“SAYA MENGALAMI DEPRESI DAN INGIN MATI.” KISAH TYLER

20140604_i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story_banner_img

Tyler adalah seorang pemimpin kelompok sel di Mars Hill Tacoma yang akan menyelesaikan sekolah physioterapi. Dia mengasihi Yesus dan ingin menikahi seorang wanita yang beriman dan mewariskan kisah yang ia mulai ketika ia menjadi orang Kristen pertama dalam keluarganya. Ketika Anda bertemu dengannya, Anda tidak mungkin berpikir lain selain dia adalah seoran periang, bersemangat, dan penuh gairah. Jadi sulit untuk percaya bahwa hanya beberapa tahun yang lalu, ia hampir bunuh diri. Dua kali. Ini ceritanya.

* Beberapa nama dalam cerita ini telah diubah.

Tumbuh di Spokane, Washington, Tyler adalah seorang anak pemalu di sekolah menengahnya yang tidak memiliki banyak teman. Dia bergumul dengan keraguan diri, kepercayaan diri, dan moral.

“Saya selalu ingin ngumpul-ngumpul, tetapi saya kebanyakan menyendiri.” Tyler tidak pernah melakukan “hal-hal buruk” dan, berbeda dengan saudara laki-laki dan perempuannya yang jatuh dalam obat-obatan dan alkohol, keluarganya sering melihat dia sebagai anak yang sempurna.

Pada musim gugur 2007, Tyler terdaftar penuh waktu di Spokane Falls Community College. Di sana, ia menjadi lebih terisolasi dan kesepian disbanding pada saat di SMA. Namun, beberapa waktu kemudian sekelompok kecil orang berteman dengan dia.

“Mereka adalah orang pertama dalam hidupku yang benar-benar teman-teman saya,” kata Tyler. “Mereka mempedulikan dan melayani saya. Dan mereka adalah orang Kristen. ”

Tyler mulai naksir berat pada salah satu gadis dalam kelompok tersebut yangbernama Megan.

“Aku jatuh cinta dengan dia dan mengidolakan dia,” katanya.

Tidak pernah ia mencintai seseorang seperti ini. Perasaan saying tersebut tidak bertepuk sebelah tangan. Persahabatan mereka berkembang ke titik di mana salah satu dari mereka perlu untuk mendefinisikan apa yang sedang terjadi. Lalu suatu malam Megan mengatakan kepana Tyler, “Orang berikutnya yang akan menjadi pacar saya akan menjadi suami saya. Aku tidak ingin berkencan dengan non-Kristen. ”

Tyler sangat marah. Dia mengatakan padanya bahwa dia tidak ingin menjadi seorang Kristen dan dia harus mencintai dia untuk siapa dia. Ia menjadi depresi. Perasaan di mana fia akhirnya bisa memiliki wanita yang dicintainya hanya untuk menemukan bahwa wanita itu tidak ingin bersama dia, membawa hidupnya runtuh. Tyler berpikir kemungkinan untuk mempunyai hubungan sudah berakhir.

“ENGKAU ADALAH ANAKKU DAN AKU MENGASIHIMU”

Selama waktu tersebut, salah satu orang Kristen dalam kelompok itu membagikan beberapa ayat Alkitab dengan dia. Tyler ingat bahwa dia tak menduga akan kemungkinan kebenaran dari ayat-ayat. Ia berdoa dan bertanya kepada Tuhan, jika Dia memang nyata, untuk menunjukkan diriNya.

Saat itu sudah larut malam dan Tyler ingin tidur, tapi tidak bisa. Yang dapat ia pikirkan adalah pergi ke gereja. Dia belum pernah ke gereja sebelumnya tapi tiba-tiba, itu semua yang ingin ia lakukan.
Hari berikutnya dia mengatakan kepada teman-temannya dan, sebelum akhir pekan menjelang, mereka membawanya ke pelayanan kampus tempat mereka melayani. Pemimpin pelayanan mengajarkan tentang Yesus dan membagikan Injil. Ketika ia selesai, ia berdoa dan berkata jika ada yang ingin bertobat dari dosa mereka dan berbalik kepada Yesus, mereka harus mengangkat tangan mereka dan berseru kepadaNya.

“Aku mengingat aku seperti berkata, ‘Oh, itu aku,” kata Tyler. “Jadi aku segera mengangkat tanganku kemudian berpikir, ‘Tunggu sebentar, apa yang saya lakukan?” Tapi aku tahu itu apa yang saya inginkan. ”

Kemudian pendeta kampus itu mendekatinya dan memberinya Alkitab dan memeluknya. Tyler mengambil Alkitab itu ke rumah dan membacanya habis. Dia mulai membaca dalam Matius dan menyukainya. Minggu berikutnya di kunjungannya yang ke dua di kelompok kampus, ia mengerti Injil lebih lagi.

