta. Ada yang kemarin mengajukan kepada saya peta lokasi keluarga-keluarga yang tidak mampu. Mereka yang bisa kita jangkau dan layani. Semuanya berpartisipasi. Semuanya menyumbang. Hal ini sangat luar biasa. Dan ini semua terjadi karena pertolongan dan anugerah Tuhan.

Bagi anda yang tertarik dengan IFGF Seattle, ataupun usaha-usaha dari Irwan. Bisa kunjungi website-website di bawah ini untuk informasi lebih lanjut:

  • IFGF Seattle : www.ifgfseattle.org
  • Indo Café : www.myindocafe.com
  • Real Estate : www.seattleidealhomes.com

Kisah Hidupku – Teddy Fransa Nata

Kisah Hidup – Gideon Jumali

Kisah Bradley

20141007_bradleys-story_banner_img

Ini adalah kesaksian Bradley tentang bagaimana kasih karunia Allah yang tak tertahankan mengambil kendali hidupnya dan membawanya ke Mars Hill.

Saya dibesarkan di Texas, dan tumbuh di dalam gereja. Saya memiliki ayah yang aktif dalam pelayanan, sering kali sebagai layaknya staff penuh-waktu dalam beberapa kapasitas atau lainnya. Sepanjang tahun-tahun tersebut, saya juga pernah melihat lebih dari cukup kesalahan-kesalahan di dalam gereja, dan hasilnya saya menjadi marah.

Inilah saya seorang siswa kelas enam yang rajin ke gereja, entah bagaimana dalam beberapa tahun yang singkat, berubah menjadi rusak, pecandu narkoba, tersesat, pemberontak, kriminal dan putus sekolah SMA. Saya mulai pergi ke rehabs ketika saya masih 15. Pada saat saya berusia 19 saya sudah merasakan kejar-kejaran dengan polisi dengan mobil yang melibatkan helikopter dan berakhir dengan dihajar oleh polisi. Selama pengejaran saya merokok terus-menerus, menjentikkan rokok saya ke arah kepungan polisi. Saya pernah overdosis di dalam kamar kecil sebuah apotik pada pagi hari Natal sementara keluarga saya bertanya-tanya di mana saya berada, atau bahkan sangsi jika saya masih hidup. Pada satu titik saya tidur di sisi sebuah toko kelontong di pusat kota Los Angeles selama berminggu-minggu. Saya sudah pernah mengemis untuk rokok. Saya sudah pernah mencoba untuk bunuh diri.

Pada saat itu saya menganggap diri sebagai seorang seniman. Ketika saya masih terlibat dengan narkoba, saya melihat diri saya sebagai penulis lagu yang produktif, dengan teman-teman yang saya pikir keren.. Hubungan saya dengan obat-obatan tampak hampir romantis bagi saya, tapi di beberapa saat saya menyadari bahwa saya lepas kendali.

Saya berpindah-pindah tempat tinggal di daerah selatan. Saya merantau bertahun-tahun, terhuilang, di New Mexico, kecanduan meth dan heroin. Saya berusaha untuk terjaga, kehilangan berat badan, bokek dan tunawisma. Saya pergi ke penjara beberapa kali, dan sekali ke penjara berat juga. Suatu kali saya menyatroni rumah jompo kakek saya. Saya memaki dan melawan polisi di depan orang-orang tua yang kebingungan (termasuk kakek saya) melihat semuanya. Saya tersadar di penjara hanya untuk menghadapi rasa bersalah yang tak tertahankan yang mengalahkan dan menghancurkan saya. Saya pernah ditangkap di Alamo tanpa sepatu karena menjadi gelandangan. Saya sudah diekstradisi, dipukuli, dirampok, dan se[anjang tahun-tahun tersebut saya benar-benar sedih.

Kemudian, pada suatu hari Minggu malam, pada usia 26, saya berdoa kepada Tuhan dan mengatakan kepadanya bahwa saya tidak perlu untuk menjadi bahagia, jika saja Dia bisa membantu saya untuk menjadi OK -itu sudah cukup baik, itu yang saya katakan. Pada hari Rabu minggu berikutnya Tuhan, dalam cara yang sangat nyata, mengangkat saya dari antara orang mati dalam sekejap. Kehadiran Roh Kudus sangat luar biasa. Saya merasa Tuhan ada di dalam ruangan dengan saya. Tak terduga kasih karunia Allah datang dan meliputi saya, tanpa peringatan dan seperti air bah.

Akhir pekan itu, walaupun sakit, saya mulai mencari gereja. Saya pergi ke tiga kebaktian dalam p dua hari tetapi tidak tahu apa yang saya cari. Berat badan saya hanya 50 kg, tanda-tanda luka masih ada di sekujur tubuh saya, dan yang saya tahu adalah bahwa saya perlu untuk menemukan kumpulan orang percaya untuk membantu saya memahami mukjizat yang telah terjadi pada saya – dan untuk membantu saya agar hal tersebut terus berlangsung ! Saya begitu takut kalau saya akan bangun dan ternyata hal itu tidak nyata.
Hari Minggu itu, pada bulan Oktober 2010, seorang teman lama yang sudah tidak pernah ketemu menghubungi saya lewat Facebook. Dia tidak tahu apa yang saya telah saya alami. Dia hanya merasa sangat terdorong untuk menjangkau saya hari itu dan mengundang saya untuk pergi bersamanya ke sebuah gereja yang disebut Mars Hill. “Tentu saja,” ujarku ! Saya berbagi pengalaman saya dengan dia dan kami tertawa dan bergembira bersama-sama karena timing dari ajakannya yang sungguh ajaib..

Itu bertahun-tahun yang lalu. Hari ini saya menikah, di sekolah, melayani di tim penyembahan Mars Hill, bekerja penuh waktu, dan telah sadar selama bertahun-tahun. Lebih dari apa pun saya bersyukur kepada Allah, dan melihat ke depan untuk apa yang telah disiapkan untuk saya berikutnya! Allah begitu baik! Anugerah tak tertahankan bukan hanya doktrin abstrak bagi saya. Anugerah mengulurkan tanganNya, meraih saya, menguasai dan menuntun saya untuk bertobat. Terima kasih Yesus!

PEPERANGAN ROHANI, BAGIAN 2: MEMAHAMI PERTEMPURAN SUPERNATURAL

20140731_spiritual-warfare-understanding-the-supernatural-battle_banner_img

Oleh : Mark Driscoll

Apa yang benar-benar Alkitab katakan tentang peperangan rohani? Apakah ada latar belakang alkitabiah untuk semua ini, yang akan membantu saya untuk lebih memahami pertempuran supranatural ini?

PEMBERONTAKAN SETAN DAN KEJATUHAN MANUSIA

Menurut Alkitab, malaikat adalah makhluk roh yang diciptakan oleh Allah untuk melayani tujuan-Nya. Namun, saru malaikat menjadi sombong, yang merupakan akar dari banyak dosa, dan lebih suka menjadi tuhan sendiri daripada menyembah dan mentaati Allah yang sejati (Yesaya 14:11-23;. Yehezkiel 28:1-12). Kita sekarang mengenal dia dengan berbagai macam nama seperti Iblis, Naga, Ular, Musuh, Iblis, Si Penggoda, Si Pembunuh, Bapak Pendusta, Musuh, Si Penuduh, Si Penghancur, dan Si Jahat. Tragisnya, sepertiga dari para malaikat memihak Setan untuk menyatakan perang terhadap Allah.

Pemberontakan mereka memuncak dalam pertempuran besar melawan Allah dan malaikat-Nya yang kudus. Iblis dan pengikutnya dikalahkan dan diusir dari surga tanpa kemungkinan pengampunan atau perbaikan hubungan yang benar dengan Allah (2 Pet 2:4;. Yudas 6).

Setelah perang besar di surga, terlanjut dengan cerita Alkitab, adegan berpindah ke medan perang yang baru – bumi. Di sini, Setan menyerang orang tua pertama kita, ayah kita Adam dan ibu Hawa. Setan berbohong kepada Hawa dan menggodanya untuk berbuat dosa, seperti yang dia lakukan kepada masing-masing dari kita. Adam, yang Allah tunjuk untuk mencintai dan merawat Hawa, gagal melindunginya, dan secara sadar bergabung dengannya dalam dosa.

Kedua-duanya Adam dan Hawa memilih kebohongan daripada kebenaran, kesombongan daripada kerendahan hati, kebodohan daripada kebijaksanaan, kematian daripada kehidupan, dan Setan daripada Allah. Selanjutnya, masing-masing dari kita, sebagai keturunan orang tua pertama kita, dilahirkan dengan dosa warisan yang ditandai dengan disposisi untuk mengikuti jejak mereka yang tragis. Lebih jauh lagi, sebagai orang-orang berdosa kita juga telah mengalami konsekuensi yang menyakitkan sama seperti dengan orang tua pertama kita. Karena dosa-dosa yang setiap dari kita telah lakukan dan dosa-dosa yang telah dilakukan terhadap kita, kita terasing dari Allah dan bersembunyi dariNya karena malu.

