Category Archives: Kesaksian

Ombak dan Badai Masih Mengenal NamaNya

Oleh : Erwin Analau

Heran… saya bukan orang yang tidak pernah naik pesawat. Berpuluh kali sudah pernah naik pesawat, dari yang hanya 1 atau 2 jam sampai yang ke belasan jam. Dari yang perjalanan mulus sampai yang perjalanan dengan cuaca buruk. Namun setiap kali naik pesawat, pasti selalu penuh dengan ketakutan dan kecemasan.

Baru-baru ini kami sekeluarga harus naik pesawat untuk kembali ke Seattle untuk menyudahi liburan kami di Jakarta. Pada bulan Juli, memang bulan yang kurang baik dalam sejarah penerbangan internasional. Setidaknya ada 3 kecelakaan yang diberitakan, penembakan MH17, jatuhnya TransAsia di Taiwan dan jatuhnya Air Algeria karena cuaca buruk. Pada dasarnya, kecelakaan-kecelakaan tersebut terjadi dalam kondisi yang bagaimanapun.

Berita-berita ini menjadi cerita horror yang tidak saya pikirkan, tetapi ada di benak bawah sadar saya. Ketika pesawat yang saya tumpangi mulai memasuki cuaca yang kurang baik atau turbuluance, semua berita-berita ini bermain di dalam pikiran saya. Semua ketakutan, kekhawatiran dan kepanikan mulai timbul dalam diri saya. Keringat dingin membasahi kaki dan tangan saya. Saya memegang anak pertama saya, sambil melakukan apa yang banyak dari kita lakukan ketika sedang ketakutan – berdoa dengan sungguh-sungguh.

Saya melihat ke dua anak saya, yang baru berumur 7 dan 5 tahun, mereka tertidur lelap. Mereka tertidur lelap. Mereka … sedang … tertidur … lelap …

Benar-benar sesuatu yang menghentakkan iman saya. Terus terang saya masih khawatir selama perjalanan dan mungkin akan khawatir juga untuk perjalanan-perjalanan di kemudian hari. Tapi Roh Kudus berbicara kepada saya melalui pengalaman ini.

Hidup itu sama dengan perjalanan di dalam pesawat. Dalam hidup, kalau cuaca sedang baik, jarang kita berdoa-dengan sungguh-sungguh. Jarang kita berseru kepadaNya. Tetapi ketika sedang dalam cuaca yang buruk, mulailah kita mencari Dia atau mungkin bahkan meragukan rencanaNya.

Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan ketika kita mengalami turbulence dalam hidup, khawatir atau tertidur pulas. Kita bisa memilih untuk khawatir, dan itu yang saya pilih dalam perjalanan itu. Saya mainkan semua peristiwa-peristiwa buruk dalam otak saya, dan saya terus mainkan untuk memberikan saya suatu ketenangan semu, kalau terjadi sesuatu saya sudah siap. Saya habiskan tenaga saya dan juga keringat dingin saya. Walaupun saya tahu, kalau memang terjadi peristiwa buruk, sesiap apapun saya, saya tidak akan siap dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apa.
Yang ke dua tertidur lelap, seperti ke dua anak saya. Tertidur lelap dalam cuaca yang buruk, membutuhkan suatu iman yang luar biasa. Saya berpikir ketika Yesus memberitahu kita dalam Injil untuk mempunyai iman seperti anak kecil, sepertinya Dia tahu apa yang dia bicarakan.

Ke dua anak saya mungkin tidak mengerti akan berita-berita yang saya baca. Di dalam benak mereka, mereka hanya tahu kalau perjalanan pesawat adalah dari Jakarta ke Taiwan. Dan apapun yang terjadi, mereka akan sampai ke tujuan. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana pesawat bekerja, atau siapa pilotnya, atau apa yang bisa terjadi dalam cuaca buruk, mungkin mereka tidak tahu akan semua itu, tapi yang mereka tahu papa dan mama ada bersama mereka dalam perjalanan itu dan semuanya akan beres. Sebaliknya, saya sangat yakin kalau pada waktu itu mereka tidak bersama kami, orang tuanya, mereka tidak akan setenang itu. Lebih lagi, mungkin walaupun cuaca baik dan perjalanan mulus, mereka akan terus mencari orang tua mereka.

Mereka tidak melihat kepada sesuatu atau orang yang tidak dia kenal, tetapi mereka tahu orang tua mereka ada bersama mereka.
Dalam perjalanan kekristenan saya, sering sekali – bahkan sampai sekarang – , saya selalu beriman kepada ciptaan, bukan kepada Bapa saya. Saya suka membuat rencana, saya dilatih untuk memakai logika dan eksperiment untuk membuktikan atau melihat sesuatu. Saya dilatih untuk menganalisa, kalau nilai itu sebesar ini, itu mengindikasikan hal seperti itu. Dan berulang kali di dalam cuaca yang menantang, iman saya hancur berantakan. Ketakutan, kepanikan kadang merajalela dalam perjalanan.

Saat ini, saya sedang menghadapi tantangan di dalam hidup. Saat ini juga, ada suatu ketakutan dalam hidup. Saat ini, Roh Kudus memberikan saya pengharapan di dalam ketidak pastian.

Akhir-akhir ini,saya sedang menyukai sebuah lagu dari Bethel Musik dengan judul “It is Well”. Lagu yang dimodifikasi dari hymn “It Is Well with My Soul” oleh Horatio Spafford.
Salah satu liriknya berkata

Far be it from me to not believe
Even when my eyes can’t see
And this mountain that’s in front of me
Will be thrown into the midst of the sea
So let go my soul and trust in Him
The waves and wind still know His name
It is well with my soul
It is well, it is well with my soul

Jauhkan aku dari keraguan
Walaupun mataku tidak bisa melihat
Dan gunung ini yang ada di hadapanku
Akan dibuang ke tengah samudera
Lepaslah jiwaku dan percaya kepadaNya
Ombak dan badai masih mengenal namanya
Jiwaku tenang

Roh Kudus ajarku untuk tahu dengan Siapa aku berjalan, bukan dengan apa. Bapa yang baik, Bapa yang berkuasa. Seisi alam masih mengenal namanya. Imanku bukan dengan apa, tapi kepada Siapa.

Markus 4:35-41

35 Pada sore hari itu juga, Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Marilah kita berlayar ke seberang danau.” 36 Maka Yesus naik ke perahu, dan pengikut-pengikut-Nya meninggalkan orang banyak di tepi danau, lalu naik ke perahu yang sama. Perahu-perahu lain ada juga di situ. Kemudian Yesus dan pengikut-pengikut-Nya mulai berlayar. 37 Tak lama kemudian datang angin keras. Ombak mulai memukul perahu dan masuk ke dalam sehingga perahu itu hampir penuh dengan air. 38 Di buritan perahu itu, Yesus sedang tidur dengan kepala-Nya di atas bantal. Pengikut-pengikut-Nya membangunkan Dia. Mereka berkata, “Bapak Guru, apakah Bapak tidak peduli, kita celaka?” 39 Yesus bangun, lalu membentak angin itu, dan berkata kepada danau, “Diam, tenanglah!” Angin pun reda, dan danau menjadi sangat tenang. 40Lalu Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Mengapa kalian takut? Mengapa kalian tidak percaya kepada-Ku?” 41 Maka mereka menjadi takut dan berkata satu sama lain, “Siapakah sebenarnya orang ini, sampai angin dan ombak pun taat kepada-Nya.”

