Category Archives: Kesehatan

Pola Makan Pra-Konsepsi Mempengaruhi DNA Bayi Secara Permanen

_74516106_1gambia_fw_newborn2013creditfeliciawebb.copyrightmrcing

Oleh Helen Briggs

Penelitian menunjukkan pola makan ibu sekitar masa kehamilan dapat secara permanen mempengaruhi DNA bayinya.

Percobaan-percobaan terhadap hewan telah menunjukkan diet pada masa kehamilan dapat meng-aktif atau non-aktif –kan gen, tetapi penemuan berikut adalah pertama kalinya terhadap manusia.

Penelitian mengikuti para wanita di pedesaan Gambia, di mana iklim musiman menyebabkan perbedaan besar dalam diet antara musim hujan dan kering.

Ini menekankan pentingnya diet yang seimbang sebelum dan selama masa kehamilan, menurut keterangan tim dari Inggris dan Amerika ini.

Para ilmuwan mengikuti 84 ibu hamil yangmengandung pada puncak musim hujan, dan sekitar jumlah yang sama yang mengandung pada puncak musim kemarau.

Tingkat gizi diukur dalam sampel darah yang diambil dari wanita ; sedangkan DNA bayi mereka dianalisis 2-8 bulan setelah lahir.

Ilmuwan Pemimpin Tim Tersebut Dr Branwen Hennig, dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, mengatakan itu adalah bukti pertama pada manusia yang menunjukkan bahwa nutrisi ibu pada saat konsepsi dapat mengubah bagaimana gen anaknya akan berkembang selama hidupnya .

Dia mengatakan kepada BBC News : ” Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa gizi ibu pra-konsepsi dan awal kehamilan adalah penting dan mungkin memiliki implikasi untuk hasil kesehatan dari generasi berikutnya. Para wanita harus memiliki pola makanan yang seimbang sebelum masa konsepsi dan selama kehamilan. ”

Efek Epigenetik

Percobaan pada tikus menunjukkan diet selama kehamilan dapat memiliki dampak seumur hidup pada gen keturunannya. Misalnya, warna bulu pada tikus dipengaruhi oleh diet ibunya.

Hal tersebut dikenal sebagai ” efek epigenetik ” ( modifikasi pada DNA yang dapat meng aktif atau non-aktif –kan gen). Salah satu modifikasi tersebut melibatkan pengikatan molekul kimia dari grup methyl ke DNA (proses metilasi)

Bayi yang dikonsepsi dalam musim hujan secara konsisten memiliki tingkat metilasi yang lebih tinggi di semua enam gen yang diteliti, para peneliti menemukan.
Temuan ini dihubungkan dengan berbagai tingkat nutrisi dalam darah ibu.

Tapi belum dipastikan apa kegunaan gen-gen tersebut, dan proses-proses apa yang terpengaruh.

Gen Yang ‘ Belum Diketahui’

Rekan sepeneliti Dr Rob Waterland dari Baylor College of Medicine di Houston mengatakan temuan yang dipublikasikan di Nature Communications, adalah bukti dari prinsip bahwa diet seorang ibu dapat memiliki efek epigenetik.

Penelitian ini menunjukkan bahwa nutrisi ibu “bisa meninggalkan efek permanen pada genom anaknya dalam semua sel tubuhnya “, katanya kepada BBC News.

Rekan penulis Andrew Prentice, profesor gizi internasional di London School of Hygiene dan Tropical Medicine, menambahkan : ” Tujuan utama kami adalah untuk menentukan diet yang optimal bagi calon-calon ibu agar mencegah kerusakan proses metilasi. ”

Diadaptasi dari situs: http://www.bbc.com/news/health-27211153

WHO MENYERUKAN TANDA BAHAYA AKAN PENYEBARAN ‘SUPER-BAKTERI’

1398862842000-XXX-Antibiotic-Resistance-01

Bakteri penyebab penyakit yang kebal terhadap pengobatan antibiotik sekarang telah tersebar luas di setiap penjuru dunia dan telah mencapai ” tingkat yang mengkhawatirkan ” di banyak daerah, menurut laporan global pertama mengenai masalah ini dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

” Ini masalah yang sangat serius yang dapat mengancam kesukesan kedokteran modern, ” kata laporan yang dirilis Rabu. ” Sebuah era pasca-antibiotik – di mana infeksi biasa dan luka ringan dapat membunuh – adalah kemungkinan yang sangat nyata di abad ke-21. ”

Laporan ini berfokus pada beberapa jenis bakteri yang menyebabkan, penyakit serius yang umum seperti infeksi aliran darah, diare, pneumonia, infeksi saluran kemih dan gonore. Disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang berlebihan dan kelangkaan obat baru, beberapa bakteria yang dulunya mudah disembuhkan sekarang bahkan kebal terhadap antibiotik yang paling kuat dan yang paling terbaru, kata laporan itu. Hal itu disebabkan karena bakteri selalu beradaptasi bahkan ketika obat-obatan tidak.

Sebagai contoh, kasus gonore yang tidak dapat diobati dengan obat sefalosporin terbaru telah ditemukan di Austria, Australia, Kanada, Perancis, Jepang, Norwegia, Afrika Selatan, Slovenia, Swedia dan Inggris. Infeksi saluran kemih dengan bakteri E. coli yang kebal terhadap pengobatan dengan antibiotik fluorokuinolon ditemukan di lebih dari sebagian dari seluruh kasus di banyak negara, kata laporan itu.

” Jika tidak ada tindakan yang diambil saat ini untuk mengurangi penyebaran mikroba yang kebal terhadap antibiotik dan menemukan solusi baru, kita mungkin mencapai titik di mana beberapa infeksi tidak akan dapat diobati lagi, ” kata Carmen Pessoa Da Silva, seorang dokter Brasil yang memimpin program WHO pada masalah ini.

