Category Archives: Opini Politik

Jakarta Gubernatorial Election 101


Video Source : Ahok BTP Facebook

I’m writing this post to inform my American friends about what is happening in Jakarta, Indonesia.

In April 19th, the people of Jakarta will decide who is going to be their leader in the next 5 years. In the past, no body really cared about the gubernatorial election, because we knew whoever in charge, it would be the same old – same old (Qui Sera-sera ?).

The attitude has changed since 2012, when Joko Widodo (our current president) and Basuki Tjahaja Purnama (a.k.a Ahok) ran for Governor and Vice Governor. That election has brought a momentum for the people in Jakarta, that change could indeed happen.

In 2014, Joko Widodo ran for our Presidential  election and he got elected. Automatically, his Vice Governor, Ahok, became the Governor of Jakarta until the end of the term (which is October 2017). So, here we are now in April 2017, Ahok, the current incumbent, is trying to run for the re-election. He is paired with Djarot Saiful Hidayat.  And, on the other side of the ring is Anies Baswedan and Sandiaga Uno.

This … could have been just another election, if it were not for the platform of the candidates.

In this post, I am not going to present their programs in infrastructure and development, because I have discussed it briefly on my last post.  I’d rather focus in the implicit meaning of this whole election.

Ahok is considered a double minority in Indonesia. First, he is a Chinese descendant and second, he is a Christian. These two traits are considered disadvantages in running for high governmental position in Indonesia.

A short background about racial issue in Indonesia, is as followed. In the era of Dutch colonization, they realized that Indonesia has so many ethnicities and races. Thus, in order to colonize the country easily, they applied the strategy of divide at impera, which pretty much means divide and rule. The Dutch marginalized ethnicities and categorized us to “pribumi (native)” and “non-pribumi/keturunan (alien/foreigner)”.  Unfortunately, after the Dutch left, this destructive strategy has been rooted deeply in the society and it continues until the modern days. Chinese descendant is still considered “keturunan”, even though we (yeas I am Chinese descendant) have been here for generations. If we really think about it, there is actually no ‘major’ ethnicity in Indonesia. Even among the so-called “pribumi”, it actually consists of hundreds of ethnicity and race, and there is no such thing as ‘majority’. The outward appearance of “pribumi” people in Papua is closer to African American than to Javanese. Some ‘pribumi’ in Kalimantan were even migrated from Indo-China, and looks more like modern day Chinese than people in Aceh. Thus, people with a straight head, would realize and understand that this kind of mindset is a mindset of ‘colonized/slaved’ people.

In terms of religion, Christian is the minority in Indonesia. Up to 80% of the population is Moslem. In Jakarta, it also represents that number. Majority of Moslem are cool headed, but the extremist is only minority. The issue is they are the loudest and they are not afraid to use violence, thus the silent majority becomes intimidated.

NOW, why this election is crucial and important ?

It’s because how these candidates try to represent themselves.

The essence of Ahok-Djarot campaign is ALWAYS, “we don’t care about your race or religion or outward appearance, but if you could do the job, you’re IN !” The campaign always shows the true meaning of Diversity, and in my humble opinion, it is even better than how the US shows it. Honestly, the future US Presidential candidates have to learn from Ahok-Djaort campaign.

The campaign always accentuates “Take people by their characters and skills, neither by the color of their skin, nor by the belief they hold”. Presenting ideas and visions to elevate Jakarta become one of the world cities have been the forefront of the campaign. Never once, they bring the superficial issue as race, ethnicity, or belief.

On the other hand, Anies-Sandiaga campaign is so full of the energy of “you could lead if ONLY you are ‘pribumi’ and Moslem”. This is very unfortunate. I used to support Anies. He was actually the Secretary of Education for Joko Widodo, but got fired last year because incompetency. He is an educated man, but alas, education can’t change heart. These candidates befriend with extremist organizations to gain support. The issue of race, ethnicity and religion, become their big platform. They won’t rebuke/distance themselves from their supporters who are racist and anti-nonMoslem.

In some occasions, Anies also agreed that non-Moslem should NOT be the governor of Jakarta. He believes that people who comes from a different faith from the majority of the populous, cannot be a leader. Bigotry and anti-non-Moslem have become the signature of the campaign. The true nature of a man, who was once considered educated and noble, came out and it turns out he is neither. I guess what Abe Lincoln said still applies “Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man’s character, give him power”.

Based on these platforms, this election has became ‘not just another Jakarta gubernatorial election’. It represents more than that. It represents the battle of mindsets and ideologies, how Indonesia will be presented in the future.
This is the election of 2 mindsets : “People shouldn’t be judged by their superficial appearance” vs. “People HAVE to be judged by those things”.
This is the fight between 2 ideologies : “Bhinneka Tunggal Ika (Unity in Diversity)” vs. “Divide at impera (Divide and Rule)”

For me, I really hope “Bhinneka Tunggal Ika” will win. In all honesty, I see Indonesia as the TRUE diverse country in the world. Indonesia is the microcosm of the world. I believe Indonesia could be the MODEL of how diversity should work.

It is not the US, it is not any of the European countries, but it should be INDONESIA. We are born with diversity. The US has just started to learn about ethnic diversity in recent decades, but Indonesia … we’ve had it since even before the country started.

I really pray that this election would bring Indonesia to the next step to become the beacon of TRUE diversity for the world.
In Indonesia, it WOULD happen !


“I look to a day when people will not be judged by the color of their skin, but by the content of their character.” – Martin Luther King Jr. –

2

Konsisten untuk Inkonsisten


Sumber

Mereka memang berpegang kepada prinsip untuk selalu konsisten dalam berikonsistensi.

Ketika Pragmatis Ketemu Teoris

Image result for ahok anies

Pilkada Putaran ke 2 untuk Gubernur DKI sudah semakin mendekat. Suhu politik dan kampanye di Jakarta kian memanas. Kemarin ini Mata Najwa,mengadakan final perdebatan antara 2 kandidat, no. 2 Basuki (Ahok) dan no. 3 Anies.

Well, hari ini hanya memberi sedikit pendapat dari seorang awam di negeri Paman Sam tentang hasil perdebatan ini. Mungkin saya akan sedikit bias, karena saya pendukung no 2, jadi kalau anda mendukung no 3, yah mungkin akan stop membaca sampai di sini.

Kalau dilihat secara pembawaan dan gaya bicara, dapat dikatakan Anies adalah seorang birokrator dan politikus handal. Kalau anda mempunyai anak perempuan, Anies ini saya gambarkan sebagai calon pacar anak anda dan baru pertama kali ketemuan. Pasti semuanay dibuat sesopan dan sesantun mungkin. Bahasa halus, senyuman ramah, berbicara seakan-akan ‘pintar’, dan lain sebagainya. Dan saya yakin ini approach yang memang dipakai Anies, karena sesuai dengan kebudayaan orang Timur. Image is numero uno. Tapi yah kita tahulah sendiri sebenarnya kaya gimana kalau dibalik semua it 😉

Kalau Basuki, Basuki ini sudah kelihatan sebagai seorang pragmatis, gaya bicaranya, pembawaannya, lebih ke arah lihat masalah, pikirkan solusi, terapkan. Orang pragmatis kadang tidak terlalu memikirkan image, karena dia mengukur suatu kesukesesan dari berapa solusi yang dia bisa pecahkan. Jadi kontras sekali tutur kata, pembawaan dan gaya bicara Basuki. Ini istilahnya seperti teman baik anak anda, yang sudah bertahun-tahun kenal baik dengan keluarga anda. Jadi ngomong seadanya, dan andapun sudah tahu karakternya. Karakter Basuki lebih menunjukkan What you see is what you get.

Sekarang dilihat dari sisi program bantuan sosial, approach dari mereka sangat kontras sekali. Kalau anda pernah memndengar peribahasa “Lebih baik mengajari orang memancing, daripada hanya memberi dia ikan”, maka pandangan Anies lebih mengarah kepada “memberikan ikan”, sedangkan Basuki lebih mengarah “Ajarin mancing”. Saya melihat hal ini ketika membahas KJL(Kartu Jakarta Lansia) dan KJP(Kartu Jakarta Pintar). Anies berpendapat lebih baik kita LANGSUNG membantu ke orangnya, dan bahkan memberi imbauan untuk memberi tunai. Lebih kontras dalam masalah KJP, Anies ingin membantu siswa yang tidak sekolah dengan cara memberi tunai, sedangkan Ahok berpendapat hanya kalau siswa mau belajar, baru kita akan bantu. Ahok lebih mengacu kepada “Mengajari orang memancing”. Bahkan dalam KJL, Basuki lebih mengarah untuk membuat sistem terlebih dahulu, baru pelaksanaa program. Terlihat jelas prinsip mereka. Menurut saya, bantuan tunai yang dianjurkan Anies hanya akan berakhir dengan banyaknya penyimpangan dan itu sudah terbukti ketika pak SBY bagi bagiin uang tunai. Banyak yang salah sasaran, dan sama sekali hanya memberikan tensoplas untuk kepala pecah.

Selama menonton perdebatan ini di Youtube, sepertinya semua program-program yang dianjurkan Anies adalah program Ahok (open governance, KJP, Moda Angkutan Umum terpadu, dsb), tetapi dipaparkan dengan gaya bicara yang halus dan sopan. Sepertinya Anies berusaha mengikuti idolanya, pak Harto. Kita tahu sendiri Pak Harto itu memang halus dan sopan, kelihatannya, tapi dibalik semua itu anda bisa lenyap diam diam kalau berani menentang. Saya rasa Anies berusaha untuk memakai approach seperti ini.
Di sisi lain Ahok, kembali terlihat sisi pragmatis nya, ketika dia harus menjelaskan berkali-kali tentang programnya. Kelemahan orang pragmatis adalah bosan untuk menjelaskan idenya berkali-kali. Apalagi harus dibumbui dengan kata-kata manis. Ini kesan yang saya dapatkan di dalam perdebatan ini. Ahok sudah cape kalau harus menjelaskan berkali-kali lagi, kalau semua yang program Anies ‘mimpi’ kan, sebenarnya sedang dan sudah dikerjakan.

Satu hal yang menunjukkan kalau Anies itu benar benar teoris, ketika dia selalu menuduh Basuki hanya berusaha melaksanakan program-program karena ada pilkada. Ini benar-benar tuduhan seorang teoris, karena secara teori, kalau kamu ada ide akan sekejap terlaksana, tanpa harus memperhitungkan biaya, infrastruktur, atau bahakan merubah kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.
Anies seharusnya mengerti bahwa gubernur-gubernur sebelumnya, tidak membuat suatu sistem dan infrastruktur yang baik. Mereka melakukan pembiaran di mana-mana. Ini yang BAsuki butuh untuk rapikan sebelum program-programnya bisa berjalan dengan baik, dan kalau itu butuh 2-3 tahun, itu sudah termasuk CEPAT, apalagi di kota sebesar Jakarta.

