KAMPANYE ‘ORANG HITAM’

download

Masa-masa kampanye Pemilihan Presiden hampir berakhir dan minggu depan bangsa ini akan memilih Presidennya untuk tahun-tahun ke depan.

Selama ini banyak diributkan kampanye hitam. Terus terang kemaren ini saya mendengar langsung kampanye hitam, tetapi lebih tepatnya kampanye yang dilakukan oleh orang berkulit hitam. Maaf, bukan bermaksud SARA, tapi memang para saudara kita dari Papua kulitnya memang lebih hitam dari kita. Dan mumpung istilah kampanye hitam, lagi panas-panasnya, maka saya pelesetkan saja artikel saya jadi kampanye ‘orang hitam’.

Makan malam kemarin, saya sempat bertemu dengan beberapa pendeta dari Papua dan Manado. Tentu saja, topik pembicaraan menjurus ke arah Pemilihan Presiden. Pendeta dari Manado ini sudah lama melayani di Sorong dan sepertinya dia berteman baik dengan para pendeta dari Papua.

Bapak ini dengan semangatnya menjelaskan kepada kita, bahwa di Papua tidak mungkin Prabowo bisa menang. Alasannya, ketika Prabowo masih menjadi kepala Kopassus dia telah banyak menyakiti hati saudara saudara kita di sana.

Salah satu contoh yang diceritakan oleh seorang rekan nya dari Papua, ketika terjadi penculikan terhadap orang2 orang dari asing di sana. Kopassus di bawah Prabowo diterjunkan. Beliau memerintahkan untuk menghabisi 7 kampung yang tak berdosa sebagai tindakan ‘pembalasan’. Para saksi mata yang lolos, tidak melupakan peristiwa tersebut.

Peristiwa tersebut berusaha ditutupi dengan cara membayar para pemuka agama untuk berbohong dan menyatakan bahwa peristiwa tersebut tidak terjadi.

Pendeta dari Manado tersebut bahkan menambahkan, makanya kemarin ini ada 3 orang pendeta terkenal yang berkampanye ke Papua untuk Prabowo. Walaupun mereka disukai banyak orang di sana, tetapi kampanye mereka ditentang dengan tegas.
Saya bertanya kenapa para pendeta terkenal tersebut mau untuk mendukung Capres yang melakukan hal tersebut. Dia menjawab dengan santainya, karena mereka dibayar 20 miliar, dengan cara pembukaan gedung gereja yang baru.

Mendengar cerita tersebut, saya bertanya kepada Pendeta dari Manado tersebut, apa yang akan menjadi pilihannya. Dia menjawab secara pribadi dia memilih Prabowo.

Terus terang saya sangat kecewa dengan perilaku hamba-hamba Tuhan tersebut yang memakai posisinya untuk berpolitik dan menukar conviction nya dengan uang. Saya juga sangat terkejut, karena dia sudah tahu akan peristiwa tersebut tetapi tetap memilih beliau. Dia beralasan bahwa Prabowo dilihat bisa menyediakan keamanan, dan dia beranggapan bahwa ketika keamanan terjamin maka kesejahteraan menyusul.

Kemudian saya bertanya kepadanya, apakah dia tidak takut kalau apa yang Prabowo lakukan waktu itu dengan alasan keamanan, akan dilakukan lagi, dan mungkin terhadap beliau, dengan alasan keamanan negara. Dia hanya menjawab mudah-mudahan Prabowo sudah bertobat.
Secara pribadi, saya bisa melihat dari sisi pendeta ini. Keamanan adalah hal yang didambakan dari setiap orang. Banyak orang akan memilih keamanan dari segala sesuatunya, bahkan mereka akan menukarnya dengan kebebasan.

Saya teringat akan quote yang saya dapat dari Benjamin Franklin, salah satu founding fathers negeri Paman Sam”

“They who would give up essential Liberty, to purchase a little temporary Safety, deserve neither Liberty nor Safety.”
Mereka yang bersedia untuk menukar kebebasan yang mendasar, untuk membeli keamanan yang sementara, tidak layak untuk mendapatkan kebebasan atau keamanan.

Suatu perkataan yang sangat sarat dengan kebenaran.

Saya sebagai orang yang sudah berkeluarga, juga akan berusaha untuk memilih keamanan bagi keluarga saya. Dengan cara melakukan sesuatu atau juga menukarnya dengan sesuatu.

Di negara kita, dengan alasan keamanan, kadang beberapa pemeluk agama harus dengan ‘sukarela’ menanggalkan hak konstitusional nya untuk menjalankan agama dan kepercayaannya. Di negara kita, dengan alasan keamanan, kita juga mengeluarkan undang-undang yang mengekang kebebasan kita untuk berbicara dan mengeluarkan pikiran secara lisan dan tulisan. Di negara kita, dengan alasan keamanan, organisasi-organisasi ekstrim bisa menuntut pedagang secara ‘sukarela’ untuk menutup dagangan mereka. Di negara kita, dengan alasan keamanan, selama 30 tahun kita diperintah oleh orang yang sama dan sampai saat ini, masih banyak yang berpikir hal itu baik. Di negara kita, dengan alasan keamanan, saya tidak bisa menyebut nama ke 3 pendeta tersebut yang menukar jiwanya dengan 20 miliar karena menurut undang-undang telekomunikasi dan informatika saya bisa dianggap merusak nama baik dan mungkin mengganggu keamanan.

Negara di manapun di dunia, pemerintahnya akan berani untuk mengambil hak-hak warga negaranya dengan alasan keamanan, kalau rakyatnya berpikir antara keamanan dan kebebasan, keamanan adalah yang terpenting. Dijamin.

Apa yang akan terjadi ketika kita memilih kebebasan? Kalau negara menjamin kebebasan, maka dengan sendirinya keamanan akan terjamin. Kalau setiap individu mengerti akan kebebasan, keamanan tidak akan menjadi masalah. Kalau setiap individu mengerti bahwa individu lain memiliki kebebasan yang sama dengan yang dipunyainya, keamanan akan datang dengan sendirinya.

Dalam pemilihan kali ini, saya merasa ‘kampanye’ dari ‘orang hitam’ tersebut benar benar membuat saya berpikir untuk memilih kebebasan. Kebebasan, karena pada dasarnya keamanan tanpa kebebasan, sebenarnya adalah ketakutan. Saya tidak mau anak-anak saya hidup dalam ketakutan. Ketakutan kalau suatu saat, kebebasan mereka akan dikorbankan atas nama keamanan.

“Freedom of speech is a principal pillar of a free government; when this support is taken away, the constitution of a free society is dissolved, and tyranny is erected on its ruins. Republics and limited monarchies derive their strength and vigor from a popular examination into the action of the magistrates.” – Benjamin Franklin –

Kebebasan mengeluarkan pendapat adalah pilar yang sangat prinsipal di dalam pemerintahan yang bebas; ketika tumpuan in diambil, konstitusi dari masyarakat yang bebas akan terbinasa, dan tirani akan berdiri di atas reruntuhan nya. Republik dan Kerajaan yang terbatas mendapatkan kekuatan dan tenaga nya dari pengawasan bersama atas perilaku orang-orang yang memerintah mereka.

Leave a Reply

Post Navigation