Para dokter di Amerika Serikat, termasuk mereka yang bekerja di US Centers for Disease Control dan Prevention, telah menggunakan kata-kata serupa yang sama tajamnya seperti “super-bakteri” dan ” bakteri mimpi buruk”. Mereka menyambut baik tindakan WHO dalam menyerukan tanda bahaya tentang masalah ini yang setiap hari ditemukan di rumah sakit – rumah sakit dan klinik-klinik dokter di AS.

” Ini menakutkan. Dan ini bukan hal yang berlebihan, ” kata Barbara Murray, seorang ahli penyakit menular di University of Texas Health Science Center, Houston, dan presiden Infectious Diseases Society of America. “Ancaman ini nyata dan sedang terjadi. Di lingkungan rumah sakit, itu memprihatinkan dan dalam beberapa lingkungan komunitas masyarakat, itu juga memprihatinkan. ”

Steve Solomon, yang memimpin kantor CDC yang dikhususkan untuk masalah ini, mengatakan : “Ancaman ini sangat besar. Kita semua benar-benar terancam terjerumus ke jurang era pasca – antibiotik. Tetapi saya juga optimis. Komitmen untukmengatasi masalah ini sangat kuat. ”

CDC telah bekerjasama dengan beberapa instansi pemerintah di seluruh dunia dalam apa yang mereka sebut inisiatif “keamanan kesehatan global “. Beberapa tujuannya adalah sistem-sistem pencegahan, deteksi dan respon yang lebih baik untuk mengatasi ancaman penyakit menular, termasuk bakteri yang resistan terhadap obat, di mana saja mereka muncul di dunia.

” Penyebaran bakteri ini secepat dengan kecepatan jet, ” kata Solomon.
CDC juga telah menyerukan upaya-upaya untuk membatasi penggunaan antibiotik yang tidak perlu dan menitikberatkan pada cara-cara pencegahan infeksi mulai dari vaksin sampai penanganan makanan yang aman dan praktis mencuci tangan yang lebih baik di rumah sakit.

Anggaran yang diajukan oleh Presiden Obama sebesar U$ 30 juta setahun untuk mengatasi ancaman tersebut melalui laboratorium-laboratorium regional yang baru dan program-program lainnya.

Kelompok Murray juga mendesak Kongres untuk meloloskan kredit pajak supaya dapat memacu pengembangan obat antibiotik baru dan memberikan Food and Drug Administration kewenangan untuk lebih cepat menyetujui penggunaan nya.

WHO dan CDC mengatakan bahwa setiap individu pasien juga dapat memainkan peran – dengan tidak memaksa dokter untuk meresepkan obat antibiotik tidak dibutuhkan, menyelesaikan semua resep antibiotik dan tidak pernah berbagi obat. Penyalahgunaan obat dapat mendorong pertumbuhan bakteri yang resistan terhadap obat. Cara lain untuk membantu : mendesak pekerja kesehatan terbiasa untuk mencuci tangan dan mengikuti langkah-langkah pengendalian infeksi di rumah sakit lain.

Diterjemahkan dari situs: http://www.usatoday.com/story/news/nation/2014/04/30/who-alarm-superbug-infections/8502853/

Pemeriksaan Ulang Mempertanyakan Keefektifan Dari Obat Anti-Virus Flu

2014-04-10T080701Z_1902540258_PBEAHUNWBDL_RTRMADP_3_HEALTH-ROCHE-HLDG-TAMIFLU

Pemeriksaan Ulang Mempertanyakan Keefektifan Dari Obat Anti-Virus Flu

Oleh Deborah Kotz

Pemerintah AS telah menghabiskan lebih dari U$ 1 miliar selama dekade terakhir untuk menimbun obat anti-virus Tamiflu dan Relenza sebagai persiapan atas wabah pandemic flu, tapi pengamatan terbaru dari data percobaan klinis dari para produsen menemukan bahwa obat-obat tersebut tidak mengurangi perawatan rumah sakit terkait flu atau komplikasi serius seperti pneumonia, infeksi sinus, atau kematian.

Setelah melancarkan kampanye public relations selama empat tahun, peneliti dari Cochrane Collaboration, sebuah jaringan penelitian perawatan kesehatan global, diberi akses ke sdata-data lengkap lebih dari 24.000 peserta penelitian dalam 20 percobaan Tamiflu dan 26 percobaan Relenza – sekitar 150.000 halaman yang berisi data – dari produsen Roche dan GlaxoSmithKline.

Mereka menemukan bahwa dibandingkan dengan plasebo, Tamiflu memperpendek durasi gejala flu dengan lebih kurang dari sehari – dari 7 hari menjadi 6,3 hari – tetapi mempunyai efek samping yang lebih. Ini termasuk mual dan muntah, dan pada mereka yang menggunakan obat tersebut selama berminggu-minggu untuk mencegah flu, menyebabkan sakit kepala, masalah ginjal, dan kondisi kejiwaan seperti depresi atau kebingungan, menurut temuan yang dipublikasikan pada hari Rabu di British Medical Journal. Relenza, yang dihirup, memiliki efek yang sama untuk memperpendek gejala, tanpa ada peningkatan risiko efek samping.

” Ini adalah situasi di mana efektivitas obat-obatan ini telah dilebih-lebihkan dan efek-efek merugikannya diremehkan, ” kata Dr Fiona Godlee, pemimpin redaksi dari British Medical Journal, yang bekerja dengan Cochrane untuk mendesak produsen untuk merilis data-data dengan lengkap. “Hal ini mempertanyakan keputusan untuk menimbun obat-obat ini di seluruh dunia dan memberi kita pengetahuan yang menyedihkan tentang sistem itu sendiri. ”

Sejak tahun 2005, Departemen Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS) menghabiskan U$ 1.3 miliar untuk membeli 50 juta dosis obat anti-virus dan mensubsidi negara-negara bagian untuk membeli 31 juta dosis pengobatan tambahan untuk stok mereka sendiri. Massachusetts tidak memiliki pasokan sendiri.

Setelah mendistribusikan 11 juta dosis selama pandemic di tahun 2009 yang disebabkan oleh strain flu H1N1, pemerintah federal mengisi ulang pasokan tersebut.

