Pemeriksaan Ulang Mempertanyakan Keefektifan Dari Obat Anti-Virus Flu

2014-04-10T080701Z_1902540258_PBEAHUNWBDL_RTRMADP_3_HEALTH-ROCHE-HLDG-TAMIFLU

Pemeriksaan Ulang Mempertanyakan Keefektifan Dari Obat Anti-Virus Flu

Oleh Deborah Kotz

Pemerintah AS telah menghabiskan lebih dari U$ 1 miliar selama dekade terakhir untuk menimbun obat anti-virus Tamiflu dan Relenza sebagai persiapan atas wabah pandemic flu, tapi pengamatan terbaru dari data percobaan klinis dari para produsen menemukan bahwa obat-obat tersebut tidak mengurangi perawatan rumah sakit terkait flu atau komplikasi serius seperti pneumonia, infeksi sinus, atau kematian.

Setelah melancarkan kampanye public relations selama empat tahun, peneliti dari Cochrane Collaboration, sebuah jaringan penelitian perawatan kesehatan global, diberi akses ke sdata-data lengkap lebih dari 24.000 peserta penelitian dalam 20 percobaan Tamiflu dan 26 percobaan Relenza – sekitar 150.000 halaman yang berisi data – dari produsen Roche dan GlaxoSmithKline.

Mereka menemukan bahwa dibandingkan dengan plasebo, Tamiflu memperpendek durasi gejala flu dengan lebih kurang dari sehari – dari 7 hari menjadi 6,3 hari – tetapi mempunyai efek samping yang lebih. Ini termasuk mual dan muntah, dan pada mereka yang menggunakan obat tersebut selama berminggu-minggu untuk mencegah flu, menyebabkan sakit kepala, masalah ginjal, dan kondisi kejiwaan seperti depresi atau kebingungan, menurut temuan yang dipublikasikan pada hari Rabu di British Medical Journal. Relenza, yang dihirup, memiliki efek yang sama untuk memperpendek gejala, tanpa ada peningkatan risiko efek samping.

” Ini adalah situasi di mana efektivitas obat-obatan ini telah dilebih-lebihkan dan efek-efek merugikannya diremehkan, ” kata Dr Fiona Godlee, pemimpin redaksi dari British Medical Journal, yang bekerja dengan Cochrane untuk mendesak produsen untuk merilis data-data dengan lengkap. “Hal ini mempertanyakan keputusan untuk menimbun obat-obat ini di seluruh dunia dan memberi kita pengetahuan yang menyedihkan tentang sistem itu sendiri. ”

Sejak tahun 2005, Departemen Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS) menghabiskan U$ 1.3 miliar untuk membeli 50 juta dosis obat anti-virus dan mensubsidi negara-negara bagian untuk membeli 31 juta dosis pengobatan tambahan untuk stok mereka sendiri. Massachusetts tidak memiliki pasokan sendiri.

Setelah mendistribusikan 11 juta dosis selama pandemic di tahun 2009 yang disebabkan oleh strain flu H1N1, pemerintah federal mengisi ulang pasokan tersebut.

“Tanggapan atas pandemi di masa depan, pembelanjaan HHS untuk obat-obat anti-virus dan vaksin akan didasarkan pada analisis risiko-manfaat menggunakan semua keamanan dan kemanjuran produk dan data tentang tingkat keparahan penyakit dan transmisi yang tersedia pada saat itu, ” kata Gretchen Michael, juru bicara HHS, yang menolak mengomentari apakah kebijakan itu akan berubah berdasarkan data baru.

Berdasarkan studi di tahun 2011, peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) memperkirakan bahwa penggunaan obat anti-virus selama wabah H1N1 mencegah 8.400 sampai 12.600 rawat inap di Amerika Serikat akibat komplikasi terkait flu, tapi ulasan ulang yang dilakukan Cochrane menemukan mungkin itu bukan penyebabnya.

Dia juga menemukan bahwa perawatan dengan obat anti-virus sebagai tindakan pencegahan menurunkan risiko seseorang terkena gejala flu, tetapi tampaknya tidak menghentikan penularan virus tersebut.

Sementara informasi di situs Food and Drug Administration tentang Tamiflu dan Relenza tidak menyebutkan bahwa obat-obat tersebut dapat mencegah komplikasi terkait flu, website CDC menyatakan bahwa bagi orang-orang dengan kondisi medis berisiko tinggi, “pengobatan dengan obat anti-virus dapat menyebabkan perbedaan antara menderita sakit ringan, atau menderita sakit sangat serius yang dapat mengakibatkan tinggal di rumah sakit. ”

Pejabat CDC berpendapat bahwa laporan tersebut didasarkan pada studi yang mengawasi para penderita flu yang diobati dengan obat anti-virus dalam praktek klinis dunia nyata, yang menemukan bahwa ketika obat diberikan dalam hari pertama atau kedua ketika gejala muncul, mereka mengurangi risiko komplikasi dibandingkan ketika mereka tidak diberi sama sekali.

Sebuah analisis yang dipublikasikan bulan lalu dalam jurnal Lancet Respiratory Medicine menemukan bahwa mereka yang diobati dengan obat anti-virus adalah 50 persen lebih kecil kemungkinan untuk meninggal akibat infeksinya daripada mereka yang tidak.

” Ketika CDC merumuskan rekomendasi pengobatan anti-virus, kita melihat semua bukti yang tersedia, ” kata Dr Timothy Uyeki, kepala medis untuk divisi influenza CDC dan penulis analisis Lancet. Dia mengatakan bahwa ia berencana untuk memeriksa ulasan Cochran yang terbaru tetapi lembaga tersebut akan ” terus menekankan pengobatan anti-virus untuk setiap pasien rawat inap ” yang didiagnosis dengan flu.

Namun, para peneliti lain berpendapat bahwa mengandalkan data studi populasi – dan bukan uji klinis – dapat menyesatkan.

Dokter-dokter mungkin memilih untuk menggunakan obat anti-virus pada pasien lebih sehat dan melewatkan saja mereka yang kemungkinannya lebih kecil untuk bertahan hidup karena serangan flu, kata Harlan Krumholz, seorang profesor kedokteran di Yale University School of Medicine, yang menulis editorial yang menyertai studi baru tersebut.

” Ini adalah masalah yang sangat kontroversial untuk mengatakan bahwa bukti-bukti tersebut cukup kuat sebagai alasan untuk menimbun miliaran dolar dari obat ini, ” tambah Krumholz. Dia menyerukan pemerintah federal untuk mendanai suatu uji klinis independen untuk menentukan apakah memang obat anti-virus mencegah pneumonia dan kematian pada mereka yang dirawat di rumah sakit dengan flu.

Diadaptasi dari situs: http://www.bostonglobe.com/lifestyle/health-wellness/2014/04/09/evidence-that-anti-viral-drugs-for-flu-prevent-serious-complications-deaths/sSpMLDjRhGwSexWYk2kzWO/story.html

Leave a Reply

Post Navigation