Tapi kemudian janji pertama Yesus, sebagai pemenang atas Setan, datang ke orang tua pertama kita. Dalam Kejadian 3:15, Allah memberitakan Berita Baik untuk Pertamakalinya, Injil tentang Yesus kepada ibu kita Hawa, yang sama seperti kita semua, yang hancur, penuh dengan rasa malu, pendosa yang bersalah. Allah berjanji kepada Hawa bahwa Yesus akan lahir dari seorang perempuan dan akan tumbuh menjadi seorang pria yang akan berperang dengan Setan dan menginjak kepalanya, mengalahkannya, dan membebaskan orang-orang dari cengkeraman Iblis, dosa, kematian, dan neraka.

YESUS MENANGGUNG SERANGAN SPIRITUAL – DAN MENANG

Bertahun-tahun kemudian, Yesus dilahirkan ibunya, Maria, seperti yang dijanjikan. Serangan Setan pada Yesus dimulai ketika dia masih seorang bayi laki-laki. Raja Herodes, yang merupakan keturunan dari garis keluarga diktator yang kejam yang dirasuki setan, memutuskan bahwa semua anak sulung dihukum mati dalam upaya untuk membunuh Yesus saat masih bayi. Si Setan, pada kenyataannya, bekerja di balik rencana ini karena ia tahu benar bahwa Yesus telah datang untuk menaklukkan dia dan membebaskan tawanan nya. Tetapi Allah memperingatkan orang tua Yesus akan rencana tersebut, dan mereka melarikan diri ke Mesir sebagai pengungsi, sehingga nyawa Yesus terhindar.

Sebagai seorang pemuda, Yesus kembali diserang oleh Iblis, yang menawarinya kehidupan yang lebih mudah daripada yang direncanakan untukNya oleh Allah Bapa. Allah Bapa mengutus Yesus ke bumi dengan misi kehidupan tanpa dosa dan menderita di kayu salib untuk mati bagi orang berdosa. Sebaliknya, Setan menawarkan kerajaan tanpa salib dan berjanji bahwa Yesus bisa memerintah dalam kemuliaan dan kekuasaan tanpa oposisi atau penyaliban, selama Dia membungkuk untuk menghormati Iblis. Setan menyiapkan jebakannya dengan tawaran persahabatan sederhana dengan makanan, memecah roti dengan Yesus, ketika Yesus sangat lapar dari empat puluh hari puasa. Yesus dengan bijaksana menolak “hadiah” ini. Seperti Yesus, adalah sangat bijaksana bagi kita untuk bersikap curiga terhadap roh-roh yang menawarkan pemberian-pemberian, walaupun yang kelihatannya baik. Inilah alasan mengapa discernment (kearifan untuk membedakan roh) sangat penting untuk hidup iman kita kepada Yesus setiap hari.

Menuju ke salib, Iblis erasuki salah satu murid Yesus, Yudas Iskariot – yang, pada kenyataanya, orang yang belum bertobat – dan bersekongkol dengan dia untuk mengkhianati Yesus dan menyerahkan Dia untuk disalibkan. Melalui salib, iblis dan pengikutnya berpikir bahwa mereka akhirnya mengalahkan Yesus. Jika kita membayangkan Tuhan Yesus tergantung di kayu salib, berlumuran darah dan sekarat, dilihat dari sudut manapun memang kelihatannya Yesus menundukkan kepalaNya dalam kekalahan di tangan Setan. Pada titik ini, pendeta Reformasi yang ternama Martin Luther gemar merenungkan yang tertulis dalam Yesaya 45:15, yang mengatakan tentang Yesus, ” Sungguh, Engkau Allah yang menyembunyikan diri0, Allah Israel, Juruselamat”. Maksud Luther tentang ayat ini adalah bahwa, di atas kayu salib, Yesus menyembunyikan kemenanganNya di balik kekalahan, menyembunyikan kemuliaan-Nya di balik kehinaan, dan menyembunyikan kehidupan kita di balik kematian-Nya. Iblis dan setan-setan tidak melihat ini karena mereka tidak memiliki pandangan iman dan tidak memahami kerendahan hati Yesus.

KEMENANGAN YESUS MEWAKILKAN KITA

Meskipun demikian, di atas kayu salib Yesus mencurahkan darahNya dan mati untuk Anda. Dan dengan iman, ketika Anda memandang ke salib, Anda akan melihat betapa jauhnya ia telah pergi ke dalam penderitaan dengan rencana untuk menaklukkan musuh Anda dan membebaskan hidup Anda. Konsekuesinya, kata-kata Yesus, “SUDAH SELESAI” dari kayu salib, adalah pemberitaan tentang pembebasan Anda. Menyalibkan Yesus adalah kesalahan terbesar Iblis yang pernah dibuat. Apakah ia mengerti apa yang terjadi, dia tidak akan pernah membunuh Yesus, seperti yang dikatakan dalam 1 Korintus 2:6-9:

“6 Sungguhpun demikian kami memberitakan hikmat di kalangan mereka yang telah matang, yaitu hikmat yang bukan dari dunia ini, dan yang bukan dari penguasa-penguasa dunia ini, yaitu penguasa-penguasa yang akan ditiadakan. 7 Tetapi yang kami beritakan ialah hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita. 8 Tidak ada dari penguasa dunia ini yang mengenalnya, sebab kalau sekiranya mereka mengenalnya, mereka tidak menyalibkan Tuhan yang mulia. 9 Tetapi seperti ada tertulis:
“Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

Bagian favorit saya dari Alkitab tentang kemenangan Yesus atas Setan, dosa, dan kematian adalah Kolose 2:13-15:

“13 Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, 14 dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib: 15 Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.”

Bersyukur, Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan Anda dan saya. Tidak seperti kita, Dia menolak semua godaan setan dan menjalani kehidupan tanpa dosa yang belum pernah kita lakukan. Yesus kemudian pergi ke kayu salib untuk mengalami kematian yang seharusnya kita harus alami. Di atas kayu salib, Yesus mati menggantikan kita untuk dosa-dosa kita.

Pertempuran untuk jiwa kita adalah nyata, dan seperti tawanan dalam perang (Kol 1:13;. 2 Tim 2:25-26) kita telah disiksa dan dicuci otak. Tetapi kabar baiknya adalah bahwa Yesus sudah datang untuk menyelamatkan kita. Yesus sendiri menegaskan fakta ini dalam Lukas 4:18 ketika, pada awal pelayanan-Nya, Dia mengatakan Ia datang untuk membebaskan para tawanan. Tidak mungkin bahwa Setan akan melepaskan kita dari cengkramannya, dan tidak mungking kita bisa membebaskan diri kita sendiri, sehingga Yesus datang sebagai prajurit pemenang dan pembebas kita.
________________________________________
Ini adalah bagian kedua dari seri Pastor Mark tentang peperangan rohani. Jika Anda melewatkan bagian satu, Anda dapat menemukannya di sini..

* Bagian-bagian dari posting blog ini diadaptasi dari yang Jangan Anda Pikirkan? (2013, Thomas Nelson), oleh Mark Driscoll, Death By Love (2008, Crossway), oleh Mark Driscoll dan Gerry Breshears, dan Doktrin (2010, Crossway), oleh Mark Driscoll dan Gerry Breshears.

“SAYA MENGALAMI DEPRESI DAN INGIN MATI.” KISAH TYLER

20140604_i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story_banner_img

Tyler adalah seorang pemimpin kelompok sel di Mars Hill Tacoma yang akan menyelesaikan sekolah physioterapi. Dia mengasihi Yesus dan ingin menikahi seorang wanita yang beriman dan mewariskan kisah yang ia mulai ketika ia menjadi orang Kristen pertama dalam keluarganya. Ketika Anda bertemu dengannya, Anda tidak mungkin berpikir lain selain dia adalah seoran periang, bersemangat, dan penuh gairah. Jadi sulit untuk percaya bahwa hanya beberapa tahun yang lalu, ia hampir bunuh diri. Dua kali. Ini ceritanya.

* Beberapa nama dalam cerita ini telah diubah.

Tumbuh di Spokane, Washington, Tyler adalah seorang anak pemalu di sekolah menengahnya yang tidak memiliki banyak teman. Dia bergumul dengan keraguan diri, kepercayaan diri, dan moral.

“Saya selalu ingin ngumpul-ngumpul, tetapi saya kebanyakan menyendiri.” Tyler tidak pernah melakukan “hal-hal buruk” dan, berbeda dengan saudara laki-laki dan perempuannya yang jatuh dalam obat-obatan dan alkohol, keluarganya sering melihat dia sebagai anak yang sempurna.

