Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?

Historicity-of-Job-EL2

Kitab Ayub: Mengapa Orang Benar Menderita?


Oleh R.C. Sproul Mengenai Penderitaan
Bagian dari seri Right Now Counts Forever
Terjemahan oleh Susan Margaretha
Diambil dari : http://id.gospeltranslations.org/wiki/Kitab_Ayub:_Mengapa_Orang_Benar_Menderita%3F

Di dalam bidang studi Alkitab, ada lima kitab yang secara umum dimasukkan ke dalam kategori “Literatur Hikmat” atau “Kitab Puitis di dalam Perjanjian Lama”. Kelima kitab itu adalah Amsal, Mazmur, Pengkhotbah, Kidung Agung, dan Ayub. Dari kelima kitab ini, hanya ada satu yang menonjol dan terkesan berbeda dari keempat kitab lainnya. Kitab itu adalah Ayub. Hikmat yang diperoleh dari Kitab Ayub tidak disampaikan dalam bentuk amsal. Melainkan, Kitab Ayub berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan hikmat dalam konteks naratif yang bersentuhan dengan penderitaan besar yang dialami oleh Ayub. Latar belakang naratif ini ada dalam konteks masa patriarki. Banyak pertanyaan yang berkaitan dengan tujuan penulis kitab ini, apakah sebagai sejarah naratif dari seorang individu nyata atau apakah berkaitan dengan struktur mendasar kitab ini, yaitu sebagai sebuah drama dengan kalimat pembuka, termasuk adegan pembukaan di Surga yang melibatkan Allah dan Iblis, dan bergerak menuju klimaks di bagian penutup kitab, di mana hal-hal yang terhilang dari Ayub pada masa-masa pencobaan digantikan.

Dalam segala aspek, pesan mendasar dari kitab Ayub adalah hikmat yang berkaitan dengan pertanyaan seperti bagaimana keterlibatan Allah di dalam penderitaan yang dialami manusia. Di dalam setiap generasi, protes bermunculan dan menyatakan bahwa jika Allah itu baik, seharusnya tidak ada penderitaan, penyakit, maupun kematian di dunia ini. Bersama dengan protes yang menentang hal-hal buruk yang terjadi di dalam kehidupan orang baik, ada juga beberapa usaha untuk menciptakan rumusan dari penderitaan, dengan mengasumsikan bahwa porsi penderitaan seseorang terkait dengan rasa bersalah yang mereka miliki, juga dosa yang sudah mereka lakukan. Respons yang cepat atas hal ini dapat dilihat di dalam Pasal 9 Injil Yohanes ketika Yesus memberikan tanggapan pada pertanyaan para pengikut-Nya yang berkaitan dengan penyebab penderitaan dari seorang laki-laki yang terlahir buta.

Di dalam Kitab Ayub, sang tokoh utama digambarkan sebagai orang yang benar, bahkan orang yang paling benar hidupnya yang bisa ditemukan di seluruh bumi, namun menurut Iblis, Ayub bersikap benar hanya demi mendapatkan berkat dari tangan Allah. Allah telah membentengi hidupnya dan memberkati dia di antara segala manusia, namun Iblis menuduh bahwa Ayub melayani Allah hanya karena berkat-berkat yang diberikan oleh Penciptanya. Tantangannya adalah ketika Iblis menantang Allah untuk mengangkat semua perlindungan-Nya dari dalam hidup Ayub, untuk melihat apakah Ayub akan mulai mengutuki Allah. Seiring dengan berjalannya cerita, penderitaan Ayub bergerak cepat dari buruk, menjadi lebih buruk. Penderitaannya begitu besar sehingga ia sampai duduk di atas abu, mengutuki hari kelahirannya, dan menangis keras dalam penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaannya begitu besar, sehingga istrinya sendiri menyarankannya untuk mengutuki Allah, supaya pada akhirnya ia bisa meninggal dan terlepas dari penderitaannya. Hal yang dinyatakan lebih lanjut di dalam kitab Ayub adalah ketika ketiga sahabat Ayub, yakni Elifas, Bildad, dan Zofar memberikan pendapat. Pernyataan mereka menunjukkan betapa rendah kesetiaan mereka pada Ayub, dan betapa pikiran mereka begitu cepat menilai Ayub (tanpa didasari pengetahuan yang benar), sehingga mereka berpikir bahwa penderitaan Ayub pastilah karena masalah karakter Ayub sendiri.

