Category Archives: Dunia

Kekhawatiran Meningkat Sejalan Dengan Penyebaran Bakteri Kebal Antibiotik

_86140576_c0229913-drug-resistant_enterobacteria_bacteria-spl

Lebih dari 6.000 kematian per tahun dapat disebabkan karena penurunan 30% dalam efektivitas antibiotik di AS, menurut sebuah laporan dari jurnal kedokteran The Lancet.

Dilaporkan sebagian dari kelonjakan akan jumlah kematian terjadi pada pasien yang menjalani operasi kolorektal, kemoterapi kanker darah, dan penggantian pinggul (hip replacement).

Para ahli di Inggris mengatakan bahwa, penelitian ini mengkonfirmasi kekhawatiran mereka akan bahayanya bakteri kebal antibiotik dalam operasi-operasi rutin.
Pejabat kepala medis Inggris menyebut masalah ini sebagai “bom waktu” yang bisa meledak seawaktu-waktu..

Dalam laporan ini, sebuah tim ilmuwan dari sejumlah lembaga Amerika yang berbeda, memperkirakan bahwa sebanyak setengah dari semua bakteri yang menyebabkan infeksi setelah operasi di AS, kebal terhadap antibiotik.

Mereka juga memperkirakan bahwa satu dari empat infeksi yang diobati dengan antibiotik setelah perawatan kemoterapi, sekarang kebal terhadap obat.

Untuk laporan tersebut, peneliti melihat apa yang bisa terjadi pada orang yang memiliki operasi umum dan sedang dirawat karena kanker dengan kemoterapi, jika resistensi antibiotik meningkat sepertiga – sejalan dengan tren saat ini.

Mereka menghitung bahwa di Amerika Serikat akan ada peningkatan sebsar 120.000 dalam jumlah infeksi dan 6.300 dalam jumlah kematian setiap tahunnya.

Penulis utama studi Prof Ramanan Laxminarayan, direktur dari Cenre for Disase Snamics, Economics, and Policy di Washington DC, mengatakan antibiotik adalah batu pondasi dari kedokteran modern namun pengurangan efektivitasnya adalah “suatu tantangan signifikan”.

Dia menjelaskan: “Bahaya dari resistensi antibiotik mengurangi nilai dari pengobatan modern.”

Dia mengatakan resistensi antibiotik sudah membunuh bayi yang baru lahir di negara berkembang dan sebagian besar orang tua di negara maju.
Dan sebagai penduduk lanjut usia meningkat, mereka akan menghadapi lebih banyak operasi dan lebih berisiko terkena infeksi, katanya.

Dia mendesak para ahli kesehatan masyarakat untuk mengeluarkan “strategi baru dalam pencegahan dan pengendalian resistensi antibiotik di tingkat nasional dan internasional”.

‘Melemahkan Pengobatan’

Prof Laura Piddock, direktur Antibiotic Actioni dan profesor mikrobiologi di University of Birmingham, sebelumnya telah memperingatkan potensi dari dampak resistensi antibiotik pada operasi rutin.

“Adalah baik untuk melihat bukti dari AS yang mendukung kekhawatiran serius ini bahwa resistensi antibiotik akan berdampak pada banyak bidang kedokteran, termasuk melemahkan pengobatan pasien kanker.”

Dia mengatakan dia berharap laporan itu akan menjadi ”’wake-up call’ yang keras untuk perusahaan-perusahaan farmasi” untuk meneliti dan mengembangkan pengobatan baru untuk infeksi bakteri.

“Tanpa pengobatan antibiotik, keberhasilan pasien dalam pengobatan kanker akan cenderung berkurang dan sangat tidak mampu untuk memetik keberhasilan dari pengobatan dan terapi-terapi baru yang dapat memperpanjang hidup penderita kanker,” katanya.

Namun, untuk saat inidi Inggris, belum ada tanda-tanda signifikan dari kegagalan antibiotik dalam mengendalikan infeksi setelah operasi rutin.

Sebaliknya, data menunjukkan bahwa tingkat infeksi Inggris sedikit berkurang, menurut laporan dari Dinas Kesehatan Masyarakat Inggris.

Tapi Prof Nigel Brown, Presiden dari the Mikrobiologi Society, mengatakan bahwa penelitian itu relevan dengan Inggris.

“Resistensi antibiotik adalah masalah global dan kemungkinan bahwa operasi rutin seperti penggantian pinggul dan operasi caesar elektif akan menjadi lebih jarang di Inggris, kecuali langkah-langkah diambil untuk mencegah penyebarannya.”

Manusia vs super bakteri (bakteri kebal antibiotik)

  • Superbakteri adalah ancaman utama atas kesehatan global di mana bakteri yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik, menyebabkan sekitar 400.000 infeksi dan 25.000 kematian di Eropa setiap tahun.
  • Ulah manusia mempercepat resistensi antibiotik pada bakteri, terutama di bidang pertanian dan kesehatan. Hampir 50% dari resep antibiotik sebenarnya tidak diperlukan.
  • Apakah kita menghadapi masa depan di mana batuk atau luka kecil bisa membunuh?

Diterjemahkan dari : http://www.bbc.com/news/health-34541253

Bahkan Ateis-pun Secara Intuitif Percaya Akan Adanya Pencipta

MTMwNzgzNTIyNjE2MDIyMjkw
Oleh TOM JACOBS

Penelitian baru menunjukkan melihat alam sebagai sengaja diciptakan adalah pengaturan default kita.

Sejak Darwin mengungkapkan teorinya, secara bertahap bukti-bukti menumpuk untuk menolak pemikiran bahwa alam adalah produk dari seorang tuhan atau sebuah pencipta lainnya. Namun keyakinan ini tetap nyata bersarang di otak manusia.

Betapa yakin-nya adalah subjek dari penelitian yang baru saja diterbitkan, yang mana menemukan bahwa, meskipun mereka yang menamakan dirinya Ateis, secara naluriah, memikir bahwa fenomena alam adalah sesuatu yang sengaja diciptakan.

Temuan tersebut “menunjukkan bahwa ada kecenderungan alami yang sangat berakar untuk melihat bahwa alam semesta adalah hasil suatu perancangan,” tulis tim riset yang dipimpin oleh Elisa Järnefelt dari Newman University. Mereka juga memberikan bukti bahwa, dalam kata-kata para peneliti, “agama tanpa-keyakinan (ateis) adalah suatu pandangan yang harus diusahakan. ”

Dalam jurnal Cognition, Järnefelt dan rekan-rekannya menjelaskan tiga studi yang dilakukan di Universitas Boston, yang pertama melibatkan 352 orang dewasa di Amerika Utara direkrut secara online. Semua peserta ditampilkan serangkaian 120 foto, termasuk pemandangan alam dan artefak buatan manusia.

Mereka diinstruksikan untuk menilai apakah “benda dalam foto tersebut adalah sengaja dirancang oleh sesuatu” dengan menekan tombol yang ditunjuk “ya” atau “tidak.” Kira-kira setengah dari peserta melakukannya di bawah “kondisi cepat”, di mana mereka hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 865 milidetik untuk menanggapi setiap foto.

