Irwan : Suami, Ayah, Gembala, Realtor, Restaurateur …

BC_3.5x2.eps

Irwan Ngadisastra adalah seorang gembala dan juga entrepreneur. Dia tinggal dengan istri dan 3 anak laki-lakinya di kota Kirkland, negara bagian Washington, Amerika Serikat. Kesibukan sehari-harinya diisi dengan memimpin Gereja Injil Sepenuh Internasional (GISI/IFGF) Seattle (www.ifgfseattle.org), menjadi agen real estate (www.seattleidealhomes.com), dan mengelola restaurant Indonesia-nya ‘Indo Café’(www.myindocafe.com). Kebangkitan.org mendapat kesempatan untuk mengajak beliau makan siang, sambil berbincang sejenak tentang Kristus, kesaksian hidupnya, keluarga, gereja, harapan dan usahanya.

K (Kebangkitan.org): Saya sudah sering mendengar khotbah anda tentang pertobatan anda. Bisa tidak menceritakan sedikit keadaa anda sebelum bertobat

IN (Irwan Ngadisastra): Saya datang dari latar belakang dan keluarga Budha. Tapi pada dasarnya saya lebih cenderung atheis. Orang tua saya mungkin beragama Budha, tetapi saya sendiri tidak pernah memikirkan tentang Tuhan. Saya pindah ke Singapur waktu umur 8 atau 9 tahun. Di sana saya sendirian dan tidak bersama orang tua. Jadi lingkungannya tidak terlalu safe. Karena itu, saya memutuskan untuk ikut dalam geng. Jadi anggota geng, karena saya butuh perlindungan, dan tidak mau di-bully. Pada awalnya, semuanya baik sih. Tapi karena anggota yang lain sudah lebih tua, maka saya mulai ikut-ikutan merokok, cobaan marijuana, alkohol dan going clubbing. Malah ada suatu saat hampir masuk ke prostitusi … tapi pada saat itu masih ada rasa takut kena sakit AIDS. Jadi tidak jadi …

K : Wow … mungkin tidak ada yang bisa nyangka kalau melihat anda sekarang yah apalagi sudah berkeluarga dengan 3 anak.

IN : Hahaha … pastinya sih yah … hahaha waktu itu saya juga ada anger problem. Mudah naik darah. Kalau saya berantem dengan papa saya … wah pokoknya dahsyat.

K : Haha … mungkin karena anak pertama yah. Pengalaman saya anak pertama emang rada keras yah

IN: Mungkin juga yah. Dan juga ditambah dengan ekspektasi dan juga bawaan dari orang tua. Orang tua mengharapkan saya untuk tinggal sendirian, jadi akhirnya, yang terlibat banyak masalah. Ketangkep polisi juga pernah. Berantem pernah. Masuk rumah sakit pernah, sampai mau memukul papa dengan palu pun pernah. Jadi yah begitulah life was crazy. Terus suatu hari, kira-kira saya umur 15 pada waktu itu, ada teman, yang punya koneksi dengan geng saya, tapi bukan anak geng, lalu dia undang saya ke gereja lah. Mulanya, sih saya gak mau, pikirannya “Ngapain juga ke gereja”. Tapi kemudian dia ajak terus dan trick me a little bit, dia bilang “Banyak cewe lah” atau “Banyak teman”.

K : Hahaha … cewe yah, alasan yang bagus untuk ke gereja

IN: Hehehe … iyah. Tapi etelah 1 – 2 minggu, saya bilang ke dia, bagaimana kalau saya tidak ke gereja, tapi pergi kumpul-kumpul atau makan bareng saja setelah gereja. Tetapi teman ini lumayan berani juga, dia bilang “Sorry, tidak bisa. Kalau tidak ke gereja, tidak boleh hang out” Hahaha … yah akhirnya saya terpaksalah ke gereja dan juga karena cewe-cewenya cakep cakep … hahaha. Tetapi 2-3 bulan setelah pergi ke gereja, saya merasakan Firman Tuhan menjamah dan mengetuk hati saya. Saya bilang ke Pendeta tentang jamahan tersebut. Lalu, dia mengajak saya mengikuti Pendalaman Alkitab. Saya ikut pendalaman Alkitab dan kemudian menerima Yesus. Sejak itu saya tidak pernah lihat ke belakang. Puji Tuhan, Tuhan memberikan saya pertolongan. Saya bisa lepas dari keanggotaan geng, dengan hanya ngomong kalau saya mau berhenti dan mereka mengijinkan.