Pada musim gugur 2007, Tyler terdaftar penuh waktu di Spokane Falls Community College. Di sana, ia menjadi lebih terisolasi dan kesepian disbanding pada saat di SMA. Namun, beberapa waktu kemudian sekelompok kecil orang berteman dengan dia.

“Mereka adalah orang pertama dalam hidupku yang benar-benar teman-teman saya,” kata Tyler. “Mereka mempedulikan dan melayani saya. Dan mereka adalah orang Kristen. ”

Tyler mulai naksir berat pada salah satu gadis dalam kelompok tersebut yangbernama Megan.

“Aku jatuh cinta dengan dia dan mengidolakan dia,” katanya.

Tidak pernah ia mencintai seseorang seperti ini. Perasaan saying tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Persahabatan mereka berkembang ke titik di mana salah satu dari mereka perlu untuk mendefinisikan apa yang sedang terjadi. Lalu suatu malam Megan mengatakan kepana Tyler, “Orang berikutnya yang akan menjadi pacar saya akan menjadi suami saya. Aku tidak ingin berkencan dengan non-Kristen. ”

Tyler sangat marah. Dia mengatakan padanya bahwa dia tidak ingin menjadi seorang Kristen dan dia harus mencintai dia untuk siapa dia. Ia menjadi depresi. Perasaan di mana fia akhirnya bisa memiliki wanita yang dicintainya hanya untuk menemukan bahwa wanita itu tidak ingin bersama dia, membawa hidupnya runtuh. Tyler berpikir kemungkinan untuk mempunyai hubungan sudah berakhir.

“ENGKAU ADALAH ANAKKU DAN AKU MENGASIHIMU”

Selama waktu tersebut, salah satu orang Kristen dalam kelompok itu membagikan beberapa ayat Alkitab dengan dia. Tyler ingat bahwa dia tak menduga akan kemungkinan kebenaran dari ayat-ayat. Ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan, jika Dia memang nyata, untuk menunjukkan diriNya.

Saat itu sudah larut malam dan Tyler ingin tidur, tapi tidak bisa. Yang dapat ia pikirkan adalah pergi ke gereja. Dia belum pernah ke gereja sebelumnya tapi tiba-tiba, itu semua yang ingin ia lakukan.
Hari berikutnya dia mengatakan kepada teman-temannya dan, sebelum akhir pekan menjelang, mereka membawanya ke pelayanan kampus tempat mereka melayani. Pemimpin pelayanan mengajarkan tentang Yesus dan membagikan Injil. Ketika ia selesai, ia berdoa dan berkata jika ada yang ingin bertobat dari dosa mereka dan berbalik kepada Yesus, mereka harus mengangkat tangan mereka dan berseru kepadaNya.

“Aku mengingat aku seperti berkata, ‘Oh, itu aku,” kata Tyler. “Jadi aku segera mengangkat tanganku kemudian berpikir, ‘Tunggu sebentar, apa yang saya lakukan?” Tapi aku tahu itu apa yang saya inginkan. ”

Kemudian pendeta kampus itu mendekatinya dan memberinya Alkitab dan memeluknya. Tyler mengambil Alkitab itu ke rumah dan membacanya habis. Dia mulai membaca dalam Matius dan menyukainya. Minggu berikutnya di kunjungannya yang ke dua di kelompok kampus, ia mengerti Injil lebih lagi.

Kelompok ini tidak seperti pelayanan kampus yang biasanya. Tidak ada pengajaran. Musik yang dimainkan dengan lembut di latar belakang saat orang-orang berbagi cerita tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka.

“Saya menangis dan menangis sepanjang malam,” kata Tyler. “Saya mengenali siapa aku di dalam Yesus. Tuhan terus menunjukkan kepada saya gambar salib dan aku ingat mendengar berulang kali, “Engkau adalah anakKu dan Aku mengasihimu.” Itu adalah di mana saya benar-benar memahami apa Injil itu dalam hidup saya. ”

“AKU MERUBAH PENGIDOLAAN SAYA DARI SATU BENTUK KE BENTUK LAINNYA”

Tyler bertumbuh dalam pengetahuan Alkitab dan belajar bagaimana memimpin orang lain dalam pelayanan kampus dan kelompok SMP di gereja di mana dia menjadi anggota. Pada musim gugur 2009, ia pindah ke Eastern Washington University dan pindah ke sebuah rumah penuh dengan teman-teman kuliah. Dia tumbuh dalam hubungan dengan Yesus dan mencintai itu, tapi satu hal masih mengganggunya. Sementara depresinya karena kejadian Megan sudah terlupakan, dia menyadari bahwa dia masih mengidolakan dia.

“Aku merubah pengidolaan saya dari satu bentuk ke bentuk lainnya,” kata Tyler. “Sebelumnya, dia adalah segalanya bagiku. Sekarang, dia masih segalanya bagiku, tetapi di samping itu, saya menempatkannya lebel Kristen di atasnya. Aku secara berlebihan komitmen dalam hatiku. Saya pikir, ‘Ini adalah kehidupan yang saya ingin miliki dengan dia. Kami akan menjadi pasangan Kristen yang menakjubkan ini dan memiliki anak-anak. ‘Ide akan suatu hubungan menguasai dengan kuat dalam hati saya. ”

Kebingungan dengan perhatian dan harapan yang terus menerus, Megan menjauhkan diri dari Tyler dan seluruh teman-teman mereka. Dia menemukan teman baru dan mulai pergi ke bar, minum secara berlebihan, dan mabuk-mabukan. Tyler panik dan mengejarnya lebih giat lagi dalam upaya untuk menyelamatkannya dari gaya hidupnya.

“Aku menghancurkannya,” katanya. “Aku menyakitinya dengan sangat dalam hal itu.”

Dengan tekanan yang tak berakhir, Megan berhenti pergi ke gereja dan pelayanan kampus. Dia tidak bergaul dengan siapa pun dalam kelompok tersebut.

“Ini benar-benar membawa saya kepada kehancuran sampai di titik di mana saya mulai mendapatkan depresi lagi, melarikan diri, dan tidak terlibat dalam gereja pula,” kata Tyler. “Depresi saya menjadi cukup buruk di mana saya ingin bunuh diri. Itu berlangsung selama sekitar 12-18 bulan. Saya kehilangan pekerjaan saya. Aku tidak ingin melakukan apa pun. Saya akan duduk di kamarku dan menangis. Saya berpikir untuk bunuh diri sepanjang waktu. ”

Dua kejadian mebuatnya nyaris bunuh diri.

Yang pertama terjadi pada musim panas 2011, antara tahun terakhirnya kuliah dan tahun pertama sekolah physioterapi. Rumah Tyler di Spokane tidak jauh dari jajaran tebing dan hutan lebat. Suatu malam dia berdiri di tebing dan merenungkan untuk melompat ke kematiannya. Seorang teman menemukan dia ada di sana dan datang untuk membantu dia.

“Aku benar-benar tidak ingat banyak detail tentang apa yang dia katakan. Kami mengobrol sebentar dan kemudian ia membawa saya pulang. ”

Insiden kedua terjadi pada musim gugur 2011, tak lama setelah ia pindah ke Tacoma dan mulai sekolah di Puget Sound University.

“Aku akan pergi ke sekolah dan pulang ke rumah dan tidak belajar,” katanya. “Aku akan jatuh hancur dan menangis dan marah. Saya pikir itu adalah kombinasi dari kesendirian, stres dari sekolah, merasa seperti kegagalan, tinggal jauh dari Spokane, dan depresi berat. ”

Itu adalah titik terendah dalam hidup Tyler. Suatu malam ia berbaring di lantai nya, benar-benar kosong. Sebotol pil itu di tangannya dan ia ingin menelan mereka semua untuk mengakhiri hidupnya.

“Sulit untuk menjelaskan perasaan tersebut, tapi itu hampir seolah-olah aku merasa kosong dari kehidupan itu sendiri,” katanya.

Pikirannya terganggu oleh telepon dari seorang teman di Spokane. Ketika mereka berbicara, Tyler menjelaskan keseriusan dari situasinya. Teman tersebut berbicara ke Tyler untuk waktu yang lama dan kemudian mengatakan bahwa dia akan meminta teman mereka, yang baru saja pindah ke Seattle, untuk datang melihat Tyler. Dia tidak mengatakan kepada Tyler adalah bahwa dia juga akan memanggil polisi. Polisi berada di pintu lima menit kemudian dan tinggal di sana sampai temannya dari Seattle muncul.

AWAL PERTUMBUHAN

Tak lama setelah kejadian kedua ini, Tyler mulai pergi ke Mars Hill Federal Way (sekarang Mars Hill Tacoma), diundang oleh temannya di Seattle. Pada kunjungan pertamanya, Tyler bertemu dengan teman sekelasnya dari program terapi fisik. Teman sekolahnya ini tidak tahu bahwa ada yang salah dalam hidup Tyler.

