Category Archives: Kesehatan

Kekhawatiran Meningkat Sejalan Dengan Penyebaran Bakteri Kebal Antibiotik

_86140576_c0229913-drug-resistant_enterobacteria_bacteria-spl

Lebih dari 6.000 kematian per tahun dapat disebabkan karena penurunan 30% dalam efektivitas antibiotik di AS, menurut sebuah laporan dari jurnal kedokteran The Lancet.

Dilaporkan sebagian dari kelonjakan akan jumlah kematian terjadi pada pasien yang menjalani operasi kolorektal, kemoterapi kanker darah, dan penggantian pinggul (hip replacement).

Para ahli di Inggris mengatakan bahwa, penelitian ini mengkonfirmasi kekhawatiran mereka akan bahayanya bakteri kebal antibiotik dalam operasi-operasi rutin.
Pejabat kepala medis Inggris menyebut masalah ini sebagai “bom waktu” yang bisa meledak seawaktu-waktu..

Dalam laporan ini, sebuah tim ilmuwan dari sejumlah lembaga Amerika yang berbeda, memperkirakan bahwa sebanyak setengah dari semua bakteri yang menyebabkan infeksi setelah operasi di AS, kebal terhadap antibiotik.

Mereka juga memperkirakan bahwa satu dari empat infeksi yang diobati dengan antibiotik setelah perawatan kemoterapi, sekarang kebal terhadap obat.

Untuk laporan tersebut, peneliti melihat apa yang bisa terjadi pada orang yang memiliki operasi umum dan sedang dirawat karena kanker dengan kemoterapi, jika resistensi antibiotik meningkat sepertiga – sejalan dengan tren saat ini.

Mereka menghitung bahwa di Amerika Serikat akan ada peningkatan sebsar 120.000 dalam jumlah infeksi dan 6.300 dalam jumlah kematian setiap tahunnya.

Penulis utama studi Prof Ramanan Laxminarayan, direktur dari Cenre for Disase Snamics, Economics, and Policy di Washington DC, mengatakan antibiotik adalah batu pondasi dari kedokteran modern namun pengurangan efektivitasnya adalah “suatu tantangan signifikan”.

Dia menjelaskan: “Bahaya dari resistensi antibiotik mengurangi nilai dari pengobatan modern.”

Dia mengatakan resistensi antibiotik sudah membunuh bayi yang baru lahir di negara berkembang dan sebagian besar orang tua di negara maju.
Dan sebagai penduduk lanjut usia meningkat, mereka akan menghadapi lebih banyak operasi dan lebih berisiko terkena infeksi, katanya.

Dia mendesak para ahli kesehatan masyarakat untuk mengeluarkan “strategi baru dalam pencegahan dan pengendalian resistensi antibiotik di tingkat nasional dan internasional”.

‘Melemahkan Pengobatan’

Prof Laura Piddock, direktur Antibiotic Actioni dan profesor mikrobiologi di University of Birmingham, sebelumnya telah memperingatkan potensi dari dampak resistensi antibiotik pada operasi rutin.

“Adalah baik untuk melihat bukti dari AS yang mendukung kekhawatiran serius ini bahwa resistensi antibiotik akan berdampak pada banyak bidang kedokteran, termasuk melemahkan pengobatan pasien kanker.”

Dia mengatakan dia berharap laporan itu akan menjadi ”’wake-up call’ yang keras untuk perusahaan-perusahaan farmasi” untuk meneliti dan mengembangkan pengobatan baru untuk infeksi bakteri.

“Tanpa pengobatan antibiotik, keberhasilan pasien dalam pengobatan kanker akan cenderung berkurang dan sangat tidak mampu untuk memetik keberhasilan dari pengobatan dan terapi-terapi baru yang dapat memperpanjang hidup penderita kanker,” katanya.

Namun, untuk saat inidi Inggris, belum ada tanda-tanda signifikan dari kegagalan antibiotik dalam mengendalikan infeksi setelah operasi rutin.

Sebaliknya, data menunjukkan bahwa tingkat infeksi Inggris sedikit berkurang, menurut laporan dari Dinas Kesehatan Masyarakat Inggris.

Tapi Prof Nigel Brown, Presiden dari the Mikrobiologi Society, mengatakan bahwa penelitian itu relevan dengan Inggris.

“Resistensi antibiotik adalah masalah global dan kemungkinan bahwa operasi rutin seperti penggantian pinggul dan operasi caesar elektif akan menjadi lebih jarang di Inggris, kecuali langkah-langkah diambil untuk mencegah penyebarannya.”

Manusia vs super bakteri (bakteri kebal antibiotik)

  • Superbakteri adalah ancaman utama atas kesehatan global di mana bakteri yang kebal terhadap berbagai jenis antibiotik, menyebabkan sekitar 400.000 infeksi dan 25.000 kematian di Eropa setiap tahun.
  • Ulah manusia mempercepat resistensi antibiotik pada bakteri, terutama di bidang pertanian dan kesehatan. Hampir 50% dari resep antibiotik sebenarnya tidak diperlukan.
  • Apakah kita menghadapi masa depan di mana batuk atau luka kecil bisa membunuh?

Diterjemahkan dari : http://www.bbc.com/news/health-34541253

Bahkan Ateis-pun Secara Intuitif Percaya Akan Adanya Pencipta

MTMwNzgzNTIyNjE2MDIyMjkw
Oleh TOM JACOBS

Penelitian baru menunjukkan melihat alam sebagai sengaja diciptakan adalah pengaturan default kita.

Sejak Darwin mengungkapkan teorinya, secara bertahap bukti-bukti menumpuk untuk menolak pemikiran bahwa alam adalah produk dari seorang tuhan atau sebuah pencipta lainnya. Namun keyakinan ini tetap nyata bersarang di otak manusia.

Betapa yakin-nya adalah subjek dari penelitian yang baru saja diterbitkan, yang mana menemukan bahwa, meskipun mereka yang menamakan dirinya Ateis, secara naluriah, memikir bahwa fenomena alam adalah sesuatu yang sengaja diciptakan.

Temuan tersebut “menunjukkan bahwa ada kecenderungan alami yang sangat berakar untuk melihat bahwa alam semesta adalah hasil suatu perancangan,” tulis tim riset yang dipimpin oleh Elisa Järnefelt dari Newman University. Mereka juga memberikan bukti bahwa, dalam kata-kata para peneliti, “agama tanpa-keyakinan (ateis) adalah suatu pandangan yang harus diusahakan. ”

Dalam jurnal Cognition, Järnefelt dan rekan-rekannya menjelaskan tiga studi yang dilakukan di Universitas Boston, yang pertama melibatkan 352 orang dewasa di Amerika Utara direkrut secara online. Semua peserta ditampilkan serangkaian 120 foto, termasuk pemandangan alam dan artefak buatan manusia.

Mereka diinstruksikan untuk menilai apakah “benda dalam foto tersebut adalah sengaja dirancang oleh sesuatu” dengan menekan tombol yang ditunjuk “ya” atau “tidak.” Kira-kira setengah dari peserta melakukannya di bawah “kondisi cepat”, di mana mereka hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 865 milidetik untuk menanggapi setiap foto.