Seorang teoris yang hanya mengajar tidak akan tahu ini, ATAU belaga tidak tahu.

Juga, ditambah dengan debacle nya ketika berusaha menjelaskan ide tentang perumahan DP 0%.
Ahok sebagai seorang pragmatis, segera menghitung perkiraan biaya, sedangkan Anies, hanya berusaha tersenyum dan menuduh ‘keberpihakan’ atau menganggap Basuki ‘putus asa’. Dengan senyum pongahnya, dia menganggap Basuki hanya mau jalan kalau menguntungkan rakyat menengah ke atas.

Kontras sekali dalam segmen di atas, mana yang teoris, dan mana yang pragmatis.

Seorang teoris juga mudah untuk menjadi hippocrates. Ketika berbicara tentang merangkul dan menegakkan hukum, Anies lupa kalau teman-temannya di FPI sering melanggar hukum. Bahkan dia dulu juga menganggap FPI sebagai organisasi yang buruk, tapi sekarang malah dirangkul hanya demi Pilkada.

Bagi saya, dalam perdebatan ini, hal yang paling menyebalkan dari gaya Anies, adalah senyumnya yang seperti mengejek dan sepertinya merendahakan lawan bicaranya. Ini benar-benar suatu strategi untuk memancing emosi Basuki. Senyumnya ini benar-benar mengingatkan saya kembali lagi ke senyuman Pak Harto.

Hal yang paling saya sayangkan dari Basuki, sepertinya dia berusaha untuk pull back punches. Sepertinya beliau sudah menjadi “jinak”. Ditambah lagi sepertinya, Basuki sedang tidak dalam kondisi kesehatan yang prima, terdengar dari seringnya dia berusaha membersihkan tenggorokan.

Akhir kata, sekali lagi teoris lawan pragmatis. Saya seorang pragmatis, jadi yah saya akan mendukung Basuki. Those who can, do, those who can’t, teach.

KAMPANYE ‘ORANG HITAM’

download

Masa-masa kampanye Pemilihan Presiden hampir berakhir dan minggu depan bangsa ini akan memilih Presidennya untuk tahun-tahun ke depan.

Selama ini banyak diributkan kampanye hitam. Terus terang kemaren ini saya mendengar langsung kampanye hitam, tetapi lebih tepatnya kampanye yang dilakukan oleh orang berkulit hitam. Maaf, bukan bermaksud SARA, tapi memang para saudara kita dari Papua kulitnya memang lebih hitam dari kita. Dan mumpung istilah kampanye hitam, lagi panas-panasnya, maka saya pelesetkan saja artikel saya jadi kampanye ‘orang hitam’.

Makan malam kemarin, saya sempat bertemu dengan beberapa pendeta dari Papua dan Manado. Tentu saja, topik pembicaraan menjurus ke arah Pemilihan Presiden. Pendeta dari Manado ini sudah lama melayani di Sorong dan sepertinya dia berteman baik dengan para pendeta dari Papua.

Bapak ini dengan semangatnya menjelaskan kepada kita, bahwa di Papua tidak mungkin Prabowo bisa menang. Alasannya, ketika Prabowo masih menjadi kepala Kopassus dia telah banyak menyakiti hati saudara saudara kita di sana.

Salah satu contoh yang diceritakan oleh seorang rekan nya dari Papua, ketika terjadi penculikan terhadap orang2 orang dari asing di sana. Kopassus di bawah Prabowo diterjunkan. Beliau memerintahkan untuk menghabisi 7 kampung yang tak berdosa sebagai tindakan ‘pembalasan’. Para saksi mata yang lolos, tidak melupakan peristiwa tersebut.

Peristiwa tersebut berusaha ditutupi dengan cara membayar para pemuka agama untuk berbohong dan menyatakan bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi.

Pendeta dari Manado tersebut bahkan menambahkan, makanya kemarin ini ada 3 orang pendeta terkenal yang berkampanye ke Papua untuk Prabowo. Walaupun mereka disukai banyak orang di sana, tetapi kampanye mereka ditentang dengan tegas.
Saya bertanya kenapa para pendeta terkenal tersebut mau untuk mendukung Capres yang melakukan hal tersebut. Dia menjawab dengan santainya, karena mereka dibayar 20 miliar, dengan cara pembukaan gedung gereja yang baru.

Mendengar cerita tersebut, saya bertanya kepada Pendeta dari Manado tersebut, apa yang akan menjadi pilihannya. Dia menjawab secara pribadi dia memilih Prabowo.

Terus terang saya sangat kecewa dengan perilaku hamba-hamba Tuhan tersebut yang memakai posisinya untuk berpolitik dan menukar conviction nya dengan uang. Saya juga sangat terkejut, karena dia sudah tahu akan peristiwa tersebut tetapi tetap memilih beliau. Dia beralasan bahwa Prabowo dilihat bisa menyediakan keamanan, dan dia beranggapan bahwa ketika keamanan terjamin maka kesejahteraan menyusul.

Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah dia tidak takut kalau apa yang Prabowo lakukan waktu itu dengan alasan keamanan, akan dilakukan lagi, dan mungkin terhadap beliau, dengan alasan keamanan negara. Dia hanya menjawab mudah-mudahan Prabowo sudah bertobat.
Secara pribadi, saya bisa melihat dari sisi pendeta ini. Keamanan adalah hal yang didambakan dari setiap orang. Banyak orang akan memilih keamanan dari segala sesuatunya, bahkan mereka akan menukarnya dengan kebebasan.

Saya teringat akan quote yang saya dapat dari Benjamin Franklin, salah satu founding fathers negeri Paman Sam”

“They who would give up essential Liberty, to purchase a little temporary Safety, deserve neither Liberty nor Safety.”
Mereka yang bersedia untuk menukar kebebasan yang mendasar, untuk membeli keamanan yang sementara, tidak layak untuk mendapatkan kebebasan atau keamanan.

Suatu perkataan yang sangat sarat dengan kebenaran.

Saya sebagai orang yang sudah berkeluarga, juga akan berusaha untuk memilih keamanan bagi keluarga saya. Dengan cara melakukan sesuatu atau juga menukarnya dengan sesuatu.

Di negara kita, dengan alasan keamanan, kadang beberapa pemeluk agama harus dengan ‘sukarela’ menanggalkan hak konstitusional nya untuk menjalankan agama dan kepercayaannya. Di negara kita, dengan alasan keamanan, kita juga mengeluarkan undang-undang yang mengekang kebebasan kita untuk berbicara dan mengeluarkan pikiran secara lisan dan tulisan. Di negara kita, dengan alasan keamanan, organisasi-organisasi ekstrim bisa menuntut pedagang secara ‘sukarela’ untuk menutup dagangan mereka. Di negara kita, dengan alasan keamanan, selama 30 tahun kita diperintah oleh orang yang sama dan sampai saat ini, masih banyak yang berpikir hal itu baik. Di negara kita, dengan alasan keamanan, saya tidak bisa menyebut nama ke 3 pendeta tersebut yang menukar jiwanya dengan 20 miliar karena menurut undang-undang telekomunikasi dan informatika saya bisa dianggap merusak nama baik dan mungkin mengganggu keamanan.

Negara di manapun di dunia, pemerintahnya akan berani untuk mengambil hak-hak warga negaranya dengan alasan keamanan, kalau rakyatnya berpikir antara keamanan dan kebebasan, keamanan adalah yang terpenting. Dijamin.

Apa yang akan terjadi ketika kita memilih kebebasan? Kalau negara menjamin kebebasan, maka dengan sendirinya keamanan akan terjamin. Kalau setiap individu mengerti akan kebebasan, keamanan tidak akan menjadi masalah. Kalau setiap individu mengerti bahwa individu lain memiliki kebebasan yang sama dengan yang dipunyainya, keamanan akan datang dengan sendirinya.

Dalam pemilihan kali ini, saya merasa ‘kampanye’ dari ‘orang hitam’ tersebut benar benar membuat saya berpikir untuk memilih kebebasan. Kebebasan, karena pada dasarnya keamanan tanpa kebebasan, sebenarnya adalah ketakutan. Saya tidak mau anak-anak saya hidup dalam ketakutan. Ketakutan kalau suatu saat, kebebasan mereka akan dikorbankan atas nama keamanan.

“Freedom of speech is a principal pillar of a free government; when this support is taken away, the constitution of a free society is dissolved, and tyranny is erected on its ruins. Republics and limited monarchies derive their strength and vigor from a popular examination into the action of the magistrates.” – Benjamin Franklin –

Kebebasan mengeluarkan pendapat adalah pilar yang sangat prinsipal di dalam pemerintahan yang bebas; ketika tumpuan in diambil, konstitusi dari masyarakat yang bebas akan terbinasa, dan tirani akan berdiri di atas reruntuhan nya. Republik dan Kerajaan yang terbatas mendapatkan kekuatan dan tenaga nya dari pengawasan bersama atas perilaku orang-orang yang memerintah mereka.

Jokowi x Prabowo : Debat Capres 3

download (1)

Debat Capres 3, 22 Juni 2014 : Politik Nasional dan Internasional dan Ketahanan Nasional.

Jokowi vs. Prabowo

  • Segmen 1 : Pembukaan tentang Peranan Indonesia dalam Politik Dunia

    Pemikiran Atas Prabowo:
    Seperti biasanya Prabowo berpidato dengan berapi-api dan penuh semangat. Sangking semangatnya dia lupa mengucapkan salam kepada pemirsa.

    Sepertinya beliau berusaha untuk mengobarkan semangat nasionalisme dan patriotik. Gaya bicaranya mengingatkan saya pada Chavez dari Venezuela dan tidak hanya itu isi pidatonya pun juga. Apakah beliau akan berusaha menasionalisasi seluruh perusahaan asing ? Apakah dia berani untuk melakukan hal itu ? Akankah itu menjadi bumerang bagi Indonesia ?

    Ini bisa membikin investor dan perusahaan asing getar-getir dan bisa menarik Indonesia keluar dari ekonomi internasional. Apakah Indonesia akan mengikuti langkah Venezuela jika Prabowo menjadi Presiden ? Ekonomi Venezuela tidak menjadi lebih baik ketika di nasionalisasi, inflasi menjadi 20% dan mengalami devaluasi mata uang.

    Kalau Prabowo berusaha mengikuti Chavez, maka satu hal yang pasti dia harus mengikuti gaya kepemimpinan Chavez yang notabene adalah autokrasi.