Penghiburan dan nasihat yang diterima Ayub mencapai tingkat yang lebih tinggi berkat pemahaman mendalam yang disampaikan oleh Elihu. Elihu memberikan beberapa pernyataan yang mengandung muatan hikmat yang alkitabiah, namun hikmat terakhir yang diperoleh dari dalam kitab yang hebat ini bukan datang dari teman-teman Ayub, bahkan Elihu, melainkan dari Allah sendiri. Ketika Ayub meminta jawaban dari Allah, Allah menjawab dengan jawaban keras: “Siapakah dia yang menggelapkan keputusan dengan perkataan-perkataan yang tidak berpengetahuan? Bersiaplah engkau sebagai laki-laki! Aku akan menanyai engkau, supaya engkau memberi tahu Aku” (Ayub 38:1-3). Ini adalah interogasi intens yang pernah dilakukan terhadap manusia oleh Pencipta-Nya. Kesan pertama yang ditangkap adalah Allah sedang mengolok-olok Ayub, ketika Ia bertanya, “Di manakah engkau, ketika Aku meletakkan dasar bumi? Ceritakanlah, kalau engkau mempunyai pengertian!” (ayat 4). Allah kemudian mengajukan pertanyaan demi pertanyaan seperti, “Dapatkah engkau memberkas ikatan bintang Kartika, dan membuka belenggu bintang Belantik? Dapatkah engkau menerbitkan Mintakulburuj pada waktunya, dan memimpin bintang Biduk dengan pengiring-pengiringnya?” (Ayub 38:31-32). Sangat jelas bahwa jawaban yang bisa disampaikan terkait dengan pertanyaan retoris ini adalah selalu, “Tidak, tidak, tidak.” Allah seakan-akan memukul kalah Ayub, dan melanjutkan pertanyaan demi pertanyaan mengenai kemampuan Ayub untuk melakukan suatu hal yang tidak mampu ia lakukan, namun sangat jelas dapat dilakukan oleh Allah.

Di dalam pasal 39, akhirnya Allah berkata kepada Ayub, “Apakah si pengecam hendak berbantah dengan Yang Mahakuasa? Hendaklah yang mencela Allah menjawab!” (ayat 35). Sekarang, Ayub menjawab pertanyaan ini bukan dengan cara yang menyimpang, tetapi sebaliknya ia mengatakan, “Sesungguhnya, aku ini terlalu hina; jawab apakah yang dapat kuberikan kepada-Mu? Mulutku kututup dengan tangan. Satu kali aku berbicara, tetapi tidak akan kuulangi; bahkan dua kali, tetapi tidak akan kulanjutkan” (ayat 37-38). Dan kemudian Allah kembali menginterogasi Ayub dengan pertanyaan-pertanyaan yang jelas mengambarkan kekontrasan antara kuasa Allah, Siapakah Dia yang dikenal Ayub dengan nama El Shaddai, dan ketidakberartian Ayub. Akhirnya, Ayub mengakui bahwa hal-hal itu terlalu mustahil dan hebat untuk dilakukan olehnya. Dia mengatakan, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu” (Ayub 42:5-6).
Apa yang berharga dari pelajaran ini adalah bahwa Allah tidak pernah secara langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan Ayub. Allah tidak mengatakan, “Ayub, alasan kamu mengalami penderitaan adalah ini dan itu.” Sebaliknya, apa yang Allah lakukan di tengah misteri penderitaan yang hebat itu adalah dengan menjawab Ayub dengan Diri-Nya sendiri. Ini adalah hikmat yang menjawab pertanyaan-pertanyaan terkait dengan penderitaan manusia – bukan jawaban mengenai kenapa saya harus menderita dengan cara, situasi, dan waktu tertentu, namun di manakah (kepada Siapakah) pengharapan saya berlabuh di tengah penderitaan itu.
Jawaban terhadap pertanyaan itu dapat dengan jelas ditemukan di dalam kitab Ayub yang selaras dengan kitab-kitab hikmat lainnya: takut akan Allah adalah permulaan hikmat. Dan saat kita begitu disibukkan dan dibuat pusing oleh hal-hal yang tidak bisa kita pahami di dalam dunia ini, kita tidak selalu mencari jawaban yang spesifik atas pertanyaan spesifik yang kita ajukan, namun kita mencari pengenalan akan Allah dalam kekudusan-Nya, kebenaran-Nya, keadilan-Nya, dan dalam anugerah-Nya. Itulah hikmat yang bisa kita peroleh dari kitab Ayub.

Leave a Reply

Post Navigation