Tim Dobelbower

monkimage1

Tim Dobelbower beranjak masuk ke kumpulan doa gereja The Village sebagai orang yang telah bersih sedikitnya lebih dari satu hari. Pergumulan dengan obat-obatan terlarang dimulai dengan ganja pada usia 13, dan lebih dari tiga dekade kemudian, masih berlangsung.

” Saya tidak ingin menarik perhatian untuk diriku sendiri, tapi saya ingin orang tahu di mana aku berada, ” kata Tim.

Berawal dengan pengakuan dosa dan menghabiskan Senin malam dengan tangisan. Dia telah menghadiri Kelompok Sel secara sporadis, tetapi pemimpin kelompoknya bertahan san selalu mengecek dirinya.

Dia telah mencoba berbagai program, beberapa seperti 12-steps, yang rasanya tak pernah berakhir dan berujung kembali lagi ke obat-obatan. Pemimpin kelompok Tim, Greg, bukan seorang ahli dalam hal kecanduan narkoba, tetapi ia bertanya apakah Tim telah mencoba untuk “berseru” kepada Tuhan. Bukanlah hal yang rumit, tetapi Tim mengakui bahwa itu salah satu cara yang belum pernah dia coba. Di dalam usahanya untuk mencoba membersihkan tubuhnya dari pesta mabuknya yang terakhir, Tim mencoba cara tersebut.

“Saya benar-benar menangis. Dan saya ngat hari berikutnya, sepertinya sesuatu telah terangkat, ” katanya.

Kristus Sealalu Ada Di Sana, Bekerja Di Dalam HAti Tim.

Dia menelpon Greg hari itu dan mengucapkan dua kata sederhana : ” Aku selesai “. Greg mengundang Tim untuk bergabung dengannya ke kelompok doa gereja The Village untuk bulan Januari. Sejak itu, dia tidak menggunakan obat dan telah bergabung kembali ke Kelompok Se. Pandangannya tentang Injil dan perannya dalam hidupnya berubah sama sekali.

” Saya akan melakukan apa yang gereja ini minta saya untuk lakukan, ” kata Tim.

Itu berarti menjalani hidup dengan keterbukaan dengan kelompok selnya dan memutuskan –hubungan-hubungan yang bisa menjerumuskan dia ke dalam dosa dan menjauhkannya dari Juruselamat -nya.
Kristus bertemu dengannya di mana dia berada.

Kristus selalu ada di sana, bekerja di hatinya saat dia berjuang untuk melepaskan diri dari obat-obatan dan mengejar kehampaan. Dia menggunakan saat-saat dalam kehidupan Tim untuk mempersiapkan hatinya untuk apa yang akan datang.

” Tuhan tidak akan mengizinkanku untuk menutup tempat-tempat persembunyian. Ada kedamaian yang saya tidak pernah punya sebelumnya. Aku terus mengaku kesalahan saya ke kelompok sel saya, dan mereka menumpang tangan mereka pada saya, berdoa untuk saya dan tidak panik, ” katanya. ” Kalau ada gedung untuk para pendosa yang luar biasa, saya rasa saya mungkin punya ruangan khusus. ”

Pergumulannya dengan obat-obatan belum berakhir, tapi dia memenangkan setiap pertempuran hariannya sejak Senin malam pada Januari 2013. Dosa seksual juga merupakan pergumulan berkesinambungan yang memerlukan akuntabilitas, pengakuan dan disiplin dikombinasikan dengan pengampunan ketika ia gagal.

” Saya memiliki lebih banyak sukacita dalam hati saya sekarang. Seakan-akan, hal ini sudah lama menunggu saya. Akuharus menjalani semuanya itu untuk menyadari satu hal yang benar2 berarti, dan itu adalah Kristus, ” kata Tim. ” Har-hari yang penuh keputusasaan yang pernah saya alami, dipakai Tuhan dengan baik untuk keselamatan dan pensucian saya. ”

Hari ini, ia mengacu pada Kolose 1:13 sebagai pegangan sehari-hari akan identitas barunya, identitas yang tidak berpusat pada dosa yang sudah dia lakukan atau yang akan terus menghantuinya. “Dia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan, dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih;” tertulis di ayat tersebut.

” Aku bisa menerima bahwa saya tidak baik. Setiap dosa yang sudah terselesaikan, saya akan temukan dosa baru lagi yang Tuhan ungkapkan, dan hal itu sungguh indah bagi saya sekarang. Itu adalah karunia ” kata Tim. ” Ketika saya meninggalkan obat-obatan sebelumnya, saya pikir semua hal akan menjadi lebih baik. Saya ingin seperti orang yang sempurna, yang bisa mengendalikan semuanya. Saya menginingkan perubahaan secara eksternal, dan kadan itu terjadi, tapi hatiku tetap sama. ”

Berseru dan menangis kepada Tuhan akhirnya membantu mengubah fokus dari hatinya, walau terperosok dalam dosa namun tetap memandang kepada Kristus untuk pengampunan dan penebusan, didertai dengan pengertian akan cinta-Nya yang tak berkesudahan dan kuasa dari kasih karunia-Nya.

Cerita oleh David Ubben
Foto oleh Jesse McKee

Diadaptasi dari situs : http://www.thevillagechurch.net/article-stories/192701/tim-dobelbower/

Leave a Reply

Post Navigation