“Tanggapan atas pandemi di masa depan, pembelanjaan HHS untuk obat-obat anti-virus dan vaksin akan didasarkan pada analisis risiko-manfaat menggunakan semua keamanan dan kemanjuran produk dan data tentang tingkat keparahan penyakit dan transmisi yang tersedia pada saat itu, ” kata Gretchen Michael, juru bicara HHS, yang menolak mengomentari apakah kebijakan itu akan berubah berdasarkan data baru.

Berdasarkan studi di tahun 2011, peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa penggunaan obat anti-virus selama wabah H1N1 mencegah 8.400 sampai 12.600 rawat inap di Amerika Serikat akibat komplikasi terkait flu, tapi ulasan ulang yang dilakukan Cochrane menemukan mungkin itu bukan penyebabnya.

Dia juga menemukan bahwa perawatan dengan obat anti-virus sebagai tindakan pencegahan menurunkan risiko seseorang terkena gejala flu, tetapi tampaknya tidak menghentikan penularan virus tersebut.

Sementara informasi di situs Food and Drug Administration tentang Tamiflu dan Relenza tidak menyebutkan bahwa obat-obat tersebut dapat mencegah komplikasi terkait flu, website CDC menyatakan bahwa bagi orang-orang dengan kondisi medis berisiko tinggi, “pengobatan dengan obat anti-virus dapat menyebabkan perbedaan antara menderita sakit ringan, atau menderita sakit sangat serius yang dapat mengakibatkan tinggal di rumah sakit. ”

Pejabat CDC berpendapat bahwa laporan tersebut didasarkan pada studi yang mengawasi para penderita flu yang diobati dengan obat anti-virus dalam praktek klinis dunia nyata, yang menemukan bahwa ketika obat diberikan dalam hari pertama atau kedua ketika gejala muncul, mereka mengurangi risiko komplikasi dibandingkan ketika mereka tidak diberi sama sekali.

Sebuah analisis yang dipublikasikan bulan lalu dalam jurnal Lancet Respiratory Medicine menemukan bahwa mereka yang diobati dengan obat anti-virus adalah 50 persen lebih kecil kemungkinan untuk meninggal akibat infeksinya daripada mereka yang tidak.

” Ketika CDC merumuskan rekomendasi pengobatan anti-virus, kita melihat semua bukti yang tersedia, ” kata Dr Timothy Uyeki, kepala medis untuk divisi influenza CDC dan penulis analisis Lancet. Dia mengatakan bahwa ia berencana untuk memeriksa ulasan Cochran yang terbaru tetapi lembaga tersebut akan ” terus menekankan pengobatan anti-virus untuk setiap pasien rawat inap ” yang didiagnosis dengan flu.

Namun, para peneliti lain berpendapat bahwa mengandalkan data studi populasi – dan bukan uji klinis – dapat menyesatkan.

Dokter-dokter mungkin memilih untuk menggunakan obat anti-virus pada pasien lebih sehat dan melewatkan saja mereka yang kemungkinannya lebih kecil untuk bertahan hidup karena serangan flu, kata Harlan Krumholz, seorang profesor kedokteran di Yale University School of Medicine, yang menulis editorial yang menyertai studi baru tersebut.

” Ini adalah masalah yang sangat kontroversial untuk mengatakan bahwa bukti-bukti tersebut cukup kuat sebagai alasan untuk menimbun miliaran dolar dari obat ini, ” tambah Krumholz. Dia menyerukan pemerintah federal untuk mendanai suatu uji klinis independen untuk menentukan apakah memang obat anti-virus mencegah pneumonia dan kematian pada mereka yang dirawat di rumah sakit dengan flu.

Diadaptasi dari situs: http://www.bostonglobe.com/lifestyle/health-wellness/2014/04/09/evidence-that-anti-viral-drugs-for-flu-prevent-serious-complications-deaths/sSpMLDjRhGwSexWYk2kzWO/story.html

Para Ilmuwan Meregenerasi Organ Kekebalan Tubuh Dalam Tikus

double-helix-dna

( Reuters ) – Untuk pertama kalinya para Ilmuwan Inggris menggunakan pengobatan regeneratif untuk sepenuhnya menmulihkan organ dalam hewan hidup, penemuan yang mereka katakan dapat membuka jalan bagi teknik yang serupa untuk digunakan pada manusia di masa depan.

Tim dari Universitas Edinburgh ini membentuk kembali organ timus – organ yang penting bagi sistem kekebalan tubuh dan terletak di depan hati – dari tikus yang sangat tua dengan cara mengaktifkan mekanisme alami yang telah terhenti karena pengaruh usia.

Organ timus yang teregenerasi ini tidak hanya mirip secara rinci dalam struktur dan genetika dengan tikus yang muda, seperti yang dikemukakan para ilmuwan, tetapi juga bisa berfungsi lagi, di mana tikus tua yang diobati mulai membuat lebih banyak sel T – jenis sel darah putih yang penting untuk memerangi infeksi.

Organ timus yang teregenerasi juga berukuran dua kali lebih besar dibanding dengan ukuran organ tua dalam tikus yang tidak diobati.

” Dengan menargetkan satu protein, kami telah mampu hampir sepenuhnya membalikkan penyusutan akibat usia dari organ timus tersebut, ” kata Clare Blackburn dari Edinburgh Medical Research Council ( MRC ) Pusat Pengobatan Regeneratif, yang memimpin penelitian.

” Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa penargetan jalur yang sama pada manusia dapat meningkatkan fungsi timus sehingga meningkatkan kekebalan tubuh pada pasien usia lanjut, atau orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah. ”

Namun ia menambahkan, walaupun memang tikus yang dirawat tersebut dapat kembali membuat sel T, penelitiannya belum bisa menentukan apakah sistem kekebalan tubuh tikus tersebut juga ikut menguat.
Dan sebelum teknik ini dapat diuji pada manusia, katanya, para peneliti akan perlu melakukan lebih banyak percobaan pada hewan untuk memastikan proses regenerasi dapat dikontrol dengan ketat.