“Saya pikir saya pandai menyembunyikan [depresinya],” kata Tyler. “Aku bisa pergi dan [ngumpul] sosialisasi, tapi pada saat yang sama aku membenci hidup saya. Aku benci segala sesuatu. Aku benci kota. Aku benci diriku sendiri. Aku begitu kosong. Sepanjang waktu saya akan mengatakan saya adalah seorang Kristen tapi saya masih berusaha untuk melakukan keinginan sendiri. Aku ingat dalam keadaan yang paling terendah dalam hidup saya, Tuhan ada di sana. Dia mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan Anda pergi. Aku tidak akan membiarkan Anda melakukan hal ini. “KehadiranNya di sana. Dia terus berkata, “Aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu.

“Aku punya waktu di mana saya naik dan kemudian turun. Aku merasa seperti jika saya tidak akan bersama Megan, maka saya tidak akan menjadi apapun. Dia masih segalanya bagiku. Aku akhirnya sampai ke titik di mana saya merasa seperti sesuatu perlu terjadi. ”

Tyler merasa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dia perlu untuk melepaskannya, atau Allah yang akan mengambil Megan darinya.

Tyler sesekali akan menghubungi Megan dan dia biasanya mengatakan bahwa ia baik-baik dan tidak ingin bertemu dengannya. Tak lama setelah pindah ke Tacoma, ia mengatakan ia ingin bunuh diri jika ia tidak bisa bersamanya. Megan menghubungi Puget Sound University dan mereka mengharuskan Tyler untuk melakukan empat sesi konseling.

Setelah itu Megan mengirim pesan kepadanya di Facebook mengatakan, “Engkau harus membiarkan aku pergi. Hubungan itu tidak mungkin terjadi. Aku gay dan aku sudah menjalin hubungan selama delapan bulan. ”

Tyler sudah pernah mendengar bahwa Megan sudah mempunyai hubungan tapi tidak pernah berpikir bahwa itu bisa dengan seorang wanita. “Pada awalnya saya tidak ingin percaya dan saya bilang itu tidak mungkin benar.”

Tapi pesan Facebook tersebut menyalakan saklar di otak Tyler. Dia akhirnya melihat bahwa Megan adalah manusia biasa dengan kelemahan seperti orang lain. Dan kemudian fokusnya bergeser.

“Selama ini saya berpikir semua tentang saya,” katanya. “Tiba-tiba. . . Saya menyadari kebobrokan dalam hidupnya. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia bilang. Dia berkata, “Aku akhirnya menemukan seseorang yang mencintai saya untuk siapa saya dan saya senang.” Yang bisa kupikirkan adalah, Yesus mengasihi Anda untuk siapa Anda dan Anda menolak itu. “Sejak saat itu, saya tidak peduli jika kami berakhir bersama-sama. Yang saya pedulikan adalah dia. ”

Namun, pemikiran Tyler tentang dosa belum diperbaiki. Dia berada di bawah kesan bahwa dosa Megan entah bagaimana lebih buruk daripada dosanya.

“Saya masih sangat bermasalah, tapi aku sudah berhenti mengidolakan dia dan akhirnya kembali kepada Yesus. Saya telah cukup beruntung untuk tetap berada di Mars Hill dengan beberapa orang baik dan kelompok sel. Saya bertemu dengan mereka dan menceritakan kepada mereka seluruh kisah saya. ”

Saat itulah koreksi datang. Setelah mendengar cerita Tyler, pemimpin kelompok memiliki beberapa teguran keras baginya.

“Dia berkata, ‘Bagaimana jika dia melakukan dosa seksual dengan seorang pria? Bukankah itu tetap dosa seksual. Bagaimana dengan Anda memberhalakan dia? Bagaimana dengan Injil dalam hidup Anda? Yesus mati untuk menyelamatkan Anda. Dan Anda tidak bisa menyelamatkannya. Yesus perlu menyelamatkannya dan Anda perlu untuk merelakannya. ‘”
Tyler mengatakan “payah” untuk mendengar perkataan itu, tapi dia tahu itu adalah apa yang ia butuh dengarkan. Beberapa bulan kemudian dia kembali ke Spokane untuk liburan musim panas dan mengulang kembali hidupnya. Ketika ia kembali ke Tacoma untuk tahun kedua sekolah, ia tidak lagi depresi. Dia mengambil kelas keanggotaan di gereja, melibatkan diri dalam kelompok sel, dan mulai melayani.

”ALLAH INGIN MENUNJUKKAN SIAPA DIA”

Tak lama setelah itu, Megan putus hubungan. Dia unfriend Tyler di Facebook dan menyuruh saudara laki-lakinya agar ‘meminta’ Tyler untuk menghapus nomor teleponnya. Tyler merasa seperti beban berat telah terangkat dari bahunya.

Tyler terus tumbuh dan mengambil alih kepemimpinan kelompok sel pada Januari 2014 sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, tapi ia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk melayani dengan cara itu.

“Aku tidak pernah berharap Allah memberi saya hati yang sedemikian untuk orang-orang ini,” kata Tyler. “Sudah cukup menakjubkan. Ini membuat saya tumbuh [dalam] ketergantungan saya pada Tuhan. Saya katakan kepada Tuhan, “Aku tidak tahu apa yang saya lakukan tapi kau tahu. Aku di sini. Gunakan saya sebisaMu. ”

“Pastor Mark baru-baru ini bertanya dalam salah satu khotbahnya, apakah itu hidup? Hidup bagi saya dulunya adalah seorang gadis. Sekarang hidup adalah Yesus. Aku tidak tahu apakah aku akan mampu untuk memahami semuanya kalau saja Tuhan tidak memindahkan saya ke Tacoma dan membawa saya ke gereja Mars Hill.

“Aneh bagi saya untuk melihat ke belakang dan berpikir ada fase dalam hidup saya di mana saya depresi dan ingin bunuh diri, meskipun aku punya keluarga yang mencintai dan mendukung, [juga] terlibat dalam gereja, dan [juga] dikelilingi oleh teman-teman yang mencintai Yesus. ”

Tyler menyadari bahwa, bahkan di tengah-tengah itu, jika Yesus tidak hadir dan membentuk hidup Anda setiap hari, maka Anda masih bisa goyah dan jatuh.

“Melalui semua ini, Tuhan ingin menunjukkan saya siapakah Dia – bukan apa yang saya pikir siapa Dia atau apa yang saya inginkan Dia menjadi apa. Allah membentuk hatiku dengan menghancurkan berhala saya. Dia mematahkan saya ke titik di mana saya tidak memiliki apapun. Setelah itu, satu-satunya hal yang aku bisa miliki adalah Dia. ”

Tyler merasa seperti dia di tempat yang bagus sekarang dan memandang masa depan. Dalam 40-50 tahun ia ingin warisannya adalah menjadi seorang kakek yang mencintai keluarganya, melayani gereja, dan berkembang setiap hari dalam hubungannya dengan Yesus. Sejak Tyler menjadi seorang Kristen, ayahnya telah bertemu Yesus. Ia berharap lebih keluarganya akan berbalik kepada Yesus juga.

“Aku bisa menjadi orang Kristen pertama di keluarga saya. Seri khotbah dari kitab Maleakhi cukup menguatkan bagi saya karena saya melihat suatu generasi bisa berubah. Nama keluarga Trudeau sebelumnya penuh dengan banyak dosa. Tapi itu bisa berubah karena satu orang. ”

BAGI MEREKA YANG BERGUMUL DENGAN DEPRESI
Tyler ingin mendorong mereka yang bergumul dengan depresi untuk membiarkan orang lain tahu. Seringkali, seseorang yang berjuang mungkin mengatakan kepada satu orang, tapi Tyler mengatakan untuk membiarkan beberapa orang tahu sehingga mereka dapat membantu. Dan jika Anda tahu seseorang yang sedang berjuang dengan depresi, menurutnya suatu tanggung jawab bagi Anda untuk melibatkan yang lainnya, terlepas apakah mereka mau atau tidak. Itu mungkin akan menyelamatkan hidup mereka.

Diadaptasi dari : http://marshill.com/2014/06/06/i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story

Saya Merindukan Yesus : Kisah Charlie

Untitled

Kehidupan Charlie di SMA seperti layaknya filem remaja picisan. Ketika dia menjadi siswa baru, dia membuat kesalahan dengan mengatakan kepada seorang gadis bahwa pacarnya berselingkuh di belakangnya. Pacarnya, yang adalah seorang pria yang populer di sekolah, mengetahui bahwa Charlie mengkhianati dia, dan, dengan beberapa teman nya, membuat hobi baru untuk terus mengejek Charlie untuk empat tahun ke depan.

Dia mengatakan ia menerima ejekan itu dan menjadikannya identitas yang negatif.