Menjadi Kaya

Ada dua cara untuk menjadi kaya-memiliki banyak, atau menginginkan sangat sedikit. Cara terakhir adalah mudah bagi kebanyakan dari kita. Banyak orang membuat diri mereka sengsara dengan menginginkan lebih daripada yang pernah mereka bisa. Mereka menderita “hal-itis,” keinginan yang tak terpuaskan untuk lebih, lebih baik, dan lebih hal yang baru. Yesus adalah orang yang paling puas yang pernah hidup, dan Dia memiliki kurang dari sebagian besar dari kita. “Rubah-rubah memiliki lubang mereka, dan burung-burung sarang mereka, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Dia telah belajar rahasia menyesuaikan keinginan-Nya dengan kebutuhan-Nya.

E. Stanley Jones menceritakan tentang seorang pria miskin yang memiliki tamu semalam, dan saat ia menunjukkan dia ke kamarnya yang sederhana di hayloft ia berkata, “Jika ada sesuatu yang Anda inginkan, beritahu kami, dan kami akan datang dan menunjukkan kepada Anda bagaimana bisa hidup tanpa itu. “Kami tidak perlu belajar bagaimana untuk mendapatkan lebih banyak, tapi bagaimana bergaul dengan apa yang kita punya, dan melanjutkan urusan hidup.

Doa Harian

Bapa, Anda telah memberi saya jauh lebih banyak daripada yang saya pantas. Semoga saya selalu menunjukkan hati yang bersyukur dan puas.

Tidak Ada Penyesalan

Ketika Bill Borden, putra keluarga miliuner Bordens, pergi ke China sebagai misionaris, banyak teman-temannya pikir dia bodoh untuk “membuang hidupnya,” seperti yang mereka katakan, mencoba untuk mengkonversi beberapa kafir menjadi Kristen. Tapi Bill mencintai Kristus dan dia mencintai manusia sesamanya! Dia tidak berada di tempat misi terlalu lama,  dia mengidap penyakit dan meninggal. Di samping tempat tidurnya mereka menemukan catatan yang telah dia tulis saat dia sedang sekarat. Itu berbunyi, “Tidak ada keraguan, tidak ada mundur, dan tidak menyesal.” Bill telah menemukan kebahagiaan dalam beberapa tahun pengabdiannya daripada yang ditemukan kebanyakan orang seumur hidupnya.

Doa Harian

Bantu saya tidak menghitung biaya melayani Engkau, Tuhan Yesus, tapi biarkan aku menyerah sepenuhnya terutama kepada Engkau.

Cahaya dan Bayangan

Semua karya seni mengandung cahaya dan bayangan. Sebuah kehidupan yang bahagia adalah salah satu yang diisi tidak hanya dengan sinar matahari, tapi juga menggunakan cahaya dan bayangan untuk menghasilkan keindahan. Para musisi terbesar, pada kaidahnya, adalah mereka yang tahu bagaimana memunculkan lagu dari kesedihan. Fanny Crosby, dia bersinar dengan semangat iman di dalam Kristus, melihat lebih dengan matanya yang buta daripada kebanyakan dari kita dengan penglihatan normal. Dia telah memberi kita beberapa lagu-lagu pujian besar yang menghibur hati dan kehidupan kita. Dalam penjara yang dipenuhi tikus di Filipi, Paulus dan Silas menyanyikan lagu pujian mereka di tengah malam dengan iringan cambuk sipir itu. Tapi ketabahan mereka dalam penderitaan dan penganiayaan menyebabkan keyakinan sipir kafir.

Doa Harian

Biarkan hati saya belajar menyanyi ketika segala sesuatu di sekitar saya tampak begitu gelap. Beri aku rahmat-Mu untuk memuji Engkau, Tuhan Yesus.

Saya Merindukan Yesus : Kisah Charlie

Untitled

Kehidupan Charlie di SMA seperti layaknya filem remaja picisan. Ketika dia menjadi siswa baru, dia membuat kesalahan dengan mengatakan kepada seorang gadis bahwa pacarnya berselingkuh di belakangnya. Pacarnya, yang adalah seorang pria yang populer di sekolah, mengetahui bahwa Charlie mengkhianati dia, dan, dengan beberapa teman nya, membuat hobi baru untuk terus mengejek Charlie untuk empat tahun ke depan.

Dia mengatakan ia menerima ejekan itu dan menjadikannya identitas yang negatif.

“Jika anda mengejek saya sebagai aneh, saya akan menjadi anak aneh benar-benar,” katanya. “Jadi saya melakukan hal-hal seperti memakai piyama footie ke sekolah dan hal semacam itu. Jika Anda mengejek saya, saya akan membuat ejekan itu menjadi identitas saya dan mengejutkan Anda dengan itu. ”

Tapi peranannya sebagai Presiden dari Klub Japan di SMA tidak membantu keadaannya.

SEMAKIN DIKUCILKAN

Semakin ejekan-ejekan meningkat, begitu juga rasa pengucilan diri. Dia menemukan penghiburan dan kebersamaan dalam bermain game role-playing online role yang populer World of Warcraft. Untuk 8-14 jam sehari, dia duduk di depan layar komputer untuk melarikan diri dari dunia luar.

“Saya tidak tahu apakah itu lebih untuk persahabatan individu atau hanya menjadi bagian dari komunitas yang tidak menolak saya,” katanya. “Jika saya dalam sebuah permainan, aku bisa menjadi siapapun yang saya inginkan. Aku tidak harus menjadi anak kutu buku di SMA yang selalu diejek ketika berjalan melalui lorong-lorong. Aku bisa menjadi Pain Weaver, si Pengembara. Walaupun kedengarannya murahan, itu lebih menarik daripada kenyataan. ”

Mengucilkan diri juga membantu keinginannya untuk melihat pornografi dari usia muda. Dia mengatakan orang tuanya membuat kesalahan awam dengan membelikannya komputer ketika dia berumur 13 tahun.

