Category Archives: Khusus

Bagaimana saya bisa tetap beriman pada saat krisis?

Oleh John Piper
Bagian dari seri Ask Pastor John
Terjemahan oleh Anthony Leonardo Patty

Bagaimana saya bisa tetap beriman pada saat krisis?

Anda harus menjaga dan memelihara kepercayaan Anda kepada Tuhan ketika Anda tidak berada dalam krisis. Jika kita menunggu sampai krisis melanda, kita tidak akan memiliki sumber daya atau kedalaman yang diperlukan untuk mempertahankan iman dengan baik.

Tumbuhkan keyakinan yang mendalam akan kasih dan kuasa Allah hari demi hari. Bangunlah kedisiplinan untuk bersekutu dengan Kristus setiap hari sehingga Anda terus bertumbuh. Bertumbuhlah agar ketika krisis melanda, akar Anda sudah menghunjam jauh ke dalam kasih karunia, sehingga serat pohon Anda akan kokoh. Maka Anda tidak akan serapuh begitu banyak orang Kristen lain ketika krisis melanda.

Masa baik cenderung akan meninabobokan kita sehingga kita tertidur atau tidak peduli secara spiritual seolah-olah iman kita akan dapat menghadapi situasi dengan sendirinya ketika krisis tiba, padahal tidak demikian halnya. Tetapi itulah sebabnya mengapa begitu banyak orang Kristen, bukannya membungkus dirinya di dalam Tuhan dengan keyakinan yang mendalam dan tenang ketika berada di tengah-tengah krisis, tetapi justru mengacungkan tinju ke wajah Tuhan sambil berkata, “Di mana Engkau?” Mereka belum mengetahui bahwa Allah itu berdaulat, penuh kasih, dan peduli pada saat kita berada di masa-masa sulit sama seperti ketika kita berada di masa-masa baik.

Kita harus memelihara iman kita dengan gambaran Allah yang sepenuhnya alkitabiah, yang juga berdaulat atas segala yang baik dan yang jahat, sehingga ketika yang baik maupun yang jahat itu datang, keyakinan kita akan Dia pun tidak tergoyahkan.

Diambil dari : http://id.gospeltranslations.org/wiki/Bagaimana_Saya_Tetap_Beriman_pada_Saat_Krisis%3F

Klaim Para Peneliti Tentang Bahtera Nuh Yang Akan Mengejutkan Anda

noah-620x420

Bersamaan dengan para literalis dan skeptis Alkitab terus melanjutkan perdebatan tentang apakah Nuh benar-benar membangun sebuah kapal besar yang menyelamatkan keluarganya dari bencana banjir global, para peneliti sekarang mengatakan bahwa setidaknya salah satu elemen dari cerita ini masuk akal secara ilmiah.

Mahasiswa program Master di Departemen Fisika dan Astronomi Universitas Leicester di Inggris meneliti dimensi dari bahtera tersebut seperti yang dijelaskan dalam Kejadian 6:13-22 dan tiba pada kesimpulan yang menakjubkan.

“Beberapa mahasiswa di Universitas Leicester menunjukkan bahwa bahtera Nuh sebenarnya cukup kuat untuk menampung sepasang hewan dari setiap spesies, “pernyataan di website universitas.

Mahasiswa peneliti Oliver Youle, Katie Raymer, Benjamin Jordan dan Thomas Morris menyimpulkan bahwa secara teori bahtera Nuh bisa mengapung bahkan dengan berat 70.000 hewan dan binatang, Telegraph melaporkan.

Meskipun tidak diketahui dengan pasti apakah semua binatang itu benar-benar bisa dimuatkan ke perahu raksasa tersebut, para peneliti mengatakan dalam hal bobot, setidaknya, hal itu tidak akan menjadi masalah.

Dengan menggunakan analisis sebelumnya yang mengemukakan ada 35.000 spesies untuk Nuh untuk dikumpulkan ke dalam kapal, para siswa melihat dimensi yang diberikan dalam Alkitab ( 300 hasta panjang, 50 hasta lebar, 30 hasta tinggi ), memperhitungkan bobot dari hewan, kemudian menerapkan prinsip daya apung Archimedes.

” Setiap obyek ketika direndam dalam cairan mempunyai kekuatan yang menekan balik- kekuatan daya apung, ” jelas Youle, yang memimpin proyek tersebut. ” Bobot dari obyek tersebut menekan ke bawah – kekuatan ke bawah, dan syarat agar supaya obyek tersebut bisa mengapung, dua kekuatan ini harus sama. ”

Pengukuran hasta memberikan sedikit masalah bagi para siswa, mengingat bahwa ukuran kuno tersebut, yang didasarkan pada jarak siku seseorang ke ujung jari tengah, tidak seragam.

Jadi para peneliti menetapkan untuk memakai nilai rata-rata pengukuran yang dipakai pada jaman Ibrani dan Mesir kuno, menurut pernyataan dari universitas.

Tapi itu bukan satu-satunya persoalan. Karena kayu gopher – kayu yang disebut Alkiab sebagai bahan untuk membuat bahtera itu – masih belum diketahui para ilmuwan, sehingga para peneliti membuat penghitungannya dengan kayu cemara.

Sejumlah mahasiswa menyatakan terkejut pada hasil temuannya bahwa bahtera tersebut sanggup menampung hingga 2,15 juta domba dan tidak tenggelam ( jumlah yang setara dengan pernyataan bahwa dua dari setiap jenis hewan ikut dengan Nuh dan keluarganya ke dalam bahtera ).

