Mengapa Saya Berharap (Kalau Terpilih) Jokowi Tidak Memimpin Seperti Obama

Post

Sekarang ini Pemilihan Presiden RI lagi semakin panas. Di jaringan media sosial, saya banyak membaca status dari teman-teman saya di Indonesia. Ada yang pro-Jokowi dan ada yang pro-Prabowo. Pengamatan saya Prabowo kalah telak di dalam lingkup pergaulan Facebook saya. Sepertinya banyak kenalan Facebook saya mendukung Jokowi.

Sebagai pendukung bagi saya, sah sah saja kalau mereka terus berkampanye untuk Jokowi. Namun, satu hal yang menaikkan alis mata saya, ketika Jokowi disamakan dengan Obama.

Sebagai seseorang yang mengikuti berita politik di Amerika, saya malahan sangat khawatir sebesar-besarnya jika Jokowi memerintah seperti Obama, dan jika pendukungnya bertindak seperti pendukung Obama. Jika hal ini terjadi, maka negara kita akan menuju kehancuran dan perang saudara.

Di bawah ini saya paparkan alasan mengapa sebaiknya Jokowi jangan disamakan dengan Obama.

  1. Obama seorang politikus ulung dan bukan negarawan
    Sebagian besar keputusan yang diambil Obama bukan untuk kepentingan negara, tetapi untuk kepentingan partai politiknya dan hanya untuk mendapatkan politik poin dari kubunya. Kalau anda perhatikan di setiap pidato nya, dia selalu memojokkan partai oposisi dan selalu memberi impresi ‘kalau anda tidak setuju dengan saya, anda adalah lawan saya’. Karena sikapnya ini, sekarang kancah politik di Amerika benar-benar terpolarisasi. Untungnya Amerika memiliki kestabilan keamanan yang kuat dan tidak mudah kemasukan intervensi asing, tetapi kalau Jokowi bertindak seperti ini dan ditambah dengan banyaknya partai di negara kita. Kita akan menuju kehancuran.

  2. Obama bertindak di luar konstitusi negara
    Beberapa keputusan-keputusan Obama diambil dengan tidak menghiraukan konstitusi Amerika. Obama mengambil keputusan-keputusan di luar wewenang nya sebagai badan eksekutif. Hal ini sangat tidak baik bagi kelangsungan negara. Kalau Jokowi melakukan seperti demikian, tidak akan ada perbedaannya dengan kepemimpinan otoriter.

  3. Obama adalah seorang ideolog dan partai-ist
    Ketika mengajukan proposal penerapan yang berbeda dengannya, yang Obama lakukan bukan bernegosiasi dan berdiplomasi, tetapi mengucilkan dan memojokkan oposisi. Sebenarnya hal-hal yang dipertentangkan bukan ide, tetapi pelaksanan dari ide tersebut. Misalnya ketika ide untuk membuat program asuransi kesehatan nasional mulai di dorong oleh Demokrat di bawah kepemimpinan nya, setiap kritikan terhadap cara penerapan, dianggap sebagai orang jahat yang tidak ingin orang miskin mendapatkan asuransi. Padahal, banyak dari partai oposisi ber-ide sama, tetapi hanya mengajukan cara-cara penerapan yang mungkin lebih efisien dan efektif. Tetapi karena Obama tidak mau menjangkau oposisi dan seorang partai-ist, maka yang dia lakukan adalah terus menjelek-jelekkan oposisi dan kritikus. Hasilnya Obamacare yang sekarang terjadi malah menaikkan harga asuransi bagi kalangan menengah sehingga benar-benar membebani kalangan menengah tanpa menyelesaikan masalah. Hutang negara menjadi $ 9 triliun atau Rp 90,000 triluun

  4. Obama mungkin seorang motivational sepaker dan inspirator, tapi bukan pemimpin dengan hasil yang nyata
    Ketika memenangkan pemilu pertamanya, dunia terkagum karena Obama merupakan orang kulit berwarna pertama yang menjadi Presiden US. Tanpa belum melihat kinerjanya, Obama dianugerahi Nobel perdamaian dan dia menerimanya.