Tidak mengherankan, para peneliti menemukan bahwa “peserta yang beragama” mempunyai kecenderungan dasar untuk menganggap alam sebagai hasil ciptaan lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka yang tidak beragama. Lebih penting lagi, merek juga menemukan bahwa peserta yang tidak beragama “sangat umum untuk mengidentifikasikan fenomena alami sebagai sengaja dibuat/hasil ciptaan” ketika “mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk menyensor pemikiran mereka. ”

Hasil penelitian menunjukkan bahwa “kecenderungan untuk menafsirkan makhluk hidup dan alam sekeliling-nya sebagai suatu hasil rancangan didapat dari proses kognitif otomatis/alami, bukan karena secara eksplisit mempunyai agama/keyakinan.”

Studi kedua menggunakan prosedur yang sama seperti yang pertama, tetapi peserta melibatkan 148 orang dewasa di Amerika Utara “yang direkrut melalui daftar e-mail dari organisasi ateis dan asosiasi non-agama lain.”

Hasil mencerminkan hasil-hasil dari studi pertama, bahwa “dalam kondisi yang tergesa-gesa (secara naluri), ketika menilai alam sekeliling nya, ateis mempunyai tendensi untuk menganggap alam adalah hasil ciptaan dari suatu makhluk bukan manusia .”

Studi ketiga atas orang-orang non-religius dari Finlandia, sebuah negara di mana ateisme “bukan masalah, dan di mana budaya ketuhanan tidak sekental seperti di AS” menghasilkan hasil yang sama.

“Intuisi akan adanya Pencipta tertanam sangat dalam,” para peneliti menyimpulkan, “Bahkan tidak mengendur dalam mereka yang tidak memiliki komitmen agama secara eksplisit dan, bahkan, di antara mereka yang berusaha menolak agama secara aktif.”

Jadi “ateis yang sejati mungkin sangat jarang di antara orang dewasa, berbeda anggapan sebelumnya,” s Järnefelt dan rekan-rekannya menjelaskannya. Hal ini, menurut mereka, membantu menjelaskan mengapa begitu banyak orang salah paham akan teori evolusi.

Kita cenderung untuk menyerap ” informasi ilmiah yang baru dipelajari” ke dalam sistem kepercayaan yang sudah ada, para peneliti mencatat. Dalam hal ini, pemikiran sintesis tersebut menuju pada gagasan yang keliru bahwa seleksi alam (natural selection) adalah “hasil rancangan yang setengah-sengaja oleh suatu kekuatan yang memberikan hewan ciri-ciri fungsional yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. ”

Jadi anggota gerakan ateisme baru tidak perlu terlalu sombong bahwa ide-ide mereka akhirnya akan menang. Dan pendidik sains yang mencoba untuk menanamkan dasar-dasar teori evolusi harus menemukan cara untuk melakukannya, sambil menyadari kecenderungan naluriah siswa mereka untuk menanggap adanya suatu pencipta.

Di adaptasi dari
http://www.psmag.com/nature-and-technology/even-atheists-intuitively-believe-in-a-creator

Penelitian Terbesar Tentang Usia Orang Tua Dan Autism Menemukan Resiko Terhadap Ibu Berusia Remaja

Penelitian tersebut juga mengungkapkan risiko dengan kesenjangan yang lebar antara usia bapak dan ibu; penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami penybebnya

parental_age_hero

Penelitian multinasional terbesar yang pernah dilakukan tentang usia orang tua dan risiko autisme menemukan tingkat autisme meningkat di antara anak-anak dengan ibu yang berusia remaja dan anak-anak yang orang tuanya memiliki perbedaan usia yang besar antara ibu dan ayah. Penelitian ini juga menegaskan bahwa orang tua yang lebih tua memiliki risiko lebih tinggi memiliki anak dengan autisme. Analisis ini melibatkan lebih dari 5,7 juta anak di lima negara.

Penelitian yang didanai oleh Organisasi Autism Speaks, dipublikasikan secara online dalam jurnal Molecular Psychiatry.

“Meskipun telah banyak penelitian yang kita lihat tentang autisme dan usia orang tua sebelumnya, penelitian ini tidak seperti yang lain,” kata rekan penulis Michael Rosanoff, Direktur Penelitian Kesehatan Masyarakat dari oganisasi Autism Speaks. “Dengan menghubungkan pendaftar kesehatan nasional di lima negara, kami membuat kumpulan data terbesar di dunia untuk meneliti faktor-faktor yang meningkatkan risiko autisme. Banyaknya data memungkinkan kita untuk melihat hubungan antara usia tua dan autisme pada resolusi yang lebih tinggi – seumpama di bawah mikroskop”.

“Meskipun usia tua adalah faktor risiko untuk autisme, penting untuk diingat bahwa, secara keseluruhan, mayoritas anak-anak yang lahir pada orang tua yang berumur tua atau muda orang akan berkembang secara normal,” tambah rekan penulis Sven Sandin. Dr Sandin, seorang ahli epidemiologi medis, bekerja di Mount Sinai School of Medicine, di New York, dan Swedia Karolinska Institute.

Laporan ini didasarkan pada penelitian yang lebih luas dari Kolaborasi Internasional untuk Autisme Registry Epidemiologi (iCARE). Autism Speaks merupakan pendukung utama iCARE, dengan tujuan lebih memahami faktor-faktor yang dapat menambah atau mengurangi resiko autisme.

Meskipun penelitian sebelumnya telah mengidentifikasi hubungan antara orang tua usia lanjut dan risiko autisme, banyak aspek dari asosiasi tersebut masih belum jelas. Misalnya, beberapa studi menemukan peningkatan risiko dengan ayah yang lebih tua tetapi tidak pada ibu.

Tujuan dari studi baru ini adalah untuk menentukan apakah peningkatan atas usia ibu atau ayah secara independen meningkatkan risiko autisme – dan sejauh mana masing-masing dapat meningkatkannya.

Didukung oleh dana penelitian dari organisasi Autism Speaks, tim iCare melihat tingkat autisme antara 5,0766,794 anak – termasuk lebih dari 30,000 anak autis – di Denmark, Israel, Norwegia, Swedia dan Australia Barat. Anak-anak tersebut lahir antara tahun 1985 dan 2004. Para peneliti memantau perkembangan mereka antara tahun 2004 dan 2009, juga memeriksa catatan kesehatan nasional untuk diagnosa autisme.
Dalam analisis mereka, para peneliti mengidentifikasi dan mengontrol pengaruh-pengaruh lainnya yang berhubungan dengan usia yang mungkin mempengaruhi risiko autisme. Ketika memisahkan pengaruh usia ibu terhadap usia ayah, mereka juga menyesuaikan dengan potensial pengaruh dari usia orang tua (orang tua angkat) lain.