” Kita tidak berpikir kalau Alkitab adalah bahan informasi sains yang akurat, jadi saya kira kami cukup terkejut ketika kami menemukan kalau penelitian itu berhasil, ” kata Morris. “Kami tidak membuktikan kalau peristiwa itu benar terjadi, tapi konsep nya mungkin bisa bekerja. ”

Temuan ini dipublikasikan di Journal of Physics, journal yang di ulas oleh sesama mahasiswa dari universitas tersebut.

Ada perbedaan pandangan di sekitar pertanyaan apakah Noah benar-benar telah mampu mengumpulkan semua binatang ke dalam bahtera. Answers in Genesis, organisasi yang percaya tentang penciptaan, mengklaim bahwa hanya “makhluk yang terbang dan hewan darat yang bernapas ” masuk ke dalam bahtera.

Dengan demikian, organisasi ini mengatakan bahwa kemungkinan hanya ada sekitar 16.000 hewan di dalam bahtera, jumlah yang jauh lebih kecil daripada yang direferensikan dalam studi terbaru ini.

Proyek penelitian Universitas Leicester ini mengikuti penayangan “Noah”, sebuah film yang telah menimbulkan cukup banyak kritik dan perdebatan.

( H / T : Telegraph )

Diterjemahkan dari situs : http://www.theblaze.com/stories/2014/04/03/researchers-stunning-claim-about-noahs-ark-might-surprise-you/

Jalur Karir yang Aneh dan Edan dari 5 Wirausahawan Milyarder ( Infographic )

wild-crazy-career-paths-5-self-made

Pekerjaan pertama pendiri Virgin Empire, Richard Branson, adalah menjual pohon Natal .
Pekerjaan pertama pemilik tim NBA Dallas Mavericks, Mark Kuba, adalah menjual kantong sampah .
Pekerjaan pertama CEO Perusahaan Las Vegas Sands, Sheldon Adelson, adalah menjual koran .
Pekerjaan pertama salah satu pendiri Groupon, Eric Lefkofsky, adalah menjual karpet .
Dan Elon Musk , pendiri Tesla Motors dan PayPal ,memulai kehidupan kerjanya dengan menulis video game .

Dari awal mereka yang sederhana, semua miliarder wirausahawan ini telah merubah arah karir mereka berulang kali. Infographic di atas, yang dihasilkan oleh sebuah organisasi yang berbasis di San Francisc, Funders and Founders, menunjukkan bisnis-bisnis berbeda yang telah diluncurkan oleh para pengusaha legendaris ini.

URL : http://www.entrepreneur.com/article/228067

Bagaimana Kalau Kesaksian Kita Bisa Membuat KEBANGKITAN INDONESIA !

Tshirt 2

Bagaimana kalau ada satu situs yang bisa menjadi tempat agar kesaksian anda bisa dibaca oleh seluruh orang di Indonesia !

Bagaimana kalau kesaksian-kesaksian tersebut membangkitkan semangat saudara-saudari seiman kita !

Bagaimana kalau mereka yang dibangkitkan mulai mengagungkan nama Kristus dan membuat kebangkitan di gerejanya !

Bagaimana kalau gereja-gereja tersebut menyisihkan kebiasaan-kebiasaan berkelompok, dan bersatu di bawah Nama tersebut !

Bagaimana kalau gereja yang bersatu menyerukan nama Kristus dan membangkitkan banga kita !

Bagaimana kalau kesaksian-kesaksian orang-orang biasa seperti kita dipakai Kristus untuk membuat kebangkitan !

BAGAIMANA KALAU KESAKSIAN KITA BISA MEMBUAT KEBANGKITAN INDONESIA !

Ini visi Kebangkitan.org.
Menjadi tempat untuk bersaksi.
Menjadi tempat untuk edukasi.
Menjadi tempat di mana orang Kristen biasa bisa membagi kesaksiannya ke seluruh Indonesia.
Menjadi situs di mana bisa membaca pengetahuan, tips tentang keluarga, tentang kemajuan sains dan ilmu pengetahuan dan yang terutama bisa membaca apa yang Kristus telah dan sedang buat di dalam kehidupan orang Kristen yang lainnya.

Bagaimana Kristus bekerja memakai orang-orang biasa seperti kita untuk membuat hal-hal yang luar biasa.

Tanpa melihat denominasi, tanpa melihat doktrin, tanpa melihat adat-istiadat atau tata krama gerejawi, tanpa melihat suku, ras, tingkat sosial, tanpa melihat tampilan-tampilan jasmani, tapi hanya sekedar menatap ke atas.
Menatap Satu nama. Satu nama yang telah menjungkirbalikkan sejarah. Satu nama yang membuat kontroversi terbesar yang pernah dialami dunia. Satu Nama yang menyatukan gerejaNya. Satu nama yang bisa MEMBANGKITKAN UMATNYA.

YESUS KRISTUS !

Jadi … bagaimana kalau kesaksian kita bisa membuat KEBANGKITAN INDONESIA !
Bagikan kesaksian anda !

APA YANG TELAH DISELESAIKAN KEBANGKITAN YESUS BAGI ORANG KRISTEN?

Diterjemahkan dari situs : https://theresurgence.com/2010/04/04/what-has-the-resurrection-accomplished-for-christians

20100404_what-has-the-resurrection-accomplished-for-christians_poster_img

Oleh : Mark Driscoll

Mengenai masa depan kita , kebangkitan Yesus merupakan awal dan contoh untuk kehidupan kita : “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati , sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal ‘ .