K : Wah Luar Biasa

IN: Yep ! Jadi saya menerima Tuhan pada tahun 1990, dibaptis dan tentu saja orang tua saya tidak setuju. Tetapi saya terus maju dan tidak mundur, saya terus melayani Tuhan dan menjadi saksi bagi mereka. Singkatnya, malahan sekarang ke dua orang tua saya menerima Yesus dan malahan mereka yang menjadi pendukung yang terbesar untuk pelayanan saya. Semua anggota keluarga saya, dari adik-adik dan sepupu dan juga saudara jauh, mereka menerima Yesus.

K : Grace is awesome

IN: Iyah ada satu cerita yang menarik. Saat itu sepupu saya sudah banyak yang menerima Yesus, lalu saya dipanggil oleh Mama mereka, jadi dia itu auntie saya. Dia bilang ke saya begini “ Wan, saya tidak keberatan kamu khotbah-in anak-anak saya jadi kenal Tuhan. Bagus dan saya tidak keberatan. Saya tidak marah sama kamu, tapi cukup di sini saja. Saya tidak bakalan mau jadi orang Kristen, saya tidak mau di-khotbah-in, saya tidak mau di-injil-in, saya sudah bahagia jadi orang Budha, dan saya mau jadi pendeta Budha.” Tetapi kemarin ini pada bulan Juni ketika saya balik ke Indonesia, untuk mengikuti Harvest Festival, Mama saya bilang ke saya, kalau ternyata auntie saya itu sudah terima Tuhan Yesus juga … hehehehe

K : Hahaha … Never say never

IN: Yah … jadi What can I say Tuhan Yesus jauh lebih besar dari semua yang apa kita bisa pikirkan. Makanya Firman Tuhan telah mengatakan No eyes have seen, no ears have heard, and no mind can conceive what the Lor can do dan itu semua terjadi di dalam keluarga saya.

K : Amen to that … emang benar. Setelah pertobatan, Anda pindah ke Eugene, Oregon. Dan kemudian pindah ke IFGF Seattle.?

IN: Yep.

K : Lalu Anda ketemu istri Anda di sini ?
IN : Yes. Hehehe … ketemu istri saya dan menikah di sini. Dan sekarang punya 3 anak, dan luar biasa lah. Cita-cita tidak pernah mau jadi pendeta sih. Saya benar-benar tidak berpikir mau jadi pendeta. Lebih mau jadi pengusaha. Tetapi melihat ke belakang, Tuhan selalu menempatkan kita di mana Dia mau tempatkan kita. Tuhan sudah ada posisi bagi kita, di mana Dia mau menempatkan kita.

K : Iyah benar

IN: Sama seperti Elisa, Dia menyuruh Elisa untuk menjaga domba-domba di padang rumput, walaupun Elisa tidak tahu untuk apa. Tetapi kemudian, die bertemu dengan Elia.

K : Iyah benar. Kadang saya merasa semua sudah ada waktunya, ada season-nya. Di mana Tuhan mempunyai waktunya sendiri kapan dan dimana.

IN: That’s true .

K : Sekarang bagaimana perasaan Anda. Anda hanya baru-baru ini saja menjadi Gembala di IFGF Seattle. Bagaimana tuh perasaaan anda ?

IN: Mulanya sih … saya tidak mau. Dari hati saya yang terdalam, saya benar-benar tidak mau.