“Jika anda mengejek saya sebagai aneh, saya akan menjadi anak aneh benar-benar,” katanya. “Jadi saya melakukan hal-hal seperti memakai piyama footie ke sekolah dan hal semacam itu. Jika Anda mengejek saya, saya akan membuat ejekan itu menjadi identitas saya dan mengejutkan Anda dengan itu. ”

Tapi peranannya sebagai Presiden dari Klub Japan di SMA tidak membantu keadaannya.

SEMAKIN DIKUCILKAN

Semakin ejekan-ejekan meningkat, begitu juga rasa pengucilan diri. Dia menemukan penghiburan dan kebersamaan dalam bermain game role-playing online role yang populer World of Warcraft. Untuk 8-14 jam sehari, dia duduk di depan layar komputer untuk melarikan diri dari dunia luar.

“Saya tidak tahu apakah itu lebih untuk persahabatan individu atau hanya menjadi bagian dari komunitas yang tidak menolak saya,” katanya. “Jika saya dalam sebuah permainan, aku bisa menjadi siapapun yang saya inginkan. Aku tidak harus menjadi anak kutu buku di SMA yang selalu diejek ketika berjalan melalui lorong-lorong. Aku bisa menjadi Pain Weaver, si Pengembara. Walaupun kedengarannya murahan, itu lebih menarik daripada kenyataan. ”

Mengucilkan diri juga membantu keinginannya untuk melihat pornografi dari usia muda. Dia mengatakan orang tuanya membuat kesalahan awam dengan membelikannya komputer ketika dia berumur 13 tahun.

“Pornografi terjadi begitu saja,” katanya. “Hal itu adalah sesuatu yang jatuh ke pangkuanku satu hari. Mulanya hanya rasa ingin tahu, kemudian menjadi kecanduan dan mengikatkan rantai di leher saya. Video game dan pornografi adalah dua hal yang mengambil alih banyak waktu saya. Saya akan bermain video game hingga larut malam dan kemudian menonton pornografi dan pergi tidur. Dan kemudian mengulangi lagi dan lagi. ”

Ketika masih muda, Charlie menghadiri sebuah gereja yang legalistik dengan orang tuanya. Sekolah Minggu adalah tentang aturan dan bagaimana dia melanggar aturan. Orang tuanya adalah orang Kristen yang masih bergumul dengan keyakinan-nya

“Saya tidak pernah menyentuh Alkitab saya, saya tidak memiliki kehidupan doa, saya tidak punya pengetahuan atau landasan dalam kitab suci atau tahu mengapa saya percaya apa yang saya percaya.”

Seiring waktu, ia mulai mempertanyakan kematian sendiri dan mulai takut mati.

“Aku akan mati suatu hari nanti. Rasa takut mati dan perasaan seperti terjebak dalam mortalitas saya sendiri… Saya menyadari kematian tidak bisa dihindari, itu akan terjadi dan tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal itu. Serangan panik datang pada saat-saat realisasi. Saya terus menerus memiliki panik yang eksistensial ini, di mana saya akan mengalami reaksi fisiologis, panik, dan kemudian mendapatkan lonjakan adrenalin. ”

Serangan panik berlangsung selama tiga tahun sampai ia mengatakan kepada ibunya tentang hal itu pada musim panas setelah ia lulus dari SMA. Dia bilang dia akhirnya mengatakan pada ibunya karena dia capai menutupi serangan panik dengan berlaga bersin atau pergi ke kamar mandi di mana ia akan panik dan gemetaran. Ibunya menjawab, “Kau akan ke gereja dengan saya akhir pekan ini.”

Dan dia pergi.

KARISMATIK MOMEN

Gereja ibunya bukan lagi gereja legalistik yang mereka kunjungi pada tahun-tahun sebelumnya. Selama khotbah, pendeta berbagi metafora dosa menjadi seperti bola benang yang terikat kusut. Dia mengatakan Anda mencoba untuk melepaskan simpulnya tetapi tanda disadari ternyata kekusutan itu sudah berada di kaki Anda, lebih buruk dari sebelumnya, dan tampaknya tidak mungkin untuk meluruskannya lagi. Pendeta itu mengatakan dosa membuat kita merasa seperti itu kadang-kadang.

“Aku agak terpana keluar setelah itu,” katanya. “Saya mulai berdoa, ‘Tuhan, aku merasa seperti bola benang yang paling kusut. Saya tidak berpikir saya akan pernah mendapatkan kelepasan. “Saya merasa Yesus berkata kepada saya, ‘Charlie, kamu ada di dalam telapak tanganku. Kepalan saya mencengkeram erat atas Anda. Tidak ada siapa pun yang dapat Anda lakukan untuk membawa Anda jauh dari saya. Tidak juga diri Anda. ‘

“Aku tidak dibesarkan dalam gereja karismatik tapi aku merasa seperti aku sedang mengalami momen karismatik ini. Aku merasa seperti dorongan, seperti sebuah ember penuh kasih dicurahkan di kepala saya. Saya jatuh ke depan. Saya tidak punya cara untuk menjelaskannya selain fakta bahwa saya benar-benar menerima Roh Kudus untuk pertama kalinya. Saya percaya dan mengakui bahwa saya tidak bisa melakukannya sendiri dan saya membutuhkan darah Yesus. Aku tidak pernah merasakan momen seperti itu sebelumnya.”

Setelah kebaktian, pendeta tersebut merekomendasikan buku apologetik untuk membantu meringankan keingintahuan intelektual Charlie tentang agama Kristen. Dalam mempelajari apologetik ia menemukan pengetahuan kepala, tetapi mengabaikan untuk membaca Alkitab sehingga ia kelalaian banyak pengetahuan hati dan dia tidak akan menyadari sampai ia membutuhkannya nanti. Serangan panik hilang pada hari Minggu itu.

AWAL YANG BARU

Setelah lulus SMA, ia terdaftar di Digipen Institute of Technology untuk mempelajari animasi 3D. Dia sekarang memiliki kesempatan untuk awal baru di tempat di mana tidak ada yang tahu siapa dia dan dia tidak lagi dibawa dipanggil kutu buku. Dia sudah muak diabaikan dan dijauhi dan saatnya untuk menjadi keren. Jadi dia mulai memberontak.

“Saya memanjangkan rambut saya, memakai celana ketat dan mulai mendengar death metal. Aku mendapat perhatian yang saya inginkan dan merasa kuat. ”

Sebuah situasi yang baru muncul di perguruan tinggi yang tidak pernah dialaminya. Seorang gadis memperhatikan dia. Segera dia memulai suatu hubungan dengan gadis tersebut.

“Saya berikan segalanya kepada dia tanpa ragu-ragu,” katanya. “Saya memujanya. Identitas saya adalah mengabdi kepada nya, menunjukkan hubungan dengannya, dan memenuhi keinginan berdosa saya melalui dia. ”

Dengan sedikit atau tidak ada pengertian dalam Alkitab, Yesus, doa, atau komunitas, Charlie tidak tahu bagaimana menangani hubungan. Melihat kembali ke tahun-tahun sebelumnya, ia menyadari idolanya adalah pernikahan. Pacarnya akhirnya meninggalkan dia untuk pria lain dan Charlie tidak dapat menerimanya dengan baik. Menurutnya, tuhannya telah meninggalkan dia dan tidur dengan orang lain. Dia terhancur.

MENEMUKAN GEREJA MARS HILL

Selama tahun kedua kuliah, ia mulai menghadiri Mars Hill Ballard ketika sedang berlangsung seri khotbah Religion Saves. Dia sebelumnya telah mengunjungi sekali di SMA dengan teman-teman keluarga.

“Saya melihat Injil disajikan dalam cara yang tak pernah kualami sebelumnya,” katanya. “Pendeta terus berbicara tentang Yesus dan mengajar langsung dari Alkitab. Saya belajar banyak tentang dosa dan apa arti sebenarnya dari kematian Yesus. Allah menantang pandangan duniawi saya tentang seks, cinta, dan hubungan dengan Dia. ”

Charlie dibaptis di Mars Hill Ballard pada tahun 2008 dan berpartisipasi dalam kehidupan gereja selama delapan bulan sebelum kesibukan kuliah menumpuk u dan dia berhenti menghadiri. Dia menemukan pacar lain dan memujanya dengan cara yang sama ia lakukan dengan pacar pertamanya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia menjadi seperti seorang suami kepada wanita tersebut dengan cara tidur dengannya dan menghabiskan waktu dan uang pada dirinya.

“Idola saya akan pernikahan itu bermanifestasi dalam permainan aneh seperti ‘main rumah-rumahan’ di mana saya sudah memenuhi apa yang saya pikir sebagai suami yang baik untuk wanita yang dicintainya. Saya tidak menyadari saya memimpin dia dan saya ke dalam kegelapan dan hubungan saya dengan dia adalah beracun. ”

Hubungan larut menjadi sekedar seks dan akhirnya wanita tersebut meninggalkan dirinya.

