KESENDIRIAN MELUMPUHKANKU: KISAH ALISA

20140318_loneliness-was-killing-me-alisa-s-story_banner_img

Alisa dibesarkan dengan ayah Amerika yang dingin dan ibu Jepang yang pemalu. Agama tidak dibahas banyak di rumahnya dan dia bergumul dengan kesendirian sejak di usia muda. Dia adalah seorang gadis pendiam di sekolah tinggi dan mati-matian berusaha untuk mempunyai lebih banyak teman. Wisuda datang sebagai kelegaan karena dia menanti-nantikan untuk berkuliah di University of Washington. Tentunya perguruan tinggi akan jauh lebih baik dan dia akan membuat banyak teman-teman dalam suasana yang baru dan tidak ada pengelompok-pengelompokkan. Tapi perguruan tinggi tidak lebih baik. Malahan lebih buruk.

” Saya membayangkan bisa bermalas-malasan dan berpesta, membuat banyak teman baru, bisa menjadi independen dan melakukan apa pun yang saya inginkan. Saya pikir jika saya bergabung dengan sorority (grup mahasiswi), saya akan otomatis punya teman. Saya bersama 90 wanita lainnya untuk berbagi hidup. Saya melakukan proses untuk masuk kelompok-kelompok mahasiswi tersebut namun tidak ada satupun yang menerima. Mereka semua menolak saya. Hal ini benar-benar menghancurkan saya. ”

Karena tidak diterima oleh kelompok manapun, dia memutuskan untuk tetap tinggal bersama orang tuanya di Bellevue dan pulang-pergi kuliah setiap hari. Tidak terlibat dalam kehidupan asrama atau kegiatan lainnya membuatnya lebih sulit untuk mempunyai teman. Selama kuartal kedua di kuliah, ia menjadi begitu tertekan bahkan meminta orang tuanya jika dia bisa pindah ke apartemen yang lebih dekat ke tempat kuliah.

Alisa berusaha mati-matian untuk menemukan tempat jadi dia menjelajahi website Craigslist dan meng-email siapapun yang kedengarannya lumayan. Satu tempat tinggal yang unik diiklankan sebagai ” rumah Kristen”. Dia mengatakan kepada mereka, ” Ayahku adalah Katolik. Aku berteman dengan Mormon dan saya bergaul dengan orang Kristen. Aku ingin sebuah bertemu jawab.” Mereka menyukai Alisa dan dia bergabung dengan tempat tinggal tersebut pada bulan November. Suatu langkah yang akan merubah kehidupan yang dia kenal sekarang ini.

TUMBUH DALAM KESENDIRIAN

Alisa memiliki sisi pemberontak ketika tumbuh dewasa. Dia bermabukan di sekolah menengah atas supaya bisa bergaul.

” Saya tidak pernah merasa diterima di sekolah dan saya pikir hal itu membuat saya untuk melakukan banyak hal yang seharusnya tidak dilakukan. Saya dulunya suka memotong pergelangan tangan saya karena saya begitu tidak bahagia dengan hidup saya. Saya melakukan apapun yang saya bisa untuk merasakan sesuatu. Itulah cara saya membiarkan frustrasi dan kemarahan keluar.

” Saya akan melihat media sosial dan melihat semua orang memajang gambar-gambar betapa menyenangkan kehidupan mereka. Keluarga saya dingin dan saya tidak memiliki siapa pun untuk diajak bicara. Saya menghabiskan banyak waktu di Netflix dan saya tahu kedengarannya klise tapi saya akan bertanya, ‘Apa tujuan saya ? Apa yang saya lakukan dengan hidup saya ? Tidak ada yang tahu nama saya. Tidak ada yang tahu apa yang telah kulakukan. ”

” Saya akan mematikan emosi saya agar saya tidak akan merasakan apa-apa dan pada saat itu, saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Saya begitu frustrasi dan marah dengan diriku sendiri sehingga satu caranya saya lampiaskan frustasi pada tubuh saya sendiri karena saya sangat tidak bahagia. Saya pikir saya pantas untuk dicintai tapi tidak ada yang mencintai. ”

Dia juga mengatasi rasa sakitnya dengan meminum Tylenol dan Ibuprofen (obat pereda rasa sakit), segenggam sekitar 20 butir sekaligus.

” Saya punya masalah kesehatah pada perut saya, sehingga meminum pil sebanyak itu akan menyakiti saya lebih dari orang normal. Merasakan rasa sakit di perut sepanjang hari membuat saya menjadi damai, kiranya. Daripada merasakan sakit karena ditolak atau tidak punya teman, saya bisa merasakan sakit karena telah menelan 20 pil malam sebelumnya. ”

TEMPAT TINGGAL BARU, TEMAN-TEMAN BARU

Alisa tidak memiliki latar belakang dengan agama Kristen sebelum ia pindah ke “rumah Kristen” yang dia temukan di Craigslist.

” Aku tidak mengenal agama sama sekali. Pertama kali saya mendengar tentang Yesus ketika di sekolah menengah, ketika kenalan di sekolah berbicara tentang kelompok pemuda atau gereja. Saya tidak tahu apa itu. Saya tidak tahu apa artinya untuk berkumpul bersama pada hari Minggu. Saya tidak pernah mempertanyakan hal itu. ” Ayahnya yang Katolik nya jarang berbicara tentang pendidikan agamanya.
Salah satu teman sekamar barunya, Vanessa, pergi ke Gereja Mars Hill beberapa kali ketika pertama kalinya pindah ke Seattle. Setelah mendengar betapa kesendiriannya Alisa, Vanessa mengundangnya untuk mengunjungi Mars Hill U-District. Alisa tidak ingat tentang isi khotbah pertama kalinya dia pergi, tapi dia terkesima dengan suasana dan nuansa gereja.