K : Hahaha … iyah saya kenal Anda sudah lama. Saya tahu Anda lebih mau jadi businessman

IN: Iyah sih hahah tapi jangan salah yah … saya cinta banget untuk melayani Tuhan, mengasihi gereja saya dan orang-orangnya. Tetapi bukan dalam konteks menjadi seorang Gembala. Tetapi melihat 2-3 tahun ke belakang ini, saya menyadari Tuhan sudah memposisikan saya untuk hal ini. Orang-orang yang saya harapkan untuk memimpin gereja, malah dipindahkan ke gereja atau ke kota lain. Jadi Tuhan seakan menyudutkan saya, dan mau tidak mau saya harus menerima panggilanNya. Lalu saya benar-benar doa dengan sungguh “Bagaimana nih Tuhan, tidak ada yang bisa ganti. Saya tidak ada pengalaman, tidak ngerti.” Saya menyadari Gembala gereja ini yang dulu, tidak akan kembali. Jadi saya berdoa kepada Tuhan, dan Tuhan membuka jalan bagi saya. Saya bilang ke Tuhan “Tuhan saya terima posisi ini, TETAPI Kamu yang harus memimpin”.

K : Lalu bagaimana ?

IN: Saya bisa melihat pergerakan dari Roh Kudus sih ! BAM !. Benar-benar tidak bisa terbayangkan dan dahsyat. Pesan-pesan Tuhan ketika saya mempersiapkan seri-seri khotbah untuk kebaktian Minggu, saya tidak punya pengalaman, tetapi khotbah-khotbah itu tidak hanya untuk jemaat tetapi juga berbicara ke pada saya. Semuanya jadi tepat gitu.

K : Firman Tuhan bagaikan pedang bermata dua yah. Tidak hanya berbicara kepada yang dituju, tetapi juga kepaya pembicara.

IN: Iyah. Saya benar-benar excited, bahakan untuk seri-seri khotbah yang akan datang.

K : Apa yang menjadi tantangan terbesar dari pelayanan anda ? Bagaimana Anda bisa konek dengan generasi-generasi yang jauh lebih muda sedangkan Anda dari generasi jauh lebih ‘dewasa’ hahahaha … belum tua sih

IN: Tantangannya bukan soal perbedaan umur sih. Melainkan gereja ini sudah 20 tahun dibangun berdasarkan college kids . Jadi mereka transient, mereka berganti terus menerus, jadi rumit untuk membangun rumah sedangkan pekerjanya terus berganti. Jadi untuk beberapa tahun ke depan, tujuan kita adalah untuk membangun gereja yang multi generasi dan multi nationality. Jadi fokusnya tidak hanya ke orang-orang Indonesia, tetapi juga ke negara-negara lain. Secara pribadi, saya tidak ada kendala untuk ‘konek’ dengan orang-orang muda, karena syaa sendiri belum berasa tua hehehe

K : Memang tidak terlihat sudah berkeluarga sih

IN: Iyah hahahah … misalnya kalau sesudah prayer meeting, saya diajak untuk ngumpul-ngumpul. Saya pergi saja dengan mereka. Dan mereka juga tidak merasa “Eh ada Pendeta nih, jadi kita mesti jaga omongan !”, tetapi mereka sih bisa bicara apa saja.

K : Wah bagus dong.

IN: Oktober ini kita akan mulai menjangkau komunitas di sekeliling kita. Acara pertama yang akan kita adakan yaitu Fall Kids Festival. Kita akan mau melayani tetangga-tetangga kita yang berpendapatan rendah, mereka yang butuh makanan atau kebutuhan. Kita akan mulai membantu mereka.

K : Tuhan bekerja dengan luar biasa yah. OK sekarang kita beralih sedikit ke bisnis anda. Saya mau mencoba nanti untuk merger kembali ke pelayanan. Kapan Anda mulai berwiraswasta?

IN: 10 tahun lalu.

K : Bagaimana kamu tahu kalau Tuhan juga memanggil kamu untuk menjadi wirausahawan ?

IN: Saya tahu aja sih. Dari muda, syaa sudah tahu itu yang saya mau lakukan. Tadinya saya kerja dengan suatu perusahaan, sudah 7 tahun. Saya benar-benar tidak bahagia. Bukan karena bosnya atau pekerjaannya. Tetapi saya tidak merasa terpuaskan. Pikiran pertamanya, mungkin perusahaannya kurang menantang, lalu saya pindah ke perusahaan telekomunikasi yang besar. Saya hanya bekerja 4 hari di sana, karena Tuhan membuka mata saya. Corporate world is not for me. Saya benar-benar tidak bahagia. Boss saya berusaha menaikkan gaji dan memberikan pesangon yang lebih bagus, tetapi saya tolak. Saya mulai terjun ke dunia real estate. Tentu saja dunia real estate sangat volatile dan tidak menentu.