Kelompok ini tidak seperti pelayanan kampus yang biasanya. Tidak ada pengajaran. Musik yang dimainkan dengan lembut di latar belakang saat orang-orang berbagi cerita tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup mereka.

“Saya menangis dan menangis sepanjang malam,” kata Tyler. “Saya mengenali siapa aku di dalam Yesus. Tuhan terus menunjukkan kepada saya gambar salib dan aku ingat mendengar berulang kali, “Engkau adalah anakKu dan Aku mengasihimu.” Itu adalah di mana saya benar-benar memahami apa Injil itu dalam hidup saya. ”

“AKU MERUBAH PENGIDOLAAN SAYA DARI SATU BENTUK KE BENTUK LAINNYA”

Tyler bertumbuh dalam pengetahuan Alkitab dan belajar bagaimana memimpin orang lain dalam pelayanan kampus dan kelompok SMP di gereja di mana dia menjadi anggota. Pada musim gugur 2009, ia pindah ke Eastern Washington University dan pindah ke sebuah rumah penuh dengan teman-teman kuliah. Dia tumbuh dalam hubungan dengan Yesus dan mencintai itu, tapi satu hal masih mengganggunya. Sementara depresinya karena kejadian Megan sudah terlupakan, dia menyadari bahwa dia masih mengidolakan dia.

“Aku merubah pengidolaan saya dari satu bentuk ke bentuk lainnya,” kata Tyler. “Sebelumnya, dia adalah segalanya bagiku. Sekarang, dia masih segalanya bagiku, tetapi di samping itu, saya menempatkannya lebel Kristen di atasnya. Aku secara berlebihan komitmen dalam hatiku. Saya pikir, ‘Ini adalah kehidupan yang saya ingin miliki dengan dia. Kami akan menjadi pasangan Kristen yang menakjubkan ini dan memiliki anak-anak. ‘Ide akan suatu hubungan menguasai dengan kuat dalam hati saya. ”

Kebingungan dengan perhatian dan harapan yang terus menerus, Megan menjauhkan diri dari Tyler dan seluruh teman-teman mereka. Dia menemukan teman baru dan mulai pergi ke bar, minum secara berlebihan, dan mabuk-mabukan. Tyler panik dan mengejarnya lebih giat lagi dalam upaya untuk menyelamatkannya dari gaya hidupnya.

“Aku menghancurkannya,” katanya. “Aku menyakitinya dengan sangat dalam hal itu.”

Dengan tekanan yang tak berakhir, Megan berhenti pergi ke gereja dan pelayanan kampus. Dia tidak bergaul dengan siapa pun dalam kelompok tersebut.

“Ini benar-benar membawa saya kepada kehancuran sampai di titik di mana saya mulai mendapatkan depresi lagi, melarikan diri, dan tidak terlibat dalam gereja pula,” kata Tyler. “Depresi saya menjadi cukup buruk di mana saya ingin bunuh diri. Itu berlangsung selama sekitar 12-18 bulan. Saya kehilangan pekerjaan saya. Aku tidak ingin melakukan apa pun. Saya akan duduk di kamarku dan menangis. Saya berpikir untuk bunuh diri sepanjang waktu. ”

Dua kejadian mebuatnya nyaris bunuh diri.

Yang pertama terjadi pada musim panas 2011, antara tahun terakhirnya kuliah dan tahun pertama sekolah physioterapi. Rumah Tyler di Spokane tidak jauh dari jajaran tebing dan hutan lebat. Suatu malam dia berdiri di tebing dan merenungkan untuk melompat ke kematiannya. Seorang teman menemukan dia ada di sana dan datang untuk membantu dia.

“Aku benar-benar tidak ingat banyak detail tentang apa yang dia katakan. Kami mengobrol sebentar dan kemudian ia membawa saya pulang. ”

Insiden kedua terjadi pada musim gugur 2011, tak lama setelah ia pindah ke Tacoma dan mulai sekolah di Puget Sound University.

“Aku akan pergi ke sekolah dan pulang ke rumah dan tidak belajar,” katanya. “Aku akan jatuh hancur dan menangis dan marah. Saya pikir itu adalah kombinasi dari kesendirian, stres dari sekolah, merasa seperti kegagalan, tinggal jauh dari Spokane, dan depresi berat. ”

Itu adalah titik terendah dalam hidup Tyler. Suatu malam ia berbaring di lantai nya, benar-benar kosong. Sebotol pil itu di tangannya dan ia ingin menelan mereka semua untuk mengakhiri hidupnya.

“Sulit untuk menjelaskan perasaan tersebut, tapi itu hampir seolah-olah aku merasa kosong dari kehidupan itu sendiri,” katanya.