Timus adalah organ pertama yang menyusut sejalan dengan penuaan. Penyusutan ini adalah adalah salah satu alasan utama sistem kekebalan tubuh menjadi kurang efektif dan kita kehilangan kemampuan untuk melawan infeksi baru, seperti flu, seiring bertambahnya usia.

Pengobatan regeneratif merupakan bidan penelitian yang berkembang pesat, terutama memfokuskan pada sel induk – sel induk yang bertindak sebagai sumber untuk semua jenis sel dan jaringan dalam tubuh. Salah satu tujuan utama adalah untuk memanfaatkan mekanisme perbaikan tubuh sendiri dan memanipulasi mereka dengan cara yang terkontrol untuk mengobati penyakit.

Tim Blackburn, yang karyanya diterbitkan Selasa dalam jurnal Development, mengatakan mereka menargetkan bagian dari proses penyusutan timus – protein yang disebut FOXN1 yang membantu mengendalikan bagaimana gen-gen penting dalam timus diaktifkan.

Mereka menggunakan tikus yang dimodifikasi secara genetika sehingga memungkinkan mereka untuk meningkatkan kadar protein dengan menggunakan stimulus kimia. Dengan demikian, mereka berhasil untuk menginstruksikan sel-sel yang belum matang dalam timus – mirip dengan sel induk – untuk membangun kembali organ tersebut pada tikus tua.

Rob Buckle, kepala kedokteran regeneratif MRC, mengatakan keberhasilan dengan organ timus dalam tikus menunjukkan regenerasi organ pada mamalia dapat diarahkan dengan memanipulasi protein tunggal – sesuatu yang katanya bisa memiliki implikasi yang luas bagi bidang lain dalam biologi regeneratif.

Diadaptasi dari situs : http://www.reuters.com/article/2014/04/08/us-regenerative-organ-idUSBREA370SB20140408

Korban Tewas Ebola Mencapai 78; “Epidemi Yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya”

download

CONAKRY, Guinea ( AP ) – Otoritas kesehatan di Guinea menghadapi suatu ” epidemi Ebola yang belum pernah terjadi sebelumnya “, sebuah kelompok bantuan internasional memperingatkan pada hari Senin setelah jumlah korban tewas akibat penyakit yang menyebabkan pendarahan parah ini mencapai 78.

Wabah Ebola ini adalah yang pertama dari jenisnya di Afrika Barat dalam dua dekade. Pihak berwenang di negara tetangga Senegal telah menutup perbatasan darat dengan Guinea. Liberia, negara tetangga lain, telah mengkonfirmasi dua kasus, dan salah satunya fatal.

Musikus terkenal dari Senegal Youssou Ndour membatalkan konser akhir pekan di Conakry, ibukota Guinea, karena ia takut penyakit ini bisa menyebar di dalam kerumunan besar pengunjung yang berkumpul untuk mendengarnya. Menurut pihak berwenang, para warga telah menjauhi rumah sakit di kota yang berpenduduk 2 juta ini, di mana para-kerabat sari salah satu korban ditampung untuk isolasi.

Munculnya Ebola di Guinea menimbulkan tantangan yang tidak pernah terlihat dalam wabah sebelumnya yang melibatkan ” lokasi yang lebih terpencil dibandingkan dengan daerah perkotaan, ” kata Doctors Without Borders. Ebola telah menjangkiti orang-orang di Conakry maupun di selatan pedesaan Guinea.

” Penyebaran geografis yang luas dari wabah di Guinea ini mengkhawatirkan karena akan sangat menyulitkan tugas organisasi yang bekerja untuk mengontrol epidemi tersebut, ” kata Mariano Lugli, koordinator kelompok di Conakry.

Virus Ebola pertama kali ditemukan di Kongo -yang kemudian dikenal sebagai Zaire – pada tahun 1976. Belum ada vaksin atau pengobatan khusus untuk penyakit ini. Virus Ebola tipe Zaire yang terdeteksi di Guinea ini dapat membunuh hingga 90 persen dari korbannya karena pendarahan internal dan eksternal yang hebat.

Para pejabat belum bisa memastikan bagaimana virus tersebut bisa muncul di Guinea, sebuah negara Afrika Barat yang jauh dari perbatasan Kongo. Namun, kelelawar yang menularkan virus biasanya dimakan sebagai makanan lokal di Guinea.

Virus ini dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan darah atau sekresi dari orang yang terinfeksi, atau benda yang telah terkontaminasi dengan cairan yang terinfeksi. Keluarga yang ditinggalkan juga dapat tertular virus ketika bersentuhan dengan tubuh korban di pemakaman komunal, penjelasan dari pejabat kesehatan.

Diadaptasi dari : http://www.usatoday.com/story/news/world/2014/03/31/ebola-epidemic-west-africa/7134331/

Buka MATA, jangan buta terhadap gejala STROKE !

Buka MATA Stroke

Pelajari banyak tanda-tanda peringatan stroke.
Buka MATA jangan buta terhadap gejala Stroke !

CATAT WAKTU KETIKA GEJALA PERTAMA MUNCUL. Jika pertolongan diberikan dalam kurun waktu tiga jam dari gejala pertama, ada obat yang dapat menghancurkan penyumbatan/gumpalan darah dan dapat mengurangi kelumpuhan jangka panjang yang umumnya disebabkan oleh stroke. Ada juga dua jenis lainnya dari perawatan stroke yang dapat membantu mengurangi efek dari stroke.

Buka MATA dan kenali sebanyak mungkin gejala stroke, sehingga anda bisa bertindak cepat.

Gejala Stroke antara lain:

  • MENDADAK mati rasa atau kelemahan pada wajah , lengan atau kaki – terutama pada satu sisi tubuh .
  • MENDADAK kebingungan , kesulitan berbicara atau memahami .
  • MENDADAK kesulitan untuk melihat pada salah satu atau kedua mata .
  • MENDADAK kesulitan berjalan , pusing , kehilangan keseimbangan atau koordinasi .
  • MENDADAK sakit kepala parah tanpa diketahui penyebabnya .

