Flu Burung H5N1 Yang Mematikan Hanya Butuh 5 Mutasi Untuk Menyebar Pada Manusia Dengan Mudah

download
Oleh Monte Morin

Suatu jenis virus flu yang sangat mematikan sampai-sampai para ilmuwan pernah menghentikan penelitian tentang penyakit tersebut karena pemerintah takut kemungkinan akan digunakan oleh teroris untuk melancarkan serangan biologis.

Namun meskipun fakta bahwa flu burung H5N1 telah menewaskan 60 % dari 650 manusia yang diketahui terinfeksi sejak diidentifikasi di Hong Kong 17 tahun yang lalu, virus ” flu burung ” tersebut belum berevolusi untuk menjangkiti orang-orang dengan mudah.

Sekarang para peneliti Belanda telah menemukan bahwa virus tersebut hanya membutuhkan lima mutasi gen yang menguntungkan-nya agar bisa menular melalui batuk atau bersin, seperti virus flu biasa.

Pejabat kesehatan dunia telah lama khawatir bahwa virus H5N1 suatu hari nanti akan berevolusi kemampuan penularan lewat udara, berakibat pandemi yang menghacurkan. Sementara studi terbaru menunjukkan mutasi yang diperlukan relatif sedikit, masih belum jelas apakah hal itu mungkin terjadi di luar laboratorium.

” Hal ini tentu tidak berarti bahwa H5N1 sekarang lebih mungkin untuk menyebabkan pandemi, ” kata Ron Fouchier, seorang ahli virus di Erasmus University Medical Center di Rotterdam, Belanda, dan rekan penulis penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Cell. ” Tapi itu berarti bahwa kita tidak boleh mengesampingkan kemungkinan bahwa hal itu mungkin terjadi. ”

Seperti banyak penelitian influenza lainnya, para ilmuwan menggunakan musang sebagai pengganti manusia, karena sistem kekebalan tubuh mereka memberikan respon yang sama terhadap penyakit tersebut.

Penelitian sebelumnya telah menetapkan bahwa H5N1 bisa menulari musang jika virus itu telah melewati berbagai suksesi hewan, yang akhirnya memaksa virus tersebut mempercepat evolusinya. Dalam percobaan tersebut, Fouchier dan rekan-rekannya menemukan bahwa virus baru yang bisa menular ini telah menghimpun sembilan atau lebih mutasi.

Dalam studi baru, para penulis memutuskan untuk menentukan jumlah minimum mutasi yang diperlukan untuk penularan lewat udara.

Untuk melakukan hal ini, para peneliti mengambil strain dari virus yang sebelumnya telah menginfeksi manusia dan mengubah gen-nya di laboratorium. Kemudian mereka menyemprotkan virus yang sudah dimodifikasi ini ke hidung musang dan binatang ditempatkan di dalam kandang yang didesain khusus dengan musang kedua yang belum pernah terkena virus.

Tata letak kandang mencegah kontak langsung antara musang, tetapi memungkinkan mereka untuk berbagi aliran udara. Ketika musang sehat menunjukkan gejala-gejala flu – bulu teracak-acak, kehilangan nafsu makan dan kekurangan energi – para peneliti tahu virus telah menyebar melalui udara.
Dengan mengekspos musang dan sampel tubuh manusia dengan berbagai virus yang telah dimodifikasi secara genetika, para penulis penelitian mengidentifikasi lima mutasi gen kunci.

Dua di antaranya meningkatkan kemampuan virus untuk menempel ke sel-sel di saluran pernafasan atas dari hewan. Sesampai di sana, mereka masuk ke dalam sel, melepaskan materi genetik dan menyebabkan sel untuk memproduksi klon dari virus secara besar-besaran.

” Mutasi lain meningkatkan stabilitas dari virus, ” kata Fouchier. ” Mutasi sisanya memungkinkan virus untuk berkembang biak lebih efisien. ”

Virus yang dimodifikasi itu jauh kurang mematikan daripada versi alami. Hanya dua dari musang dalam penelitian ini meninggal, tapi dua-duanya bukan karena flu.

Fouchier mengatakan, dia berpikir ini adalah karena virus menyerang sel-sel di saluran napas bagian atas, bukan dari saluran napas bagian bawah dan karena itu kurang cenderung menyebabkan pneumonia (radang paru-paru).

Para ahli virus yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan bahwa temuan ini penting, karena memberikan otoritas kesehatan suatu metode untuk membedakan apakah mutasi yang ditemukan di alam liar berbahaya bagi manusia.

” Ini adalah pekerjaan penting, ” kata Yoshihiro Kawaoka, seorang ahli virus di Universitas Wisconsin Sekolah Kedokteran Hewan. ” Ini bisa berkontribusi dalam pengawasan virus flu burung di alam. ”

Richard Webby, seorang ahli virus di Rumah Sakit Penelitian St Jude Children di Memphis, mengatakan bahwa meskipun penelitian ini memberikan poin-poin berharga akan ciri-ciri genetika yang perlu diawasi, pertanyaan yang paling penting bagi para ilmuwan dan pejabat kesehatan tetap tak terjawab.

” Misteri terbesar adalah apakah virus cenderung untuk mendapatkan mutasi-mutasi yang kritikal secara alami, ” kata Webby. ” Jika memang dapat muncul dengan mudah, maka sangat mengkhawatirkan. Jika tidak, maka masih ada rintangan utama yang harus dilalui virus ini agar bisa menulari manusia . ”

Fouchier, Kawaoka dan peneliti lainnya memicu suatu keresahan biosekuriti internasional pada tahun 2011 ketika mereka menunjukkan bahwa virus H5N1 bisa dibuat menular di antara musang. Sebagai hasil dari kontroversi, US National Science Advisory Board untuk Biosecurity meminta virologists untuk menghilangkan beberapa rincian dari pekerjaan mereka sebelum mempublikasikannya ke dalam jurnal Science dan Nature. Para ilmuwan menanggapinya dengan memberlakukan moratorium sementara pada penelitian mereka.

Juga, karena kekhawatiran pemerintah Belanda bahwa virus tersebut dapat dijadikan senjata, mereka berhasil menggugat Fouchier dan sekarang mengharuskan dia untuk mengajukan dan mendapatkan ” izin ekspor ” sebelum penerbitan studinya.

Fouchier, yang memperoleh izin tersebut untuk studinya di the Cell, mengatakan ia tidak berharap untuk menimbulkan jumlah kontroversi yang sama dengan penelitiannya yang lalu.

” Tentu saja, masih ada beberapa orang yang akan lebih suka bahwa jenis penelitian seperti ini dihentikan, ” kata Fouchier. ” Kami akan melanjutkan perdebatan dengan orang-orang ini, tapi kita harus menyadari bahwa tidak mungkin untuk mencapai konsensus global ada setiap hal – atau hal apapun”

Diadaptasi dari situs : http://www.latimes.com/science/sciencenow/la-sci-sn-bird-flu-five-mutations-20140410

Leave a Reply

Post Navigation