Tidak mengherankan, para peneliti menemukan bahwa “peserta yang beragama” mempunyai kecenderungan dasar untuk menganggap alam sebagai hasil ciptaan lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka yang tidak beragama. Lebih penting lagi, merek juga menemukan bahwa peserta yang tidak beragama “sangat umum untuk mengidentifikasikan fenomena alami sebagai sengaja dibuat/hasil ciptaan” ketika “mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk menyensor pemikiran mereka. ”

Hasil penelitian menunjukkan bahwa “kecenderungan untuk menafsirkan makhluk hidup dan alam sekeliling-nya sebagai suatu hasil rancangan didapat dari proses kognitif otomatis/alami, bukan karena secara eksplisit mempunyai agama/keyakinan.”

Studi kedua menggunakan prosedur yang sama seperti yang pertama, tetapi peserta melibatkan 148 orang dewasa di Amerika Utara “yang direkrut melalui daftar e-mail dari organisasi ateis dan asosiasi non-agama lain.”

Hasil mencerminkan hasil-hasil dari studi pertama, bahwa “dalam kondisi yang tergesa-gesa (secara naluri), ketika menilai alam sekeliling nya, ateis mempunyai tendensi untuk menganggap alam adalah hasil ciptaan dari suatu makhluk bukan manusia .”

Studi ketiga atas orang-orang non-religius dari Finlandia, sebuah negara di mana ateisme “bukan masalah, dan di mana budaya ketuhanan tidak sekental seperti di AS” menghasilkan hasil yang sama.

“Intuisi akan adanya Pencipta tertanam sangat dalam,” para peneliti menyimpulkan, “Bahkan tidak mengendur dalam mereka yang tidak memiliki komitmen agama secara eksplisit dan, bahkan, di antara mereka yang berusaha menolak agama secara aktif.”

Jadi “ateis yang sejati mungkin sangat jarang di antara orang dewasa, berbeda anggapan sebelumnya,” s Järnefelt dan rekan-rekannya menjelaskannya. Hal ini, menurut mereka, membantu menjelaskan mengapa begitu banyak orang salah paham akan teori evolusi.

Kita cenderung untuk menyerap ” informasi ilmiah yang baru dipelajari” ke dalam sistem kepercayaan yang sudah ada, para peneliti mencatat. Dalam hal ini, pemikiran sintesis tersebut menuju pada gagasan yang keliru bahwa seleksi alam (natural selection) adalah “hasil rancangan yang setengah-sengaja oleh suatu kekuatan yang memberikan hewan ciri-ciri fungsional yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. ”

Jadi anggota gerakan ateisme baru tidak perlu terlalu sombong bahwa ide-ide mereka akhirnya akan menang. Dan pendidik sains yang mencoba untuk menanamkan dasar-dasar teori evolusi harus menemukan cara untuk melakukannya, sambil menyadari kecenderungan naluriah siswa mereka untuk menanggap adanya suatu pencipta.

Di adaptasi dari
http://www.psmag.com/nature-and-technology/even-atheists-intuitively-believe-in-a-creator

Penelitian Terbesar Tentang Usia Orang Tua Dan Autism Menemukan Resiko Terhadap Ibu Berusia Remaja

Penelitian tersebut juga mengungkapkan risiko dengan kesenjangan yang lebar antara usia bapak dan ibu; penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami penybebnya

parental_age_hero

Penelitian multinasional terbesar yang pernah dilakukan tentang usia orang tua dan risiko autisme menemukan tingkat autisme meningkat di antara anak-anak dengan ibu yang berusia remaja dan anak-anak yang orang tuanya memiliki perbedaan usia yang besar antara ibu dan ayah. Penelitian ini juga menegaskan bahwa orang tua yang lebih tua memiliki risiko lebih tinggi memiliki anak dengan autisme. Analisis ini melibatkan lebih dari 5,7 juta anak di lima negara.

Penelitian yang didanai oleh Organisasi Autism Speaks, dipublikasikan secara online dalam jurnal Molecular Psychiatry.

“Meskipun telah banyak penelitian yang kita lihat tentang autisme dan usia orang tua sebelumnya, penelitian ini tidak seperti yang lain,” kata rekan penulis Michael Rosanoff, Direktur Penelitian Kesehatan Masyarakat dari oganisasi Autism Speaks. “Dengan menghubungkan pendaftar kesehatan nasional di lima negara, kami membuat kumpulan data terbesar di dunia untuk meneliti faktor-faktor yang meningkatkan risiko autisme. Banyaknya data memungkinkan kita untuk melihat hubungan antara usia tua dan autisme pada resolusi yang lebih tinggi – seumpama di bawah mikroskop”.

“Meskipun usia tua adalah faktor risiko untuk autisme, penting untuk diingat bahwa, secara keseluruhan, mayoritas anak-anak yang lahir pada orang tua yang berumur tua atau muda orang akan berkembang secara normal,” tambah rekan penulis Sven Sandin. Dr Sandin, seorang ahli epidemiologi medis, bekerja di Mount Sinai School of Medicine, di New York, dan Swedia Karolinska Institute.

Laporan ini didasarkan pada penelitian yang lebih luas dari Kolaborasi Internasional untuk Autisme Registry Epidemiologi (iCARE). Autism Speaks merupakan pendukung utama iCARE, dengan tujuan lebih memahami faktor-faktor yang dapat menambah atau mengurangi resiko autisme.

Meskipun penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi hubungan antara orang tua usia lanjut dan risiko autisme, banyak aspek dari asosiasi tersebut masih belum jelas. Misalnya, beberapa studi menemukan peningkatan risiko dengan ayah yang lebih tua tetapi tidak pada ibu.

Tujuan dari studi baru ini adalah untuk menentukan apakah peningkatan atas usia ibu atau ayah secara independen meningkatkan risiko autisme – dan sejauh mana masing-masing dapat meningkatkannya.

Didukung oleh dana penelitian dari organisasi Autism Speaks, tim iCare melihat tingkat autisme antara 5,0766,794 anak – termasuk lebih dari 30,000 anak autis – di Denmark, Israel, Norwegia, Swedia dan Australia Barat. Anak-anak tersebut lahir antara tahun 1985 dan 2004. Para peneliti memantau perkembangan mereka antara tahun 2004 dan 2009, juga memeriksa catatan kesehatan nasional untuk diagnosa autisme.
Dalam analisis mereka, para peneliti mengidentifikasi dan mengontrol pengaruh-pengaruh lainnya yang berhubungan dengan usia yang mungkin mempengaruhi risiko autisme. Ketika memisahkan pengaruh usia ibu terhadap usia ayah, mereka juga menyesuaikan dengan potensial pengaruh dari usia orang tua (orang tua angkat) lain.

“Setelah menemukan bahwa semua risiko antara usia ayah, usia ibu dan kesenjangan umur antar orang tua mempengaruhi autis secara independen, kita menghitung aspek mana yang paling penting,” Dr. Sandin menambahkan. “Kesimpulannya adalah usia orang tua, meskipun kesenjangan usia juga memberikan kontribusi yang signifikan. ”

Secara khusus penelitian ini menemukan:

  • Tingkat Autisme menjadi 66 persen lebih tinggi di antara anak-anak yang terlahir dari ayah yang berusia lebih dari 50 tahun dibandingkan mereka yang lahir dari ayah berusia 20-an. Tingkat Autisme adalah 28 persen lebih tinggi ketika ayah berada di usia 40-an dibandingkan 20-an.
  • Tingkat Autisme menjadi 18 persen lebih tinggi di antara anak-anak yang lahir dari ibu remaja dibandingkan mereka yang lahir dari ibu yang berusia 20-an.
  • Tingkat Autisme adalah 15 persen lebih tinggi pada anak-anak yang lahir dari ibu di usia 40-an, dibandingkan dengan mereka yang lahir dari ibu berusia 20-an
  • Tingkat Autisme menjadi lebih tinggi bila kedua orang tua berusia senja, sejalan dengan apa yang diharapkan jika usia masing-masing orang tua berkontribusi terhadap risiko.
  • Tingkat Autisme juga meningkat setara dengan melebarnya kesenjangan antara usia ke dua orang tua. Angka ini tertinggi bila ayah berusia antara 35 dan 44 tahun dan pasangannya lebih muda 10 tahun atau lebih. Sebaliknya, peningkatan terlihat pada ibu berusia 30-an dan pasangannya lebih muda 10 tahun atau lebih.