INGAT ! CATAT WAKTU KETIKA GEJALA PERTAMA MUNCUL, INFORMASI INI SANGAT DIBUTUHKAN OLEH PARA DOKTER DAN PERAWAT !

Diadaptasi dari : www.stroke.org

PENELITIAN MENGHUBUNGKAN ANTARA GEN PAYUDARA DAN KANKER RAHIM BERESIKO-TINGGI

double-helix-dna

Oleh Marilynn Marchione

Wanita dengan gen kanker payudara yang cacat memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami tumor rahim yang langka tapi mematikan, walaupun ovaries (indung telur) mereka telah diangkat untuk menurunkan risiko kanker utama mereka, dokter melaporkan.

Sebuah studi terhadap hampir 300 perempuan dengan gen BRCA1 yang cacat menemukan 4 kasus kanker rahim yang agresif, beberapa tahun setelah mereka menjalani operasi preventif untuk mengangkat indung telur mereka. Angka tersebut adalah 26 kali lebih besar dari yang diharapkan.

” Satu kasus bisa saja terjadi. Dua, mulai menimbulkan pertanyaan , dan empat sangat mencurigakan,” kata Dr Nuh Kauff dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York.

Studinya, yang dilaporkan pada hari Senin dalam konfrensii kanker di Florida, adalah yang pertama untuk menghubungkann hal ini. Meskipun belum cukup bukti untuk mengubah praktek saat ini, para dokter mengatakan wanita dengan mutasi gen ini harus diberitahu tentang hasil penelitian ini dan mempertimbangkan untuk mengangkat rahim dan juga indung telur mereka.

” Sangat penting bagi wanita untuk memiliki informasi itu… tapi saya pikir itu terlalu dini untuk betul-betul merekomendasikan kepada pasien bahwa mereka harus menjalani histerektomi , sampai penelitian lebih lanjut menkonfirmasi temuan ini,” kata Dr Karen Lu, seorang spesialis dalam kanker wanita di MD Anderson Cancer Center di Houston.

Dia berencana untuk mempelajari pasien dengan kriteria yang sama di rumah sakitnya, pusat kanker terbesar di Amerika, untuk melihat apakah mereka juga memiliki risiko kanker rahim yang lebih tinggi.

Sekitar 1 dari 400 wanita di Amerika Serikat, dan banyak dari keturunan Eropa Timur, memiliki BRCA1 atau BRCA2 yang cacat sehingga meningkatkan resiko mereka untuk kanker payudara dan kanker ovarium. Dokter menyarankan mereka untuk memonitor lebih awal dan lebih sering untuk kanker payudara, dan mengangkat indung telur mereka setelah selesai memiliki anak agar membantu mencegah kanker rahim dan payudara, karena hormon-hormon rahim mempengaruhi kanker payudara juga.

“Namun peranan gen BRCA pada kanker rahim belum diketahui,” kata Kauff.

Studinya melihat 1.200 wanita yang didiagnosis dengan mutasi gen BRCA sejak tahun 1995 di Sloan Kettering. Para dokter mampu memonitor 525 dari mereka selama bertahun-tahun setelah mereka menjalani operasi yang hanya mengangkat indung telur mereka tetapi memembiarkan rahim utuh.

Sebagian besar kanker rahim adalah tipe berisiko rendah biasanya disembuhkan dengan pembedahan saja. Tipe-tipe yang agresif hanya terhitung 10 sampai 15 persen dari seluruh kasus tetapi menyebabkan lebih dari 50% kematian akibat kanker rahim.

Para peneliti terkejut melihat 4 kasus di antara 296 wanita dengan mutasi BRCA1. Tidak ada kasus pada wanita dengan mutasi BRCA2, kata Kauff.

Penelitian ini dibahas ada hari Senin di pertemuan tahunan Society of Gynecologic Oncology di Tampa, Florida.

Tahun lalu, aktris Angelina Jolie mengungkapkan dia menjalani operasi preventif untuk mengangkat kedua payudaranya karena mutasi BRCA1. Ibunya menderita kanker payudara dan meninggal karena kanker ovarium, dan nenek dari pihak ibunya juga menderita kanker ovarium.

Diterjemahkan dari situs : http://hosted.ap.org/dynamic/stories/U/US_MED_CANCER_GENE?SITE=AP&SECTION=HOME&TEMPLATE=DEFAULT&CTIME=2014-03-24-11-16-36

Panel F.D.A Merekomendasikan Penggantian untuk Test Pap

Diterjemahkan dari situs : HTTP://WWW.NYTIMES.COM/2014/03/13/HEALTH/AN-FDA-PANEL-RECOMMENDS-A-POSSIBLE-REPLACEMENT-FOR-THE-PAP-TEST.HTML?_R=0

double-helix-dna

Oleh ANDREW POLLAC – Maret 12 , 2014

Tes Pap , ritual bagi perempuan yang telah menjadi andalan pencegahan kanker serviks selama 60 tahun , mungkin akan mengalami peranan yang berkurang.
Sebuah komite penasihat federal pada hari Rabu menyarankan secara bulat bahwa tes DNA yang dikembangkan oleh Roche disetujui untuk digunakan sebagai alat skrining utama.

“Apakah test Pep, seperti yang kita lakukan, sudah ketinggalan jaman? ” Dr Dorothy Rosenthal , seorang profesor di Johns Hopkins University , bersaksi kepada komite , yang memberikan konsultasi kepada Food and Drug Administration. Dia mengatakan kematian akibat kanker serviks di Amerika Serikat telah berhenti mengalami penurunan dan kemungkinan akan adanya “hasil penurunan yang luar biasa ” jika pindah ke pengujian baru.

Test dari Roche ini mendeteksi DNA dari human papilloma virus , atau HPV , yang menyebabkan hampir semua kasus kanker serviks. Tes Pap melibatkan pemeriksaan sampel serviks di bawah mikroskop untuk mencari kelainan.
Sampai saat ini pengujian HPV telah digunakan terutama sebagai tes tindak lanjut ketika hasil Pap yang meragukan, atau digunakan bersama-sama dengan tes Pap.