    Pemikiran Atas Jokowi:
    Jokowi memulai dengan pernyataan bahwa politik kita adalah bebas-aktif. Dibanding dengan pidato Prabowo, Jokowi lebih mengoutline pokok-pokok pemikirannya.
    Dalam hal ketahanan negara beliau menekankan akan kesejahteraan prajurit dan memperbaiki ketahanan negara.

    Pendapat beliau tentang Palestina, seakan ada negara yang tidak mau Palestina menjadi negara. Kenyataannya semua setuju, tapi masalahnya adalah wilayah mana yang diklaim Palestina dan wilayah mana yang diklaim Israel. Pokok masalahnya adalah wilayah. Juga Israel keberatan kalau Hamas yang menjadi Pemerintah Resminya. Salah satu dasar pemerintahan Hams adalah memusnahkan Israel. Kalau salah satu dasar pemerintahan Malaysia atau Singapura atau Australia atau Filipina atau Vietnam atau Kamboja adalah memusnahkan Indonesia, apakah Pak Jokowi akan menerima pembentukan negara tersebut ?

    Satu konsep yang saya rasa sungguh tepat dari pembukaan Jokowi adalah Poros Maritim atau kita harus berjaya di laut. Sangat masuk akal, sebagai negara kepulauan dengan luas laut mencapai 3,1 juta km2, Indonesia seharusnya benar-benar membangun laut kita.

  • Segmen 2:

    Pertanyaan : Modernisasi ALUSTITA, Tanpa Mengkhawatirkan Negara Tetangga
    Pemikiran atas Jawaban Jokowi
    Jokowi rupanya benar-benar mengikuti teknologi. Dia mengemukakan untuk memakai drone atau pesawat tanpa awak (Unmanned Aerial Vehicle – UAV) untuk mendukung pertahanan nasional. Suatu ide yang bagus, dan Indonesia pasti sanggup untuk melaksanakannya.

    Teknologi UAV bisa mengurangi beban para prajurit, dan dapat memberikan informasi secara cepat, tepat dan akurat.

    Pertanyaan: Menjelaskan tentang Kepentingan Nasional dan Kekayaan Nasional
    Pemikiran atas Jawaban Prabowo
    Penjelasan Prabowo memakai contoh jika gaji orang pemerintah kecil, maka kita akan dipandang rendah, sangatlah tidak akurat. Negara luar terus terang tidak terlalu memperdulikan gaji pegawai negri negara manapun, baik sipil maupun militer.

    Saya merasa Prabowo lebih menekankan pendekatan militeristik show of power dalam menunjukkan kalau kita negara yang tidak boleh dianggap enteng.

    Saya maklumi karena mungkin latar belakang beliau adalah orang militer. Saya merasa beliau mungkin kecewa dengan tanggapan pemerintah sebelumnya terhadap konflik-konflik kita dengan negara tetangga, seperti konflik pulau Sepadan, dan berbagai kebudayaan yang diklaim oleh negara tentangga, di mana Indonesia banyak mengalami kerugian.

  • Segmen 3:

    Bagaimana Menangani Masalah-Masalah Dengan Negara Lain Ketika Kepentingan Nasional Terancam
    Pemikiran Atas Jawaban Prabowo
    Tidak ada yang terlalu spesifik dan menginspirasi dalam jawaban Prabowo. Jawabannya seperti jawaban di buku-buku pelajaran PMP dulu.

    Pemikiran Atas Jawaban Jokowi
    Jokowi menekankan untuk diplomasi Pemerintah-Pemerintah dan tidak akan memakai perang dalam konflik-konflik.

    Pertanyaan: Perlindungan TKI dan Ketahanan Nasional
    Pemikiran Atas Jawaban Jokowi
    Jokowi sangat menekankan untuk melatih TKI, dan mendata TKI dengan baik, dia juga menekankan untuk tidak mengirim TKI ke negara yang tidak mempunyai UU perlindungan tenaga kerja yang kuat.

    Saya mendukung penuh pendapat Jokowi tentang idenya untuk menjadi Poros Maritim. Sekali lagi, negara kepulauan dengan luas wilayah laut yang sungguh besar, harus bisa jaya di laut !

    Pemikiran Atas Jawaban Prabowo
    Pada dasarnya beliau setuju akan paparan Jokowi tentang TKI, dan dia menambahkan untuk mengadakan sertifikasi.

  • Segmen 4:

    Pertanyaan Jokowi ke Prabowo : Kebijakan Luar Negeri yang Harus Diubah
    Pemikiran Atas Jawaban Prabowo
    Prabowo sangat setuju dengan kebijakan luar negeri SBY.

    Reaksi pertama saya, menyimak pidato pembukaannya dan seakan-akan mengindikasikan keinginannya untuk menasionalisasi perusahaan-perusahaan Indonesia, bukankah itu akan memperburuk hubungan dengan negara lain?
    Bukankah selalu menggembar-gemborkan kebocoran kekayaan alam kita ke luar negeri selama pemerintahan SBY?

    Salah satu kendala banyaknya koruptor lari ke luar negeri, terutama ke Singapura, adalah tidak adanya perjanjian ekstradisi. Apakah Prabowo tidak akan mengejar perjanjian ekstradisi yang adil dengan Singapura?

    Pertanyaan Prabowo ke Jokowi : Manfaat WTO bagi Indonesia
    Pemikiran Atas Jawaban Jokowi :
    Saya menganggap WTO lebih menguntungkan negara-negara maju. Standard negara maju lebih tinggi dari negara berkembang, sehingga sangat sulit barang-barang kita untuk bersaing atau masuk ke suatu pasar luar negeri. Sebaliknya, komoditi dari negara maju bisa dengan mudah masuk ke negara berkembang. Itu disebabkan juga karena perangkat hukum kita mudah di licinkan. Industri kerakyatan akan tertekan karena jelas mereka tidak bisa mengikuti ISO, karena jika mereka mengikuti ISO maka harga jual mereka akan ikut naik dan tidak mudah untuk berkompetisi dengan pasar lain.

    Menurut saya, produk dalam negeri harus bisa dipercaya oleh bangsa sendiri dulu, baru kita bisa berkompetisi. Produk dalam negeri kita tidak menjadi tuan dalam rumah, mana mungkin konsumen luar negeri akan tertarik pada barang-barang kita.

    *Maaf karena penulis sedang berlibur di tempat yang internet nya terbatas. Pemikiran tentang debat Capres ke 3 terpotong sampai di sini

Mengapa Saya Berharap (Kalau Terpilih) Jokowi Tidak Memimpin Seperti Obama

Post

Sekarang ini Pemilihan Presiden RI lagi semakin panas. Di jaringan media sosial, saya banyak membaca status dari teman-teman saya di Indonesia. Ada yang pro-Jokowi dan ada yang pro-Prabowo. Pengamatan saya Prabowo kalah telak di dalam lingkup pergaulan Facebook saya. Sepertinya banyak kenalan Facebook saya mendukung Jokowi.

Sebagai pendukung bagi saya, sah sah saja kalau mereka terus berkampanye untuk Jokowi. Namun, satu hal yang menaikkan alis mata saya, ketika Jokowi disamakan dengan Obama.

Sebagai seseorang yang mengikuti berita politik di Amerika, saya malahan sangat khawatir sebesar-besarnya jika Jokowi memerintah seperti Obama, dan jika pendukungnya bertindak seperti pendukung Obama. Jika hal ini terjadi, maka negara kita akan menuju kehancuran dan perang saudara.

Di bawah ini saya paparkan alasan mengapa sebaiknya Jokowi jangan disamakan dengan Obama.

  1. Obama seorang politikus ulung dan bukan negarawan
    Sebagian besar keputusan yang diambil Obama bukan untuk kepentingan negara, tetapi untuk kepentingan partai politiknya dan hanya untuk mendapatkan politik poin dari kubunya. Kalau anda perhatikan di setiap pidato nya, dia selalu memojokkan partai oposisi dan selalu memberi impresi ‘kalau anda tidak setuju dengan saya, anda adalah lawan saya’. Karena sikapnya ini, sekarang kancah politik di Amerika benar-benar terpolarisasi. Untungnya Amerika memiliki kestabilan keamanan yang kuat dan tidak mudah kemasukan intervensi asing, tetapi kalau Jokowi bertindak seperti ini dan ditambah dengan banyaknya partai di negara kita. Kita akan menuju kehancuran.

  2. Obama bertindak di luar konstitusi negara
    Beberapa keputusan-keputusan Obama diambil dengan tidak menghiraukan konstitusi Amerika. Obama mengambil keputusan-keputusan di luar wewenang nya sebagai badan eksekutif. Hal ini sangat tidak baik bagi kelangsungan negara. Kalau Jokowi melakukan seperti demikian, tidak akan ada perbedaannya dengan kepemimpinan otoriter.

  3. Obama adalah seorang ideolog dan partai-ist
    Ketika mengajukan proposal penerapan yang berbeda dengannya, yang Obama lakukan bukan bernegosiasi dan berdiplomasi, tetapi mengucilkan dan memojokkan oposisi. Sebenarnya hal-hal yang dipertentangkan bukan ide, tetapi pelaksanan dari ide tersebut. Misalnya ketika ide untuk membuat program asuransi kesehatan nasional mulai di dorong oleh Demokrat di bawah kepemimpinan nya, setiap kritikan terhadap cara penerapan, dianggap sebagai orang jahat yang tidak ingin orang miskin mendapatkan asuransi. Padahal, banyak dari partai oposisi ber-ide sama, tetapi hanya mengajukan cara-cara penerapan yang mungkin lebih efisien dan efektif. Tetapi karena Obama tidak mau menjangkau oposisi dan seorang partai-ist, maka yang dia lakukan adalah terus menjelek-jelekkan oposisi dan kritikus. Hasilnya Obamacare yang sekarang terjadi malah menaikkan harga asuransi bagi kalangan menengah sehingga benar-benar membebani kalangan menengah tanpa menyelesaikan masalah. Hutang negara menjadi $ 9 triliun atau Rp 90,000 triluun

  4. Obama mungkin seorang motivational sepaker dan inspirator, tapi bukan pemimpin dengan hasil yang nyata
    Ketika memenangkan pemilu pertamanya, dunia terkagum karena Obama merupakan orang kulit berwarna pertama yang menjadi Presiden US. Tanpa belum melihat kinerjanya, Obama dianugerahi Nobel perdamaian dan dia menerimanya.