Peningkatan resiko yang terkait dengan ayah yang berusia lebih dari 50 tahun konsisten dengan gagasan bahwa peningkatan mutasi genetik pada sperma sejalan dengan peningkatan usia manusia dan bahwa mutasi ini dapat berkontribusi terhadap perkembangan autisme. Sebaliknya, faktor risiko yang terkait dengan usia ibu tetap belum terjelaskan, juga dengan faktor yang berkaitan dengan kesenjangan yang besar antara usia ibu dan ayah.

“Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa adanya beberapa mekanisme berkontribusi pada hubungan antara usia orangtua dan risiko ASD,” para penulis menyimpulkan.

“Ketika kami pertama kali melaporkan bahwa usia tua ayah meningkatkan risiko autisme, kami menyarankan bahwa mutasi mungkin menjadi penyebabnya,” catatan penulis Abraham Reichenberg. “Penelitian genetika kemudian menunjukkan bahwa hipotesis ini benar. Dalam studi ini, kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa risiko autisme berhubungan dengan kesenjangan antara usia orang tua. Penelitian di masa depan harus melihat ke dalam ini untuk memahami mekanismenya.” Dr. Reichenberg adalah seorang neuropsikolog dan ahli epidemiologi dari Mount Sinai School of Medicine, di New York City.

Jawaban tersebut adalah salah satu tujuan dari proyek MSSNG (diucapkan “hilang”) dari organisasi Aurism Speak. MSSNG, inisiatif pemetaan sekuen genom Autism yang terbesar di dunia, menyediakan komunitas riset autisme dengan data genom dan peralatan yang diperlukan untuk menemukan penyebab dan potensi perawatan individual pada autisme.

Di terjemahkan dari:
https://www.autismspeaks.org/science/science-news/large-study-parent-age-autism-finds-increased-risk-teen-moms

Penyuntikan Ebola Dengan Pesangon $845 di Danau Jenewa Untuk Mendukung Pengetesan Vaksin

Dokter Blaise Genton saat konferensi pers pada 28 Oktober 2014, di depan layar yang menunjukkan dua vaksin Ebola yang akan diuji di Swiss di rumah sakit CHUV di Lausanne, Swiss barat.

Dokter Blaise Genton saat konferensi pers pada 28 Oktober 2014, di depan layar yang menunjukkan dua vaksin Ebola yang akan diuji di Swiss di rumah sakit CHUV di Lausanne, Swiss barat.

Oleh Jason Gale dan Marthe Fourcade – 29 Oktober 2014

Lausanne, Swiss, yang terkenal dengan restoran yang nikmat, kebun-kebun anggur bertingkat-tingkat, jalan-jalan rapi yang menulang dari gunung sampai ke Danau Jenewa — dan, mulai tanggal 31 Oktober, kesediaan beberapa warga nya untuk disuntik dengan bagian dari virus Ebola.

Kota ini akan menjadi tuan rumah studi terbesar untuk vaksin eksperimental untuk melawan Ebola, langkah kunci dalam menghentikan wabah tersebut. Walaupun kawasan tenang tersebut jauh berbeda dari kawasan wabah di Afrika Barat, ilmuwan penanggung jawab tes mengatakan dia berhasil menemukan kelompok pertama dari partisipan yang bersedia — meskipun sebagian besar adalah dokter dan mahasiswa kedokteran.

Vaksin yang aman dan efektif dipandang sebagai alat penting untuk membantu penekanan penyakit Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa virus tersebut bisa menyerang sebanyak 10.000 orang per minggu sampai bulan Desember. Vaksin, yang dibuat oleh GlaxoSmithKline Plc, akan diuji di Lausanne pada 120 orang dewasa yang sehat. Sejauh ini, lebih dari 50 orang telah berpartisipasi secara sukarela, kata Blaise Genton, pemimpin studi tersebut, yang telah bekerja di lebih dari 20 vaksin uji coba.

“Yang satu ini sangat berbeda dari yang lain, saya beritahu Anda, itu sebabnya saya cukup optimis,” Genton, seorang profesor di University Hospital of Lausanne, mengatakan dalam sebuah wawancara. “Kita harus bekerja lebih cepat sehingga kita mungkin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang kita miliki sekarang dalam hal tindakan pencegahan.”

Kiriman yang terdiri atas 101 tabung vaksin akan tiba hari ini atau Kamis dari Amerika Serikat, yang memungkinkan untuk memulai inokulasi pekan ini, kata Genton. Suntuikan eksperimental ini didasarkan pada versi hidup dari virus simpanse hasil rekayasa genetika yang berisi gen Ebola. Wakil dari Glaxo menolak berkomentar.

Penduduk Setempat Waspada

Sementara Genton mengatakan dia menemukan banyak kolega dan mahasiswa kedokteran bersedia menjadi sukarelawan, merekrut peserta dari masyarakat luas mungkin akan lebih sulit. Mereka yang secara acak akan menerima baik suntikan eksperimental atau plasebo menerima 800 franc Swiss ($ 845) sebagai penggantian atas waktu dan biaya perjalanan.

Berjalan-jalan di sepanjang danau, stasiun kereta api dan koridor rumah sakit di mana percobaan dilakukan menemukan bahwa penduduk setempat sangat waspada.

“Saya benar-benar tidak ingin memiliki virus hewan disuntikkan dalam tubuh saya,” kata Sebastien Charpie, akuntan publik dari Neuchâtel, satu setengah jam dari lokasi. “Penyakit ini berasal dari benua lain, mungkin itu sebabnya saya merasa kurang peduli.”

Juga, Charpie mengatakan: “Pesangon nya sangat rendah dibanding resiko yang Anda ambil.”

Efek Samping

Di Beau Rivage Palace, di mana rumput-rumput terawat terbentang menuju danau dan harga segelas cappuccino adalah 10 franc, Charpie dan enam orang lain yang diwawancarai mengatakan mereka tidak akan mendaftarkan diri untuk penelitian. Demikian juga, lima pekerja rumah sakit dan dua supir taksi tidak bersedia menjadi sukarelawan, meragukan motivasi dari industri farmasi serta masalah keamanan. Bahkan seorang apoteker di stasiun pusat Lausanne, Hicham Tayebi, memberikan alasan masalah kesehatan.

“Anda bisa menawarkan saya seribu kali jumlah yang dibayar dan aku masih akan mengatakan tidak,” kata Kabongo Mlamba, sopir taksi lokal yang lahir di Kinshasa di Republik Demokratik Kongo, di mana Ebola muncul pada tahun 1976. “Sisi efeknya bisa memprihatinkan, “ayah dari enam ank itu menambahkan.