“Pornografi terjadi begitu saja,” katanya. “Hal itu adalah sesuatu yang jatuh ke pangkuanku satu hari. Mulanya hanya rasa ingin tahu, kemudian menjadi kecanduan dan mengikatkan rantai di leher saya. Video game dan pornografi adalah dua hal yang mengambil alih banyak waktu saya. Saya akan bermain video game hingga larut malam dan kemudian menonton pornografi dan pergi tidur. Dan kemudian mengulangi lagi dan lagi. ”

Ketika masih muda, Charlie menghadiri sebuah gereja yang legalistik dengan orang tuanya. Sekolah Minggu adalah tentang aturan dan bagaimana dia melanggar aturan. Orang tuanya adalah orang Kristen yang masih bergumul dengan keyakinan-nya

“Saya tidak pernah menyentuh Alkitab saya, saya tidak memiliki kehidupan doa, saya tidak punya pengetahuan atau landasan dalam kitab suci atau tahu mengapa saya percaya apa yang saya percaya.”

Seiring waktu, ia mulai mempertanyakan kematian sendiri dan mulai takut mati.

“Aku akan mati suatu hari nanti. Rasa takut mati dan perasaan seperti terjebak dalam mortalitas saya sendiri… Saya menyadari kematian tidak bisa dihindari, itu akan terjadi dan tidak ada yang bisa saya lakukan tentang hal itu. Serangan panik datang pada saat-saat realisasi. Saya terus menerus memiliki panik yang eksistensial ini, di mana saya akan mengalami reaksi fisiologis, panik, dan kemudian mendapatkan lonjakan adrenalin. ”

Serangan panik berlangsung selama tiga tahun sampai ia mengatakan kepada ibunya tentang hal itu pada musim panas setelah ia lulus dari SMA. Dia bilang dia akhirnya mengatakan pada ibunya karena dia capai menutupi serangan panik dengan berlaga bersin atau pergi ke kamar mandi di mana ia akan panik dan gemetaran. Ibunya menjawab, “Kau akan ke gereja dengan saya akhir pekan ini.”

Dan dia pergi.

KARISMATIK MOMEN

Gereja ibunya bukan lagi gereja legalistik yang mereka kunjungi pada tahun-tahun sebelumnya. Selama khotbah, pendeta berbagi metafora dosa menjadi seperti bola benang yang terikat kusut. Dia mengatakan Anda mencoba untuk melepaskan simpulnya tetapi tanda disadari ternyata kekusutan itu sudah berada di kaki Anda, lebih buruk dari sebelumnya, dan tampaknya tidak mungkin untuk meluruskannya lagi. Pendeta itu mengatakan dosa membuat kita merasa seperti itu kadang-kadang.

“Aku agak terpana keluar setelah itu,” katanya. “Saya mulai berdoa, ‘Tuhan, aku merasa seperti bola benang yang paling kusut. Saya tidak berpikir saya akan pernah mendapatkan kelepasan. “Saya merasa Yesus berkata kepada saya, ‘Charlie, kamu ada di dalam telapak tanganku. Kepalan saya mencengkeram erat atas Anda. Tidak ada siapa pun yang dapat Anda lakukan untuk membawa Anda jauh dari saya. Tidak juga diri Anda. ‘

“Aku tidak dibesarkan dalam gereja karismatik tapi aku merasa seperti aku sedang mengalami momen karismatik ini. Aku merasa seperti dorongan, seperti sebuah ember penuh kasih dicurahkan di kepala saya. Saya jatuh ke depan. Saya tidak punya cara untuk menjelaskannya selain fakta bahwa saya benar-benar menerima Roh Kudus untuk pertama kalinya. Saya percaya dan mengakui bahwa saya tidak bisa melakukannya sendiri dan saya membutuhkan darah Yesus. Aku tidak pernah merasakan momen seperti itu sebelumnya.”

Setelah kebaktian, pendeta tersebut merekomendasikan buku apologetik untuk membantu meringankan keingintahuan intelektual Charlie tentang agama Kristen. Dalam mempelajari apologetik ia menemukan pengetahuan kepala, tetapi mengabaikan untuk membaca Alkitab sehingga ia kelalaian banyak pengetahuan hati dan dia tidak akan menyadari sampai ia membutuhkannya nanti. Serangan panik hilang pada hari Minggu itu.

AWAL YANG BARU

Setelah lulus SMA, ia terdaftar di Digipen Institute of Technology untuk mempelajari animasi 3D. Dia sekarang memiliki kesempatan untuk awal baru di tempat di mana tidak ada yang tahu siapa dia dan dia tidak lagi dibawa dipanggil kutu buku. Dia sudah muak diabaikan dan dijauhi dan saatnya untuk menjadi keren. Jadi dia mulai memberontak.

“Saya memanjangkan rambut saya, memakai celana ketat dan mulai mendengar death metal. Aku mendapat perhatian yang saya inginkan dan merasa kuat. ”

Sebuah situasi yang baru muncul di perguruan tinggi yang tidak pernah dialaminya. Seorang gadis memperhatikan dia. Segera dia memulai suatu hubungan dengan gadis tersebut.

“Saya berikan segalanya kepada dia tanpa ragu-ragu,” katanya. “Saya memujanya. Identitas saya adalah mengabdi kepada nya, menunjukkan hubungan dengannya, dan memenuhi keinginan berdosa saya melalui dia. ”

Dengan sedikit atau tidak ada pengertian dalam Alkitab, Yesus, doa, atau komunitas, Charlie tidak tahu bagaimana menangani hubungan. Melihat kembali ke tahun-tahun sebelumnya, ia menyadari idolanya adalah pernikahan. Pacarnya akhirnya meninggalkan dia untuk pria lain dan Charlie tidak dapat menerimanya dengan baik. Menurutnya, tuhannya telah meninggalkan dia dan tidur dengan orang lain. Dia terhancur.

MENEMUKAN GEREJA MARS HILL

Selama tahun kedua kuliah, ia mulai menghadiri Mars Hill Ballard ketika sedang berlangsung seri khotbah Religion Saves. Dia sebelumnya telah mengunjungi sekali di SMA dengan teman-teman keluarga.

“Saya melihat Injil disajikan dalam cara yang tak pernah kualami sebelumnya,” katanya. “Pendeta terus berbicara tentang Yesus dan mengajar langsung dari Alkitab. Saya belajar banyak tentang dosa dan apa arti sebenarnya dari kematian Yesus. Allah menantang pandangan duniawi saya tentang seks, cinta, dan hubungan dengan Dia. ”

Charlie dibaptis di Mars Hill Ballard pada tahun 2008 dan berpartisipasi dalam kehidupan gereja selama delapan bulan sebelum kesibukan kuliah menumpuk u dan dia berhenti menghadiri. Dia menemukan pacar lain dan memujanya dengan cara yang sama ia lakukan dengan pacar pertamanya. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia menjadi seperti seorang suami kepada wanita tersebut dengan cara tidur dengannya dan menghabiskan waktu dan uang pada dirinya.

“Idola saya akan pernikahan itu bermanifestasi dalam permainan aneh seperti ‘main rumah-rumahan’ di mana saya sudah memenuhi apa yang saya pikir sebagai suami yang baik untuk wanita yang dicintainya. Saya tidak menyadari saya memimpin dia dan saya ke dalam kegelapan dan hubungan saya dengan dia adalah beracun. ”

Hubungan larut menjadi sekedar seks dan akhirnya wanita tersebut meninggalkan dirinya.