    Semua yel-yel dan janji kampanye Obama ketika menjanjikan pemerintahan yang transparan dan bersih dan bertanggung jawab, tidak ada pelaksanaannya. Skandal-skandal dalam pemerintahan Obama

    • Obama memakai NSA untuk memata-matai warga negaranya sendiri tanpa ijin pengadilan, walaupun waktu dia menjadi Senator, dia mengkritik Bush dengan tajam dalam hal ini.
    • Jaksa Agung yang ditunjuk Obama, dengan sengaja memberikan senjata ke mafia Meksiko dan dipakai untuk membunuh Polisi Perbatasan US dan kasus tersebut ditutup-tutupi
    • Obama memakai Departemen Pajak untuk mempersulit pembentukan organisasi-organisasi sipil yang mempunyai perbedaan paham dengannya dan kasus ini ditutupi.
    • Obama kecolongan dalam kasus Benghazi, di mana diplomat Amerika terbunuh dalam suatu serangan teroris. Waktu itu Departemen Luar Negeri dipimpin oleh Hilary Clinton dan dia lalai memberikan perlindungan yang cukup. Tapi lagi lagi kasus ini ditutup-tutupi
    • Ketika dia masih berkampanye Obama tahu akan kerusakan jaringan kesehatan Veteran, dan berjanji untuk memperbaikinya, tetapi dia tidak melakukannya. Ketika skandal ini terkuak, Obama pura-pura tidak tahu.

    Obama hebat dalam menutupi kesalahan atau keboborkan orang-orang yang tergabung dalam partainya. Karenanya, saya sebut dia memang seornag politikus handal, tapi bukan negarawan.

  5. Obama Hanya Pandai Melakukan Pencitraan
    Obama pandai mengambil hati dan minat orang-orang muda yang notabene aktif dalam jejaring sosial. Tapi nyatanya hanya kelihatannya saja bagus tapi tidak ada artinya. Ketika Rusia mencaplok Ukraina, dengan menggunakan media twitter, Gedung Putih memperlihatkan gaya Obama yang sepertinya sedang tegas dan menentang Putin. Tapi pada kenyataanya Ukraina, yang sudah meneken perjanjian dengan Amerika dan Inggris bahwa mereka akan dilindungi, ditinggalkan begitu saja dan malahan Polandia menganggap janji perlindungan Amerika hanya pepesan kosong.

    Saya harap Jokowi lebih memberikan hasil nyata, daripada sekedar pencitraan.

  6. Obama seorang yang menyetujui untuk program aborsi pasca-kelahiran
    Memang Jokowi tidak mungkin mempunyai pandangan ini, tetapi bagi orang Indonesia yang berharapan Jokowi seperti Obama, harap tahu ini.

Mengapa Obama bisa terus melakukan skandal-skandal dan kegagalan-kegagalan seperti ini ? Karena para pendukungnya. Jadi saya berharap bagi anda-anda yang mendukung Jokowi, saya menganjurkan agar anda jangan menjadi seperti pendukung Obama. Berikut adalah hal-hal di bawah ini:

  1. Pendukung Obama menganggap dia sebagai Penyelamat atau men’dewa’kan dia
  2. Ketika kita berpikiran kalau seorang pemimpin adalah ‘tuhan’, maka kita akan melihat oposisi atau orang yang sekedar tidak setuju dengannya adalah ‘setan’. Sehingga setiap oposisi, kritikan atau mungkin sekedar himbauan yang berbeda dengan apa yang dimiliki penyelamatmu akan dianggap menyerang tuhanmu.

    Kalau anda mengikuti media massa di sini, sebagian besar tidak pernah mengungkit skandal-skandal di atas. Wartawan-wartawan pun tidak pernah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan tidak pernah melihat Obama sedikitpun melakukan kesalahan.

    Hasilnya seperti cerita seorang Raja yang telanjang, di mana seluruh orang tahu kalau si Raja sedang telanjang, tetapi para pendukungnya malah terus memuji-muji ‘pakaian transparan’ si Raja, sampai ada satu anak kecil yang bertanya “kenapa si Raja telanjang?”, tetapi malahan di hukum.

    Ingat dengan baik, kalau kita melihat sejarah, para diktator berawal sebagai penyelamat negara. Hitler ‘menyelamatkan’ German dari krisis ekonomi setelah Perang Dunia 1, Stalin ‘menyelamatkan’ Rusia, Pol Pot ‘penyelamat’ Kamboja, dll. Sejarah akan terulang kalau kita belajar darinya.

    Kalau anda sebagai pendukung, anda juga harus berani mengkritik. Anda harus sadar bahwa Jokowi bukan PENYELAMAT bangsa, tetapi masing-masing dari kita adalah penyelamat bangsa kita.

  3. Pendukung Obama lebih suka berdebat itikad daripada cara pelaksanaan
    Kembali saya memakai contoh tentang perdebatan asuransi kesehatan nasional US, pada saat itu perdebatan bukan mencari cara yang lebih baik dan efisien, tetapi malahan menjadi “Kalau Kamu Setuju Obamacare Berarti Kamu Senang Orang Sakit Mendapat Perawatan, Kalau Kamu Tidak Setuju Obamacare Berarti Kamu Senang Melihat Orang Sakit Tidak Mendapat Perawatan”

    Hal ini menjadi suatu perdebatan yang bodoh dan tidak kritis. Semua pihak mau menyediakan asuransi, semua pihak mau mereformasi sistem kesehatan, tetapi caranya harus dipikirkan dan mengambil yang palin efektif dan efisien. Bukan dengan membebani kalangan menengah dan menumpuk hutang negara sampai $ 9 triliun.

    Pendukung Obama tidak melihat seperti ini, mereke berprinsip “kalau kamu tidak setuju dengan SEMUA ide kami, berarti kamu adalah musuh kami”

    Jangan selalu menganggap setiap oposisi mempunyai ide yang berbeda, mungkin mereka hanya menganjurkan cara pelaksanaan yang berbeda.

    Contoh yang mungkin yang setara dengan keadaan di Indonesia yaitu Menyediakan Akses Pelayanan Kesehatan ke Seluruh Penduduk. Jokowi mungkin akan terus mengusung Kartu Indonesia Sehat, tetapi kalau ada kritikan atau oposisi yang mengajukan cara pelaksanaan yang berbeda, jangan langsung dibilang mereka tidak mau melihat masyarakat yang sakit untuk diobati. Jangan sekali-kali bertindak demikian. Kadang-kadang oposisi sebenarnya bertujuan sama tetapi hanya berbeda pendapat dalam cara pelaksanaan.

    Kaji ide-ide dari oposisi, minta ide-ide mereka, kalau seandainya baik, lebih efisien dan efektif, mengapa tidak dipakai ?

  4. Pendukung Obama Tidak Peduli Konstitusi dan Sistem Negara
    Mereka selalu berpendapat kalau itikad baik, jalan apapun harus ditempuh walaupun itu melanggar hukum dan konstitusi. Jadi misalnya kalau kamu mau mencuri, asal itikadnya baik, maka boleh-boleh saja.

    Banyak hal yang dilakukan Obama di luar wewenang dia sebagai badan eksekutif, tetapi para pendukungnya menutup mata. Menurut mereka Obama beritikad baik jadi tidak ada salahnya.

    Kalau itikad dipakai sebagai alasan untuk melanggar hukum, maka semua tata hukum akan menjadi kacau. Saya bisa berpendapat Bush menyerang Irak karena itikad nya baik, untuk melindungi warga Kurdis yang ditindas Sadam dan warga Amerika.

    Itikad baik HARUS diikuti dengan pelaksanaan yang baik dengan berdasarkan pada konstitusi. Konstitusi dibuat oleh para pendiri negara kita, dan tidak boleh sekali-kali kita beranjak dari nya, walaupun itikad sebaik apapun. Karena kita tidak bisa menebak itikad manusia.

    Jadi para pendukung Jokowi, mohon semohon mohonnya, jangan doakan dia jadi seperti Obama. Bisa lebih hancur bangsa kita.

Jokowi x Prabowo : Pengamatan Debat 2

download (1)

Pemikiran dalam debat Capres 2, 15 Juni 2014.
Jokowi vs. Prabowo

  1. Jokowi Pidato Pembukaan
    Jokowi mengawali dengan penekanan akan Revolusio Mental, dan mengiklankan program Kesehatan dan Pendidikannya. Jokowi juga memaparkan bahwa visinya adalah pemerataan pembangunan.

    Prabowo Pidato Pembukaan
    Prabowo memulai pembukaannya dengan berapi-api. Dia menjanjikan banyak hal yang fantastis. Dia menjanjikan 1 miliar per desa per tahun, kenaikan upah minimum menjadi 2 ½ kali lipat, jalan raya 3000 km, dll.

    Pemikiran
    Jokowi menjajakan program-program yang sama yang dia cetuskan ketika berkampanye menjadi gubernur. Sekarang ini Indonesia Sehat dan Pintar berjalan dengan berbagai macam masalah. Bisa menjadi suatu tantangan yang paling hebat kalau dia mau menjalankan ini dalam skala nasional, karena keterbatasan infrastruktur. Program-program seperti Indonesia Sehat atau Kartu Pintar, tidak akan bisa berjalan, KALAU sistem pendataan kependudukan masih seperti sekarang. Tapi saya sangat setuju dengan Joowi kalau sesungguhnya kebutuhan utama bagi bangsa ini adalah Revolusi Mental !

    Dalam hal pidato yang bersemangat, Prabowo memang jagonya. Namun, dalam kali ini dia benar-benar mengkontradiksi pidatonya sendiri. Di awal pidato dia menyindir Jokowi dengan retorik, “program pendidikan dan keehatan gratis, duitnya dari mana?”, tapi kemudian dia menjanjikan banyak hal yang notabene membutuhkan dana yang sangat sangat besar, dan kemudian mengatakan “dananya sudah ada !”. Pemikiran pertama yang muncul di pikiran saya “Loh ! Kok dia mengkontradiksi pidatonya sendiri ?” . Jumlah desa di Indonesia per tahun 2012 adalah 77,548 desa. Dengan perhitungan matematika biasa, kita kalikan dengan 1 Milyar jadi dana yang kita butuhkan adalah 77,548 Milyar pertahun. Atau sekitar 80 Trilyun per tahun. Daripada memberikan setiap daerah 1 Milyar, bagaimana kalau membangun infrastruktur (air bersih, listrik, dan jalan) ke desa tersebut dengan dana 1 milyar pertahun dan lihat sendiri bagaimana suatu desa akan bertumbuh dengan pesat kalau ada infrastruktur.

  2. Pertanyaan : Ekonomi Kerakyatan
    Jawaban Prabowo
    Prabowo menganggap bahwa ekonomi kerakyatan adalah pemerintah turut berpartisipasi dan tidak hanya sekedar menjadi wasit. Dia melanjutakan bahwa banyak program SBY yang berhasil, salah satunya KUR, dan Dana bergulir.