Peserta akan dipantau untuk efek samping dan darah mereka akan dimonitor untuk mencari tanda-tanda respon imun.

Tes bulan ini di US National Institutes of Health, University of Oxford dan di Mali yang melibatkan puluhan orang sejauh ini tidak menunjukkan efek samping yang serius, Genton mengatakan kepada wartawan di Lausanne hari ini. Gejala minor hanya menunjukkan nyeri pada titik injeksi, demam ringan dan sakit kepala, katanya.

Sistem Kekebalan

Reaksi terhadap vaksin mungkin mencerminkan respon sistem kekebalan terhadap vaksin, kata Marie-Paule Kieny, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk sistem kesehatan dan inovasi, dalam sebuah wawancara di kantor pusat badan Jenewa.

Tes di Lausanne adalah yang terbesar dalam serangkaian studi yang berlangsung, menurut WHO, yang mengkoordinasi penelitian. Badan kesehatan PBB juga mengkoordinasikan percobaan vaksin eksperimental kedua berjalan bersamaan di Geneva University Hospital.

“Jika terbukti aman dan efektif, kedua vaksin tersebut dapat ditingkatkan untuk produksi selama kuartal pertama tahun depan, dengan jutaan dosis diproduksi untuk distribusi yang luas di negara-negara berisiko tinggi,” kata Kieny dalam sebuah pernyataan hari ini.

Adenovirus Simpanse

Hasil awal adalah diharapkan selesai pada pertengahan Desember, Kieny mengatakan dalam wawancara. Pendekatan serupa menggunakan adenovirus simpanse sebagai vektor untuk imunisasi terhadap HIV dan TB tidak berhasil, katanya.

“Ini wilayah baru,” kata Kieny, yang telah setuju untuk berpartisipasi dalam pengujian di Jenewa. “Ini adalah vaksin yang sama sekali baru.”

Dua dosis vaksin akan diuji. Dosis terendah, yang terbukti dapat mengaktifkan respon imun yang cukup, akan digunakan, kata Genton, yang telah menghabiskan 25 tahun bekerja pada vaksin, termasuk malaria di Afrika.

“Kami tidak mengetahui tingkat antibodi yang diperlukan untuk melindungi, atau bahkan jika antibodi tersebut melindungi,” katanya.

ILMUWAN BERLOMBA UNTUK MENTEST VAKSIN EBOLA PADA MANUSIA

download

BY Matius Perrone DAN Lauran NEERGAARD

WASHINGTON (AP) – Para ilmuwan berlomba untuk memulai pertama kalinya tes keamanan pada manusia dari dua vaksin eksperimental Ebola, tetapi bukan hal yang mudah untuk membuktikan bahwa cara-cara tersebut dan perawatan potensial lainnya yang sedang diusahakan benar-benar bekerja.

Belum ada obat atau vaksin yang terbukti untuk Ebola, penyakit yang sangat langka sehingga sulit untuk menarik investasi untuki penanggulangan. Tetapi wabah saat ini di Afrika Barat – yang terbesar dalam sejarah – memicu upaya baru untuk mempercepat vaksin dan pengembangan obat untuk Ebola.

Sedikit yang sedang dikerjakan sebagian besar telah didanai oleh pemerintah, termasuk dua kandidat vaksin yang paling mendekati studi untuk manusia: Satu dikembangkan oleh pemerintah AS yang siap untuk memasuki tes tahap awal pada sukarelawan sehat musim gugur ini, yang kedua dikembangkan oleh pemerintah Kanada dan tidak jauh di belakang.

Tes awal biasanya dilakukan pada beberapa lusin sampai 100 orang, untuk mencari tanda-tanda peringatan efek samping dan mencari tahu dosis yang baik – bukan untuk membuktikan bahwa obat-obatan tersebut benar-benar akan melindungi orang terhadap infeksi oleh virus Ebola. Karena vaksin diberikan kepada orang-orang yang sehat, bukan mereka yang sudah sakit, mendapatkan informasi tentang keamanan sebelum produk digunakan terlalu luas merupakan langkah yang penting.

Rincian baru tentang perkembangan vaksin muncul minggu ini ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyetujui untuk menggunakan obat-obatan dan vaksin eksperimental sewaktu dengan pihak otoritas berusaha menahan wabah yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang. Pada saat yang sama, Administrasi Makanan dan Obat (FDA) memperingatkan konsumen AS pada hari Kamis untuk menghindari modus baru perawatan Ebola palsu yang dijual online.

Berikut adala sekelumit tentang eksperimental vaksin dan perawatan Ebola:

VAKSIN EKSPERIMEN

Vaksin yang dikembangkan oleh para peneliti di National Institutes of Health telah dipercepat oleh para regulator dan diharapkan mulai uji coba pertama atas keamanan pada manusia di musim gugur ini. Vaksin didasarkan pada adenovirus simpanse, kerabat dari virus flu.

Produsen obat Inggris, GlaxoSmithKline saat ini memberikan injeksi dana untuk pengembangannya, setelah mengakuisisi pengembang aslinya, spesialis vaksin Okairos AG dengan harga $ 325 juta tahun lalu. Beberapa studi menunjukkan bahwa vaksin dapat melindungi monyet dari virus.

Seorang juru bicara untuk GlaxoSmithKline mengatakan Kamis: “terlalu dini bagi kita untuk mengomentari kapan kandidat vaksin mulai dapat digunakan.”

Pekan lalu NIH Dr Anthony Fauci mengatakan kepada AP, vaksin tersebut seharusnya “murni untuk pencegahan, lebih ditujukan kepada petugas kesehatan yang menempatkan diri mereka dalam keadaan bahaya yang cukup besar.”
NIH mengatakan juga mendanai setidaknya dua kandidat vaksin Ebola lainnya, dalam tahap awal pengembangan. Pertama dari Crucell, anak perusahaan Johnson & Johnson yang ditujukan untuk melindungi terhadap Ebola dan demam berdarah Marburg dan bisa mulai uji coba manusia pada akhir 2015. Kedua dari Profectus Biosciences didasarkan pada virus ternak dan saat ini dalam pengujian awal untuk menilai potensi untuk studi pada manusia.

Sementara itu, NewLink Genetika Ames, Iowa, mengatakan pada hari Kamis bahwa mereka sedang mempersiapkan untuk menguji vaksin yang dikembangkan oleh pemerintah Kanada di bawah perjanjian lisensi dengan Badan Kesehatan Masyarakat Kanada. Perusahaan ini membahas tes awal keamanan kepada 100 relawan sehat dengan FDA, meskipun eksekutif perusahaan ini tidak akan mengatakan seberapa cepat bisa dimulai.

Juru bicara FDA tidak akan mengkonfirmasi setiap diskusi tentang vaksin, tetapi mengatakan bahwa badan tersebut “siap untuk bekerja” dengan perusahaan-perusahaan dan badan-badan internasional untuk mengembangkan pengobatan Ebola.

Sebanyak 1.500 dosis telah diproduksi oleh produsen kontrak di Jerman, dan pemerintah Kanada membeli semuanya. Pemerintah menyisihkan sebagian untuk NewLink agar digunakan dalam penelitian klinis, dan juga berencana untuk menyumbangkan antara 800 dan 1.000 dosis untuk WHO.