Seperti tubuhNya dibangkitkan tanpa cacat, demikian juga kita akan dibangkitkan dan tidak akan pernah mengalami sakit , cedera, atau kematian lagi . Hal ini karena melalui kebangkitan , Yesus telah mengalahkan kematian … Karena Yesus bangkit dari kematian secara fisik , kita tahu bahwa Allah melalui Kristus bermaksud untuk merebut kembali dan memulihkan semua yang ia buat dalam penciptaan dan terusak karena kejatuhan.

Kehidupan kekal yang akan kita alami akan sama seperti yang dinikmati oleh nenek moyang pertama kita di Eden , karena bumi telah direklamasi dan dipulihkan oleh Tuhan melalui kebangkitan Yesus . Efek penuh kebangkitan Yesus akan terlihat satu hari , yaitu setelah Yesus kembali . Waktu antara kebangkitan Yesus dan kebangkitan kita adalah suatu musim panjang yang penuh cinta , rahmat, dan karunia di mana berita Injil diberitakan ke penjuru dunia , mengundang orang-orang berdosa untuk bertobat dari dosa dan menikmati keselamatan sekarang dan masa depan dari Yesus Kristus …. tidak ada seorangpun yang bisa netral mengenai kebangkitan Yesus.

Klaim tersebut terlalu mengguncangkan , kejadian tersebut terlalu dashyat , implikasinya sangat signifikan , dan hal ini terlalu serius. Kita harus memilih salah satu, menerima, atau menolaknya sebagai kebenaran bagi kita, dan keacuhan atau keraguan sama dengan menolaknya.

Dari buku ‘Doctrine’ , Bab 9 . Resurrection: God Saves (pg. 303)

EDWARD TENTANG KEKRISTENAN YANG SEJATI : KEBANGKITAN BUKAN SEKEDAR PERBAIKAN

Diterjemahkan dari situs: https://theresurgence.com/2010/10/16/edwards-on-true-christianity-resurrection-not-refinement

regeneration
Oleh : Dane Ortlund

Apa itu orang Kristen ?

Bukan apa yang orang Kristen percayai atau bagaiamana perilaku mereka – Apa itu orang Kristen ?
Dari pembicaraan larut malam antara Yesus dengan Nikodemus , seorang Kristen adalah seseorang yang telah lahir untuk kedua kalinya – para teolog menyebutnya regenerasi . ” Kecuali seseorang dilahirkan kembali , ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah ” ( Yohanes 3:3 ) . ” Kamu harus dilahirkan kembali ” ( Yohanes 3:7 ) .

DICIPTAKAN KEDUA KALINYA
Jonathan Edwards menjelaskan apa yang terjadi dalam kelahiran baru :
Orang percaya memiliki pandangan dan pengetahuan tentang hal-hal sedemikian rupa ,sehingga dia menjadi orang yang berbeda dari sebelumnya. Perubahaan yang sangat juga terjadi terhadap internal emosi dan disposisi nya . Pengetahuan yang dimiliknya begitu dahsyat , begitu dalam, dan begitu mempengaruhi , cukup mengubah jiwa dan menempatkan sifat baru ke orang itu , juga mengubah prinsip-prinsip yang terdalam , dan juga telah merubah hal-hal lain, termasuk dasar fondasinya , sehingga semua hal menjadi baru bagi mereka . Ya , ia adalah ciptaan baru , seolah-olah dia bukan orang yang sama , tapi dilahirkan kembali , diciptakan kedua kalinya .

KEBAIKAN TIDAK BEARTI REGENERASI
Sangat mudah untuk mengelabui hati yang busuk dengan kebaikan. Dunia ini penuh dengan orang-orang baik yang belum dilahirkan kembali – baik, tapi jahat . Kebaikan dan kejahatan tidak saling eksklusif . Mereka bahkan dapat saling menguatkan ( 2 Tim 3:1-5 ) .
Seorang Kristen yang lahir baru , menurut Edwards , bukanlah orang yang sama yang sekedar benar-benar baik . Mereka bukan hanya versi perbaikan dari orang yang sama, tetapi orang yang baru secara fundamental dibentuk ulang. Kelahiran baru bukan sekedar memberi kita cara baru untuk memuaskan keinginan lama. Kelahiran baru memberi kita keinginan baru .
Perbedaan antara orang percaya dengan orang yang tidak beriman bukan hanya sekedar perbedaan antara gelandang sepak bola professional dengan gelandang sepak bolah sekolahan – kemampuan bawaan yang sama, hanya tingkatnya lebih tinggi. Perbedaan orang percaya dengan orang yang tidak percaya seumpama pemain sepak bola berbeda dari mayat ( Ef 2:1, 5 ) . Seorang Kristen sejati telah diberikan KEBANGKITAN , bukan hanya perbaikan ( Ef 2:06 ; Kol 3:1 ) .