Hasil penghitungan suara 13 lawan 0 pada hari Rabu ini – oleh sebuah komite yang beranggotakan patolog, mikrobiologi dan ginekolog dari akademis- akan memungkinkan test dari Roche untuk digunakan sendiri sebagai tes awal untuk wanita 25 dan lebih tua.
Test dari Roche ini dipandang sebagai lebih baik daripada tes Pap dalam menemukan lesi prakanker.

Namun, tes Pap , yang sudah terbukti dan sangat berhasil , tidak akan ditinggalkan dengan cepat , begitu saja.

Dengan asumsi F.D.A. sepaham dengan komite penasihat dan menyetujui penggunaan baru dari tes Roche tersebut, tes ini hanya akan menjadi salah satu pilihan saja , bukan pengganti rejimen pengujian yang lebih dulu. Dan para dokter tidak akan langsung mengadopsi tes baru ini kecuali komunitas profesional merekomendasikan hal ini dalam pedoman mereka, yang mana bisa memakan waktu bertahun-tahun.

Penggunaan sebagai alat skrining utama bisa berarti penjualan yang lebih luas dari tes HPV. Pasar Amerika Serikat untuk tes tersebut adalah lebih dari $ 200 juta, menurut DeciBio , sebuah perusahaan riset pasar.
Qiagen adalah penjual terkemuka tes tersebut , dengan Roche dan Hologic juga berpartisipasi. Berbagai laboratorium juga menawarkan tes sendiri. Tapi persetujuan sebagai alat skrining utama akan hanya untuk test Roche ‘Cobas’, yang mana bisa membantu memperluas pangsa pasar.

Saat ini pedoman di Amerika Serikat merekomendasikan bahwa perempuan 30-65 menjalani pengujian ganda dengan kedua tes HPV dan tes Pap setiap lima tahun , atau tes Pap saja setiap tiga tahun. Perempuan berumur 21 hingga 30 seharusnya memiliki tes Pap setiap tiga tahun.

The American Cancer Society memperkirakan bahwa sekitar 12.360 kasus baru kanker serviks invasif akan didiagnosis pada tahun 2014 dan sekitar 4.020 wanita akan meninggal akibat penyakit tersebut. Antara tahun 1955 dan 1992, angka kematian kanker serviks menurun hampir 70 persen , terutama karena tes Pap. Angka kematian tetap stabil dalam beberapa tahun terakhir.

Pengujian HPV memiliki keunggulan dibandingkan dengan tes Pap. Penelitian telah menunjukkan tes ini jauh lebih sensitif dalam mendeteksi lesi prakanker. Para penganjur mengatakan tes itu lebih obyektif, hasilnya lebih konsisten dari laboratorium ke laboratorium dibandingkan dengan tes Pap, yang bergantung pada penilaian orang yang melihat slide di bawah mikroskop.

Kelemahan utama dari pengujian HPV adalah bahwa kebanyakan orang terinfeksi virus setelah mereka menjadi aktif secara seksual, meskipun dalam kebanyakan kasus sistem kekebalan tubuh mereka dapat membunuh virus tersebut. Banyak perempuan , terutama perempuan muda , akan dianjurkan untuk pemeriksaan tambahan atau biopsi yang mungkin seharusnya tidak diperlukan. Itulah mengapa pengujian ganda dengan kedua HPV dan Pap direkomendasikan hanya untuk wanita 30 ke atas.

Roche mengatakan bahwa tes mereka terhndar dari masalah itu karena tes tersebut secara khusus mendeteksi dua subtipe virus , yang dikenal sebagai genotipe 16 dan 18, yang menyebabkan 70 persen dari kasus kanker.

Dalam studinya, Roche menunjukkan bahwa tes mereka mengungguli tes Pap dalam berbagai pengukuran, seperti kemampuan untuk mendeteksi lesi prakanker. Hasil negatif pada tes HPV juga merupakan prediktor yang lebih baik daripada hasil negative tes Pap, bahwa seorang wanita akan tetap bebas dari lesi untuk tiga tahun ke depan.

Kebanyakan orang yang bersaksi di komite tersebut, yang diadakan di College Park , Md, mendesak perijinan, beberapa mengatakan sudah waktunya untuk beralih ke ilmu molekuler modern.

“George Papanicolaou tidak tahu tentang HPV , ” kata Lee Shulman , seorang profesor di Northwestern University , mengacu pada pengembang awal tes Pap. Dia membandingkan penggantian test Pap smear dengan pemeriksaan HPV seperti layaknya transisi dari kuda ke mobil.

Tapi ada beberapa penolakan yang mengatakan data-data itu tidak cukup untuk membenarkan perubahan tersebut.

“Indikasi yang diusulkan merupakan perubahan radikal dalam praktek klinis yang akan mempengaruhi jutaan wanita untuk sebagian besar kehidupan dewasa mereka , ” kata Anna E. Mazzucco dari the Cancer Prevention and Treatment Fund, organisasi pendukung dan advokasi pasien.

Dia mengatakan bahwa sebagian besar kasus kanker serviks terjadi pada perempuan yang tidak menjalani skrining , bukan pada mereka yang tidak terdeteksi pada saat skrining.

Sementara suara panitia sudah bulat , beberapa anggota memiliki keraguan tentang menggunakan tes HPV untuk wanita di bawah 30. Beberapa mengatakan bahwa tes HPV mungkin tidak jauh lebih baik, atau tidak sama sekali, dibandingkan dengan penggunaan yang direkomendasikan saat ini yaitu tes kedua-duanya (tes HPV dan tes Pap).

“Saya pikir wanita akan dilayani dengan baik dengan memiliki lebih banyak pilihan, tapi hal ini akan menjadi sangat menarik untuk diperhatikan di beberapa tahun ke depan sejalan dengan penerapannya, ” kata Dr Alan G. Waxman , seorang profesor kebidanan dan ginekologi di University of New Mexico.