K : Resiko yang sangat besar yah ?

IN: Yep. Tetapi Tuhan memberi saya pertolongan dan anugerah. Bos saya yang lama menelpon saya dan memberikan saya petunjuk. Dia malahan membantu saya. Dia meminta saya untuk terus bekerja di perusahannya, dan kalau saya ada keperluan untuk bisnis real estate saya, saya boleh pamit kerja kapan saja, tanpa halangan. Itu benar-benar pertolongan Tuhan yang sangat besar, tidak ada di dunia ini perusahaan yang sebaik itu.

K : I know WOW !

IN: Jadi saya bekerja seperti itu selama 18 bulan.

K : Tak pernah terpikirkan yah pertolongan Tuhan. Lalu kapan mulai masuk bisnis restoran, dengan membeli Indo Café ?

IN: Kira-kira 5 tahun yang lalu. Sudah 5 tahun loh. Tidak terasa.

K : Bagaimana kamu bisa membagi waktu untuk semuanya?

IN: Itu semua benar-benar pertolongan Tuhan sih. Waktu kita memulai Indo Café, saat itu benar-benar gila. Tapi Tuhan memberikan saya bantuan. Waktu itu ada salah satu pekerja saya yang namanya Randi, dia itu sekolah kuliner. Dia menghadap saya dan meminta tanggung jawab yang lebih lagi. Saya bilang, “Kamu mau pekerjaan seperti apa?”, dia bilang “Saya lulus dari sekolah kuliner dengan spesialisasi Kitchen Management”. Lalu saya bilang “Wah saya tidak sanggup menggaji kamu, saya juga baru buka”. Lalu dia membalas “Dengarkan dulu penjelasan saya, Papa saya sudah menyediakan saya biaya hidup untuk 1 tahun, jadi saya mau membantu Indo Café untuk 1 tahun. Anda tidak perlu membayar saya. ” Jadi dia bekerja untuk saya tanpa bayaran selama 1 tahun, dia yang membangun semua sistemnya di Indo Café jadi streamline. Dengan demikian saya tidak perlu terlalu banyak memonitor langsung ke sana. Dan dia juga menjadi acting manager selama itu.

K : Bagaimana dengan bisnis realtor nya ?

IN: Sama apa yang terjadi di bisnis restoran, terjadi juga dalam bisnis realtor saya. Tuhan pasti yang bawa klien. Awalnya 2 tahun pertama, banyak tantangan. Ada pesaing lain yang bermain kotor dan mengambil beberapa klien saya, sehingga saya tidak dibayar. Tetapi Tuhan selalu mengingatkan saya, kalau berkat semua adalah dari Dia. Kadang sukar untuk mempercayai hal itu, ada suatu perasaan “Tuhan, tidak adil dong ! Dia curang dan mengambil klien saya!”. Melihat ke belakang, saya menyadari kalau semua klien yang dia curi ternyata banyak yang tidak memenuhi syarat dan sukar untuk diatur. Kebalikannya, klien yang ke saya semuanya mudah, sangat loyal dan bahkan sangat royal. Makin lama saya makin menyadari, saya di bisnis ini sudah hampir 10 tahun, 7 tahun berturut-turut saya termasuk Top Produser dalam Franchise saya. Saya selalu masuk 10 besar, 7 tahun berturut-turut !

K : Kagum saya. Jadi dengan kesibukan seperti itu keluarga, mengurus gereja, mengurus 2 bisnis, bagaimana tuh membagi waktu dalam 1 minggu ?

IN: Saya selalu pulang ke rumah hampir tiap malam untuk makan malam dengan keluarga, kecuali hari Kamis. Kamis di gereja ada kumpulan doa. Dan baru-baru ini kita memulai Pendalaman Alkitab, juga hari Kamis malam. Hari Sabtu, kita ada juga Pengenalan Alkitab. Dan benar-benar lagi berkembang. Banyak peminatnya, sering menelpon untuk diikutkan dalam kelas-kelas Alkitab tersebut.