“Setelah menemukan bahwa semua risiko antara usia ayah, usia ibu dan kesenjangan umur antar orang tua mempengaruhi autis secara independen, kita menghitung aspek mana yang paling penting,” Dr. Sandin menambahkan. “Kesimpulannya adalah usia orang tua, meskipun kesenjangan usia juga memberikan kontribusi yang signifikan. ”

Secara khusus penelitian ini menemukan:

  • Tingkat Autisme menjadi 66 persen lebih tinggi di antara anak-anak yang terlahir dari ayah yang berusia lebih dari 50 tahun dibandingkan mereka yang lahir dari ayah berusia 20-an. Tingkat Autisme adalah 28 persen lebih tinggi ketika ayah berada di usia 40-an dibandingkan 20-an.
  • Tingkat Autisme menjadi 18 persen lebih tinggi di antara anak-anak yang lahir dari ibu remaja dibandingkan mereka yang lahir dari ibu yang berusia 20-an.
  • Tingkat Autisme adalah 15 persen lebih tinggi pada anak-anak yang lahir dari ibu di usia 40-an, dibandingkan dengan mereka yang lahir dari ibu berusia 20-an
  • Tingkat Autisme menjadi lebih tinggi bila kedua orang tua berusia senja, sejalan dengan apa yang diharapkan jika usia masing-masing orang tua berkontribusi terhadap risiko.
  • Tingkat Autisme juga meningkat setara dengan melebarnya kesenjangan antara usia ke dua orang tua. Angka ini tertinggi bila ayah berusia antara 35 dan 44 tahun dan pasangannya lebih muda 10 tahun atau lebih. Sebaliknya, peningkatan terlihat pada ibu berusia 30-an dan pasangannya lebih muda 10 tahun atau lebih.

Peningkatan resiko yang terkait dengan ayah yang berusia lebih dari 50 tahun konsisten dengan gagasan bahwa peningkatan mutasi genetik pada sperma sejalan dengan peningkatan usia manusia dan bahwa mutasi ini dapat berkontribusi terhadap perkembangan autisme. Sebaliknya, faktor risiko yang terkait dengan usia ibu tetap belum terjelaskan, juga dengan faktor yang berkaitan dengan kesenjangan yang besar antara usia ibu dan ayah.

“Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa adanya beberapa mekanisme berkontribusi pada hubungan antara usia orangtua dan risiko ASD,” para penulis menyimpulkan.

“Ketika kami pertama kali melaporkan bahwa usia tua ayah meningkatkan risiko autisme, kami menyarankan bahwa mutasi mungkin menjadi penyebabnya,” catatan penulis Abraham Reichenberg. “Penelitian genetika kemudian menunjukkan bahwa hipotesis ini benar. Dalam studi ini, kami menunjukkan untuk pertama kalinya bahwa risiko autisme berhubungan dengan kesenjangan antara usia orang tua. Penelitian di masa depan harus melihat ke dalam ini untuk memahami mekanismenya.” Dr. Reichenberg adalah seorang neuropsikolog dan ahli epidemiologi dari Mount Sinai School of Medicine, di New York City.

Jawaban tersebut adalah salah satu tujuan dari proyek MSSNG (diucapkan “hilang”) dari organisasi Aurism Speak. MSSNG, inisiatif pemetaan sekuen genom Autism yang terbesar di dunia, menyediakan komunitas riset autisme dengan data genom dan peralatan yang diperlukan untuk menemukan penyebab dan potensi perawatan individual pada autisme.

Di terjemahkan dari:
https://www.autismspeaks.org/science/science-news/large-study-parent-age-autism-finds-increased-risk-teen-moms

5 Prosedur Medis Yang Belum Tentu Anda Perlukan

78cf23ceeca73a3215d786fc69907e45a2d1ae96
Oleh : Laura Tedesco

Sama seperti Anda berharap montir mobil anda hanya menyarankan tune-up yang mobil anda benar-benar butuhkan, demikian juga Anda mengharapkan dokter Anda hanya menyarankan prosedur yang benar-benar tubuh Anda butuhkan. Tetapi, mengkhawatirkan, hal itu tidak selalu terjadi – dari sebuah survey di tahun 2014, 73 persen dari dokter mengatakan dokter-dokter pada umumnya menyarankan test atau prosedur yang tidak diperlukan sedikitnya sekali dalam seminggu.

Alasan utama para dokter yang disurvei dikutip: takut digugat. “Kadang-kadang dokter akan memesan tes atau bahkan melakukan prosedur hanya untuk memastikan bahwa tidak ada yang bisa menuduh mereka tidak melakukan keseluruhan ,” kata Richard A. Deyo, MD, seorang profesor kedokteran evidence-based di Oregon Health & Science University dan penulis dari “Hope or Hype: The Obsession With Medical Advances and the High Cost of False Promises.” (Bahkan, 91 persen dokter mengatakan bahwa reformasi hukum malpraktik akan mengurangi tes dan prosedur yang tidak perlu.)

Tapi ada juga unsur kasih sayang yang berperan: Ketika pasien benar-benar mengharapkan kesembuhan, dokter ingin memberikannya – walaupun mungkin tidak selalu ada. “Kami cenderung untuk mencari solusi yang ajaib,” kata Deyo. Itu mungkin berarti melakukan operasi yang tidak perlu (atau bahkan tidak efektif) – keputusan yang juga dapat memiliki motif keuangan. “Dalam situasi asuransi saat ini, kebanyakan dokter dibayar lebih untuk melakukan lebih,” katanya. “Jadi tidak banyak insentif untuk mengirit.”

Tentu saja, tidak semua dokter secara sadar mencoba untuk mengarahkan Anda ke arah perawatan yang tidak perlu. Tapi itu tidak berarti Anda harus menerima setiap perawatan yang ditawarkan. “Sikap skeptis selalu baik,” kata Deyo. “Pasien harus mengajukan pertanyaan.” Anda harus sangat ingin tahu jika diresepkan dokter salah satu dari lima prosedur berikut:

  1. Artroskopi lutut
    Jika Anda memiliki osteoarthritis lutut, dokter mungkin menyarankan operasi arthroscopic untuk menghalsukan tulang rawan yang bengkak dan kasar dan mengganti cairan sendi yang mengandung bahan kimia penyebab inflamasi, kata Deyo. Apa yang dulunya terdengar seperti cara yang menjanjikan untuk memerangi rasa sakit sebenarnya mungkin tidak ada gunanya: Dalam dua uji coba terkontrol secara acak, pasien menerima baik arthroscopy lutut atau prosedur palsu. “Mereka pada dasarnya menempatkan arthroscope di lutut tetapi tidak benar-benar melakukan perbaikan,” kata Dr Jeremy Sussman, yang bertugas di gugus tugas the Society of General Internal Medicine’s Choosing Wisely pada 2013.
    Kedua studi menemukan bahwa arthroscopy lutut tidak lebih bermanfaat daripada prosedur plasebo. Bahkan, salah satu penelitian, yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine, menunjukkan bahwa operasi tidak menambahkan manfaat apapun untuk rejimen terapi fisik dan medis (seperti obat-obatan nyeri) yang terencana.