Depresi dan rasa bersalah mengambil alih. Charlie menjauh dari Tuhan dan komunitas, karena terlalu sulit untuk menghadapi dosanya. Pada musim panas tahun 2009, Charlie sedang melihat sebuah situs kencan online dan ia menemukan seorang gadis yang ingin bertemu. Wanita itu berkata, “Aku tidak akan berkencan dengan Anda, tetapi Anda dapat datang ke gereja saya.” Gereja itu adalah Mars Hill Bellevue dan ia mulai pergi dengan dia setiap minggu. Ia juga memperkenalkan kepada komunitast lagi melalui teman-temannya.

“Aku mulai benar-benar belajar siapa Yesus sebenarnya,” katanya. “Saya tidak hanya belajar tentang dia, saya mulai mengenal dia dalam hubungan yang nyata. Yesus mengungkapkan dirinya kepada saya dengan cara yang menghancurkan Yesus yang aku kenal di masa lalu. Dia mengajar saya usaha saya, pekerjaan saya, dan perjuangan saya untuk menjadi cukup baik itu tidak perlu karena dia cukup baik bagi saya. Dia menyadarkan saya akan dosa masa lalu saya dan menguatkan saya untuk meminta maaf kepada gadis-gadis saya salah gunakan dalam nama ‘menjadi orang baik. “Dia juga menyerang dosa rahasia pornografi yang telah berlanjut selama bertahun-tahun.”

Charlie mengatakan ia jatuh cinta dengan Yesus dan Alkitab. Dia mencintai belajar tentang Yesus dan berdoa. Dia mengatakan ini adalah musim di dalam hidupnya ketika Yesus memiliki kepala dan hatinya. Itu berlangsung sampai bulan Januari 2011 saat ia mendapat pekerjaan di pusat penjualan mobil.

KEMBALI KE JALAN DOSA

Bekerja di Pusat penjualan mobil menyita waktunya, termasuk hari Minggu, jadi dia berhenti pergi ke gereja dan grup komunitas. Mengasingkan diri kembali lagi. Orang-orang yang bekerja dengan nya mengejek dia karena tidak mau mabuk dan tidur dengan wanita di sekelilingnya. Bosnya menyebutnya “orang alim” dan sebutan-sebutan lainnya yang lebih vulgar. Charlie menjadi frustrasi karena orang-orang tersebut sepertinya mempunyai kehidupan yang menyenangkan.

“Saya tidak bahagia,” katanya. “Saya tidak dalam Alkitab dan tidak berdoa. Aku marah pada Tuhan dan bertanya, “Mengapa orang-orang sangat senang ketika mereka melakukan hal-hal yang Anda katakan salah? Mengapa saya merasa tidak ada sukacita walau saya adalah salah satu kepunyaanmu? ‘”

Ini adalah titik rendah dalam kehidupan Charlie dengan Yesus. Isolasi memburuk dan ia mulai melihat pornografi lagi untuk pertama kalinya dalam satu tahun setengah.

SEBUAH TITIK BALIK YANG NYATA

Enam bulan kemudian ia terbangun di suatu Sabtu pagi, memandang sekeliling kamarnya dan mulai menangis. Satu-satunya hal yang ia pikirkan adalah, “Aku rindu Yesus.”

Ini adalah titik balik besar dalam kehidupan Charlie.

“Yesus menunjukkan kepada saya apa yang telah dilakukan hal-hal yang saya kejar,” katanya. “Saya tidak bahagia atau lebih sukacita penuh setelah mengejar hal-hal ini. Mereka tidak memberikan. Mereka tidak memenuhi saya. Mereka tidak pernah cukup. Dia biarkan aku mengejar mereka untuk menunjukkan betapa lemahnya mereka. Itu setelah poin terendah saya,saya bisa menghargai apa yang telah dilakukan Yesus bagi saya dan saya menyadari bahwa dia adalah satu-satunya alasan aku di sini di planet ini. Aku di sini untuk membawa kemuliaan bagi Yesus. Di situlah letak makna dan pemenuhan yang sesungguhnya, di dalam Yesus Kristus. ”

Charlie mulai keluar dari rumah lagi. Dia menghadiri Mars Hill Bellevue dan berhubungan kembali dengan teman lama dan grup komunitas. Saat itulah dia menyadari bahwa dia tidak pernah melayani gereja sebelumnya. Dia bilang dia ingat Pastor Mark mengatakan dalam sebuah khotbah, “Anda sudah tahu apa yang Allah panggil Anda untuk lakukan. Berhenti membuat alasan dan pergi melakukannya. “Dia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk mengajar umat-Nya sehingga ia mulai mengajar dalam pelayanan anak-anak. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Charlie memberikan Yesus kepalanya, hati, dan akhirnya, tangannya.

MENEMUKAN ISTRI

Minggu berikutnya, wanita yang adalah direktur pelayanan anak-anak pada waktu itu memintanya untuk berpikir tentang menjadi seorang magang. Ia berdoa tentang hal itu dan merasa bahwa itu adalah suatu panggilan Tuhan untuk dilakukan. Jadi dia mulai magang untuk anak usia 7-12 tahun pada awal 2012. Selama masa bekerja dalam berbagai pekerjaan dan magang, ia akhirnya datang ke titik dalam hidupnya di mana ia mampu memberitahu Tuhan, “Saya tidak peduli apakah Engkau sudah menyiapkan seseorang untuk saya nikahi. Engkau telah memanggil saya untuk melakukan hal-hal yang lainnya, jadi saya akan melakukannya. “Empat bulan kemudian ia bertemu dengan calon istrinya.

Sekitar setahun sebelum bertemu istrinya, Charlie mendaftar untuk membuat profil gratis di eHarmony, situs jodoh online. Ketika dia tahu dia harus bayar, dia membatalkan idenya dan menghapus profil online nya. Setahun kemudian mereka menghubungi dia untuk mengatakan mereka menjalankan promo akhir pekan yang gratis. Karena penasaran dan bosan, ia masuk dan wanita pertama yang dilihatnya adalah Jess. Dia mengirim pesan padanya dan mereka berbicara di telepon selama empat sampai lima jam dalam semalam untuk minggu pertama. Pada akhir minggu mereka makan makanan Thailand bersama dan berbicara selama tujuh jam.

Enam bulan setelah pertemuan online, Charlie meminta ayah Jess ‘jika dia bisa menikahinya. Empat bulan kemudian mereka menikah. Apa yang tampaknya seperti waktu yang cepat sesungguhnya tidak cepat untuk Charlie. Dia telah meninggalkan berhala pernikahan dan akhirnya di tempat dalam hidupnya bersama Yesus di mana dia merasakan sukacita.

KESETIAAN ADALAH TEMA

Charlie dan Jess menikah 5 Oktober 2013 di gereja yang sama di mana Allah mengatakan kepada Charlie bahwa Dia menggenggamnya di telapak tanganNya.