K : Orang-orang rindu untuk dilengkapi. Dalam dunia yang banyak informasi simpang-siur, orang rindu untuk mendengar kebenaran yah

IN: Iyah … jadi yah dasarnya saya membagi waktu saya dengan mengelompokkan kegiatan. Dengan demikian saya tidak perlu menyetir mobil bolak-balik dan menghemat waktu.

K : Ok. Bagaiamana tuh dinamiknya antara menjadi gembala dan pengelola bisnis ? Misalnya kalau ada pekerja yang juga jemaat Anda dan muncul konflik, misalnya kalau mereka mungkin lalai ?

IN: Nomor satu, saya bukan orang yang suka teriak. Saya tidak suka teriak-teriak ke orang, jadi kalau mereka mungkin melakukan kesalahan. Biasanya, saya panggil dan omongan dengan respectful. Dan kalau orang diomongin dengan baik, hasilnya mereka juga akan merespon dengan baik.

K : Kalau di Real Estate bagaimana, mungkin klien Anda ada yang rumit dan juga jemaat Anda ?

IN: Ada sih beberapa yang begitu. Tetapi yang paling penting nomor 1, yaitu kita harus pertahankan integritas kita dan nantinya juga bisa diselesaikan dengan baik. Itu nomor 1. Nomor 2, jangan berpikir karena mereka teman, maka kadang-kadang kitanya jadi lalai. Saya tidak begitu, saya selalu tegas. Kalau ada dokumen yang memang harus dilengkapi dan diperlukan, maka saya akan meminta klien saya untuk melakukannya. Saya tidak bisa bilang “Tidak apa-apa”. Untungnya juga, dalam bisnis ini saya juga diawasi oleh broker lain, jadi ada bagusnya. Tapi yang paling penting, saya selalu menjaga integritas dan kejujuran.

K : Tantangan terbesar menjadi Gembala dan Pengusaha ?

IN: Hmmm … tidak ada sih. Biasa-biasa saja. Malah kadang itu bagus, supaya kita bisa lebih transparant. What you see is what you get. Jadinya kehidupan kita tidak beda antara di gereja dan ketika saya membawa anda melihat rumah. Mungkin khotbah saya tidak seperti pendeta professional, jadi yah saya ngomongnya kaya gini lah ! Seperti teman ke teman !

K : Apa sukacitanya menjadi orang yang bisa multi-fungsi, kepala keluarga, gembala dan pengusaha ?

IN: Sukacita terbesar yaitu melihat banyak kehidupan orang lain berubah. Jadi begini, kalau saya hanya sekedar pendeta professional, kadang hanya banyak teori. Tetapi dengan menjadi multi-fungsi, dinamik nya berbeda. Misalnya anak-anak jemaat saya, mereka bisa ikut-ikut ke liburan keluarga saya. Mereka bisa lihat kelemahan saya, kejelekan saya, jadi semuanya transparan. Mereka tahu saya suka makan atau bagaimana. Jadi sukacita yang terbesar jadinya yah saya langsung terlibat dalam kehidupan. Satu contoh yang saya pernah alami, yang bisa memberikan gambaran dinamika dari kehidupan saya. Waktu itu saya membawa klien untuk melihat-lihat rumah. Dan Klien ini adalah orang tua dari salah satu jemaat saya. Sebelumnya, saya tidak mengenal mereka. Setelah semuanya selesai, mereka mengundang saya untuk berbincang-bincang. Kemudian yang terjadi, mereka bercerita tentang konflik yang terjadi dalam keluarga mereka. Akhirnya, saya harus merubah fungsi dari Realtor dan menjadi Gembala. Saya memberikan konsultasi dan nasihat. Beberapa waktu kemudian, ketika ketemu lagi, mereka bilang bahwa semuanya mulai membaik. HAL seperti inilah yang membuat saya bergairah untuk melakukan kegiatan saya tiap pagi. Saya bisa langsung memberikan dampak bagi kehidupan orang.

K : Istilahnya Anda tidak hanya memberikan teori untuk menjangkau orang, tapi langsung turun ke kehidupan.