  2. Pengambilan Gambar untuk Sakit Pinggang Bawah yang Baru
    Kami mengerti: Sakit punggung adalah menyebalkan. Dan ketidaknyamanan dapat dengan mudah mendorong Anda untuk mencoba apapun yang dokter anjurkan. Tapi sebagai ingatan: Menjalani MRI atau X-ray untuk kasus baru nyeri punggung bawah hanya dapat menyebabkan Anda menyusuri jalan perawatan yang tidak perlu.

    Sakit punggung bawah adalah sangat umum, penyebabnya biasanya tidak parah, dan rasa sakit akan sering hilang dengan sendirinya, kata Sussman. Tetapi jika Anda menjalani scan, Anda dapat mendapat pemikiran yang berbeda: “Masalahnya adalah bahwa banyak orang yang normal, dan bebas rasa sakit memiliki scan MRI yang buruk – misalnya, hal-hal seperti tonjolan atau rapuhnya piringan sendi sebenarnya adalah yang tanda penuaan, setara dengan kerutan atau uban, “kata Deyo.

    Ketika ini hasil yang menakutkan ini muncul di scan, “Baik dokter dan pasien dapat menjadi khawatir,” katanya. “Itu mungkin memicu urutan tes-tes dan perawatan-perawatan yang benar-benar tidak sangat membantu.”
    Hasilnya? Penggunaan pengambilan gambar yang berlebihan untuk nyeri punggung bawah dapat berkontribusi pada dua sampai tiga kali lipat tingkat bedah yang terpantau dalam beberapa tahun terakhir, menurut sebuah makalah di Journal of Orthopaedic Terapi Fisik & Olahraga.

    Jadi, kapan Anda seharusnya di scan? Jika sakit punggung Anda disertai dengan penurunan berat badan, Anda berusia 65 atau lebih tua, Anda baru saja mengalami infeksi atau mengambil steroid, atau Anda memiliki riwayat kanker, maka nyeri pinggang Anda bisa menjadi tanda sesuatu yang serius, kata Sussman. Dalam kasus tersebut, MRI atau X-ray dibenarkan, karena itu penting untuk menentukan penyebab rasa sakit Anda.

  3. Test Ketahanan Jantung Cardiac Stress Test
    Stress test sebenarnya dirancang untuk mengukur kemampuan jantung Anda untuk memikul beban: Anda berolahraga di treadmill atau sepeda stasioner, dan dokter memonitor hal-hal seperti denyut jantung dan tekanan darah. Semuanya terdengar sangat baik, kan? Satu masalah: “Stress test sangat tidak akurat dan tentu saja dapat mengelabui,” kata Deyo. “Ada hasil positif palsu dan negatif palsu. Jadi pasien mungkin diyakinkan dengan hasil palsu atau khawatir dengan hasil tes palsu. ”

    Dalam sebuah studi di Annals of Surgery 2013, peneliti menemukan bahwa jumlah stress test yang tidak perlu sebelum operasi – misalnya, pada orang tanpa faktor risiko untuk masalah jantung – terus meningkat pada pasien yang lebih tua. “Umur bukanlah satu alasan untuk mendapatkannya,” kata Sussman. “Dan juga bukan untuk operasi yang berisiko rendah – sebagai contoh, jika seseorang akan menjalani operasi katarak, mereka hampir tidak pernah membutuhkan stress test.”

    Bukan hanya melakukan pra-operasi stress test yang tidak perlu: Dokter-dokter juga mungkin secara berlebihan melakukan test tersebut untuk pasien dengan nyeri dada. Meskipun stress test adalah kunci untuk pasien dengan nyeri dada yang berhubungan dengan penyakit jantung, mereka kurang bermanfaat bagi orang-orang dengan nyeri dada yang disebabkan oleh masalah muskuloskeletal atau gastrointestinal, kata Deyo. Namun, jika dilakukan pada pasien ini, mereka mungkin akan memaksa dokter untuk melakukan perawatan tindak lanjut yang tidak perlu.

  4. Fusi Tulang Belakang Kompleks Complex spinal fusion
    Jika Anda memiliki stenosis tulang belakang (penyempitan tulang belakang), dokter dapat mengusulkan solusi yang drastis: menyatukan dua vertebra Anda. Dan studi JAMA atas klaim Medicare menunjukkan terjadinya peningkatan frekuensi: Meskipun tingkat keseluruhan operasi pada pasien yang lebih tua dengan stenosis tulang belakang menurun selama masa studi lima tahun, tingkat prosedur fusi kompleks meningkat 15 kali lipat.

    Mengapa itu mengkhawatirkan: “Bagi sebagian besar pasien, operasi sederhana adalah semua yang mereka butuhkan – yaitu, hanya operasi sejenis dekompresi,” kata Deyo. Kompleksitas bukanlah satu-satunya cara di mana prosedur tersebut berbeda: biaya Spinal fusion hampir 3,5 kali lebih banyak dari operasi dekompresi, menurut studi JAMA.

    Jadi mengapa menganjurkan untuk melakukan operasi besar? Dokter sering menggunakan sekrup dan penyangga untuk menahan tulang-tulang di tempat sementara tulang belakang mengalami proses penyembuhan – dan sayangnya, mereka mungkin dipengaruhi oleh penjual alat-alat tersebut. “Perangkat-perangkat tersebut telah secara agresif dipasarkan, karena itu sangat menguntungkan,” kata Deyo. “Para produsen berusaha dengan keras untuk meyakinkan ahli bedah, di hampir semua keadaan, agar mereka seharusnya melakukan fusi.”

  5. Pemeriksaan Panggul Tahunan
    Hampir 70 persen dari ginekolog percaya pemeriksaan panggul merupakan cara yang efektif untuk menyaring kanker ovarium, menurut sebuah studi 2012 di Preventive Medicine. Namun awal tahun ini, American College of Physicians (ACP) mengeluarkan pedoman baru: ujian panggul (Pelvic Exam> – cek genital yang dilakukan ginekolog dengan spekulum – seharusnya tidak lagi dilakukan pada wanita asimptomatik yang tidak hamil. (Catatan: Ini tidak termasuk Pap smear.)

    Ini hanya kasus di mana kerugian lebih besar daripada manfaat yang dirasakan: Ujian tersebut sangat memalukan dan berpotensi menyakitkan bagi pasien, dan metode tersebut sangat tidak akurat untuk mendiagnosa kanker ovarium atau vaginosis bakteri, menurut ACP.

Google Mengembangkan Teknologi Nanopartikel Untuk Deteksi Kesehatan

double-helix-dna
Oleh Tim Higgins

Laboratorium penelitian Google mengatakan sedang mengembangkan teknologi nanopartikel yang dapat digunakan dalam waktu dekat untuk lebih mudah mendeteksi penyakit seperti kanker.