    Pemikiran
    Pemikiran pertama yang muncul ketika Prabowo, mengatakan bahwa Pemerintah tidak hanya sekedar wasit adalah “Wah ! Apakah dia baca Kebangkitan.org yah?” hehehe karena dia memakai keyword saya. Pada artikel saya tentang debat 1, saya mengemukakan bahwa paham saya adalah konservatif, dan beranggapan bahwa pemerintah sebaiknya menjadi wasit, dan tidak ikut bermain. Tapi mana mungkin orang setenar Prabowo membaca no-name artikel.
    Hmmmm … mungkin saya akan selipkan keyword yang lain, kalau dia pakai lagi di debat berikutnya saya akan terkejut.
    OK ! Maaf jadi melamun.

    Kembali kepada topik, menurut pemikiran saya, Prabowo mengunggulkan program-program Pemerintah yang sekarang sedang dilakukan, tetapi di lain kesempatan dia juga mengkritik kinerja pemerintahan SBY dalam hal ekonomi. Sekali lagi dia mengkontradiksi dirinya sendiri.

    Salah satu program Pemerintah SBY yang dia katakan akan terus dilanjutkan adalah Program Dana Bergulir. Saya tidak terlalu kenal dengan program ini, tapi terima kasih Google, saya sedikit mempelajari apakah program dana bergulir. Ternyata itu hanya nama lain dari Micro-Loan (atau pinjaman mikro). Terus terang pinjaman mikro adalah sangat bagus. Dan untuk pak Prabowo, penggagas pertama Pinjaman Mikro adalah Muhammad Yunus. Seorang banker yang mendirikan Grameen Bank untuk memberikan pinjaman mikro. BUKAN pemerintah.

    Ide yang bagus, dan tidak perlu pemerintah yang melakukannya. Pemerintah bisa membuat kebijakan dalam dunia perbankan untuk menstimulasi atau menggiatkan para investor untuk berani masuk ke arena pinjaman mikro tanpa harus berpartisipasi langsung. Saya bukan ahli perbankan, tapi ini bisa.

    Di Amerika, situs-situs seperti Prosper.com, Kiva.com, etc. menyediakan pinjaman mikro peer-to-peer tanpa campur tangan Pemerintah. Mereka melakukannya dengan efektif dan efisien.

    Sekali lagi, Pemerintah identik dengan birokrasi yang tak berkesudahan.

    Oh saya cuman tahu apakah Prabowo juga akan melanjutkan BLSM (Bantuan Langsuns Sementara Masyarakat) atau yang biasa saya sebut Program Bagi-bagi Duit ?

  3. Pertanyaan: Visi Berdikari dan Menangani Hutang
    Jawaban Jokowi
    Membangun dan merapikan pasar-pasar Tradisional, dan PKL dalam skala nasional. Menuntaskan inefisiensi dan kebocoran dana dengan e-governing.

    Pemikiran
    Menurut saya, memberdayakan PKL dan pasar-pasar Tradisional adalah suatu gagasan yang sangat tepat. Solusi ini sangat masuk akal untuk pemberdayaan pedagang-pedagang kecil dan sekaligus merapikan kota. Tapi menurut saya kebijakan ini harus juga diikuti dengan menertibkan konsumen. PKL bisa ada karena adanya konsumen. Konsumen harus ikut ditertibkan, sehingga dapat mengurangi demand. Kalau tidak ada demand, maka PKL liar pun akan punah dengan sendirinya. Hukum pasar pasti berlaku.

    Pasar-pasar tradisional bisa merupakan ajang yang mempertemukan produsen dan konsumen secara langsung tanpa middle man.

    Tentang e-governing, itu suatu ide yang modern. Sekali lagi saya masih sanksikan apakah bisa terlaksana, karena infrastruktur nasional yang belum merata dan memadai.

  4. Pertanyaan : Program Pengentasan Kemiskinan yang Tidak Efektif dan Membuat Lapangan Kerja
    Jawaban Jokowi
    Membangun sistem yang baik. Jokowi berpendapat jawaban yang untuk mengentaskan kemiskinan adalah dengan membangun sistem seperti Indonesia Sehat dan Pintar.
    Mengenai ketenagakerjaan, memacu investasi ke daerah-daerah dan tidak hanya terpusat pada Jawa dan sekitarnya. Diikuti dengan membangun infrastruktur.

    Jawaban Prabowo
    Prabowo menekankan untuk mengentaskan kemiskinan dan pengangguran adalah pertanian. Karena dia berpendapat pertanian adalah sektor yang bisa menyerap tenaga kerja dan memberikan hasil dengan segera.

    Pemikiran
    Jokowi sekali lagi mempromosikan Indonesia Sehat dan Pintar, atau dengan kata lain program pelayanan kesehatan dan pendidikan gratis bagi rakyat miskin. Hal ini memang baik, tetapi bukan sebagai jawaban untuk mengentaskan kemiskinan. Program-program ini harus diiringi dengan penyuluhan masyarakat bahwa program-program tersebut adalah sebagai safety net, bukan sebagai life support.

    Perbedaannya adalah kalau safety net, masyarakat bisa berdikari dan berusaha sendiri, tetapi ketika mengalami kegagalan, mereka tidak akan mati. Kalau life support berarti masyarakat akan menggantungkan hidupnya ke program-program tersebut, sehingga tidak dapat berdikari.
    Mengentaskan kemiskinan harus dimulai dari setiap individu dengan kemauannya sendiri, tugas Pemerintah adalah melihat setiap individu adalah sama di mata hukum. Yang kaya tidak boleh melanggar peraturan permainan, begitu juga yang miskin.

    Jawaban Prabowo sekali lagi membuat saya menaikkan alis mata. Pertama seperti nya dia menyayangkan adanya kerusakan 7 juta hektar hutan, tapi kemudian dia menambahkan bahwa lahan-lahan tersebut akan dijadikan sawah-sawah. Tadinya saya berpikir dia akan merestorasi kembali hutan-hutan tersebut.

    Saya berpendapat bahwa pertanian memang harus dikembangkan, tetapi bukan jawaban untuk menyerap tenaga kerja. Pertanian modern tidak membutuhkan tenaga kerja yang banyak. Lagipula alasan banyaknya urbanisasi adalah bukan karena kurangnya lahan pertanian, tetapi karena banyak orang desa menganggap bahwa pertanian bukanlah pekerjaan yang dapat menghasilkan uang banyak dan itu disebabkan karena Pemerintah berusaha mengontrol harga komoditi pertanian.

    Meningkatkan Pertanian adalah baik, untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional, tetapi sebagai jawaban untuk menyerap tenaga kerja, sepertinya tidak mungkin kalau harga tetap dikontrol oleh pemerintah.

    Kalau dipadukan antara jawaban Prabowo tentang pertanian dan solusi Jokowi untuk membangun dan merapikan pasar-pasar tradisional, maka hal tersebut akan menjadi suatu solusi yang luar biasa. Ketika Petani bisa menjual hasilnya LANGSUNG ke pembeli, tanpa melewati middlemen maka itu dapat menguntungkan konsumen dan petani sekaligus.

  5. Pertanyaan: Mengendalikan Pertumbuhan Penduduk yang Tinggi dan Akses Kesehatan untuk Wanita
    Jawaban Prabowo
    Mengamankan ‘kebocoran’ negara dan menginvestasi ‘kelebihan’ uang ke Keluarga Berencana, dan Posyandu.

    Jawaban Jokowi
    Mengkampanyekan lagi Program Keluarga Berencana. Merubah pola pikir masyarakat. Berhubugan dengan angka kematian ibu, Jokowi kembali mempromosikan kartu Indonesia Sehat.

    Pemikiran
    Ide KB adalah baik tetapi bukan sebagai pembatasan banyaknya anak, seperti yang dilakukan China, tetapi sebagai perencanaan orang tua apakah mampu dalam hal keuangan, untuk mempunyai anak dan berapa banyak.

    Selain itu, saya merasa program pengadopsian anak juga harus digalakkan. Saya merasa pihak pihak beragama seharusnya dilibatkan untuk hal ini.

  6. Pertanyaan Jokowi ke Prabowo: Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus Daerah
    Jawaban Prabowo
    Meningkatkan DAU dan DAK kalau pendapatan negara naik.

    Pemikiran
    Sekali lagi kalau diperhatikan, Prabowo seakan mengkontradisi pernyataannya. Di dalam pidato pembukaan dia berkata bahwa dia akan memberikan 1 Milyar per desa per tahun dan duitnya sudah ada. Sedangkan sekarang, dia berpendapat pendapatan negara kita harus naik dulu, baru bisa meningkatkan DAU dan DAK.

    Bagi saya Prabowo hanya mengulang talking point tentang kebocoran uang negara, tanpa memberikan solusi.

    Saya merasa kembali ke tujuan dari pemberian DAK. Kalau tujuan DAK agar desa atau daerah bergantung pada pusat, maka daerah hanya menjadi beban. Tapi kalau tujuan DAK adalah untuk membuat daerah bisa menopang dirinya sendiri atau memberdayakan daerah, maka akan dengan sendirinya daerah akan bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa campur tangan pusat yang berlebihan.

    Kalau kita melihat suatu provinsi adalah suatu negara kecil, maka kita akan melihat daerah itu sebagai sumber daya dan bukan beban. Kalau suatu provinsi melihat dirinya sebagai suatu negara kecil, maka penduduk daerah tersebut akan berpikir untuk membangun daerah nya tersebut, tanpa harus ke daerah lain. Ada suatu kebanggaan untuk bisa membangun daerah sendiri.

  7. Pertanyaan Prabowo ke Jokowi: Taget Pertumbuhan Ekonomi
    Jawaban Jokowi
    Target petumbuhan >7% dengan catatan, memperbaiki iklim investasi, perijinan dengan memanfaatkan on-line, dan menaikkan industri kecil untuk eksport dengan memanfaatkan kedutaan besar. Pemerintah harus mendorongnya.

    Pemikiran
    Ide yang sangat baik kalau negara bisa membantu memasarkan produk-produk dalam negeri ke luar, karena itu termasuk suatu pembangunan infrastruktur, sarana dan prasarana.
    Dalam hal mengurus perijinan on-line sekali lagi Jokowi harus benar-benar membangun infrastruktur yang memadai.

    Ketika Amerika di bawa Presiden Obama hendak melakukan pelaksanaan Obamacar secara on-line, hasilnya penuh dengan kegagalan. Situs selalu gagal, dan banyak orang yang mendaftar menemui jalan buntu.

    Kalau suatu negara adidaya, dengan infrastruktur yang jauh lebih bisa kelimpungan untuk membuat suatu program asuransi kesehatan secara on-line, apakah Indonesia dengan infrastruktur yang jauh lebih buruk mampu ? Suatu tantangan bagi Jokowi !