“Untuk menikah sahabatku yang juga mengasihi Yesus, di gereja di mana saya menerima Roh Kudus -itu adalah hal yang luar biasa. Charlie yang menikah Jess bukanlah Charlie yang saya kenal secara historis. Saya seorang pria yang berbeda, dan itu menunjukkan kekuatan Yesus. Dia bisa mengubah kutu buku yang pemalu dengan kecanduan pornografi menjadi seorang pria yang mencintai istri dan setia. ”

Charlie mengatakan tema yang telah meliputi seluruh hidupnya adalah kesetiaan Tuhan.

“Tuhan sungguh setia. Saya pikir hal terbesar dalam cerita saya adalah bahwa saya telah terbukti waktu dan waktu lagi tidak setia, tetapi Tuhan selalu setia di dalam ketidaksetiaan saya. Dia selalu mengejar saya.

“Saya menemukan cara untuk mengacaukannya dan menutupi diri sendiri atau terganggu dengan seorang gadis atau sesuatu seperti itu, tetapi Yesus selalu membawa saya kembali kepada Nya. Sekarang iman saya sekuat yang belum pernah saya alami. Ini semua karena dia. Ini bukan karena aku. Saya tidak bisa mengambil kredit untuk itu. Aku tidak sempurna, tetapi Yesus bekerja pada saya. Saya sekarang sudah lebih dewasa. ”

Diadaptasi dari situs: http://marshill.com/2014/05/15/i-missed-jesus-charlie-s-story

6 Fase Iman

leap-of-faith_724_482_80

Oleh : Rick Warren

Allah mengambil iman kita, dan memberkati kita melalui itu, dan itulah yang membuat hidup sebuah petualangan yang menakjubkan. Sangat penting bahwa kita bekerja sama dengan Tuhan saat ia membangun iman dalam diri kita. Berikut adalah enam fase iman yang harus kita lalui ketika Allah membawa impian kita

Fase 1 – IMPIAN: Apakah saya memiliki impian yang ditanam oleh Allah? Jika Anda tidak memiliki impian, mulailah berdoa, “Tuhan beri aku impian Mu.”

Fase 2 – KEPUTUSAN: Apakah saya perlu membuat-keputusan iman yang akan membantu impian itu menjadi kenyataan? Beberapa dari Anda memiliki impian dari Allah, tetapi Anda belum membuat keputusan untuk mengikutinya.

Fase 3 – PENUNDAAN: Apa yang menyebabkan impian saya tertunda? Jika doamu belum dijawab, tidak apa-apa. Ini hanya berarti Anda berada di ruang tunggunya Tuhan.

Fase 4 – TANTANGAN: Tantangan apa yang telah saya hadapi di kala menunggu impian agar terpenuhi ? Anda sedang diuji, tapi itu tidak akan menjadi yang terakhir kalinya. Anda akan pergi melalui banyak, banyak ujian-ujian ketika anda mengikuti impianmu yang diberikan Tuhan.

Fase 5 – JALAN BUNTU: Apakah saya mendapati jalan buntu? Beberapa dari Anda berada dalam posisi ini dan siap untuk menyerah. Tapi sebenarnya – Anda tepat berada di mana yang Tuhan inginkan. Anda disiapkan untuk pembebasan.

Fase 6 – PEMBEBASAN: Apakah saya berharap dan percaya Tuhan untuk menghantar saya? ” “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” (Matius 9:29) Tuhan adalah setia. Apa yang dia perintahkan agar kita lakukan, Dia akan melakukan.

Anda berjalan melalui fase-fase iman : Impian, Keputusan, Penundaan, Tantangan, dan Jalan Buntu… dan kemudian datanglah PEMBEBASAN !

Matius 9:29 : “Lalu Yesus menjamah mata mereka sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”

Diadaptasi dari : https://www.bible.com/reading-plans/135-rick-warrens-daily-devotional

John Burke

monkimage (1)

Pencipta kita Allah adalah pencemburu. Dia meniginginkan perhatian dan pengabdian kita secara penuh.

John Burke akhirnya menyadari ini setelah bertahun-tahun mencoba untuk menggantikan kasih Allah dengan setiap hal-hal yang menarik perhatiannya.

John dilahirkan dalam sebuah keluarga Katolik di New York, dan seperti kebanyakan rekan-rekannya, ia adalah seorang putra altar dan menghadiri gereja secara teratur dengan keluarganya. Tapi selama waktu itu, ia merasa ketakutan kepada Allah dan tidak melihat-Nya sebagai Seseorang yang dia bisa dekati dalam doa.

Kehidupan rumah John sering kacau. Ayahnya seorang pemabuk, dan John cepat belajar bahwa ia harus mengurus dirinya sendiri. Dia bertindak dalam kemarahan dan agresif terhadap orang lain, dan persona yang dia ciptakan ini ini memberinya rasa aman dan identitas.

Di sekolah, John bergaul dengan “orang-orang aneh ” – mereka yang bukan berasal dari keluarga yang penuh kasih. Pada titik ini dalam hidupnya, ia menganggap dirinya seorang agnostik. ” Saya tidak ingin berpikir tentang keberadaan Tuhan. Saya hanya memutuskan dia tidak,ada, ” kata John.

Bermain musik rock ‘ n’ roll dan memulai sebuah band membuat John untuk mengalihkan pikirannya tentang keberadaan Allah dan hidup sebagaimana dia mau. Walaupun disibukkan dengan semua aktifitas music dan gaya hidupnya, John masih memiliki pertanyaan-pertanyaan untuk Tuhan.

Kepahitan dalam hatinya terhadap kehidupan keluarganya menginginkan jawaban.

” Bagaimana mungkin Allah bisa menempatkan seorang anak dalam situasi itu ? ” pikirnya. Ketika tidak dapat menemukan jawaban, John memutuskan bahwa hidup “hanyalah lelucon yang kejam, dan Anda harus berusaha membuat jalan Anda sendiri. ”

Band John menjadi cukup populer, pertunjukannya laris, dan kadang-kadang bermain untuk ribuan orang. Tapi, setelah sensasi awal adrenalin berakhir, dia akhirnya merasa lebih kosong dari sebelumnya.

“Pada akhirnya, sukacita yang dijanjikan rock’n roll, tidak pernah datang – hal itu mengecewakan saya, ” kata John.

Allah Menggunakan Keingintahuan dan Kecerdasan John Mmelalui Orang-Orang Kristen Dalam Hidupnya.

Setelah musik memudar ketika berumur 20-an, John memutuskan untuk masuk kuliah. Dia ingin mendapatkan pengetahuan sebanyak mungkin dan berhasil di bidang akademik. Keinginannya berhasil, dan ia menerima banyak piagam dan penghargaan, lulus di peringkat teratas di kelasnya.

Meskipun dengan semua pemahaman dan pengetahuan yang ia terima, John tetap sangat kosong dan sedih.