Nanopartikel akan ditelan, kemudian dikontrol untuk memantau masalah kesehatan dan dimonitor melalui perangkat eksternal, Andrew Conrad, kepala ilmu kehidupan Google, mengatakan hari ini di WSJDLive, sebuah konferensi teknologi di Laguna Beach, California.

“Jika Anda membeli mobil baru, mobil itu bisa memberi tahu kalau ban Anda kempes,” kata Conrad. “Sungguh menakjubkan betapa banyaknya sensor di tempat duduk mobil Anda. Mengapa tidak menggunakan sensor-sensor sebanyak itu untuk sesuatu yang lebih penting dari transportasi Anda? ”

Perusahaan Mountain View tersebut, yang berbasis di California telah mencari cara untuk meningkatkan kesehatan melalui penelitian laboratorium rahasia Google X. Perusahaan Internet ini telah bekerja sama dengan Novartis AG untuk mengembangkan lensa kontak yang dilengkapi sensor, yang bertujuan untuk membantu orang-orang dengan diabetes lebih mudah melacak kadar glukosa mereka, dan bulan lalu telah setuju untuk membeli perusahaan baru teknologi kesehatan Lift Labs untuk mengembangkan metode baru untuk memerangi penyakit neurodegenerative seperti Parkinson.

“Kami sedang berusaha untuk mencegah kematian dengan mencegah penyakit,” kata Conrad. “Pada dasarnya, musuh kita adalah kematian.”

Google telah menjalankan eksperimen-eksperimen dalam nanoteknologi, dan “aktif” mencari mitra untuk bekerja sama, katanya.

Teknologi Kecil

Nanoteknologi menggunakan materi dengan skala yang sebanding dengan diameter seuntai DNA, yang mana material-material dapat bereaksi secara berbeda ketika diekspos dengan cahaya, konduktifitas listrik, dan reaksi kimia . Para ilmuwan menggunakan properti-properti tersebut untuk menemukan pengobatan kanker baru, membuat mobil dan pesawat terbang ringan dan lebih kuat, dan mengembangkan energi alternatif.

Istilah ini diambil dari nanometer, unit pengukuran yang sepersatu miliar meter. Sehelai rambut manusia adalah 80.000 sampai 100.000 nanometer lebar.

Google telah melakukan percobaan di daerah “yang memberikan kita sedikit harapan,” kata Conrad. Sebagai contoh, perusahaan tersebut telah mampu “memfungsionalisasikan” nanopartikel, seperti menggunakan mereka untuk menemukan beberapa sel-sel kanker di antara satu juta sel-sel normal, katanya.

“Kita mungkin telah melakukan ratusan ribu percobaan mengeksplorasi parameter dari ikatan nanopartikel ,” katanya. Sementara masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan, katanya, “Kami pasti akan berharap bahwa dalam hitungan tahun, bukan puluhan tahun, teknologi ini dapat digunakan.”

Test Darah Untuk Mendeteksi Alzheimer 10 Tahun Lebih DIni

Test Alzheimer Bisa Mendeteksi Penyakit Tersebut 10 Tahun Lebih DIni

Oleh Megan Scudellari – Nov 17, 2014

Sebuah tes darah baru untuk Alzheimer bisa mendeteksi penyakit tersebut 10 tahun lebih dini daripada diagnosa klinik – jauh lebih cepat daripada tes-tes lainnya yang sedang dikembangkan.

Tes tersebut, yang dijelaskan kepada khalayak umum untuk pertama kalinya kemarin, dapat segera digunakan untuk mengidentifikasi dan mengobati pasien dengan penyakit Alzheimer pada saat awal perkembangan penyakit mereka. Orang-orang tersebut juga bisa berpartisipasi dalam uji klinis untuk membantu menemukan pengobatan baru. Tes tersebut sudah bisa membedakan antara pasien dan lansia sehat dengan akurasi 100 persen.

“Kita masih memerlukan replikasi dan validasi, tapi aku sangat optimis pekerjaan ini akan berlanjut,” Dimitrios Kapogiannis, penulis utama studi tersebut dan seorang neuroscientist di National Institute on Aging, mengatakan setelah presentasi di Society for Neuroscience konferensi di Washington kemarin.

Tes darah tersebut masih dalam tahap awal pengembangan dan baru selesai dievaluasi pada 174 individu, sehingga membutuhkan studi jangka panjang yang lebih besar sebelum digunakan secara luas, para peneliti mengatakan dalam sebuah pernyataan. NanoSomiX, sebuah perusahaan biotek Aliso Viejo, berbasis di California yang mengembangkan tes darah untuk penyakit neurodegenerative dan yang mensponsori penelitian tersebut, berencana untuk memproduksi versi komersial dari tes tersebut, penjelasan dari perusahaan tersebut dalam pernyataan terpisah.

Dua potensi tes darah Alzheimer lainnya diumumkan awal tahun ini. Satu test menganalisa 10 tipe lemak dalam aliran darah yang muncul untuk memprediksi demensia dengan akurasi 90 persen dalam waktu tiga tahun dari onset. Lainnya menggunakan 10 protein dalam darah untuk memprediksi onset dengan persen akurasi 87 dalam setahun.

Di National Institute on Aging, Kapogiannis dan timnya mengidentifikasi protein tunggal di otak yang terlibat dalam pemacu insulin, yang disebut IRS-1, yang tampaknya rusak pada pasien Alzheimer.

Para peneliti mengumpulkan sampel darah dari 70 orang dengan penyakit Alzheimer, 20 lansia yang normal secara kognitif tetapi menderita diabetes, dan 84 orang dewasa yang sehat. Dari seluruh peserta, 22 pasien Alzheimer memberikan sampel darahnya sekitar 1 sampai 10 tahun sebelum diagnosis.

Dari sampel, para peneliti mengisolasi exosomes, kantung lipid kecil yang berkembang dari membran sel dan membawa sinyal ke sel-sel dan jaringan lain. Dari kumpulan hasil exosomes, mereka mengidentifikasi hanya yang berasal dari otak, yang mengandung IRS-1, dan mengukur kadar protein tersebut.

Mereka menemukan bahwa pasien dengan Alzheimer memiliki kadar non-aktif dari protein tersebut lebih tinggi dan kadar aktif yang lebih rendah dibandingkan orang yang sehat. Para penderita diabetes memiliki tingkat menengah.

Tingkat ini begitu konsisten sehingga tim tersebut bisa memprediksi apakah sampel darah berasal dari pasien Alzheimer, individu yang sehat, atau diabetes – dengan tidak ada kesalahan. Hal ini bahkan berlaku untuk sampel dari pasien Alzheimer yang diambil 10 tahun sebelum mereka didiagnosis.

“Kami mampu secara sempurna mengklasifikasikan pasien dan kontrol,” kata Kapogiannis dalam presentasinya.

Penyuntikan Ebola Dengan Pesangon $845 di Danau Jenewa Untuk Mendukung Pengetesan Vaksin

Dokter Blaise Genton saat konferensi pers pada 28 Oktober 2014, di depan layar yang menunjukkan dua vaksin Ebola yang akan diuji di Swiss di rumah sakit CHUV di Lausanne, Swiss barat.