ARAH BARU , BUKAN KESEMPURNAAN
Tentu saja, semua pemain sepak bola tersandung di lapangan dari waktu ke waktu . Demikian juga , regenerasi tersandung dari waktu ke waktu . Regenerasi tidak menghasilkan kesempurnaan , melainkan menetapkan arah yang baru . Sementara dampak dari perubahan radikal ini berlangsung seumur hidup , perubahan awal itu sendiri seketika , mantap, dan permanen .
Kekristenan bukanlah sekdar penambahan , tetapi penciptaan ( 2 Kor 4:6; 5:17) . Kita bisa menasihati ulat bulu untuk terbang sampai kita biru di wajah tetapi tidak ada gunanya sampai hewan itu berubah menjadi makhluk baru . Dan kita bisa menasihati manusia berdosa untuk menghrgai Kristus , mengasihi sesama , dan menumpahkan kebaikan berdasarkan kasih yang sejati, tapi itu tidak ada gunanya sampai orang itu berubah dan menjadi ciptaan baru .
AKU SUDAH DIREGENARSI – SEKARANG APA?
1 . Luangkan waktu dalam doa penuh harapan bagi orang lain . Tuhan dapat membawa kehidupan dari kematian dii hati tetangga sebelah rumah Anda , seperti yang dia lakukan untuk Anda .
2 . Praktekkan kerendahan hati dengan bijaksana. Mereka yang dilahirkan kembali tidak mengundang Tuhan untuk membawa mereka ke kehidupan seperti Lazarus mengundang Yesus untuk membawa dia untuk hidup ( Yohanes 11:43 ) . Iman dan pertobatan kita adalah rahmat karunia.
3 . Bersukacitalah dalam ketenangan yang teduh. Regenerasi tidak dapat berubah balik . Dia memulai pekerjaan baik di antara kamu , dan dia yang akan meneruskannya( Flp 1:6 ) .
Diadaptasi dari A New Inner Relish: Christian Motivation in the Thought of Jonathan Edwards

Engkau Telah Membunuh si Pencipta Kehidupan ( Mempersiapkan Jumat Agung )

Good-Friday-Wallpaper-06
oleh Tony Reinke

Dosa di Eden telah membuat semua ciptaan menjadi kacau. Dosa di Babel menandai kesombongan seluruh umat manusia. Dan sementara setiap dosa adalah tindakan penolakan terhadap Tuhan, kejahatan manusia mencapai tingkat yang baru dalam peristiwa mengerikan Jumat Agung.

Pekan Suci membuat kita tidak nyaman. Ada hidup yang penuh kemuliaan dan kemenangan beberapa hari yang akan datang pada hari Minggu Paskah, tapi untuk sampai ke sana kita tidak dapat menghindari dan harus melewati kegelapan Jumat Agung. Kita harus memperingati hari di mana kebencian manusia melewati batas dan mencapai tingkat kekejaman yang sebelumnya tak terbandingi. Si Mesias, si Raja, yang datang untuk menyelamatkan umat manusia, terpaku di pohon yang terkutuk dan dibiarkan mati.

Tidak ada pembelaan untuk pengkhianatan semesta seperti itu.

Pantasnya, pada hari Jumat Agung jari bersalah dan celaan tertunjuk di iga kemanusiaan :

  • “… Yesus, yang kamu salibkan… ” ( Kisah Para Rasul 2:36)
  • “… Kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu, Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh …” ( Kisah Para Rasul 3:14-15 )
  • “… yang kamu salibkan… ” ( Kisah Para Rasul 4:10)
  • ” … yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh …” ( Kisah Para Rasul 5:30)

Manusia tidak pernah menimpakan tuduhan atas dirinya sendiri seperti yang terjadi pada Jumat Agung. Penggalan kalimat sederhana ini – ‘engkau membunuh’ – menembus melalui semua pembelaan yang sia-sia. Suatu konspirasi untuk membunuh Tuhan yang juga manusia, dan keberhasilan dalam plot jahat tersebut telah menodai tangan kita dengan darah-Nya Tuhan sendiri, darah di tangan kelicikan orang beragama dan persetujuan orang kafir.

Inilah sebabnya mengapa Jumat Agung adalah dosa yang paling mengerikan yang pernah disaksikan dunia( Sibbes ). Lebih mengerikan daripada kesombongan menara Babel. Jika pernah ada alasan bagi Tuhan untuk menghujani kemurkaan atas dunia, dan membanjiri lagi seluruh dunia atas nama keadilan, tidak ada saat yang lebih tepat selain pembantaian brutal Anak-Nya yang terkasih.

Dalam khotbah Jumat Agung tahun 1928, Dietrich Bonhoeffer memaparkan tragedi semesta ini seperti tiga paku besi dingin yang menusuk saraf-saraf pergelangan tangan dan kaki umat manusia.


    Jumat Agung bukanlah seperti kegelapan yang harusnya menghasilkan cahaya. Bukan seperti tidur panjang musim dingin yang mengandung dan memelihara benih kehidupan di dalamnya. Ini adalah hari di mana para manusia yang ingin menjadi seperti tuhan – membunuh Allah yang menjadi manusia, kasih yang menjadi orang ; hari di mana Yang Kudus dari Allah, yaitu, Allah sendiri, mati, benar-benar mati – secara sukarela dan pula karena dosa manusia – tanpa benih kehidupan yang tersisa dalam diri-Nya sedemikian rupa sehingga kematian Tuhan mungkin seumpama tidur.

    Jumat Agung bukan, seperti musim dingin, sekedar tahap transisi – bukan, itu benar-benar suatu keakhiran, keakhiran dari putusan bersalah atas manusia dan penghakiman terakhir yang manusia telah jatuhkan pada dirinya sendiri….

    Jika kisah Tuhan di tengah-tengah manusia berakhir pada hari Jumat Agung, maka pernyataan akhir atas umat manusia aadalah putusan bersalah, pemberontakan, kekuatan raksasa manusia yang tak terkekang, sebuah penyerbuan surgawi oleh manusia, kefasikan, pengabaian Tuhan, yang ujungnya diakhiri dengan kesia-siaan dan keputus asaan. Sehingga iman kita adalah sia-sia. Sehingga kita masih bersalah. Sehingga kita yang paling malang dari semuanya. Pada akhirnya, kata terakhir tergantung pada manusia.

Ini adalah ingatan yang mengerikan. Jumat Agung menuntut kita.