IN: Iyah. Bayangkan kalau sedang menunjukkan klien rumah, itukan bisa berjam-jam di dalam mobil. Jadi saya bisa banyak berbincang dengan mereka. Klien-klien saya pun ada yang berasal dari agama lain, Budha misalkan. Lebih lagi, generasi sekarang sudah makin kritis. Mereka bisa menilai dari kehidupan kita. Kalau kita memiliki kehidupan ganda (beda di gereja dan di bisnis, misalkan), mereka akan menolak dengan cepat. Bagi saya, semua keraguan atas kehidupan saya bisa terjawab. Mereka bisa melihat siapa saya sebagai gembala, sebagai pengusaha dan sebagai atasan. Apakah saya sempurna ? Tentu saja tidak sama sekali. Mereka bisa melihat kelemahan saya.

K : Legacy apa yang Anda mau berikan untuk anak-anak Anda ? Anda melakukan semua ini sebagai ayah, pendeta dan pengusaha ?

IN: Hanya 2 hal. Yang pertama, terus mempertahankan nama baik mereka. Dengan cara menjaga integritas dan kejujuran. Nanti ketika dalam kesulitan dan keperluan, pertolongan akan datang kalau mereka bersih. Yang ke dua, seperti yang Alkitab bilang “…Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!”. Itu yang jadi prinsip dari keluarga kita. Kadang hal itu sukar, apalagi di IFGF bersifat gereja transitional karena orang datang dan pergi. Kadang saya berpikir mungkin lebih baik kalau saya tidak berpartisipasi terlalu banyak, apalagi saya sudah sibuk dengan pekerjaan. Tetapi karena prinsip kita yang dari dulu, maka kami berusaha kuat dan menjalani saja. Kenyataannya semuanya juga kepunyaan Tuhan, kalau musimnya sudah selesai dan Tuhan suruh melakukan atau pindah, maka kita hanya bisa menuruti saja.

K : Memang benar sih. Memang Tuhan sudah menetapkan musim-musim dalam kehidupan kita.

IN: Ada satu pesan yang baik yang saya baca dari bukuna Andy Stanley, dibilangnya begini ”Leave when it’s time, not when things go wrong” — Pergi karena waktuNya, bukan karena semuanya berantakan.

K : Pesan apa yang Anda mau berikan untuk orang-orang muda, terutama yang pria ? Banyak dari jemaat Anda yang masih bersekolah, mereka mungkin terinspirasi untuk mengikuti jejak Anda, menjadi kepala keluarga, menjadi usawahan dan menjadi gembala. Apa nasihat yang bisa Anda berikan ?

IN: Mereka harus terus menjaga prioritas mereka. Pertama, keluarga harus terutama. Misalnya, malam ini, seharusnya kita ada kumpulan doa dan pelajaran Alkitab di gereja, tetapi saya batalkan, karena anak acara penting di sekolah anak saya dan istri saya membutuhkan saya. Saya bisa saja bilang ke istri saya, kalau tidak mungkin, dan dia akan mengerti, tetapi saya berprinsip saya akan mengutamakan keluarga.

K : Melayani bukan hanya di gereja saja yah

IN: Benar. Melayani bukan hanya di gereja. Melayani keluarga kita sangat pentingnya. Saya teringat akan khotbah-nya Pastur Matt Chandler dari The Village church, dia waktu itu sangat sibuk dan tiba-tiba terserang penyakit. Lalu dia menerima nasihat seperti ini “Kamu maju ke berdiri di depan sana dan lihat ke jemaat kamu. Nanti ketika kamu berada di ambang kematian, siapa yang mau kamu lihat berada di sampingmu sebelum meninggal ? Siapa yang paling penting? Siapapun mereka, itulah prioritas nomor satu Anda.” Lalu dia bilang, dia bisa membayangkan istri dan anak-anaknya yang akan mengelilinginya, lalu Tuhan bilang “Merekalah prioritas utama kamu”. Orag-orang lain akan melupakan Anda, ketika Anda sudah tidak ada, hanya mereka yang akan mengingat Anda. Khotbah itu benar-benar menyentak saya.