OBAT EKSPERIMEN

Obat percobaan yang disebut ZMapp berbasis di San Diego Mapp Farmasi adalah satu-satunya pengobatan yang belum teruji yang diketahui telah digunakan dalam wabah saat ini.

Mapp Pharmaceuticals menyediakan obat tersebut untuk tiga pekerja bantuan yang terinfeksi virus – seorang pendeta Spanyol yang meninggal pada hari Selasa dan dua pekerja bantuan AS yang dikatakan membaik. Para ahli kesehatan mengatakan tidak ada cara untuk mengetahui apakah pemulihan mereka terkait dengan ZMapp.

Obat ini adalah campuran dari tiga antibodi yang direkayasa untuk mengenali Ebola dan mengikat sel-sel yang terinfeksi supaya sistem kekebalan tubuh dapat membunuh mereka. Perusahaan mengatakan pasokan obat sekarang “menipis.”

TekMIRA Pharmaceuticals Kanada adalah satu-satunya perusahaan di seluruh dunia yang telah memulai pengujian obat Ebola pada manusia, meskipun masalah keamanan dari studi awal telah membuat pemakainnya di masa depan diragukan.

Perusahaan tersebut mempunyai Injeksi TKM-EBOLA yang bekerja dengan cara memblokir tiga gen yang bertanggung jawab atas penyebaran dan perkembangbiakan virus Ebola.

TekMIRA memulai studi skala kecil terhadap beberapa lusin orang dewasa yang sehat untuk menemukan dosis paling aman untuk penggunaan obat tersebut. Namun bulan lalu, FDA menghentikan penelitian tersebut karena reaksi obat yang berpotensi bahaya ditemukan pada pasien.

Perusahaan ini, yang memiliki kontrak $ 140.000.000 untuk mengembangkan obat tersebut, mengatakan sedang bekerja untuk mengatasi masalah yang diajukan FDA.
Pada hari Rabu, produsen obat dari North Carolina, BioCryst mengumumkan telah menerima penghargaan $ 4.100.000 dari NIH untuk mempelajari obat antivirus eksperimental untuk Ebola.

Perusahaan ini telah mengembangkan obat, BCX4430, untuk virus Marburg (sejenis Ebola) di bawah kontrak federal untuk 5 tahun senilai $ 22 juta. Studi yang dipublikasikan awal tahun ini mencatat pengobatan tersebut berhasil dalam memerangi Ebola pada hewan. BioCryst saat ini tidak memiliki produk di pasar.

Diadaptasi dari : http://hosted.ap.org/dynamic/stories/U/US_EBOLA_POTENTIAL_VACCINE_TREATMENTS

FAKTA TENTANG EBOLA

Ebola

Diadaptasi dari : http://www.cdc.gov/vhf/ebola/outbreaks/guinea/qa.html

Wabah Ebola saat ini berpusat pada tiga negara di Afrika Barat: Liberia, Guinea, Sierra Leone, meskipun ada potensi untuk penyebaran lebih lanjut ke negara-negara tetangga Afrika lainnya. Ebola tidak menimbulkan risiko yang signifikan terhadap publik AS. CDC meningkatkan penanganan dengan menambah lagi 50 ahli ke daerah itu untuk membantu wabah tersebut di bawah kontrol.

Apa itu Ebola?

Virus Ebola adalah penyebab dari penyakit demam berdarah viral. Gejalanya termasuk demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, lemah, diare, muntah, sakit perut, kurang nafsu makan, dan perdarahan yang tidak biasa. Gejala dapat muncul kapan saja antara 2-21 hari setelah terinfeksi virus Ebola, namun 8-10 hari adalah yang paling umum.

Bagaimana Ebola menular?

Ebola ditularkan melalui kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh dari orang dengan gejala terinfeksi atau melalui perantara objek (seperti jarum) yang telah terkontaminasi dengan sekresi dari pasien yang terinfeksi.

Dapatkah Ebola ditularkan melalui udara?

Tidak. Ebola bukanlah penyakit pernapasan seperti flu, sehingga tidak bisa ditularkan melalui udara.

Bisakah saya mendapatkan Ebola dari makanan atau air yang terkontaminasi?

Tidak. Ebola bukanlah penyakit yang bisa ditularkan lewat makanan. Ini juga bukan penyakit yang bisa ditularkan lewat air.

Bisakah saya mendapatkan Ebola dari orang yang terinfeksi tetapi tidak memiliki gejala apapun?
Tidak. Individu yang tidak memiliki gejala tidak bisa menular. Agar virus bisa menular, seseorang harus memiliki kontak langsung dengan individu yang mengalami gejala-gejala.

ebola_layout_revisions

Flu Burung H5N1 Yang Mematikan Hanya Butuh 5 Mutasi Untuk Menyebar Pada Manusia Dengan Mudah

download
Oleh Monte Morin

Suatu jenis virus flu yang sangat mematikan sampai-sampai para ilmuwan pernah menghentikan penelitian tentang penyakit tersebut karena pemerintah takut kemungkinan akan digunakan oleh teroris untuk melancarkan serangan biologis.

Namun meskipun fakta bahwa flu burung H5N1 telah menewaskan 60 % dari 650 manusia yang diketahui terinfeksi sejak diidentifikasi di Hong Kong 17 tahun yang lalu, virus ” flu burung ” tersebut belum berevolusi untuk menjangkiti orang-orang dengan mudah.

Sekarang para peneliti Belanda telah menemukan bahwa virus tersebut hanya membutuhkan lima mutasi gen yang menguntungkan-nya agar bisa menular melalui batuk atau bersin, seperti virus flu biasa.

Pejabat kesehatan dunia telah lama khawatir bahwa virus H5N1 suatu hari nanti akan berevolusi kemampuan penularan lewat udara, berakibat pandemi yang menghacurkan. Sementara studi terbaru menunjukkan mutasi yang diperlukan relatif sedikit, masih belum jelas apakah hal itu mungkin terjadi di luar laboratorium.

” Hal ini tentu tidak berarti bahwa H5N1 sekarang lebih mungkin untuk menyebabkan pandemi, ” kata Ron Fouchier, seorang ahli virus di Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Belanda, dan rekan penulis penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell. ” Tapi itu berarti bahwa kita tidak boleh mengesampingkan kemungkinan bahwa hal itu mungkin terjadi. ”

Seperti banyak penelitian influenza lainnya, para ilmuwan menggunakan musang sebagai pengganti manusia, karena sistem kekebalan tubuh mereka memberikan respon yang sama terhadap penyakit tersebut.

Penelitian sebelumnya telah menetapkan bahwa H5N1 bisa menulari musang jika virus itu telah melewati berbagai suksesi hewan, yang akhirnya memaksa virus tersebut mempercepat evolusinya. Dalam percobaan tersebut, Fouchier dan rekan-rekannya menemukan bahwa virus baru yang bisa menular ini telah menghimpun sembilan atau lebih mutasi.

Dalam studi baru, para penulis memutuskan untuk menentukan jumlah minimum mutasi yang diperlukan untuk penularan lewat udara.

Untuk melakukan hal ini, para peneliti mengambil strain dari virus yang sebelumnya telah menginfeksi manusia dan mengubah gen-nya di laboratorium. Kemudian mereka menyemprotkan virus yang sudah dimodifikasi ini ke hidung musang dan binatang ditempatkan di dalam kandang yang didesain khusus dengan musang kedua yang belum pernah terkena virus.

