Scan Otak Pecandu Porno : Apa Yang Salah ?

Gambar scan otak menunjukkan bahwa menonton situs online ‘ dewasa’ dapat mengubah materi abu-abu (grey matter) otak, yang dapat menyebabkan perubahan selera seksual

Oleh: Norman Doidge

The Guardian , Kamis 26 September 2013 13.29 WIB

Cambridge University Neuropsikiater Dr Valerie Voon baru-baru ini menunjukkan bahwa pria yang menggambarkan diri mereka sebagai kecanduan porno (dan yang kehilangan hubungan karena itu) mengalami perubahaan di area otak yang sama – pusat reward – seperti perubahan pecandu narkoba . Penelitian , belum dipublikasikan , adalah fitur minggu depan di Channel 4 acara TV Porno di Otak . Neurosceptics mungkin berpendapat bahwa gambar pencahayaan otak pada pecandu tidak memberitahu kita sesuatu yang baru – kita sudah tahu mereka kecanduan . Tapi sebaliknya hal ini membantu : mengetahui perubahaan pusat reward menjelaskan beberapa paradoks pornografi .

Pada pertengahan 1990-an saya , dan psikiater lainnya , mulai memperhatikan hal berikut . Seorang laki-laki dewasa , dalam hubungan yang menyenangkan , datang berkonsultasi untuk beberapa masalah non – romantis, mungkin menjelaskan semakin penasaran dengan pornografi di internet yang sedang berkembang . Kebanyakan situs membosankan bagi dia , hanya beberapa yang sangat menarik bagi dia sampai pada titik di mana dia ingin benar-benar melakukan aksi pornografi itu. Semakin banyak ia menggunakan porno , semakin ia ingin .
Namun , meskipun ia mendambakan hal itu , dia tidak suka melakukannya ( porno paradoks 1 ) . Keinginan yang begitu kuat sampai-sampai dia merasakannya hanya dengan berpikir tentang komputer ( paradoks 2 ) . Pasien juga akan melaporkan bahwa , dia jauh lebih tertarik dengan PEMIKIRAN untuk berhubungan badan dengan pasangannya daripada pasangannya ( paradoks 3 ) . Melalui porno ia memperoleh selera seksual yang baru .

Kita sering berbicara tentang pecandu seolah-olah mereka hanya memiliki ” masalah kuantitatif ” . Mereka ” menggunakan terlalu banyak ” , dan harus “mengurangi penggunaan” . Tapi kecanduan porno juga memiliki komponen kualitatif : mereka mengubah selera seksual . Penjelasannya seperti ini .
Sampai saat ini , para ilmuwan percaya otak kita tidak berubah ,segala sirkuit sudah terbentuk dan terselesaikan pada masa kecil , atau ” terpatok ” . Sekarang kita tahu otak adalah lebih cenderung seperti ” plastik ” (neuroplastic) . Otak tidak hanya dapat berubah, tetapi otak bekerja dengan cara mengubah strukturnya untuk menanggapi pengalaman mental yang terulang-ulang.
Salah satu pendorong utama perubahan otak adalah pusat reward , yang biasanya terpicu ketika kita menyelesaikan tujuan. Sebuah kimia otak , dopamin , dilepaskan , memberikan kita sensasi yang menyenangkan karena prestasi yang tercapai. Hal ini juga mengkonsolidasikan hubungan antara neuron di otak yang membantu kita untuk mencapai tujuan itu . Selain itu, dopamin juga dilepaskan pada saat-saat mengalami gairah seksual dan mengalami hal-hal yang baru . Adegan porno yang diisi dengan “partner” seks yang baru, dapat memicu pusat reward kita, sehingga imaginasi-imaginasi itu menjadi lebih kuat tertanam di otak. Hal ini merubah selera seksual pengguna .