” Semua orang menyambut, ” katanya. ” Benar-benar memukau bagaimana keramahan dan kepedulian mereka. Malam itu aku ingat [ Vanessa dan saya ] menangis bersama dan berbicara selama berjam-jam. ”

Vanessa akhirnya berhenti pergi ke gereja, yang menyebabkan Alisa berhenti juga, tetapi pada bulan April 2013 seorang gadis bernama Jessy pindah ke rumah mereka. Jessy melayani di Mars Hill U-District dan bermain di band Sainthood. Dia mengajak Alisa ke gereja dengan janji, “Saya akan berada di sana sepanjang hari. Alisa, datang kapanpun kau mau dan saya akan bersamamu sepanjang waktu. Saya benar-benar ingin kau datang. ”

MENGIKUTI JESSY

Alisa jarang melewatkan gereja hari Minggu dengan Jessy. Larut malam, Jessy duduk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.

” Dia menjelaskan kisah Yesus dan bagaimana dia mati untukku dan akan menyelamatkanku. Dia menjelaskan semuanya dalam begitu banyak detail dan saya mulai mengerti tentang Yesus. Jessy sangat luar biasa. Dia telah menjadi pengaruh yang luar biasa dalam hidup saya. Saya melihat dia sebagai utusan Tuhan. Dia salah satunya yang memperkenalkan saya kepada Yesus dan membelikan Alkitab pertama saya. Saya sangat bersyukur dia mentaati Tuhan dengan mengundang saya, dan penuh keberanian, penuh kasih, peduli, dan lembut.”

Sejalan Jessy mengajarkan Alisa lebih dan lebih, dia juga mendorongnya untuk berdoa kepada Tuhan, menjanjikan bahwa DIA ada. Dan kemudian dia akan meminta Alisa jika dia mendengar Tuhan berbicara kepadanya.
“Awalnya itu benar-benar canggung dan aneh bagi saya, tapi akhirnya aku mulai mendengar suara Tuhan dan melihat di mana Tuhan bekerja dalam hidup saya. Hal itu terjadi di akhir bulan Mei dan saat itu saya memulai hubungan saya dengan Yesus. ”

PERGAULAN BARU

Alisa diperkenalkan ke banyak teman Jessy dan juga membuat banyak teman-teman sendiri. Pada waktu itu, Alisa tersadar bahwa ia tidak lagi sendirian.

” Ada juga komunitas gereja yang besar yang akan mencintaiku tidak peduli apapun, terlepas dari apa yang telah saya lakukan atau kesalahan yang mungkin akan saya buat di masa depan. ”
Alisa mengatakan dia menemukan komunitas gereja tanpa syarat.

” Semua orang berusaha untuk saling mengasihi sebagaimana Yesus mengasihi mereka. Ini jauh lebih mudah untuk menjadi rentan dan terbuka. Saya tidak perlu bersembunyi di balik topeng, saya bisa mengakui kekurangan dan masalah saya. Ada banyak penerimaan dan kasih. Saya dikasihi lebih dari yang saya sadari. Saya dapat melihatnya sekarang.”

” Sekarang saya mengerti mengapa begitu banyak orang pergi ke gereja. Belum tentu karena khotbah-khotbah yang baik atau gereja membuat mereka merasa lebih baik, tetapi kenyataannya adalah, ada seseorang yang datang ke dunia dan mati bagi dosa-dosa kita. Saya sangat bersuka cita tentang perjalanan saya dengan Yesus dan ke mana itu akan membawa saya. Saya tahu Yesus menerima saya dan mencintai saya, dan Dia ingin membantu saya. Dia ingin saya untuk berubah dan tumbuh menjadi seorang wanita yang kuat. Itulah apa yang saya lihat di dalam Injilnya. Tidak peduli apa yang orang katakan atau pikirkan tentang saya, Tuhan mencintai saya. Tuhan selalu ada untuk saya, dan Tuhan tidak akan meninggalkan saya. ”

HIDUP BARU

Yesus telah menyelamatkan Alisa dari kesendirian. Dia menyelamatkannya dari kesakitannya untuk merasakan sesuatu. Dia menyelamatkannya dari kehidupan depresi. Tapi yang lebih penting, Yesus telah menyelamatkan dia dari dosanya, sesuatu yang tidak pernah dia bisa dilakukan sendiri. Ini menginspirasi Alisa untuk ingin hidup bagiNya.

” Aku ingin bertumbuh lebih dalam Kristus, saya ingin mempelajari lebih lagi, saya ingin membaca Alkitab. Gereja Mars Hill adalah rumah saya, semua orang di sini adalah keluarga saya, dan saya ingin memperbesar keluarga saya dengan membawa orang-orang baru ke gereja. Itu sesuatu yang saya benar-benar membuat saya semangat – memuridkan dan membuat orang-orang mengalami apa yang saya alami sekarang, karena saya tahu betapa sulitnya untuk hidup tanpa Tuhan

Diterjemahkan dari situs : http://marshill.com/2014/03/18/loneliness-was-killing-me-alisa-s-story

Leave a Reply

Post Navigation