Dokter Blaise Genton saat konferensi pers pada 28 Oktober 2014, di depan layar yang menunjukkan dua vaksin Ebola yang akan diuji di Swiss di rumah sakit CHUV di Lausanne, Swiss barat.

Oleh Jason Gale dan Marthe Fourcade – 29 Oktober 2014

Lausanne, Swiss, yang terkenal dengan restoran yang nikmat, kebun-kebun anggur bertingkat-tingkat, jalan-jalan rapi yang menulang dari gunung sampai ke Danau Jenewa — dan, mulai tanggal 31 Oktober, kesediaan beberapa warga nya untuk disuntik dengan bagian dari virus Ebola.

Kota ini akan menjadi tuan rumah studi terbesar untuk vaksin eksperimental untuk melawan Ebola, langkah kunci dalam menghentikan wabah tersebut. Walaupun kawasan tenang tersebut jauh berbeda dari kawasan wabah di Afrika Barat, ilmuwan penanggung jawab tes mengatakan dia berhasil menemukan kelompok pertama dari partisipan yang bersedia — meskipun sebagian besar adalah dokter dan mahasiswa kedokteran.

Vaksin yang aman dan efektif dipandang sebagai alat penting untuk membantu penekanan penyakit Organisasi Kesehatan Dunia mengatakan bahwa virus tersebut bisa menyerang sebanyak 10.000 orang per minggu sampai bulan Desember. Vaksin, yang dibuat oleh GlaxoSmithKline Plc, akan diuji di Lausanne pada 120 orang dewasa yang sehat. Sejauh ini, lebih dari 50 orang telah berpartisipasi secara sukarela, kata Blaise Genton, pemimpin studi tersebut, yang telah bekerja di lebih dari 20 vaksin uji coba.

“Yang satu ini sangat berbeda dari yang lain, saya beritahu Anda, itu sebabnya saya cukup optimis,” Genton, seorang profesor di University Hospital of Lausanne, mengatakan dalam sebuah wawancara. “Kita harus bekerja lebih cepat sehingga kita mungkin memiliki sesuatu yang lebih dari apa yang kita miliki sekarang dalam hal tindakan pencegahan.”

Kiriman yang terdiri atas 101 tabung vaksin akan tiba hari ini atau Kamis dari Amerika Serikat, yang memungkinkan untuk memulai inokulasi pekan ini, kata Genton. Suntuikan eksperimental ini didasarkan pada versi hidup dari virus simpanse hasil rekayasa genetika yang berisi gen Ebola. Wakil dari Glaxo menolak berkomentar.

Penduduk Setempat Waspada

Sementara Genton mengatakan dia menemukan banyak kolega dan mahasiswa kedokteran bersedia menjadi sukarelawan, merekrut peserta dari masyarakat luas mungkin akan lebih sulit. Mereka yang secara acak akan menerima baik suntikan eksperimental atau plasebo menerima 800 franc Swiss ($ 845) sebagai penggantian atas waktu dan biaya perjalanan.

Berjalan-jalan di sepanjang danau, stasiun kereta api dan koridor rumah sakit di mana percobaan dilakukan menemukan bahwa penduduk setempat sangat waspada.

“Saya benar-benar tidak ingin memiliki virus hewan disuntikkan dalam tubuh saya,” kata Sebastien Charpie, akuntan publik dari Neuchâtel, satu setengah jam dari lokasi. “Penyakit ini berasal dari benua lain, mungkin itu sebabnya saya merasa kurang peduli.”

Juga, Charpie mengatakan: “Pesangon nya sangat rendah dibanding resiko yang Anda ambil.”

Efek Samping

Di Beau Rivage Palace, di mana rumput-rumput terawat terbentang menuju danau dan harga segelas cappuccino adalah 10 franc, Charpie dan enam orang lain yang diwawancarai mengatakan mereka tidak akan mendaftarkan diri untuk penelitian. Demikian juga, lima pekerja rumah sakit dan dua supir taksi tidak bersedia menjadi sukarelawan, meragukan motivasi dari industri farmasi serta masalah keamanan. Bahkan seorang apoteker di stasiun pusat Lausanne, Hicham Tayebi, memberikan alasan masalah kesehatan.

“Anda bisa menawarkan saya seribu kali jumlah yang dibayar dan aku masih akan mengatakan tidak,” kata Kabongo Mlamba, sopir taksi lokal yang lahir di Kinshasa di Republik Demokratik Kongo, di mana Ebola muncul pada tahun 1976. “Sisi efeknya bisa memprihatinkan, “ayah dari enam ank itu menambahkan.

Peserta akan dipantau untuk efek samping dan darah mereka akan dimonitor untuk mencari tanda-tanda respon imun.

Tes bulan ini di US National Institutes of Health, University of Oxford dan di Mali yang melibatkan puluhan orang sejauh ini tidak menunjukkan efek samping yang serius, Genton mengatakan kepada wartawan di Lausanne hari ini. Gejala minor hanya menunjukkan nyeri pada titik injeksi, demam ringan dan sakit kepala, katanya.

Sistem Kekebalan

Reaksi terhadap vaksin mungkin mencerminkan respon sistem kekebalan terhadap vaksin, kata Marie-Paule Kieny, Asisten Direktur Jenderal WHO untuk sistem kesehatan dan inovasi, dalam sebuah wawancara di kantor pusat badan Jenewa.

Tes di Lausanne adalah yang terbesar dalam serangkaian studi yang berlangsung, menurut WHO, yang mengkoordinasi penelitian. Badan kesehatan PBB juga mengkoordinasikan percobaan vaksin eksperimental kedua berjalan bersamaan di Geneva University Hospital.

“Jika terbukti aman dan efektif, kedua vaksin tersebut dapat ditingkatkan untuk produksi selama kuartal pertama tahun depan, dengan jutaan dosis diproduksi untuk distribusi yang luas di negara-negara berisiko tinggi,” kata Kieny dalam sebuah pernyataan hari ini.

Adenovirus Simpanse

Hasil awal adalah diharapkan selesai pada pertengahan Desember, Kieny mengatakan dalam wawancara. Pendekatan serupa menggunakan adenovirus simpanse sebagai vektor untuk imunisasi terhadap HIV dan TB tidak berhasil, katanya.

“Ini wilayah baru,” kata Kieny, yang telah setuju untuk berpartisipasi dalam pengujian di Jenewa. “Ini adalah vaksin yang sama sekali baru.”

Dua dosis vaksin akan diuji. Dosis terendah, yang terbukti dapat mengaktifkan respon imun yang cukup, akan digunakan, kata Genton, yang telah menghabiskan 25 tahun bekerja pada vaksin, termasuk malaria di Afrika.

“Kami tidak mengetahui tingkat antibodi yang diperlukan untuk melindungi, atau bahkan jika antibodi tersebut melindungi,” katanya.