Manusia, dengan khayalan angkuhnya untuk menjadi seperti tuhan, telah membunuh Tuhan yang juga manusia dengan dua cara, membunuh secara sengaja dan secara menyedihkan membiarkannya terjadi. Dan dalam kejahatan ini, Bonhoeffer terus menjelaskan, segala sesuatu yang lainnya telah dibuat sia-sia. Semua budaya kita, semua daya seni kita, semua pembelajaran kita, semua harapan kita, telah datang ke sebuah akhir yang tak berarti sewaktu kita bertanggung jawab atas pembunuhan Anak Allah yang tunggal.

Puji Tuhan,kisah-Nya bukan berakhir di sini, tetapi Jumat Agung menuntut kita untuk membayangkan jika itu yang terjadi. Bagaimana jika kisah-Nya berakhir di kayu salib ? Bagaimana jika dosa manusia yang menolak Tuhan membawa keputusasaan untuk kehidupan sekarang dan tidak jauh dari kutukan keputusasaan untuk selamanya?

Kata-kata tuduhan ilahi menusuk iga kemanusiaan :

Engkau telah mengelilingi Nya dengan kebencian yang tak beralasan dan kebohongan yang kejam ( Mazmur 69:5 ).
Engkau mengerumuni-Nya seperti anjing-anjing yang kelaparan ( Mazmur 22:17).
Engkau telah menjebak Anak yang dikasihi-Nya ( Markus 12:1-9 ).
Engkau telah membunuh si Pencipta Kehidupan ( Kisah Para Rasul 3:15).

Biarkan kata-kata keras ini menyengat selagi kita renungkan bersama sejenak betapa kebodohan dan betapa kedunguan dan betapa kebebalan dan betapa kejahatan hati manusia telah mengantarkannya sampai pada saat itu dalam sejarah manusia – hari paling gelap dari manusia, puncak dari kebodohan manusia, situasi yang sangat penuh dengan keputus asaan seakan sejarah manusia tampaknya telah sampai pada akhir nya. Sekarang apa yang bisa kita harapkan untuk masa depan selain keputus asaan yang kekal dan kebinasaan selamanya ?

Tetapi manusia berdosa bukan jawaban yang paling akhir. Sungguh pantas doa Kristus ketika hampir mati – Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” ( Lukas 23:34).

Sebagai umat manusia kita jarang memahami apa yang kita telah lakukan, apa yang telah kita lepaskan dengan kedunguan yang durjana.

Diterjemahkan dari situs : http://www.desiringgod.org/blog/posts/you-killed-the-author-of-life-preparing-for-good-friday

3 Cara Tepat untuk Memberitakan Yesus

Diterjemahkan dari situs : https://theresurgence.com/2012/04/07/debunking-3-common-myths-about-the-resurrection

3 cara khotbah

Oleh Mark Driscoll

Jika Anda seorang pendeta, maka deskripsi pekerjaan Anda adalah sederhana : berkhotbah. Jika Anda tidak melakukan satu hal ini, maka jangan menyebut diri seorang pengkhotbah.

Sekarang, hal ini tidak berarti bahwa semua bentuk khotbah adalah sama – sekali lagi tidak. Sebagai pengkhotbah, kita diperintahkan untuk berkhotbah. Dengan perintah ini Allah tidak memberikan kita sebuah panduan yang terperinci tentang bagaimana kita harus melakukannya. Dia memberikan kita pilihan untuk memenuhi panggilanNya untuk “memberitakan firman”.
Dalam khotbah saya, ada berbagai metode yang saya gunakan dan akan terus gunakan sebagai pilihan terbaik untuk membantu saya memenuhi panggilan Tuhan untuk berkhotbah.
Di bawah ini adalah apa yang saya yakini sebagai tiga metode terbaik saat berkhotbah. Jika Anda seorang pendeta, saya berharap mereka membantu dalam memenuhi panggilan Anda.

KHOTBAH EKSPOSITORI

Sederhananya khotbah Ekspositori hanya berkhotbah dengan cara membahas Alkitab ayat demi ayat. Saya mendapat kebebasan untuk berkhotbah dengan cara membahas berbagai kitab dalam Alkitab dengan cara ini, termasuk yang terbaru adalah kitab Lukas.

Keuntungan

  • Semuanya terbahas, tidak menyisakan sedikitpun. Segala tulisan yang diilhamkan Tuhan, adalah untuk kepentingan kita, dan harus didalami ( 2 Tim. 3:16-17 ).
  • Membutuhkan pengkhotbah untuk melibatkan teks dan masalah yang sulit yang mana biasanya mereka akan tergoda untuk abaikan.
  • Memungkinkan bagi orang Kristen dan non-Kristen untuk mengikuti dengan mudah.

KHOTBAH TEKSTUAL

Khotbah Tekstual tergolong antara khotbah eksposistori dan topikal. Khotbah tekstual adalah khotbah yang berisi satu bagian dari kitab dari dalam buku Alkitab. Sebagai contoh, saya baru-baru ini berkhotbah tentang seri yang berjudul “Seven”.
Dengan seri ini, saya berkhotbah tentang Wahyu 1-3, dengan penekanan pada reaksi dari ketujuh jemaat kepada Yesus dan apa yang kita sebagai gereja saat ini, dapat belajar dari reaksi-reaksi tersebut.

Keuntungan

  • Menunjukkan konsistensi Friman Tuhan dengan menghubungkan bagian-bagian dari Alkitab bersamaan secara tematis.
  • Memungkinkan bagi para pengkhotbah untuk memakai bagian-bagian yang lebih kecil dari Kitab Suci, yang mana memberikan fleksibilitas dalam menangani isu-isu yang muncul.
  • Memungkinkan bagi para pengkhotbah untuk bekerja di sekitar hari-hari besar Kristen dan melakukan seri-seri pendek di sekitar mereka, seperti Natal dan Paskah.