Obat-obatan terlarang dapat memicu sekresi dopamin – tanpa kita harus bekerja untuk mencapai tujuan. Hal ini dapat merusak sistem hadiah dopamin . Dalam pornografi , kita mendapatkan ” seks” tanpa harus mempunyai pasangan . Sekarang , scan otak membuktikan bahwa pornografi dapat mengubah pusat reward juga.

Setelah pusat reward diubah , seseorang akan terus mencari kegiatan atau tempat yang dapat memicu pelepasan dopamin . (Seperti pecandu yang bersemangat melewati gang di mana mereka pertama kali mencoba kokain , pasien yang saya sebut di atas sangat gembira dengan berpikir tentang komputer mereka . ) Mereka mendambakan meskipun konsekuensinya negatif . ( Inilah sebabnya mengapa pasien bisa mendambakan porno tanpa menyukainya . – paradoks 1) Parahnya , dari waktu ke waktu , sistem dopamin menjadi rusak dan menjadi ” toleran ” terhadap aktivitas itu , sehingga membutuhkan lebih banyak stimulasi untuk mendapatkan gairah dan menenangkan hasrat . ” Toleransi ” mendorong pecandu untuk mencari stimulasi-stimulasi lain yang lebih menggairahkan, dan ini dapat membuat perubahan selera seksual ke hal-hal yang ekstrim.

Perubahan yang paling jelas dalam porno adalah bagaimana seks bercampur dengan kegiatan agresif dan sadomasochism . Ketika ‘toleransi’ terhadap dorongan seksual , sudah tidak memuaskan; dorongan ke dua, dorongan agresif, dipakai untuk memuaskan si pecandu. Sehingga bagi orang-orang sudah secara psikologis terpengaruh, pornografi harus memasukkan adegan-adegan seks dengan kemarahan , pria menghina perempuan dengan ejakulasi ke wajahnya, penetrasi anal dengan penuh kesakitan , dll. Situs-situs Porno juga banyak memuat kompleks yang dijelaskan Freud : ” MILF ” ( “Mothers I’d Like to Fuck” ) situs menunjukkan kepada kita kompleks Oedipus masih ada, situs pemukulan menseksualisasi trauma masa kanak-kanak , dan banyak situs lain lagi yang berisi fiksasi oral dan anal . Semua fitur ini menunjukkan bahwa rahasia kotor dari pornografi adalah perbedaan di antara ” situs dewasa ” adalah bagaimana ” kekanak-kanakannya ” mereka bisa berhasil karena dorongan dari kompleks kekanakan serta bentuk seksualitas dan agresif dari pengguna . Pornografi tidak ” menyebabkan ” kompleks ini , tetapi bisa memperkuatnya dengan cara menanamkannya ke dalam sistem reward kita. Porno memicu ” neo – seksualitas ” – interaksi antara fantasi dari pembuat porno, dan pemirsa .

Dari semua naluri kita , naluri seks mungkin yang paling plastik . Naluri ini tampak telah keluar dari jalur tujuan utama evolusionernya , reproduksi. Walaupun, beberapa pakar bioloy yang naif terus menggambarkan bahwa selera seksual sudah terpatok dan tak berubah , dan menegaskan kalau manusia selalu tertarik pada pasangan yang sama secara fisik , fitur simetris dan atribut yang menunjukkan ” orang ini akan menghasilkan keturunan fit ” . Tapi kenyataannya kita tidak semua tertarik pada tipe atau orang yang sama .

