Orang Baik Susah Masuk Surga

Hari Minggu kemarin di gereja kami merayakan Paskah. Mereka membuat suatu drama musikal yang benar benar professional, tentang kehidupan seorang yang bandel atau rusak, dan kemudian Tuhan rubah. Suatu drama yang sangat inspiratif . Memang Tuhan kita Tuhan yang sanggup merubah kehidupan seseorang 180 derajat. Dari yang sebejat apapun, Dia bisa rubah.

Kemudian, saya mulai melihat kehidupan saya. Dilahirkan dari keluarga Kristen. Sudah tahu Kristen dari kecil. Kehidupan dari kecil hingga dewasa, tidak ada yang terlalu “bejat” … Istilahnya. Anak baik menurut standard orang. Waktu SD tidak terlalu bandel. SMP dan SMA pun tidak berani berbuat yang macam-macam. Kehidupan berkisar antara sekolah, buat PR, main games, makan, tidur … Dan lanjut.
Istilahnya menurut standard orang, anak baik baiklah.

Tapi, terus terang saya merasa kehidupan seperti inilah yang lebih mungkin tidak masuk surga. Mengapa demikian ?

Kalau seorang yang dianggap bandel atau jahat oleh masyarakat setidaknya dia tahu dia perlu Tuhan. Tetapi kalau orang baik, belum tentu dia tahu kenapa dia perlu Tuhan.

Kalau kita berpikir alasan kita butuh Tuhan agar supaya bisa jadi baik, maka untuk apa butuh Tuhan kalau kita sudah baik ? Toh tidak ada bedanya nanti.

Untungnya Tuhan tahu kita sebenarnya tidak akan bisa untuk menjadi baik secara standard Tuhan. Kalau secara standard masyarakat sih mah gampang untuk kelihatannya baik, karena masyarakat hanya melihat luarnya saja.
Contoh kemarin ini ada seorang pemuka agama yang dianggap alim oleh pengikutnya. Ternyata, terbongkar akun WhatsApp nya berisi perzinahan dengan perempuan yang bukan istrinya.

Baik ? Jelas menurut penilaian masyarakat. Tapi hatinya tidak. Dan ini Tuhan tahu.

Celakanya ,sebaik apapun kita berpikir bahwa kita baik, kita tidak akan pernah bisa untuk menjadi baik.

Tidak percaya ? Saya akan berikan 2 argumen saya.

Pertama, kenapa kita berkelakuan baik ? Kalau kita telusuri dan kalau kita mau jujur sejujur jujurnya. Kita kupas semua itikad kita dan melihat inti dari alasan kebaikan kita . Intinya adalah supaya hati kita merasa enak. Tidak ada satupun di antara kita yang mau berbuat baik kalau perbuatan itu tidak akan membuat kita puas. Walaupun bentuk kebaikan itu harus melalui pengorbanan kita. Misalnya kita bisa beri uang kepada orang miskin . Walaupun kita mengorbankan yang kita punya, tetapi hasil dari pengorbanan itu bisa memuaskan hati kita.

Jadi secara tak langsung, kita sebenarnya berbuat kebaikan karena kita sebenarnya egois. Yap kebaikan kita hanya sekedar kedok dari keegoisan kita.
Makanya ada beberapa ajaran agama yang berusaha untuk mengkosongkan ‘diri’ atau menekan rasa puas atau gembira atau perasaan senang, karena mereka tahu akar dari rasa puas yang didapat setelah kita berbuat baik adalah sebenarnya untuk ego kita.

Kedua, kita tahu segala sesuatu di dunia ini dapat menyebabkan sebab-akibat baik secara langsung atau tidak langsung. Sehingga suatu aksi yang sekecil apapun bisa berdampak kepada yang lain secara langsung atau tidak, secara kita sadari atau tidak. Misalnya kamu buang suatu botol plastik ke laut, karena sampah tersebut mungkin akan membunuh sekumpulan ikan. Karena matinya sekumpulan ikan tersebut, anda bisa membuat sekeluarga nelayan kelaparan. Anda bisa berargumen, lah emang buang sampah sembarangan khan salah yah pasti akan merugikan orang lain. Ok, mari kita bayangkan misalnya kita berbuat kebaikan. Contoh yang paling gampang, misalnya ada program pemerintah yang memberi bantuan uang untuk orang miskin. Bantuan tersebut baik dan mulia, tapi tidak tertutup kemungkinan banyak digunakan beberapa orang untuk bermalas-malasan dan hanya bergantung kepada Pemerintah. Jadi akibat suatu kebaikan tidak selalu positif, dan sesuatu yang tidak berakibat positif itu berarti bukan baik. Karena kita selalu mengukur dampak kebaikan dari efeknya, bukan dari persepsi kita. Kalau kita mengukur kebaikan hanya berdasarkan persepsi kita, maka kita adalah seorang yang sangat super egois. Dan itu berarti kita bukan orang baik.

