Engkau Telah Membunuh si Pencipta Kehidupan ( Mempersiapkan Jumat Agung )

Good-Friday-Wallpaper-06
oleh Tony Reinke

Dosa di Eden telah membuat semua ciptaan menjadi kacau. Dosa di Babel menandai kesombongan seluruh umat manusia. Dan sementara setiap dosa adalah tindakan penolakan terhadap Tuhan, kejahatan manusia mencapai tingkat yang baru dalam peristiwa mengerikan Jumat Agung.

Pekan Suci membuat kita tidak nyaman. Ada hidup yang penuh kemuliaan dan kemenangan beberapa hari yang akan datang pada hari Minggu Paskah, tapi untuk sampai ke sana kita tidak dapat menghindari dan harus melewati kegelapan Jumat Agung. Kita harus memperingati hari di mana kebencian manusia melewati batas dan mencapai tingkat kekejaman yang sebelumnya tak terbandingi. Si Mesias, si Raja, yang datang untuk menyelamatkan umat manusia, terpaku di pohon yang terkutuk dan dibiarkan mati.

Tidak ada pembelaan untuk pengkhianatan semesta seperti itu.

Pantasnya, pada hari Jumat Agung jari bersalah dan celaan tertunjuk di iga kemanusiaan :

  • “… Yesus, yang kamu salibkan… ” ( Kisah Para Rasul 2:36)
  • “… Kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh sebagai hadiahmu, Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh …” ( Kisah Para Rasul 3:14-15 )
  • “… yang kamu salibkan… ” ( Kisah Para Rasul 4:10)
  • ” … yang kamu gantungkan pada kayu salib dan kamu bunuh …” ( Kisah Para Rasul 5:30)

Manusia tidak pernah menimpakan tuduhan atas dirinya sendiri seperti yang terjadi pada Jumat Agung. Penggalan kalimat sederhana ini – ‘engkau membunuh’ – menembus melalui semua pembelaan yang sia-sia. Suatu konspirasi untuk membunuh Tuhan yang juga manusia, dan keberhasilan dalam plot jahat tersebut telah menodai tangan kita dengan darah-Nya Tuhan sendiri, darah di tangan kelicikan orang beragama dan persetujuan orang kafir.

Inilah sebabnya mengapa Jumat Agung adalah dosa yang paling mengerikan yang pernah disaksikan dunia( Sibbes ). Lebih mengerikan daripada kesombongan menara Babel. Jika pernah ada alasan bagi Tuhan untuk menghujani kemurkaan atas dunia, dan membanjiri lagi seluruh dunia atas nama keadilan, tidak ada saat yang lebih tepat selain pembantaian brutal Anak-Nya yang terkasih.

Dalam khotbah Jumat Agung tahun 1928, Dietrich Bonhoeffer memaparkan tragedi semesta ini seperti tiga paku besi dingin yang menusuk saraf-saraf pergelangan tangan dan kaki umat manusia.


    Jumat Agung bukanlah seperti kegelapan yang harusnya menghasilkan cahaya. Bukan seperti tidur panjang musim dingin yang mengandung dan memelihara benih kehidupan di dalamnya. Ini adalah hari di mana para manusia yang ingin menjadi seperti tuhan – membunuh Allah yang menjadi manusia, kasih yang menjadi orang ; hari di mana Yang Kudus dari Allah, yaitu, Allah sendiri, mati, benar-benar mati – secara sukarela dan pula karena dosa manusia – tanpa benih kehidupan yang tersisa dalam diri-Nya sedemikian rupa sehingga kematian Tuhan mungkin seumpama tidur.

    Jumat Agung bukan, seperti musim dingin, sekedar tahap transisi – bukan, itu benar-benar suatu keakhiran, keakhiran dari putusan bersalah atas manusia dan penghakiman terakhir yang manusia telah jatuhkan pada dirinya sendiri….

    Jika kisah Tuhan di tengah-tengah manusia berakhir pada hari Jumat Agung, maka pernyataan akhir atas umat manusia aadalah putusan bersalah, pemberontakan, kekuatan raksasa manusia yang tak terkekang, sebuah penyerbuan surgawi oleh manusia, kefasikan, pengabaian Tuhan, yang ujungnya diakhiri dengan kesia-siaan dan keputus asaan. Sehingga iman kita adalah sia-sia. Sehingga kita masih bersalah. Sehingga kita yang paling malang dari semuanya. Pada akhirnya, kata terakhir tergantung pada manusia.

Ini adalah ingatan yang mengerikan. Jumat Agung menuntut kita.

Manusia, dengan khayalan angkuhnya untuk menjadi seperti tuhan, telah membunuh Tuhan yang juga manusia dengan dua cara, membunuh secara sengaja dan secara menyedihkan membiarkannya terjadi. Dan dalam kejahatan ini, Bonhoeffer terus menjelaskan, segala sesuatu yang lainnya telah dibuat sia-sia. Semua budaya kita, semua daya seni kita, semua pembelajaran kita, semua harapan kita, telah datang ke sebuah akhir yang tak berarti sewaktu kita bertanggung jawab atas pembunuhan Anak Allah yang tunggal.

Puji Tuhan,kisah-Nya bukan berakhir di sini, tetapi Jumat Agung menuntut kita untuk membayangkan jika itu yang terjadi. Bagaimana jika kisah-Nya berakhir di kayu salib ? Bagaimana jika dosa manusia yang menolak Tuhan membawa keputusasaan untuk kehidupan sekarang dan tidak jauh dari kutukan keputusasaan untuk selamanya?

Kata-kata tuduhan ilahi menusuk iga kemanusiaan :

Engkau telah mengelilingi Nya dengan kebencian yang tak beralasan dan kebohongan yang kejam ( Mazmur 69:5 ).
Engkau mengerumuni-Nya seperti anjing-anjing yang kelaparan ( Mazmur 22:17).
Engkau telah menjebak Anak yang dikasihi-Nya ( Markus 12:1-9 ).
Engkau telah membunuh si Pencipta Kehidupan ( Kisah Para Rasul 3:15).

Biarkan kata-kata keras ini menyengat selagi kita renungkan bersama sejenak betapa kebodohan dan betapa kedunguan dan betapa kebebalan dan betapa kejahatan hati manusia telah mengantarkannya sampai pada saat itu dalam sejarah manusia – hari paling gelap dari manusia, puncak dari kebodohan manusia, situasi yang sangat penuh dengan keputus asaan seakan sejarah manusia tampaknya telah sampai pada akhir nya. Sekarang apa yang bisa kita harapkan untuk masa depan selain keputus asaan yang kekal dan kebinasaan selamanya ?

Tetapi manusia berdosa bukan jawaban yang paling akhir. Sungguh pantas doa Kristus ketika hampir mati – Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” ( Lukas 23:34).

Sebagai umat manusia kita jarang memahami apa yang kita telah lakukan, apa yang telah kita lepaskan dengan kedunguan yang durjana.

Diterjemahkan dari situs : http://www.desiringgod.org/blog/posts/you-killed-the-author-of-life-preparing-for-good-friday

Leave a Reply

Post Navigation