Pemuridan Anak Anda Lebih Dari Sekedar Ibadah Keluarga

Diterjemahkan dari situs : http://thegospelcoalition.org/blogs/tgc/2014/02/26/discipling-your-kids-is-more-than-family-devotions/

kids-and-dad-300x199

Oleh Derek Brown

Beberapa bulan yang lalu saya berada di dapur menyiapkan makan siang dan mendengar lagu yang terhembus dari ruang tamu. Anak saya menyanyikan “Hark the Herald Angels Sing” bersama dengan buku Natal interaktif . Terutama menyenangkan adalah dia mengganti kata “pagi ” dengan ” kemuliaan” dan bergumam tak jelas pada bagian “damai di bumi”. Dia tidak memiliki masalah dengan kalimat berikut : “Tuhan dan orang-orang berdosa berdamai “, anak saya yang berumur 3 tahun berteriak dengan sukacita. Saat aku tertawa sendiri dan menambahkan mustard ke sepotong roti gandum , istri saya – yang selalu siap untuk memberikan momen pengajaran – beralih ke ruang tamu . “Apakah kamu tahu apa artinya rekonsiliasi , Colton ? ” Setelah ia menunjukkan ia tidak memahami arti dari kata yang telah teriakan di rumah, istri saya melanjutkan untuk menjelaskan , dalam istilah yang sederhana , sifat hubungan kita dengan Tuhan dan kebutuhan kita akan seorang Juruselamat .
Tunggu dulu : Tidakkah Colton pernah mendengar hal-hal itu sebelumnya? Bukankah dia kenal dengan ide dosa dan kekudusan dan kebutuhan untuk benar dengan Allah ? Sejak membawanya pulang dari Ethiopia dua setengah tahun yang lalu, kami telah melakukan ibadah keluarga secara rutin setiap malamnya . Kita akan membaca Alkitab The Jesus Storybook beberapa kali dan berbicara banyak tentang Tuhan, Kristus , dan salib selama pelajaran Alkitab setiap malam. Bukankah itu cukup ?

Pemuridan Kompartemen

Meskipun istri saya sangat bertalenta dalam melihat momen pengajaran , sore itu saya gagal untuk memanfaatkan nyanyian Colton. Sangat mudah bagi saya untuk memuridkan anak saya dengan cara saya mengatur kantor saya. Setiap benda yang di dalam , di atas, dan di sekitar meja saya dijaga dari benda –benda asing dengan sistem yang dibuat secara berhati-hativdan diperbarui secara teratur . Mengapa sedemikian pegaturannya ? Karena esensi dari keorganisasian adalah memiliki tempat untuk segala sesuatu , dan produktivitas sehari-hari sangat tergantung pada kesiapan akses dan kehandalan untuk menemukan alat yang tepat pada waktu yang tepat .

Tapi biarkan saya memakai kelihaian dalam mengorganisasi untuk mengasuh anak kami dan saya mungkin akan segera menemukan diri terjebak dalam hal yang paling ditakuti, kompartementalisasi Kristen. Selama saya telah menyelesaikan waktu formal membaca Alkitab , berdoa , dan bernyanyi , semua aspek lain dari pemuridan akan otomatis selesai-kan? Jangan biarkan kegiatan yang menyenangkan mengganggu pembacaan Alkitab yang serius , atau diskusi rohani tercampur dengan waktu mandi . Ingat : segala sesuatu ada tempatnya .
Potensi yang berbahaya dalam pemikiran seperti ini sangat jelas . Jika kita berbicara dengan anak-anak kita tentang hal-hal rohani hanya selama rutinitas malam kami atau pada hari Minggu setelah gereja , kita secara bertahap mengajar mereka untuk mengisolasi iman mereka jadi bagian-bagian kecil dari hari dan minggu mereka. Realitas rohani, yang seharusnya larut dalam kehidupan seperti layaknya gula dalam teh, hari-hari hanya dikelompokkan menjadi kelompok-kelompok kecil , dan kita terheran mengapa anak-anak kita tidak bisa berpikir atau bertindak sebagai orang Kristen – yang tulus – kecuali pada saat saat formal. Ketika mereka tumbuh menjadi remaja , ia akan merasa janggal untuk berbicara tentang kekudusan Tuhan sambil menikmati pertandingan bisbol atau untuk membahas Kitab Suci saat bermain bola basket.

