Test Darah Untuk Mendeteksi Alzheimer 10 Tahun Lebih DIni

Test Alzheimer Bisa Mendeteksi Penyakit Tersebut 10 Tahun Lebih DIni

Oleh Megan Scudellari – Nov 17, 2014

Sebuah tes darah baru untuk Alzheimer bisa mendeteksi penyakit tersebut 10 tahun lebih dini daripada diagnosa klinik – jauh lebih cepat daripada tes-tes lainnya yang sedang dikembangkan.

Tes tersebut, yang dijelaskan kepada khalayak umum untuk pertama kalinya kemarin, dapat segera digunakan untuk mengidentifikasi dan mengobati pasien dengan penyakit Alzheimer pada saat awal perkembangan penyakit mereka. Orang-orang tersebut juga bisa berpartisipasi dalam uji klinis untuk membantu menemukan pengobatan baru. Tes tersebut sudah bisa membedakan antara pasien dan lansia sehat dengan akurasi 100 persen.

“Kita masih memerlukan replikasi dan validasi, tapi aku sangat optimis pekerjaan ini akan berlanjut,” Dimitrios Kapogiannis, penulis utama studi tersebut dan seorang neuroscientist di National Institute on Aging, mengatakan setelah presentasi di Society for Neuroscience konferensi di Washington kemarin.

Tes darah tersebut masih dalam tahap awal pengembangan dan baru selesai dievaluasi pada 174 individu, sehingga membutuhkan studi jangka panjang yang lebih besar sebelum digunakan secara luas, para peneliti mengatakan dalam sebuah pernyataan. NanoSomiX, sebuah perusahaan biotek Aliso Viejo, berbasis di California yang mengembangkan tes darah untuk penyakit neurodegenerative dan yang mensponsori penelitian tersebut, berencana untuk memproduksi versi komersial dari tes tersebut, penjelasan dari perusahaan tersebut dalam pernyataan terpisah.

Dua potensi tes darah Alzheimer lainnya diumumkan awal tahun ini. Satu test menganalisa 10 tipe lemak dalam aliran darah yang muncul untuk memprediksi demensia dengan akurasi 90 persen dalam waktu tiga tahun dari onset. Lainnya menggunakan 10 protein dalam darah untuk memprediksi onset dengan persen akurasi 87 dalam setahun.

Di National Institute on Aging, Kapogiannis dan timnya mengidentifikasi protein tunggal di otak yang terlibat dalam pemacu insulin, yang disebut IRS-1, yang tampaknya rusak pada pasien Alzheimer.

Para peneliti mengumpulkan sampel darah dari 70 orang dengan penyakit Alzheimer, 20 lansia yang normal secara kognitif tetapi menderita diabetes, dan 84 orang dewasa yang sehat. Dari seluruh peserta, 22 pasien Alzheimer memberikan sampel darahnya sekitar 1 sampai 10 tahun sebelum diagnosis.

Dari sampel, para peneliti mengisolasi exosomes, kantung lipid kecil yang berkembang dari membran sel dan membawa sinyal ke sel-sel dan jaringan lain. Dari kumpulan hasil exosomes, mereka mengidentifikasi hanya yang berasal dari otak, yang mengandung IRS-1, dan mengukur kadar protein tersebut.

Mereka menemukan bahwa pasien dengan Alzheimer memiliki kadar non-aktif dari protein tersebut lebih tinggi dan kadar aktif yang lebih rendah dibandingkan orang yang sehat. Para penderita diabetes memiliki tingkat menengah.

Tingkat ini begitu konsisten sehingga tim tersebut bisa memprediksi apakah sampel darah berasal dari pasien Alzheimer, individu yang sehat, atau diabetes – dengan tidak ada kesalahan. Hal ini bahkan berlaku untuk sampel dari pasien Alzheimer yang diambil 10 tahun sebelum mereka didiagnosis.

“Kami mampu secara sempurna mengklasifikasikan pasien dan kontrol,” kata Kapogiannis dalam presentasinya.

Leave a Reply

Post Navigation