    Semua yel-yel dan janji kampanye Obama ketika menjanjikan pemerintahan yang transparan dan bersih dan bertanggung jawab, tidak ada pelaksanaannya. Skandal-skandal dalam pemerintahan Obama

    • Obama memakai NSA untuk memata-matai warga negaranya sendiri tanpa ijin pengadilan, walaupun waktu dia menjadi Senator, dia mengkritik Bush dengan tajam dalam hal ini.
    • Jaksa Agung yang ditunjuk Obama, dengan sengaja memberikan senjata ke mafia Meksiko dan dipakai untuk membunuh Polisi Perbatasan US dan kasus tersebut ditutup-tutupi
    • Obama memakai Departemen Pajak untuk mempersulit pembentukan organisasi-organisasi sipil yang mempunyai perbedaan paham dengannya dan kasus ini ditutupi.
    • Obama kecolongan dalam kasus Benghazi, di mana diplomat Amerika terbunuh dalam suatu serangan teroris. Waktu itu Departemen Luar Negeri dipimpin oleh Hilary Clinton dan dia lalai memberikan perlindungan yang cukup. Tapi lagi lagi kasus ini ditutup-tutupi
    • Ketika dia masih berkampanye Obama tahu akan kerusakan jaringan kesehatan Veteran, dan berjanji untuk memperbaikinya, tetapi dia tidak melakukannya. Ketika skandal ini terkuak, Obama pura-pura tidak tahu.

    Obama hebat dalam menutupi kesalahan atau keboborkan orang-orang yang tergabung dalam partainya. Karenanya, saya sebut dia memang seornag politikus handal, tapi bukan negarawan.

  5. Obama Hanya Pandai Melakukan Pencitraan
    Obama pandai mengambil hati dan minat orang-orang muda yang notabene aktif dalam jejaring sosial. Tapi nyatanya hanya kelihatannya saja bagus tapi tidak ada artinya. Ketika Rusia mencaplok Ukraina, dengan menggunakan media twitter, Gedung Putih memperlihatkan gaya Obama yang sepertinya sedang tegas dan menentang Putin. Tapi pada kenyataanya Ukraina, yang sudah meneken perjanjian dengan Amerika dan Inggris bahwa mereka akan dilindungi, ditinggalkan begitu saja dan malahan Polandia menganggap janji perlindungan Amerika hanya pepesan kosong.

    Saya harap Jokowi lebih memberikan hasil nyata, daripada sekedar pencitraan.

  6. Obama seorang yang menyetujui untuk program aborsi pasca-kelahiran
    Memang Jokowi tidak mungkin mempunyai pandangan ini, tetapi bagi orang Indonesia yang berharapan Jokowi seperti Obama, harap tahu ini.

Mengapa Obama bisa terus melakukan skandal-skandal dan kegagalan-kegagalan seperti ini ? Karena para pendukungnya. Jadi saya berharap bagi anda-anda yang mendukung Jokowi, saya menganjurkan agar anda jangan menjadi seperti pendukung Obama. Berikut adalah hal-hal di bawah ini:

  1. Pendukung Obama menganggap dia sebagai Penyelamat atau men’dewa’kan dia
  2. Ketika kita berpikiran kalau seorang pemimpin adalah ‘tuhan’, maka kita akan melihat oposisi atau orang yang sekedar tidak setuju dengannya adalah ‘setan’. Sehingga setiap oposisi, kritikan atau mungkin sekedar himbauan yang berbeda dengan apa yang dimiliki penyelamatmu akan dianggap menyerang tuhanmu.

    Kalau anda mengikuti media massa di sini, sebagian besar tidak pernah mengungkit skandal-skandal di atas. Wartawan-wartawan pun tidak pernah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tajam dan tidak pernah melihat Obama sedikitpun melakukan kesalahan.

    Hasilnya seperti cerita seorang Raja yang telanjang, di mana seluruh orang tahu kalau si Raja sedang telanjang, tetapi para pendukungnya malah terus memuji-muji ‘pakaian transparan’ si Raja, sampai ada satu anak kecil yang bertanya “kenapa si Raja telanjang?”, tetapi malahan di hukum.