Pengetahuan menguasakan dia pada awalnya, tetapi semua pemikir-pemikir ternama yang ia pelajari, seperti Plato dan Nietzsche, hanya memenuhi kebahagiaan yang sesaat. Ketenangan pikiran dan kelegaan rohani bukan sesuatu yang bisa mereka sediakan.

Gagasan tentang kecerdasan menjadi kekecewaan lainnya.

Di tengah semua usahanya untuk menemukan jati diri, Tuhan tidak pernah berhenti mengejar John. Dia mengizinkan John untuk pergi menurut ‘jalan’ nya, tetapi Dia selalu mempunyai rencana untuk menarik John kembali kepada-Nya.

Setelah musik dan pengetahuan mengecewakan, John mengejar lagi cara lain yang ia harap akan mengarah pada kebahagiaan : pekerjaan. Dia mendapat pekerjaan di bidang keuangan dan investasi dan menjadi tertarik dengan wiraswasta dan ide ‘berhasil dengan usaha sendiri’.

Hari-harinya diisi dengan jam kerja yang panjang dan bacaan-bacaan tentang self-help untuk membantu dia ” memvisualisasikan kesuksesan. ”

” Usaha putus asa saya untuk menemukan kedamaian,, dalam pencarian ini, mengecewakan saya sekali lagi, ” kata John. Kepahitannya, tetap berakar dengan dalam.

Seperti banyaknya kisah-kisah dalam Alkitab tentang tokoh-tokoh dan pencarian mereka yang sia-sia, John berulang kali mencari hal-hal yang menjanjikan kebahagiaan yang bisa dia temukan, mengabaikan kalau sukacita yang sejati, hanya Tuhan yang bisa sediakan.

Ketika John berumur 41, ia menyimpulkan bahwa keberhasilan dalam musik, pendidikan dan pekerjaan tidak melakukan apa pun untuk memenuhi dia. Pada titik ini, ia mulai menyelidiki spiritual. Ia belajar meditasi, Buddhisme, transendentalisme – setiap ” isme ” yang bisa dia temukan.

” Aku bisa merasakan ada sesuatu – tujuan yang lebih besar – tetapi semua studi saya dan kontemplasi tidak bisa mendefinisikannya, dan filsafat Timur meninggalkan lubang yang tidak bisa diisi, ” kata John.

Namun, Tuhan – dalam rahmat-Nya yang tak terbatas – menarik John mendekat kepada-Nya seperti yang dilakukan-Nya dengan setiap dari anak-anakNya. Dia mulai untuk menempatkan orang-orang Kristen dalam kehidupan John yang membawa kedamaian yang selama ini John berusaha untuk pahami.

Allah menantang keingintahuan dan kecerdasan John melalui mereka, dan salah satu dari teman-temannya tersebut memberi dia buku CS Lewis ‘ ” Mere Christianity. ” Buku ini menantang John untuk berpikir tentang mengapa semua orang tampaknya merindukan sesuatu yang lebih, di dalam dunia yang rusak ini.

” Aku mulai mengerti bahwa kerinduan akan sukacita ini adalah untuk dekat dengan Allah. Dosa memisahkan kita dari jalan kehidupan bersama Tuhan sejak dulu, dan manusia sendiri tidak bisa memperbaiki kondisi ini. ” Kata John. “Jadi, Yesus Kristus menanggung semua beban dosa kita atas diriNya untuk menyelamatkan kita dan menawarkan kita jalan kembali kepada Bapa. ”

John bergumul dengan Tuhan dan berdoa agar –jawaban-jawaban dapat diungkapkan. Setelah Roh Kudus bergerak dalam dirinya, mengubah hati dan pikirannya, ia percaya Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.

Dia menyerahkan hidupnya kepada Kristus dan berhenti mengejar hal-hal yang kosong.

Hari ini, John berlari dengan pengejaran penuh akan kemuliaan Allah. Melupakan cara-cara berpikir sebelumnya tidaklah mudah. Tapi kesadaran akan kasih yang kuat dari Allah, John telah menemukan satu-satunya kebenaran dan pengetahuan sejati yang benar-benar penting baginya.

“Sungguh suatu sukacita untuk mengetahui bahwa Dia mengutus Anak-Nya sehingga kita bisa diselamatkan, ” kata John.

Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/116731/john-burke/

Alex Launius

monkimage

Alex Launius mulai menyileti dirinya, anoreksi, dan mabuk-mabukan ketika dia beranjak 14 tahun.

Berasal dari Florida, Alex berusaha untuk bisa menyesuaikan diri. Dia memiliki “problema ayah ” itu istilah yang dia berikan, dan, ironisnya, berjuang dengan depresi yang panjang di tempat yang indah yang sering disebut “Negara Bagian Kemilau Matahari”

Depresi yang dialami berakar dari kekerasan fisik dan emosional yang didapatkan dari ayahnya.

Kehidupan Alex sudah ditentukan ke arah yang sepertinya tidak bisa diputarbalikkan sejak muda. Dia mulai merencanakan kehidupannya di sekitar minuman dan obat-obatan pada saat sebagian besar gadis seusianya hanya mencoba untuk menyelesaikan pekerjaan rumah pra-aljabar mereka.

Sepanjang masa remaja dan memasuki usia 20-an, Alex melanjutkan untuk melakukan tiga aborsi sekaligus terlibat dalam beberapa hubungan sesama jenis. Dia menjadi penari erotis dan memasukkan setiap obat yang terbayangkan ke dalam tubuhnya.

Dia menemukan dirinya di penjara sebelum ulang tahunnya 21.

Tetapi Alex segera menyadari, waktu itu di balik jeruji besi itu adalah hal terbaik yang pernah terjadi padanya.

Selama tiga tahun masa penjara, Alex diperkenalkan kepada Tuhan oleh sesama narapidana. Pada awalnya, kasih dari narapidana yang luar biasa ini mebuatnya frustrasi. Tapi ketika dia pergi, Tuhan mulai bekerja dalam hati Alex yang keras, membantunya memahami kedalaman kasih-Nya.

Suatu malam, di tengah-tengah perenungan dan mencarian, Alex membaca tentang kehidupan Yohanes Pembaptis di dalam Injil Matius. Tergerak oleh cerita tersebut dan ide baptisan, ia menuju ke tempat mandi penjara yang terbuat dari logam dan dingin, di mana dia membaptis dirinya di hadapan Tuhan.

Meskipun dia tidak benar-benar mengerti apa yang ia lakukan, Alex tahu dia membutuhkan sesuatu dan bahwa Yesus adalah hadiah yang terutama.

Pada saat itu, dia menerima Yesus Kristus sebagai Juru Selamatnya.

Setelah dia dibebaskan dari penjara, baik secara harfiah dan secara fisik, daya tarik Alex untuk wanita – di antara sejumlah kecanduan lainnya – secara ajaib hilang. Pergumulan terbesarnya sekarang adalah apa yang disebut di dalam kitab Filipi sebagai” pengetahuan dan kedalaman wawasan. “. Sesuatu yang dia tidak punya.

