Generasi Yang Penuh Kecurigan

Pew-Millennial-Trust

Generasi Yang Penuh Kecurigan

Siapa “generasi Milenium ” ? Data baru dari dua organisasi peneliti sosial terkemuka di Amerika menyediakan jendela berharga ke dalam pemikiran dan pengalaman mereka. Sejauh ini, pembahasan tentang hasil dari penelitian ini telah berpusat pada keruntuhan yang menyedihkan atas pandangan tentang pernikahan, pekerjaan, dan praktik keagamaan di kalangan Milenium ( usia 18 sampai 29 ). Namun masalah sosial yang paling mengerikan adalah bahwa para Milenium tidak mempercayai tetangga atau orang-orang yang dekat dengan mereka. Pertanyaan terdalam tentang kebudayaan yang akan kita hadapi dalam generasi yang akan datang bukan apa yang harus kita lakukan tentang pekerjaan atau menjadi orang tua tunggal, tetapi apakah kita masih mampu mencintai atau mengasihi tetangga kita.

Kepastiannya, suatu keprihatinan yang besar para Milenium menjadi terputus dari sebagian besar struktur dasar peradaban manusia. Gallup melaporkan bahwa hanya 44 persen dari Milenium bekerja penuh waktu. Hal ini bukan karena beberapa dari mereka masih di sekolah atau mencari pekerjaan dan tidak bisa mendapatkannya. Namun sebagian besar dari mereka, para Milenium tersebut sengaja mengeluarkan dirinya dari pekerjaan. Hal ini merupakan suatu bencana kalau anda berpikir bahwa manusia dibuat untuk bekerja, di mana mereka dapat smenemukan martabat dan koherensi moral.

Apakah karena para Milenium menemukan kembali keindahan rumah tangga mereka ? Apakah karena ada jutaan ibu rumah tangga baru, yang bekerja keras di rumah tetapi tidak muncul dalam statistik ketenagakerjaan karena mereka didukung oleh pendapatan suami mereka ? Malahan sebaliknya, Pew Research Center melaporkan bahwa hanya 26 persen dari Milenium menikah di antara usia 18 dan 32. Itu dibandingkan dengan 36 persen untuk Generasi X, 48 persen untuk Baby Boomers, dan 65 persen untuk the Generasi Silent. Penurunan ketenagakerjaan dan penurunan pernikahan secara konsisten berjalan beriringan.

Naik turunnya partisipasi mereka dalam organisasi keagamaan juga berhubungan dengan tingkat hubungan mereka struktur-struktur lainnya, terutama hubungan dengan keluarga. Pew menemukan 29 persen dari Milenium menggambarkan diri mereka tidak berafiliasi dengan agama manapun. Sebagian besar orang-orang ini sebenarnya memiliki keyakinan agama dari satu jenis atau lainnya, tetapi mereka cenderung tidak melihat kegunaan dari “organisasi keagamaan” atau lembaga-lembaga gereja lokal.

Ahli pernikahan terkemuka Brad Wilcox bertanya, “Masalah apa yang mungkin terjadi? ” Kecenderungan ini menunjukkan periode masalah sosial yang berkesinambungan di kedepan hari. Orang-orang membutuhkan lembaga pekerjaan, keluarga, dan agama untuk menguatkan mereka dalam hubungan otentik dengan satu sama lain dan merencanakan kehidupan mereka. Allah adalah tiga pribadi dalam satu Tuhan, dan manusia diciptakan sesuai gambar-Nya- kesatuan dalam keragaman dan keragaman dalam kesatuan. Kami adalah individu yang berbeda, masing-masing dengan martabat sendiri, tetapi kita juga makhluk sosial. Kita saling membutuhkan.

Penurunan dari masyarakat yang beradab tidak hanya membuat kita dangkal dan menjadi individu yang egois; hal itu juga menghancurkan kebebasan dan martabat budaya kita. Dalam tradisi teologis Reformed, setidaknya sejak Herman Bavinck, empat domain terbesar dalam kehidupan sosial yang telah ditetapkan adalah keluarga, gereja, ekonomi, dan politik. Ketika institusi-institusi di tiga domain tersebut pelan-pelan menyusut, pemerintah harus menjadi lebih besar dan mengambil alih. Pemerintah mengambil alih fungsi dasar kehidupan kita dari buaian sampai liang kubur dan menempatkan dirinya sebagai pembentuk moral kehidupan manusia.
Kemerosotan Institusi-Institusi

Namun, data-data ini sebenarnya bukan informasi yang baru. Para ilmuwan sosial telah menyadari tren ini untuk beberapa waktu lamanya. Salah satu buku yang paling penting dari generasi ini adalah Charles Murray Coming Apart , yang merangkum data jangka panjang pada penurunan institusi pekerjaan, keluarga, agama, dan masyarakat.