KHOTBAH TOPIKAL

Khotbah topikal adalah jenis yang paling umum dari khotbah saat ini. Khotbah topikal menggunakan beberapa teks dari satu atau lebih buku dalam Alkitab atau penulis Alkitab untuk berbicara tentang suatu isu. Contoh terbaru tentang khotbah ini adalah seri khotbah yang saya baru selesaikan ‘Real Marriage’.

Keuntungan

  • Memungkinkan seorang pengkhotbah untuk melacak tema melalui beberapa kitab dalam Alkitab, yang menunjukkan konsistensi
  • Menyediakan kemampuan untuk menjawab pertanyaan dan kontroversi yang muncul
  • Memungkinkan untuk seorang pengkhotbah untuk memilih ayat yang paling tepat dari Kitab Suci mengenai topik tertentu

MEMBERITAKAN SELURUH ISI HATI TUHAN

Jika Anda seorang pendeta, saya mendorong Anda untuk menerima panggilan Anda untuk berkhotbah seserius seperti yang Tuhan lakukan.

Tuhan menuntut mereka yang dipanggil untuk berkhotbah dengan standar yang lebih tinggi daripada yang lain ( Yakobus 3:1 ). Sebagai pengkhotbah, kita bertanggung jawab atas apa yang diajarkan kepada jemaat kita. Kita harus memberitakan “seluruh isi hati Tuhan ” ( Kisah Para Rasul 20:27). Ini termasuk setiap kitab dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Baru.

Membertiakan Firman Tuhan tidak dimaksudkan untuk memenangkan anda dalam kontes popularitas. Ini dimaksudkan untuk menjadi murid-murid Yesus dengan cara ” ajarkan mereka untuk melakukan semua ” yang diperintahkan (oleh Yesus) ” ( Matius 28:20 ).

Jangan terjebak dalam bagaimana Anda harus berkhotbah. Jangan terjebak dalam apa yang harus Anda khotbahkan : FIRMAN TUHAN.

________________________________________

Posting ini diadaptasi dari buku Vintage Church oleh Mark Driscoll dan Gerry Breshears copyright © 2008. Digunakan dengan izin ofCrossway Books, pelayanan penerbitan Good News Publisher, Wheaton, IL 60187.

Refleksi Jumat Agung Tentang Yesaya 53

Salvation
Oleh : Anne Lincoln Holibaugh

10. Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan.
Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah,
ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut,
dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya.
11. Sesudah kesusahan jiwanya
ia akan melihat terang dan menjadi puas;
dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar,
akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya,
dan kejahatan mereka dia pikul.
Yesaya 53:10-11 (TB)

Suatu kehendak Bapa untuk meremukkan anak-anak -Nya pada waktu yang berbeda. Selalu dalam kasih. Selalu untuk kemuliaan-Nya dan, pada akhirnya, untuk kebaikan mereka.

Saya merasa diremukkan oleh Tuhan pada saat ini setahun yang lalu. Patah, memar dan tercabik dengan sangat sebagai akibat dari kekecewaan, keraguan dan ketidaktaatan, hati saya merasa seperti luka yang terbuka lama dan aku mendapati diriku memohon untuk dipulihkan seperti Daud dalam Mazmur 51:10 (TB) : ” 10Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kau remukkan bersorak-sorak kembali!”. Tak perlu dikatakan, saat itu aku sedang mengalami waktu yang sulit.

Jadi ketika saya mendengar ayat-ayat Yesaya 53 pada kebaktian Jumat Agung, mereka bergaung di dalam saya, menghibur saya. Ayat-ayat tersebut terdengar lagi dan lagi dalam pikiran saya, menenangkan jiwaku. ” Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan”. Ini adalah kehendak TUHAN… untuk menremukkan -Nya.

Saya merasa yakin bahwa jika itu adalah kehendak Tuhan untuk meremukkan PutraNya, maka niat -Nya dalam meremukkan saya harus ada kebaikan di baliknya juga. Tapi bagaimana ? Saya perlu memahaminya.

Yesus Kristus, Anak Allah, diremukkan oleh karena dosaku. Dia tertikam oleh karena pemberontakan saya. Dia menanggung setiap kegagalan dan pelanggaran, semua momen ketidakpercayaan, keraguan dan ketidaktaatan. Ia dihukum untuk setiap keinginan yang jahat dari hati saya, untuk setiap kecenderungan untuk tinggi hati dan ketakutan. Dia menanggung setiap hal dari kesedihan saya, setiap bagian terkecil dari penyakit rohani saya. Dosaku menuntut penderitaan jiwa-Nya.

Yesus mengambil apa yang seharusnya saya derita dan mati menggantikan tempat saya. Dia melakukannya dengan kasih – kasih kepada Bapa dan kasih kepada saya. Dan kehancuranNya, Dia menghancurkan sepenuhnya dan selamanya dosa yang membuat saya terikat dan jauh dari pada-Nya.

Saya terkagum. Dan saya bisa melihat bahwa kehancuran saya sangat berbeda dari Yesus.
Kehancuran yang saya alami bukanlah suatu penghukuman dan, ironisnya, datang karena aku telah diampuni dosanya dan diadopsi sebagai anak Allah yang dikasihi-Nya. Keremukkan Yesus membelikan saya keremukan yang serupa disiplin seorang ayah, bukan penghukuman. Hal ini terjadi atasku dengan tangan yang kuat dan penuh kasih dan dilakukan-Nya demi kebaikan saya.
Allah Bapa telah menghancurkan saya untuk membuat saya dekat, untuk mengingatkan saya bahwa menjauhi diri dari-Nya akan selalu berakhir buruk. Dia tidak menghukum saya dan Dia tidak marah padaku. Dia mengajar saya untuk mempercayai-Nya bahkan ketika aku tidak bisa melihat dan tidak sependapat atau mengertinya. Itu adalah anugerah yang luar biasa dan juga menyiksa.