Pemanis Buatan Dapat Menyebabkan Diabetes

sweetener

Oleh : Karen Weintraub,

Memilih pemanis buatan untuk menghindari gula mungkin hanya mengganti masalah dengan masalah yang lain, sebuah studi baru menunjukkan.

Bagi sebagian orang, pemanis buatan dapat menyebabkan diabetes tipe 2 sama seperti mengkonsumsi gula, menurut penelitian, yang diterbitkan hari Rabu dalam jurnal Nature.

Manfaat dan risiko dari pemanis buatan telah diperdebatkan selama beberapa dekade. Beberapa studi menunjukkan tidak adanya hubungan ke diabetes dan studi lain menunjukkan sebaliknya. Penelitian baru, dari Weizmann Institute of Science di Israel, menemukan bahwa perbedaan dalam mikroba usus mungkin menjelaskan mengapa beberapa orang dapat mengkonsumsi pemanis buatan dengan aman sedangkan sejumlah persentase orang pemanis buatan dapat menyebabkan diabetes.

Sistem pencernaan manusia adalah rumah bagi jutaan mikroba, sebagian besar bakteri, yang membantu dalam pencernaan makanan dan memainkan peran dalam kesehatan.

Para peneliti dengan segera menambahkan bahwa penelitian mereka harus bisa diulang sebelum jelas apakah pemanis buatan benar-benar dapat memicu diabetes.

“Saya pikir masalah ini masih jauh dari terselesaikan,” kata Eran Elinav, yang mempelajari hubungan antara sistem kekebalan tubuh seseorang, mikroba usus dan kesehatan di Weizmann Institute.

Ia mengakui bahwa penelitiannya telah mengurangi kebiasaan nya untuk menambah pemanis ke kopi yang ia butuhkan untuk melewati harinya.

“Aku sudah mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang sangat besar dan banyak menggunakan pemanis, dengan pemikiran bahwa setidaknya mereka tidak berbahaya dan bahkan mungkin menguntungkan,” kata Elinav pada konferensi pers telepon hari Selasa. “Mengingat hasil yang mengejutkan dari penelitian kami, saya membuat keputusan untuk berhenti menggunakan pemanis buatan.

George King, Kepala Ilmuwan di Joslin Diabetes Center di Boston, yang menulis buku yang akan dipublikasi The Diabetes Reset, mengatakan dia mungkin akan mengurangi kebiasaan diet soda, juga.

“Saya pikir saya akan merekomendasikan bahwa orang tidak minum lebih dari satu atau dua kaleng sehari,” kata King, yang tidak terlibat dalam penelitian baru.

Pemanis buatan tidak dapat dicerna, sehingga diasumsikan bahwa tidak akan ada jalan bagi mereka untuk menyebabkan diabetes. Mikroba tampaknya memberikan jalan tersebut.

Dalam serangkaian percobaan pada tikus dan manusia, para peneliti meneliti interaksi antara mikroba usus dan konsumsi pemanis aspartam, sucralose dan sakarin. Tergantung pada jenis mikroba yang mereka miliki dalam usus mereka, beberapa orang dan tikus diamati mengalami dua sampai empat kali lipat peningkatan gula darah setelah mengkonsumsi pemanis buatan untuk waktu yang singkat. Seiring waktu, kadar gula darah tinggi dapat menyebabkan diabetes.
“Besarnya perbedaan tersebut tidak hanya beberapa persentase. Ini adalah benar-benar perbedaan yang sangat dramatis yang kita lihat baik pada eksperiment tikus dan manusia,” kata Eran Segal, seorang rekan penulis studi yang merupakan ahli biologi komputasi di Weizmann Institute .

Penelitian ini melibatkan beberapa bagian:

  • Sebuah studi diet atas 400 orang menemukan bahwa mereka yang mengkonsumsi pemanis buatan adalah yang paling lebih cenderung memiliki masalah dalam mengendalikan gula darah.
  • Tujuh orang yang tidak biasanya mengkonsumsi pemanis buatan diikuti secara intensif selama seminggu karena mereka diberi makan sakarin dalam jumlah yang dikendalikan. Empat dari tujuh menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kadar gula darah.
  • Tikus yang diberi makan pemanis buatan sakarin mengalami peningkatan dramatis dalam kadar gula darah mereka.
  • Tikus tanpa mikroba usus tidak melihat peningkatan kadar gula darah ketika mereka makan pemanis buatan. Setelah tikus bebas mikroba ini dimasukkan mikroba dengan cara diberi kotoran tikus normal yang makan pemanis buatan, kadar gula darah mereka melonjak setelah makan pemanis buatan, menunjukkan bahwa mikroba usus adalah kekuatan pendorong dalam reaksi.

Penelitian tikus yang secara khusus ini “dilakukan dengan jeli dan diselesaikan dengan sangat bagus” kata Cathryn Nagler, yang meneliti hubungan antara mikroba usus dan alergi makanan di University of Chicago dan menulis komentar tentang studi tersebut di Nature. Bagian studi yang masih tanda tanya, Nagler mengatakan, adalah penjelasan tentang perbedaan populasi mikroba usus mungkin dapat mengubah kemampuan seseorang untuk memproses pemanis buatan.

Dalam mencoba untuk memahami mengapa penyakit tertentu seperti alergi makanan dan diabetes terus meningkat, Nagler mengatakan bahwa dia mengamati perubahan dalam mikroba usus, seperti pengenalan antibiotik, perubahan dalam diet, kelahiran Caesar, pengenalan susu formula dan penghapusan penyakit menular.

“Sekarang,” katanya, “saya akan menambahkan pemanis buatan dalam daftar ini.”

Pola Kebotakan Tertentu Berkaitan Dengan Kanker Agresif

Pola kebotakan pada usia 45 ini dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi kanker prostat agresif. (Sumber Gambar: American Society of Clinical Oncology)

Pola kebotakan pada usia 45 ini dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi kanker prostat agresif. (Sumber Gambar: American Society of Clinical Oncology)

Sebuah pola tertentu kebotakan terlihat pada pria pada saat mereka berusia 45 tahun dapat menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan untuk terkena kanker prostat agresif, penelitian terbaru mengatakan.

Analisis data dari the Prostate, Lung, Colorectal and Ovarian Cancer Screening Trial menunjukkan bahwa pria yang botak di depan dan di belakang menunjukkan peningkatan 40 persen dalam risiko untuk terkena bentuk agresif dari kanker prostat. Pola lain dari kebotakan tidak dikaitkan dengan risiko ini, menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Oncology pekan ini.

“Studi kami menemukan peningkatan risiko untuk kanker prostat agresif hanya pada laki-laki dengan pola yang sangat spesifik dari rambut rontok, kebotakan di bagian depan dan moderat-rambut menipis pada puncak kepala, pada usia 45 tahun Tapi kami tidak melihat adanya peningkatan risiko kanker prostat pada pria dengan pola rambut rontok lainnya, “Dr Michael Cook, seorang peneliti di National Cancer Institute dan penulis senior studi ini, mengatakan dalam sebuah pernyataan. “Sementara data kami menunjukkan kemungkinan kuat adanya hubungan antara perkembangan kebotakan dan kanker prostat agresif, itu terlalu cepat untuk menerapkan temuan ini untuk perawatan pasien.”

