PENELITIAN MENGHUBUNGKAN ANTARA GEN PAYUDARA DAN KANKER RAHIM BERESIKO-TINGGI

double-helix-dna

Oleh Marilynn Marchione

Wanita dengan gen kanker payudara yang cacat memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami tumor rahim yang langka tapi mematikan, walaupun ovaries (indung telur) mereka telah diangkat untuk menurunkan risiko kanker utama mereka, dokter melaporkan.

Sebuah studi terhadap hampir 300 perempuan dengan gen BRCA1 yang cacat menemukan 4 kasus kanker rahim yang agresif, beberapa tahun setelah mereka menjalani operasi preventif untuk mengangkat indung telur mereka. Angka tersebut adalah 26 kali lebih besar dari yang diharapkan.

” Satu kasus bisa saja terjadi. Dua, mulai menimbulkan pertanyaan , dan empat sangat mencurigakan,” kata Dr Nuh Kauff dari Memorial Sloan Kettering Cancer Center di New York.

Studinya, yang dilaporkan pada hari Senin dalam konfrensii kanker di Florida, adalah yang pertama untuk menghubungkann hal ini. Meskipun belum cukup bukti untuk mengubah praktek saat ini, para dokter mengatakan wanita dengan mutasi gen ini harus diberitahu tentang hasil penelitian ini dan mempertimbangkan untuk mengangkat rahim dan juga indung telur mereka.

” Sangat penting bagi wanita untuk memiliki informasi itu… tapi saya pikir itu terlalu dini untuk betul-betul merekomendasikan kepada pasien bahwa mereka harus menjalani histerektomi , sampai penelitian lebih lanjut menkonfirmasi temuan ini,” kata Dr Karen Lu, seorang spesialis dalam kanker wanita di MD Anderson Cancer Center di Houston.

Dia berencana untuk mempelajari pasien dengan kriteria yang sama di rumah sakitnya, pusat kanker terbesar di Amerika, untuk melihat apakah mereka juga memiliki risiko kanker rahim yang lebih tinggi.

Sekitar 1 dari 400 wanita di Amerika Serikat, dan banyak dari keturunan Eropa Timur, memiliki BRCA1 atau BRCA2 yang cacat sehingga meningkatkan resiko mereka untuk kanker payudara dan kanker ovarium. Dokter menyarankan mereka untuk memonitor lebih awal dan lebih sering untuk kanker payudara, dan mengangkat indung telur mereka setelah selesai memiliki anak agar membantu mencegah kanker rahim dan payudara, karena hormon-hormon rahim mempengaruhi kanker payudara juga.

“Namun peranan gen BRCA pada kanker rahim belum diketahui,” kata Kauff.

Studinya melihat 1.200 wanita yang didiagnosis dengan mutasi gen BRCA sejak tahun 1995 di Sloan Kettering. Para dokter mampu memonitor 525 dari mereka selama bertahun-tahun setelah mereka menjalani operasi yang hanya mengangkat indung telur mereka tetapi memembiarkan rahim utuh.

Sebagian besar kanker rahim adalah tipe berisiko rendah biasanya disembuhkan dengan pembedahan saja. Tipe-tipe yang agresif hanya terhitung 10 sampai 15 persen dari seluruh kasus tetapi menyebabkan lebih dari 50% kematian akibat kanker rahim.

Para peneliti terkejut melihat 4 kasus di antara 296 wanita dengan mutasi BRCA1. Tidak ada kasus pada wanita dengan mutasi BRCA2, kata Kauff.

Penelitian ini dibahas ada hari Senin di pertemuan tahunan Society of Gynecologic Oncology di Tampa, Florida.

Tahun lalu, aktris Angelina Jolie mengungkapkan dia menjalani operasi preventif untuk mengangkat kedua payudaranya karena mutasi BRCA1. Ibunya menderita kanker payudara dan meninggal karena kanker ovarium, dan nenek dari pihak ibunya juga menderita kanker ovarium.

Diterjemahkan dari situs : http://hosted.ap.org/dynamic/stories/U/US_MED_CANCER_GENE?SITE=AP&SECTION=HOME&TEMPLATE=DEFAULT&CTIME=2014-03-24-11-16-36

Leave a Reply

Post Navigation