Dia ditempatkan di sebuah rumah transisi selama 16 bulan. Selama masa ini ia mulai belajar dan mwmahami lebih banyak tentang nilai-nilai fundamental dari keKristenan.

Suatu hari, ketika dia sedang memempelajari dan menyembah melalui video YouTube, Alex menemukan sekolah Alkitab di South Dallas dengan nama Christ for the Nations. Video penyembahan dari sekolah ini mulai menggerakan hatinya, dan dia memutuskan untuk pindah ke Texas. Setelah dia pindah ke Dallas dan terdaftar di sekolah tersebut, segala sesuatunya mulai masuk akal, dan hubungannya dengan Tuhan bertumbuh. Dia mulai mendapati dirinya menjadi kaku, dan lebih mencintai instruksi daripada Instruktur.

Alex bertemu dengan seorang pria bernama Zach, ketika dalam pelatihan untuk perjalanan misi ke Cina. Dia membantu mengajarinya kebebasan di dalam Kristus dan menghidupi iman Kristen bukan sekedar mengikuti peraturan tetapi tentang menyembah Tuhan.

Zach mengatakan dia dapat merasakan indahnya cerita yang terjadi di Yohanes 7 di mana Yesus menantang orang tanpa dosa untuk melemparkan batu pertama ke perempuan pezinah itu. Dia menyukainya karena dia tahu kedua sisi dari cerita tersebut.

Dia dan Alex berpacaran selama satu tahun, dan menikah, dan Alex melahirkan seorang bayi perempuan yang manis bernama Olivia pada Oktober 2011.

Sekarang Alex melayani di Jesus Said Love, organisasi mitra dari gereja The Village yang menjangkau para penari erotis di daerah DFW Metroplex dan mengajarkan mereka tentang kasih Kristus. “Pelayanan memberi saya begitu banyak pengharapan, membangkitkan iman saya dan menempatkan semuanya dalam perspektif, ” kata Alex. ” Meskipun semuanya itu adalah pengalaman hidupku, tapi hal itu mudah terlupakan.”

Ini adalah alasan dia begitu gembira tentang bekerja dengan organisasi Jesus Said Love. Dia menyentuh kedalaman dosa, dan Yesus telah menebus dirinya. Sekarang pesannya kepada orang lain adalah sebuah proses restorasi. ” Saya tidak pernah bisa melihat seseorang dan berkata ‘ Anda sudah terlalu jauh untuk diselamatkan, ‘ ” katanya.

Ini tidak berarti bahwa Alex tidak memiliki hari-hari yang sulit, tetapi ada maksud dari semuanya. “Saya akan senang kalau ketakutan bisa pergi begitu saja, tetapi itu tidak akan membuat saya tergantung pada Tuhan, ” katanya.

Pada bulan Januari, ia dan Zach akan pergi menuju ke Filipina untuk menyelesaikan kredit kelas misionaris perguruan tinggi mereka. Sementara itu, Alex terus menghabiskan hari-harinya mengurusi Olivia dan bekerja di toko Etsy nya.

” Saya suka membuat barang-barang untuk orang dengan pemikiran bahwa mereka akan menggunakan dan mencintainya. Kadang-kadang, sama dengan cara saya berpikir tentang Allah,” katanya. ” Anda tahu, Dia menciptakan segala sesuatu bagi kita, untuk kesenangan kita, untuk kebaikan kita. ”

Gairah untuk representasi visual tentang Kristus dalam kesenia adalah hal yang sangat mengilhami tato gelap yang tipis di lengan kanan Alex. Tatonya bertuliska ” Redeemed” (ditebus) dalam bahasa Ibrani dan tergagas dari cintanya akan kata-kata dari 1 Petrus 1:17-19 :

Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Diadaptasi dari situs: http://www.thevillagechurch.net/article-stories/140411/alex-launius/

Tim Dobelbower

monkimage1

Tim Dobelbower beranjak masuk ke kumpulan doa gereja The Village sebagai orang yang telah bersih sedikitnya lebih dari satu hari. Pergumulan dengan obat-obatan terlarang dimulai dengan ganja pada usia 13, dan lebih dari tiga dekade kemudian, masih berlangsung.

” Saya tidak ingin menarik perhatian untuk diriku sendiri, tapi saya ingin orang tahu di mana aku berada, ” kata Tim.

Berawal dengan pengakuan dosa dan menghabiskan Senin malam dengan tangisan. Dia telah menghadiri Kelompok Sel secara sporadis, tetapi pemimpin kelompoknya bertahan san selalu mengecek dirinya.

Dia telah mencoba berbagai program, beberapa seperti 12-steps, yang rasanya tak pernah berakhir dan berujung kembali lagi ke obat-obatan. Pemimpin kelompok Tim, Greg, bukan seorang ahli dalam hal kecanduan narkoba, tetapi ia bertanya apakah Tim telah mencoba untuk “berseru” kepada Tuhan. Bukanlah hal yang rumit, tetapi Tim mengakui bahwa itu salah satu cara yang belum pernah dia coba. Di dalam usahanya untuk mencoba membersihkan tubuhnya dari pesta mabuknya yang terakhir, Tim mencoba cara tersebut.

“Saya benar-benar menangis. Dan saya ngat hari berikutnya, sepertinya sesuatu telah terangkat, ” katanya.

Kristus Sealalu Ada Di Sana, Bekerja Di Dalam HAti Tim.

Dia menelpon Greg hari itu dan mengucapkan dua kata sederhana : ” Aku selesai “. Greg mengundang Tim untuk bergabung dengannya ke kelompok doa gereja The Village untuk bulan Januari. Sejak itu, dia tidak menggunakan obat dan telah bergabung kembali ke Kelompok Se. Pandangannya tentang Injil dan perannya dalam hidupnya berubah sama sekali.

” Saya akan melakukan apa yang gereja ini minta saya untuk lakukan, ” kata Tim.

Itu berarti menjalani hidup dengan keterbukaan dengan kelompok selnya dan memutuskan –hubungan-hubungan yang bisa menjerumuskan dia ke dalam dosa dan menjauhkannya dari Juruselamat -nya.
Kristus bertemu dengannya di mana dia berada.

Kristus selalu ada di sana, bekerja di hatinya saat dia berjuang untuk melepaskan diri dari obat-obatan dan mengejar kehampaan. Dia menggunakan saat-saat dalam kehidupan Tim untuk mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan datang.

” Tuhan tidak akan mengizinkanku untuk menutup tempat-tempat persembunyian. Ada kedamaian yang saya tidak pernah punya sebelumnya. Aku terus mengaku kesalahan saya ke kelompok sel saya, dan mereka menumpang tangan mereka pada saya, berdoa untuk saya dan tidak panik, ” katanya. ” Kalau ada gedung untuk para pendosa yang luar biasa, saya rasa saya mungkin punya ruangan khusus. ”

Pergumulannya dengan obat-obatan belum berakhir, tapi dia memenangkan setiap pertempuran hariannya sejak Senin malam pada Januari 2013. Dosa seksual juga merupakan pergumulan berkesinambungan yang memerlukan akuntabilitas, pengakuan dan disiplin dikombinasikan dengan pengampunan ketika ia gagal.