Pikirannya terganggu oleh telepon dari seorang teman di Spokane. Ketika mereka berbicara, Tyler menjelaskan keseriusan dari situasinya. Teman tersebut berbicara ke Tyler untuk waktu yang lama dan kemudian mengatakan bahwa dia akan meminta teman mereka, yang baru saja pindah ke Seattle, untuk datang melihat Tyler. Dia tidak mengatakan kepada Tyler adalah bahwa dia juga akan memanggil polisi. Polisi berada di pintu lima menit kemudian dan tinggal di sana sampai temannya dari Seattle muncul.

AWAL PERTUMBUHAN

Tak lama setelah kejadian kedua ini, Tyler mulai pergi ke Mars Hill Federal Way (sekarang Mars Hill Tacoma), diundang oleh temannya di Seattle. Pada kunjungan pertamanya, Tyler bertemu dengan teman sekelasnya dari program terapi fisik. Teman sekolahnya ini tidak tahu bahwa ada yang salah dalam hidup Tyler.

“Saya pikir saya pandai menyembunyikan [depresinya],” kata Tyler. “Aku bisa pergi dan [ngumpul] sosialisasi, tapi pada saat yang sama aku membenci hidup saya. Aku benci segala sesuatu. Aku benci kota. Aku benci diriku sendiri. Aku begitu kosong. Sepanjang waktu saya akan mengatakan saya adalah seorang Kristen tapi saya masih berusaha untuk melakukan keinginan sendiri. Aku ingat dalam keadaan yang paling terendah dalam hidup saya, Tuhan ada di sana. Dia mengatakan, “Aku tidak akan membiarkan Anda pergi. Aku tidak akan membiarkan Anda melakukan hal ini. “KehadiranNya di sana. Dia terus berkata, “Aku mencintaimu. Aku masih mencintaimu.

“Aku punya waktu di mana saya naik dan kemudian turun. Aku merasa seperti jika saya tidak akan bersama Megan, maka saya tidak akan menjadi apapun. Dia masih segalanya bagiku. Aku akhirnya sampai ke titik di mana saya merasa seperti sesuatu perlu terjadi. ”

Tyler merasa Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dia perlu untuk melepaskannya, atau Allah yang akan mengambil Megan darinya.

Tyler sesekali akan menghubungi Megan dan dia biasanya mengatakan bahwa ia baik-baik dan tidak ingin bertemu dengannya. Tak lama setelah pindah ke Tacoma, ia mengatakan ia ingin bunuh diri jika ia tidak bisa bersamanya. Megan menghubungi Puget Sound University dan mereka mengharuskan Tyler untuk melakukan empat sesi konseling.

Setelah itu Megan mengirim pesan kepadanya di Facebook mengatakan, “Engkau harus membiarkan aku pergi. Hubungan itu tidak mungkin terjadi. Aku gay dan aku sudah menjalin hubungan selama delapan bulan. ”

Tyler sudah pernah mendengar bahwa Megan sudah mempunyai hubungan tapi tidak pernah berpikir bahwa itu bisa dengan seorang wanita. “Pada awalnya saya tidak ingin percaya dan saya bilang itu tidak mungkin benar.”

Tapi pesan Facebook tersebut menyalakan saklar di otak Tyler. Dia akhirnya melihat bahwa Megan adalah manusia biasa dengan kelemahan seperti orang lain. Dan kemudian fokusnya bergeser.

“Selama ini saya berpikir semua tentang saya,” katanya. “Tiba-tiba. . . Saya menyadari kebobrokan dalam hidupnya. Aku tidak akan pernah melupakan apa yang dia bilang. Dia berkata, “Aku akhirnya menemukan seseorang yang mencintai saya untuk siapa saya dan saya senang.” Yang bisa kupikirkan adalah, Yesus mengasihi Anda untuk siapa Anda dan Anda menolak itu. “Sejak saat itu, saya tidak peduli jika kami berakhir bersama-sama. Yang saya pedulikan adalah dia. ”

Namun, pemikiran Tyler tentang dosa belum diperbaiki. Dia berada di bawah kesan bahwa dosa Megan entah bagaimana lebih buruk daripada dosanya.

“Saya masih sangat bermasalah, tapi aku sudah berhenti mengidolakan dia dan akhirnya kembali kepada Yesus. Saya telah cukup beruntung untuk tetap berada di Mars Hill dengan beberapa orang baik dan kelompok sel. Saya bertemu dengan mereka dan menceritakan kepada mereka seluruh kisah saya. ”

Saat itulah koreksi datang. Setelah mendengar cerita Tyler, pemimpin kelompok memiliki beberapa teguran keras baginya.