Tata letak kandang mencegah kontak langsung antara musang, tetapi memungkinkan mereka untuk berbagi aliran udara. Ketika musang sehat menunjukkan gejala-gejala flu – bulu teracak-acak, kehilangan nafsu makan dan kekurangan energi – para peneliti tahu virus telah menyebar melalui udara.
Dengan mengekspos musang dan sampel tubuh manusia dengan berbagai virus yang telah dimodifikasi secara genetika, para penulis penelitian mengidentifikasi lima mutasi gen kunci.

Dua di antaranya meningkatkan kemampuan virus untuk menempel ke sel-sel di saluran pernafasan atas dari hewan. Sesampai di sana, mereka masuk ke dalam sel, melepaskan materi genetik dan menyebabkan sel untuk memproduksi klon dari virus secara besar-besaran.

” Mutasi lain meningkatkan stabilitas dari virus, ” kata Fouchier. ” Mutasi sisanya memungkinkan virus untuk berkembang biak lebih efisien. ”

Virus yang dimodifikasi itu jauh kurang mematikan daripada versi alami. Hanya dua dari musang dalam penelitian ini meninggal, tapi dua-duanya bukan karena flu.

Fouchier mengatakan, dia berpikir ini adalah karena virus menyerang sel-sel di saluran napas bagian atas, bukan dari saluran napas bagian bawah dan karena itu kurang cenderung menyebabkan pneumonia (radang paru-paru).

Para ahli virus yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa temuan ini penting, karena memberikan otoritas kesehatan suatu metode untuk membedakan apakah mutasi yang ditemukan di alam liar berbahaya bagi manusia.

” Ini adalah pekerjaan penting, ” kata Yoshihiro Kawaoka, seorang ahli virus di Universitas Wisconsin Sekolah Kedokteran Hewan. ” Ini bisa berkontribusi dalam pengawasan virus flu burung di alam. ”

Richard Webby, seorang ahli virus di Rumah Sakit Penelitian St Jude Children di Memphis, mengatakan bahwa meskipun penelitian ini memberikan poin-poin berharga akan ciri-ciri genetika yang perlu diawasi, pertanyaan yang paling penting bagi para ilmuwan dan pejabat kesehatan tetap tak terjawab.

” Misteri terbesar adalah apakah virus cenderung untuk mendapatkan mutasi-mutasi yang kritikal secara alami, ” kata Webby. ” Jika memang dapat muncul dengan mudah, maka sangat mengkhawatirkan. Jika tidak, maka masih ada rintangan utama yang harus dilalui virus ini agar bisa menulari manusia . ”

Fouchier, Kawaoka dan peneliti lainnya memicu suatu keresahan biosekuriti internasional pada tahun 2011 ketika mereka menunjukkan bahwa virus H5N1 bisa dibuat menular di antara musang. Sebagai hasil dari kontroversi, US National Science Advisory Board untuk Biosecurity meminta virologists untuk menghilangkan beberapa rincian dari pekerjaan mereka sebelum mempublikasikannya ke dalam jurnal Science dan Nature. Para ilmuwan menanggapinya dengan memberlakukan moratorium sementara pada penelitian mereka.

Juga, karena kekhawatiran pemerintah Belanda bahwa virus tersebut dapat dijadikan senjata, mereka berhasil menggugat Fouchier dan sekarang mengharuskan dia untuk mengajukan dan mendapatkan ” izin ekspor ” sebelum penerbitan studinya.

Fouchier, yang memperoleh izin tersebut untuk studinya di the Cell, mengatakan ia tidak berharap untuk menimbulkan jumlah kontroversi yang sama dengan penelitiannya yang lalu.

” Tentu saja, masih ada beberapa orang yang akan lebih suka bahwa jenis penelitian seperti ini dihentikan, ” kata Fouchier. ” Kami akan melanjutkan perdebatan dengan orang-orang ini, tapi kita harus menyadari bahwa tidak mungkin untuk mencapai konsensus global ada setiap hal – atau hal apapun”

Diadaptasi dari situs : http://www.latimes.com/science/sciencenow/la-sci-sn-bird-flu-five-mutations-20140410

Siap Atau Tidak: 7 Juta Jiwa Menantang !

First Gay Wedding Show In Paris

Oleh Erwin Analau

Kemarin ini kami makan malam bersama dengan beberapa teman seiman di sebuah restoran. Kami sudah lama berteman, sehingga pembicaraan kami kebanyakan berhubungan dengan teman-teman lama dan gereja. Kemudian topik kami sampai pada suatu kenyataan bahwa ada beberapa teman seiman yang dulunya aktif dalam gereja, tetapi sekarang sudah keluar dan bahkan ada beberapa yang menyelami kehidupan sesama jenis (homoseksual).

Topik homoseksualitas sekarang lagi hangat-hangatnya di Amerika. Topik yang dulunya adalah suatu ketabuan atau merupakan pihak minoritas, sekarang menjadi suatu topik yang populer dan menjadi pihak mayoritas. Bebebrapa negara bagian sudah melegalkan perkawinan sesama jenis, dan kemungkinan isu ini akan diusung terus agar bisa menjadi legal dalam tingkat federal (nasional). Menurut pemikiran saya, lambat laun ini bukan hanya masalah Amerika, tapi juga akan menjadi masalah global dan Indonesia tidak akan terluput dari masalah ini.

Pertanyaannya apakah gereja-gereja di Indonesia siap untuk menghadapi isu ini? Apakah kita akan meresponi masalah ini dengan antipati atau simpati? Apakah para homoseksual bisa terselamatkan? Apakah kita bisa menerima mereka? Apakah mereka bisa berubah? Apakah kita akan mengulang kesalahan-kesalahan dari gereja Amerika dalam menanggapi mereka?

Dalam percakapan semalam, saya berpendapat bahwa sebenarnya di dalam gereja ada orang-orang yang mempunyai kecenderungan homoseksual dan kita sebagai gereja tidak boleh menutup mata akan kenyataan ini. Suatu kenyataan dalam kebudayaan Asia, suatu momok biasanya akan ditutupi atau dihiraukan atau ditiadakan, dan sayangnya, hal ini juga berlanjut ke dalam gereja. Biasanya cara pemikiran yang terjadi yaitu: “Tidak mungkinlah, khan si A aktif sekali!” atau ”Mana mungkin, bukankah dia sudah mempunyai pacar?” atau “Dia khan anak pendeta, mana mungkin?”, dan seterusnya dan seterusnya, tapi secara garis besar, kita secara naïve berpikir bahwa aktif di dalam gereja bisa menyebabkan kita kebal terhadap dosa-dosa, apalagi dosa homoseksualitas.

Secara statistik di Amerika, populasi homoseksual adalah 3.5 %. Kalau kita memakai statistik yang sama terhadap penduduk Indonesia -200 juta jiwa, maka jumlah perkiraan akan populasi homoseksual adalah sekitar 7 juta jiwa. Jumlah yang cukup besar. Kita bisa melihat jumlah ini sebagai lawan atau sebagai pendosa-pendosa yang tak terselamatkan atau sebagaimana Yesus melihat mereka — tuaian yang sudah menguning.

