Pemanis Buatan Dapat Menyebabkan Diabetes

sweetener

Oleh : Karen Weintraub,

Memilih pemanis buatan untuk menghindari gula mungkin hanya mengganti masalah dengan masalah yang lain, sebuah studi baru menunjukkan.

Bagi sebagian orang, pemanis buatan dapat menyebabkan diabetes tipe 2 sama seperti mengkonsumsi gula, menurut penelitian, yang diterbitkan hari Rabu dalam jurnal Nature.

Manfaat dan risiko dari pemanis buatan telah diperdebatkan selama beberapa dekade. Beberapa studi menunjukkan tidak adanya hubungan ke diabetes dan studi lain menunjukkan sebaliknya. Penelitian baru, dari Weizmann Institute of Science di Israel, menemukan bahwa perbedaan dalam mikroba usus mungkin menjelaskan mengapa beberapa orang dapat mengkonsumsi pemanis buatan dengan aman sedangkan sejumlah persentase orang pemanis buatan dapat menyebabkan diabetes.

Sistem pencernaan manusia adalah rumah bagi jutaan mikroba, sebagian besar bakteri, yang membantu dalam pencernaan makanan dan memainkan peran dalam kesehatan.

Para peneliti dengan segera menambahkan bahwa penelitian mereka harus bisa diulang sebelum jelas apakah pemanis buatan benar-benar dapat memicu diabetes.

“Saya pikir masalah ini masih jauh dari terselesaikan,” kata Eran Elinav, yang mempelajari hubungan antara sistem kekebalan tubuh seseorang, mikroba usus dan kesehatan di Weizmann Institute.

Ia mengakui bahwa penelitiannya telah mengurangi kebiasaan nya untuk menambah pemanis ke kopi yang ia butuhkan untuk melewati harinya.

“Aku sudah mengkonsumsi kopi dalam jumlah yang sangat besar dan banyak menggunakan pemanis, dengan pemikiran bahwa setidaknya mereka tidak berbahaya dan bahkan mungkin menguntungkan,” kata Elinav pada konferensi pers telepon hari Selasa. “Mengingat hasil yang mengejutkan dari penelitian kami, saya membuat keputusan untuk berhenti menggunakan pemanis buatan.

George King, Kepala Ilmuwan di Joslin Diabetes Center di Boston, yang menulis buku yang akan dipublikasi The Diabetes Reset, mengatakan dia mungkin akan mengurangi kebiasaan diet soda, juga.

“Saya pikir saya akan merekomendasikan bahwa orang tidak minum lebih dari satu atau dua kaleng sehari,” kata King, yang tidak terlibat dalam penelitian baru.

Pemanis buatan tidak dapat dicerna, sehingga diasumsikan bahwa tidak akan ada jalan bagi mereka untuk menyebabkan diabetes. Mikroba tampaknya memberikan jalan tersebut.

Dalam serangkaian percobaan pada tikus dan manusia, para peneliti meneliti interaksi antara mikroba usus dan konsumsi pemanis aspartam, sucralose dan sakarin. Tergantung pada jenis mikroba yang mereka miliki dalam usus mereka, beberapa orang dan tikus diamati mengalami dua sampai empat kali lipat peningkatan gula darah setelah mengkonsumsi pemanis buatan untuk waktu yang singkat. Seiring waktu, kadar gula darah tinggi dapat menyebabkan diabetes.
“Besarnya perbedaan tersebut tidak hanya beberapa persentase. Ini adalah benar-benar perbedaan yang sangat dramatis yang kita lihat baik pada eksperiment tikus dan manusia,” kata Eran Segal, seorang rekan penulis studi yang merupakan ahli biologi komputasi di Weizmann Institute .

Penelitian ini melibatkan beberapa bagian:

  • Sebuah studi diet atas 400 orang menemukan bahwa mereka yang mengkonsumsi pemanis buatan adalah yang paling lebih cenderung memiliki masalah dalam mengendalikan gula darah.
  • Tujuh orang yang tidak biasanya mengkonsumsi pemanis buatan diikuti secara intensif selama seminggu karena mereka diberi makan sakarin dalam jumlah yang dikendalikan. Empat dari tujuh menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kadar gula darah.
  • Tikus yang diberi makan pemanis buatan sakarin mengalami peningkatan dramatis dalam kadar gula darah mereka.
  • Tikus tanpa mikroba usus tidak melihat peningkatan kadar gula darah ketika mereka makan pemanis buatan. Setelah tikus bebas mikroba ini dimasukkan mikroba dengan cara diberi kotoran tikus normal yang makan pemanis buatan, kadar gula darah mereka melonjak setelah makan pemanis buatan, menunjukkan bahwa mikroba usus adalah kekuatan pendorong dalam reaksi.

Penelitian tikus yang secara khusus ini “dilakukan dengan jeli dan diselesaikan dengan sangat bagus” kata Cathryn Nagler, yang meneliti hubungan antara mikroba usus dan alergi makanan di University of Chicago dan menulis komentar tentang studi tersebut di Nature. Bagian studi yang masih tanda tanya, Nagler mengatakan, adalah penjelasan tentang perbedaan populasi mikroba usus mungkin dapat mengubah kemampuan seseorang untuk memproses pemanis buatan.

Dalam mencoba untuk memahami mengapa penyakit tertentu seperti alergi makanan dan diabetes terus meningkat, Nagler mengatakan bahwa dia mengamati perubahan dalam mikroba usus, seperti pengenalan antibiotik, perubahan dalam diet, kelahiran Caesar, pengenalan susu formula dan penghapusan penyakit menular.

“Sekarang,” katanya, “saya akan menambahkan pemanis buatan dalam daftar ini.”

Leave a Reply

Post Navigation