Depresi dan rasa bersalah mengambil alih. Charlie menjauh dari Tuhan dan komunitas, karena terlalu sulit untuk menghadapi dosanya. Pada musim panas tahun 2009, Charlie sedang melihat sebuah situs kencan online dan ia menemukan seorang gadis yang ingin bertemu. Wanita itu berkata, “Aku tidak akan berkencan dengan Anda, tetapi Anda dapat datang ke gereja saya.” Gereja itu adalah Mars Hill Bellevue dan ia mulai pergi dengan dia setiap minggu. Ia juga memperkenalkan kepada komunitast lagi melalui teman-temannya.

“Aku mulai benar-benar belajar siapa Yesus sebenarnya,” katanya. “Saya tidak hanya belajar tentang dia, saya mulai mengenal dia dalam hubungan yang nyata. Yesus mengungkapkan dirinya kepada saya dengan cara yang menghancurkan Yesus yang aku kenal di masa lalu. Dia mengajar saya usaha saya, pekerjaan saya, dan perjuangan saya untuk menjadi cukup baik itu tidak perlu karena dia cukup baik bagi saya. Dia menyadarkan saya akan dosa masa lalu saya dan menguatkan saya untuk meminta maaf kepada gadis-gadis saya salah gunakan dalam nama ‘menjadi orang baik. “Dia juga menyerang dosa rahasia pornografi yang telah berlanjut selama bertahun-tahun.”

Charlie mengatakan ia jatuh cinta dengan Yesus dan Alkitab. Dia mencintai belajar tentang Yesus dan berdoa. Dia mengatakan ini adalah musim di dalam hidupnya ketika Yesus memiliki kepala dan hatinya. Itu berlangsung sampai bulan Januari 2011 saat ia mendapat pekerjaan di pusat penjualan mobil.

KEMBALI KE JALAN DOSA

Bekerja di Pusat penjualan mobil menyita waktunya, termasuk hari Minggu, jadi dia berhenti pergi ke gereja dan grup komunitas. Mengasingkan diri kembali lagi. Orang-orang yang bekerja dengan nya mengejek dia karena tidak mau mabuk dan tidur dengan wanita di sekelilingnya. Bosnya menyebutnya “orang alim” dan sebutan-sebutan lainnya yang lebih vulgar. Charlie menjadi frustrasi karena orang-orang tersebut sepertinya mempunyai kehidupan yang menyenangkan.

“Saya tidak bahagia,” katanya. “Saya tidak dalam Alkitab dan tidak berdoa. Aku marah pada Tuhan dan bertanya, “Mengapa orang-orang sangat senang ketika mereka melakukan hal-hal yang Anda katakan salah? Mengapa saya merasa tidak ada sukacita walau saya adalah salah satu kepunyaanmu? ‘”

Ini adalah titik rendah dalam kehidupan Charlie dengan Yesus. Isolasi memburuk dan ia mulai melihat pornografi lagi untuk pertama kalinya dalam satu tahun setengah.

SEBUAH TITIK BALIK YANG NYATA

Enam bulan kemudian ia terbangun di suatu Sabtu pagi, memandang sekeliling kamarnya dan mulai menangis. Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah, “Aku rindu Yesus.”

Ini adalah titik balik besar dalam kehidupan Charlie.

“Yesus menunjukkan kepada saya apa yang telah dilakukan hal-hal yang saya kejar,” katanya. “Saya tidak bahagia atau lebih sukacita penuh setelah mengejar hal-hal ini. Mereka tidak memberikan. Mereka tidak memenuhi saya. Mereka tidak pernah cukup. Dia biarkan aku mengejar mereka untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka. Itu setelah poin terendah saya,saya bisa menghargai apa yang telah dilakukan Yesus bagi saya dan saya menyadari bahwa dia adalah satu-satunya alasan aku di sini di planet ini. Aku di sini untuk membawa kemuliaan bagi Yesus. Di situlah letak makna dan pemenuhan yang sesungguhnya, di dalam Yesus Kristus. ”

Charlie mulai keluar dari rumah lagi. Dia menghadiri Mars Hill Bellevue dan berhubungan kembali dengan teman lama dan grup komunitas. Saat itulah dia menyadari bahwa dia tidak pernah melayani gereja sebelumnya. Dia bilang dia ingat Pastor Mark mengatakan dalam sebuah khotbah, “Anda sudah tahu apa yang Allah panggil Anda untuk lakukan. Berhenti membuat alasan dan pergi melakukannya. “Dia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk mengajar umat-Nya sehingga ia mulai mengajar dalam pelayanan anak-anak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Charlie memberikan Yesus kepalanya, hati, dan akhirnya, tangannya.

MENEMUKAN ISTRI

Minggu berikutnya, wanita yang adalah direktur pelayanan anak-anak pada waktu itu memintanya untuk berpikir tentang menjadi seorang magang. Ia berdoa tentang hal itu dan merasa bahwa itu adalah suatu panggilan Tuhan untuk dilakukan. Jadi dia mulai magang untuk anak usia 7-12 tahun pada awal 2012. Selama masa bekerja dalam berbagai pekerjaan dan magang, ia akhirnya datang ke titik dalam hidupnya di mana ia mampu memberitahu Tuhan, “Saya tidak peduli apakah Engkau sudah menyiapkan seseorang untuk saya nikahi. Engkau telah memanggil saya untuk melakukan hal-hal yang lainnya, jadi saya akan melakukannya. “Empat bulan kemudian ia bertemu dengan calon istrinya.

Sekitar setahun sebelum bertemu istrinya, Charlie mendaftar untuk membuat profil gratis di eHarmony, situs jodoh online. Ketika dia tahu dia harus bayar, dia membatalkan idenya dan menghapus profil online nya. Setahun kemudian mereka menghubungi dia untuk mengatakan mereka menjalankan promo akhir pekan yang gratis. Karena penasaran dan bosan, ia masuk dan wanita pertama yang dilihatnya adalah Jess. Dia mengirim pesan padanya dan mereka berbicara di telepon selama empat sampai lima jam dalam semalam untuk minggu pertama. Pada akhir minggu mereka makan makanan Thailand bersama dan berbicara selama tujuh jam.

Enam bulan setelah pertemuan online, Charlie meminta ayah Jess ‘jika dia bisa menikahinya. Empat bulan kemudian mereka menikah. Apa yang tampaknya seperti waktu yang cepat sesungguhnya tidak cepat untuk Charlie. Dia telah meninggalkan berhala pernikahan dan akhirnya di tempat dalam hidupnya bersama Yesus di mana dia merasakan sukacita.

KESETIAAN ADALAH TEMA

Charlie dan Jess menikah 5 Oktober 2013 di gereja yang sama di mana Allah mengatakan kepada Charlie bahwa Dia menggenggamnya di telapak tanganNya.

“Untuk menikah sahabatku yang juga mengasihi Yesus, di gereja di mana saya menerima Roh Kudus -itu adalah hal yang luar biasa. Charlie yang menikah Jess bukanlah Charlie yang saya kenal secara historis. Saya seorang pria yang berbeda, dan itu menunjukkan kekuatan Yesus. Dia bisa mengubah kutu buku yang pemalu dengan kecanduan pornografi menjadi seorang pria yang mencintai istri dan setia. ”

Charlie mengatakan tema yang telah meliputi seluruh hidupnya adalah kesetiaan Tuhan.

“Tuhan sungguh setia. Saya pikir hal terbesar dalam cerita saya adalah bahwa saya telah terbukti waktu dan waktu lagi tidak setia, tetapi Tuhan selalu setia di dalam ketidaksetiaan saya. Dia selalu mengejar saya.

“Saya menemukan cara untuk mengacaukannya dan menutupi diri sendiri atau terganggu dengan seorang gadis atau sesuatu seperti itu, tetapi Yesus selalu membawa saya kembali kepada Nya. Sekarang iman saya sekuat yang belum pernah saya alami. Ini semua karena dia. Ini bukan karena aku. Saya tidak bisa mengambil kredit untuk itu. Aku tidak sempurna, tetapi Yesus bekerja pada saya. Saya sekarang sudah lebih dewasa. ”

Diadaptasi dari situs: http://marshill.com/2014/05/15/i-missed-jesus-charlie-s-story

John Burke

monkimage (1)

Pencipta kita Allah adalah pencemburu. Dia meniginginkan perhatian dan pengabdian kita secara penuh.

John Burke akhirnya menyadari ini setelah bertahun-tahun mencoba untuk menggantikan kasih Allah dengan setiap hal-hal yang menarik perhatiannya.

John dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik di New York, dan seperti kebanyakan rekan-rekannya, ia adalah seorang putra altar dan menghadiri gereja secara teratur dengan keluarganya. Tapi selama waktu itu, ia merasa ketakutan kepada Allah dan tidak melihat-Nya sebagai Seseorang yang dia bisa dekati dalam doa.