“Dia berkata, ‘Bagaimana jika dia melakukan dosa seksual dengan seorang pria? Bukankah itu tetap dosa seksual. Bagaimana dengan Anda memberhalakan dia? Bagaimana dengan Injil dalam hidup Anda? Yesus mati untuk menyelamatkan Anda. Dan Anda tidak bisa menyelamatkannya. Yesus perlu menyelamatkannya dan Anda perlu untuk merelakannya. ‘”
Tyler mengatakan “payah” untuk mendengar perkataan itu, tapi dia tahu itu adalah apa yang ia butuh dengarkan. Beberapa bulan kemudian dia kembali ke Spokane untuk liburan musim panas dan mengulang kembali hidupnya. Ketika ia kembali ke Tacoma untuk tahun kedua sekolah, ia tidak lagi depresi. Dia mengambil kelas keanggotaan di gereja, melibatkan diri dalam kelompok sel, dan mulai melayani.

”ALLAH INGIN MENUNJUKKAN SIAPA DIA”

Tak lama setelah itu, Megan putus hubungan. Dia unfriend Tyler di Facebook dan menyuruh saudara laki-lakinya agar ‘meminta’ Tyler untuk menghapus nomor teleponnya. Tyler merasa seperti beban berat telah terangkat dari bahunya.

Tyler terus tumbuh dan mengambil alih kepemimpinan kelompok sel pada Januari 2014 sesuatu yang belum pernah dia lakukan sebelumnya, tapi ia merasa seperti Tuhan memanggilnya untuk melayani dengan cara itu.

“Aku tidak pernah berharap Allah memberi saya hati yang sedemikian untuk orang-orang ini,” kata Tyler. “Sudah cukup menakjubkan. Ini membuat saya tumbuh [dalam] ketergantungan saya pada Tuhan. Saya katakan kepada Tuhan, “Aku tidak tahu apa yang saya lakukan tapi kau tahu. Aku di sini. Gunakan saya sebisaMu. ”

“Pastor Mark baru-baru ini bertanya dalam salah satu khotbahnya, apakah itu hidup? Hidup bagi saya dulunya adalah seorang gadis. Sekarang hidup adalah Yesus. Aku tidak tahu apakah aku akan mampu untuk memahami semuanya kalau saja Tuhan tidak memindahkan saya ke Tacoma dan membawa saya ke gereja Mars Hill.

“Aneh bagi saya untuk melihat ke belakang dan berpikir ada fase dalam hidup saya di mana saya depresi dan ingin bunuh diri, meskipun aku punya keluarga yang mencintai dan mendukung, [juga] terlibat dalam gereja, dan [juga] dikelilingi oleh teman-teman yang mencintai Yesus. ”

Tyler menyadari bahwa, bahkan di tengah-tengah itu, jika Yesus tidak hadir dan membentuk hidup Anda setiap hari, maka Anda masih bisa goyah dan jatuh.

“Melalui semua ini, Tuhan ingin menunjukkan saya siapakah Dia – bukan apa yang saya pikir siapa Dia atau apa yang saya inginkan Dia menjadi apa. Allah membentuk hatiku dengan menghancurkan berhala saya. Dia mematahkan saya ke titik di mana saya tidak memiliki apapun. Setelah itu, satu-satunya hal yang aku bisa miliki adalah Dia. ”

Tyler merasa seperti dia di tempat yang bagus sekarang dan memandang masa depan. Dalam 40-50 tahun ia ingin warisannya adalah menjadi seorang kakek yang mencintai keluarganya, melayani gereja, dan berkembang setiap hari dalam hubungannya dengan Yesus. Sejak Tyler menjadi seorang Kristen, ayahnya telah bertemu Yesus. Ia berharap lebih keluarganya akan berbalik kepada Yesus juga.

“Aku bisa menjadi orang Kristen pertama di keluarga saya. Seri khotbah dari kitab Maleakhi cukup menguatkan bagi saya karena saya melihat suatu generasi bisa berubah. Nama keluarga Trudeau sebelumnya penuh dengan banyak dosa. Tapi itu bisa berubah karena satu orang. ”

BAGI MEREKA YANG BERGUMUL DENGAN DEPRESI
Tyler ingin mendorong mereka yang bergumul dengan depresi untuk membiarkan orang lain tahu. Seringkali, seseorang yang berjuang mungkin mengatakan kepada satu orang, tapi Tyler mengatakan untuk membiarkan beberapa orang tahu sehingga mereka dapat membantu. Dan jika Anda tahu seseorang yang sedang berjuang dengan depresi, menurutnya suatu tanggung jawab bagi Anda untuk melibatkan yang lainnya, terlepas apakah mereka mau atau tidak. Itu mungkin akan menyelamatkan hidup mereka.

Diadaptasi dari : http://marshill.com/2014/06/06/i-was-depressed-and-wanted-to-die-tyler-s-story

Leave a Reply

Post Navigation