Hari Minggu ini, di gereja saya pengkhotbah membicarakan tentang Kisah Para Rasul 8:26-40. Kisah di mana Rasul Filipus dipakai Tuhan untuk menginjil sida-sida dari Etiopia. Selama khotbah, Roh Kudus mengingatkan saya tentang pembicaraan kami kemarin malam.

Kalau saya masukkan cerita ini ke dalam perspektif masa kini. Sida-sida atau eunuch adalah pria-pria yang sudah dikebiri kemaluannya di luar kemauan mereka sehingga mereka tidak bisa berhubungan seksual lagi dengan lawan jenis untuk melayani raja atau pemimpin mereka. Kalau dulu saya menonton film silat, mereka sering digambarkan sebagai para pria yang lemah gemulai dan berwatak kewanitaan. Jika saya masukkan gambaran ini ke jaman moderen, sida-sida ini adalah layaknya kaum homoseksual dan trans-gender (orang yang merubah alat kelaminnya). Argumen para kaum homoseksual di Amerika adalah mereka tidak memilih untuk dilahirkan sebagai homoseksual, mereka dilahirkan demikian di luar kehendak mereka. Hal itu juga terjadi pada para sida-sida, mereka dikebiri di luar kehendak mereka. Sida-sida tersebut mewakili kaum homoseksual dan trans-gender.

Dalam kisah ini, sida-sida itu sedang kebingungan dan berusaha untuk mencari tahu siapa Juruselamat itu. Mungkin banyak dari kaum homoseksual sudah pernah mendengar tentang Yesus. Mereka telah mendengar bahwa Dia adalah Juruselamat yang baik. Mereka telah mendengar bahwa nama-Nya identik dengan CINTA ! Mereka telah mendengar bahwa Dia bisa merubah apapun juga ! Mereka mungkin juga telah mendengar bahwa Dia yang datang menyelamatkan bukan karena kita orang yang sempurna, tapi karena kita adalah orang-orang yang rusak dan Dia adalah Allah yang baik! Mereka mungkin sudah mendengar, tetapi pada kenyataannya mereka ditolak oleh masyarakat, pemerintah atau lebih lagi gerejaNya! Mereka mungkin telah mendengar semuanya tapi mereka belum mengenal jelas siapa sebetulnya YESUS !

Allah secara KHUSUS mengutus malaikatNya untuk memerintahkan Rasul-Nya Filipus untuk memberitakan Injil hanya ke SATU orang sida-sida. Setelah kejadian Pantekosta, gereja bertumbuh menjadi 3000 orang dalam sehari. Coba pejamkan mata anda dan bayangkan pendeta ternama yang anda bisa dipikirkan, dan bayangkan kalau pendeta tersebut khusus datang ke tempat anda hanya untuk mengajari anda Alkitab secara private ! LUAR BIASA ! Ada pasti seorang yang khusus bukan ?

Kisah Filipus ini layaknya demikian. Allah mengutus salah satu Rasulnya untuk memberikan pelajaran Alkitab ke satu orang, sida-sida dari Etiopia. Seorang trans-gender atau mungkin homoseksual. Pada saat itu sida-sida tersebut juga sedang mempelajari Alkitab tentang seorang Juruselamat. Dia sudah mendengar tentang Juruselamat ini, tapi belum mengenal siapa Dia. Filipus diutus untuk menerangkan Injil kepadanya dan hasilnya, sida-sida tersebut bertobat dan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, dan bahkan segera dibaptis. TIDAK TERPIKIRKAN yang Allah kita bisa buat. TIDAK TERBAYANGKAN ketika nama Yesus diberitakan !

Dia memanggil gerejaNya secara khusus untuk menjangkau mereka. Mereka yang sudah matang dan mereka yang masih terus mencari.

Pada tahun 1980-an ketika komunitas homoseksual mulai menjadi sorotan publik di Amerika. Respon dari gereja-gereja sangatlah menyedihkan. Mereka mengasingkan dan menolak mereka secara mentah-mentah. Bukannya memperlakukan mereka sama seperti orang-orang di gereja (sesama pendosa yang telah diselamatkan karena anugerah) , mereka mengucilkan, menolak dan menganggap mereka sebagai pendosa yang tak terselamatkan. Jujur saja, saya juga berdosa dalam hal ini. Karena itulah perspektif saya dulunya. Hasilnya, beberapa dekade kemudian, mereka yang ditindas menentang balik dan terjadi lah perang kebudayaan yang sengit.

Saya bukan ahli konseling tentang homoseksualitas atau pakar untuk menangani hal ini, bukan, saya juga bukan orang yang membenarkan praktis homoseksual. Saya percaya dengan sungguh bahwa mereka adalah orang-orang berdosa, sama seperti semua dari kita. Mereka orang berdosa yang bergumul dengan keinginan homoseksualnya, sedangkan saya, saya orang berdosa yang setiap hari bergumul dengan kenajisan, pornografi, ketinggihan hati, tidak mencintai istri dan anak-anak saya seperti yang Yesus inginkan, dan 1001 dosa lainnya. Saya membutuhkan kasih karunia, seperti layaknya mereka. Tujuan saya menulis ini hanya sekedar berteriak “Hey ada gajah di dalam ruangan ini !”

Isu ini bukan hanya sekedar isu gereja di Amerika, tapi di kemudian hari ini akan menjadi isu global dan juga akan melanda gereja-gereja di Indonesia. Akan kah kita memperlakukan jiwa-jiwa ini sebagai lawan, atau sebagai pendosa yang tak terselamatkan dan mengucilkan atau mengasingkan mereka layakanya orang lepra atau …

AKANKAH ANDA MELIHAT ADA 7 JUTA JIWA YANG YESUS KASIHI DAN MAU SELAMATKAN! 7 JUTA JIWA YANG SUDAH MENGUNING! 7 JUTA JIWA YANG SEDANG MENCARI!

Seperti dalam film-film koboi, ketika dua koboi sedang berhadapan dengan tangan dan senjata di pinggang. Siap atau tidak: 7 juta jiwa ini akan berhadapan mata ke mata dengan gerejaNya di Indonesia. Apa yang akan dilakukan gereja ?

Pola Makan Pra-Konsepsi Mempengaruhi DNA Bayi Secara Permanen

_74516106_1gambia_fw_newborn2013creditfeliciawebb.copyrightmrcing

Oleh Helen Briggs

Penelitian menunjukkan pola makan ibu sekitar masa kehamilan dapat secara permanen mempengaruhi DNA bayinya.

Percobaan-percobaan terhadap hewan telah menunjukkan diet pada masa kehamilan dapat meng-aktif atau non-aktif –kan gen, tetapi penemuan berikut adalah pertama kalinya terhadap manusia.

Penelitian mengikuti para wanita di pedesaan Gambia, di mana iklim musiman menyebabkan perbedaan besar dalam diet antara musim hujan dan kering.

Ini menekankan pentingnya diet yang seimbang sebelum dan selama masa kehamilan, menurut keterangan tim dari Inggris dan Amerika ini.

Para ilmuwan mengikuti 84 ibu hamil yangmengandung pada puncak musim hujan, dan sekitar jumlah yang sama yang mengandung pada puncak musim kemarau.

Tingkat gizi diukur dalam sampel darah yang diambil dari wanita ; sedangkan DNA bayi mereka dianalisis 2-8 bulan setelah lahir.

Ilmuwan Pemimpin Tim Tersebut Dr Branwen Hennig, dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan itu adalah bukti pertama pada manusia yang menunjukkan bahwa nutrisi ibu pada saat konsepsi dapat mengubah bagaimana gen anaknya akan berkembang selama hidupnya .