  8. Pertanyaan Jokowi ke Prabowo: Klaim Tentang Banyak Uang Tapi Defisit Perdagangan
    Jawaban Prabowo
    Kembali Prabowo memainkan dan mengulang kata kuncinya “kebocoran” dan menutup kebocoran. Dan menyindir program Jokowi tentang Indonesia Sehat dan Pintar

    Pemikiran
    Pertanyaan Jokowi berusaha menunjuk pada kontradiksi dari pernyataan-pernyataan Prabowo. Prabowo terus menyatakan bahwa uang kita cukup, tetapi juga mengatakan bahwa uang kita tidak cukup.

    Sekali saya merasa Prabowo hanya mengulang kata-kata kampanye. Beliau sendiri yang pada pidato pembukaan berjanji banyak hal dan mengatakan kalau kita sudah ada uangnya. Tapi sekarang dia mengatakan asal kebocoran ditutup.

    Menutup kebocoran adalah suatu janji kampanye semua calon Presiden RI semenjak Soeharto. Nyatanya tidak terjadi. Prabowo yang didukung oleh Partai-Partai yang membocorkan uang negara saya YAKIN tidak bisa menutup kebocoran. Kalau memang Prabowo ‘berani’ menutup kebocoran negara, beliau harus menolak partai-partai yang jelas-jelas terlibat korupsi gila-gilaan seperti misalnya PKS.

    Ketika terjadi koalisi dari partai-partai kotor, mungkinkah kebocoran dapat ditutup ?

  9. Pertanyaan Prabowo ke Jokowi: Wajib Belajar 12 Tahun dan Biaya 40 Triliun
    Jawabab Jokowi
    Menekankan bahwa pembangunan manusia adalah melalui pendidikan. Memfokus pendidikan mental pada sekolah dasar, dan keahlian dan ketrampilan ketika Menengah Atas.
    Jokowi setuju dengan Wajib Belajar 12 tahun dan mengatakan dana 40 triliun bisa didapat dari penghematan dalam bidang energi.

    Pemikiran
    Saya setuju dengan konsep pendidikan yang diutarakan oleh Jokowi, mental terlebih dahulu sebelum keahlian, pengetahuan dan ketrampilan.
    Tentang anggaran, saya merasa Jokowi menggampangkan cara untuk mendapatkannya. Saya kurang yakin apakah beliau bisa mendapatkan anggaran 40 triliun tersebut dari cara yang dipaparkannya.

  10. Pertanyaan Jokowi ke Prabowo: Meningkatkan Peran PPID
    Jawaban Prabowo
    Prabowo tidak bisa menjawab karena dia tidak tahu akan arti PPID. Kalau anda mendengar dengan teliti, dia malah menggumam “KAMPRET”

    Pemikiran:
    Saya tidak mengerti apa PPID. Dengan Google yang saya mengerti PPID adalah Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi dan berada di bawah Departemen Komunikasi dan Informatika. Namun, Jokowi menjelaskan itu adalah tim Pengendali Inflasi Daerah.
    Jadi saya tidak bisa berkomentar banyak.

    Menurut saya, pertanyaan Jokowi ini bersifat gotcha dan berusaha menyandung Prabowo. Seharusnya Jokowi lebih mendetil kepanjangan PPID mana yang dia maksud dan apa yang dia mau Prabowo jawab.
    Saya yakin kebanyakan orang Indonesia tidak paham PPID mana yang dimaksud Jokowi.

    Saya merasa sifat dari pertanyaan hanya untuk menjebak dan bukan untuk mencari informasi. Sorry, Pak Jokowi, saya merasa anda kehilangan poin untuk pertanyaan ini.

    Begitu juga dengan Prabowo, kelihatan kasarnya ketika dia menghujat dan memaki ‘Kampret !” dan tertangkap oleh mic. Sorry, kalau saja Prabowo tidak mencaci, saya akan lebih memenangkan dia dalam sesi ini, tapi nyatanya

  11. Pertanyaan Prabowo ke Jokowi: Rencana Pembangunan Infrastruktur
    Jawaban Jokowi
    Jokowi akan memfokuskan transportasi kelautan. Karena dia merasa dengan perhubungan laut yang baik, pembangunan bisa merata dengan baik. Selanjutnya, dia akan membangun rel kereta api.

    Pemikiran:
    Sangat setuju akan penjelasan Jokowi. Kita harus bisa benar benar fokus akan transportasi kelautan kita. Negara maritim tanpa transportasi laut yang baik tidak bisa memeratakan pembangunan dengan efisien.
    Saya merasa Jokowi mengerti akan hal infrastruktur dalam hal transportasi.

  12. Pertanyaan: Ekonomi Kreatif dan Tingkat Pengangguran
    Jawaban Prabowo
    Beliau hanya menyatakan bahwa perlunya pembangunan ekonomi kreatif. Dan Prabowo menyetujui pendapat Jokowi.

    Jawaban Jokowi
    Jokowi menjawab lebih mendetail. Dia juga mengatakan akan terus mendorong anak-anak muda untuk lebih berpartisipasi di ekonomi kreatif.

    Pemikiran
    Keduanya tidak berbeda. Ekonomi kreatif adalah hal yang baik, tetapi dengan banyaknya pemain, pasar ini akan menjadi terlalu jenuh. Lagipula ekonomi kreatif mudah untuk menarik peminat anak muda, karena memang sebuah pasar yang trend, modern, dan kelihatannya bergengsi.

    Sebaiknya tidak perlu peran Pemerintah untuk itu, Pemerintah malah harus lebih mendorong anak-anak muda untuk ke bidang STEM (Science, Tech, Engineering dan Math –Peneliti, Teknologi, Insinyur dan Matematika)

    Negara Amerika benar-benar sedang mendorong anak mudanya ke arah STEM. Karena sedikitnya pekerja di bidang STEM, orang-orang dari India dan Cina masuk untuk memenuhi kebutuhan STEM.

    Kalau bangsa kita bisa menghasilkan siswa-siswa yang baik dalam bidang STEM, itu akan sejalan dengan visi Jokowi di mana kita bisa memanfaatkan sumber daya kita sendiri tanpa bantuan luar.

  13. Pertanyaan Prabowo ke Jokowi: Menghadapi ASEAN Economic Community
    Jawaban Jokowi
    Jokowi menyarankan untuk lebih proaktif dalam menghadapi masuknya pasar luar negeri dan mengandalkan perlindungan terhadap produsen dalam negeri

    Tanggapan Prabowo
    Prabowo berusaha mendesak Jokowi untuk jawaban yang lebih rinci tentang bagaimana jika perusahaan luar negeri mau masuk ke pasar dalam negeri.

    Pemikiran
    Proteksi terhadap produsen dalam negeri harus ada, karena kalau tidak maka produsen dalam negeri akan kalah bersaing. Tetapi imbasnya adalah ketika kita terlalu memproteksi diri kita, negara lain juga akan melakukan hal yang sama, kalau hal ini terjadi bagaimana kita bisa mengekspor produk kita keluar ?
    Saya merasa sebenarnya proteksi dagang haru lebih cenderung bilateral daripada multilateral dan juga saya yakin Indonesia sekarang ini sudah ada proteksi, tetapi masalah nya di sini yang memproteksi bisa dilicinkan dengan uang. Itu yang menjadi masalah.

    Regulasi sudah banyak tetapi tidak transparan, tidak jelas dan rumit.

  14. Pertanyaan Jokowi ke Prabowo: Visi Misi Tentang Anggaran Desa 1 Milyar Padahal Menurut Undang-Undang Bisa Lebih Tergantung Angka Kemiskinan dan Luas Wilayah
    Jawaban Prabowo:
    Prabowo menangkis serangan Jokowi dengan alasan bahwa program tersebut dicetuskan SEBELUM Undang-Undang tersebut keluar.

    Tanggapan Jokowi
    Jokowi menganggap bahwa Prabowo hanya mengambil visi-misi tersebut dari UU, bukan dari pemikiran pribadinya.

    Pemikiran
    Berulang kali Prabowo mengkontradiksi kalau memang sudah ada UU nya, dia tidak perlu lagi menyebut program 1 Milyar per daerah tersebut di dalam Pidato Pembukaan nya. Ini menunjukkan bahwa Prabowo memang sedang berkampanye, bukan sedang memaparkan visi dan misi. Jokowi memberikan pertanyaan yang sangat tepat.

  15. Pertanyaan Prabowo ke Jokowi: Kontrak Asing yang Merugikan Bangsa
    Jawaban Jokowi
    Jokowi menganggap bahwa kita harus menghormati kontrak-kontrak yang sudah ada untuk membangun kepercayaan untuk berinvestasi. Dia menambahkan tetapi ketika akan diperpanjang, kita harus lebih berhati-hati. Jokowi menegaskan pada intinya kita harus kembali kepada konstitusi bahwa bumi dan kekayaan alam adalah milik negara dan digunakan untuk rakyat.

    Pemikiran
    Saya merasa jawaban Jokowi bisa memberi kelegaan bagi investor asing yang sekarang ada di Indonesia. Karena kalau Jokowi berpendapat bahwa semua kontrak bisa dibatalkan, itu bisa memberikan impresi kalau dia hendak menasionalisasi semua perusahaan asing, seperti yang terjadi di Venezuela. Hal ini bisa menyebabkan kepanikan bagi investor asing.

    Pertanyaan Prabowo ini berusaha untuk memberikan buah simalakama untuk Jokowi. Jika dia jawab putuskan kontrak, maka akan membuat investor panik, tapi kalau tidak putuskan, makan nasionalisme Jokowi akan dipertanyakan.

    Tetapi Jokowi tidak terjebak dalam pertanyaan ini, karena beliau adalah seorang usahawan. Beliau tahu pentingnya suatu kontrak atau perjanjian antara dua pihak.

    Ketenangannya dalam menjawab dan kesimpulannya bahwa kita harus berbalik lagi kepada konstitusi untuk kontrak-kontrak ke depan adalah jawaban yang menenangkan dan tepat.

  16. Pemikiran Pidato Penutupan
    Atas Prabowo
    Pemikiran pertama, tentang ibu-ibu dan bapa-bapa yang bisa tidur, terus terang terlalu indah dan muluk. Hehehe. Prabowo berusaha meyakinkan bahwa dia akan bekerja untuk rakyat.

    Atas Jokowi
    Bekerja siang dan malam …Saya akan pegang janji itu yah pak kalau anda terpilih. Saya suka ketika beliau mengatakan bahwa dia akan tunduk pada konstitusi.