Kehancuran saya adalah tentang koreksi dan ketaatan. Tapi aku butuh bantuan untuk melihatnya dengan benar. Aku harus melihat melalui lensa -Nya untuk memahami bahwa itu adalah kasih – bukan kemurkaan.

Sejalan dengan peringatan kematian Kristus di Jumat Agung ini, marilah kita menerima penghiburan dari Injil. Dia meremukkan Yesus karena kita. Dan pada waktu Dia meremukkan kita juga, dalam kasih, sehingga kita dapat menjadi serupa dengan Putra-Nya, serupa dengan Dia yang telah diremukkan.

Diterjemahkan dari situs : http://www.thevillagechurch.net/the-village-blog/good-friday-reflections-on-isaiah-53/

Apakah Natal dan Paskah Adalah Perayaan Para Penyembah Berhala ?

0e1140389_blog-are-christmas-and-easter-pagan-holidays
Oleh : Geoff Ashley

Banyak skeptis berpendapat bahwa Natal dan Paskah memiliki asal-usul penyembahan berhala. Mereka menggunakan klaim ini dengan cara pemuslihatan filsuf untuk menyimpulkan bahwa Kekristenan berakar pada penyembahan berhala dan dengan demikian tidak lebih darisekedar mitos.

Saya membahas tuduhan tentang kesamaan antara Kristen dan penyembahan berhala dalam blog sebelumnya, tapi apa yang sebenarnya terkait dalam hari-hari libur tersebut? Apakah mereka berakar pada penyembahan berhala ? Jika demikian, apakah itu berarti bahwa Kekristenan adalah hanya dongeng ?

Kelahiran Natal

Origen, seorang pendiri gereja mula-mula, menentang perayaan inkarnasi Kristus dengan alasan bahwa pengakuan kelahiran dewa adalah praktek penyembahan berhala. Namun, tidak semuanya setuju, dan hari libur tersebut segera masuk ke dalam tradisi Gereja sebagai Mass Kristus, sebuah kebaktian yang didedikasikan untuk memperingati kelahiran-Nya. Dengan munculnya abad ke 4, Kristen sebagai agama kekaisaran, Gereja secara resmi merayakan Natal.

Kritik utama yang dikemukakan oleh para skeptis adalah mempertanyakan tanggal dari hari libur tersebut. Ada berbagai teori tentang mengapa Natal dikaitkan dengan tanggal 25 Desember dan tidak ada satupun yang konklusif. Siapa pun yang mengaku tahu mengapa Natal pada awalnya dirayakan pada tanggal tersebut kemungkinan besar hanya berspekulasi. Di bawah ini adalah beberapa teori yang sangat umum:

Liburan penyembahan berhala

Kekaisaran Romawi banyak dipenuhi dengan politeisme. Dalam campuran berbagai macam agama ini, perayaan penyembahan berhala terkadang dikemukakan sebagai alasan orang Kristen saat itu memutuskan untuk memperingati tanggal 25 Desember. Perayaan-perayaan ini termasuk kelahiran matahari ( natali solis Invicti ), kelahiran Mithras (” matahari kebenaran, “, dewa Romawi yang populer ) dan Saturnalia ( liburan Romawi yang populer ).

Walaupun mungkin kekristenan awalnya memilih tanggal ini bertepatan dengan festival penyembahan berhala, yang mana belum terbukti sampai saat ini, hal ini bukanlah hal yang dirahasiakan oleh Gereja . Ada alasan yang baik dan alkitabiah mengapa hal ini terjadi. Jika orang-orang tidak percaya dapat merayakan kelahiran matahari, mengapa tidak orang Kristen merayakan kelahiran Dia yang telah menciptakan dan memiliki matahari ? Jika dewa-dewa kafir bisa dirayakan, bukankah terlebih lagi Tuhan yang benar ?

Konspirasi Konstantinus

Kritikua senang sekali untuk membuat-buat teori konspirasi Konstantinus. Jika para skeptis ini bisa dipercaya, tidak hanya Konstantinus memilih 25 Desember untuk menyatukan berbagai agama dalam kerajaannya, tapi dia juga yang membuat Alkitab dan menciptakan Trinitas. Gambaran tentang Konstantinus ini tidak sesuai dengan bukti-bukti sejarah.
Jauh dari karikatur yang sering digambarkan oleh para skeptis, kaisar tersebut memiliki sedikit kewenangan atas kepercayaan dan praktek Gereja. Ketika kontroversi tentang Trinitas mengancam kerajaannya, Konstantinus tidak memutuskan masalah ini secara pribadi ; ia mengizinkan para uskup untuk bersidang dengan Dewan di Nicea. Fokus utamanya bukan untuk keakuratan teologis melainkan keharmonian kekaisarannya.

Meskipun mungkin Konstantinus mengambil inisiatif dalam menetapkan tanggal liburan, teori semacam ini hanyalah spekulatif. Ditambah lagi, jika ia benar melakukannya, itu tidak langsung membuktikan klaim bahwa Kekristenan adalah mitos belaka.