Penelitian Memberikan Harapan Dalam Merekayasa Gen Untuk Menolak HIV

Diterjemahkan dari situs: http://www.nytimes.com/2014/03/06/health/study-gives-hope-of-altering-genes-to-repel-hiv.html

Jay Johnson Mengambil Bagian Dalam Penelitian Rekayasa Genetika, Untuk Membidik Gen Tertentu dan Menon-aktifkannya

Jay Johnson Mengambil Bagian Dalam Penelitian Rekayasa Genetika, Untuk Membidik Gen Tertentu dan Menon-aktifkannya

Oleh DENISE Grady 5 Maret 2014

Ide untuk mengubah genetika sel-sel manusia sehingga membuat mereka melawan virus penyebab AIDS mungkin tampaknya hanya mimpi, tetapi laporan baru menunjukkan hal itu bisa dilakukan .
Penelitian ini melibatkan penggunaan pertama kali pada manusia “gene editing” (rekayasa gen), pengobatan yang terfokus pada gen tertentu dan menonaktifkannya.

Pada 12 orang yang terinfeksi HIV , para ilmuwan menggunakan teknik ini untuk menyingkirkan protein pada sel-sel kekebalan tubuh pasien yang menjadi pijakan virus ini dalam menyerang sel-sel tersebut. Sel-sel tersebut diambil dari pasien , diobati dan kemudian dikembalikan kembali ke dalam aliran darah mereka melalui jalur intravena.

Secara teori , jika cukup banyak sel-sel bisa direkayasa untuk mengusir virus ,pasien mungkin tidak perlu lagi obat antivirus , dan mungkin menyebabkan kesembuhan.
Percobaan ini adalah penelitian awal, yang dimaksudkan untuk menguji keamanan, bukan efektivitas. Penelitian ini juga menemukan bahwa sel-sel kekebalan tubuh bisa diubah , dan melakukan hal ini tidak membahayakan pasien.

Gene editing juga tampaknya membantu memerangi infeksi dalam beberapa kasus, tetapi temuan ini masih dalam tahap awal dan peneliti memperingatkan bahwa penggunaan lebih luas masih jauh ke depan.

” Ini adalah strategi yang sangat baik, ” kata Dr Anthony S. Fauci , direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Infeksi , yang tidak terlibat dalam penelitian. “Hal ini sangat menarik , mengesankan, ilmu elegan . Tapi banyak ‘ seandainya ‘ perlu diatasi sebelum anda dapat mengatakan ‘Wow , ini benar-benar bisa berhasil. ‘”
Dr.Fauci juga mempertanyakan apakah pasien mengingini perawatan yang relatif kompleks ini ketika banyak orang dapat mengontrol infeksi dengan hanya satu atau beberapa pil per hari .
Artikel tentang penelitian ini diterbitkan pada hari Rabu di The New England Journal of Medicine, oleh para peneliti dari University of Pennsylvania , Albert Einstein College of Medicine di New York dan Sangamo BioSciences , sebuah perusahaan di Richmond , California , yang membuat produk gene editing .

Penelitian ini berakar pada suatu hal yang ditemukan para ilmuwan pada 1990-an: Sebagian kecil orang yang resisten terhadap HIV berkat mutasi yang menyebabkan sel-sel kekebalan tubuh mereka tidak mempunyai CCR5 , sebuah protein yang menjadikan pijakan virus tersebut. Pada orang dengan satu salinan gen yang termutasi, infeksi berlangsung lebih lambat dari pada mereka yang memiliki CCR5 normal. Orang-orang yang telah mewarisi dua salinan gen yang termutasi , satu dari setiap orangtua, sangat tahan terhadap HIV dan mungkin tidak akan pernah menjadi infeksi meskipun berulang kali tertular.

Seorang pria , yang dikenal sebagai “pasien Berlin,” rupanya sembuh dari AIDS setelah ia terkena leukemia dan menerima transplantasi sumsum tulang pada tahun 2007 dan 2008 . Karena suatu keberuntungan, donor sumsum tulang nya memiliki dua salinan dari gen termutasi untuk CCR5 . Sistem kekebalan tubuhnya kembali meningkat, virus tersebut menghilang dan ia mampu berhenti minum obat antivirus . Tapi transplantasi sumsum tulang terlalu sulit , berisiko dan mahal untuk digunakan sebagai pengobatan untuk HIV
Dr Carl June, penulis senior dalam penelitian tersebut dan ahli dalam AIDS dan kanker di University of Pennsylvania , mengatakan editing gen mungkin menawarkan cara lain untuk mencapai hasil yang sama .

Ia mengatakan pendekatan ini layak dipertimbangkan karena banyak pasien tidak menyukai obat antivirus dan mengalami efek sampingannya, dan karena pengobatan seumur hidup dapat menelan biaya $ 1 juta di Amerika Serikat. Editing gen bisa lebih murah , katanya .
Salah satu kemajuan ilmiah yang berperan besar dalam membuat para peneliti mempertimbangkan bahkan mencoba untuk merekayasa resistensi HIV: pengembangan sarana molekul yang manjur , zinc-finger nuclease, enzim yang dapat memotong DNA pada situs tertentu . Ketika sel mencoba untuk memperbaiki potongan seperti itu, kesalahan sering terjadi , sehingga menonaktifkan gen tertentu .
Pada awalnya , ia meragukan bahwa teknologi ini akan berguna bagi manusia , tapi ia mulai berusaha mencobanya pada tikus , dan terkejut oleh seberapa baiknya teknik ini bekerja .
” Ini luar biasa, ” kata Dr Juni . “Cara ini dapat menargetkan setiap gen yang Anda inginkan . ”

Dia dan timnya mulai menguji teknik ini pada orang yang terjangkit HIV di tahun 2009. 12 pasien diberi infus sekitar 10 miliar T-sel CD4 (sel kekebalan tubuh) mereka sendiri , yang telah direkayasa untuk menonaktifkan gen CCR5 nya . Teknik ini menonaktifkan gen sekitar 11 ppersen sampai 28 persen dari sel yang diobati.
Enam dari pasien kemudian berhenti memakai obat antiviral . Kebanyakan dari mereka , tingkat H.I.V. meningkat dan sel-sel kekebalan tubuh mereka berkurang. Namun sel-sel kekebalan yang dimodifikasi menurun lebih kurang secara signifikan daripada sel pasien yang tidak diobati, menunjukkan bahwa gene editing memberikan perlindungan. Sel-sel yang diubah bertahan , setidaknya untuk sementara waktu . Rata-rata , setengah masih ada setelah 48 minggu .

