Category Archives: Sains

Bahkan Ateis-pun Secara Intuitif Percaya Akan Adanya Pencipta

MTMwNzgzNTIyNjE2MDIyMjkw
Oleh TOM JACOBS

Penelitian baru menunjukkan melihat alam sebagai sengaja diciptakan adalah pengaturan default kita.

Sejak Darwin mengungkapkan teorinya, secara bertahap bukti-bukti menumpuk untuk menolak pemikiran bahwa alam adalah produk dari seorang tuhan atau sebuah pencipta lainnya. Namun keyakinan ini tetap nyata bersarang di otak manusia.

Betapa yakin-nya adalah subjek dari penelitian yang baru saja diterbitkan, yang mana menemukan bahwa, meskipun mereka yang menamakan dirinya Ateis, secara naluriah, memikir bahwa fenomena alam adalah sesuatu yang sengaja diciptakan.

Temuan tersebut “menunjukkan bahwa ada kecenderungan alami yang sangat berakar untuk melihat bahwa alam semesta adalah hasil suatu perancangan,” tulis tim riset yang dipimpin oleh Elisa Järnefelt dari Newman University. Mereka juga memberikan bukti bahwa, dalam kata-kata para peneliti, “agama tanpa-keyakinan (ateis) adalah suatu pandangan yang harus diusahakan. ”

Dalam jurnal Cognition, Järnefelt dan rekan-rekannya menjelaskan tiga studi yang dilakukan di Universitas Boston, yang pertama melibatkan 352 orang dewasa di Amerika Utara direkrut secara online. Semua peserta ditampilkan serangkaian 120 foto, termasuk pemandangan alam dan artefak buatan manusia.

Mereka diinstruksikan untuk menilai apakah “benda dalam foto tersebut adalah sengaja dirancang oleh sesuatu” dengan menekan tombol yang ditunjuk “ya” atau “tidak.” Kira-kira setengah dari peserta melakukannya di bawah “kondisi cepat”, di mana mereka hanya mempunyai waktu tidak lebih dari 865 milidetik untuk menanggapi setiap foto.

Tidak mengherankan, para peneliti menemukan bahwa “peserta yang beragama” mempunyai kecenderungan dasar untuk menganggap alam sebagai hasil ciptaan lebih tinggi daripada rekan-rekan mereka yang tidak beragama. Lebih penting lagi, merek juga menemukan bahwa peserta yang tidak beragama “sangat umum untuk mengidentifikasikan fenomena alami sebagai sengaja dibuat/hasil ciptaan” ketika “mereka tidak mempunyai cukup waktu untuk menyensor pemikiran mereka. ”

Hasil penelitian menunjukkan bahwa “kecenderungan untuk menafsirkan makhluk hidup dan alam sekeliling-nya sebagai suatu hasil rancangan didapat dari proses kognitif otomatis/alami, bukan karena secara eksplisit mempunyai agama/keyakinan.”

Studi kedua menggunakan prosedur yang sama seperti yang pertama, tetapi peserta melibatkan 148 orang dewasa di Amerika Utara “yang direkrut melalui daftar e-mail dari organisasi ateis dan asosiasi non-agama lain.”

Hasil mencerminkan hasil-hasil dari studi pertama, bahwa “dalam kondisi yang tergesa-gesa (secara naluri), ketika menilai alam sekeliling nya, ateis mempunyai tendensi untuk menganggap alam adalah hasil ciptaan dari suatu makhluk bukan manusia .”

Studi ketiga atas orang-orang non-religius dari Finlandia, sebuah negara di mana ateisme “bukan masalah, dan di mana budaya ketuhanan tidak sekental seperti di AS” menghasilkan hasil yang sama.

“Intuisi akan adanya Pencipta tertanam sangat dalam,” para peneliti menyimpulkan, “Bahkan tidak mengendur dalam mereka yang tidak memiliki komitmen agama secara eksplisit dan, bahkan, di antara mereka yang berusaha menolak agama secara aktif.”

Jadi “ateis yang sejati mungkin sangat jarang di antara orang dewasa, berbeda anggapan sebelumnya,” s Järnefelt dan rekan-rekannya menjelaskannya. Hal ini, menurut mereka, membantu menjelaskan mengapa begitu banyak orang salah paham akan teori evolusi.

Kita cenderung untuk menyerap ” informasi ilmiah yang baru dipelajari” ke dalam sistem kepercayaan yang sudah ada, para peneliti mencatat. Dalam hal ini, pemikiran sintesis tersebut menuju pada gagasan yang keliru bahwa seleksi alam (natural selection) adalah “hasil rancangan yang setengah-sengaja oleh suatu kekuatan yang memberikan hewan ciri-ciri fungsional yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup. ”

Jadi anggota gerakan ateisme baru tidak perlu terlalu sombong bahwa ide-ide mereka akhirnya akan menang. Dan pendidik sains yang mencoba untuk menanamkan dasar-dasar teori evolusi harus menemukan cara untuk melakukannya, sambil menyadari kecenderungan naluriah siswa mereka untuk menanggap adanya suatu pencipta.

Di adaptasi dari
http://www.psmag.com/nature-and-technology/even-atheists-intuitively-believe-in-a-creator