Kehidupan rumah John sering kacau. Ayahnya seorang pemabuk, dan John cepat belajar bahwa ia harus mengurus dirinya sendiri. Dia bertindak dalam kemarahan dan agresif terhadap orang lain, dan persona yang dia ciptakan ini ini memberinya rasa aman dan identitas.

Di sekolah, John bergaul dengan “orang-orang aneh ” – mereka yang bukan berasal dari keluarga yang penuh kasih. Pada titik ini dalam hidupnya, ia menganggap dirinya seorang agnostik. ” Saya tidak ingin berpikir tentang keberadaan Tuhan. Saya hanya memutuskan dia tidak,ada, ” kata John.

Bermain musik rock ‘ n’ roll dan memulai sebuah band membuat John untuk mengalihkan pikirannya tentang keberadaan Allah dan hidup sebagaimana dia mau. Walaupun disibukkan dengan semua aktifitas music dan gaya hidupnya, John masih memiliki pertanyaan-pertanyaan untuk Tuhan.

Kepahitan dalam hatinya terhadap kehidupan keluarganya menginginkan jawaban.

” Bagaimana mungkin Allah bisa menempatkan seorang anak dalam situasi itu ? ” pikirnya. Ketika tidak dapat menemukan jawaban, John memutuskan bahwa hidup “hanyalah lelucon yang kejam, dan Anda harus berusaha membuat jalan Anda sendiri. ”

Band John menjadi cukup populer, pertunjukannya laris, dan kadang-kadang bermain untuk ribuan orang. Tapi, setelah sensasi awal adrenalin berakhir, dia akhirnya merasa lebih kosong dari sebelumnya.

“Pada akhirnya, sukacita yang dijanjikan rock’n roll, tidak pernah datang – hal itu mengecewakan saya, ” kata John.

Allah Menggunakan Keingintahuan dan Kecerdasan John Mmelalui Orang-Orang Kristen Dalam Hidupnya.

Setelah musik memudar ketika berumur 20-an, John memutuskan untuk masuk kuliah. Dia ingin mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin dan berhasil di bidang akademik. Keinginannya berhasil, dan ia menerima banyak piagam dan penghargaan, lulus di peringkat teratas di kelasnya.

Meskipun dengan semua pemahaman dan pengetahuan yang ia terima, John tetap sangat kosong dan sedih.

Pengetahuan menguasakan dia pada awalnya, tetapi semua pemikir-pemikir ternama yang ia pelajari, seperti Plato dan Nietzsche, hanya memenuhi kebahagiaan yang sesaat. Ketenangan pikiran dan kelegaan rohani bukan sesuatu yang bisa mereka sediakan.

Gagasan tentang kecerdasan menjadi kekecewaan lainnya.

Di tengah semua usahanya untuk menemukan jati diri, Tuhan tidak pernah berhenti mengejar John. Dia mengizinkan John untuk pergi menurut ‘jalan’ nya, tetapi Dia selalu mempunyai rencana untuk menarik John kembali kepada-Nya.

Setelah musik dan pengetahuan mengecewakan, John mengejar lagi cara lain yang ia harap akan mengarah pada kebahagiaan : pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan di bidang keuangan dan investasi dan menjadi tertarik dengan wiraswasta dan ide ‘berhasil dengan usaha sendiri’.

Hari-harinya diisi dengan jam kerja yang panjang dan bacaan-bacaan tentang self-help untuk membantu dia ” memvisualisasikan kesuksesan. ”

” Usaha putus asa saya untuk menemukan kedamaian,, dalam pencarian ini, mengecewakan saya sekali lagi, ” kata John. Kepahitannya, tetap berakar dengan dalam.

Seperti banyaknya kisah-kisah dalam Alkitab tentang tokoh-tokoh dan pencarian mereka yang sia-sia, John berulang kali mencari hal-hal yang menjanjikan kebahagiaan yang bisa dia temukan, mengabaikan kalau sukacita yang sejati, hanya Tuhan yang bisa sediakan.

Ketika John berumur 41, ia menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam musik, pendidikan dan pekerjaan tidak melakukan apa pun untuk memenuhi dia. Pada titik ini, ia mulai menyelidiki spiritual. Ia belajar meditasi, Buddhisme, transendentalisme – setiap ” isme ” yang bisa dia temukan.

” Aku bisa merasakan ada sesuatu – tujuan yang lebih besar – tetapi semua studi saya dan kontemplasi tidak bisa mendefinisikannya, dan filsafat Timur meninggalkan lubang yang tidak bisa diisi, ” kata John.

Namun, Tuhan – dalam rahmat-Nya yang tak terbatas – menarik John mendekat kepada-Nya seperti yang dilakukan-Nya dengan setiap dari anak-anakNya. Dia mulai untuk menempatkan orang-orang Kristen dalam kehidupan John yang membawa kedamaian yang selama ini John berusaha untuk pahami.

Allah menantang keingintahuan dan kecerdasan John melalui mereka, dan salah satu dari teman-temannya tersebut memberi dia buku CS Lewis ‘ ” Mere Christianity. ” Buku ini menantang John untuk berpikir tentang mengapa semua orang tampaknya merindukan sesuatu yang lebih, di dalam dunia yang rusak ini.

” Aku mulai mengerti bahwa kerinduan akan sukacita ini adalah untuk dekat dengan Allah. Dosa memisahkan kita dari jalan kehidupan bersama Tuhan sejak dulu, dan manusia sendiri tidak bisa memperbaiki kondisi ini. ” Kata John. “Jadi, Yesus Kristus menanggung semua beban dosa kita atas diriNya untuk menyelamatkan kita dan menawarkan kita jalan kembali kepada Bapa. ”

John bergumul dengan Tuhan dan berdoa agar –jawaban-jawaban dapat diungkapkan. Setelah Roh Kudus bergerak dalam dirinya, mengubah hati dan pikirannya, ia percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Dia menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan berhenti mengejar hal-hal yang kosong.

Hari ini, John berlari dengan pengejaran penuh akan kemuliaan Allah. Melupakan cara-cara berpikir sebelumnya tidaklah mudah. Tapi kesadaran akan kasih yang kuat dari Allah, John telah menemukan satu-satunya kebenaran dan pengetahuan sejati yang benar-benar penting baginya.

“Sungguh suatu sukacita untuk mengetahui bahwa Dia mengutus Anak-Nya sehingga kita bisa diselamatkan, ” kata John.

Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/116731/john-burke/

Alex Launius

monkimage

Alex Launius mulai menyileti dirinya, anoreksi, dan mabuk-mabukan ketika dia beranjak 14 tahun.

Berasal dari Florida, Alex berusaha untuk bisa menyesuaikan diri. Dia memiliki “problema ayah ” itu istilah yang dia berikan, dan, ironisnya, berjuang dengan depresi yang panjang di tempat yang indah yang sering disebut “Negara Bagian Kemilau Matahari”

Depresi yang dialami berakar dari kekerasan fisik dan emosional yang didapatkan dari ayahnya.

Kehidupan Alex sudah ditentukan ke arah yang sepertinya tidak bisa diputarbalikkan sejak muda. Dia mulai merencanakan kehidupannya di sekitar minuman dan obat-obatan pada saat sebagian besar gadis seusianya hanya mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan rumah pra-aljabar mereka.

Sepanjang masa remaja dan memasuki usia 20-an, Alex melanjutkan untuk melakukan tiga aborsi sekaligus terlibat dalam beberapa hubungan sesama jenis. Dia menjadi penari erotis dan memasukkan setiap obat yang terbayangkan ke dalam tubuhnya.

Dia menemukan dirinya di penjara sebelum ulang tahunnya 21.

Tetapi Alex segera menyadari, waktu itu di balik jeruji besi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya.

Selama tiga tahun masa penjara, Alex diperkenalkan kepada Tuhan oleh sesama narapidana. Pada awalnya, kasih dari narapidana yang luar biasa ini mebuatnya frustrasi. Tapi ketika dia pergi, Tuhan mulai bekerja dalam hati Alex yang keras, membantunya memahami kedalaman kasih-Nya.

Suatu malam, di tengah-tengah perenungan dan mencarian, Alex membaca tentang kehidupan Yohanes Pembaptis di dalam Injil Matius. Tergerak oleh cerita tersebut dan ide baptisan, ia menuju ke tempat mandi penjara yang terbuat dari logam dan dingin, di mana dia membaptis dirinya di hadapan Tuhan.

Meskipun dia tidak benar-benar mengerti apa yang ia lakukan, Alex tahu dia membutuhkan sesuatu dan bahwa Yesus adalah hadiah yang terutama.

Pada saat itu, dia menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.

