Ombak dan Badai Masih Mengenal NamaNya

Oleh : Erwin Analau

Heran… saya bukan orang yang tidak pernah naik pesawat. Berpuluh kali sudah pernah naik pesawat, dari yang hanya 1 atau 2 jam sampai yang ke belasan jam. Dari yang perjalanan mulus sampai yang perjalanan dengan cuaca buruk. Namun setiap kali naik pesawat, pasti selalu penuh dengan ketakutan dan kecemasan.

Baru-baru ini kami sekeluarga harus naik pesawat untuk kembali ke Seattle untuk menyudahi liburan kami di Jakarta. Pada bulan Juli, memang bulan yang kurang baik dalam sejarah penerbangan internasional. Setidaknya ada 3 kecelakaan yang diberitakan, penembakan MH17, jatuhnya TransAsia di Taiwan dan jatuhnya Air Algeria karena cuaca buruk. Pada dasarnya, kecelakaan-kecelakaan tersebut terjadi dalam kondisi yang bagaimanapun.

Berita-berita ini menjadi cerita horror yang tidak saya pikirkan, tetapi ada di benak bawah sadar saya. Ketika pesawat yang saya tumpangi mulai memasuki cuaca yang kurang baik atau turbuluance, semua berita-berita ini bermain di dalam pikiran saya. Semua ketakutan, kekhawatiran dan kepanikan mulai timbul dalam diri saya. Keringat dingin membasahi kaki dan tangan saya. Saya memegang anak pertama saya, sambil melakukan apa yang banyak dari kita lakukan ketika sedang ketakutan – berdoa dengan sungguh-sungguh.

Saya melihat ke dua anak saya, yang baru berumur 7 dan 5 tahun, mereka tertidur lelap. Mereka tertidur lelap. Mereka … sedang … tertidur … lelap …

Benar-benar sesuatu yang menghentakkan iman saya. Terus terang saya masih khawatir selama perjalanan dan mungkin akan khawatir juga untuk perjalanan-perjalanan di kemudian hari. Tapi Roh Kudus berbicara kepada saya melalui pengalaman ini.

Hidup itu sama dengan perjalanan di dalam pesawat. Dalam hidup, kalau cuaca sedang baik, jarang kita berdoa-dengan sungguh-sungguh. Jarang kita berseru kepadaNya. Tetapi ketika sedang dalam cuaca yang buruk, mulailah kita mencari Dia atau mungkin bahkan meragukan rencanaNya.

Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan ketika kita mengalami turbulence dalam hidup, khawatir atau tertidur pulas. Kita bisa memilih untuk khawatir, dan itu yang saya pilih dalam perjalanan itu. Saya mainkan semua peristiwa-peristiwa buruk dalam otak saya, dan saya terus mainkan untuk memberikan saya suatu ketenangan semu, kalau terjadi sesuatu saya sudah siap. Saya habiskan tenaga saya dan juga keringat dingin saya. Walaupun saya tahu, kalau memang terjadi peristiwa buruk, sesiap apapun saya, saya tidak akan siap dan mungkin tidak bisa melakukan apa-apa.
Yang ke dua tertidur lelap, seperti ke dua anak saya. Tertidur lelap dalam cuaca yang buruk, membutuhkan suatu iman yang luar biasa. Saya berpikir ketika Yesus memberitahu kita dalam Injil untuk mempunyai iman seperti anak kecil, sepertinya Dia tahu apa yang dia bicarakan.

Ke dua anak saya mungkin tidak mengerti akan berita-berita yang saya baca. Di dalam benak mereka, mereka hanya tahu kalau perjalanan pesawat adalah dari Jakarta ke Taiwan. Dan apapun yang terjadi, mereka akan sampai ke tujuan. Mereka mungkin tidak tahu bagaimana pesawat bekerja, atau siapa pilotnya, atau apa yang bisa terjadi dalam cuaca buruk, mungkin mereka tidak tahu akan semua itu, tapi yang mereka tahu papa dan mama ada bersama mereka dalam perjalanan itu dan semuanya akan beres. Sebaliknya, saya sangat yakin kalau pada waktu itu mereka tidak bersama kami, orang tuanya, mereka tidak akan setenang itu. Lebih lagi, mungkin walaupun cuaca baik dan perjalanan mulus, mereka akan terus mencari orang tua mereka.

Mereka tidak melihat kepada sesuatu atau orang yang tidak dia kenal, tetapi mereka tahu orang tua mereka ada bersama mereka.
Dalam perjalanan kekristenan saya, sering sekali – bahkan sampai sekarang – , saya selalu beriman kepada ciptaan, bukan kepada Bapa saya. Saya suka membuat rencana, saya dilatih untuk memakai logika dan eksperiment untuk membuktikan atau melihat sesuatu. Saya dilatih untuk menganalisa, kalau nilai itu sebesar ini, itu mengindikasikan hal seperti itu. Dan berulang kali di dalam cuaca yang menantang, iman saya hancur berantakan. Ketakutan, kepanikan kadang merajalela dalam perjalanan.

Saat ini, saya sedang menghadapi tantangan di dalam hidup. Saat ini juga, ada suatu ketakutan dalam hidup. Saat ini, Roh Kudus memberikan saya pengharapan di dalam ketidak pastian.

Akhir-akhir ini,saya sedang menyukai sebuah lagu dari Bethel Musik dengan judul “It is Well”. Lagu yang dimodifikasi dari hymn “It Is Well with My Soul” oleh Horatio Spafford.
Salah satu liriknya berkata

Far be it from me to not believe
Even when my eyes can’t see
And this mountain that’s in front of me
Will be thrown into the midst of the sea
So let go my soul and trust in Him
The waves and wind still know His name
It is well with my soul
It is well, it is well with my soul

Jauhkan aku dari keraguan
Walaupun mataku tidak bisa melihat
Dan gunung ini yang ada di hadapanku
Akan dibuang ke tengah samudera
Lepaslah jiwaku dan percaya kepadaNya
Ombak dan badai masih mengenal namanya
Jiwaku tenang

Roh Kudus ajarku untuk tahu dengan Siapa aku berjalan, bukan dengan apa. Bapa yang baik, Bapa yang berkuasa. Seisi alam masih mengenal namanya. Imanku bukan dengan apa, tapi kepada Siapa.

Markus 4:35-41

35 Pada sore hari itu juga, Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Marilah kita berlayar ke seberang danau.” 36 Maka Yesus naik ke perahu, dan pengikut-pengikut-Nya meninggalkan orang banyak di tepi danau, lalu naik ke perahu yang sama. Perahu-perahu lain ada juga di situ. Kemudian Yesus dan pengikut-pengikut-Nya mulai berlayar. 37 Tak lama kemudian datang angin keras. Ombak mulai memukul perahu dan masuk ke dalam sehingga perahu itu hampir penuh dengan air. 38 Di buritan perahu itu, Yesus sedang tidur dengan kepala-Nya di atas bantal. Pengikut-pengikut-Nya membangunkan Dia. Mereka berkata, “Bapak Guru, apakah Bapak tidak peduli, kita celaka?” 39 Yesus bangun, lalu membentak angin itu, dan berkata kepada danau, “Diam, tenanglah!” Angin pun reda, dan danau menjadi sangat tenang. 40Lalu Yesus berkata kepada pengikut-pengikut-Nya, “Mengapa kalian takut? Mengapa kalian tidak percaya kepada-Ku?” 41 Maka mereka menjadi takut dan berkata satu sama lain, “Siapakah sebenarnya orang ini, sampai angin dan ombak pun taat kepada-Nya.”

Leave a Reply

Post Navigation