Jay Johnson , 53 , yang tinggal di Philadelphia , mengambil bagian dalam studi tersebut dan dirawat pada tahun 2010. Dia adalah satu-satunya pasien yang memiliki reaksi yang kurang baik: serangan demam yang singkat, menggigil dan nyeri sendi dan punggung .

Selama tiga bulan , ia tidak memakan obat antivirus . Awalnya, tingkat virusnya tidak terdeteksi, tetapi kemudian mulai meningkat, dan ia kembali pada obat-obatan.
Beberapa bulan yang lalu, para dokter mengatakan kepadanya bahwa ia masih memiliki beberapa sel-sel yang dimodifikasi itu, Mr Johnson mengatakan , tambahnya ia berharap sel-sel tersebut akan terus bertambah banyak, mengambil alih dan akhirnya membuat dia bebas virus. Dia akan dengan senang hati mencoba lagi pengobatan tersebut, katanya .
“ Jika berhasil , suatu kebahagiaan yang besar untuk mengatakan bahwa saya HIV negatif , ” katanya .

Selaju dengan jalannya penelitian ini, kata Dr June, para peneliti akan mencoba untuk menemukan cara-cara untuk meningkatkan proporsi sel –sel yang direkayasa ini dan untuk membuat mereka bertahan dalam tubuh . Masih harus dilihat apakah pengobatan dapat dibuat praktis untuk pasien dengan jumlah yang besar . Karena pasien-pasien dari peneleitian ini telah menerima pengobatan yang mengubah DNA mereka , Food and Drug Administration (Badan Makanan dan Obat-obatan Amerika) mengharuskan 15 tahun masa tindak lanjut untuk memeriksa efek samping . Salah satu kekhawatiran adalah bahwa pengobatan dapat menonaktifkan gen yang salah , meskipun tidak ada bukti yang terlihat sejauh ini.

Stetoskop Bisa Berperan Dalam Penyebaran Kuman

Diterjemahkan dari situs : http://www.usatoday.com/story/news/nation/2014/02/28/stethoscopes-could-spread-germs/5867597/

stetoskop

Oleh : Mary Bowerman , USATODAY, 12 am EST 28 Februari 2014

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa jumlah bakteri pada stetoskop bisa lebih tinggi dari semua bagian tangan dokter, terkecuali ujung jari, sehabis memeriksa pasien .

Tangan dokter menyentuh puluhan pasien setiap harinya dan standar medis mengharuskan mereka untuk membersihkan setelah mereka memeriksa pasien, tapi bagaimana dengan stetoskop mereka ?
Dengan kuman dari banyak pasien yang kontak dengan stetoskop setiap hari , sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Mayo Clinic Proceedings hari Kamis , menunjukkan bahwa stetoskop harus termasuk pada prosedur sanitasi yang sama seperti tangan dokter .

Didier Pittet , direktur Program Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Universitas Jenewa dan penulis utama studi tersebut , mengatakan berulang kali para dokter membersihkan tangan mereka dengan gel alkohol atau mencucinya tetapi stetoskop mereka ditempatkan kembali ke dalam kantong mereka tanpa perawatan.

Dengan pedoman terbaru oleh Society for Healthcare Epidemiology of America menunjukkan pakaian tenaga medis , perhiasan , sepatu dan stetoskop dapat menjadi sumber bakteri , dia bilang harapannya temuan penelitian ini akan memulai gerakan untuk menjadikan sanitasi stetoskop tidak hanya sekedar rekomendasi tapi sebagai standar .
” Sementara tangan dokter dibersihkan setelah setiap pasien , stetoskop mereka tidak , sehingga kemudian mereka memakai stetoskop tersebut untuk pasien kedua , dan ketiga , membawa bakteri dari kulit masing-masing pasien , ” kata Pittet .

Dalam studi tersebut, 83 pasien diperiksa oleh salah satu dari tiga dokter menggunakan sarung tangan steril dan stetoskop steril. Setelah pemeriksaan para peneliti mengukur bakteri pada diafragma stetoskop atau bagian lain yang menyentuh kulit pasien , serta tabung stetoskop dan empat bagian dari tangan dokter. Studi ini melihat dua hal : konsentrasi bakteri di tangan dokter dan stetoskop setelah pemeriksaan , dan juga secara khusus keberadaan Methicillin Resistant Staphylococcus Aureus ( MRSA ) atau bakteri yang sangat resisten terhadap antibiotik. Dalam 71 kasus , setelah pemeriksaan , stetoskop memiliki konsentrasi bakteri yang lebih tinggi daripada seluruh bagian tangan dominan dokter terkecuali untuk ujung jari .
Menurut Pittet ujung jari adalah bagian tangan yang membawa paling banyak bakteri.

“Kami menemukan bahwa stetoskop sangat terkontaminasi hampir setinggi dengan ujung jari , ” kata Pittet .

Pittet mengatakan meskipun stetoskop tidak dapat disalahkan dalam penyebaran infeksi, tapi kemungkinan besar berperan dalam transmisi bakteri .
Menurut situs Centers for Disease Control and Prevention, mencuci tangan adalah cara terbaik untuk menghentikan penyebaran bakteri . Pittet , yang merupakan penganjur kampanye cuci tangan dari World Health Organization, mengatakan para dokter harus terus mencuci tangan dan melihat stetoskop mereka sebagai perpanjangan , sesuatu yang juga harus dibersihkan setelah melihat setiap pasien .

” Sudah jelas membersihkan tangan dengan gel berbasis alkohol adalah paling penting untuk mencegah kontaminasi silang dengan bakteri , ” kata Pittet . “Tapi jika tangan Anda bersih dan stetoskop Anda tidak , itu kontraproduktif . ”