Ketika Pragmatis Ketemu Teoris

Image result for ahok anies

Pilkada Putaran ke 2 untuk Gubernur DKI sudah semakin mendekat. Suhu politik dan kampanye di Jakarta kian memanas. Kemarin ini Mata Najwa,mengadakan final perdebatan antara 2 kandidat, no. 2 Basuki (Ahok) dan no. 3 Anies.

Well, hari ini hanya memberi sedikit pendapat dari seorang awam di negeri Paman Sam tentang hasil perdebatan ini. Mungkin saya akan sedikit bias, karena saya pendukung no 2, jadi kalau anda mendukung no 3, yah mungkin akan stop membaca sampai di sini.

Kalau dilihat secara pembawaan dan gaya bicara, dapat dikatakan Anies adalah seorang birokrator dan politikus handal. Kalau anda mempunyai anak perempuan, Anies ini saya gambarkan sebagai calon pacar anak anda dan baru pertama kali ketemuan. Pasti semuanay dibuat sesopan dan sesantun mungkin. Bahasa halus, senyuman ramah, berbicara seakan-akan ‘pintar’, dan lain sebagainya. Dan saya yakin ini approach yang memang dipakai Anies, karena sesuai dengan kebudayaan orang Timur. Image is numero uno. Tapi yah kita tahulah sendiri sebenarnya kaya gimana kalau dibalik semua it 😉

Kalau Basuki, Basuki ini sudah kelihatan sebagai seorang pragmatis, gaya bicaranya, pembawaannya, lebih ke arah lihat masalah, pikirkan solusi, terapkan. Orang pragmatis kadang tidak terlalu memikirkan image, karena dia mengukur suatu kesukesesan dari berapa solusi yang dia bisa pecahkan. Jadi kontras sekali tutur kata, pembawaan dan gaya bicara Basuki. Ini istilahnya seperti teman baik anak anda, yang sudah bertahun-tahun kenal baik dengan keluarga anda. Jadi ngomong seadanya, dan andapun sudah tahu karakternya. Karakter Basuki lebih menunjukkan What you see is what you get.

Sekarang dilihat dari sisi program bantuan sosial, approach dari mereka sangat kontras sekali. Kalau anda pernah memndengar peribahasa “Lebih baik mengajari orang memancing, daripada hanya memberi dia ikan”, maka pandangan Anies lebih mengarah kepada “memberikan ikan”, sedangkan Basuki lebih mengarah “Ajarin mancing”. Saya melihat hal ini ketika membahas KJL(Kartu Jakarta Lansia) dan KJP(Kartu Jakarta Pintar). Anies berpendapat lebih baik kita LANGSUNG membantu ke orangnya, dan bahkan memberi imbauan untuk memberi tunai. Lebih kontras dalam masalah KJP, Anies ingin membantu siswa yang tidak sekolah dengan cara memberi tunai, sedangkan Ahok berpendapat hanya kalau siswa mau belajar, baru kita akan bantu. Ahok lebih mengacu kepada “Mengajari orang memancing”. Bahkan dalam KJL, Basuki lebih mengarah untuk membuat sistem terlebih dahulu, baru pelaksanaa program. Terlihat jelas prinsip mereka. Menurut saya, bantuan tunai yang dianjurkan Anies hanya akan berakhir dengan banyaknya penyimpangan dan itu sudah terbukti ketika pak SBY bagi bagiin uang tunai. Banyak yang salah sasaran, dan sama sekali hanya memberikan tensoplas untuk kepala pecah.

Selama menonton perdebatan ini di Youtube, sepertinya semua program-program yang dianjurkan Anies adalah program Ahok (open governance, KJP, Moda Angkutan Umum terpadu, dsb), tetapi dipaparkan dengan gaya bicara yang halus dan sopan. Sepertinya Anies berusaha mengikuti idolanya, pak Harto. Kita tahu sendiri Pak Harto itu memang halus dan sopan, kelihatannya, tapi dibalik semua itu anda bisa lenyap diam diam kalau berani menentang. Saya rasa Anies berusaha untuk memakai approach seperti ini.
Di sisi lain Ahok, kembali terlihat sisi pragmatis nya, ketika dia harus menjelaskan berkali-kali tentang programnya. Kelemahan orang pragmatis adalah bosan untuk menjelaskan idenya berkali-kali. Apalagi harus dibumbui dengan kata-kata manis. Ini kesan yang saya dapatkan di dalam perdebatan ini. Ahok sudah cape kalau harus menjelaskan berkali-kali lagi, kalau semua yang program Anies ‘mimpi’ kan, sebenarnya sedang dan sudah dikerjakan.

Satu hal yang menunjukkan kalau Anies itu benar benar teoris, ketika dia selalu menuduh Basuki hanya berusaha melaksanakan program-program karena ada pilkada. Ini benar-benar tuduhan seorang teoris, karena secara teori, kalau kamu ada ide akan sekejap terlaksana, tanpa harus memperhitungkan biaya, infrastruktur, atau bahakan merubah kerusakan-kerusakan yang sudah terjadi selama bertahun-tahun.
Anies seharusnya mengerti bahwa gubernur-gubernur sebelumnya, tidak membuat suatu sistem dan infrastruktur yang baik. Mereka melakukan pembiaran di mana-mana. Ini yang BAsuki butuh untuk rapikan sebelum program-programnya bisa berjalan dengan baik, dan kalau itu butuh 2-3 tahun, itu sudah termasuk CEPAT, apalagi di kota sebesar Jakarta.

Seorang teoris yang hanya mengajar tidak akan tahu ini, ATAU belaga tidak tahu.

Juga, ditambah dengan debacle nya ketika berusaha menjelaskan ide tentang perumahan DP 0%.
Ahok sebagai seorang pragmatis, segera menghitung perkiraan biaya, sedangkan Anies, hanya berusaha tersenyum dan menuduh ‘keberpihakan’ atau menganggap Basuki ‘putus asa’. Dengan senyum pongahnya, dia menganggap Basuki hanya mau jalan kalau menguntungkan rakyat menengah ke atas.

Kontras sekali dalam segmen di atas, mana yang teoris, dan mana yang pragmatis.

Seorang teoris juga mudah untuk menjadi hippocrates. Ketika berbicara tentang merangkul dan menegakkan hukum, Anies lupa kalau teman-temannya di FPI sering melanggar hukum. Bahkan dia dulu juga menganggap FPI sebagai organisasi yang buruk, tapi sekarang malah dirangkul hanya demi Pilkada.

Bagi saya, dalam perdebatan ini, hal yang paling menyebalkan dari gaya Anies, adalah senyumnya yang seperti mengejek dan sepertinya merendahakan lawan bicaranya. Ini benar-benar suatu strategi untuk memancing emosi Basuki. Senyumnya ini benar-benar mengingatkan saya kembali lagi ke senyuman Pak Harto.

Hal yang paling saya sayangkan dari Basuki, sepertinya dia berusaha untuk pull back punches. Sepertinya beliau sudah menjadi “jinak”. Ditambah lagi sepertinya, Basuki sedang tidak dalam kondisi kesehatan yang prima, terdengar dari seringnya dia berusaha membersihkan tenggorokan.

Akhir kata, sekali lagi teoris lawan pragmatis. Saya seorang pragmatis, jadi yah saya akan mendukung Basuki. Those who can, do, those who can’t, teach.

One Thought on “Ketika Pragmatis Ketemu Teoris

  1. Pingback: Jakarta Gubernatorial Election 101 | Kebangkitan.org

Leave a Reply

Post Navigation