    Pemikiran akhir, saya merasa Jokowi lebih menguasai maslah ekonomi daripada Prabowo. Dengan latar belakan wirausahawan, saya merasa dia akan lebih tahu seluk beluk dunia perdagangan dan apa yang harus dilakukan agar bangsa kita bisa meningkat ekonominya.
    Prabowo lebih bergantung kepada informasi-informasi dari timnya, dan bahkan sekarang sudah ada pernyataan bahwa kebocoran 7000 triliun atau 1000 triliun itu adalah suatu angka yang tidak mungkin dan tidak pernah dikeluarkan oleh Ketua KPK.

    Jadi menurut kenetralan saya, Jokowi memenangkan debat ke 2 ini.

Jokowi-JK x Prabowo-Hatta : Pengamatan Debat I

52Capres 2014

Pemilihan Presiden Indonesia tinggal sebentar lagi. Kemarin tanggal 9 Juni, para calon Presiden dan Wakil melakukan perdebatan yang pertama. Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta saling berhadap-hadapan di depan publik untuk melakukan perdebatan dan pertukaran pikiran.

Ini adalah tanggapan saya sebagai orang yang gemar mengikuti politik, baik dari Amerika atau Indonesia. Bukan seorang ahli, tapi hanya seorang awam yang mengikuti berita dari internet. Sebelumnya sebagai informasi, untuk sementara saya tidak berpihak kepada calon yang manapun, jadi persepsi ini adalah dari sudut netral atau istilah Orbanya non-blok . Aspirasi politik saya lebih cenderung konservatif.

Paham konservatif percaya bahwa tugas utama negara bukan untuk mengkeloni rakyatnya, tetapi memberikan perlindungan keamanan, kepastian hukum, dan keadilan, dan menyediakan sarana dan infrastruktur bagi seluruh rakyatnya tanpa terkecuali, sehingga rakyat bisa menciptakan kesejahteraan nya sendiri. Negara adalah pelayan rakyat, bukan sebaliknya.
Saya juga percaya bahwa setiap Undang-Undang atau Peraturan yang dibuat di negeri ini, harus selalu di ukur dengan dasar negara kita, yaitu Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan UUD 45.

Kalau kita misalkan dalam pertandingan olah raga, saya memisalkan negara sebagai penyelenggara, dan tidak ikut bermain. Badan eksekutif adalah layaknya panitia penyelenggara, mereka yang berusaha ntuk membuat pertandingan berjalan mulus dengan menyediakan tempat, sarana dan prasarana. Badan legislatif bagaikan mereka yang membuat peraturan-peraturan permainan, mereka bisa terdiri dari para pemain dan panitia. Dan badan yudikatif adalah wasit dalam pertandingan. Merek alah yang menegakkan dan menjalankan peraturan. Negara tidak boleh menjadi pemain, karena bisa menciptakan ketidakseimbangan.

Jadi dalam menilai perdebatan ini, saya akan meninjau nya dari prinsip-prinsip pribadi saya, sehingga anda bisa saja setuju atau tidak. Sekali lagi, saya masih belum menentukan pilihan (walaupun dulu pernah diajak kakak saya untuk ikut BBM grup dari Jokowi — tapi saya sudah keluar).
Mari kita mulai :

  • Pembukaan : Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih, Dan Negara Hukum
  • Prabowo-Hatta : Menurut pendapat saya Prabowo berusaha memberikan impresi kepada masyarakat bahwa dia adalah pemimpin yang tegas. Mungkin dengan latar belakang militer, pidatonya bersifat tegas dan diberikan dengan intonasi-intonasi yang bersemangat. Sedangkan Hatta lebih kalem, kebapakan, dan politikus profesional. Hatta benar-benar menunjukkan bahwa dia seorang intelektual dan seorang politikus handal. Setiap kata-kata sepertinya sudah dipersiapkan dan dipikirkan dengan matang. Ditambah juga dengan kesamaan nama, sepertinya salah satu strategi Prabowo-Hatta adalah berusaha menghubungkan pemikiran masyarakat dengan Soekarno-Hatta. Presiden Soekarno, yang Orator yang luar biasa dan Mohammad Hatta adalah seorang intelektual yang kalem.
    Pakaian yang dikenakan pun senalar dengan pakaian Soekarno ketika membacakan proklamasi. Jas lengan panjang putih dan peci hitam.

    Jokowi-JK : Jokowi memberikan pidato yang tidak panjang. Gaya bicaranya benar-benar sederhana dan kadang mengayun-ayun. Isi dari pidatonya berusaha untuk meyakinkan rakyat kalau mereka tidak akan hanya berteori, tetapi juga sudah dan akan melaksanakannya.

    Sedangkan, JK sangat kental dengan dialek Bugisnya. Beberapa kata-kata tidak diucapkan dengan baik dan tepat. Keduanya tidak berusaha menunjukkan kesan elitist. Kata-kata yang digunakan pun tidak terlalu rumit dan susah. Dia berpendapat kepastian hukum bisa terjadi ketika pemimpin melakukannya.

    Pemikiran Tentang Pembukaan : Kalau anda memilih Presiden berdasarkan gaya pidato , maka Prabowo-Hatta adalah pilihan anda.
    Hatta dan JK berbicara tentang kepastian hukum, tetapi sepertinya ironis. Hatta dengan kasus anaknya, dan JK dengan kemelut di Maluku yang berlangsung selama 3 tahun dalam masa-nya menjadi Wakil Presiden.

    Menurut saya pidato pembukaan memperlihatkan segelintir dari sifat dan bagaimana ke dua kubu ini akan berkampanye. Prabowo-Hatta berusaha MENUNJUKKAN rakyat, sedangkan Jokowi-JK berusaha BERHUBUNGAN dengan rakyat.

  • Pertanyaan 1: Penerusan Pembangunan
  • Pemikiran tentang jawaban Jokowi-JK : Menurut saya Jokowi-JK mempresentasikan pendapat yang baik. JK menekankan pentingnya pembangunan daerah yang dipimpin oleh daerah, bukan pusat, sedangkan Jokowi memvisikan suatu e-government agar pembangunan bisa terkoordinasi dan berkesinambungan dan salah satu jawabannya benar-benar tepat sasaran ketika dia menekankan bahwa kelemahan pembangunan di Indonesia adalah masalah PENGAWASAN.

    Memang benar di negara kita sebenarnya sudah banyak rencana-rencana yang bagus, tetapi ketika dalam pelaksanaan selalu tidak terjadi sepenuhnya. Saya merasa ini dikarenakan tidak adanya pengawasan yang ketat dan lebih lagi tidak ada suatu blueprint pembangunan yang jelas. Jokowi-JK memberikan jawaban yang tepat akan hal ini. E-government yang dikemukakan Jokowi adalah suatu ide yang luar biasa dan cemerlang. Tapi ini berarti, Indonesia akan membutuhkan infrastruktur dan pembangunan serta perluasan jaringan Internet. KALAU Jokowi memilih MenKomInfo yang sama dengan yang kita punya sekarang, E-Government akan menjadi sekadar impian belaka dan ide kosong.

    Moga saja kalau terpilih dapat dilaksanakan dengan baik, terutama memberikan wewenang lebih kepada daerah untuk memimpin pembangunan daerahnya sendiri tanpa campur tangan pusat yang terlalu berlebihan.

  • Pertanyaan 2 : Menegakkan Integritas Hukum
  • Prabowo-Hatta : Prabowo berusaha berargumentasi bahwa integritas hukum di Indonesia gagal karena para penegak hukum tidak digaji dengan baik. Sedangkan Hatta, menyatakan salah satu langkah kongkrit akan penegakan hukum adalah dengan memperluas otoritas KPK.

    Pemikiran Tentang Jawaban Prabowo-Hatta : Saya rasa gaji memang suatu faktor, tetapi bukan penentu utama. Buktinya, para koruptor kebayakan adalah BUKAN orang miskin. Beliau memisalkan gaji Bupati 8 juta dan biaya kampanye untuk menjadi Bupati adalah 15 Miliar. Dengan argumen beliau, apakah negara harus menggaji mereka setara dengan pengeluaran mereka ketika berkampanye ? Akankah itu akan sangat memberatkan ?

    Penilaian saya menaikkan gaji harus terjadi SETELAH perbaikan moral dan karakter, kalau tidak kita hanya akan menaikkan gaji untuk para kriminal.
    KPK memang harus diperkuat, tetapi yang harus diperkuat lebih lagi adalah lembaga YUDIKATIF kita. KPK tidak bisa berbuat banyak kalau hakim menjadi rusak. KPK juga haru ada di setiap provinsi.
    Menurut saya Prabowo tidak memberi jawaban yang memuaskan. Saya merasa jawaban-nya adalah pesan terselubung yang ditujukan untuk menarik suara dari para pegawai negeri dengan iming-iming untuk kenaikan gaji. Jumlah pegawai negeri sipil di Indonesia adalah sekitar 4,5 juta.

  • Pertanyaan 3: Biaya Demokrasi Yang Mahal dan Pembagian Kekuasaan Bagi Partai-Partai Koalisi yang Menang
  • Prabowo-Hatta : Prabowo menganggap bahwa tidak ada pengikut yang jelek, yang ada adalah pemimpin yang jelek. Tapi tidak memberikan jawaban yang gamblang. DI lain pihak Hatta lebih memberikan jawaban yang lebih jelas, dengan memberi contoh tentang pemilihan Presiden langsung, dan akan memilih menteri sesuai dengan keahlian bukan karena partai.
    Jokowi-JK:Jokowi memberikan jawaban dengan contoh yang dilakukan partainya, yaitu mengajukan dia sebagai calon Presiden walaupun dia bukan ketua Partai. Jokowi juga mencontohkan cara kampanye kubunya yang mengutamakan pendanaan dari rakyat grassroot . JK menambahkan karena tidak adanya perjanjian untuk membagi kekuasaan, maka biaya kampanye bisa ditekan. Jokowi menekankan sekali lagi kalau praktek partainya dengan mengajukan dia dan JK sebagai calon adalah hal yang terbaru, karena biasanya calon presiden dan wakil adalah ketua partai.

    Pemikiran Tentang Jawaban : Menurut saya Jokowi-JK lebih memberikan jawaban berdasarkan apa yang telah dilakukan.
    Tapi saya kurang yakin kalau tidak akan ada pembagian kekuasaan kalau mereka terpilih. Sudah menjadi rahasia umum ketika ada koalisi, pasti akan ada janji tentang pembagian kekuasaan dan hal itu pasti akan terjadi.
    Apalagi saya masih ragu apakah pencalonan Jokowi adalah keinginannya sendiri ATAU keinginan Megawati untuk menyelamatkan Partainya yang lagi kembang kempis ? Memang dia mungkin tidak mau mengikuti keinginan partai lain, tapi kalau keinginan partai PDIP bagaiamana ?