Jika penelitian lebih lanjut menguatkan hubungan antara peningkatan risiko kanker prostat agresif dengan pola tertentu kebotakan, Cook mengatakan bahwa hal itu bisa membantu mengidentifikasi calon pasien lebih dini.

Studi ini mengkaji lebih dari 39.000 laki-laki usia 55-77 tahun dan menanyakan mereka tentang pola kebotakan mereka pada usia 45.

“Penelitian sebelumnya menghubungkan kebotakan dan kanker prostat masih belum meyakinkan, tetapi penelitian yang luas ini menunjukkan hubungan yang signifikan antara resiko tinggi kanker prostat dan kerontokan rambut – dan menunjukkan bahwa pria dengan rambut rontok mungkin perlu dipantau lebih dekat,” Dr Charles Ryan, seorang ahli untuk American Society of Clinical Oncology, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Namun, Timothy Wilt dari University of Minnesota, yang tidak terlibat dengan penelitian ini, mengatakan kepada USA Today bahwa studi yang menghubungkan kebotakan dan kanker prostat telah kontradiktif. Dia bahkan mengatakan penelitian terbaru ini memiliki beberapa inkonsistensi.

Contoh yang disertakan oleh USA Today dari Wilt adalah pria Afrika-Amerika, yang sudah terbukti berisiko tinggi untuk kanker prostat agresif. Pria kulit putih, bagaimanapun juga, lebih mungkin mengalami kebotakan dibandingkan pria Afrika-Amerika.

Menurut American Cancer Society, kanker prostat adalah jeis kanker umum peringkat ke dua setelah kanker kulit, pada pria Amerika. Ahli mengatakan bahwa walaupun penyakit ini serius, tetapi kebanyakan pria dengan kanker prostat tidak akan meninggal karenanya.

Diadaptasi dari : http://www.theblaze.com/stories/2014/09/16/this-very-specific-pattern-of-baldness-linked-to-aggressive-cancer-risk/

Studi Menunjukkan Ungkapan ‘Istri Bahagia, Hidup Bahagia’ Ada Benarnya.

happy-senior-couple

Sebagian besar dari kita telah mendengar ungkapan, “Istri Bahagi, Hidup Bahagia.” Tapi hal ini lebih dari sekedar ungkapan yang seirama? Sebuah studi baru dari Rutgers University di New Jersey mengatakan BENAR, semakin si istri bahagia dalam suatu perkawinan jangka panjang, semakin bahagia pula si suami, terlepas dari bagaimana perasaan pribadi dari suami tentang pernikahan nya.

Penelitian sebelumnya telah menyarankan manfaat kesehatan untuk pernikahan yang bahagia; mereka yang memiliki perkawinan atau hubungan yang bahagia dapat mengurangi resiko penyakit jantung. Sementara itu, penelitian lain menunjukkan bahwa kebahagiaan perkawinan bergantung pada ketenangan istri ketika terjadi cekcok antara suami-istri.

Dalam studi terbaru ini, yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and Family, Prof Deborah Carr, dari Rutgers, dan Prof Vicki Freedman, dari University of Michigan, bekerja sama untuk menganalisis data dari 2009 Disability and Use of Time Daily Diary data tambahan untuk Panel Study of Income Dynamics untuk menilai kualitas pernikahan dan kebahagiaan pada orang dewasa yang lebih tua.

“Saya pikir itu bermuara pada fakta bahwa ketika seorang istri puas dengan pernikahan, ia cenderung melakukan lebih banyak untuk suaminya,” kata Prof Carr, “Sehingga memiliki efek positif pada kehidupan si suami.”

Dia menambahkan bahwa karena laki-laki biasanya kurang vokal tentang hubungan mereka, “tingkat ketidakbahagiaan perkawinan mungkin tidak akan terjemahkan ke istri mereka.”

Para peneliti mengatakan studi mereka adalah berbeda dari yang sebelumnya karena berfokus pada perasaan pribadi sang suami dan sang istri untuk menilai bagaimana perasaan pribadi mereka atas pernikahan mereka mempengaruhi kesejahteraan psikologis mereka.

‘Kualitas Perkawinan Suami Meningkat Ketika Si Istri Melaporkan Pernikahan yang Bahagia’

Untuk melakukan studi mereka, tim melihat data pada 394 pasangan di mana setidaknya salah satu pasangan berusia 60 tahun atau lebih. Rata-rata, pasangan-pasangan tersebut sudah menikah selama 39 tahun.

Profesor. Carr dan Freedman mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada peserta seperti apakah pasangan mereka menghargai mereka, bertengkar dengan mereka, memahami perasaan mereka atau menyebalkan mereka. Para suami dan istri juga harus menulis laporan harian tentang betapa bahagianya mereka dalam 24 jam sebelumnya ketika melakukan kegiatan tertentu, seperti belanja, melakukan tugas dan menonton TV.

Secara keseluruhan, para peserta memiliki tingkat kepuasan hidup sehati-hari yang tinggi, pada 5 dari 6 poin, dan suami cenderung menilai pernikahan mereka sedikit lebih positif daripada yang diberikan oleh istri-istri mereka.

Prof Carr mengatakan bahwa berada di tingkat pernikahan yang baik “bereratan dengan kepuasan hidup dan kebahagiaan yang lebih besar ” untuk kedua pasangan.
Namun, mereka juga menemukan bahwa istri menjadi kurang senang jika pasangan mereka menjadi sakit, tetapi pada suami ‘kebahagiaan tidak berubah atau menunjukkan hasil yang sama jika istri mereka jatuh sakit.

Hal ini mungkin karena si istri mengambil sebagian besar perawatan ketika pasangan sedang sakit, kata Prof Carr, yang mencatat bahwa hal tersebut dapat menjadi pengalaman yang melelahkan. “Tapi sering ketika seorang wanita sakit, dia tidak bergantung pada suaminya, melainkan pada anak putrinya,” tambahnya.

Meringkas temuan mereka, para penulis menulis:

“[Tidak ada] hubungan yang signifikan antara penilaian pasangan terhadap pernikahan dan kesejahteraan sendiri. Namun, hubungan antara kualitas kepuasaan dan kehidupan perkawinan suami terangkat ketika istrinya juga melaporkan pernikahan yang bahagia, namun menyurut ketika istrinya melaporkan kualitas perkawinan yang rendah. ”

Tim mengatakan penelitian ini penting karena kualitas perkawinan dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan orang tua dengan bertambahnya usia mereka. Prof Carr menambahkan bahwa kualitas pernikahan “menyediakan penyangga terhadap efek-efek yang mengurangi karena tekanan hari tua dan membantu pasangan dalam mengelola keputusan yang sulit terkait kesehatan dan pengambilan keputusan medis.”

Diadaptasi dari : http://www.medicalnewstoday.com/articles/282545.php