Gangguan sosial utama adalah normal dalam kehidupan setiap peradaban. Kami telah memiliki satu atau dua dari mereka dalam sejarah Amerika. Angka kematian dari Perang Saudara mengklaim 2 persen dari penduduk AS pada saat itu; untuk saat ini itu setara dengan 6 juta orang tewas dalam periode empat tahun. Jumlah itu ditambah lagi dengan jutaan lagi yang mati karena penyakit, hancurnya kota-kota besar, dan lain sebagainya, jika kita memiliki sebuah bencana yang setara hari ini.

Ingat sejarah itu di dalam pikiran anda sebelum anda panik dengan rendahnya angka pernikahan. Kita telah melihat hal-hal yang lebih buruk. Murray pada umumnya pessimis, tetapi di akhir bukunya dia menyebutkan salah satu alasan untuk berharap adalah bahwa Amerika telah menghadapi banyak tantangan eksistensial sebelumnya, dan sepertinya selalu bangkit kembali di luar dugaan.

Kepercayaan Seperti Anak Kecil

Ketahanan Amerika selalu datang dari kemampuannya untuk mempersatukan orang-orang. Dalam buku lainnya, American Exceptionalism yang banyak dikritik dan dipuji, Murray menulis, keberhasilan budaya dan ekonomi secara historis dari negara ini dan yang belum pernah terjadi sebelumnya telah muncul sebagian besar karena kenyataan bahwa orang Amerika mempercayai satu sama lain :
Orang-orang menganggap bahwa orang asing yang mereka temui umumnya dapat dipercaya, bisa membantu, dan baik. Sikap ini telah penting bagi keberhasilan Amerika dan membingungkan bagi negara lain, yang secara historis telah heran dengan keterbukaan Amerika. Bagi mereka, orang Amerika seperti anak kecil dalam mempercayai itikad baik orang asing. Dalam setengah jam pertama setelah bertemu orang asing, orang Amerika cenderung untuk curhat hal-hal pribadi dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan pribadi yang mungkin memerlukan persahabatan bertahun-tahun sebelum diajukan, dibanding orang Eropa atau Asia.

Kepercayaan sosial ini telah menjadi fondasi dari semua kesuksesan historis kita : dalam politik, sebagai republik demokratis yang cukup stabil dan adil (dibanding negara lainnya) ; di bidang ekonomi, sebagai mesin dunia kewirausahaan dan pertumbuhan ; dalam keluarga, di mana rumah tangga Amerika dulunya begitu kuat sehingga pakar demokrasi Tocqueville mengatribusi hal itu sebagai penyebab kehebatan wanita-wanita kita; dan di atas semuanya itu, agama, di mana kita secara bersamaan menegakkan perlindungan kebebasan beragama yang seluas-luasnya dan mengembangkan salah satu kebudayaan kehidupan beragama yang menyeluruh di dunia.

Landasan kuat dalam kepercayaan sosial-lah yang memungkinkan kita untuk bangkit kembali dari bencana eksistensial. Abraham Lincoln melakukan semua yang dia bisa untuk melestarikan ikatan kepercayaan antara Utara dan Selatan bahkan ketika meriam-meriam dari Perang Saudara menembak di sekelilingnya. Tinjau kembali paragraf penutup dari kedua pidato pelantikan kepresidenannya:

Kita bukan musuh, tapi teman-teman. Kita tidak boleh menjadi musuh. Meskipun kemarahan telah menegang, tapi tidak harus memutuskan ikatan kasih sayang kita. Alunan mistik memori, membentang dari setiap medan perang dan makam pahlawan bagi setiap hati yang hidup dan dasar hati di seluruh negeri yang luas ini, akan bergelora nyanyian bersama akan KESATUAN, kembali lagi menyentuh, dan pasti akan terjadi, oleh para malaikat yang lebih baik dari kodrat kita. ( Pidato pelantikan Pertama, 1861 )