Selera seksual berubah dari jaman ke jaman : dewi seksual yang dilukis oleh Rubens terlalu gemuk untuk standar modern . Selera seksual juga berubah dari individu ke individu : orang yang berbeda memiliki “jenis ” romantis yang berbeda . Tipe orang cenderung mengikuti karikatur : suka kebebasan , tipe artistik , anak nakal , pendiam yang tegar , wanita setia , dan sebagainya. Kita belajar bahwa tipe terkait dengan plastisitas , ketika kita mempelajari latar belakang orang tersebut . Wanita tertarik pada “pria yang sudah berpasangan ” , mungkin kehilangan ayahnya di masa kecil ; pria yang tertarik dengan “Ratu Dingin ” mungkin memiliki hubungan yang renggang dengan ibu yang kritis. Mungkin ada sedikit pengaruh dari asalnya tentang ketertarikan-ketertarikan yang spesifik ini. Tetapi tanda utama bahwa hasrat seksual tidak harus berhubungan dengan kegiatan reproduksi adalah fetishist , lebih tertarik pada sepatu daripada pemakainya .
Selera seksual selalu berubah selama kita hidup; tidak semua cinta adalah cinta pada pandangan pertama , berdasarkan penampilan; kita mungkin tidak tertarik pada seseorang, sampai kita jatuh cinta dengan mereka dan menikmati kehadiran mereka ,sehingga kita “terbangun” oleh pesona mereka . Dan pasangan monogami berhasil, yang selalu mencintai dan merasakan ketertarikan satu sama lain selama berpuluh-puluh tahun , akan perlahan-lahan mengubah selera seksual mereka , sejalan dengan usia dan penampilan pasangan mereka . Terkadang perubahan datang dengan cepat , tetapi tidak secepat atau seradikal seperti yang terjadi pada remaja , dari keterbatasan ,melompat sampai mengkonsumsi semua atraksi.

Otak para remaja benar-benar seperti plastik . Sekarang , akses 24/7 ke int¬¬¬ernet porno meletakkan dasar selera seksual mereka . Dalam film InRealLife oleh Beeban Kidron , sebuah film yang mencekam tentang dampak internet pada remaja , anak laki-laki 15 tahun dengan kejujuran dan keberanian yang luar biasa mengartikulasikan apa yang sedang terjadi dalam kehidupan jutaan remaja laki-laki . Dia menunjukkan padanya gambar porno yang merangsang dia dan teman-temannya , dan menjelaskan bagaimana hal tersebut tleah membentuk ” kehidupan nyata ” aktivitas seksual mereka . Dia mengatakan : ” Anda akan mencoba seorang gadis dan merasakan gambaran yang persis yang telah Anda tonton di internet … Anda ingin dia untuk menjadi persis seperti yang Anda lihat di internet … Saya sangat berterima kasih kepada siapa pun membuat website ini , dan juga gratis , tetapi dalam pengertian lain itu merusak pengertian tentang cinta . ini menyakitkan saya karena saya merasa sekarang ini sangat sulit bagi saya untuk benar-benar menemukan koneksi dengan seorang gadis. ”
Selera seksual dan kerinduan untuk beromantis dari anak-anak telah terpisah dari satu sama lain . Sementara itu, gadis-gadis telah ” ditanami” dalam diri mereka bahwa mereka harus memainkan peran yang ditulis oleh pornografi . Dulunya , pornografi hanya digunakan oleh remaja untuk mengeksplorasi , mempersiapkan dan meredakan ketegangan seksual , dalam mengantisipasi hubungan seksual yang nyata . Sekarang ini, pornografi menggantikan kenyataan .

Dalam bukunya , Bunny Tales : Behind Closed Doors di Playboy Mansion , Izabella St James , yang merupakan salah satu mantan ” pacar resmi” Hugh Hefner , menggambarkan seks dengan Hef . Hef , yang sudah berumur 70an , akan berhubungan seks dua kali seminggu , kadang-kadang dengan empat atau lebih dari pacar nya sekaligus, St James adalah salah satunya . Dia melakukan hal-hal yang baru, variasi, keanekaragaman dan semua wanita bersedia untuk melakukan apa yang dia senang . Pada akhir dari akltivitas orgy , St James menulis , lalu “pada puncak acara : Hef masturbasi sambil menonton film porno”.

Hef , seseorang yang benar-benar bisa menghidupi fantasi porno dengan dahsyat, dengan bintang porno yang nyata, justru berbalik dari manusia dan sentuhan yang nyata ke gambar pada layar . Sekarang , saya menanyakan Anda , “Apa yang salah dengan gambar ini ? ” .

Leave a Reply

Post Navigation