    Ingat dengan baik, kalau kita melihat sejarah, para diktator berawal sebagai penyelamat negara. Hitler ‘menyelamatkan’ German dari krisis ekonomi setelah Perang Dunia 1, Stalin ‘menyelamatkan’ Rusia, Pol Pot ‘penyelamat’ Kamboja, dll. Sejarah akan terulang kalau kita belajar darinya.

    Kalau anda sebagai pendukung, anda juga harus berani mengkritik. Anda harus sadar bahwa Jokowi bukan PENYELAMAT bangsa, tetapi masing-masing dari kita adalah penyelamat bangsa kita.

  3. Pendukung Obama lebih suka berdebat itikad daripada cara pelaksanaan
    Kembali saya memakai contoh tentang perdebatan asuransi kesehatan nasional US, pada saat itu perdebatan bukan mencari cara yang lebih baik dan efisien, tetapi malahan menjadi “Kalau Kamu Setuju Obamacare Berarti Kamu Senang Orang Sakit Mendapat Perawatan, Kalau Kamu Tidak Setuju Obamacare Berarti Kamu Senang Melihat Orang Sakit Tidak Mendapat Perawatan”

    Hal ini menjadi suatu perdebatan yang bodoh dan tidak kritis. Semua pihak mau menyediakan asuransi, semua pihak mau mereformasi sistem kesehatan, tetapi caranya harus dipikirkan dan mengambil yang palin efektif dan efisien. Bukan dengan membebani kalangan menengah dan menumpuk hutang negara sampai $ 9 triliun.

    Pendukung Obama tidak melihat seperti ini, mereke berprinsip “kalau kamu tidak setuju dengan SEMUA ide kami, berarti kamu adalah musuh kami”

    Jangan selalu menganggap setiap oposisi mempunyai ide yang berbeda, mungkin mereka hanya menganjurkan cara pelaksanaan yang berbeda.

    Contoh yang mungkin yang setara dengan keadaan di Indonesia yaitu Menyediakan Akses Pelayanan Kesehatan ke Seluruh Penduduk. Jokowi mungkin akan terus mengusung Kartu Indonesia Sehat, tetapi kalau ada kritikan atau oposisi yang mengajukan cara pelaksanaan yang berbeda, jangan langsung dibilang mereka tidak mau melihat masyarakat yang sakit untuk diobati. Jangan sekali-kali bertindak demikian. Kadang-kadang oposisi sebenarnya bertujuan sama tetapi hanya berbeda pendapat dalam cara pelaksanaan.

    Kaji ide-ide dari oposisi, minta ide-ide mereka, kalau seandainya baik, lebih efisien dan efektif, mengapa tidak dipakai ?

  4. Pendukung Obama Tidak Peduli Konstitusi dan Sistem Negara
    Mereka selalu berpendapat kalau itikad baik, jalan apapun harus ditempuh walaupun itu melanggar hukum dan konstitusi. Jadi misalnya kalau kamu mau mencuri, asal itikadnya baik, maka boleh-boleh saja.

    Banyak hal yang dilakukan Obama di luar wewenang dia sebagai badan eksekutif, tetapi para pendukungnya menutup mata. Menurut mereka Obama beritikad baik jadi tidak ada salahnya.

    Kalau itikad dipakai sebagai alasan untuk melanggar hukum, maka semua tata hukum akan menjadi kacau. Saya bisa berpendapat Bush menyerang Irak karena itikad nya baik, untuk melindungi warga Kurdis yang ditindas Sadam dan warga Amerika.

    Itikad baik HARUS diikuti dengan pelaksanaan yang baik dengan berdasarkan pada konstitusi. Konstitusi dibuat oleh para pendiri negara kita, dan tidak boleh sekali-kali kita beranjak dari nya, walaupun itikad sebaik apapun. Karena kita tidak bisa menebak itikad manusia.

    Jadi para pendukung Jokowi, mohon semohon mohonnya, jangan doakan dia jadi seperti Obama. Bisa lebih hancur bangsa kita.

Leave a Reply

Post Navigation