Revolusi Mental bagian 1 : SIM A !

Sebelumnya Selamat Hari Kemerdekaan 69, Indonesia ! Jelek atau bagus, di kemudian hari inilah tempat di mana saya akan menutup mata 🙂

Saya mau menceritakan kejadian yang saya alami ketika hendak mengambil SIM A baru di SatPas Polda Metro Jaya Daan Mogot tanggal 16 Juli yang lalu. Hal ini terjadi karena saya sudah lama berdiam di luar negeri, dan SIM Indonesia saya sudah mati puluhan tahun lalu.

Karena saya terinspirasi untuk memilih jalan lurus, maka saya tidak berusaha untuk memakai biro jasa atau calo. Revolusi Mental harus dimulai dari pribadi sendiri, pikirnya saya.

Pagi-pagi sekali sekitar jam 7, saya sudah berada di tempat. Di dalam dan di luar gedung SAMSAT, banyak terlihat calo-calo bertebaran. Pemandangan yang sangat ironis. Di tempat yang penuh polisi, ternyata banyak pelanggar hukumnya.

Sebenarnya proses pembuatan SIM tidaklah sukar, pertama di suruh tes kesehatan, kemudian membayar aplikasi dan asuransi lalu mengikuti ujian tulis dan praktek. Kira-kira hanya memakan ongkos sekitar Rp 200,000 –an, namun kalau melalui calo maka harus membayar Rp 600 – 700 ribu tanpa perlu mengikuti ujian tulisan atau praktek.

Setiap langkah saya ikuti dengan penuh ketelitian. Memeriksa isian-isian dan surat-surat berulang kali.

Singkat cerita, saya kemudian mengikuti ujian tulis. Di sana saya melihat sekitar 40-50 orang. Dan mungkin sebagian mau mengambil SIM A.

Syukurnya, saya lulus ujian tulis dengan system komputerisasi dengan nilai pas-pas an. Saya berpikir, terima kasih Tuhan, mungkin Dia mau memberkati saya supaya jalan lurus.

Langkah berikutnya adalah ujian praktek atau menyetir. Di sini lah letak ‘jebakan Batman’ (istilah yang dipakai teman saya). Ujian-ujian praktek yang diberikan dibuat sedemikian rupa supaya peserta mengalami kegagalan dan akhirnya harus memilih jalan lewat calo.

Tidak percaya ? Inilah beberapa contoh ujian prakteknya :

  1. Maju dan mundur kendaraan
  2. Menyetir slalom atau zig-zag maju
  3. Menyetir slalom atau zig-zag MUNDUR tanpa boleh ngerem atau memperbaiki posisi kendaraan. *Terus terang ketika si bapak Polisi bilang ini, orang di samping saya sampai terbelalak matanya. Dia langsung bilang “GILA !”, saya sih cuman bisa melongo.
  4. Parkir seri mundur LANGSUNG, sekali lagi tanpa boleh ngerem, maju atau memperbaiki posisi kendaraan.
  5. Parkir parallel hanya boleh 2 kali untuk memperbaiki kendaraan
  6. Dan 5 ujian lainnya lagi yang saya tidak bisa ingat.

Ketentuannya, satu langkah gagal maka LANGSUNG gagal dan harus menunggu 2 minggu kemudian.

Saya pernah mengikuti ujian mengemudi di Negara maju, seperti di Amerika. Ujian prakteknya lebih ditekankan pada kepatuhan dan keamanan kita berlalu-lintas, BUKAN menguji kemahiran kita mengemudi layaknya James Bond.

Di dalam benak saya ketika mengikuti ujian praktek tersebut adalah, “Ini mau menguji berkendara atau mau tes masuk jadi agen rahasia. Masa harus bisa nyetir jig-jag segala”

Pak Polisi pembuat materi ujian praktek, coba memakai logika,
– di jalan raya mana di Indonesia kita boleh berslalom maju dan berslalom mundur ?
– di mana di belahan dunia ini, parkir mundur seri harus LANGSUNG masuk, tanpa boleh untuk maju sedikit untuk memperbaiki posisi ataupun mengerem.

Saat ujian untuk parkir seri saya gagal, bukan karena saya tidak mampu, tetapi berusaha digagalkan karena dilarang untuk memajukan mobil sedikit untuk memperbaiki posisi. Sesuatu yang sangat tidak masuk akal.

Satu hal lagi yang lucu, di Amerika kalau kita mau mundur, malah diharuskan untuk melihat ke belakang, karena ada kemungkinan ‘blind spot’, tetapi di ujian tersebut, malah TIDAK BOLEH sama sekali melihat ke belakang dan hanya boleh memakai kaca spion.

Yang lebih aneh tapi nyata, dari sebegitu banyaknya orang-orang yang lulus ujian tulis (mungkin ada 10 an orang), hanya ada saya dan satu pria lagi yang ujian praktek. Ke manakan yang lainnya ? Apakah mereka langsung diluluskan ? Hehehehe

Aneh tapi nyata. Saya merasa Tuhan hanya bisa geleng-gelen kepala melihat materi ujian prakteknya. Mungkin Dia bingung karena kalau memang pengemudi-pengemudi di Jakarta haru lulus dengan ujian seperti ini, kok bisa-bisanya Jakarta masih semrawut dan lalu lintas nggak pernah rapi.

Pak Polisi atau pejabat yang bersangkutan, tolong jangan menjebak rakyat sehingga kita yang mau jalan lurus, berusaha digagalkan dan diharuskan untuk ikut korupsi seperti anda semua.

Kalau anda mau korupsi-korupsilah sendiri, tapi tolonglah dan layani masyarakat dengan baik dan jujur. Coba buat material ujian praktek sebagai ujian yang berlogika untuk mengetes ketaatan dan keamanan kita dalam mengemudi, BUKAN untuk menjadi ujian masuk pusat pelatihan agen rahasia.

Saya berusaha untuk menyisipkan hal-hal yang lucu dalam pengalaman nyata ini. Tetapi kalau dipikir hal ini sangatlah tidak lucu.

Negara kita membuat suatu system supaya penduduk nya gagal kalau mau memilih cara jujur, sehingga mereka harus ikut-ikutan pilih cara kotor.

Bangsa kita baru saja memilih seorang Presiden baru, Presiden Joko Widodo (Jokowi). Beliau mengusung Revolusi Mental dalam kampanyenya.

Revolusi Mental bukanlah hal yang mudah dan akan penuh jalan yang sulit dan berliku. Tetapi, saya tahu setiap Revolusi selalu dimulai dari rakyat. Tidak ada Revolusi yang dimulai dari Institusi Pemerintah, kalau ada itu namanya Kudeta atau Pemberontakan.

Jokowi bukan penyelamat kita, mungkin dia bisa menginspirasi, tetapi dia hanyalah seorang diri. Sebaliknya, pendukungnya adalah 71 juta jiwa. Dan ketika 71 juta jiwa merevolusi mental mereka, it’s unstoppable.

Leave a Reply

Post Navigation