Hahahahhaha … jadi bagaimana dong ?
Well … kita kembali lagi ke alasan dari banyak orang untuk berbuat baik. Kebanyakan orang yang beragama, berbuat baik itu diidentikkan sebagai ‘bayaran’ untuk bisa masuk surga. (Kalau orang yang tidak beragama, yah beda lah, saya akan bahas di artikel yang lain). Istilahnya kalau kita mau masuk ke rumah orang, maka kita sebagai tamu harus memenuhi syarat yang diberikan empunya rumah. Misalnya mohon dibuka sendalnya, maka sebagai tamu yah kita harus nurut.

Nah … sama kalau kita mau masuk surga … kita harus nurut sama permintaan yang empunya surga. Banyak agama yang mengajarkan bahwa Tuhan mempunyai suatu timbangan yang akan menimbang aksi baik dan aksi jahat kita. Masalahnya kalau sistem ini benar, maka bisa menyebabkan banyak ketidak adilan ! Mengapa demikian ?

  1. Bagaimana kita tahu berapa ‘berat’ kebaikan yang kita buat dan berapa ‘berat’ kejahatan yang kita buat.
  2. Andaikata kita mengukur ‘berat’ kebaikan dari banyaknya jumlah orang yang terkena efek dari kebaikan kita, maka sangatlah mudah untuk orang kaya untuk masih surga. Dia bisa memberikan banyak uang kepada banyak orang. Sedangkan yang miskin, bisa susah masuk surga.
  3. Bagaimana kalau kebaikan yang maksudnya baik malah ujung-ujungnya efeknya tidak baik ?
  4. Atau sebaliknya itikad tidak baik, tapi malah ujungnya baik ?
  5. Dan kalau Tuhan tahu isi hati, maka bagaimana dengan perbuatan baik dilakukan dengan itikad tidak baik, tetapi efeknya baik kepada banyak orang ?
  6. Dan bagaimana kalau timbangannya netral ? Jadi perbuatan baik = perbuatan jahat ? Apa bakal disuruh try again (kaya main game aja)

Ribet banget … bisa bikin sakit kepala kalau Tuhan memang benar memakai sistem di atas. Kalau Tuhan memakai sistem di atas, Dia tidak Maha Adil, karena Dia tahu sistem itu bisa menguntungkan pihak pihak tertentu.

JAdi bagaimana ? Bagaimana kita bisa masuk surga ? Tidak seribet yang kita bayangkan … mengutip mantan Presiden kita “Gitu aja kok Repot”
Kuncinya kita harus sadar TIDAK ada satupun di dunia ini yang istilahnya baik menurut standard Tuhan. Tidak ada kebaikan kita yang bisa bikin Tuhan di atas terkagum-kagum.
“WOW … ini orang baik banget ! GILA MAN ! Eh malaikat malaikat, lihat tuh ! Man tuh orang baik banget nget nget !”

Karena Dia tahu tidak ada satupun aksi baik kita yang bisa memenuhi standardNya.

Lalu bagaimana kita bisa dianggap mmmh BENAR oleh Dia. (perhatikan saya tidak memakai kata Baik, tetapi Benar)

Dia berikan jalan kepada kita, dengan memberikan AnakNya Yesus untuk mati bagi kita. Dia yang menanggung semua dosa kita, sehingga dihadapanNya kita diBENARkan.
Bukan karena usaha dan kuat kuasa kita.

Dia yang merubah hati kita. Dari hati yang baru tersebut mulai mengalir perbuatan-perbuatan yang baik. Tidak sempurna. Tidak masalah. Karena kita memang tidak sempurna, tetapi DIA sempurna.
Dengan ketidaksempurnaan dan ketidak baikan kita, kita sadar bahwa kita harus tergantung kepada Dia setiap saat dan setiap waktu.

Perbuatan baik menjadi suatu kesukaan dan bukan lagi suatu keharusan. Mencintai sesama merupakan suatu ekspresi perasaan kita, karena Dia sudah terlebih dahulu mencintai kita, malah sebelum kita menjadi orang baik. Dia memilih kita bukan karena kita baik atau penuh potensi, tetapi karena Dia adalah kasih.

Jadi … Intinya orang baik memang sukar masuk surga. Karena standard untuk masuk ke sana, bukan kebaikan kita. Kebaikan kita sama sekali tidak memenuhi standardNya. Nope. Nggak even level 0.

Dia tahu itu semua, sehingga Dia akhirnya yang harus datang dan menanggung dosa. Karena Dia tahu kebaikan kita tidak akan bisa menjadi jembatan ke surga.

Jadi ingat, orang baik memang sukar masuk surga, tetapi mereka yang dengan iman dibenarkan olehNya, tidak perlu khawatir.

Sumber inspirasi :
Roma 3:1-31

Leave a Reply

Post Navigation