Setelah dia dibebaskan dari penjara, baik secara harfiah dan secara fisik, daya tarik Alex untuk wanita – di antara sejumlah kecanduan lainnya – secara ajaib hilang. Pergumulan terbesarnya sekarang adalah apa yang disebut di dalam kitab Filipi sebagai” pengetahuan dan kedalaman wawasan. “. Sesuatu yang dia tidak punya.

Dia ditempatkan di sebuah rumah transisi selama 16 bulan. Selama masa ini ia mulai belajar dan mwmahami lebih banyak tentang nilai-nilai fundamental dari keKristenan.

Suatu hari, ketika dia sedang memempelajari dan menyembah melalui video YouTube, Alex menemukan sekolah Alkitab di South Dallas dengan nama Christ for the Nations. Video penyembahan dari sekolah ini mulai menggerakan hatinya, dan dia memutuskan untuk pindah ke Texas. Setelah dia pindah ke Dallas dan terdaftar di sekolah tersebut, segala sesuatunya mulai masuk akal, dan hubungannya dengan Tuhan bertumbuh. Dia mulai mendapati dirinya menjadi kaku, dan lebih mencintai instruksi daripada Instruktur.

Alex bertemu dengan seorang pria bernama Zach, ketika dalam pelatihan untuk perjalanan misi ke Cina. Dia membantu mengajarinya kebebasan di dalam Kristus dan menghidupi iman Kristen bukan sekedar mengikuti peraturan tetapi tentang menyembah Tuhan.

Zach mengatakan dia dapat merasakan indahnya cerita yang terjadi di Yohanes 7 di mana Yesus menantang orang tanpa dosa untuk melemparkan batu pertama ke perempuan pezinah itu. Dia menyukainya karena dia tahu kedua sisi dari cerita tersebut.

Dia dan Alex berpacaran selama satu tahun, dan menikah, dan Alex melahirkan seorang bayi perempuan yang manis bernama Olivia pada Oktober 2011.

Sekarang Alex melayani di Jesus Said Love, organisasi mitra dari gereja The Village yang menjangkau para penari erotis di daerah DFW Metroplex dan mengajarkan mereka tentang kasih Kristus. “Pelayanan memberi saya begitu banyak pengharapan, membangkitkan iman saya dan menempatkan semuanya dalam perspektif, ” kata Alex. ” Meskipun semuanya itu adalah pengalaman hidupku, tapi hal itu mudah terlupakan.”

Ini adalah alasan dia begitu gembira tentang bekerja dengan organisasi Jesus Said Love. Dia menyentuh kedalaman dosa, dan Yesus telah menebus dirinya. Sekarang pesannya kepada orang lain adalah sebuah proses restorasi. ” Saya tidak pernah bisa melihat seseorang dan berkata ‘ Anda sudah terlalu jauh untuk diselamatkan, ‘ ” katanya.

Ini tidak berarti bahwa Alex tidak memiliki hari-hari yang sulit, tetapi ada maksud dari semuanya. “Saya akan senang kalau ketakutan bisa pergi begitu saja, tetapi itu tidak akan membuat saya tergantung pada Tuhan, ” katanya.

Pada bulan Januari, ia dan Zach akan pergi menuju ke Filipina untuk menyelesaikan kredit kelas misionaris perguruan tinggi mereka. Sementara itu, Alex terus menghabiskan hari-harinya mengurusi Olivia dan bekerja di toko Etsy nya.

” Saya suka membuat barang-barang untuk orang dengan pemikiran bahwa mereka akan menggunakan dan mencintainya. Kadang-kadang, sama dengan cara saya berpikir tentang Allah,” katanya. ” Anda tahu, Dia menciptakan segala sesuatu bagi kita, untuk kesenangan kita, untuk kebaikan kita. ”

Gairah untuk representasi visual tentang Kristus dalam kesenia adalah hal yang sangat mengilhami tato gelap yang tipis di lengan kanan Alex. Tatonya bertuliska ” Redeemed” (ditebus) dalam bahasa Ibrani dan tergagas dari cintanya akan kata-kata dari 1 Petrus 1:17-19 :

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Diadaptasi dari situs: http://www.thevillagechurch.net/article-stories/140411/alex-launius/

Keluarga Sudan

monkimageAlex Sudan tidak bisa memutuskan bagaimana perasaannya tentang kepindahan ke Michigan. Kadang hari dia takut, kadang hari dia penuh pengharapan, tapi kebanyakan dia hanya bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga semuanya bisa sampai ke hal itu.

Suaminya, Jason, adalah pencetus ide tersebut. Ketika Adam Thomason, mantan pendeta di gereja The Village, memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Flint, Michigan, dua tahun lalu, Jason berdoa bagi mereka dan pelayanan mereka.

Doa tersebut diam-diam berkembang menjadi suatu visi, dan akhirnya Jason merasa terdorong untuk melakukan perjalanan dengan ipar laki-lakinya ke Detroit. Kemudian Jason pergi lagi, mengajak Alex dan putri mereka yang baru lahir, Hallie, ke kota di mana dia telah jatuh cinta secara perlahan.

” Sejak perjalanan pertama saya di sana saya ingin pindah. Perbedaannya adalah pelaksanaan impian saya dan mendoakan tentang hal itu, ” kata Jason.

Alex lebih berhati-hati.

Dia tidak melihat kepraktisan meninggalkan satu-satunya komunitas gereja yang telah mereka kenal setelah menikah dan melakukan perjalanan yang meletihkan ke negara bagian di ujung lain dengan bayi putri mereka.

” Salah satu sumber ketegangan bagi kita adalah bahwa aku seorang pemimpi, dan dia seorang praktis, ” kata Jason.

Michigan kelihatannya menarik, tentu saja, dan Tuhan telah menyiapkan rencana yang ajaib “[Doa] ditambah dengan mengunjungi kota tersebut beberapa kali, Anda terus melihat jiwa-jiwa dan melihat kebutuhan, ” kata Alex.

Tapi mengapa harus pindah?

Jason benar-benar tidak tahu. ” Kami metuhankan kenyamanan. Kami memiliki rumah, anak-anak, penghasilan yang baik, keluarga kami ada di sini. Tidak ada alasan untuk pindah, ” katanya.

Tuhan Terus ‘Menyenggol’ Hati Jason Dengan Berhala ‘Kenyamanan’ – Mengapa Dia Mengejarnya Dan Apa Artinya.

Akhirnya Jason meninggalkan berhalanya. “Saya menyadari saya tidak semangat dengan banyak hal … Tidak ada satupun yang dapat menggairahkan saya lebih dari Tuhan. [Saya berpikir] bagaimana jika keluarga kami menghidupi Kisah Para Rasul 2:42-47 ? “.

Setelah hari-hari penuh doa dan tangisan bersama, keluarga Sudan membuat keputusan.

Pada musim panas 2012, mereka menanggalkan kepemimpinan Kelompok Sel yang mereka pimpin, meninggalkan gereja The Village dan mulai mengunjungi Antioch Community Church dengan tujuan untuk pindah ke Michigan sebagai bagian dari program pendirian gereja.

” Rasanya seperti tubuh saya tercabik-cabik ” kata Jason kerika meninggalkan The Village.

Alex melanjutkan, ” Tetapi ini bukan tentang gereja The Village, ini tentang Tuhan. Kita harus mengalami itu secara langsung karena mereka mengatakan ‘ Pergi dan lakukan hal itu, kita ingin Injil dikenal di negara kita. ” The Village melakukan seperti yang mereka katakan. ”

Misi keluarga Sudan masih penuh pertanyaan, tapi mereka tahu Tuhan memanggil.

” Kami merasa benar-benar yakin kalau Tuhan memanggil kita. Sungguh sukar, tetapai ada banyak kasih karunia, ” kata Alex. “Ada suatu daya tarik untuk hidup di luar dari kehidupan yang sudah kita kenal, ada sisi petualang dalam hal itu. ”

Selama setahun ke depan, mereka akan dilatih dan dilengkapi dengan berbagai cara untuk membangun gereja baru dan tumbuh ke dalam peranan yang Allah panggil untuk mereka untuk berpartisipasi dalam gereja baru mereka, rumah baru mereka.

Ini berarti semuanya, kecuali kenyamanan. Tapi Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3-4 bahwa ketidaknyamanan juga memiliki tujuan :

” Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Sebelumnya, Jason tidak tahu bagaimana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ” Mengapa Michigan ? ” Dan ” Mengapa harus Pindah ? ”

Dia tahu sekarang.

” Ketika anak-anak Anda bertanya, ‘ Mengapa Anda pindah ke sini ? ‘ Saya bisa mengatakan, ‘ Tuhan mengubah kehidupan kita, dan kami ingin berbagi Injil dengan orang lain. ‘ ” Kata Jason. ” Saya ingin orang tahu bahwa Yesus adalah lebih penting daripada kenyamanan kita. ”

Diadaptasi dari : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/179221/the-sudans/