Tanpa kebencian terhadap siapapun, dengan amal untuk semua, dengan ketegasan dalam hak yang Tuhan berikan agar kita bisa melihat kebenaran, marilah kita berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada, membalut luka bangsa, untuk merawat mereka yang menderita akibat peperangan dan janda-janda mereka dan anak-anak yang ditinggalkan, untuk melakukan semuanya sehingga dapat mencapai dan menghargai perdamaian yang adil dan abadi di antara diri kita sendiri dan dengan semua bangsa-bangsa. ( Pidato pelantikan Kedua, 1865 )

Kemerosotan Yang Tajam

Itu adalah dulu, ini adalah sekarang. Murray menunjukkan data yang menunjukkan penurunan tajam kepercayaan sosial dari tahun 1970an sampai tahun 2000-an. Berikut data Pew menunjukkan cerita yang paling menggelisahkan. Mereka menunjukkan bahwa penurunan kepercayaan sosial ini makin dipercepat di kalangan Milenium.

Ketika ditanya “Apakah secara umum, kebanyakan orang bisa dipercaya, ” hanya 19 persen dari Milenium mengatakan “ya”. Itu dibandingkan dengan angka-angka rendah yang sudah mengkhawatirkan yaitu 31 persen untuk Generasi X, 40 persen untuk Baby Boomers, dan 37 persen untuk Generasi Silent. Kembali pada awal tahun 1970, respon positif pada pertanyaan tentang kepercayaan sosial cenderung mencapai hampir 60 persen, tergantung pada kelompok yang anda tanya.

Apakah ” alunan mistik memori ” dan ” ikatan kasih sayang ” masih mengikat kita sebagai orang ? Tidak akan ada pembangunan kembali institusi-institusi pekerjaan, keluarga, dan agama – tidak akan ada solusi yang efektif untuk ancaman sosial kita – kecuali kita yakin bahwa ” kita bukan musuh, tapi teman-teman”. Lincoln bisa mengucapkan kata-kata tersebut pada tahun 1861, namun karena berbagai alasan hanya sedikit yang bisa mengatakan hal yang sama hari ini.

Ada peran khusus bagi gereja dalam menghadapi tantangan ini. Sebuah keyakinan bahwa ” kita bukan musuh ” muncul sebagian dari keyakinan bahwa ” kita tidak boleh menjadi musuh-musuh “. Solusinya tidak sekedar menemukan cara-cara untuk mengetahui tetangga kita adalah orang-orang baik yang mempunyai nilai-nilai yang sama dengan kita dan ingin hidup rukun dengan kita. Kita juga harus menjangkau mereka yang berbeda dan membangun hubungan yang sedemikian rupa yang sebelumnya tidak ada. Singkatnya, kepercayaan sosial timbul tidak hanya karena kesadaran akan moral baik tetangga kita tetapi juga dari ” malaikat yang lebih baik dari kodrat kita” yang menggerakkan kita untuk membangun ikatan dengan mereka yang kita pandang sebagai orang asing atau pendatang.

Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai ” hospitality ” (keramah tamahan) di Perjanjian Baru Anda, adalah φιλοξενία (hospes), yang secara harafiah berarti “persahabatan dengan orang asing”. Kontribusi keKristenan dalam pembentukan lembaga-lembaga politik Amerika adalah sebuah cerita yang kompleks. Tetapi kontribusi φιλοξενία (hospes) Kristen untuk pembentukan budaya Amerika secara lebih umum adalah hampir sama pentingnya, atau malahan lebih.

Penurunan kepercayaan sosial adalah masalah terdalam dari wajah-wajah budaya kita. Kanker ketidakpercayaan akan menggerogoti semua rencana-rencana kita untuk menangani masalah-masalah politik, ekonomi, dan keluarga. Cepat atau lambat, budaya ini akan menyadari bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkannya jika tidak membangun kembali ikatan moral. Memperlihatkan dunia apa φιλοξενία (hospes) wujudnya, tidak hanya akan membantu kita untuk tetap beriman ketika kebudayaan kita menjadi lebih tak beriman; itu juga akan budaya kita menyadari kembali mengapa pentingnya untuk beriman.

Greg Forster ( PhD, Yale University) adalah editor Hang Together dan penulis enam buku, termasuk Joy for The World. Penulisan ilmiah dan populer -nya meliputi teologi, ekonomi, filsafat politik, dan kebijakan pendidikan.

Leave a Reply

Post Navigation