    Saya berpendapat kalau masing-masing kubu bisa menunjukkan kepada rakyat siapa calon-calon menteri yang akan mereka tunjuk kalau mereka terpilih, maka rakyat bisa menilai apa benar mereka tidak menjanjikan pembagian kekuasaan dan menunjuk berdasarkan keahlian.

  • Pertanyaan 4: Kerangka Hukum Untuk Membangun Bhinneka Tunggal Ika
  • Jokowi-JK : Kedua kandidat memberikan contoh dari pengalaman mereka, Jokowi memberi contoh tentang Lurah Susan dan JK memberi contoh tentang perdamaian Polo.

    Prabowo-Hatta : Prabowo memberikan contohnya di mana dia membela Ahok, seorang ras dan agama minoritas. Prabowo menekankan bahwa pendidikan dan keteladanan dari pemimpin adalah suatu keharusan. Dia menjelaskan bahwa hukum sudah ada, hanya pelaksanaan yang haru dilakukan dengan tegas. Hatta menggunakan kata-kata yang luar biasa untuk menjelaskan posisinya.

    Pemikiran Tentang Jawaban : Sejujurnya saya merasa ragu akan komitmen ke dua kandidat akan ke Bhinneka Tunggal Ika-an. Seberapa tegasnya mereka akan menindak orang-orang ekstrim yang berusaha merusak pluralisme.

    Dalam peristiwa Lurah Susan, Jokowi tidak memberikan pernyataan-pernyataan yang tegas. Pada waktu itu Ahok yang lebih tegas dan lantang dalam membela Lurah Susan. Saya khawatir ketika menghadapi rongrongan golongan-golongan ekstrim seperti FPI, Jokowi akan bertindak seperti SBY, tidak memberikan kepastian dan ketegasan yang dapat menenangkan suasana.

    Di pihak lain Prabowo dengan pernyataannya untuk merangkul FPI dan tidak menolak dukungan ketua FPI dari DIY, membuat saya benar-benar mempertanyakan komitmennya. Kalau memang Prabowo tegas dan menjaga integritasnya untuk menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika, maka beliau harus menolak segala dukungan dari FPI. Karena FPI jelas-jelas menolak pluralisme.

    Bhinneka Tunggal Ika dapat tetap utuh, KALAU pemimpin kita memberikan ketegasan disertai dengan tindakan yang konsisten ketika suatu organisasi sudah berkali-kali melanggar hukum dan menggunakan kekerasan. Tidak boleh sekali-kali memberikan pembenaran atau alasan terhadap sifat anarkis, karena hal itu akan memberikan ketidakpastian hukum.

    Menurut saya kedua kubu belum dapat meyakinkan saya akan komitmen mereka untuk tidak hanya menghukum, tetapi MENCEGAH segala tindakan anarki yang berbau SARA, karena keduanya masih mau mengambil hati dari organisasi-organisasi ekstrim seperti FPI.

  • Pertanyaan Prabowo-Hatta ke Jokowi-JK : Tanggapan atas Biaya Pemilihan Langsung Pilkada adalah 13 Trilliun, kalau Pemilihan lewat DPRD bisa hemat, dan Pemekaran Daerah
  • Jokowi-Hatta : Jokowi beranggapan bahwa pemilihan langsung tidak akan dirubah, dan soal biaya dapat ditekan dengan cara melaksanakan Pemilihan Langsung serentak. Demikian juga dengan Pemekaran daerah, dia setuju dengan berbagai macam syarat dan bisa diturunkan status daerah jika tidak mampu. JK menambahkan kalau semuanya harus kembali lagi ke UUD 45.

    Balasan Prabowo-Hatta : Jawaban Prabowo-Hatta pada garis besarnya sama dengan jawaban Jokowi-JK. Tidak ada yang berbeda.

    Pemikiran :: Sepertinya ini blunder bagi Prabowo-Hatta. Ketika mengajukan pertanyaan tersebut, Prabowo menganggap bahwa Jokowi akan memberi jawaban yang bertentangan dengan pemikiran kubunya. Namun nyatanya, Jokowi masih setuju dengan Pemilihan Langsung malah menjelaskan lebih jauh lagi tentang idenya untuk menekan biaya. Bagi saya pertanyaan ini malah menguntungkan Jokowi-JK, karena pada akhirnya Prabowo-Hatta malah sependapat dengan mereka. Ini benar-benar salah strategi, mereka tidak mengajukan pertanyaan yang bisa membedakan ke dua kubu, tapi malah sependapat dengan lawannya. Hatta berusaha untuk menyelamatkan sesi ini bagi Prabowo, dengan berusaha menjelaskan lagi posisi mereka. Tetapi terus terang kesannya malah lebih menjelaskan jawaban Jokowi-JK. Salah strategi.

  • Pertanyaan Jokowi-JK ke Prabowo-Hatta :
  • Bagaimana Mengatasi Pelanggaran HAM dan Diskriminasi

    Balasan Prabowo-Hatta: Prabowo menganggap pertanyaan JK adalah sebagai sindiran kepada pribadinya. Isu-isu bahwa Prabowo terlibat dalam peristiwa 98 dan pelanggaran HAM masih belum terjelaskan. Prabowo sebagai mantan militer, segera menjawab dengan tegas dan semangat yang tinggi, bahwa sebagai tentara, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan atasannya. Dia yakin bahwa apa yang dilakukannya adalah demi keamanan negara pada waktu itu. Hatta mencoba menjawab masalah diskriminasi secara teoritis bahwa tidak boleh terjadi diskriminasi hukum kepada siapapun juga.

    Pemikiran : Dalam hal ini JK sepertinya berusaha menyerang Prabowo secara pribadi. Walaupun dalam bentuk pertanyaan, tetapi ada tersirat sindiran yang tajam. Menurut saya jawaban Prabowo sangat tegas dan tidak berbelit-belit. Dia menjelaskan bahwa waktu itu sebagai seorang tentara, dia memegang tinggi keamanan negara dan menjalankan tugasnya. Sesulit apapun, pilihan antara keamanan negara atau lainnya, keamanan negara adalah terdahulu. Lebih lagi, Prabowo balik menantang JK untuk bertanya pada atasannya pada tahun 98, dan atasannya adalah Wiranto. Wiranto adalah pendukung Jokowi-JK. Secara tak langsung, Prabowo balik menyindir JK, secara tersirat dia berkata kalau anda menuduh saya melanggar HAM, sedangkan saya hanya seorang prajurit yang diberi tugas oleh atasan, berarti anda secara tidak langsung menuduh pendukung anda pelanggar HAM.

    Jokowi berusaha mendinginkan suasana dan mengalihkan perhatian ke topik diskriminasi, tetapi bagi saya sesi ini dimenangkan Prabowo-Hatta. Menyerang dengan sindiran dan menyerang pribadi lawan adalah suatu hal yang tidak perlu dalam perdebatan soal misi dan visi.

  • Pertanyaan : Langkah Konkrit Untuk Mengefisienkan Pemerintahan
  • Prabowo-Hatta : Prabowo menjelaskan bahwa semuanya harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan Pangan, diikuti dengan Energi, Infrastruktur, dan Perubahan Birokrasi. Dia juga menekankan untuk menampung opini rakyat. Hatta menambahkan penjelasan yang lebih mendalam tentang reformasi birokrasi

    Jokowi-JK : Jokowi memaparkan rencananya untuk mengontrol pembangunan daerah agar sejalan dengan pusat dengan cara pengontrolan melalui anggaran. Dia juga memaparkan agar semua pembangunan terkoordinasi di Sekertariat Negara. Dan dalam hal mengurangi birokrasi, beliau sekali lagi menekankan system e-government. JK hanya menambahkan bahwa pemimpin harus bisa meyakinkan rakyat.

    Pemikiran : Ketika Prabowo memberikan jawaban bahwa ketahanan Pangan adalah yang utama, itu mengingatkan saya kembali waktu jaman Orba ketika saya masih sekolah. Di sekolah selalu digambar-gemborkan swasembada pangan. Bagi saya itu jawaban standard dan terus terang sangat masuk akal. Ketersediaan bahan pangan akan membawa kestabilan negara.
    Sistem yang dipaparkan Jokowi bertentangan dengan yang dia ungkapkan sebelumnya. Pada awal perdebatan JK menekankan pentingnya daerah untuk memimpin dalam pembangunan daerahnya, sedangkan Jokowi mengisyaratkan bahwa daerah harus mengikuti kemauan pusat dalam pembangunan. Ini jelas-jelas dua hal yang bertentangan. Dan lagi Jokowi menginginkan agar segala sesuatunya harus melalui SekNeg agar setiap hukum, rencana dan undang-undang bisa terkoordinasi dengan baik, tetapi bukankah hal ini malah bisa membuat birokrasi yang lebih lagi ?
    Reformasi Birokrasi memang sangat diperlukan oleh negara kita. Tetapi kedua kubu bagi saya memberikan jawaban yang tidak bisa memecahkan masalah ini. Karena pada dasarnya kedua kubu sangat menjunjung asas centralized governing. Menurut saya, tidak mungkin birokrasi bisa dituntaskan kalau Pemerintah Pusat adalah pemain utama. Pemerintah selalu identik dengan birokrasi. Tujuan Pemerintah Pusat selayaknya bukan mengkeloni daerah, tetapi haru memberdayakan daerah. Tujuan pembangunan bukan agar Pemerintah Pusat makin besar dan jaya, tapi sebaliknya daerah bisa BERDIRI SENDIRI dan MENCUKUPI KEBUTUHANNYA SENDIRI.

  • Pidato Penutupan
  • Pemikiran: Kesan saya terhadap pidato penutupan masing-masing kubu, Jokowi-JK mengajak rakyat untuk melihat apa yang telah mereka buat selama karir politiknya, strategi yang sama ketika Jokowi berkampanye untuk Gubernur Jakarta.

    Sedangkan Prabowo-Hatta berusaha meyakinkan rakyat kalau mereka bisa dan mampu untuk memimpin. Politikus profesional adalah kesan yang terpancar dari keduanya.

Harapan Debat Berikutnya

  1. Membicarakan rencana susunan kabinet mereka. Siapa orang-orang yang akan dipilih. Seorang Pemimpin yang baik sekalipun, tanpa orang-orang yang baik, jujur, dan handal akan sia-sia. Ini juga biar masyarakat bisa menilai apakah nanti kabinetnya akan sarat dengan kepentingan partai.
  2. Memberi tanggapan akan kasu-kasus yang terjadi di masyarakat. Seperti contoh, kasus Mengganti Agama. Pasal 29 menjamin orang untuk memeluk agama, tetapi apakah itu juga melindungi orang yang mengganti agamanya ?
  3. Memebri jawaban apa yang akan dilakukan terhadap organisasi-organsisasi EKSTRIM, seperti FPI