Masalahnya di sini bukan terletak pada kegiatan ibadah keluarga yang teratur. Sebaliknya , terletak pada ketergantungan kita dalam mengandalkan instruksi formal tersebut untuk memenuhi tanggung jawab kita untuk melatih anak-anak kita dalam takut akan Tuhan. Apakah bijaksana untuk menyisihkan waktu setiap hari untuk ibadah keluarga , doa , dan membaca Alkitab? Tentu saja. Tapi kita harus menerapkan ketekunan yang sama dalam mencari bahan renungan yang terbaik dan mencari peluang yang tak terduga untuk mengajar sepanjang hari . Panggilan Tuhan menempatkan saya untuk memuridkan anak saya jauh lebih komprehensif daripada yang bisa didapat dari beberapa menit ibadah keluarga. Alkitab menggambarkan pendekatan yang menyeluruh untuk pemuridan yang tahan kompartementalisasi .

Musa dan Amsal : Pemuridan Sepanjang Hari

Musa , misalnya , menginstruksikan para orang tua Israel untuk berbicara secara rutin tentang Tuhan kepada anak-anak mereka , dengan cara menyelipkan pembicaraan spiritual dalam aktifitas hari-hari : ” 7. Ajarkanlah kepada anak-anakmu. Hendaklah kamu membicarakannya di dalam rumah dan di luar rumah, waktu beristirahat dan waktu bekerja.” ( Ulangan 6:7 ) . Orang tua tidak bisa memisahkan instruksi Alkitab dari ritme alami harian atau mengkarantinanya ke dalam renungan singkat sebelum tidur. Musa membayangkannya semacam pemuridan yang berjalan-dan-mengajar di tengah peristiwa hidup normal.

Kitab Amsal mengiinstruksikan pemuridan orang-tua-ke-anak ini setidaknya dalam dua cara .

Pertama , struktur Amsal menegaskan orang tua untuk keluar dari pola pikir kompartemen . Salah satu peringatan, misalnya , bahwa Amsal membahas berbagai macam topic tanpa mengikuti garis yang jelas. Satu ayat mungkin berbicara tentang mendapatkan kebijaksanaan dengan mendengarkan instruksi ( 10:08 ) , sedangkan selanjutnya menyebutkan nilai integritas ( 10:9) , beberapa ayat kemudian kembali membahas kebijaksanaan ( 10:17). Ayat-ayat yang memuji orang rajin dan menegur si pemalas ( 12:11) diantara ayat-ayat yang menjelaskan tentang merawat hewan ( 12:10) dan bahaya ketamakan ( 12:12) . Mengapa sepertinya metode instruksi bertele-tele ? Karena Salomo tahu, kehidupan jarang datang pada kita dalam bagian-bagian yang terorganisir dengan teliti. Ini adalah contoh dari kesabaran sesaat setelah anak anda menumpahkan secangkir susu ke lantai yang baru saja dipel; ini adalah peringatan kepada anak Anda bagaimana dia sangat membutuhkan Yesus sesaat setelah dia melempar bonekanya ke kakaknya dengan kemarahan.

Kedua, Amsal menggambarkan seorang ayah sedang berjalan dan berbicara kepada anaknya, dengan kekreatifanya menggunakan contoh-contoh dari kehidupan sehari-hari untuk menginstruksikan tentang jalan hikmat . “Lihat ini, ” kata si orang tua yang tanggap, “Lihat bagaimana semut bekerja keras tanpa ada yang memotivasi dia? ” (Amsal 6:6-8 ). Atau ketika mereka melewati seorang prajurit, sang ayah mungkin berkata , “Dia adalah orang yang kuat dan berani . Tetapi seseorang yang dapat menjaga lidahnya lebih perkasa” ( 16:32). Orang tua ini tidak menunggu sampai 15 menit sebelum tidur untuk memulai percakapan spiritual , dia mengambil kesempatan sepanjang hari untuk menanamkan dalam diri anaknya, sebuah visi Allah sebagai Tuhan dari segala sesuatu , termasuk semut dan tentara .

Saya yakin , karenanya, ketika kita terjun masuk ke dalam Alkitab dan membiarkan Tuhan untuk memperluas pandangan kita tentang pemuridan untuk mencakup keseluruhan hari , kemampuan kita untuk memahami dan memanfaatkan peluang yang tepat, akan dengan sendirinya mengalir keluar dari kehidupan kita . Sehingga , anak-anak kita dapat menemukan iman yang benar-benar meresap dan sang Juruselamat yang benar-benar mengubah segalanya , bukan ketika sekedar waktu tidur .

Derek Brown ( kandidat PhD , The Southern Baptist Theological Seminary ) adalah redaktur pelaksana The Journal of Discipleship and Family Ministry, content editor dari Family Ministry, dan kontributor baru untuk Reformation Faith: Exegesis and Theology in the Protestant Reformation ( UK : Paternoster 2014 ) . Derek tinggal bersama istri dan anaknya di Louisville , Kentucky .

Leave a Reply

Post Navigation