Kalender Perhitungan

Juga dipercayai bahwa 25 Desember dipilih oleh orang-orang yang berusaha untuk secara akurat menanggalkan kelahiran Kristus. Bukti sejarah menunjukkan bahwa banyak guru pada awal-awal Gereja percaya bahwa tanggal tersebut benar dan berusaha untuk membuktikannya secara matematis. Berbagai pembuktian dikemukakan untuk menunjukkan bahwa Kristus sebenarnya lahir pada atau sekitar tanggal 25 Desember.

Meskipun saat ini banyak yang berpendapat bahwa Kristus lahir di musim semi, penting untuk mengenali kemungkinan bahwa Gereja percaya, apakah keliru atau tidak, bahwa 25 Desember adalah tanggal yang pantas untuk perayaan inkarnasi.

Permulaan Paskah

Memilih tanggal Paskah jauh lebih mudah karena adanya data Akitabiah yang akurat. Alkitab tidak hanya menyatakan hari kebangkitan pada hari Minggu – hari pertama kalender Yahudi – tetapi juga berbicara tentang musim yang bertepatan dengan hari raya Paskah orang Yahudi (Passover).

Meskipun pada awalnya Gereja terbagi dalam hal apakah perayaan tersebut harus dikaitkan erat dengan Passover (hari raya Yahudi), rumus modern penghitungan hari Paskah akhirnya diterima sebagai hari Minggu pertama setelah bulan purnama pada atau setelah vernal equinox.

Walaupun kemungkinan kata “Easter ” berunsur penyembahan berhala, berbagai dewa-dewa dikatakan telah mempengaruhi kata tersebut termasuk Ishtar, Astarte dan Eostre, tetapi penyembahan kepada Kristus sebagai Tuhan yang telah bangkit adalah jelas-jelas Kristen. Apakah fakta bahwa kata Inggris ” Easter ” mungkin berhubungan dengan penyembahan dewa berhala berarti bahwa orang Kristen tidak dapat merayakannya ? Jika demikian, apa yang harus kita lakukan dengan kenyataan bahwa setiap nama hari dalam bahasa Inggris berasal dari penyembahan/perayaan dewa berhala? Apakah fakta bahwa kata “Thursday” (hari Kamis) aaalnya adalah “Thor’s day ” (hari dewa Thor) membuat orang Kristen dilarang untuk menggunakan kata tersebut ?

Pembentukan Tradisi

Tampaknya sangat memungkinkan bahwa perayaan Kristen tersebut pada akhirnya meminjam tradisi tertentu dari liburan orang kafir. Sebagai contoh, penggunaan pohon dengan lampu, pemberian hadiah, pesta dan penggunaan telur Paskah dan kelinci, semuanya adalah bentuk umum praktek penyembahan berhala. Tapi apa artinya ini ?
Ini bisa berarti tidak lebih, kalau Tuhan telah menanam tema-tema dan kebenaran-kebenaran tertentu ke dalam dunia yang bahkan orang-orang kafir juga mengenalnya. Mungkin Gereja mula-mula sekedar melihat bahwa para penyembah berhala hanya melihat sebagian kecil tentang kebenaran dan sukacita yang tertenun dalam lembaran alam semesta dan berusaha untuk mengakomodasi dan mengkomunikasikan kepada mereka lebih jelas dalam penerangan Injil.

Bukankah Kristus adalah Putra Kebenaran ? Bukankah Dia Terang Dunia yang lebih baik ?

Bukankah Dia mati di atas salib yang terbuat dari pohon?

Apakah orang kafir memiliki klaim eksklusif tentang kebiasaan emberian hadiah dan berpesta ?

Apakah ada sesuatu yang berunsur dosa atau tidak Alkitabiah tentang mendekorasi pohon atau telur ?

Sementara unsur-unsur tertentu dari hari-hari besar itu mungkin berakar dari penyembahan berhala, Natal dan Paskah pada akhirnya didasarkan pada peristiwa bersejarah dari inkarnasi dan kebangkitan Yesus Kristus.

Haruskah Orang Kristen Merayakan Natal dan Paskah ?

Kita tidak bisa hanya mencela semua yang berasal dari kekafiran (penyembahan berhala). Para penulis Alkitab sering mengambil kata-kata dan konsep penyembahan berhala dan memulihkannya dengan kebenaran.

Sebagai contoh, kata “Gospel” (Injil) adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan penaklukan oleh raja duniawi ; dengan demikian, para rasul menemukan dalam kata tersebut sebuah kaitan umum untuk mengkomunikasikan keunggulan dari kemenangan Tuhan. Demikian juga, orang Kristen melihat banyak hal-hal baik dalam dunia untuk perayaan dibanding dengan para penyembahan berhala.

Tidak ada perintah dalam Alkitab untuk merayakan Natal dan Paskah, tetapi juga tidak ada larangan. Selanjutnya, ada himbauan-himbauan yang jelas untuk mengingat dan bersukacita dalam pekerjaan Juru Selamat kita. Mungkin ada orang Krsiten yang merasa tidak tertarik untuk memanfaatkan unsur-unsur tertentu dari tradisi Natal dan Paskah modern, seperti pohon Natal dan telur Paskah, dan mereka memiliki kebebasan untuk melakukannya, begitu juga lainnya yang memiliki kebebasan alkitabiah untuk merayakannya. Apapun halnya, mengecualikan unsur-unsur tertentu seharusnya tidak menyebabkan kita membuang perayaan hari-hari besar tersebut sepenuhnya.

Kristus menjadi manusia. Kristus telah mati karena dosa-dosa kita. Kristus bangkit dari antara orang mati.

Apakah ada kebenaran lain yang lebih baik untuk perayaan ?