” Saya memiliki lebih banyak sukacita dalam hati saya sekarang. Seakan-akan, hal ini sudah lama menunggu saya. Akuharus menjalani semuanya itu untuk menyadari satu hal yang benar2 berarti, dan itu adalah Kristus, ” kata Tim. ” Har-hari yang penuh keputusasaan yang pernah saya alami, dipakai Tuhan dengan baik untuk keselamatan dan pensucian saya. ”

Hari ini, ia mengacu pada Kolose 1:13 sebagai pegangan sehari-hari akan identitas barunya, identitas yang tidak berpusat pada dosa yang sudah dia lakukan atau yang akan terus menghantuinya. “Dia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih;” tertulis di ayat tersebut.

” Aku bisa menerima bahwa saya tidak baik. Setiap dosa yang sudah terselesaikan, saya akan temukan dosa baru lagi yang Tuhan ungkapkan, dan hal itu sungguh indah bagi saya sekarang. Itu adalah karunia ” kata Tim. ” Ketika saya meninggalkan obat-obatan sebelumnya, saya pikir semua hal akan menjadi lebih baik. Saya ingin seperti orang yang sempurna, yang bisa mengendalikan semuanya. Saya menginingkan perubahaan secara eksternal, dan kadan itu terjadi, tapi hatiku tetap sama. ”

Berseru dan menangis kepada Tuhan akhirnya membantu mengubah fokus dari hatinya, walau terperosok dalam dosa namun tetap memandang kepada Kristus untuk pengampunan dan penebusan, didertai dengan pengertian akan cinta-Nya yang tak berkesudahan dan kuasa dari kasih karunia-Nya.

Cerita oleh David Ubben
Foto oleh Jesse McKee

Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/192701/tim-dobelbower/

Keluarga Sudan

monkimageAlex Sudan tidak bisa memutuskan bagaimana perasaannya tentang kepindahan ke Michigan. Kadang hari dia takut, kadang hari dia penuh pengharapan, tapi kebanyakan dia hanya bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga semuanya bisa sampai ke hal itu.

Suaminya, Jason, adalah pencetus ide tersebut. Ketika Adam Thomason, mantan pendeta di gereja The Village, memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Flint, Michigan, dua tahun lalu, Jason berdoa bagi mereka dan pelayanan mereka.

Doa tersebut diam-diam berkembang menjadi suatu visi, dan akhirnya Jason merasa terdorong untuk melakukan perjalanan dengan ipar laki-lakinya ke Detroit. Kemudian Jason pergi lagi, mengajak Alex dan putri mereka yang baru lahir, Hallie, ke kota di mana dia telah jatuh cinta secara perlahan.

” Sejak perjalanan pertama saya di sana saya ingin pindah. Perbedaannya adalah pelaksanaan impian saya dan mendoakan tentang hal itu, ” kata Jason.

Alex lebih berhati-hati.

Dia tidak melihat kepraktisan meninggalkan satu-satunya komunitas gereja yang telah mereka kenal setelah menikah dan melakukan perjalanan yang meletihkan ke negara bagian di ujung lain dengan bayi putri mereka.

” Salah satu sumber ketegangan bagi kita adalah bahwa aku seorang pemimpi, dan dia seorang praktis, ” kata Jason.

Michigan kelihatannya menarik, tentu saja, dan Tuhan telah menyiapkan rencana yang ajaib “[Doa] ditambah dengan mengunjungi kota tersebut beberapa kali, Anda terus melihat jiwa-jiwa dan melihat kebutuhan, ” kata Alex.

Tapi mengapa harus pindah?

Jason benar-benar tidak tahu. ” Kami metuhankan kenyamanan. Kami memiliki rumah, anak-anak, penghasilan yang baik, keluarga kami ada di sini. Tidak ada alasan untuk pindah, ” katanya.

Tuhan Terus ‘Menyenggol’ Hati Jason Dengan Berhala ‘Kenyamanan’ – Mengapa Dia Mengejarnya Dan Apa Artinya.

Akhirnya Jason meninggalkan berhalanya. “Saya menyadari saya tidak semangat dengan banyak hal … Tidak ada satupun yang dapat menggairahkan saya lebih dari Tuhan. [Saya berpikir] bagaimana jika keluarga kami menghidupi Kisah Para Rasul 2:42-47 ? “.

Setelah hari-hari penuh doa dan tangisan bersama, keluarga Sudan membuat keputusan.

Pada musim panas 2012, mereka menanggalkan kepemimpinan Kelompok Sel yang mereka pimpin, meninggalkan gereja The Village dan mulai mengunjungi Antioch Community Church dengan tujuan untuk pindah ke Michigan sebagai bagian dari program pendirian gereja.

” Rasanya seperti tubuh saya tercabik-cabik ” kata Jason kerika meninggalkan The Village.

Alex melanjutkan, ” Tetapi ini bukan tentang gereja The Village, ini tentang Tuhan. Kita harus mengalami itu secara langsung karena mereka mengatakan ‘ Pergi dan lakukan hal itu, kita ingin Injil dikenal di negara kita. ” The Village melakukan seperti yang mereka katakan. ”

Misi keluarga Sudan masih penuh pertanyaan, tapi mereka tahu Tuhan memanggil.

” Kami merasa benar-benar yakin kalau Tuhan memanggil kita. Sungguh sukar, tetapai ada banyak kasih karunia, ” kata Alex. “Ada suatu daya tarik untuk hidup di luar dari kehidupan yang sudah kita kenal, ada sisi petualang dalam hal itu. ”

Selama setahun ke depan, mereka akan dilatih dan dilengkapi dengan berbagai cara untuk membangun gereja baru dan tumbuh ke dalam peranan yang Allah panggil untuk mereka untuk berpartisipasi dalam gereja baru mereka, rumah baru mereka.

Ini berarti semuanya, kecuali kenyamanan. Tapi Paulus berkata dalam 2 Korintus 1:3-4 bahwa ketidaknyamanan juga memiliki tujuan :

” Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Sebelumnya, Jason tidak tahu bagaimana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ” Mengapa Michigan ? ” Dan ” Mengapa harus Pindah ? ”

Dia tahu sekarang.

” Ketika anak-anak Anda bertanya, ‘ Mengapa Anda pindah ke sini ? ‘ Saya bisa mengatakan, ‘ Tuhan mengubah kehidupan kita, dan kami ingin berbagi Injil dengan orang lain. ‘ ” Kata Jason. ” Saya ingin orang tahu bahwa Yesus adalah lebih penting daripada kenyamanan kita. ”

Diadaptasi dari : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/179221/the-sudans/