K : Sangat setuju sekali. Saya juga berpikir, tidak peduli seberapa terkenalnya Anda saat ini. Tanpa Google, kalau Anda meninggal, dalam beberapa tahun kemudian orang tidak akan tahu siapa Anda.

IN: Setuju.

K : Kadang saya merasa pesan dari Injil dicampur aduk dengan pesan supaya Anda berbuat sesuatu supaya menjadi terkenal.

IN: Lebih lagi, Legacy yang saya mau berikan untuk jemaat saya sebagai gembala, yaitu agar mereka bisa terus haus untuk menggali Firman Tuhan. Agar mereka bisa mempunyai keinginan sendiri untuk mendalami Alkitab, tanpa harus disuruh-suruh. Itu tujuan saya dengan membuka kelas-kelas pendalaman Alkitab. Saya berikan mereka sarana-sarana. Saya punya filosofi hanya satu dalam mengajar “Biar Alkitab yang menjawab pertanyaan Alkitab”. Jangan cari dari sumber-sumber lain, tetapi saya mau mereka mencari ayat-ayat jawaban dalam Alkitab. Saya tertantang sih dan saya gembira walaupun banyak juga tantangan

K : Tantangan seperti apa nih dalam hal ini ?

IN: Murid-muridnya banyak yang pulang ke Indonesia. Jadi yang tinggal hanya sedikit, tetapi walaupun sedikit mereka benar-benar setia dan berkomitmen. Kalau dulu-dulu, banyak yang terluka, tetapi sekarang dengan generasi yang baru sudah berbeda. Bahkan pesan-pesan dalam khotbah pun sudah berubah, sudah bukan lagi tentang jerih payah kita, atau usaha-usaha kita, dan bahkan bukan lagi tentang kita, bukan hanya sekedar merubah kelakuan, karena kita tidak sanggup untuk merubah kelakuan kita. Roh Kuduslah yang bisa merubah. Dengan demikian orang tidak ragu untuk masuk ke hadirat Tuhan dan mereka tidak malu dna yakin bahwa Yesus bisa merubah kehidupan mereka tanpa agenda.

K : Amin

IN: Salah satu contoh, waktu itu ada yang sukarela berinisiatif mau mengecat gereja. Saya bilang mana mungkin, ini khan lagi panas dan banyak yang sedang berlibur. Tetapi dia bilang, bisa saja dan banyak yang mau bantu, asal saya setuju. Lalu saya biarkan, dan memang semuanya terjadi dan terlaksana hanya dalam 2 akhir pekan. Mereka yang merencanakan dan mengatur sendiri semuanya. Luar biasa bukan ? Contoh yang lain, ketika dekorasi panggung gereja kita rubuh. Banyak yang berinisiatif sendiri untuk membuat dekorasi yang baru. Ada yang menyumbang materi dan juga ada arsitek yang mau merancang. Jadi singkatnya, mereka sendiri yang berinisiatif dan tidak perlu dipaksa-paksa. Banyak saya menerima pesan teks, yang menanyakan “Pastur, apa yang bisa saya bantu ? Apa yang bisa saya lakukan untuk mengurangi beban Anda?”. Hal-hal ini semua sungguh membuat terharu hati saya. Kalau dulu semuanya ribut

K : Sungguh berbeda yah

IN: Lain lagi, kemarin ketika kita merencanakan untuk Fall Festival tanggal 31 Oktober ini, banyak yang mengajukan diri untuk menjadi penanggung jawab. Tidak perlu disuruh atau diminta. Ada yang kemarin mengajukan kepada saya peta lokasi keluarga-keluarga yang tidak mampu. Mereka yang bisa kita jangkau dan layani. Semuanya berpartisipasi. Semuanya menyumbang. Hal ini sangat luar biasa. Dan ini semua terjadi karena pertolongan dan anugerah Tuhan.

Bagi anda yang tertarik dengan IFGF Seattle, ataupun usaha-usaha dari Irwan. Bisa kunjungi website-website di bawah ini untuk informasi lebih lanjut:

  • IFGF Seattle : www.ifgfseattle.org
  • Indo Café : www.myindocafe.com
  • Real Estate : www.seattleidealhomes.com

Leave a Reply

Post Navigation