Refleksi Jumat Agung Tentang Yesaya 53

Salvation
Oleh : Anne Lincoln Holibaugh

10. Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan.
Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah,
ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut,
dan kehendak Tuhan akan terlaksana olehnya.
11. Sesudah kesusahan jiwanya
ia akan melihat terang dan menjadi puas;
dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar,
akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya,
dan kejahatan mereka dia pikul.
Yesaya 53:10-11 (TB)

Suatu kehendak Bapa untuk meremukkan anak-anak -Nya pada waktu yang berbeda. Selalu dalam kasih. Selalu untuk kemuliaan-Nya dan, pada akhirnya, untuk kebaikan mereka.

Saya merasa diremukkan oleh Tuhan pada saat ini setahun yang lalu. Patah, memar dan tercabik dengan sangat sebagai akibat dari kekecewaan, keraguan dan ketidaktaatan, hati saya merasa seperti luka yang terbuka lama dan aku mendapati diriku memohon untuk dipulihkan seperti Daud dalam Mazmur 51:10 (TB) : ” 10Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kau remukkan bersorak-sorak kembali!”. Tak perlu dikatakan, saat itu aku sedang mengalami waktu yang sulit.

Jadi ketika saya mendengar ayat-ayat Yesaya 53 pada kebaktian Jumat Agung, mereka bergaung di dalam saya, menghibur saya. Ayat-ayat tersebut terdengar lagi dan lagi dalam pikiran saya, menenangkan jiwaku. ” Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan”. Ini adalah kehendak TUHAN… untuk menremukkan -Nya.

Saya merasa yakin bahwa jika itu adalah kehendak Tuhan untuk meremukkan PutraNya, maka niat -Nya dalam meremukkan saya harus ada kebaikan di baliknya juga. Tapi bagaimana ? Saya perlu memahaminya.

Yesus Kristus, Anak Allah, diremukkan oleh karena dosaku. Dia tertikam oleh karena pemberontakan saya. Dia menanggung setiap kegagalan dan pelanggaran, semua momen ketidakpercayaan, keraguan dan ketidaktaatan. Ia dihukum untuk setiap keinginan yang jahat dari hati saya, untuk setiap kecenderungan untuk tinggi hati dan ketakutan. Dia menanggung setiap hal dari kesedihan saya, setiap bagian terkecil dari penyakit rohani saya. Dosaku menuntut penderitaan jiwa-Nya.

Yesus mengambil apa yang seharusnya saya derita dan mati menggantikan tempat saya. Dia melakukannya dengan kasih – kasih kepada Bapa dan kasih kepada saya. Dan kehancuranNya, Dia menghancurkan sepenuhnya dan selamanya dosa yang membuat saya terikat dan jauh dari pada-Nya.

Saya terkagum. Dan saya bisa melihat bahwa kehancuran saya sangat berbeda dari Yesus.
Kehancuran yang saya alami bukanlah suatu penghukuman dan, ironisnya, datang karena aku telah diampuni dosanya dan diadopsi sebagai anak Allah yang dikasihi-Nya. Keremukkan Yesus membelikan saya keremukan yang serupa disiplin seorang ayah, bukan penghukuman. Hal ini terjadi atasku dengan tangan yang kuat dan penuh kasih dan dilakukan-Nya demi kebaikan saya.
Allah Bapa telah menghancurkan saya untuk membuat saya dekat, untuk mengingatkan saya bahwa menjauhi diri dari-Nya akan selalu berakhir buruk. Dia tidak menghukum saya dan Dia tidak marah padaku. Dia mengajar saya untuk mempercayai-Nya bahkan ketika aku tidak bisa melihat dan tidak sependapat atau mengertinya. Itu adalah anugerah yang luar biasa dan juga menyiksa.

Kehancuran saya adalah tentang koreksi dan ketaatan. Tapi aku butuh bantuan untuk melihatnya dengan benar. Aku harus melihat melalui lensa -Nya untuk memahami bahwa itu adalah kasih – bukan kemurkaan.

Sejalan dengan peringatan kematian Kristus di Jumat Agung ini, marilah kita menerima penghiburan dari Injil. Dia meremukkan Yesus karena kita. Dan pada waktu Dia meremukkan kita juga, dalam kasih, sehingga kita dapat menjadi serupa dengan Putra-Nya, serupa dengan Dia yang telah diremukkan.

Diterjemahkan dari situs : http://www.thevillagechurch.net/the-village-blog/good-friday-reflections-on-isaiah-53/

Leave a Reply

Post Navigation