Dia mengatakan kepada BBC News : ” Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa gizi ibu pra-konsepsi dan awal kehamilan adalah penting dan mungkin memiliki implikasi untuk hasil kesehatan dari generasi berikutnya. Para wanita harus memiliki pola makanan yang seimbang sebelum masa konsepsi dan selama kehamilan. ”

Efek Epigenetik

Percobaan pada tikus menunjukkan diet selama kehamilan dapat memiliki dampak seumur hidup pada gen keturunannya. Misalnya, warna bulu pada tikus dipengaruhi oleh diet ibunya.

Hal tersebut dikenal sebagai ” efek epigenetik ” ( modifikasi pada DNA yang dapat meng aktif atau non-aktif –kan gen). Salah satu modifikasi tersebut melibatkan pengikatan molekul kimia dari grup methyl ke DNA (proses metilasi)

Bayi yang dikonsepsi dalam musim hujan secara konsisten memiliki tingkat metilasi yang lebih tinggi di semua enam gen yang diteliti, para peneliti menemukan.
Temuan ini dihubungkan dengan berbagai tingkat nutrisi dalam darah ibu.

Tapi belum dipastikan apa kegunaan gen-gen tersebut, dan proses-proses apa yang terpengaruh.

Gen Yang ‘ Belum Diketahui’

Rekan sepeneliti Dr Rob Waterland dari Baylor College of Medicine di Houston mengatakan temuan yang dipublikasikan di Nature Communications, adalah bukti dari prinsip bahwa diet seorang ibu dapat memiliki efek epigenetik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa nutrisi ibu “bisa meninggalkan efek permanen pada genom anaknya dalam semua sel tubuhnya “, katanya kepada BBC News.

Rekan penulis Andrew Prentice, profesor gizi internasional di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, menambahkan : ” Tujuan utama kami adalah untuk menentukan diet yang optimal bagi calon-calon ibu agar mencegah kerusakan proses metilasi. ”

Diadaptasi dari situs: http://www.bbc.com/news/health-27211153

WHO MENYERUKAN TANDA BAHAYA AKAN PENYEBARAN ‘SUPER-BAKTERI’

1398862842000-XXX-Antibiotic-Resistance-01

Bakteri penyebab penyakit yang kebal terhadap pengobatan antibiotik sekarang telah tersebar luas di setiap penjuru dunia dan telah mencapai ” tingkat yang mengkhawatirkan ” di banyak daerah, menurut laporan global pertama mengenai masalah ini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

” Ini masalah yang sangat serius yang dapat mengancam kesukesan kedokteran modern, ” kata laporan yang dirilis Rabu. ” Sebuah era pasca-antibiotik – di mana infeksi biasa dan luka ringan dapat membunuh – adalah kemungkinan yang sangat nyata di abad ke-21. ”

Laporan ini berfokus pada beberapa jenis bakteri yang menyebabkan, penyakit serius yang umum seperti infeksi aliran darah, diare, pneumonia, infeksi saluran kemih dan gonore. Disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan dan kelangkaan obat baru, beberapa bakteria yang dulunya mudah disembuhkan sekarang bahkan kebal terhadap antibiotik yang paling kuat dan yang paling terbaru, kata laporan itu. Hal itu disebabkan karena bakteri selalu beradaptasi bahkan ketika obat-obatan tidak.

Sebagai contoh, kasus gonore yang tidak dapat diobati dengan obat sefalosporin terbaru telah ditemukan di Austria, Australia, Kanada, Perancis, Jepang, Norwegia, Afrika Selatan, Slovenia, Swedia dan Inggris. Infeksi saluran kemih dengan bakteri E. coli yang kebal terhadap pengobatan dengan antibiotik fluorokuinolon ditemukan di lebih dari sebagian dari seluruh kasus di banyak negara, kata laporan itu.

” Jika tidak ada tindakan yang diambil saat ini untuk mengurangi penyebaran mikroba yang kebal terhadap antibiotik dan menemukan solusi baru, kita mungkin mencapai titik di mana beberapa infeksi tidak akan dapat diobati lagi, ” kata Carmen Pessoa Da Silva, seorang dokter Brasil yang memimpin program WHO pada masalah ini.

Para dokter di Amerika Serikat, termasuk mereka yang bekerja di US Centers for Disease Control dan Prevention, telah menggunakan kata-kata serupa yang sama tajamnya seperti “super-bakteri” dan ” bakteri mimpi buruk”. Mereka menyambut baik tindakan WHO dalam menyerukan tanda bahaya tentang masalah ini yang setiap hari ditemukan di rumah sakit – rumah sakit dan klinik-klinik dokter di AS.

” Ini menakutkan. Dan ini bukan hal yang berlebihan, ” kata Barbara Murray, seorang ahli penyakit menular di University of Texas Health Science Center, Houston, dan presiden Infectious Diseases Society of America. “Ancaman ini nyata dan sedang terjadi. Di lingkungan rumah sakit, itu memprihatinkan dan dalam beberapa lingkungan komunitas masyarakat, itu juga memprihatinkan. ”

Steve Solomon, yang memimpin kantor CDC yang dikhususkan untuk masalah ini, mengatakan : “Ancaman ini sangat besar. Kita semua benar-benar terancam terjerumus ke jurang era pasca – antibiotik. Tetapi saya juga optimis. Komitmen untukmengatasi masalah ini sangat kuat. ”

CDC telah bekerjasama dengan beberapa instansi pemerintah di seluruh dunia dalam apa yang mereka sebut inisiatif “keamanan kesehatan global “. Beberapa tujuannya adalah sistem-sistem pencegahan, deteksi dan respon yang lebih baik untuk mengatasi ancaman penyakit menular, termasuk bakteri yang resistan terhadap obat, di mana saja mereka muncul di dunia.

” Penyebaran bakteri ini secepat dengan kecepatan jet, ” kata Solomon.
CDC juga telah menyerukan upaya-upaya untuk membatasi penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan menitikberatkan pada cara-cara pencegahan infeksi mulai dari vaksin sampai penanganan makanan yang aman dan praktis mencuci tangan yang lebih baik di rumah sakit.

Anggaran yang diajukan oleh Presiden Obama sebesar U$ 30 juta setahun untuk mengatasi ancaman tersebut melalui laboratorium-laboratorium regional yang baru dan program-program lainnya.

Kelompok Murray juga mendesak Kongres untuk meloloskan kredit pajak supaya dapat memacu pengembangan obat antibiotik baru dan memberikan Food and Drug Administration kewenangan untuk lebih cepat menyetujui penggunaan nya.

WHO dan CDC mengatakan bahwa setiap individu pasien juga dapat memainkan peran – dengan tidak memaksa dokter untuk meresepkan obat antibiotik tidak dibutuhkan, menyelesaikan semua resep antibiotik dan tidak pernah berbagi obat. Penyalahgunaan obat dapat mendorong pertumbuhan bakteri yang resistan terhadap obat. Cara lain untuk membantu : mendesak pekerja kesehatan terbiasa untuk mencuci tangan dan mengikuti langkah-langkah pengendalian infeksi di rumah sakit lain.

Diterjemahkan dari situs: http://www.usatoday.com/story/news/nation/2014/04/30/who-alarm-superbug-infections/8502853/